Friday, May 28, 2021

Lantaran Dimadu - Satu Tragedi dalam Rumah Tangga Tionghoa di Bandung

[No. 398]
Judul : Lantaran Dimadu - Satu Tragedi dalam Rumah Tangga Tionghoa di Bandung
Penulis : Kwee Boen Hoey
Penyunting : Andrias Arifin
Penerbit : Katarsis Book
Cetakan : I, Maret 2021
Tebal : x + 94hlm; 13x19cm

Di paruh pertama abad ke-20 untuk mengatur masalah pernikahan bagi orang-orang Eropa di Hindia Belanda dibuatlah sebuah Undang-Undang Pernikahan yang juga berlaku atas orang-orang Tionghoa.  Undang-undang tersebut  tidak mengizinkan  seorang pria memiliki lebih dari satu istri. Jika seorang suami kedapatan memiliki istri lebih dari satu maka akan mendapat hukuman badan selama-lamanya 5 tahun. Walau peraturan sudah dibuat namun sepertinya masih banyak pria yang melanggarnya. Atas dasar itulah Kwee Boen Hoey menulis sebuah novel pendek yang terbit pada tahun 1927

"LANTARAN DIMADOE" atau "Satoe Tragedy dalem rumah tangga Tionghoa" saya tulis untuk menjadi satu penerangan bagi siapa saja yang berada di dalam pengalaman-pengalaman itu yang termaksud dalam penuturan di atas, yang sampai hari ini masih banyak terdapat di dalam kalangan rumah tangga Tionghoa di Djawa Koeloen dan yang telah membuat rusak keananan rumah tangga yang tadinya telah didirikan dengan keagungan dan berakhir dengan ratapan dan banjir air mata.

Di dalam buku ini saya akan menunjukkan dengan tegas tentang bagaimana sifat lelaki yang hidup dengan  dua istri atau lebih, dan tentang perasaan-perasaan istri yang dimadu dan menjadi madu, tentang bagaimana perihnya hati yang terluka...

Novel Lantaran Dimadu  diawali dengan suasana kota Bandung tempo dulu saat diterjang hujan badai. Hal  ini seolah menjadi suatu isyarat bahwa untuk selanjutnya pembaca akan dibawa pada sebuah kisah badai kehidupan dalam rumah tangga yang terjadi akibat istri yang dimadu oleh suaminya. 

Dikisahkan Eng Nio adalah seorang wanita cantik yang berasal dari keluarga peranakan Tionghoa (Orang Tionghoa yang lahir di Indonesia)  yang kurang beruntung secara ekonomi. Ketika Lian Hie,seorang Hokchia totok (orang Tionghoa yang lahir di Tiongkok)  yang mengaku sebagai pemilik toko emas di Pasarbaru Bandung melamarnya, tanpa pikir panjang orang tua Eng Nio menerima lamaran tersebut.

Rupanya perbedaan adat antara seorang peranakan dengan Hokchia totok  berpengaruh pada kehidupan rumah tangga mereka.

Kehidupan antara Eng Nio dengan suaminya sangat bertentangan. Bukan saja dalam caranya ia punya pergaulan, tapi juga dalam adat istiadatnya mempunyai perbedaan-perbedaan yang dirasa tidak mengenakkan. Tapi lantarang mengingat bahwa orang itu sekarang sudah menjadi suaminya, seberapa besar Eng Nio berusaha buat menyesuaikan dirinya….. (hlm 36)

Di tahun ketiga pernikahannya Eng Nio semakin jarang mendapat kasih sayang dari suaminya yang setiap malam kerap keluar rumah untuk mencari kesenangan sendiri. Eng Nio tidak bisa mencegahnya karena menurut tradisi Tionghoa saat itu seorang perempuan harus menurut terhadap suaminya.

Sementara Eng Nio sibuk dengan urusan toko emas, Lian Hie semakin sibuk dengan dunianya sendiri. Eng Nio ditinggal sendirian di rumah dan baru pulang tengah malam atau hampir fajar. Hal ini terus terjadi hingga Lian Hie secara mendadak mengutarakan maksudnya untuk pulang ke Tiongkok untuk menengok keluarganya disana.

Sebagai istri yang taat pada suaminya, Eng Nio tidak bisa menolak permintaan suaminya walau ia merasa khawatir kalau kelak suaminya pulang dari Tiongkok ternyata membawa pulang seorang perempuan.  Kekhawatiran Eng Nio menjadi kenyataan,  setelah Eng Nio dengan sabar menunggu  selama 4 tahun tanpa kabar, Lian He, suaminya pulang dengan membawa seorang perempuan Tiongkok  yang telah dinikahinya di Tiongkok

Apa yang dilakukan suaminya membuat Eng Nio terluka, apalagi ternyata perempuan yang telah dinikahi suaminya itu memperlakukan Eng Nio secara semena-mena. Disinilah kemudian penulis mengeksplorasi keresahan hati berserta penderitaan fisik dan psikis dari seorang wanita yang dimadu.

Bukan Sekedar Kisah Pilu

Lalu apa yang bisa kita peroleh dari novel pendek  yang terbit 90 tahun yang lalu ini? Apakah sekedar kisah pilunya derita seorang wanita lantaran dimadu? Dalam bab Permulaan Kata (Kata Pengantar) penulis menyuguhkan Undang-undang pernikahan bagi orang Tionghoa  di Hindia yang menyatakan bahwa seorang pria hanya boleh menikah dengan satu perempuan dan fasal-fasal mengenai hukuman  penjara jika kedapatan seorang pria beristri lebih dari satu.

