Saturday, September 22, 2007

Dracula

Judul : Dracula
Penulis : Bram Stroker
Penerjemah : Ny. Suwarni A.S
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Mei 2007
Tebal : 528 hlm ; 20 cm
Harga : Rp. 60.000,-

Dracula, adalah monster vampir yang usianya telah mencapai ratusan tahun. Ia memiliki kekuatan sama dengan dua puluh orang. Kelicikannya yang luar biasa tumbuh bersama masa hidupnya dari abad ke abad. Ia memiliki kemampuan sihir. Semua orang mati berada di bawah perintahnya. Dia setan bengis yang tak punya hati. Dalam batas-batas tertentu dia bisa muncul kapan dan di mana saja, dan dalam batas kemampuannya dia bisa memerintah keadaan alam, badai, kabut dan petir. Bisa pula memerintah binatang seperti tkus, kelelawar, rubah , serigala dan beruang. Dia bisa pula menjadi serigala atau kelelawar. Bisa menghilang dan menjelma menjadi kabut pekat.

Sepak terjang Dracula menjadi legenda selama berabad-abad. Sebagian mempercayainya dia benar-benar ada, sebagian menganggap hanya kisah tahayul belaka. Tak seorangpun berani membuktikan keberadaannya apalagi memburunya hingga akhirnya ada enam orang pemberani yang memiliki syaraf baja untuk memusnahkan dan membuangnya ke neraka paling dalam hingga tak lagi mengganggu umat manusia yang berada di bumi ini.

Mereka adalah Mina Harker yang dengan keberaniannya telah menyelamatkan suaminya, Jonathan Harker, seorang penasehat hukum dari kegilannnya setelah secara tak disadarinya bertemu langsung dengan Count Dracula dan membuka jalan bagi vampir itu untuk memasuki Inggris. Quincey Morris, jutawan petualang, Arthur Holmwood (Lord Goldaming), seorang bangsawan Inggris, Dr. John Seward, kepala rumah sakit Jiwa di Inggris, dan Prof. Abraham Van Helsing, dokter bedah asal Amsterdam dan satu-satunya dari kelima orang diatas yang mengetahui kekuatan vampir serta bahaya yang mengancam hidup dan jiwa para pemburunya. Hanya dia yang tahu artinya menantang kejahatan Dracula.

Keenam orang ini dipersatukan untuk memburu Dracula karena orang yang mereka kasihi, Lucy Westenra mati dan berubah wujud menjadi vampir yang meneror anak-anak di London. Lucy adalah korban pertama yang dipilih Count Dracula di Inggris. Semua berawal ketika Jonathan Harker ditugaskan oleh kantor pengacaranya untuk mengunjungi Count Dracula di purinya di Transylvania guna mengurus pembelian beberapa rumah di London – Inggris. Awalnya Jonathan tak mengira bahwa kliennya adalah mahluk vampir hingga akhirnya ia menemukan beberapa keanehan di puri tersebut dan menyadari bahwa dirinya terperangkap dalam puri Dracula. Walau akhirnya Jonathan bisa meloloskan diri dari puri setan tersebut, jiwanya terguncang dan menderita demam otak hingga harus dirawat di Budapest selama berminggu-minggu.

Ketika sembuh, Jonathan pulang ke Inggris dan menikah dengan Mina yang merupakan sahabat Lucy Westenra. Adapun Count Dracula setelah urusannya dengan Jonathan Harker selesai, ia segera berangkat ke Inggris dengan membawa beberapa peti dan menumpang sebuah kapal Rusia. Kapal yang ditumpanginya itu terombang-ambing terdampar di pantai Wiltby Inggris, anehnya ketika sampai di pelabuhan tak seorang awak kapalpun yang ditemukan kecuali mayat nahkoda kapal yang terikat pada kemudi kapal. Dalam kantungnya terdapat secarik kertas yang menceritakan kejadian-kejadian mengerikan di atas kapalnya. Selain itu beberapa saksi mata melihat bahwa ada seekor anjing besar melompat dari kapal dan kabur menuju pekuburan umum.

Korban pertama yang dipilih Dracula di Inggris adalah , Lucy Westenra yang saat itu sedang diperebutkan oleh berapa pria sekaligus yaitu Quincey Morris, Dr. Seward, dan Lord Goldaming. Walau akhirnya Lucy memilih Lord Goldaming sebagai calon suaminya, kebahagiaannya tiba-tiba terengut ketika kesehatan Lucy menurun drastis. Lucy selalu tampak lemas dan kekurangan darah. Di lehernya tampak dua luka seperti bekas gigitan binatang Awalnya Dr. Seward yang merawatnya tak bisa menyembuhkannya, kondisi Lucy yang semakin memburuk hingga akhirnya Dr Seward mengundang rekannya Prof Van Helsing untuk memeriksa Lucy. Dari diganosa Van Helsing inilah akhirnya diketahui apa penyebab sakitnya Lucy.

