Tuesday, May 16, 2017

SERBU! Pengisahan Belanja Buku

[No. 375]
Judul : SERBU! Pengisahan Belanja Buku
Editor : Bandung Mawardi
Penerbit : Bilik Literasi
Cetakan : I, Maret 2017
Tebal : 120 hlm
ISBN : 978-602-609-6302

Bagi para penggila buku, berbelanja buku ibarat berburu harta karun. Hasrat untuk memperoleh buku dengan harga murah adalah hasrat yang tak akan pernah padam. Apapun akan mereka usahakan, kalau perlu berkorban dengan memotong anggaran untuk membeli baju, makan, dll asal buku-buku yang dicari terbeli.

Kisah reportase bagaimana para penggila buku, para essais muda yang tergabung dalam komunitas Bilik Literasi - Solo  ketika  berburu buku di Blok M Jakarta tertuang dalam buku ini.  Masing-masing menulis dengan gaya dan sudut pandangnya masing-masing bagaimana pengorbanan mereka dan bagaima keseruan mereka saling adu cepat berebut buku ketika mereka berada di lapak buku yang sama.

Buku-buku yang mereka buru bukanlah buku-buku baru melainkan buku-buku lawas yang mungkin sudah lama disingkirkan dari display toko-toko buku besar. Tidak heran perburuan buku yang mereka alami adalah perburuan yang menegangkan karena untuk satu judul jumlahnya sangat terbatas atau bahkan mungkin hanya ada satu ekslempar saja. Untuk itu harus saling berlomba cepat untuk mengambil sebuah buku yang sama-sama menjadi incaran mereka.

Belanja buku bareng kawan-kawan Bilik Literasi selalu membahagiakan sekaligus menegangkan. Selalu saja penuh tarik ulur buku-buku apik yang ketersediaannya terbatas. Senggol kanan-kiri, rebutan buku edisi yang  mungkin tak cetak ulang lagi
(hlm 101-102)

Kesepuluh essais yg berburu buku di Blok M ini bukanlah orang-orang yang berkelebihan secara materi, mereka harus mengatur anggaran sehari-hari agar dapat menyisihkan sejumlah uang untuk membeli buku. Bahkan ada yang hanya bermodalkan 50 ribu  ruipah saja. Namun hal ini tidak menghalangi antusiasme mereka untuk berbelanja buku karena bagi mereka buku adalah sebuah kebutuhan utama agar mereka bisa menulis essai di koran atau majalah.

Karena dikisahkan secara personal, jujur, dan apa adanya maka kesepuluh kisah dalam buku ini menjadi begitu bersahaja dan menarik bahkan menginsporasi karena tak jarang beberapa quote menarik terselip di dalam keseruan pengalaman mereka berburu  misalnya apa yang diungkapkan oleh Hanputro Widyono tentang bagaimana dia bersama komunitas Bilik Literasi memuliakan buku:

Tampaknya bukan cara kami untuk "memuliakan" buku dengan menaruhnya di rak-rak besar nan mewah. Membuat buku lebih mirip barang pajangan. Apalagi kalau rak berbentuk lemari kaca yang berada di ruang tamu. Ah itu mirip laku intelektuil-intelektuil kelas wahid. Sedangkan kami, selalu didambakan tetap menjadi "amatir": penulis esais, peresensi amatir......agar kami tetap merasa bodoh dan tak berhenti sinau (belajar) untuk semakin mengeri kebodohan diri sendiri. Kesederhanaan - boleh juga disebut juga kemiskinan -kami membuat satu-satunya cara yang mungkin untuk memuliakan buku yaitu lewat membaca dan menjadikannya referensi 
menggarapan essai. 
 (hlm 31)

 atau bagaimana Mutimmatun Nadhifah dalam tulisan berjudul Pada Suatu Hari, Sekardus Buku: yang menulis bahwa 

Belanja buku adalah bekal menjadi perempuan bercerita. Aku tak ingin memiliki nasib buruk karena tak menjadi pembaca buku dan cukup bahagia menjadi bagian jamaah pengajian, peserta seminar kampus, tapi ditanya soal feature malah menjawab baru dengar 
(hlm. 18).

Selain kisah  berburu buku, masing-masing penulis juga dengan bangga melaporkan buku-buku apa saja yang mereka peroleh beserta beberapa foto cover buku dan  sedikit ulasan atau pertanggungjawaban mengapa mereka membeli buku-buku tersebut. Hal ini membut buku ini menjadi semakin bermanfaat bagi para pembaca buku karena sangat mungkin  beberapa buku  yang mereka beli adalah buku yang sedang kita butuhkan. Walau semua yang dibeli adalah buku-buku lawas beberapa diantaranya mungkin saja baru kita ketahui atau sudah kita lupakan karena derasnya buku-buku baru bermunculan di toko-toko buku.

Akhir kita seluruh  kisah kesepuluh pemburu buku yang ditulis dengan antusiasme yang menggebu-gebu  ini akan membuat pembaca yang doyan buku terhanyut dalam serunya mereka berbelanja. Buku ini adalah catatan reportase kecil yang sayang untuk diabaikan. Lewat buku ini kita akan melihat bagaimana semangat juang mereka berburu buku.  Selain itu, yang lebih penting, belanja buku bagi mereka bukan sekedar memuaskan hasrat mereka untuk  mengoleksi buku saja, namun buku-buku tersebut akan mereka baca dan jadikan sebagai sumber referensi bagi essai-essai yang akan mereka tulis dan mereka kirimkan ke berbagai koran dan majalah. 

Apa yang mereka lakukan terhadap buku adalah sebuah teladan berharga bagaimana seharusnya kita memuliakan buku.

@htanzil

4 comments:

Taufik Nengti said...

Cobain dong dengerin buku di aplikasi audiobuku di http://audiobuku.com/

MY LIBRIDIARY said...

halo om, di mana saya bisa ngedapetin buku ini ya?

htanzil said...

untuk memperoleh buku ini silahkan inbox Facebook Mutimmatun Nadhifah

Rati said...

Sepertinya menarik juga buku ini ya.