Friday, November 24, 2006

Perempuan Kembang Jepun

Judul : Perempuan Kembang Jepun
Penulis : Lan Fang
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Oktober 2006
Tebal : 288 hal ; 20 cm
Harga : Rp. 35.000,-






Kembang Jepun adalah nama sebuah kawasan di kota Surabaya. Entah didapat dari mana asal muasal istilah Kembang Jepun. Konon, di jaman Jepang kawasan ini adalah tempat berkumpulnya para serdadu Jepang untuk mencari hiburan lengkap dengan kembang-kembang (‘gadis-gadis’) yang setia menghibur serdadu-serdadu dan penguasa Jepang yang saat itu lazim disebut ‘Jepun’ sehingga kemudian daerah itu dinamakan “Kembang Jepun” yang berarti “kembangnya jepang”

Selain itu Kembang Jepun sejak jaman Belanda dan Jepang juga dikenal sebagai kawasan perdagangan yang banyak didiami oleh orang-orang China. Mereka membuka toko-toko dan restoran lengkap dengan tempat hiburan malamnya, bahkan hingga kini Kembang Jepun merupakan daerah sentra perdagangan terbesar di Surabaya dan juga dikenal sebagai China Town-nya Surabaya.

Ketenaran dan legenda kawasan ini pula setidaknya telah mengilhami para sastrawan untuk berkreasi berdasarkan legenda yang menyelimutinya. Sebut saja sastrawan senior Remy Sylado yang pada tahun 2003 menerbitkan novel berjudul “Kembang Jepun”, kini di tahun 2006 ini penulis asal Surabaya Lan Fang melahirkan sebuah novel yang memiliki judul yang hampir sama dengan novel Remy Sylado. Novel keempat Lan Fang yang kabarnya dikerjakan selama 3 tahun ini diberinya judul “Perempuan Kembang Jepun”.

Dengan latar belakang kawasan Kembang Jepun di Surabaya pada tahun 1940-an, novel ini bercerita tentang tokoh Matsumi, seorang perempuan Jepang yang berprofesi sebagai geisha. Matsumi adalah wanita cantik yang lahir dari sebuah keluarga miskin di Jepang, kemiskinannya membuat dirinya dijual oleh keluarganya sebagai geisha di distrik Gion di Kyoto

Matsumi tumbuh menjadi geisha yang berbakat. Berkat kecantikan dan kemahirannya dalam memainkan shamisen, bernyanyi, membaca puisi, menemani tamu, memijat, hingga memuaskan hasrat seks para tamunya, lambat laun ia menjadi seorang geisha yang terkenal di Kyoto. Pada saat puncak ketenarannya itulah Matsumi ditawari untuk mengikuti Shosho Kobayashi ke Indonesia. Baginya ini adalah kesempatan emas karena Shosho Kobayashi akan memegang peranan posisi penting di Indonesia selaku panglima perang tentara Jepang. Hal ini berarti Matsumi akan menjadi perempuan penting.

Karena geisha hanya ada di Jepang sedangkan jika ada perempuan Jepang yang menjadi penghibur di luar Jepang dianggap merendahkan martabat bangsanya, maka Matsumi masuk ke Indonesia dengan menyamar sebagai wanita China dengan nama Tjoa Kim Hwa.
Sesampai di Surabaya Matsumi menjadi wanita penghibur di klub hiburan milik Hanada-San yang melayani Sosoho Kobayasi dan tamu-tamu penting lainnya di kawasan Kembang Jepun

Di klub hiburan Hanada-san Matsumi beremu dengan Sujono, seorang kuli angkut kain yang bekerja di Toko Babah Oen yang kerap menantar kain di tempat Matsumi bekerja. Sujono memang sangat lihai memikat hati wanita, lambat laun Matsumi jatuh ke pelukan Sujono. Matsumi sadar bahwa Sujono telah beristri dan memiliki anak, namun ia tak kuasa menahan bujuk rayu Sujono yang piawai meluluhkan hatinya. Belum lagi Matsumi berkeyakinan jika ia tinggal bersama Sujono maka ia akan membentuk sebuah keluarga yang indah dan membuat dirinya menjadi seorang perempuan yang utuh dan melayani suami

Dari hubungan tersebut kemudian lahirkan seorang anak perempuan bernama Lestari. Namun apa yang diidam-idamkan Matsumi untuk membentuk keluarga yang indah dengan Sujono sangat jauh dari kenyataan. Lambat laun sifat buruk Sujono terungkap. Sujono yang gila sex lebih menikmati keindahan tubuh Matsumi dibanding bertanggung jawab terhap pemenuhan kebutuhan pokok keluarga yang telah dibentuknya. Walau Sujono mencintai Matsumi namun baginya Matsumi hanyalah pemuas nafsu sex-nya dan pelarian dari kehidupan rumah tangganya dengan istirnya (Sulis) yang kerap diwarnai pertengkaran.