Selain tentang Undang-undang pernikahan, Jika kita cermati lebih dalam lagi ada beberapa hal yang bisa kita dapatkan, antara lain tentang kondisi sosial budaya masyarakat Tionghoa, khususnya di Bandung  di paruh pertama abad ke-20

Dari novel pendek ini kita bisa melihat di masa itu profesi apa yang biasa dijalankan orang-orang Tionghoa. Yang mungkin telah menjadi streretoip orang Tionghoa hingga kini adalah profesi sebagai pedagang.  Di novel inipun kita akan melihat bahwa beberapa tokohnya adalah pedagang, mulai dari pedagang emas di toko hingga pedagang minyak dan tembakau  keliling.  Pedagang pikulan keliling inilah yang sekarang sepertinya sudah tidak dilakukan lagi oleh para pedagang Tionghoa.  

                                                      Pedagang pikulan keliling Tionghoa

Selain berdagang barang, orang Tionghoa juga ada yang ‘dagang uang’  khususnya dari suku Hokchia  yang  umumnya berprofesi sebagai tukang pinjam uang. Dalam novel ini terdapat tokoh  seorang Tionghoa Hokchia yang meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi atau dimasa itu  dikenal sebagai orang yang  meminjamkan uang panas

Untuk urusan perjodohan, terungkap pula profesi wanita Tionghoa sebagai mak comblang atau jika dalam novel ini disebut sebagai cengkauw. Sepertinya di masa itu peran seorang cengkauw dalam urusan perjodohan memegang peranan penting. Melalui jasa cengkauw itulah para pria Tionghoa berusaha untuk melamar Eng Nio.

Novel ini juga mengungkap tentang perilaku dan kebiasaan  orang Tionghoa totok  dan orang Tionghoa peranakan yang ternyata memiliki perbedaan yang tidak mengenakkan khususnya ketika itu terjadi  dalam hal hubungan pernikahan.

Sebagai seorang peranakan yang hidup sedari kecil dibawah pengaruh yang terdapat di sekitar dirinya, waktu baru menikah dirasakan kehidupan antara Eng Nio dan suaminya sangat bertentangan. Bukan saja dalam caranya ia punya pergaulan, tapi juga dalam adat istiadatnya mempunyai perbedaan-perbedaan yang tidak mengenakkan…..adat kelakuan dan kebiasaan suaminya sebagaimana umumnya kehidupan orang-orang Hokchia ada perbedaan dengan adat kehidupan orang-orang Tionghoa peranakan terhadap istri dan orang tuanya. (hlm 35-36)

Selain itu novel ini juga mengungkapkan anggapan umum dimasa itu bahwa bukan hal yang aneh jika seorang Tionghoa totok membawa pulang wanita Tiongkok ketika ia kembali ke Jawa.  

…kebanyakan orang Tionghoa totok kalau pulang ke Tiongkok, kalau pulangnya suka bawa perempuan lain sebagi istrinya.. (hlm 45)

Masih banyak hal-hal menarik yang bisa diambil dari novel ini.  Yang tak kalah menariknya adalah sejumlah wejangan singkat  dari penulis yang disisipkan dalam kisahnya yang beberapa diantaranya mengutip dari falsafah kehidupan  Tionghoa dan Barat sehingga pembaca akan mendapat pelajaran kehidupan dari kisah derita seorang wanita yang dimadu.

 

Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1927 oleh penerbit Boelan Poernama, Bandoeng dengan Judul “Lantaran Dimadoe, Satoe Tragedy Dalem Roemah Tangga Tionghoa. Empat tahun kemudian novel ini diterbitkan lagi oleh Drukerij Litera, Bandoeng.  Kini novel yang  aslinya ditulis dalam bahasa melayu pasar dengan ejaan lama/ Van Ophuysen ini  diterbitkan ulang dengan  dengan menggunakan kalimat yang sesuai dengan aslinya namun  dengan Ejaan yang disempurnakan (EYD). 

Di edisi yang terbaru ini penerbit menambahkan kalimat “di Bandung”  di sub judulnya sehingga menjadi Lantaran Dimadu – Suatu Tragedi dalam Rumah Tangga Tionghoa di Bandung. Penambahan ini tidaklah mengada-ngada karena novel ini memang settingnya di Bandung, di dalamnya kita akan menemukan jalan Tjibadakweg, Pasar Baroe, Tjitepoes, dan bursa tahunan Jaarbeurs yang sangat terkenal di masa itu.

Untuk istilah-istilah asing yang untuk saat ini sudah jarang atau tidak pernah digunakan, penerbit menyertakan penjelasan di catatan kakinya. Ada satu hal yang perlu dikoreksi yaitu kalimat toonnel komedie. Kalimat ini pada catatan kakinya diartikan sebagai komedi putar, roller coaster,  padahal arti sebenarnya adalah sandiwara atau teater.

Satu hal lagi yang mungkin perlu dikoreksi, jika di naskah awalnya setiap bab diawali dengan nomor menggunakan angka romawi, di cetakan terbarunya angkanya dihilangkan. Padahal dibeberapa kalmat pembuka antar bab penulis merujuk pada nomor babnya. Contohnya :

Satu bulan telah lewat dari apa yang dibicarakan di bagian ke II…. (hlm24)

Jalannya walau begitu cepat zonder terasa sudah tiga tahun lewat dari apa yang dibicarakan di bagian IV.. (hlm 46)

Mungkin sebaiknya nomor di judul tiap bab-nnya tidak dihilangkan sesuai dengan naskah aslinya. 

Selain itu ada perbedaan penerbit dan tahun penerbitan keterangan cetakan pertama dari novel ini. Dihalaman kolofon cetakan terbarunya tertulis bahwa novel ini pertama kali diterbitkan oleh Drukerij Litera, Pakoewan Soemedangweg 89 Bandoeng, 1931. Sedangkan menurut katalog online Perpustakaan Nasional  novel ini diterbitkan oleh  Boelan Poernama, Bandoeng 1927.

