Tuesday, November 16, 2021

Sumur

[No.400]
Judul : Sumur
Penulis : Eka Kurniawan
Desain sampul & ilustrasi : Umar Setiawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2021
Tebal : 48 hlm
ISBN : 978-602-065324-2

Air adalah salah satu sumber kehidupan yang tidak tergantikan. Manusia tidak dapat hidup tanpa air. Kita akan melakukan apapun, bahkan rela berkorban untuk memperoleh air entah itu untuk minum atau untuk melakukan berbagai aktivitas keseharian kita, apalagi bagi mereka yang usaha/pekerjaannya sangat bergantung akan ketersediaan air. 

Dalam cerpen panjang Sumur karya Eka Kurniawan ini air menjadi sumber konflik yang menyebabkan dua sahabat menjadi dua seteru. Dikisahkan sejak kecil Toyib dan Siti bersahabat, demikian juga dengan kedua orang tua mereka. Ayah Toyib bersahabat dengan Ayah Siti. Sayangnya karena berebut air dari mata air yang mulai seret airnya karena kemarau yang berkepanjangan membuat persahabatan antara ayah Toyib dan ayah Siti berakhir dengan tragis.

Sengketa air  berujung pada sebuah duel diantara mereka yang membuat nyawa Ayah Siti melayang, sementara Ayah Toyib harus mendekam di penjara untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya. 

Tragedi ini membuat persahabatan antara Toyib dan Siti seakan membeku. Mereka tidak pernah lagi bertemu. Empat tahun kemudian ketika ayah Toyib bebas dari penjara, untuk menebus rasa bersalahnya terhadap sahabatnya, Ayah Toyib menitipkan sejumlah uang yang didapat dari jasa bengkel yang dilakukannya selama di penjara kepada Toyib untuk diserahkan ke keluaga Siti.

Toyib tak dapat menolak permintaan ayahnya. Pada ayahnya Toyib tak bisa mengatakan bahwa ia tak lagi berteman dan berbicara lagi dengan Siti. Meskipun begitu Toyib bersedia untuk membawa uang itu untuk diberikan pada ibunya Siti.

Saat itu mata air dan paritnya yang menjadi sengketa antara ayah Toyib dan ayah Siti sudah mengering. Satu-satunya sumber air yang tersisa hanyalah sebuah sumur di sebuah lembah di balik bukit kecil di seberang perkampungan mereka. Setiap hari Toyib dan Siti mengambil air di sumur tersebut, namun  selama ini Toyib sengaja menghindar untuk bertemu Siti hingga akhirnya ia memberanikan diri menemui Siti di sumur untuk menyampaikan uang titipan ayahnya. 

Pertemuan yang canggung dan kaku. Siti menolak untuk menerima uang tersebut. Sepulang dari sumur, Siti terjatuh. Toyib menolongnya, namun hubungan mereka tidak menjadi pulih. Walau demikian semenjak peristiwa itu Toyiblah yang setiap hari mengambilkan air untuk keluarga Siti. Namun Siti tetap tidak mau menemuinya. Ia hanya mengintip dari dalam rumahnya ketika Toyib menuangkan air sumur ke tempat penampungan air di rumah Siti. Ssuatu saat Toyib menyadari bahwa tidak ada lagi mata Siti yang mengawasinya dari celah bambu di rumahnya.

Toyib dan Siti terpisah oleh jarak. mereka menjalani pahit getir kehidupannya masing-masing. Setelah sekian lama mereka tidak saling bertemu akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam sebuah pertemuan yang canggung di sumur yang sama seperti yang pernah mereka lakukan di tahun-tahun yang lampau.  

Cerpen panjang Sumur adalah sebuah kisah yang muram sejak awal hingga akhir, namun bukan berarti cerpen ini menjadi tidak menarik. Kisah Toyib dan Siti  dituturkan dengan kalimat-kalimat lugas dan padat. Tak ada kalimat yang mendayu-dayu untuk melukiskan kehidupan muram para tokoh-tokohnya. Dibalik kemuraman kisahnya tampaknya  ada maksud yang hendak disampaikan oleh penulisnya yaitu bagaimana perubahan iklim menyebabkan lingkungan alam yang berubah. Perubahan yang tidak hanya berdampak luas pada kehidupan masyakat secara umum melainkan berdampak baik secara fisik maupun psikis pada entitas yang terkecil yaitu individu-individu dalam keluarga.