Pekerjaan Sujono sebagai seorang kuli tentu saja tak bisa memenuhi kebutuhan dua istrinya. Matsumi terpaksa menggunakan uang tabungannya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Di sinilah konflik mulai meruncing. Ketika tabungan Matsumi habis sedangkan Sujono tetap tak berusaha untuk memenuhi kebutuhannya, akhirnya setelah Jepang kalah Matsumi lari meninggalkan Sujono. Matsumi kembali ke negaranya dengan meninggalkan anak dan suaminya.

Tema pencarian cinta sangat kuat dalam novel ini. Ibu mencari anak, anak mencari ibu, suami mencari cinta istri, dan seorang geisha mencari cinta sejati. Lan Fang menyuguhkan novel ini dengan menarik. Selain tokoh Matsumi dan Sujono, novel ini mengupas juga kehidupan tokoh-tokoh lain yang masing-masing diceritakan dalam bab-bab tersendiri.

Pada tiap bab, penutur ceritanya adalah tokoh yang menjadi kupasan pada bab tersebut. Jadi novel ini memiliki bab-bab tersendiri yang mengisahkan dan mengungkap karakter-karakter Sulis, Matsumi, Tjoa Kim Hwa, Sujono, dan Lestari . Hampir seluruh tokoh digambarkan secara kelam dan memiliki pilihan-pilihan hidup yang salah dan sulit untuk dijalani.

Dengan adanya bab-bab tersendiri dari masing-masing tokoh dalam novel ini, maka semua karakter tokoh yang muncul tereksplorasi dengan baik, dan masing-masing peristiwa dilihat dari sudut pandang tokohnya masing-masing. Membacanya seperti menyusun sebuah rangkaian puzzle yang lambat laun akan memberikan gambaran utuh dari kisah dalam novel ini.

Dibalik kisah cinta yang pedih, novel ini juga mengungkap bagaimana kejinya para tentara-tentara Jepang dalam memuaskan nagsu berahi mereka. Seorang wanita penghibur bisa digilir sepuluh hingga lima belas tentara Jepang karena jumlah mereka lebih banyak dibanding wanita penghibur. Selain itu merekapun tidak dibayar, alih-alih membayar para perempuan itu diberi tempelengan dan siksaan yang diluar peri kemanusiaan.

Selain itu novel ini juga menyajikan sekilas kehidupan dan filosofis kehidupan seorang geisha. Bagi mereka yang pernah membaca Memoir of Geisha – Arthur Golden mungkin bukan hal yang asing, namun bagi yang belum pernah membacanya novel ini setidaknya bisa memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai perbedaan seorang geisha dengan wanita penghibur biasa.

Untuk memudahkan imajinasi pembacanya akan sosok Matsumi novel ini juga menyajikan beberapa buah foto yang menampilkan seorang wanita berpakaian kimono yang tak lain adalah foto diri Lan Fang, penulis novel ini.



Novel ini memang sarat dengan konflik yang pedih, pembaca akan disuguhkan berbagai rentetan peristiwa yang menyesakkan dada, semua dirangkai dengan kalimat-kalimat yang menyentuh dan indah, pilihan kalimat-kalimatnya yang puitis sangat pas dalam menggambarkan kepedihan yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Karakter-karakter tokohnya juga begitu kuat dan hidup sehingga membuat pembacanya seolah masuk dalam cerita yang ditulisnya. Pembaca akan dibuat bergelora dalam birahi, menangis, kesal, dan marah melalui karakter dan pengalaman para tokoh-tokohnya

Namun tentunya novel ini tidak dimaksudkan untuk membuat pembacanya tercekat dalam kepedihan para tokoh-tokohnya, ada berbagai makna yang bisa diambil dari novel yang menguras air mata ini. Setidaknya novel ini menyadarkan pembacanya bahwa uang dan seks bukanlah segala-galanya. Masih ada yang harus dicari dan dipertahankan yaitu cinta. Bukan sekedar cinta yang dirangkai dengan kalimat-kalimat manis dan sekedar diwujudkan dalam hubungan seks yang menggelora, melainkan cinta yang dilandasi kasih sejati yang kelak akan membangun rasa kebersamaan dan tanggung jawab dari orang yang dicintainya.

