Wednesday, April 21, 2021

Bandung di Persimpangan Kiri Jalan

[No. 397]
Judul : Bandung di Persimpangan Kiri Jalan
Penulis : Hafidz Ashar
Penerbit : ProPublic.Info
Tebal : xvi + 231hlm, 13 x 19 cm
Cetakan : I, Februari 2021
ISBN : 978-623-93907-7-8

 Bandung pada paruh pertama awal abad ke 20 khususnya  di tahun 1920-an adalah kota pergerakan baik itu bagi kaum nasionalis, agama, hingga komunis. Tidak heran jika Bung Karno mengawali jejak pergerakannya di Bandung saat ia kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng/ITB  (1921-1934).

Salah satu gerakan yang tumbuh dan berkembang dengan pesat di Bandung pada masa itu adalah gerakan komunis atau sering disebut sebagai gerakan kiri. Begitu kuatnya pengaruh gerakan kiri sampai-sampai organisasi  Sarikat Islam yang didirikan di Bandung pecah menjadi Sarikat Islam Merah (SI Merah) yang berafiliasi ke Partai Komunis Indonesia.

Buku ini  berisi 20 artikel tentang gerakan kiri di Bandung di tahun 1920an yang datanya diperoleh penulis  dari berbagai koran  yang terbit di tahun 1920-an dan beberapa buku referensi yang menyinggung tentang gerakan kiri di Bandung. 

Jika kita membaca buku ini terlihat jelas bagaimana gerakan kiri di Bandung yang saat itu dimotori oleh SI Merah dan PKI telah menjadi sebuah gerakan yang besar. Sebuah sumber  menyebutkan  bahwa Bandung merupakan pusat agitasi kedua Komunis setelah Semarang sebagai basis terbesarnya. 

Hal ini terbuktikan dengan  beberapa pertemuan yang diadakan kelompok kiri yang selalui mendapat perhatian besar dengan jumlah peserta yang banyak.  Ketika terjadi bencana kelaparan di Rancaekek Bandung pada 1923, SI Merah dan  PKI mengadakan vergadering/perkumpulan untuk membicarakan kelaparan di Rancaekek. Surat kabar Sapoedjagat melaporkan bahwa rapat tersebut dihadiri oleh sekitar 700 orang yang terdiri dari berbagai elemen. 

Ditahun itu juga di Bandung  digelar kongres SI Merah dan PKI. Kongres yang meriah yang didekorasi dengan penuh warna merah dan dihiasi gambar tokoh-tokoh Komunis dalam dan luar negeri itu diikuti oleh 15 utusan cabang PKI, 13 cabang SI dan 300 peserta umum. Selain itu peserta acara terbanyak yang digagas kelompok kiri yang terungkap di buku ini yaitu ketika Sarikat Islam Merah Bandung menggelar pertemuan dengan kelompok buruh  V.S.T.P yang dihadiri oleh 2.100 orang peserta dan diliput oleh berbagai media. Bahkan tidak hanya anggota SI atau V.S.T.P, pertemuan ini juga dihadiri oleh perwakilan pemerintah.

Kepedulian kaum kiri/merah kepada rakyat kecil tampaknya merupakan salah satu faktor mengapa gerakan kiri di Bandung bisa tumbuh, berkembang dengan pesat dan diterima oleh masyarakat Bandung saat itu.  Selain peduli terhadap masalah kelaparan di Rancaekek, SI Merah dan PKI juga peduli dengan pendidikan bagi rakyat kecil. Bulan Januari 1922 Tan Malaka mendirikan Sarekat Islam School di Bandung dengan biaya yang lebih murah dari sekolah pada umumnya. Baru saja dibuka, sekolah ini sudah menerima 200 orang murid dan dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah di Bandung. 

Dalam meluaskan pengaruhnya, kaum kiri menggunakan kekuatan media sebagai corognya. Hadirnya koran-koran berhaluan kiri seperti Sapoejagad, Matahari, Soerapati, dan sebagainya yang menjadi alat propaganda membuat mereka semakin kirtis dalam menyikapi apa yang terjadi di masyakarat. Tidak jarang koran-koran kiri tersebut melahirkan polemik antara kaum kiri dengan kaum priyayi terutama dengan bupati Bandung RAA Wiranatakusumah yang didukung oleh koran Obor, Kaoem Moeda, dll. Polemik-polemik yang terdapat di koran-koran kiri dan koran yang mendukung sang bupati mendapat porsi cukup banyak di buku ini dan menarik untuk disimak. 