Terlepas dari hal diatas, diterbitkannya kembali buku yang mungkin sudah dilupakan banyak orang ini patut diapresiasi dengan baik. Selain kisahnya masih relevan hingga kini, lewat novel ini pembaca akan diajak melihat  suasana Bandung beserta adat kebiasaan orang-orang Tionghoa di masa lampau yang sedikit banyak bermanfaat untuk pembaca umum atau peneliti kebudayaan Tionghoa peranakan dalam menambah khazanah pengetahuian mereka tentang Bandung di paruh pertama abad ke-20.

Tentang Penulis 

Sampai resensi ini ditulis saya tidak menemukan data apapun tentang Kwee Boen Hoey. Barangkali ada teman-teman ada yang tahu profil tentang Kwee Boen Hoey bisa menginfokannya di kolom komentar atau email ke htanzil@gmail.com

 @htanzil 

Berikut scan dari novel ini artikel 279 dari Wetboek van Stafrecht dan artikel 284 dari Strafwetboek yang menetapkan hukuman penjara bagi suami yang beristri lebih dari satu


 




Wednesday, April 21, 2021

Bandung di Persimpangan Kiri Jalan

[No. 397]
Judul : Bandung di Persimpangan Kiri Jalan
Penulis : Hafidz Ashar
Penerbit : ProPublic.Info
Tebal : xvi + 231hlm, 13 x 19 cm
Cetakan : I, Februari 2021
ISBN : 978-623-93907-7-8

 Bandung pada paruh pertama awal abad ke 20 khususnya  di tahun 1920-an adalah kota pergerakan baik itu bagi kaum nasionalis, agama, hingga komunis. Tidak heran jika Bung Karno mengawali jejak pergerakannya di Bandung saat ia kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng/ITB  (1921-1934).

Salah satu gerakan yang tumbuh dan berkembang dengan pesat di Bandung pada masa itu adalah gerakan komunis atau sering disebut sebagai gerakan kiri. Begitu kuatnya pengaruh gerakan kiri sampai-sampai organisasi  Sarikat Islam yang didirikan di Bandung pecah menjadi Sarikat Islam Merah (SI Merah) yang berafiliasi ke Partai Komunis Indonesia.

Buku ini  berisi 20 artikel tentang gerakan kiri di Bandung di tahun 1920an yang datanya diperoleh penulis  dari berbagai koran  yang terbit di tahun 1920-an dan beberapa buku referensi yang menyinggung tentang gerakan kiri di Bandung. 

Jika kita membaca buku ini terlihat jelas bagaimana gerakan kiri di Bandung yang saat itu dimotori oleh SI Merah dan PKI telah menjadi sebuah gerakan yang besar. Sebuah sumber  menyebutkan  bahwa Bandung merupakan pusat agitasi kedua Komunis setelah Semarang sebagai basis terbesarnya. 

Hal ini terbuktikan dengan  beberapa pertemuan yang diadakan kelompok kiri yang selalui mendapat perhatian besar dengan jumlah peserta yang banyak.  Ketika terjadi bencana kelaparan di Rancaekek Bandung pada 1923, SI Merah dan  PKI mengadakan vergadering/perkumpulan untuk membicarakan kelaparan di Rancaekek. Surat kabar Sapoedjagat melaporkan bahwa rapat tersebut dihadiri oleh sekitar 700 orang yang terdiri dari berbagai elemen. 

Ditahun itu juga di Bandung  digelar kongres SI Merah dan PKI. Kongres yang meriah yang didekorasi dengan penuh warna merah dan dihiasi gambar tokoh-tokoh Komunis dalam dan luar negeri itu diikuti oleh 15 utusan cabang PKI, 13 cabang SI dan 300 peserta umum. Selain itu peserta acara terbanyak yang digagas kelompok kiri yang terungkap di buku ini yaitu ketika Sarikat Islam Merah Bandung menggelar pertemuan dengan kelompok buruh  V.S.T.P yang dihadiri oleh 2.100 orang peserta dan diliput oleh berbagai media. Bahkan tidak hanya anggota SI atau V.S.T.P, pertemuan ini juga dihadiri oleh perwakilan pemerintah.

Kepedulian kaum kiri/merah kepada rakyat kecil tampaknya merupakan salah satu faktor mengapa gerakan kiri di Bandung bisa tumbuh, berkembang dengan pesat dan diterima oleh masyarakat Bandung saat itu.  Selain peduli terhadap masalah kelaparan di Rancaekek, SI Merah dan PKI juga peduli dengan pendidikan bagi rakyat kecil. Bulan Januari 1922 Tan Malaka mendirikan Sarekat Islam School di Bandung dengan biaya yang lebih murah dari sekolah pada umumnya. Baru saja dibuka, sekolah ini sudah menerima 200 orang murid dan dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah di Bandung. 

Dalam meluaskan pengaruhnya, kaum kiri menggunakan kekuatan media sebagai corognya. Hadirnya koran-koran berhaluan kiri seperti Sapoejagad, Matahari, Soerapati, dan sebagainya yang menjadi alat propaganda membuat mereka semakin kirtis dalam menyikapi apa yang terjadi di masyakarat. Tidak jarang koran-koran kiri tersebut melahirkan polemik antara kaum kiri dengan kaum priyayi terutama dengan bupati Bandung RAA Wiranatakusumah yang didukung oleh koran Obor, Kaoem Moeda, dll. Polemik-polemik yang terdapat di koran-koran kiri dan koran yang mendukung sang bupati mendapat porsi cukup banyak di buku ini dan menarik untuk disimak. 

Polemik  yang mungkin bersifat pribadi namun menghebohkan  juga dicatat di buku ini yaitu antara S. Goenawan S, pengurus SI Merah dengan Padmawiganda, redaktur koran Kaoem Moeda karena Goenawan dituduh tak bertuhan oleh Padmawiganda. Polemik ini dilanjutkan dengan tantangan S. Goenawan untuk menggelar debat terbuka di masjid atau Alun-alun Bandung. Sayangnya sepertinya Padmawiganda tidak menganggapi tantangan tersebut sehingga Goenawan menyebutnya sebagai "Tuan Keok".  Munculnya polemik ini mungkin dapat menjadi sebuah fakta bahwa tidak semua kaum kiri itu tidak bertuhan.