Nyawa Lucy tak terselamatkan dan berubah menjadi vampir. Dengan sangat terpaksa jasad Lucy harus dipenggal kepalanya dan ditusuk jantungnya dengan pasak kayu oleh orang-orang yang mengasihinya. Setelah kematian Lucy, Van Helsing beserta Dr. Seward, Quincy Moris, Lord Goldaming, dan pasangan Jonathan dan Mina Harker memburu keberadaan Dracula di Inggris, mereka menyatroni rumah-rumah yang dibeli Count Dracula untuk menyucikan peti-peti yang merupakan tempat peristirahatannya di Inggris hingga memburunya ke Puri Dracula di Translyvania.

Kisah diatas adalah novel horor klasik karya Bram Stoker – Dracula. Novel yang pertama kali terbit pada tahun 1897 ini bisa dikatakan merupakan novel yang pertama kalinya mempopulerkan kisah dracula/vampir. Setelah itu ratusan buku dan film tentang dracula bermunculan hingga kini. Yang terakhir dan fenomenal adalah novel The Historian karya Elizebth Kostova yang mengaku terinspirasi dari karya Bram Stoker ini. Sedangkan di ranah film, salah satu film terkenal yang diadaptasi dari novel Dracula adalah film besutan sutradara kondang Francis Ford Coppola yang berjudul Dracula (1992). Film ini dibintangi oleh artis-artis papan atas Hollywod seperti Keanu Reaves, Anthoni Hopkins, Winona Ryder, dll.

Novel Dracula ini ditulis Bram Stroker layaknya sebuah buku harian, atau istilah sastranya dikenal dengan ‘epistolary novel’ dimana isinya merupakan kumpulan catatan harian, telegram, surat-surat para tokoh-tokohnya, kliping surat kabar, alat rekam, dll. Gaya penulisan seperti ini lazim ditemui di novel-novel abad 19. Jadi dalam novel ini pembaca akan disuguhkan berbagai catatan harian yang disusun secara urut tanggal dari para tokoh-tokohnya yaitu Jonathan Harker, Mina Harker, Lucy, Dr. Seward, dan Van Helsing. Selain itu terdapat juga artikel surat kabar, isi sebuah telegram, dan surat menyurat antar para tokohnya.

Uniknya walau ditulis dengan cara seperti ini, semuanya terangkai dengan sempurna dan membentuk sebuah kisah yang menarik. Catatan-catatan ini tersaji secara linier dari hari- kehari, kadang mundur sedikit kebelakang atau terdapat beberapa tanggal yang sama untuk melihat sebuah kejadian dari sudut pandang tokoh lain. Hal ini membuat karakter tokoh-tokohnya menjadi kuat karena mengungkap kondisi jiwa para tokohnya menurut perasaannya masing-masing. Hanya saja rupanya Bram Stroker terjebak dalam gaya tuturan yang sama antara tokoh satu dengan yang lainnya, padahal sejatinya catatan harian tiap orang pasti memiliki gaya penulisan yang berbeda.

Karena novel ini ditulis di abad ke 19, tentu saja plot kisah novel ini tidak secepat novel-novel horor jaman kini. Beberapa bagian bahkan terkesan sangat romantik dan mendayu-dayu. Tidak ada ketegangan yang belebihan pada novel ini. Deskripsi yang lazim dalam novel-novel horor seperti darah, kekerasan, dan prosesi pemusnahan mayat yang telah menjadi vampir dideskripsikan dengan wajar sehingga tak membuat pembacanya mual atau bergidik jijik. Namun novel ini tetap menarik untuk dibaca. Pembaca akan dibawa dalam suasana kota London yang kelam ketika matahari beranjak terbenam. Emosi para tokoh-tokohnya tereksplorasi secara mendalam, disini tampak kelihaian Stroker meninjau ke dalam jiwa manusia yang dilanda ketakutan.

Selain menyuguhkan kekelaman, kengerian dan serunya kisah perburuan Dracula. Novel ini bisa dipandang sebagai sebuah novel tentang perubahan peran gender, pergumulan antara tradisi dan modernisasi di akhir abad 19. Di sepanjang cerita, terdapat berbagai referensi atas perubahan peranan gender; Mina Harker adalah seorang wanita modern, yang kecerdasannya yang membuat kagum para tokoh prianya. Ia fasih menggunakan mesin tik. Ia juga menggunakan akal sehatnya dalam melacak keberadaan Count Dracula.

Dalam hal tradisi dan modernisasi, melalui novelnya ini Bram stroker juga menguraikan mengenai menyatunya tradisi (tradisi rakyat dan agama) dan modernisasi. Hal ini terlihat jelas pada tokoh Van Helsing, seorang dokter yang menggunakan cara-cara modern dalam menyelamatkan nyawa Lucy seperti transfusi darah (bisa dibayangkan bagaimana transfusi darah di abad ke 19!), namun ia juga melakukan tindakan diluar nalar seperti menggunakan bawang putih sebagai penangkal vampire, mensterilkan peti Dracula dengan hosti (roti perjamuan kudus), dll.