Kisah sumur  merupakan karya Eka Kurniawan yang awalnya ditulis dalam bahasa Inggris dengan judul The Well yang dimuat dalam buku Tales of Two Planets: Stories of Climate Change and Inequality in a Divided World [Kisah Dua Planet: Cerita-Cerita tentang Perubahan Iklim dan Kesenjangan dalam Satu Dunia yang Terbelah] yang diterbikan oleh penerbit terknal, Penguin Books, 2020. Buku setebal hampir 300 halaman itu memuat esai, cerpen, dan puisi 36 penulis dari berbagai negara  dengan tema perubahan iklim dan kesenjangan.

Sesuai dengan dimana cerpen Sumur ini dimuat, penulis melatari kisah Toyib dan Siti dengan dampak peruibahan iklim  yang ada di kampung mereka dengan sangat baik. Mata air yang tadinya mengalir deras untuk mengairi sawah dan berbagai keperluan hidup penduduk desa lambat laun menjadi semakin kecil alirannya dan mengering. 

Mata air tak juga kembali. Kemarau lebih panjang dari musim penghujan yang sesingkat hidup bunga malam. Bebukitan tak hanya semakin cokelat, tapi juga semakin gersang. Para cukong datang dan membujuk para penduduk kampung menjual kayu-kayu yang tesisa, dan itu berarti uang yang mudah didapat. Pohon-pohon menghilang, dan itu membuat air semakin sulit. Karena air semakin sulit, pohon-pohon semakin enggan bertunas. Tak seorang pun termsuk Toyib mengerti bagaimana memotong lingkaran itu, hingga akhirnya tak ada lagi yang bertanya 
(hlm 34)

Kampung tersebut menjadi tidak lagi memiliki masa depan yang pasti, anak-anak muda terpaksa harus ke kota untuk mencari penghasilan. Ternyata di kota, di daerah-daerah yang padat dengan pemukiman penduduk air pun sama langkanya. Hal ini tergambar ketika penulis menceritakan kehidupan salah satu tokohnya. 

Pengantin baru itu tinggal di rumah petak yang hanya terdiri dari satu kamar, satu ruang tamu merangkap tempat menyimpan berbagai perkakas dapur, serta jamban kecil yang airnya harus beli dari pikap penjual air dalam ember besar. Mereka memang bisa menanam pompa air menembus bumi, dan mungkin tak perlu sedalam sumur di kampung, tetapi air yang yang keluar butek dan sedikit berbau, mereka hanya menggunakannya untuk mencuci piring.  (hlm 37)

salah satu ilustrasi dalam buku ini
 

Pada intinya cerpen ini adalah cerpen yang menggambarkan tentang perubahan iklim  yang dibalut dengan drama kisah cinta antar tokohnya yang menarik. Jadi lewat cerpen ini kita akan mengetahui bagaimana dampak perubahan iklim mempengaruhi lingkungan manusia  ke kehidupan individu-individu yang ada di cerpen ini. 

Walau cerpen ini berisi pesan dampak perubahan iklim terhadap lingkungan namun kekuatan kisah yang dibangun oleh penulisnya membuat pembaca tidak seperti dikuliahi pesan-pesan bertema lingkungan namun terhanyut dalam kisah Toyib dan Siti yang muram. 

Sebagai sebuah cerpen, buku ini dikemas dengan sangat menarik. Jika biasanya cerpen dimuat dalam sebuah antologi bersama cerpen-cerpen lainnya, lain halnya dengan karya ini. Penerbit  memilih untuk menerbitkannya dalam sebuah buku yang hanya berisi satu cerpen saja setebal 48 halaman dengan ukuran buku lebih kecil dari ukuran buku normal.

Buku kecil dan tipis mungkin tidak akan menarik perhatian, namun tidak dengan buku ini.  Karena disajikan dengan cover yang menarik dan dikemas dalam sebuah amplop yang ilustrasinya sama dengan covernya, ditambah beberapa ilustrasi hitam putih yang dilukis dengan detail ditambah ketenaran penulisnya membuat buku ini menjadi buku yang layak untuk dikoleksi.  


 Sebuah pesan menarik
dari penerbit di pembatas buku ini juga menambah daya tarik tersendiri. Mengajak pembaca untuk memiliki buku ini karena hanya akan dicetak sekali sehingga akan menjadi buku langka. 