Sikap kritis kaum merah/kiri dalam melawan ketidakadilan  terutama sikapnya yang terang-terangan menentang kolonialisme serta pergerakan kaum kiri yang kian masif lama kelamaan membuat gerah pemerintah kolonial sehingga pemerintah kolonial membentuk gerombolan antikomunis yang terdiri dari kaum menak-priyayi. Dalam artikel berjudul Aksi Kelompok Teror di Priangan Tahun 1924-1931 penulis menemukan fakta bahwa aksi-aksi kekerasan antara kelompok kiri dan kelompok antikomunis menjadi tidak terhindarkan, ada yang dipukuli, diculik, hingga aksi pelemparan batu di rumah, gedung milik salah satu kelompok hingga roboh. 

Walau ada perbedaan yang mencolok antara kaum kiri dangan kaum menak-priyayi Bandung dan seringnya kedua kelompok itu saling berpolemik di media massa namun ada satu kasus yang membuat kedua kubu ini sepaham yang dicatat di buku ini, yaitu kasus Nyi Anah yang dituduh membunuh suaminya, K-Gruitering, seorang pria Belanda. Bukan kejadian yang lumrah karena menyangkut kasus golongan pribumi dan Belanda. Dalam kasus ini baik kaum kiri maupun kaum menak-priyayi sama-sama memperjuangkan keadilan bagi Nyi Anah. 

Ada banyak hal menarik tentang gerakan komunis di buku ini, salah satu yang menarik adalah artikel yang mengungkap sebuat berita di koran Soerapati tentang seorang Haji Persis (Persatuan Islam) yang dianggap komunis karena saat ia meninggal ritual dan penangannya berbeda seperti pada umumnya  seorang muslim meninggal dunia. Di artikel ini penulis berpendapat bahwa  berita di koran kiri tersebut adalah sebuah pembelaan yang menganggap Persis tidak melakukan kesalahan. Di bagian ini penulis juga membuka wacana tentang kemungkinan hubungan baik kelompok kiri dengan Persis

Namun, bukan tidak  mungkin, bila kelompok Merah mempunyai hubungan baik dengan Persis. Salah satu kemungkinan ini bisa kita lihat pada aktivitas yang dilakukan Ahmad Bassach sebagai pembesar komunis di Bandung. Selain menulis banyak karya sastra, Ahmad Bassach turut menerjemahkan karya Ahmad Hassan yang dianggap muftinya Persatuan Islam. 

Terkait hubungan baik Komunis dangan Persatuan Islam, rupanya perlu dipastikan dan ditelusuri lebih lanjut. Tidak ada klaim yang menyatakan secara jelas bahwa Komunis dan organisasi Persis menjalin hubungan yang begitu baik.   (hlm 65- 66)

Buku ini juga mencatat tentang meredupnya Gerakan kiri di Bandung setelah ditangkapnya dan dibuangnya para petinggi Komunis di Bandung seperti Moh. Sanoesi, Sardjono, Darmoprawiro, dll ke Boven Digul akibat dari pemberontakan Komunis di berbagai kota termasuk di Bandung pada akhir tahun 1926. Buku ini mencatat beberapa pemberontakan yang terjadi di Bandung antara lain di Nagreg, Cicalengka, Cimahi, Padalarang. Di kawasan Cimahi dan sekitarnya bahkan terdapat 15 serangan kaum komunis dari tanggal 13 sampai 17 November 1926.

Masih banyak kiprah gerakan kiri di Bandung yang dimuat di buku ini yang menarik untuk disimak antara lain pemogokan di Bandung tahun 1923, Siti Atikah, perempuan Bandung yang tergabung dalam gerakan kiri, Alibasach Winata, tokoh komunis Bandung yang terkena delik Pers yang menghina Ratu Belanda, dan sebagainya.  

Satu hal yang agak mengganjal di buku ini adalah cover bukunya yang menyandingkan bupati Bandung RAA. Wiranatakusumah dengan Tan Malaka. Mungkin maksud penerbit atau penulisnya adalah sebagai keterwakilan antara kedua kubu yang saling bertentaangan. Wiranatakusumah sbg wakil dari kaum kanan sedangkan Tan Malaka mewakili kaum kiri yang dimasa itu memang sering berpolemik di media massa. Disandingkannya antara Wirnatakusumah dengan Tan Malaka, apakah tidak akan menimbulkan tafsir calon pembaca bahwa keduanya berada dalam kubu yang sama?

Untuk menghindari kesalahan tafsir karena covernya mungkin akan lebih baik jika desainnya diatur agar terkesan bahwa kedua tokoh itu berseberangan. Atau karena buku ini utamanya bersumber dari koran-koran yang terbit di Bandung tahun 1920an mungkin akan lebih baik kalau cover buku ini menampilkan potongan2 polemik yang terjadi di koran-koran kaum kiri dan kanan.

Telepas dari soal cover, kehadiran buku ini patut diapresiasi dengan baik. Keberanian dan kejelian penulis dan penerbit untuk membukukan gerakan komunis di Bandung yang mungkin banyak dilupakan orang patut mendapat pujian karena selama ini buku-buku tentang Bandung yang telah terbit hanya mengangkat keindahan dan eksotisme  Bandung tempo dulu.  Melalui buku ini pembaca akan melihat Bandung dari sisi lain yaitu sisi sebelah kiri dengan segala polemik dan peristiwa yang terjadi di masa itu.

Karena buku ini tersaji berupa kumpulan artikel lepas yang sebagian besar sudah pernah dimuat di media online ayobandung.com , buku ini belum dapat dikategorikan  sebagai buku yang membahas gerakan kiri di Bandung secara komprehensif. Namun bukan berarti buku ini tidak bermanfaat karena ke 20 artikel yang ada di buku ini dapat memberikan informasi pada pembacanya seputar gerakan kiri di Bandung. Buku ini juga bisa disebut buku pionir karena sebelum buku ini terbit belum ada buku yang secara khusus membahas tentang gerakan kiri di Bandung.