Melihat luasnya cakupan yang ditulis Stoker dalam novelnya ini, tak heran jika novel ini menjadi novel klasik yang walau telah berusia lebih dari satu abad namun terus dikenang orang hingga kini. Rl. Fisher dalam kata pengantar novel ini mengungkap bahwa novel ini menjadi abadi bukan karena penulisnya, bukan pula karena keistimewaan plotnya, gayanya, dialognya atau pada bagian-bagian deskriptifnya.

Menurutnya yang menjadi keistimewaan Dracula adalah temanya yang luar biasa kuat, penggunaan sudut pandangnya yang beragam, kemampuan Stroker untuk mencakup beberapa bidang (intelektual, emosional, maupun seksual), serta adanya beberapa peristiwa yang benar-benar mengerikan, dan mungkin yang paling penting adalah kemampuan penulisnya meninjau ke dalam jiwa manusia. Efek Dracula sangat cocok kalau disamakan dengan efek mimpi buruk. Kita tak bisa menyentuh mimpi buruk, bahkan tak bisa menimbang atau mengukurnya. Tak seorangpun bisa membantah rasa takut yang ditimbulkannya pada diri kita. Jadi keberhasilan Dracula untuk bertahan adalah berkat kemampuan Bram Stroker untuk melihat dunia dari segi di mana mimpi adalah kenyataan dan kesadaran adalah mimpi (hal 14)

Novel Dracula ini pernah diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 90-an, kini menyusul diterbitkannya The Historian – Elizabeth Kostova (GPU, Jan 2007), Gramedia menerbitkan ulang Dracula dalam kemasan yang menawan. Sampul bukunya dibuat menyerupai buku-buku kuno lengkap dengan bercak-bercak keusangan. Warna cover hitam pekat dengan tulisan “Dracula – Bram Stroker dalam bingkai emas. Punggung bukunya dibuat dengan beberapa ukiran emas khas buku-buku abad 19. Sedangkan pinggir halamannya disalut dengan warna merah darah. Kemasan seperti ini tentu saja membuat orang penasaran terhadap buku ini dan membawa pembacanya untuk masuk dalam abad ke 19 dimana novel ini untuk pertama kalinya diterbitkan.

Semoga GPU terus menerbitkan ulang karya-karya klasik dunia dengan sentuhan kemasan yang kreatif seperti novel dracula ini. Sehingga karya-karya ini yang biasanya sarat dengan pesan-pesan moral tidak pernah terlupakan dan terus terbaca oleh pembaca kita dari generasi ke generasi.

@h_tanzil


Bram Stoker
(Sumber : www.gramedia.com)

Abraham "Bram" Stoker dilahirkan di dekat Dublin pada tanggal 8 November 1847. Ia bermimpi menjadi penulis sejak masih sangat muda, ketika berbaring di ranjang karena penyakit aneh yang sulit dikenali. Karena merasa harus mengalah pada keinginan orangtuanya, selama delapan tahun ia berkarier sebagai pegawai negeri. Namun ia terus menulis, mulai dari kisah fantasi impian sampai ulasan drama panggung. Ia juga masih punya waktu sebagai kritikus teater, editor, dan menulis resensi tentang rujukan teater. Henry Irving, aktor panggung terkenal, membawanya masuk lebih jauh ke dunia teater, sebagai manajer aktor di London`s Lyceum Theater. Novel lengkapnya yang pertama, The Snake`s Pass, terbit tahun 1890, tahun saat ia memulai riset tentang karya akbarnya, Dracula. Diluncurkan ke tengah pembaca bebarapa tahun kemudian, cerita dengan tema luar biasa ini mengangkat tokoh utamanya yang haus darah, Count Dracula, ke arah kemasyhuran ...dan terus bertambah populer bahkan sampai satu abad kemudian.

Monday, September 17, 2007

9/11 Kegagalan Amerika Melindungi Warganya

Judul : 9/11 Kegagalan amerika Melindungi Warganya
Judul Asli : The 9/11 Report – A Graphic Adaptation
Penulis : Sid Jacobson & Ernie Collon
Penerjemah : Andrea K. Iskandar
Penyelia : Pandu Ganesa
Penerbit : Pustaka Primatama
Cetakan : I, Juni 2007
Tebal : x + 138 hal , 16,5 x 24 cm
Harga : Rp. 69.000,-

Enam tahun telah berlalu sejak gedung World Trade Center New York dihantam dua pesawat dan runtuh pada 11 September. Masih segar dalam ingatan kita ketika Presiden George W. Bush begitu geram dan menyatakan perang terhadap terorisme. Setahun lebih setelah serangan terror ini, Bush membentuk komisi Nasional Serangan Teroris ke Amrika Serikat. Komisi yang beranggotakan 10 orang ini kemudian dikenal sebagai “Komisi 9/11” atau "Kean/Zelikow Commission"

Komisi 9/11 bekerja selama dua setengah tahun dan menyelesaikan laporannya dalam bentuk buku setebal 585 halaman yang diberi judul THE 9/11 COMMISSION REPORT Laporan itu berisi analisis dan kesimpulan yang dikumpulkan komisi dari hasil wawancara 1.200 orang di 10 negara dan menyelisik 2.5 juta halaman dokumen termasuk dokumen-dokumen lembaga pertahanan negara. Bisa dibayangkan betapa lengkap dan komprehensifnya laporan tersebut. Walau bukunya telah beredar bahkan bisa dibaca secara online dengan gratis. Tak semua orang mampu melahap buku tebal yang penuh nama dan data-data detail tersebut.