 @htanzil

Tuesday, September 21, 2021

Renjana Biru di Morotai

[No. 399]
Judul : Renjana Biru di Morotai
Penulis : Kirana Kejora
Penerbit : Binsar Hiras
Tebal : 248 hlm
Cetakan I, Juli 2021
ISBN : 978-623-6679-57-9

Morotai adalah salah satu pulau terbesar di Maluku Utara. Pulau Morotai juga merupakan salah satu pulau paling utara di Indonesia. Keindahan alam serta banyaknya peninggalan sejarah Perang Dunia Kedua membuat  Morotai dijuluki sebagai, “Mutiara di Bibir Pasifik”, karenanya tidak heran jika Morotai  menjadi salah satu destinasi wisata yang mulai ramai dikunjungi selain Raja Ampat di Papua, bahkan ada pula yang menyebut bahwa Morotai adalah Raja Ampat-nya Halmahera.

 Sudah hanyak tulisan tentang keindahan Morotai bertebaran di dunia maya, namun baru kali ini Morotai menjadi setting utama sebuah novel roman yang ditulis oleh Kirana Kejora, novelis produktif, seorang creativepreneur dan writerpreneur.

Novel Renjana Biru di Morotai merupakan sekuel dari novel Rindu Terpisah di Raja Ampat. (2015) Menurut penulisnya novel ini terinspirasi atas tragedi tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402 di laut Bali pada April 2021. Kapal selam yang kini sedang menjalankan misi abadi / eternal patrol sebelumnya pernah muncul di novel Rindu Terpisah di Raja Ampat dimana dikisahkan salah satu tokoh dalam novel tersebut adalah cucu dari awak kapal KRI Nanggala 402. Tragedi tenggelamnya kapal selam penjaga perairan nusantara itu  membuat penulis tergerak untuk meneruskan sekuel dari novel tersebut  dimana kali ini settingnya berpindah ke Morotai.

Di novel ini, Rindu dikisahkan masih berduka akibat kandasnya rencana pernikahannya dengan Ganesh seorang ilmuwan hebat yang terbeli oleh negara asing. Ganesh meninggal  ketika perahu yang ditumpanginya menabrak sebuah karang. Untuk melarungkan semua kisah sedihnya Rindu berniat untuk berlibur sendiri, menyelam di laut  Morotai yang terkenal dengan keindahan biota lautnya.

Menjelang keberangkatannya ke Morotai, Rindu mencari sebuah buku lama menyangkut Morotai di sebuah toko buku klasik. Di toko buku itu  Rindu berkenalan dengan Su Syailendra (Sya) yang kebetulan sedang mencari buku yang sama. Sya adalah seorang arsitek segala bisa yang hendak riset ke Morotai untuk mewujudkan konsep arsitektur waterworld di pulau tersebut.

Akhirnya alih-alih menyendiri untuk menikmati keindahan laut Morotai sambil melupakan laranya,  Rindu selalu bersama Sya di Morotai.  Mereka  bersama-sama menyelusuri pulau bersejarah dan indah terebut.  Sya menjadi pemandu sekaligus pencerita berbagai hal tentang Morotai bagi Rindu.

Intensnya pertemauan dengan Sya di Morotai membuat Rindu bertanya-tanya apakah kini ia mulai mencintai Sya, pria yang baru dikenalnya?. Ditengah galau akan perasaannya terhadap Sya, ada sebuah kejutan di akhir novel ini. Renjana yang sebelumnya telah terkunci dalam kotak pandora di sebuah tempat ternyata tiba-tiba muncul di Morotai.

Walau novel ini bertemakan bagaimana Rindu mencoba move on dari kisah cintanya yang tidak tergapai namun bukan berarti novel ini hanya melulu tentang kegalauan Rindu yang masih dibayang-bayangi masa lalunya, namun ada banyak hal menarik tentang Morotai yang terekspose di novel ini. 

Pembaca akan diajak menyelusuri peristiwa sejarah Perang Dunia II dimana Morotai pernah dijadikan base camp tentara Amerika dimasa Perang Dunia II. Saat tentara Amerika dibawah pimpinan Douglas MacArthur terusir dari Filipina, pada tahun 1944 MacArthur membangun pangkalan udara di Morotai sebanyak tujuh lintasan.