@h_tanzil

Sunday, November 19, 2006

Ensiklopedia Sastra Dunia















Judul : Ensiklopedia Sastra Dunia
Penyusun : Anton Kurnia
Penerbit : iboekoe (Indonesia Buku)
Cetakan : I, Oktober 2006
Tebal : xvi + 314 hlm ; 15x24 cm
Harga : Rp. 55.000,-

Dalam konteks perbukuan indonesia rasanya tak banyak buku yang secara khusus menyingkap riwayat hidup dan karya sejumlah sastrawan dunia yang menulis dalam beragam genre seperti cerpen, novel, puisi, essai, dll. Kalaupun ada mungkin hanya sebatas nama-nama beserta karya-karya para pemenang nobel seperti yang pernah ditulis oleh Djoko Pitono Hadiputro dalam bukunya yang berjudul Seabad Para Pemenang Nobel Sastra (2001, Edumedia). Lalu ada lagi karya penulis senior Korie Layun Rampan yang berjudul Tokoh-Tokoh Cerita Pendek Dunia (Grasindo, 2005).

Selain dua buku di atas masih ada beberapa karya terjemahan yang masih berputar pada nama-nama pemenang nobel sastra. Sedangkan buku-buku berbahasa indonesia yang berisi peta sederhana mengenai tokoh-tokoh serta karya-karya sastra dunia secara komprehensif dan menyeluruh rasanya belum ada dalam ranah perbukuan kita.

Buku Ensiklopedia Sastra Dunia yang disusun oleh Anton Kurnia ini mencoba mengisi kekosongan buku tersebut. Satu langkah yang berani dan jenial bagi Anton Kurnia, penulis muda yang namanya lebih dikenal sebagai penerjemah karya-karya sastra dunia.

Buku ini dibagi menjadi 3 bagian yang terdiri dari ; Tentang Sejumlah Nama, Tentang Sejumlah Karya dan Tentang Sejumlah Hadiah Sastra. Pada Bab Tentang Sejumlah Nama memuat profil 315 sastrawan dari berbagai penjuru dunia dan zaman – dari Homer hingga pemenang Nobel Sastra 2006 Orhan Pamuk. Juga tak ketinggalan daftar semua karya-karya monumental yang dihasilkan oleh para sastrawan dunia yang meliputi prosa,puisi, naskah drama, dll.

Di bab kedua yang diberi judul Tentang Sejumlah Karya, berisi 5 kategori Seratus Karya Terbaik dalam hal ; Terbaik Sepanjang Masa, Novel Abad ke Dua Puluh, Buku sastra terpilih karya Perempuan, Novel Gay dan Lesbian Terbaik, dan Tokoh Fiksi Paling Mengesankan.

Pada Bab Tentang Sejumlah Hadiah Sastra, buku ini memuat daftar sejumlah hadiah sastra terkemuka, seperti Hadiah Nobel Sastra, Booker Prize, Putlitzer Prize, Akutagawa Prize, dll. Pada bab ini memuat 19 penghargaan sastra, mulai dari tingkat dunia, lokal (Amerika, Perancis, Jepang,dll) dengan beragam genre seperi prosa, cerpen, puisi, dll. Semuanya tersaji dengan rinci lengkap dengan keterangan mengenai jenis penghargaan, hadiah yang diperoleh, berserta nama-nama pemenang dan karya-karyanya dari awal diberikannya penghargaan hingga kini.

Yang juga melengkapi isi buku ini adalah terdapatnya keterangan mengenai karya-karya sastra dunia yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia lengkap dengan penerjemahnya. Hal ini mungkin yang paling membedakan dari buku-buku sejenis yang ditulis oleh penulis-penulis asing.

Namun dibalik kelengkapan isi buku ini, jika dicermati terdapat beberapa kekurangan, yang pertama adalah tidak adanya foto diri sastrawan-sastrawan dunia. Padahal dalam sebuah ensiklopedia pemuatan foto adalah hal yang sepatutnya ada. Tentunya di era cyber ini sangat mudah menemukan foto-foto sastrawan dunia.

Yang kedua, dalam keterangan mengenai karya-karya yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia hanya memuat judul terjemahan, tahun terbit dan penerjemahnya, tidak satupun memuat keterangan mengenai siapa penerbitnya. Padalah keterangan penerbit sangat bermanfaat jika pembaca ingin mencari buku-buku terjemahan yang tercantum dalam buku ini.