Untunglah dua komikus terkenal Sid Jacobson dan Ernie Colon yang sudah 50 tahun malang melintang di dunia perkomikan Amerika mengadaptasi laporan komisi itu ke dalam bentuk grafis. Colon adalah komikus yang bekerja di Harvey, Marvel, dan DC Comics yang turut membuat tokoh komik Green Lantern, Wonder Woman, dan The Flash. Adapun Jacobson adalah pemimpin redaksi Harvey Comics dan pencipta tokoh Ritchie Rich.

Jacobson dan Colon mengadaptasi laporan komisi itu ke dalam bentuk grafis dengan judul The 9/11 Report: A Graphic Adaptation. Buku ini memadatkan 585 halaman laporan menjadi 128 halaman (131 hal edisi terjemahan) bergambar dalam sajian grafis layaknya cerita superhero dalam DC Comic atau Harvey Comics.

Buku yang diterbitkan Hill and Wang pada tahun 2006 ini, sepenuhnya menggambarkan apa yang muncul dalam Laporan Komisi 11 September. Pembagian bab dan sub bab berserta judul-judulnya sama persis dengan laporan komisi. Artinya buku ini benar-benar mengadaptasi buku aslinya secara konsisten. Yang berbeda, buku ini memanfaatkan kekuatan gambar untuk memaparkan lebih terperinci, misalkan, timeline menit demi menit ketika pesawat dibajak, kepanikan penumpang di pesawat, bingungnya para penyelamat mengevakuasi korban, dll

Sama seperti laporan komisi, melalui buku ini pembaca akan mengetahui deskripsi grafis dalam bentuk komik pada saat penyerangan dan kehancuran gedung WTC terjadi, kita juga akan dibawa terus jauh ke berbagai peristiwa teror yang pernah terjadi yang ternyata memiliki saling keterkaitan dengan peristiwa 11 September. Selain itu buku ini secara jelas mengkritik lembaga-lembaga yang seharusnya cepat tanggap ketika serangan terjadi. Misalnya mengenai buruknya jalur komunikasi antar departemen saat terjadinya serangan, kacaunya sistem manajeman bencana yang bergerak secara tak terintegrasi, tidak adanya koordinasi antara lembaga-lembaga pertahanan, tidak adanya pembagian informasi, dll.

Secara grafis, tentu saja buku ini sangat menawan. Panel-panel gambarnya dibuat dengan dinamis layaknya komik-komik superhero, guratan gambarnya bersih dan dengan pewarnaannya. Gambar karakter tokoh-tokoh nyata dibuat sangat mirip dengan aslinya. Rekaman peristiwa yang mungkin sulit untuk dipahami secara narasi menjadi lebih mudah dengan tersajinya gambar-gambar dalam buku ini, misalnya timeline keempat pesawat yang disajikan secara paralel dari menit ke menit, peta target-target sasaan teror, berbagai kesimpulan komisi yang disajikan secara grafis dengan keterangan yang singkat dan padat. Semua itu membuat laporan komisi yang tadinya kering dan sulit dipahami menjadi lebih mudah dipahami dan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi.

Pembaca buku tanah air patut bersyukur, setahun setelah adaptasi grafis 9/11 report terbit, kini telah hadir edisi terjemahanannya. Karena buku The 9/11 Comision Report sendiri belum terdapat terjemahannya dan belum diketahui apakah akan diterjemahkan kedalam bahasa Indoensia atau tidak, bisa dipastikan sedikit sekali masykarakat Indonesia yang mengetahui isi dari laporan komisi. Hadirnya terjemahan versi adaptasi grafisnya, setidaknya membuat pembaca indonesia bisa ikut memahami hal-hal apa saja yang ditemukan oleh komisi 9/11.

Buku adaptasi grafis ini diterjemahkan dengan sangat baik. Dicetak dengan ukuran dan kertas yang sama dengan versi aslinya. Karena dicetak diatas kertas glossy / art paper maka bisa dikatakan tidak ada distorsi yang berarti dalam hal kualitas gambar antara versi asli dan terjemahannya. Konsekuensi yang wajar membuat buku ini realtif mahal dibanding dicetak dengan kertas biasa. Namun Menurut Pandu Ganesa selaku penyelia sekaligus penerbit buku ini, buku ini dijual lebih murah dari harga yang seharusnya agar harganya lebih terjangkau oleh masyarakat luas.





Cover edisi asli vs Cover ed.terjemahan








Hanya dua hal yang membedakan buku ini dengan buku aslinya. Pertama, covernya. Bisa dikatakan cover edisi terjemahan lebih menarik dibanding versi aslinya. Cover dengan ilustrasi menara WTC yang terbakar dan dipadukan dengan judulnya yang menonjolkan angka 9/11 terlihat lebih catchy dibanding versi aslinya. Yang paling menarik adalah angka 11 yang terlihat retak untuk mengilustrasikan menara kembar yang roboh. Ilustrasi yang cerdas ! salut untuk ilustratornya!