Morotai adalah saksi bisu kedahsyatan Perang Dunia II. Karenanya di Morotai akan banyak ditemui artefak-artefak perang dunia kedua baik di hutan-hutan maupun di dasar laut Morotai. Selain itu ada pula patung Jenderal MacArthur setinggi 20 meter di Pulau Zum Zum yang merupakan tempat persembunyian dan tempat peristirahatan sang Jenderal.   

Di jaman kemerdekaan karena letaknya yang strategis, Morotai dijadikan pangkalan militer Indonesia untuk membebaskan Irian Barat dari cengkeraman Belanda. Karena berperan dalam operasi pembebasan Irian Barat, di jaman pemerintahan Presiden SBY pada tahun 2012 dibangunlah Monumen Trikora di Morotai yang sejarahnya dikisahkan juga secara singkat di novel ini.

Selain itu ada juga kisah humanis dan mengharukan tentang tentara Jepang bernama Teruo Nakamura yang bersembunyi selama 30 tahun di hutan Morotai. Nakamura menyangka perang  antara Jepang dengan sekutu belum selesai. Sebuah peristiwa mengharukan dan heroik ketika sang serdadu Jepang ini dijemput oleh TNI AU pada tahun 1975 terceritakan di novel ini.

Tidak hanya sejarah Perang Dunia Kedua, lewat tuturan Sya, mengalir pula kisah asal usul Morotai lengkap dengan misteri dan legendanya dimana ketika Bangsa Portugis datang suku Moro (penduduk asli Morotai) terdesak ke dalam hutan dan setelah itu raib di dalam hutan. Menurut kepercayaan penduduk setempat, hingga saat ini suku Moro masih ada namun hidup di dalam alam yang berbeda di hutan Morotai. 

Novel ini juga mengungkap keindahan dan  keunikan biota Laut Morotai sehingga menjadi incaran para penyelam untuk melihat secara langsung keindahannya.  Ketika mengisahkan tentang laut baik itu tentang keindahan biota laut di Morotai maupun kelautan secara umum penulis terlihat jelas memiliki kecintaan akan laut Nusantara. Hal ini terlihat di beberapa percakapan antara tokoh dalam novel ini yang seakan ingin mengungkapkan kepada pembacanya bahwa bahwa laut adalah sumber kehidupan yang harus dilestarikan dan dipelihara.

Kisah heroik dan dramatis bagaimana TNI AL menjaga kedaulatan laut Indonesia juga muncul dalam novel ini yaitu ketika kapal selam KRI Nanggala 402 berhasil mengusir kapal perang asing yang mencoba memprovokasi kedaulatan laut Nusantara. 

Di tengah menariknya penulis meramu kisah cinta Rindu dengan keindahan Morotai ada  bagian yang bagi saya agak mengganjal yaitu saat Rindu secara tidak sengaja mendengar pembicaraan antara seorang pelatih selam dengan para juniornya di sebuah cafe. Percakapan itu terdengar jelas oleh Rindu namun anehnya Rindu tidak mengenal suara si pelatih selam itu padahal si pelatih selam adalah orang yang sangat dikenal oleh Rindu. Rindu baru mengetahui siapa si pelatih selam itu setelah si pelatih menghampiri meja dimana Sya dan Rindu berada. 

Terlepas dari hal tersebut  novel ini secara keseluruhan menarik untuk dibaca. Ketika kita membaca novel ini kita tidak hanya akan mendapatkan kisah galaunya tokoh Rindu ketika mencoba melupakan duka akibat gagalnya menggapai ujung cinta sejatinya saja namun pembaca diberi banyak informasi menarik tentang Morotai yang terjalin rapih dalam kisahnya baik itu tentang sejarah, legenda, buku, kelautan, dan banyak hal lainnya yang akan menumbuhkan rasa cinta dan kebanggan kita pada sejarah dan laut kita.  Sebuah cinta dan kebanggaan yang seharusnya kita miliki sebagai bangsa maritim.