Polemik  yang mungkin bersifat pribadi namun menghebohkan  juga dicatat di buku ini yaitu antara S. Goenawan S, pengurus SI Merah dengan Padmawiganda, redaktur koran Kaoem Moeda karena Goenawan dituduh tak bertuhan oleh Padmawiganda. Polemik ini dilanjutkan dengan tantangan S. Goenawan untuk menggelar debat terbuka di masjid atau Alun-alun Bandung. Sayangnya sepertinya Padmawiganda tidak menganggapi tantangan tersebut sehingga Goenawan menyebutnya sebagai "Tuan Keok".  Munculnya polemik ini mungkin dapat menjadi sebuah fakta bahwa tidak semua kaum kiri itu tidak bertuhan.

Sikap kritis kaum merah/kiri dalam melawan ketidakadilan  terutama sikapnya yang terang-terangan menentang kolonialisme serta pergerakan kaum kiri yang kian masif lama kelamaan membuat gerah pemerintah kolonial sehingga pemerintah kolonial membentuk gerombolan antikomunis yang terdiri dari kaum menak-priyayi. Dalam artikel berjudul Aksi Kelompok Teror di Priangan Tahun 1924-1931 penulis menemukan fakta bahwa aksi-aksi kekerasan antara kelompok kiri dan kelompok antikomunis menjadi tidak terhindarkan, ada yang dipukuli, diculik, hingga aksi pelemparan batu di rumah, gedung milik salah satu kelompok hingga roboh. 

Walau ada perbedaan yang mencolok antara kaum kiri dangan kaum menak-priyayi Bandung dan seringnya kedua kelompok itu saling berpolemik di media massa namun ada satu kasus yang membuat kedua kubu ini sepaham yang dicatat di buku ini, yaitu kasus Nyi Anah yang dituduh membunuh suaminya, K-Gruitering, seorang pria Belanda. Bukan kejadian yang lumrah karena menyangkut kasus golongan pribumi dan Belanda. Dalam kasus ini baik kaum kiri maupun kaum menak-priyayi sama-sama memperjuangkan keadilan bagi Nyi Anah. 

Ada banyak hal menarik tentang gerakan komunis di buku ini, salah satu yang menarik adalah artikel yang mengungkap sebuat berita di koran Soerapati tentang seorang Haji Persis (Persatuan Islam) yang dianggap komunis karena saat ia meninggal ritual dan penangannya berbeda seperti pada umumnya  seorang muslim meninggal dunia. Di artikel ini penulis berpendapat bahwa  berita di koran kiri tersebut adalah sebuah pembelaan yang menganggap Persis tidak melakukan kesalahan. Di bagian ini penulis juga membuka wacana tentang kemungkinan hubungan baik kelompok kiri dengan Persis

Namun, bukan tidak  mungkin, bila kelompok Merah mempunyai hubungan baik dengan Persis. Salah satu kemungkinan ini bisa kita lihat pada aktivitas yang dilakukan Ahmad Bassach sebagai pembesar komunis di Bandung. Selain menulis banyak karya sastra, Ahmad Bassach turut menerjemahkan karya Ahmad Hassan yang dianggap muftinya Persatuan Islam. 

Terkait hubungan baik Komunis dangan Persatuan Islam, rupanya perlu dipastikan dan ditelusuri lebih lanjut. Tidak ada klaim yang menyatakan secara jelas bahwa Komunis dan organisasi Persis menjalin hubungan yang begitu baik.   (hlm 65- 66)

Buku ini juga mencatat tentang meredupnya Gerakan kiri di Bandung setelah ditangkapnya dan dibuangnya para petinggi Komunis di Bandung seperti Moh. Sanoesi, Sardjono, Darmoprawiro, dll ke Boven Digul akibat dari pemberontakan Komunis di berbagai kota termasuk di Bandung pada akhir tahun 1926. Buku ini mencatat beberapa pemberontakan yang terjadi di Bandung antara lain di Nagreg, Cicalengka, Cimahi, Padalarang. Di kawasan Cimahi dan sekitarnya bahkan terdapat 15 serangan kaum komunis dari tanggal 13 sampai 17 November 1926.