Kedua, judulnya. Jacobson & Colon memberikan judul bukunya dengan The 9/11 Report : A Graphic Adaptation. Sedangkan penerbit Pustaka Primatama merubah judulnya menjadi : 9/11 Kegagalan Amerika Melindungi Warganya. Pilihan judul yang baik karena judul ini tampak lebih menjual dan bombastis ketimbang judul aslinya. Walau demikian judul tersebut tak mengada-ngada dan sesuai dengan isi bukunya. Setelah membaca buku ini, pembaca seperti halnya laporan komisi 9/11 akan sepakat bahwa ketika peristiwa 11 September berlangsung, pemerintah Amerika bisa dikatakan gagal melindungi warganya.

Semoga dengan terbitnya buku ini, kita tidak hanya mengenang peristiwa hitam dalam sejarah peradaban dunia. Melalui buku ini, kita tidak hanya dapat mengetahui asal mula, sebab musabab serta dampak dan pengaruh dari kejadian itu. Tetapi kita juga bisa belajar bagaimana sebaiknya mengantisipasi kejadian serupa yang mungkin bisa terjadi kapan dan dimana saja.

Membaca buku ini tentunya mengingatkan kita bahwa kitapun memiliki berbagai lembar peristiwa hitam dalam sejarah bangsa ini. Salah satunya peristiwa Mei 1998 yang dampaknya berpengaruh terhadap arah bangsa kita saat ini. Dari Peristiwa Mei 1998, pemerintah pernah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta yang telah menerbitkan laporan investigasinya beberapa tahun yang silam. Namun berapa banyak dari kita yang pernah membaca laporan tersebut ? Bukan mungkin tak laporan tersebut diadaptasi secara grafis seperti halnya buku ini. Semoga buku ini juga mengispirasi komikus-komikus Indonesia untuk mengadaptasi laporan tersebut kedalam bentuk grafis yang mudah dipahami masyarakat awam.

@h_tanzil

Monday, September 10, 2007

Menerbitkan Buku Itu Gampang

Judul : Menerbitkan Buku Itu Gampang (Panduan Langkah-langkah Penerbitan Buku untuk Pemula)
Penulis : Jonru
Penerbit : www.NaskahOke.com
Cetakan : I/ edisi gerilya
Tebal : 98 hal ; 29,5 x 21
Harga : Rp. 29.000,-


Hampir setiap penulis menginginkan karya-karyanya diterbitkan ke dalam sebuah buku, namun “Bagaimana cara menerbitkan sebuah buku ?”, “Saya punya naskah novel. Siapa yang harus saya hubungi?”, “Bagaimana prosedur untuk menerbitkan sebuah buku?”, rasanya itu adalah pertanyaan umum yang selalu muncul ketika seorang penulis berniat untuk membukukan karyanya.

Jonru, yang namanya sudah kesohor di dunia internet sebagai pengelola situs www.PenulisLepas.com tak luput dari sasaran pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Ia yang sedikit banyak telah mengetahui seluk beluk dunia penerbitan buku merasa perlu untuk memberikan jawaban yang detail. Mulanya ia menjawabnya dalam situsnya, namun lambat laun ia merasa semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas perlu dibahas secara komprehensif kedalam sebuah buku yang memungkin lebih banyak lagi orang yang dapat membacanya.

Atas dasar pemikiran seperti itulah, akhirnya Jonru menerbitkan sebuah buku yang diberinya judul “Menerbitkan Buku Itu Gampang” secara self publishing. Bukunya terbit dan disebarluaskan secara gerilya melalui internet dan disajikan dalam format folio, difoto copy dan dijilid secara sederhana seperti sebuah diktat kuliah.

Buku ini terdiri dari IV bagian besar yang disusun secara runut mulai dari Menawarkan Naskah ke Penerbit, Menerbitkan sendiri, Alternatif-alternatif lain, dan Hal –Hal Umum. Intinya buku ini berbicara mengenai tiga cara menerbitkan buku; menerbitkan buku secara konvensional, self publishing atau menerbitkan sendiri, dan alternatif-alternatif lain dalam menerbitkan buku.

Sesuai dengan judulnya, tampaknya penulis ingin agar pembaca buku ini memiliki keyakinan bahwa menerbitkan buku itu tidak susah dan itu dibuktikannya sendiri dengan terbitnya buku ini secara self publishing. Sebelum memasuki bab pertama, buku ini menyajikan bab pendahuluan yang berjudul “Penerbit Bukan Moster Jahat. Di bagian ini pembaca akan disuguhkan paradigma baru. Kita sering menganggap bahwa penerbit adalah perusahaan yang kejam dan sombong sehingga belum apa-apa kita merasa minder dan ‘kecil’ ketika berurusan dengan penerbit. Karenanya di bagian ini pembaca akan disadarkan bahwa anggapan itu tidak benar karena sesungguhnya kedudukan antara pengirim naskah dan penerbit adalah sederajat dan saling membutuhkan. Penerbit membutuhkan penulis dan naskah-naskah baru sebagai bahan baku mereka dalam berproduksi, sedangkan penulis membutuhkan penerbit untuk membukukan karyanya. Jadi tidak ada alasan bagi penulis untuk minder dihadapan penerbit.