Terlepas dari dua kekuarangan dalam buku ini, kelengkapan materi dan entri-entri dalam buku ini memang sangat layak diberi judul Ensiklopedi Sastra Dunia. Jika kita mendengar judul buku yang diberi titel ‘Ensiklopedia’ tentunya dalam pikiran kita akan terbentuk gambaran sebuah buku tebal, mewah, hard cover dengan harga yang mahal. Namun gambaran tersebut akan sirna setelah kita melihat wujud buku ini.

Buku Ensikopedia Sastra Dunia ini memang dikemas dalam bentuk yang sederhana, dicetak dalam kertas non HVS. Lay out isi buku inipun dibuat dengan sederhana namun informatif. Wujud buku yang sederhana namun padat dalam isi ini rupanya yang membuat buku ini reltif murah dan terjangkau oleh berbagai kalangan. Pilihan yang tepat karena jika buku ini dicetak dalam kemasan mewah tentunya harganya menjadi mahal sehingga informasi-informasi yang terdapat dalam buku ini menjadi tak terbaca dan hanya akan dimiliki oleh segelintir orang yang berkantong tebal saja.

Selain kelengkapan isinya, buku ini juga bisa menjadi bahan perenungan bagi kita, diantara ratusan nama yang terdapat dalam buku ini pembaca hanya akan menemukan satu nama melayu dan satu nama Indonesia. Dari tanah melayu kita akan menemukan satu nama Abdullah bin Abdul Kadir, sedangkan dari Indonesia hanya tercantum nama Pramoedya Ananta Toer. Tentunya dengan hanya terdapat dua nama ini membuat kita menyadari jika selama ini sastrawan melayu khususunya sastrawan Indonesia hanya mampu’bermain’ dalam wilayah lokal. Padalah sesama negara Asia lainnya seperti India, Jepang, dan Cina telah melahirkan sastrawan-sastran dunia peraih Nobel Sastra.

Dalam kaitannya dengan hal ini Anton Kurnia dalam kata pengantarnya memberi gambaran yang sangat baik sbb “ Mereka memang memiliki tradisi sastra yang kuat dan sejarah yang panjang. Mereka juga mau belajar dengan menyalin karya-karya asing dari khazanah sastra dunia ke bahasa mereka, menerbitkannya sebagai buku, serta menelaah dan menarik manfaat darinya. Kemudian, bila saatnya telah tiba, mereka kembali melahirkan karya-karya yang setara dengan karya-karya terbaik dunia lainnya.” (hl xiii).

Dari pendapat Anton ini kita bisa melihat bahwa salah satu solusinya adalah dengan menerjemahkan karya-karya sastra dunia kedalam bahasa kita. Solusi yang masuk akal dan tampaknya bukan hal yang sulit jika kita memiliki kesungguhan hati dalam menerjemahkan sastra-sastra dunia secara serius disertai idealisme yang kuat sehingga karya-karya terjemahannya pun bukan sekedar terjemahan yang asal-asalan guna kepentingan bisnis penerbitan semata.

Akhirnya buku yang ‘kaya’ ini memang telah hadir di tengah-tengah kita. Sebuah buku yang langka dan sangat baik diapresiasi bagi para pecinta buku, peminat sastra, penulis, kaum akademisi, atau pembaca awam. Dengan hadirnya buku ini tampaknya tujuan penulis agar buku ini dapat membantu mereka yang berminat membaca, dan menyingkap khazanah sastra dunia, serta mencari tentang riwayat hidup, proses kreatif, dan intisari sejumlah sastrawan dunia dapat terwujud. Tak berlebihan pula jika buku ini dijadikan buku wajib bagi sekolah-sekolah dalam bidang studi Sastra dan Bahasa.

Karena seiring bertambahnya waktu akan bermunculan pula nama-nama baru yang mengguncang sastra dunia dan terus diberikannya berbagai pengharaan sastra, alangkah baiknya jika dalam periode tertentu buku ini terus di-update sehingga kelak buku Ensiklopedi Sastra Dunia akan menjadi buku pegangan yang akan terus dibaca dan dimiliki pembacanya dari waktu ke waktu.