Semoga  buku ini bisa memacu penulis-penulis lain atau mungkin penulis buku ini sendiri yang akan menjadikan buku ini sebagai batu loncatan untuk menghadirkan sebuah buku utuh yang secara komprehensif  membahas sejarah dan gerakan kaum kiri di Bandung.

@htanzil

Buku ini bisa diperoleh di (klik pada gambar)


 




Tuesday, March 02, 2021

The Monk of Mokha

[No.396]
Judul : The Monk of Mokha
Penulis : Dave Eggers
Penerjemah : Dina Begum
Penerbit : Kriya Rasa
Cetakan : I, Oktober2020
Tebal: xxiv + 365 halaman
ISBN: 978-602-53301-8-6

Darimanakah asal muasal kopi ditemukan? Meski Ethiopia lebih populer dikenal sebagai tempat pertama kali kopi ditanam, namun di Yaman biji kopi pertama kali diperdagangkan secara komersial. Lebih dari 150 tahun, sejak abad ke 16 Yaman adalah pemasok kopi eklsusif ke seluruh dunia. Kopi Yaman dikirim melalui Mokha, kota pelabuhan kecil di Yaman.

Di tahun 1600-an, seorang peziarah India menyelundupkan tujuh benih kopi hijau Yaman ke luar negeri, dan dari benih tersebut kopi menyebar dan mulai ditanam di beberapa negara. Jika ditelusuri 90% kopi dunia dapat dilacak secara genetik ke kopi Yaman.

Yaman pernah menjadi negara yang berjaya dalam hal kopi. Kopi dihasilkan di 17 dari 21 provinsi di Yaman yang ditanam oleh sekitar 600 ribu petani. Sayangnya perang saudara yang berkepanjangan dan berbagai faktor lainnya membuat  kejayaan Kopi Yaman semakin meredup dan terlupakan apalagi dengan munculnya negara-negara lain sebagai produsen kopi dunia saat ini seperti Brazil, Etiophia, Vietnam, Indonesia, dll

Kopi Yaman mungkin akan terus dilupakan jika  Mokhtar Alkhansali, lelaki Amerika kelahiran Yaman  tidak memiliki mimpi untuk membangkitkan kejayaan kopi Yaman di pentas dunia. Buku The Monk of Mokha adalah buku non fiksi  yang dinarasikan dalam bentuk novel.  Buku ini mengisahkan kehidupan Mochtar dan peristiwa-peristiwa yang  dialaminya ketika membawa dua koper sample biji kopi dari Yaman yang saat itu sedang dalam puncak kecamuk perang Saudara  untuk dinilai di konferensi kopi terbesar di dunia yang diadakan di Seattle, Amerika pada tahun 2015

Selain dikisahkan dalam buku ini, petualangan Mokhtar juga muncul di berbagai media besar dunia, seperti BBC, CNN, dan Al-Jazeera sehingga ia pun mendapat julukan "The Indiana Jones of Coffee".

Buku ini dibagi dalam empat bagian besar. Bagian pertama menceritakan latar belakang Mokhtar, laki-laki Amerika muslim keturunan Yaman yang sambil kuliah bekerja sebagai penjaga pintu di sebuah apartemen mewah di San Fransisco Bay, Amerika Serikat. Di bagian ini dikisahkan  bagaimana Mochtar dan kawan-kawannya mendapat perlakukan tidak mengenakkan dari seorang polisi yang saat itu masih terus  curiga terhadap para imigran dari negara muslim. Selain itu terungkap pula kehidupan imigran asal Yaman yang umumnya bekerja sebagai sopir, satpam, penjaga pintu, petugas kebersihan, dan pekerjaan-pekerjaan fisik lainnya.

Di bagian kedua diawali dengan kisah bagaimana ketertarikan Mokhtar akan kopi dimulai ketika ia melihat sebuah patung setinggi 6 meter berupa orang arab yang sedang  minum kopi. Penasaran dengan patung tersebut ia masuk kedalam gedung dimana patung tersebut berada. Ternyata didalamnya berisi foto-foto dan teks tentang bisnis impor kopi bernama Arabian Coffe and Space Mills di tahun 1800-an yang dikelola oleh Hills bersaudara. Versi grafik patung tersebut dijadikan logo Hills Bross Coffe

Penasaran dengan patung tersebut, Mokhtar menceritakan apa yang dilihatnya pada ibunya, ibunya tertawa:

"Keluarga kita punya kopi selama ratusan tahun," katanya."Apa kau tidak ingat rumah kakekmu di Ibb? Di halamannya, ada banyak pohon kopi. Dia masih punya pohon-pohon itu. Apa kau tidak tahu bahwa orang Yamanlah yang pertama kali mengeskpor kopi? Pada dasarnya orang Yaman yang menciptakan kopi. Kau tidak tahu itu?" (hlm 65)

Semenjak itu Mokhtar menjadi tertarik dengan kopi. Ia lantas melakukan riset. Lewat ponselnya dia menemukan perdebatan panjang mengenai asal muasal kopi, dan klaim ganda, diantara Etiophia dan Yaman, mengenai penemuannya. 

"Ada kesepakatan meluas bahwa mitos asal muasal kopi paling awal melibatkan seorang gembala Etiopia bernama Khaldi.... Hanya sedikit yang mengetahui bahwa kopi lahir di Arab. Ada dua jenis kopi, robusta dan arabika, karena lahir di Arab, khususnya di tempat yang oleh orang Romawi disebut Arabia Felix -- "Happy Arabia". Ini adalah Yaman. Menurut legenda, biji kopi pertama kali diseduh di Mokha, sebuah kota pelabuhan di pesisir pantai Yaman. 