Setelah diberikan paradigma baru, barulah pembaca akan dituntun untuk melihat hal-hal praktis bagaimana sebuah naskah akhirnya menjadi sebuah buku. Di bagian pertama pembaca akan diberi informasi bagaimana mengirim naskah, mempelajari karakter penerbit, kelengkapan naskah, kiat memilih penerbit, hingga pembahasan soal perjanjian dengan penerbit beserta cara perhitungan royalti. Intinya semua hal dan semua tahapan yang harus dilalui oleh penulis ketika memutuskan untuk menyerahkan karyanya ke pihak penerbit tercakup dalam bagian pertama buku ini.

Di bagian kedua, buku ini menyajikan alternatif kedua dalam menerbitkan buku, yaitu self publishing atau menerbitkan sendiri. Jika kita memilih menebitkan karya kita melalui penerbit profesional maka kita hanya perlu mengirim naskah dan menunggu hingga karya kita diterbitkan. Sedangkan jika kita memilih untuk menerbitkan buku sendiri maka ada banyak hal yang harus dikerjakan. Bagi penulis yang menyukai tantangan, pilihan untuk menerbitkan sendiri karyanya menjadi sesuatu yang mengasyikan. Selain itu ada beberapa keuntungan yang diperoleh jika kita menerbitkan sendiri karya kita dibanding menyerahkannya pada penerbit. Walau tidak memperoleh royalty, kita mendapat keuntungan/laba dari penjualan buku kita sendiri, selain itu jalur distribusi lebih varitif sesuai dengan keinginan dan isntuisi kita kemana buku-buku tersebut akan didistribusikan.

Di bagian ini, kita akan memperoleh berbagai hal yang perlu kita persiapkan untuk menerbitkan buku sendiri antara lain, mengukur seberapa tinggi nilai jual buku kita, pendanaan, proses penerbtian buku, kiat memilih percetakan, perizinan, ISBN dan nama penerbit. Karena proses penerbitan buku dalam self publishing sangat penting, maka buku ini memaparkan berbagai hal yang mendetail yang dimulai dari konsep produksi, langkah-langkah dalam penerbitan buku, proses produksi (proses penerbitan, proses pracetak,proses cetak) hingga proses distribusi dan promosi.

Selain menyerahkan karya kita ke penerbit profesional atau menerbitkan sendiri (self publishing), buku ini juga menyajikan alternatif-alternatif lain dalam menerbitkan buku misalnya gabungan antara dua cara di atas seperti biaya penerbitan ditanggung penulis dan penerbit secara patungan, penerbit hanya bertugas sebagai pelaksana produksi, atau menerbitkan sendiri buku kita dengan meminjam nama penerbit, dll.

Di bagian akhir, buku ini juga menyertakan lampiran contoh surat perjajian penerbitan buku dan contoh synopsis novel yang tentunya sangat bermanfaat untuk diketahui jika kita hendak menerbitkan karya kita ke penerbit professional.

Kesimpulannya, buku ini adalah buku yang lengkap dalam membahas mengenai langkah-langkah dalam menerbitkan sebuah buku. Buku ini ditulis dengan gaya personal dengan menggunakan sapaan ‘saya’ dan ‘kamu’ sehingga pembaca buku ini merasa seperti sedang berdialog dengan penulisnya. Kalimat-kalimatnya mudah dimengerti, tidak bertele-tela, ringkas, padat, dan langsung menuju sasaran. Buku ini tidak menyuguhkan teori-teori mengenai menerbitkan buku melainkan langsung berbicara dalam tatanan langkah-langkah praktis dan komprehensif akan apa yang harus dilakukan untuk menerbitkan buku.

Pengalaman penulis yang telah banyak makan asam garam di dunia publishing kentara sekali dalam buku ini, terlihat jelas semua pengalaman itu tertuang dalam buku ini sehingga buku ini kaya akan hal-hal atau kasus-kasus yang mungkin akan kita hadapi jika kita hendak membukukan karya kita..

Walau Buku ini hanya dicetak melalui mesin foto copy, namun karena kualitas foto copynya baik dan tajam, maka buku ini tetap enak untuk dibaca. Selain itu, buku ini juga dihiasi oleh puluhan ilsutrasi yang menarik dan pas dengan apa yang sedang dibahas di tiap halamannya. Tampaknya pemilihan ilustasi dalam buku ini dikerjakan dengan sungguh-sungguh sehingga antara isi buku dan ilustasinya menjadi kesatuan yang utuh, hidup, dan menarik

Yang mungkin agak disayangkan adalah pemilihan format buku dengan ukuran folio dan dijilid secara sederhana seperti diktat kuliah/seminar. Hal ini tentu saja mengurangi kenikmatan membacanya karena berat dan agak sukar dibawa-bawa. Mungkin ini untuk menyiasati biayanya. Namun saya rasa jika buku ini difoto copy dengan format buku, maka buku ini akan lebih menarik lagi. Melihat isi buku ini yang sangat bermanfaat, saya rasa pembaca buku ini rela membayar harga yang sedikit lebih mahal asalkan format buku ini diubah menjadi lebih handy.