@h_tanzil

Sunday, November 12, 2006

The Year of Magical Thinking

Judul : The Year of Magical Thinking
Penulis : Joan Didion
Penerjemah : Leinovar
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan : I, Agustus 2006
Tebal : 254 hlm
Harga :





Hidup berubah cepat,
Hidup berubah seketika,
Kau duduk makan malam,
Lalu hidup yang kau jalani berakhir,

Kematian seseorang yang dikasihi adalah hal yang bisa menimpa siapa saja. Kapan waktunya masih merupakan misteri dan rahasia sang pemberi kehidupan. Kadang kita bisa menduga-duga jika orang yang kita kasihi itu telah menderita penyakit akut yang telah lama dideritanya, namun tak jarang kematiannya datang begitu tiba-tiba sehingga kita tak siap menerima kenyataan itu.

Joan Didion (74 thn), jurnalis dan penulis novel asal Amerika adalah salah satu diantara sekian banyak orang yang harus menerima kenyataan bagaimana kematian orang yang dikasihinya datang secara tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda atau firasat apapun sebelumnya.

Beberapa hari menjelang Natal 2003, Joan Didion beserta suaminya yang juga seorang novelis : John Gregory Dunne baru saja menjenguk putri semata wayang mereka Quintana (36 thn) yang menderita pneunomia di Pusat Pengobatan Beth Israel di East End Avenue. Tak ada yang janggal dalam perjalanan pulang mereka menuju rumah. Setiba di rumah sementara John duduk di samping perapian sambil minum wiski, Didion sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Semua tampak normal. Mereka membicarakan berbagai topik yang ringan. Tiba-tiba tangan kiri John terangkat dan terkulai lemas. Awalnya Didion menyangka suaminya bercanda, namun segera ia mnyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya.

Setelah memanggil petugas paramedis, John segera dilarikan ke rumah sakit, malangnya nyawanya tak tertolong. John didiagnosa mendapat serangan jantung yang hebat yang menghantarnya pada kematian mendadak. Hal ini membuat kehidupan Didion berubah seketika. Bagaimana tidak, kebersamaan dengan John yang telah terbina dengan baik selama empat puluh tahun tiba-tiba terhenti seketika. Didion harus berjuang sendiri menghadapi kematian suaminya, sementara putri semata wayang mereka masih terbaring di ICU RS Beth Israel.

Empat minggu kemudian Quintana dinyatakan sembuh. Namun dua bulan sesudah itu, Quintana terjatuh ketika hendak bepergian bersama suaminya. Ia kemudian dibawa ke UCLA Medical Center dan harus menjalani pembedahan otak karena didiagnosa menderita penyakit hematoma yang parah. Ini berarti terdapat bekuan darah sehingga menyebabkan gangguan neurologis karena terjadi penekanan di otak.

Joan Didion kini hidup dalam kesendirian ditengah cobaan yang bertubi-tubi. Tahun-tahun ini disebutnya sebagai “The Year of Magical Thinking”, dimana ia menjalani kehidupannya dengan tabah sambil mencoba menapak kenangan manis yang pernah dilaluinya bersama John dan Quintana.

Pada tanggal 4 Oktober 2004, tepat sembilan bulan lebih lima hari setelah kematian sauminya Didion menggoreskan penanya untuk mencatat hari-hari terberat dalam hidupnya. Catatan-catatan inilah yang akhirnya diterbitkan pada tahun 2005 dengan judul “The Year of Magical Thinking”.

Walau tema utama memoar ini adalah kematian dan kedukaan, namun Didion menuliskannya tidak dengan cengeng. Mungkin saja isi buku ini tak memberikan ‘makna’ pada kematian suami dan anaknnya, tapi dengan gamblang buku ini menjelaskan efek yang ditimbulkan pada hati dan perasaan Didion, sehingga bisa dikatakan buku ini adalah buku yang jujur, jernih dan apa adanya. Dalam buku ini pembaca akan digiring untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran Didion saat berada dalam kabut kedukaan sekaligus memperlihatkan pada pembacanya akan apa yang hilang dari dirinya.

Pengalamannya sebagai jurnalis dan novelis senior membuat hal-hal yang dia alami sebelum dan setelah kematian John, maupun diskripsi mengenai penyakit dan penanganan medis terhadap John dan Quintana terurai secara detail dan kronologis melalui penyajian yang bersifat reportase. Alur cerita terus bergerak antara masa lalu dan masa kini sehingga pembaca memiliki gambaran yang utuh seperti apa keluarga Didion dan merasakan bagaimana pedihnya hubungan harmonis yang telah terbina selama 40 tahun itu tiba-tiba harus tercerabut dari kehidupannya.