Masih banyak kiprah gerakan kiri di Bandung yang dimuat di buku ini yang menarik untuk disimak antara lain pemogokan di Bandung tahun 1923, Siti Atikah, perempuan Bandung yang tergabung dalam gerakan kiri, Alibasach Winata, tokoh komunis Bandung yang terkena delik Pers yang menghina Ratu Belanda, dan sebagainya.  

Satu hal yang agak mengganjal di buku ini adalah cover bukunya yang menyandingkan bupati Bandung RAA. Wiranatakusumah dengan Tan Malaka. Mungkin maksud penerbit atau penulisnya adalah sebagai keterwakilan antara kedua kubu yang saling bertentaangan. Wiranatakusumah sbg wakil dari kaum kanan sedangkan Tan Malaka mewakili kaum kiri yang dimasa itu memang sering berpolemik di media massa. Disandingkannya antara Wirnatakusumah dengan Tan Malaka, apakah tidak akan menimbulkan tafsir calon pembaca bahwa keduanya berada dalam kubu yang sama?

Untuk menghindari kesalahan tafsir karena covernya mungkin akan lebih baik jika desainnya diatur agar terkesan bahwa kedua tokoh itu berseberangan. Atau karena buku ini utamanya bersumber dari koran-koran yang terbit di Bandung tahun 1920an mungkin akan lebih baik kalau cover buku ini menampilkan potongan2 polemik yang terjadi di koran-koran kaum kiri dan kanan.

Telepas dari soal cover, kehadiran buku ini patut diapresiasi dengan baik. Keberanian dan kejelian penulis dan penerbit untuk membukukan gerakan komunis di Bandung yang mungkin banyak dilupakan orang patut mendapat pujian karena selama ini buku-buku tentang Bandung yang telah terbit hanya mengangkat keindahan dan eksotisme  Bandung tempo dulu.  Melalui buku ini pembaca akan melihat Bandung dari sisi lain yaitu sisi sebelah kiri dengan segala polemik dan peristiwa yang terjadi di masa itu.

Karena buku ini tersaji berupa kumpulan artikel lepas yang sebagian besar sudah pernah dimuat di media online ayobandung.com , buku ini belum dapat dikategorikan  sebagai buku yang membahas gerakan kiri di Bandung secara komprehensif. Namun bukan berarti buku ini tidak bermanfaat karena ke 20 artikel yang ada di buku ini dapat memberikan informasi pada pembacanya seputar gerakan kiri di Bandung. Buku ini juga bisa disebut buku pionir karena sebelum buku ini terbit belum ada buku yang secara khusus membahas tentang gerakan kiri di Bandung.

Semoga  buku ini bisa memacu penulis-penulis lain atau mungkin penulis buku ini sendiri yang akan menjadikan buku ini sebagai batu loncatan untuk menghadirkan sebuah buku utuh yang secara komprehensif  membahas sejarah dan gerakan kaum kiri di Bandung.

@htanzil

Buku ini bisa diperoleh di (klik pada gambar)


 




Tuesday, March 02, 2021

The Monk of Mokha

[No.396]
Judul : The Monk of Mokha
Penulis : Dave Eggers
Penerjemah : Dina Begum
Penerbit : Kriya Rasa
Cetakan : I, Oktober2020
Tebal: xxiv + 365 halaman
ISBN: 978-602-53301-8-6

Darimanakah asal muasal kopi ditemukan? Meski Ethiopia lebih populer dikenal sebagai tempat pertama kali kopi ditanam, namun di Yaman biji kopi pertama kali diperdagangkan secara komersial. Lebih dari 150 tahun, sejak abad ke 16 Yaman adalah pemasok kopi eklsusif ke seluruh dunia. Kopi Yaman dikirim melalui Mokha, kota pelabuhan kecil di Yaman.

Di tahun 1600-an, seorang peziarah India menyelundupkan tujuh benih kopi hijau Yaman ke luar negeri, dan dari benih tersebut kopi menyebar dan mulai ditanam di beberapa negara. Jika ditelusuri 90% kopi dunia dapat dilacak secara genetik ke kopi Yaman.