Terlepas dari hal kemasan buku, buku ini saya rasa sangat bagus dibaca oleh para penulis baik yang ingin menerbitkan bukunya ketangan penerbit maupun mereka yang ingin menerbitkan bukunya sendiri. Buku ini bisa dijadikan buku panduan yang lengkap dan sangat pantas dijadikan buku yang wajib dibaca bagi mereka yang ingin memahami tentang seluk beluk penerbitan buku yang sebenarnya.

Buku ini tampaknya mendapat apresiasi yang sangat baik dari pembacanya, terbutki walau diterbitkan secara gerilya, dalam waktu dua hari saja buku ini telah terjualnya sebanyak 20 eks. Tampaknya sudah saatnya buku ini diterbitkan secara professional dan dicetak secara masal, agar lebih banyak lagi pembaca yang merasakan manfaat dari isi buku ini.

Untuk memperoleh buku ini silahkan browsing ke http://www.naskahoke.com/mbig

@h_tanzil

Saturday, September 01, 2007

Apa Kabar Kang Je ?

Judul : Apa Kabar Kang Je ?
Penulis : Anjar Anastasia
Penerbit : OBOR
Cetakan : I, Mei 2007
Tebal : 177 hlm
Harga : Rp. 24.000,-


Beberapa bulan yang lalu sms dari Anjar masuk ke selularku, isinya mengabarkan bahwa cerpen-cerpen Kang Je karyanya akan dibukukan dan aku akan dikirimi satu bukunya. Wow! Dalam hati aku bersorak karena akhirnya cerpen-cerpen Kang Je dibukukan !. Sebelum dibukukan, Anjar kerap mengirim email padaku yang berisi cerpen-cerpen yang tokohnya bernama Kang Je. Awalnya aku tak tahu siapa Kang Je yang dimaksud, namun begitu aku membacanya aku langsung mengerti bahwa Kang Je disini adalah Yesus Kristus !

Semenjak itu pula saya tertarik membaca cerpen-cerpen Kang Je. Bagi saya ide cerpen dengan tokoh Yesus yang dipersonifikasikan dengan Kang Je sangat orisinil dan menarik. Saya masih ingat kalau dulu saya pernah mengusulkan agar cerpen-cerpen Kang Je bisa dibukukan. Namun saat itu Anjar masih belum menemukan penerbit yang cocok untuk cerpen-cerpennya ini.

Ketika itu cerpen-cerpen Kang Je hanya disebarnya ke sejumlah milis dan kepada kawan-kawannya. Setelah bertahun –tahun beredar dalam lingkungan terbatas di milis dan emai-email pribadinya, kini cerpen-cerpen Kang Je menyapa ke lingkungan pembaca yang lebih luas. Mei 2007 yang lalu cerpen-cerpen ini diterbitkan. Sungguh suatu kejutan yang menyenangkan bagi saya karena isi dari cerpen-cerpen seri Kang Je ini sangat inspiratif dan saya berharap banyak orang mendapat inspirasi dari cerpen-cerpen sederhana namun sarat makna ini.

Dalam cerpen-cerpennya ini Yesus dijadikan tokoh yang sangat dekat dengan tokoh ‘aku’. Yesus bukanlah sosok yang jauh dan kasat mata, ia menjadi tokoh yang terlihat, bisa disentuh, dan bisa menjadi siapa saja, sebagai ayah, kakak, sahabat, dll.

Buku ini memuat 28 kisah tentang ‘aku’ dan Kang Je. Selain cerpen, ada pula beberapa puisi. Kisah-kisahnya sederhana, diangkat dari kejadian sehari-hari mulai dari soal cinta, persahabatan, kesetiaan, perceraian, hingga acara tujuh belasan dan kesibukan lebaran. Semuanya terangkai dalam kalimat-kalimat yang mengalir enak dibaca, sederhana, mengharukan, lucu, kadang mengejutkan, dan sarat makna. Yang paling menarik bagiku adalah sosok Kang Je yang digambarkan begitu dekat dengan tokoh ‘aku’. Walau yang dimaksud Kang Je adalah Yesus Kristus, namun yang terlihat di keseluruhan kisahnya adalah Yesus yang sangat manusiawi. Yesus di buku ini bukanlah sosok yang selalu serius, ia bisa melucu, menjitak dan mencacak-ngacak rambut tokoh aku yang iseng, menepuk bahu memberi semangat, hingga mendekap dengan kasih bagaikan seorang ayah yang mendekap anaknya.