Dan yang patut diberi apresiasi setinggi-tingginya. Untuk mengajak pembacanya mencintai laut  penulis mengajak para pembacanya berkontribusi dalam aksi penanaman Mangrove. Setiap orang yang membeli buku ini berkontribusi menyumbang untuk penanaman satu pohon bakau. Sebuah usaha yang mulia dari penulisnya. Berikut Informasi terakhir yang saya terima lewat Whatsapp dari penulisnya pada tgl 30 Agustus 2021 yang lalu  : 

Kemarin telah genap 1000 bakau milik 1000 pembaca novel Renjana Biru di Morotai
tertanam di Belitung Timur (12-8-2021) & Morotai (29-8-2021).
Terima kasih atas doa dan apresiasinya. 🙏🇲🇨

@htanzil

Friday, May 28, 2021

Lantaran Dimadu - Satu Tragedi dalam Rumah Tangga Tionghoa di Bandung

[No. 398]
Judul : Lantaran Dimadu - Satu Tragedi dalam Rumah Tangga Tionghoa di Bandung
Penulis : Kwee Boen Hoey
Penyunting : Andrias Arifin
Penerbit : Katarsis Book
Cetakan : I, Maret 2021
Tebal : x + 94hlm; 13x19cm

Di paruh pertama abad ke-20 untuk mengatur masalah pernikahan bagi orang-orang Eropa di Hindia Belanda dibuatlah sebuah Undang-Undang Pernikahan yang juga berlaku atas orang-orang Tionghoa.  Undang-undang tersebut  tidak mengizinkan  seorang pria memiliki lebih dari satu istri. Jika seorang suami kedapatan memiliki istri lebih dari satu maka akan mendapat hukuman badan selama-lamanya 5 tahun. Walau peraturan sudah dibuat namun sepertinya masih banyak pria yang melanggarnya. Atas dasar itulah Kwee Boen Hoey menulis sebuah novel pendek yang terbit pada tahun 1927

"LANTARAN DIMADOE" atau "Satoe Tragedy dalem rumah tangga Tionghoa" saya tulis untuk menjadi satu penerangan bagi siapa saja yang berada di dalam pengalaman-pengalaman itu yang termaksud dalam penuturan di atas, yang sampai hari ini masih banyak terdapat di dalam kalangan rumah tangga Tionghoa di Djawa Koeloen dan yang telah membuat rusak keananan rumah tangga yang tadinya telah didirikan dengan keagungan dan berakhir dengan ratapan dan banjir air mata.

Di dalam buku ini saya akan menunjukkan dengan tegas tentang bagaimana sifat lelaki yang hidup dengan  dua istri atau lebih, dan tentang perasaan-perasaan istri yang dimadu dan menjadi madu, tentang bagaimana perihnya hati yang terluka...

Novel Lantaran Dimadu  diawali dengan suasana kota Bandung tempo dulu saat diterjang hujan badai. Hal  ini seolah menjadi suatu isyarat bahwa untuk selanjutnya pembaca akan dibawa pada sebuah kisah badai kehidupan dalam rumah tangga yang terjadi akibat istri yang dimadu oleh suaminya. 

Dikisahkan Eng Nio adalah seorang wanita cantik yang berasal dari keluarga peranakan Tionghoa (Orang Tionghoa yang lahir di Indonesia)  yang kurang beruntung secara ekonomi. Ketika Lian Hie,seorang Hokchia totok (orang Tionghoa yang lahir di Tiongkok)  yang mengaku sebagai pemilik toko emas di Pasarbaru Bandung melamarnya, tanpa pikir panjang orang tua Eng Nio menerima lamaran tersebut.

Rupanya perbedaan adat antara seorang peranakan dengan Hokchia totok  berpengaruh pada kehidupan rumah tangga mereka.

Kehidupan antara Eng Nio dengan suaminya sangat bertentangan. Bukan saja dalam caranya ia punya pergaulan, tapi juga dalam adat istiadatnya mempunyai perbedaan-perbedaan yang dirasa tidak mengenakkan. Tapi lantarang mengingat bahwa orang itu sekarang sudah menjadi suaminya, seberapa besar Eng Nio berusaha buat menyesuaikan dirinya….. (hlm 36)

Di tahun ketiga pernikahannya Eng Nio semakin jarang mendapat kasih sayang dari suaminya yang setiap malam kerap keluar rumah untuk mencari kesenangan sendiri. Eng Nio tidak bisa mencegahnya karena menurut tradisi Tionghoa saat itu seorang perempuan harus menurut terhadap suaminya.

Sementara Eng Nio sibuk dengan urusan toko emas, Lian Hie semakin sibuk dengan dunianya sendiri. Eng Nio ditinggal sendirian di rumah dan baru pulang tengah malam atau hampir fajar. Hal ini terus terjadi hingga Lian Hie secara mendadak mengutarakan maksudnya untuk pulang ke Tiongkok untuk menengok keluarganya disana.