Buku ini juga menyajikan bagaimana detailnya gambaran medis lengkap dengan istilah-istilah kedokteran yang bertaburan di lembar-lembar buku ini. Di satu sisi hal ini mungkin bermanfaat bagi pembaca yang mungkin pernah bersentuhan dengan pengobatan medis atau mereka yang berprofesi sebagai petugas medis, namun bagi pembaca awam hal ini bisa menjadi hal yang mengganggu kelancaran membacanya walau di halaman terakhir tersaji catatan penjelasan mengenai istilah-istilah medis yang terdapat di buku ini

Di halaman-halaman akhir ada sedikit yang mengejutkan yaitu dengan masuknya frasa mengenai Tusnami yang melanda pesisir Sumatera. Hal ini terungkap ketika suatu saat Didion membaca kembali novel pertamanya yang berjudul Democracy yang mengungkap mengenai gempa. “Aku membaca uraian tersebut setelah gempa berkekuatan 9.0 skala Richter mengguncang zona bawah laut Sumatera sepanjang enam ratus mil dan memicu tsunami yang menyapu bersih sebagian besar wilayah pesisir yang membatasi Samudera Hindia” (hal 239).

Pada akhirnya buku yang merupakan pengalaman nyata penulisnya yang sangat personal namun bersifat universal ini tentunya diharapkan dapat memberikan potret tentang sebuah keluarga yang harmonis yang keutuhannya secara tiba-tiba harus terpisah satu dengan lainnya karena kematian sehingga menyentuh setiap pembacanya yang diharapkan tak pernah berhenti mencintai suami atau istri atau anak mereka.

Tampaknya buku yang memprroleh penghargaan National Book Award 2005 dan Powell’s Pudly Award 2006 dan dinominasikan dalam National Book Critics Circle Awards untuk kategori nonfiksi ini memang sangat baik dibaca untuk mereka yang mungkin baru saja atau pernah mengalami kehilangan seseorang yang dikasihinya, atau setidaknya pengalaman Didion yang tertuang dalam buku ini akan menyadarkan orang akan arti kehilangan dan memberikan gambaran bagaimana pengaruh kehilangan bagi orang yang ditinggalkan oleh seseorang yang dicintainya.


Sedikit tentang Joan Didion

Bagi pembaca Indonesia nama Joan Didion (lahir 5 Desember 1943) mungkin masih terasa asing ditelinga. Tidak demikian dengan publik Amerika. Ia adalah penulis legendaris beberapa novel diantaranya ; Run, River (1963), Play It As It Lays (1970), A Book of Common Prayer (1977), Democracy (1984), The Last Thing He Wanted (1996), selain itu Didion juga kerap menulis beberapa tulisian non fiksi seperti kumpulan essai Slouching Towards Bethlehem (1968) and The White Album (1979), dll

Didion juga dikenal sebagai seorang jurnalis senior. Ia merupakan kontributor tetap The New York Review of Books dan The New Yorker. Bersama suaminya John Gregory Dunne (1932 – 2003) yang juga seorang penulis mereka berkoloborasi membuat beberapa naskah skenario film. Ia kini tinggal di New York City

The Year of Magical Thinking merupakan karya terbaru Didion. Buku ini diterbitkan pada Oktober 2005 yang lalu dan langsung mendapat respon yang baik dari para kritikus perbukuan Amerika, hal ini terbukti pada bulan November 2005, (satu bulan setelah bukunya terbit), buku yang dibaca oleh para ibu rumah tangga hingga ibu negara ini diganjar sebagai pemenang National Book Award 2005 untuk kategori non fiksi. Award ini merupakan salah satu penghargaan sastra terkemuka di Amerika, dimana pemenangnya memperoleh uang hadiah sebesar 10.000 dolar atau sekitar 100 juta rupiah dan sebuah patung kristal dari The National Book Foundation.

Dua minggu setelah buku ini selesai diekerjakan, putri semata wayang Didion, Quintana akhirnya meninggal dunia. The New York Times dalam reportasenya mengungkapkan bahwa Didion tak berniat merevisi atau mengubah bukunya setelah kematian putrinya. "It's finished," ujarnya.