Ali ibn Umar al-Syadzili, seorang sufi yang tinggal di Mokha, yang pertama kali menyeduh biji kipi menjadi minuman yang mirip dengan minuman yang kini kita kenal sebagai kopi. Dia dan rekan-rekannya sufinya menggunakan minuman itu ketika mereka berzikir hingga larut malam. Para sufi membawa kopi ke seluruh penjuru Afrika Utara dan Timur Tengah.

Al-Syadzili dikenal sebagai Monk of Mokha, atau Sufi dari Mokha, dan Mokha kelak menjadi titik pemberangkatan untuk semua kopi yang ditanam di Yaman.  

(hlm 65-66)

Walau kopi pertama kali diolah di Yaman dan pernah menjadi komoditas utama negara tersebut namun Mokhtar tidak menemukan kopi dari Yaman di tiap kafe yang dikunjunginya. Berdasarkan risetnya diperoleh fakta bahwa kini kualitas kopi Yaman telah menurun drastis selama seabad terakhir. Para petani Yaman kini lebih menyukai menanam qat yang jika diolah bisa menimbulkan efek seperti narkotika ringan. Qat di Yaman kini merupakan bagian dari pusat kehidupan masyarakat Yaman sehingga para petani lebih diuntungkan jika menanam qat  jauh lebih menguntungkan dibanding kopi. 

Berdasarkan fakta tersebut Mochtar menjadi  terobsesi untuk mengembalikan kopi Yaman menjadi komoditas utama Yaman. Segala cara dilakukannya untuk mewujudkan mimpinya. Dia belajar banyak tentang kopi, melatih dirinya untuk menjadi Q-grader, pencicip cita rasa kopi profesional  tersertifikasi oleh institute kopi internasional Coffee Quality Institute (CQI). Selain itu ia juga belajar cara membudidayakan kopi, menilai kopi yang baik, dll.  Begitu Mokhtar mendapatkan sertifikasi, dia segera berkemas ke Yaman untuk mewujudkan mimpinya. Mochtar menamakan proyek mimpinya itu dengan nama The Monk of Mokha.

Bagian ketiga mengisahkan bagaimana Mokhtar yang telah berada di Yaman mencari perkebunan dan pengolahan kopi yang dapat menghasilkan kopi bermutu. Mencoba mengajari para petani bagaimana memetik, menyortir, dan mengolah kopi yang semula menghasilkan kopi yang biasa-biasa saja menjadi kopi spesial

Bagian keempat yang merupakan bagian terakhir dari buku ini adalah bagian yang paling seru dan menegangkan dimana ketika akhirnya Mochtar berhasil mendapatkan sample biji kopi hijau terbaik untuk dibawa ke Konferensi kopi Internasional di Seattle Amerika. Namun sayang, perjalanannya kali ini untuk kembali ke Amerika menjadi hal yang sulit untuk dilakukan karena bertepatan dengan keksiruhan politik di Yaman yang mengakibatkan perang saudara antar kelompok milisi di Yaman. 

Di tengah berkecamuknya perang dan hujan bom yang mengancam nyawanya, Mokhtar harus mencari cara agar bisa keluar dari Yaman. Bukan hal yang mudah karena saat itu bandara dan penerbangan ke Amerika Serikat telah ditutup dan kedutaan besar Amerika di Yaman pun sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengevakuasi warga negaranya yang ada di Yaman. Mochtar harus mencari jalan sendiri agar dirinya dan sekoper besar biji kopi Yaman dapat keluar sesegera mungkin dari Yaman sebelum keadaan semakin memburuk.

Dari kisah petualangan Mochtar yang ditulis dengan apik oleh jurnalis Amerika terkenal Dave Aggres pembaca akan dibawa masuk kedalam petualangan Mokhtar dalam mewujudkan mimpi besarnya. Seorang imigran asal Yaman yang tadinya hanyalah petugas penjaga pintu di sebuah apartemen mewah menjadi pahlawan di dunia kopi Yaman. Keteguhan dan tekadnya untuk mengembalikan kejayaan kopi Yaman sangatlah luar biasa. Ia rela mempertaruhkan nyawanya demi dua koper biji kopi Yaman yang ia yakini akan membuka mata dunia akan kekhasan kopi Yaman. 

                                                 Mokhtar dan Kopi Yaman (foto : portofmokha.com)

Selain kisah petualangan Mokhtar yang seru bagaikan petualangan Indiana Jones, lewat buku ini pembaca juga akan memperoleh pengetahuan tentang bagaimana Yaman  ternyata merupakan bagian penting  dari sejarah kopi. Sejarah yang terlupakan oleh harumnya kopi dari negara-negara lain. 

Buku  ini juga mengisahkan bagaimana kehidupan dan kultur para imigran Amerika asal Yaman dan bagaimana mereka juga terkena imbas akibat peristiwa 9/11 yang membuat para imigran muslim senantiasa dicurigai oleh masyarakat dan pemerintah Amerika.  Dan yang tidak kalah menarik adalah bagaimana situasi politik dan ketegangan yang terjadi di beberapa kota di Yaman saat perang saudara di tahun 2015. 

Singkatnya buku ini adalah buku non fiksi tentang kopi, kehidupan kaum imigran di Amerika, reportase perang saudara di Yaman, dan bagaimana seorang yang tadinya bukan siapa-siapa seperti Mokhtar menjadi pahlawan kopi Yaman.  Kecintaannya yang kuat akan negara leluhurnya membuat ia memiliki mimpi dan tekad yang kuat untuk mengembalikan kejayaan kopi Yaman, tempat dimana dia dilahirkan. 