Sebagai istri yang taat pada suaminya, Eng Nio tidak bisa menolak permintaan suaminya walau ia merasa khawatir kalau kelak suaminya pulang dari Tiongkok ternyata membawa pulang seorang perempuan.  Kekhawatiran Eng Nio menjadi kenyataan,  setelah Eng Nio dengan sabar menunggu  selama 4 tahun tanpa kabar, Lian He, suaminya pulang dengan membawa seorang perempuan Tiongkok  yang telah dinikahinya di Tiongkok

Apa yang dilakukan suaminya membuat Eng Nio terluka, apalagi ternyata perempuan yang telah dinikahi suaminya itu memperlakukan Eng Nio secara semena-mena. Disinilah kemudian penulis mengeksplorasi keresahan hati berserta penderitaan fisik dan psikis dari seorang wanita yang dimadu.

Bukan Sekedar Kisah Pilu

Lalu apa yang bisa kita peroleh dari novel pendek  yang terbit 90 tahun yang lalu ini? Apakah sekedar kisah pilunya derita seorang wanita lantaran dimadu? Dalam bab Permulaan Kata (Kata Pengantar) penulis menyuguhkan Undang-undang pernikahan bagi orang Tionghoa  di Hindia yang menyatakan bahwa seorang pria hanya boleh menikah dengan satu perempuan dan fasal-fasal mengenai hukuman  penjara jika kedapatan seorang pria beristri lebih dari satu.

Selain tentang Undang-undang pernikahan, Jika kita cermati lebih dalam lagi ada beberapa hal yang bisa kita dapatkan, antara lain tentang kondisi sosial budaya masyarakat Tionghoa, khususnya di Bandung  di paruh pertama abad ke-20

Dari novel pendek ini kita bisa melihat di masa itu profesi apa yang biasa dijalankan orang-orang Tionghoa. Yang mungkin telah menjadi streretoip orang Tionghoa hingga kini adalah profesi sebagai pedagang.  Di novel inipun kita akan melihat bahwa beberapa tokohnya adalah pedagang, mulai dari pedagang emas di toko hingga pedagang minyak dan tembakau  keliling.  Pedagang pikulan keliling inilah yang sekarang sepertinya sudah tidak dilakukan lagi oleh para pedagang Tionghoa.  

                                                      Pedagang pikulan keliling Tionghoa

Selain berdagang barang, orang Tionghoa juga ada yang ‘dagang uang’  khususnya dari suku Hokchia  yang  umumnya berprofesi sebagai tukang pinjam uang. Dalam novel ini terdapat tokoh  seorang Tionghoa Hokchia yang meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi atau dimasa itu  dikenal sebagai orang yang  meminjamkan uang panas

Untuk urusan perjodohan, terungkap pula profesi wanita Tionghoa sebagai mak comblang atau jika dalam novel ini disebut sebagai cengkauw. Sepertinya di masa itu peran seorang cengkauw dalam urusan perjodohan memegang peranan penting. Melalui jasa cengkauw itulah para pria Tionghoa berusaha untuk melamar Eng Nio.

Novel ini juga mengungkap tentang perilaku dan kebiasaan  orang Tionghoa totok  dan orang Tionghoa peranakan yang ternyata memiliki perbedaan yang tidak mengenakkan khususnya ketika itu terjadi  dalam hal hubungan pernikahan.

Sebagai seorang peranakan yang hidup sedari kecil dibawah pengaruh yang terdapat di sekitar dirinya, waktu baru menikah dirasakan kehidupan antara Eng Nio dan suaminya sangat bertentangan. Bukan saja dalam caranya ia punya pergaulan, tapi juga dalam adat istiadatnya mempunyai perbedaan-perbedaan yang tidak mengenakkan…..adat kelakuan dan kebiasaan suaminya sebagaimana umumnya kehidupan orang-orang Hokchia ada perbedaan dengan adat kehidupan orang-orang Tionghoa peranakan terhadap istri dan orang tuanya. (hlm 35-36)

Selain itu novel ini juga mengungkapkan anggapan umum dimasa itu bahwa bukan hal yang aneh jika seorang Tionghoa totok membawa pulang wanita Tiongkok ketika ia kembali ke Jawa.  