@h_tanzil



Friday, November 03, 2006

The Godfather


Judul : The Godfather (Sang Godfather)
Penulis : Mario Puzo
Penerjemah : B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : September 2006
Tebal : 680 hlm ; 23 cm
Harga : Rp.75.000,-





The Godfather menceritakan kisah keluarga Mafia yang dipimpin oleh Don Vito Corleone, ia dikenal sebagai salah satu pemimpin Mafia – Sisilia yang disegani di New York City Amerika, walau ia seorang pemimpin kerajaan bawah tanah raksaksa yang menguasai berbagai kegiatan bisnis ilegal dan hidup dalam dunia kejahatan yang kelam, dirinya tidak bersikap kejam seperti pemimpin mafia-mafia lainnya. Corleone dikenal sebagai seorang pria yang logis, adil dan murah hati.

Di samping menjalankan bisnisnya ia kerap didatangi siapa saja untuk dimintai bantuan. Ia tidak pernah memberikan janji kosong. Tidak peduli semiskin atau selemah apapun orang yang meminta bantuan, Corleone akan memasukkan kesulitan orang itu ke dalam hatinya dan ia akan melakukan apapun untuk menolong orang tersebut. Hanya satu hal yang diinginkanya. Yaitu orang itu menyatakan persahabatannya pada Corleone. Hal ini menyebabkan dirinya digelari “Don” yang terhormat, dan panggilan lainnya yang lebih penuh kasih, “Godfather”.

Keluarga Corleone merupakan keluarga mafia yang paling berpengaruh dan disegani diantara keluarga Mafia lainnya di Amerika Serikat. Pengaruhnya menyebar mulai dari kepolisian, kejaksaan, serikat buruh, hollywood, hingga gedung putih. Bisnis ilegalnya yang berpusat di Long Island menyebar dari mulai perjudian, minuman keras, real estate, taruhan pacuan kuda, dll. Salah satu bisnis yang tidak disentuhnya adalah narkotika. Don Corleone menganggap narkotika adalah bisnis kotor yang akan merusak pengaruhnya di pemerintahan resmi.

Awalnya keluarga Corleone hidup secara aman. Bisnis ilegalnya berjalan dengan lancar dan menguntungkan, tanpa bahaya, tanpa gangguan baik dari pemerintah resmi maupun dari keluarga mafia lainnya. Namun ketentraman ini terganggu ketika Sollonzo yang didukung keluarga mafia Tattaglia, salah satu dari Lima Keluarga Mafia yang berpengaruh di Amerika sekaligus saingan utama keluarga Corleone mengajaknya untuk bekerja sama melakukan bisnis narkotika. Tentu saja Don Corleone menolaknya.

Penolakan Don Corleone menimbulkan sakit hati bagi Sollonzo dan keluarga Tattaglia. Ditambah dengan kenyataan bahwa tanpa dukungan Corleone tak mungkin bagi Sollonzo untuk melaksanakan bisnis narkotikanya. Tanpa diduga Don Corleone ditembak oleh kaki tangan Sollonzo ketika sedang membeli buah-buahan bersama Freddie, putra sulungnya. Tentu saja penembakan ini berpotensi memicu terjadinya perang antar mafia.

Don Corleone luput dari maut, namun terluka cukup parah, sementara Freddie tampak sangat tertekan karena peristiwa tersebut. Selama Don Corleone dalam perawatan, tampuk pimpinan keluarga Corleone dikendalikan oleh Sonny Corleone, putra kedua Don Corleone dan dibantu oleh Tom Hagen selaku consigliere (penasehat) keluarga Corleone.

Sonny mengambil inisiatif menghabisi nyawa Sollonzo melalui Michael (putra ketiga Don Corleone). Misi ini berhasil dilaksanakan dengan sempurna dan untuk menghindari dari jerat hukum, Michael dilarikan ke Sisilia, Itali.

Belum pulihnya Don Corleone dimanfaatkan oleh keluarga Tattaglia untuk membalas dendam kematian Sollonzo dan memuluskan bisnis narkotikanya. Sebuah peristiwa tragis kembali menimpa keluarga Corleone sehingga melemahkan bisnisnya.

Hal ini membuat Don Corleone yang bijak mengambil langkah kenegarawan untuk menghentikan balas dendam antar keluarga yang tiada akhir. Suskes dengan misi damainya Sang Godfather mengundurkan diri dari dunia mafia. Cerita belum berakhir. Putra bungsu Corleone, Michael Corleone dengan langkah-langkah briliannya terus berusaha untuk mengembalikan kejayaan kerajaan keluarga Corleone.

Mario Puzo dalam novelnya ini mengemas kisah keluarga Corleone dengan kerajaan bawah tanahnya dengan menarik. Sejak awal. pembaca akan diikutsertakan dalam sebuah petualangan sepak terjang sang Godfather beserta tokoh-tokohnya yang memiliki beragam karakter yang kompleks yang memiliki harapan, impian, dan ketakutan, tapi juga merupakan pembunuh keji.