Yaman pernah menjadi negara yang berjaya dalam hal kopi. Kopi dihasilkan di 17 dari 21 provinsi di Yaman yang ditanam oleh sekitar 600 ribu petani. Sayangnya perang saudara yang berkepanjangan dan berbagai faktor lainnya membuat  kejayaan Kopi Yaman semakin meredup dan terlupakan apalagi dengan munculnya negara-negara lain sebagai produsen kopi dunia saat ini seperti Brazil, Etiophia, Vietnam, Indonesia, dll

Kopi Yaman mungkin akan terus dilupakan jika  Mokhtar Alkhansali, lelaki Amerika kelahiran Yaman  tidak memiliki mimpi untuk membangkitkan kejayaan kopi Yaman di pentas dunia. Buku The Monk of Mokha adalah buku non fiksi  yang dinarasikan dalam bentuk novel.  Buku ini mengisahkan kehidupan Mochtar dan peristiwa-peristiwa yang  dialaminya ketika membawa dua koper sample biji kopi dari Yaman yang saat itu sedang dalam puncak kecamuk perang Saudara  untuk dinilai di konferensi kopi terbesar di dunia yang diadakan di Seattle, Amerika pada tahun 2015

Selain dikisahkan dalam buku ini, petualangan Mokhtar juga muncul di berbagai media besar dunia, seperti BBC, CNN, dan Al-Jazeera sehingga ia pun mendapat julukan "The Indiana Jones of Coffee".

Buku ini dibagi dalam empat bagian besar. Bagian pertama menceritakan latar belakang Mokhtar, laki-laki Amerika muslim keturunan Yaman yang sambil kuliah bekerja sebagai penjaga pintu di sebuah apartemen mewah di San Fransisco Bay, Amerika Serikat. Di bagian ini dikisahkan  bagaimana Mochtar dan kawan-kawannya mendapat perlakukan tidak mengenakkan dari seorang polisi yang saat itu masih terus  curiga terhadap para imigran dari negara muslim. Selain itu terungkap pula kehidupan imigran asal Yaman yang umumnya bekerja sebagai sopir, satpam, penjaga pintu, petugas kebersihan, dan pekerjaan-pekerjaan fisik lainnya.

Di bagian kedua diawali dengan kisah bagaimana ketertarikan Mokhtar akan kopi dimulai ketika ia melihat sebuah patung setinggi 6 meter berupa orang arab yang sedang  minum kopi. Penasaran dengan patung tersebut ia masuk kedalam gedung dimana patung tersebut berada. Ternyata didalamnya berisi foto-foto dan teks tentang bisnis impor kopi bernama Arabian Coffe and Space Mills di tahun 1800-an yang dikelola oleh Hills bersaudara. Versi grafik patung tersebut dijadikan logo Hills Bross Coffe

Penasaran dengan patung tersebut, Mokhtar menceritakan apa yang dilihatnya pada ibunya, ibunya tertawa:

"Keluarga kita punya kopi selama ratusan tahun," katanya."Apa kau tidak ingat rumah kakekmu di Ibb? Di halamannya, ada banyak pohon kopi. Dia masih punya pohon-pohon itu. Apa kau tidak tahu bahwa orang Yamanlah yang pertama kali mengeskpor kopi? Pada dasarnya orang Yaman yang menciptakan kopi. Kau tidak tahu itu?" (hlm 65)

Semenjak itu Mokhtar menjadi tertarik dengan kopi. Ia lantas melakukan riset. Lewat ponselnya dia menemukan perdebatan panjang mengenai asal muasal kopi, dan klaim ganda, diantara Etiophia dan Yaman, mengenai penemuannya. 

"Ada kesepakatan meluas bahwa mitos asal muasal kopi paling awal melibatkan seorang gembala Etiopia bernama Khaldi.... Hanya sedikit yang mengetahui bahwa kopi lahir di Arab. Ada dua jenis kopi, robusta dan arabika, karena lahir di Arab, khususnya di tempat yang oleh orang Romawi disebut Arabia Felix -- "Happy Arabia". Ini adalah Yaman. Menurut legenda, biji kopi pertama kali diseduh di Mokha, sebuah kota pelabuhan di pesisir pantai Yaman. 