Sepertinya mimpi Mokhtar untuk mengembalikan kejayaan kopi Yaman belum sepenuhnya terwujud. Situasi politik di Yaman yang terus bergejolak membuat ekspor kopi Yaman terhambat. Hingga kini sepertinya masih sulit untuk mendapatkan kopi Yaman.  Ketika buku ini selesai ditulis (2016) harga secangkir kopi Yaman di Amerika menembus  $16 (+/- Rp. 230.000,-). Kini menurut situs https://portofmokha.com kopi single origin Yaman dibandrol dikisaran $ 8-12/ons (Rp 115.000 - 172.000).

@htanzil

Buku The Monk of Mokha bisa dibeli di (klik pada gambar)


Monday, December 21, 2020

Akhir Perpustakaan Kelamin : Sayang Kamu Hanya Kehilangan Kelamin, Bukan Hidup

[No.395]
Judul : Akhir Perpustakaan Kelamin  (Sayang, Kamu Hanya Kehilangan Kelamin, Bukan Hidup)
Penulis : Sanghyang Mughni Pancaniti
Penerbit : Semesta
Cetakan: I, November 2020
Tebal : vii + 209 hlm
ISBN : 978-602-14549-3-0 

+ "Buku apa ini? Perpustakaan Kelamin?"
- "Iya, Pak."
+ "Menceritakan apa? Perpustakaan Kelamin?"
- "Hahaha...Bukan."
+ "Terus? Perpustakaan yang bangunannya tersusun dari kelamin?"
- "Bukan juga, Pak"
+ "Berarti buku porno? Kalau buku porno akan langsung  saya tolak sekarang"
  (hlm 157)

Demikian percakapan antara Hariang, tokoh utama novel ini dengan seorang editor mengenai buku Perpustakaan Kelamin (PK). Mungkin ini juga yang akan ditanyakan orang yang belum pernah membaca dua novel sebelumnya  Perpustakaan Kelamin (PK-1),  Perpustakaan (Dua) Kelamin (PK-2). Ya, ini bukan buku porno atau buku yang berbicara tentang kelamin. Memang kelamin menjadi pengikat kisahnya namun bukan berarti seluruh novel ini membicarakan kelamin, melainkan tentang perpustakaan  yang didirikan dari hasil mendonorkan kelamin.

"Isi Perpustakaan Kelamin tak hanya tentang ceritamu mendonorkan kelamin, ada banyak cerita, terutama tentang dunia perbukuan, yang bisa diambil manfaatnya oleh pembaca.
(hlm 74)

Jika PK-1 mengisahkan bagaimana kisah perjuangan tokoh-tokohnya dalam membangun kecintaannya pada  buku dan membaca, PK-2 tentang perjuangan Hariang menulis memoar untuk mas kawinnya, maka novel pamungkasnya yang diberi judul Akhir Perpustakaan Kelamin mengisahkan bagaimana Hariang berjuang  untuk menerbitkan memoarnya yang diberi judul Perpustakaan Kelamin.

Bagi Hariang bukan hal yang mudah untuk menerbitkan memoarnya. Ada dua rintangan yang harus dihadapinya, pertama ia harus melewati rintangan dari istrinya sendiri yaitu  Drupadi yang tidak ingin naskah itu diterbitkan. Drupadi belum bisa menerima jika akhirnya orang lain mengetahui apa yang terjadi pada suaminya yang harus hidup tanpa kelamin. Kedua adalah dari berbagai penerbit yang menolak menerbitkan naskahnya tersebut dengan beragam alasan. 

Seperti halnya di dua novel sebelumnya, di novel inipun penulis  memperkaya pembacanya dalam hal  dunia buku, khususnya kini tentang  kepenulisan, penerbitan, editing, perjuangan penulis-penulis terkenal dalam menerbitkan buku, tentang self publisher, penerbitan indie, dan sebagainya. Karena novel ini mengisahkan perjuangan Hariang untuk menerbitkan bukunya maka perihal editor, profreader dan editing yang merupakan tahapan penting sebelum buku itu dibawa ke penerbit mendapat porsi yang cukup banyak disinggung di buku ini. 

Sebagai contoh dalam dialog Hariang dengan Kang Uni penulis menjelaskan fungsi editor dan profreader serta perbedaannya karena selama ini orang sering mencampuradukkannya. 

Tugas editor yang paling besar adalah berkutat di cerita dan gagasan...Ibaratnya, naskah seorang penulis itu adalah arca tanpa rupa, lalu sang editor akan memahat dan membentukanya

"Kalau ternyata naskah seorang penulis itu sudah berbentuk?"
"Editor akan memperindahnya."

"Saya kira editor itu yang mengurus kesalahan-kesalahan ketik"
"Yang bekerja untuk bagian itu, disebut proofreader. Sering juga disebut pemeriksa aksara, atau penyelaras akhir. Nanti dia yang membetulkan kata-kata yang salah eja, tidak sesuai kebakuan, tidak mengikuti ejaan yang disempurnakan, kesalahan tanda baca, susunan kalimat yang tak logis, dan hal-hal lain yang besifat teknis. 

...biasanya,  seorang proofreader baru bekerja, ketika tugas editor sudah selesai.
(hlm 57, 59) 

Selanjutnya bagaimana contoh seorang editor berkutat di cerita dan gagasan dicontohkan secara rinci dalam bentuk dialog di novel ini yaitu ketika bagaimana Kang Uni memberikan gagasan, masukan-masukan pada draft Perpusatkaan Kelamin. 

Selain tentang proses editing novel ini juga memberikan porsi yang cukup banyak tentang fisik/anatomi buku, dari soal cover, punggung buku, pembatas buku, halaman 4 yang berisi data buku, hingga halaman ucapan terima kasih. 

Ketika membahas isi halaman 4 yang biasanya berisi data buku (judul, penulis, penerbit,editor,dll), ada hal yang sepertinya kini jarang terdengar dan tersaji di halaman 4,  yaitu Kolofon yang memuat informasi seperti jenis tipografi yang digunakan untuk teks buku, jenis kertas, jenis tinta, jenis jilid, dan jenis mesin yang digunakan untuk mencetaknya.  