Selain tokoh Don Corleone beserta keluarganya, Puzo juga menghadirkan tokoh Tom Hagen selaku consiliegri, satu-satunya consiliegri yang bukan berdarah Italia. Juga terdapat tokoh Jhonny Fontane, penyanyi tenar sekaligus aktor terkenal. Melalui karakter Jhonny ini pembaca akan diajak menyelami kehidupan dunia selebritis Hollywood di tahun awal tahun 70-an lengkap dengan gaya hidup hedonis dan intrik-intrik di dalamnya yang memiliki persinggungan dengan keluarga Mafia.

Selain karakter-karakter tokoh-tokoh yang dipaparkan dengan begitu hidup, novel ini juga mengungkap sepak terjang dunia mafia dengan gamblang, lengkap dengan istilah-istilah yang umum digunakan seperti “Don”, Caporegime, Consilegri, dll, sehingga ketika novel ini terbit di tahun 1969, novel ini memberikan pengaruh yang besar bagi masyarakat dalam budaya populer Amerika, hal ini terbukti dengan semakin banyaknya mafia dan reputasinya yang tertuang dalam buku, iklan hingga film-film.

Terlepas dari benar tidaknya gambaran yang diberikan Puzo dalam novelnya ini sepak terjang Mafia dalam kehidupan masyarakat Amerika memang tak dak dapat dipungkiri keberadaannya. Wikipedia on line mengutip bahwa di tahun 60-an pemerintah Amerika Serikat telah melakukan kerjasama dengan Mafia antara lain dalam usaha pembunuhan terhadap pemimpin Cuba, Fidel Castro.

Kegambalangan dan cara berutur Puzo yang detail dan sangat hidup dalam The Godfather membuat pembacanya bertanya-tanya, apakah ini merupakan kisah nyata ? apalagi karakter Johnny Fontane dalam novel ini mengingatkan orang pada penyanyi Frank sinatra. Ada juga yang menduga kalau Puzo memiliki ‘link’ dengan Mafia sehingga ia mampu menuliskan novel ini dengan sangat detail. Namun dalam wawancaranya Puzo mengelak dan mengatakan bahwa novel yang diselesaikannya selama tiga tahun ini disusun hanya berdasarkan riset pustaka belaka.

Sebelum The Godfather meraih kesuksesan Puzo adalah penulis miskin, sudah dua novel ditulisnya The Dark Arena (1955), dan The Fortunate Pilgrim (1965). Kedua novel ini, walau banyak dipuji oleh para kritikus, bahkan Puzo sendiri menganggap karya keduanya merupakan karya terbaiknya, gagal di pasaran.

Puzo menulis The Godfather karena ia membutuhkan sejumlah uang. Ia terjerat hutang sebesar $20,000, keadaan ini membuat ia mengatakan kepada editornya bahwa ia akan menulis sebuah buku tentang mafia. The Godfather diselesaikannya selama hampir tiga tahun, selama waktu tersebut Puzo juga menulis beberapa cerita lainya.

Ketika the Godfather terbit di tahun 1969, novel ini mendapat sambutan yang sangat baik oleh pasar. Puzo bukan hanya bisa melunasi hutang-hutangnya, ia bahkan menjadi penulis tenar dan The Godfather kini menjadi novel klasik yang akan dikenang sepanjang masa. Novel ini telah terjual lebih dari 21 juta copy dan bertahan di daftar best-seller surat kabar The New York Times selama 67 minggu.

Kesuksesan The Godfather berlanjut ketika novel ini dilirik oleh sutradara bertangan dingin Francis Ford Copolla yang bersama-sama Puzo mengadaptasi novel ini ke layar perak. Puzo dan Copolla memperoleh Oscar untuk Skenario Adaptasi Terbaik. Sedangkan The Godfather I dan The Godfather II terpilih sebagai film terbaik tahun 1972 dan 1974

Gaung The Godfather kini terdengar kembali, di tahun 2004 Mark Winegardner, penulis asal Amerika menerbitkan The Godfather Return yang merupakan sequel dari The Godfather. – Mario Puzo. Dan pada Novemeber 2006 ini Mark Wineggarder kembali akan menerbitkan sekuel lanjutannya yang berjudul The Godfather's Revenge.

Apakah 2 sekuel karya Mark Winegarder ini akan sesukses The Godfather karya Mario Puzo ?


@h_tanzil