…kebanyakan orang Tionghoa totok kalau pulang ke Tiongkok, kalau pulangnya suka bawa perempuan lain sebagi istrinya.. (hlm 45)

Masih banyak hal-hal menarik yang bisa diambil dari novel ini.  Yang tak kalah menariknya adalah sejumlah wejangan singkat  dari penulis yang disisipkan dalam kisahnya yang beberapa diantaranya mengutip dari falsafah kehidupan  Tionghoa dan Barat sehingga pembaca akan mendapat pelajaran kehidupan dari kisah derita seorang wanita yang dimadu.

 

Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1927 oleh penerbit Boelan Poernama, Bandoeng dengan Judul “Lantaran Dimadoe, Satoe Tragedy Dalem Roemah Tangga Tionghoa. Empat tahun kemudian novel ini diterbitkan lagi oleh Drukerij Litera, Bandoeng.  Kini novel yang  aslinya ditulis dalam bahasa melayu pasar dengan ejaan lama/ Van Ophuysen ini  diterbitkan ulang dengan  dengan menggunakan kalimat yang sesuai dengan aslinya namun  dengan Ejaan yang disempurnakan (EYD). 

Di edisi yang terbaru ini penerbit menambahkan kalimat “di Bandung”  di sub judulnya sehingga menjadi Lantaran Dimadu – Suatu Tragedi dalam Rumah Tangga Tionghoa di Bandung. Penambahan ini tidaklah mengada-ngada karena novel ini memang settingnya di Bandung, di dalamnya kita akan menemukan jalan Tjibadakweg, Pasar Baroe, Tjitepoes, dan bursa tahunan Jaarbeurs yang sangat terkenal di masa itu.

Untuk istilah-istilah asing yang untuk saat ini sudah jarang atau tidak pernah digunakan, penerbit menyertakan penjelasan di catatan kakinya. Ada satu hal yang perlu dikoreksi yaitu kalimat toonnel komedie. Kalimat ini pada catatan kakinya diartikan sebagai komedi putar, roller coaster,  padahal arti sebenarnya adalah sandiwara atau teater.

Satu hal lagi yang mungkin perlu dikoreksi, jika di naskah awalnya setiap bab diawali dengan nomor menggunakan angka romawi, di cetakan terbarunya angkanya dihilangkan. Padahal dibeberapa kalmat pembuka antar bab penulis merujuk pada nomor babnya. Contohnya :

Satu bulan telah lewat dari apa yang dibicarakan di bagian ke II…. (hlm24)

Jalannya walau begitu cepat zonder terasa sudah tiga tahun lewat dari apa yang dibicarakan di bagian IV.. (hlm 46)

Mungkin sebaiknya nomor di judul tiap bab-nnya tidak dihilangkan sesuai dengan naskah aslinya. 

Selain itu ada perbedaan penerbit dan tahun penerbitan keterangan cetakan pertama dari novel ini. Dihalaman kolofon cetakan terbarunya tertulis bahwa novel ini pertama kali diterbitkan oleh Drukerij Litera, Pakoewan Soemedangweg 89 Bandoeng, 1931. Sedangkan menurut katalog online Perpustakaan Nasional  novel ini diterbitkan oleh  Boelan Poernama, Bandoeng 1927.

Terlepas dari hal diatas, diterbitkannya kembali buku yang mungkin sudah dilupakan banyak orang ini patut diapresiasi dengan baik. Selain kisahnya masih relevan hingga kini, lewat novel ini pembaca akan diajak melihat  suasana Bandung beserta adat kebiasaan orang-orang Tionghoa di masa lampau yang sedikit banyak bermanfaat untuk pembaca umum atau peneliti kebudayaan Tionghoa peranakan dalam menambah khazanah pengetahuian mereka tentang Bandung di paruh pertama abad ke-20.

Tentang Penulis 

Sampai resensi ini ditulis saya tidak menemukan data apapun tentang Kwee Boen Hoey. Barangkali ada teman-teman ada yang tahu profil tentang Kwee Boen Hoey bisa menginfokannya di kolom komentar atau email ke htanzil@gmail.com

 @htanzil 

Berikut scan dari novel ini artikel 279 dari Wetboek van Stafrecht dan artikel 284 dari Strafwetboek yang menetapkan hukuman penjara bagi suami yang beristri lebih dari satu