Soal  buku best seller juga dibahas di buku ini, di Indonesia karena tidak memiliki standard nasional maka patokan best seller itu berbeda-beda, tergantung penerbitnya. Berbeda dengan Inggris yang menetapkan angka best seller jika buku telah terjual 4000 sampai 25.000 ekslempar pe minggu. Salah satu contoh buku yang benar-benar masuk kategori best seller adalah novel Musashi karya Eiji Yoshikawa, di Jepang buku ini terjual 35 juta kopi padahal penduduk Jepang hanya 30 juta!

Ada masih banyak hal-hal seputar dunia buku yang menarik dalam novel  ini. Lalu bagaimana dengan unsur drama atau konflik dari   kisah sang tokohnya sendiri?  Di novel pangungkas Perpustakaan Kelamin ini sepertinya unsur dramanya agak berkurang dibanding dua buku sebelumnya. Sejak awal hingga menjelang akhir, dialog mengenai dunia buku lebih mendominasi. Bagi pembaca yang senang akan dunia buku hal ini tidak menjadi masalah karena novel ini akan memberi pengetahuan yang limpah akan dunia buku khususnya tentang bagaimana menerbitkan sebuah buku. Namun bagi pembaca yang menginginkan atau berekspektasi akan mendapat sebuah novel dengan keseruan drama dari konfik para tokoh-tokohnya tentunya hal ini akan sedikit mengecewakan.

Namun untungnya di bab-bab akhir penulis menyajikan sebuah keseruan sekaligus kejutan buat pembacanya.  Apa yang menjadi sebab Hariang dipenjara di akhir novel sebelumnya (Perpustakaan Dua Kelamin)  akan terjawab di bagian akhir novel ini. Selain itu sebuah akhir kisah  yang tidak teduga  akan mengguncang pembacanya sehingga pembaca akan berkata seperti yang sering dikatakan Hariang, "Edan!!". Ketegangan, keharuan, dan kelegaan akan bercampur aduk ketika pembaca mengakhiri pembacaan atas novel ini. 

Namun sayangnya ada sedikit yang agak mengganggu di bagian akhir, yaitu tentang handphone yang sedang dicharge yang merekam terjadinya sebuah peristiwa yang selama ini tersembunyi dengan rapih.  Umumnya orang mencharge handphone dalam keadaan telentang atau tertelungkup sehingga sulit rasanya membayangkan handphone yang sedang dicharge secara tidak disengaja dapat merekam sebuah adegan dengan sempurna.

Walau dunia buku mendominasi novel ini namun ada beberapa pelajaran kehidupan diluar tema buku yang bisa diambil hikmahnya seperti misalnya bagaimana Hariang yang walau harus hidup tanpa kelamin namun tidak membuat dirinya minder, Drupadi yang dengan cintanya yang tulus mau mempertahankan pernikahannya walau suaminya tanpa kelamin, dan bagaimana  pengorbanan seorang ibu pada anaknya, demikian juga sebaliknya yang mengajarkan pada kita akan cinta yang luhur dan penuh pengorbanan antara ibu dan anaknya. 

Selain itu ada satu hal yang juga menarik yaitu mengenai hadirnya tokoh seorang ustaz terkenal yang diceritakan sering tampil di TV dan pengajiannya selalu dihadiri ribuan orang sehingga membuat sang ustaz menjadi sombong dan mensyaratkan tarif puluhan juga untuk siapapun yang mengundangnya.  Hal ini membuat ayah dari sang ustaz tersebut memperingatinya dengan keras.

"Karena tiap hari dijunjung, tiap hari dipuja, akhirnya kamu merasa yakin kalau kamu memang pantas dijunjung dan dipuja. Maka kamu menomorsatukan dirimu, mengutamakan nama besarmu. Kamu lupa, kalau kamu ini bukanlah apa-apa! Kamu lupa, kalau kamu ini tak penting! Kamu lupa, jangankan kamu, seluruh jagat raya ini tidaklah berharga, yaitu saat kamu tenggelam dalam kesunyian cintamu yang tunggal dan utuh kepada Tuhanmu."  (hlm 28) 

Masih banyak hal yang menarik di buku ini terlebih mengenai bagaimana perjuangan Hariang dalam menerbitkan bukunya. Opini atau pendapat penulis yang kritis dalam dunia buku dan kepenulisan juga  tumpah ruah di novel ini.   Bagi pembaca yang saat ini sedang menulis buku atau sedang berusaha untuk menerbitkan bukunya saya sarankan untuk membaca novel ini karena bisa menjadi panduan  untuk buku yang sedang ditulis atau hendak diterbitkan.

Sebuah pesan dari tokoh ibu yang ada di bagian akhir novel ini juga sangat baik untuk para penulis pemula yang mungkin sedang membaca novil ini . Ini pesan Ibu : 

"Jangan melabeli diri sebagai penulis pemula. Karena label ini akan menjebak mereka untuk memaafkan kesalahan-kesalahan dalam menulis, mudah mentolerir kekurangan serta kedangkalannya lantaran menganggap diri jadi penulis pemula. Katakan pada mereka, jadilah penulis pelanjut! Artinya, sebelum berpikir menerbitkan buku, menulislah dulu yang banyak, membacalah buku yang banyak, dan reguklah pengalaman yang luas."
(hlm 206)

Ingat pesan Ibu! Akhir kata saya berpendapat bahwa novel ini dapat dikatakan sebagai panduan praktis tentang bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan agar kita dapat menerbitkan karya kita menjadi  sebuah buku. Buku panduan menerbitkan buku yang dikemas dalam bentuk novel yang menarik.  Novel dengan tokoh-tokohnya yang begitu mencintai buku dan dunianya. Novel yang tokoh-tokohnya menghargai dan memuliakan buku pada tempat yang seharusnya. 

@htanzil

Buku ini bisa diperoleh di Tokopedia , Shopee