Dari penampilannya, Yesus atau Kang Je juga kadang dideskripsikan dalam pakaian modern, berkaos oblong, memakai celana jins, dll. bahkan, Kang Je bisa menyenandungkan lagu Josh Groban “You Rise Me up”. Ia juga sangat toleran terhadap kepercayaan lain. Dalam satu kisahnya diceritakan bagaimana Kang Je menghadiri perayaan Idul Fitri dan makan ketupat lebaran!

Apakah Yesus pantas dideskripsikan dengan sangat manusiawi seperti dalam kisah-ksiah dalam buku ini? Dalam kehidupan iman Kristen, Yesus sah-sah saja dipersonifikasikan sebagai siapa saja. Dalam pujian, dalam doa, Yesus sering disebut sebagai, Bapa, sahabat, kekasih jiwaku, dll. Sedangkan dalam ranah cerpen rasanya belum ada yang mendeskripsikan Yesus sedekat dan semanusiawi kisah-kisah dalam buku ini. Namun walau Yesus dimanusiakan oleh Anjar, unsur-unsur ketuhanannya masih tetap melekat baik melalui kisahnya maupun melalui obrolan-obrolan antara Kang Je dengan tokoh-tokohnya sehingga kita yang membacanyapun tak lantas merasa bahwa Kang Je adalah manusia biasa. Kita akan tetap merasa bahwa Yesus alias Kang Je adalah Tuhan yang hadir dalam tubuh manusia.

Saya tak akan berkisah mengenai apa-apa saja yang dikisahkan oleh Anjar dalam bukunya ini. Rasanya akan lebih mengasyikan jika kita membaca sendiri dan mencoba merefleksikan berbagai pesan tersembunyi yang terdapat dalam kisah-kisah dalam buku ini.

Buku ini sangat cocok untuk dijadikan bahan refleksi bagi siapa saja. Bukan tak mungkin tiap kisah-kisahnya bisa dijadikan bahan diskusi bagi kelompok-kelompok kecil di gereja-gereja atau persekutan-persekutuan. Kisahnya pendek-pendek saja namun sarat makna dan inspiratif. Karena diangkat dari kejadian sehari-hari, tak sulit untuk memahami seluruh kisah dalam buku ini. Bukan tak mungkin apa yang dikisahkan juga pernah dialami oleh kita.

Di tiap akhir kisah terdapat juga beberapa baris pesan moral yang disampaikan oleh penulisnya. Namun menurut saya pribadi pencantuman pesan moral ini rasanya tak perlu. Biarlah pembaca buku ini menggali dan merefleksikan sendiri apa yang dimaksud dalam tiap kisah-kisahnya. Toh buku ini bukan ditujukan untuk anak-anak. Pencantuman pesan moral saya rasa justru akan membatasi si pembaca merefleksikan kisah-kisah yang ada dalam kehidupannya pribadi.

Terlepas dari hal diatas buku ini sangat layak dibaca dan dimiliki oleh mereka yang ingin mengenal lebih dekat bagaimana Yesus menyikapi semua masalah pribadi dan lingkungan yang kita hadapi. Buku ini mencoba mengajak kita menempatkan sosok Yesus bukan sebagai sosok yang jauh, tak terjangkau, namun sosok yang dekat dengan kita dan mengerti apa yang kita alami karena dia adalah Tuhan bisa hadir kapan saja sebagai sahabat, kakak, ayah, kekasih, tempat kita berkeluh dan berbagi suka dan duka. Selain itu buku ini juga bisa menghibur dan menguatkan iman kita ketika kita mungkin mengalami hal yang sama dengan kisah-kisah di buku ini.


Sekilas tentang Anjar

Anjar Anastasia, atau lebih dikenal dengan Anjar, adalah novelis kelahiran Tanjungkarang-Lampung yang kini bermukim di Bandung. Sebagai novelis, Anjar dikenal produktif melahirkan karya-karyanya. Setidaknya sudah 10 buah karyanya dibukukan, diantaranya : Beraja, biarkan kumencinta (Grasindo,2002), Kidung-senandung cinta untukku (Grasindo,2004), Tiga-menjemput semburat cinta (Grasindo,2005), Apa Kabar Kang Je ? (OBOR, Mei 2007), Teenlit-Karena Aku Sayang (Gramedia,2007), dan yang terbaru , Lelana-jiwa-jiwa yang pulang (Grasindo, Agustus 2007).
Selain menulis novel, Anjar juga sempat menjadi sejumlah editor di sejumlah buku-buku sastra, aktif di berbagai milis sastra dan aktif di berbagai kegiatan sastra di kota kembang Bandung.

Hingga kini Anjar masih menulis cerpen-cerpen Kang Je. Menurutnya minimal 2 buku Kang Je akan terbit kembali. Baginya menulis cerpen Kang Je mengasah sisi relijiusitasnya yang masih terus dipelajari dan dicarinya. Dan apa yang dia cari, tulis, dan bukukan itulah yang akan ia bagikan kepada para pembacanya. Ia ingin banyak berbagi kepada seluruh alam semesta sekaligus rasa syukur terdalamnya bagi Sang Mahacinta.

@h_tanzil