Ali ibn Umar al-Syadzili, seorang sufi yang tinggal di Mokha, yang pertama kali menyeduh biji kipi menjadi minuman yang mirip dengan minuman yang kini kita kenal sebagai kopi. Dia dan rekan-rekannya sufinya menggunakan minuman itu ketika mereka berzikir hingga larut malam. Para sufi membawa kopi ke seluruh penjuru Afrika Utara dan Timur Tengah.

Al-Syadzili dikenal sebagai Monk of Mokha, atau Sufi dari Mokha, dan Mokha kelak menjadi titik pemberangkatan untuk semua kopi yang ditanam di Yaman.  

(hlm 65-66)

Walau kopi pertama kali diolah di Yaman dan pernah menjadi komoditas utama negara tersebut namun Mokhtar tidak menemukan kopi dari Yaman di tiap kafe yang dikunjunginya. Berdasarkan risetnya diperoleh fakta bahwa kini kualitas kopi Yaman telah menurun drastis selama seabad terakhir. Para petani Yaman kini lebih menyukai menanam qat yang jika diolah bisa menimbulkan efek seperti narkotika ringan. Qat di Yaman kini merupakan bagian dari pusat kehidupan masyarakat Yaman sehingga para petani lebih diuntungkan jika menanam qat  jauh lebih menguntungkan dibanding kopi. 

Berdasarkan fakta tersebut Mochtar menjadi  terobsesi untuk mengembalikan kopi Yaman menjadi komoditas utama Yaman. Segala cara dilakukannya untuk mewujudkan mimpinya. Dia belajar banyak tentang kopi, melatih dirinya untuk menjadi Q-grader, pencicip cita rasa kopi profesional  tersertifikasi oleh institute kopi internasional Coffee Quality Institute (CQI). Selain itu ia juga belajar cara membudidayakan kopi, menilai kopi yang baik, dll.  Begitu Mokhtar mendapatkan sertifikasi, dia segera berkemas ke Yaman untuk mewujudkan mimpinya. Mochtar menamakan proyek mimpinya itu dengan nama The Monk of Mokha.

Bagian ketiga mengisahkan bagaimana Mokhtar yang telah berada di Yaman mencari perkebunan dan pengolahan kopi yang dapat menghasilkan kopi bermutu. Mencoba mengajari para petani bagaimana memetik, menyortir, dan mengolah kopi yang semula menghasilkan kopi yang biasa-biasa saja menjadi kopi spesial

Bagian keempat yang merupakan bagian terakhir dari buku ini adalah bagian yang paling seru dan menegangkan dimana ketika akhirnya Mochtar berhasil mendapatkan sample biji kopi hijau terbaik untuk dibawa ke Konferensi kopi Internasional di Seattle Amerika. Namun sayang, perjalanannya kali ini untuk kembali ke Amerika menjadi hal yang sulit untuk dilakukan karena bertepatan dengan keksiruhan politik di Yaman yang mengakibatkan perang saudara antar kelompok milisi di Yaman. 

Di tengah berkecamuknya perang dan hujan bom yang mengancam nyawanya, Mokhtar harus mencari cara agar bisa keluar dari Yaman. Bukan hal yang mudah karena saat itu bandara dan penerbangan ke Amerika Serikat telah ditutup dan kedutaan besar Amerika di Yaman pun sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengevakuasi warga negaranya yang ada di Yaman. Mochtar harus mencari jalan sendiri agar dirinya dan sekoper besar biji kopi Yaman dapat keluar sesegera mungkin dari Yaman sebelum keadaan semakin memburuk.

Dari kisah petualangan Mochtar yang ditulis dengan apik oleh jurnalis Amerika terkenal Dave Aggres pembaca akan dibawa masuk kedalam petualangan Mokhtar dalam mewujudkan mimpi besarnya. Seorang imigran asal Yaman yang tadinya hanyalah petugas penjaga pintu di sebuah apartemen mewah menjadi pahlawan di dunia kopi Yaman. Keteguhan dan tekadnya untuk mengembalikan kejayaan kopi Yaman sangatlah luar biasa. Ia rela mempertaruhkan nyawanya demi dua koper biji kopi Yaman yang ia yakini akan membuka mata dunia akan kekhasan kopi Yaman. 

                                                 Mokhtar dan Kopi Yaman (foto : portofmokha.com)

Selain kisah petualangan Mokhtar yang seru bagaikan petualangan Indiana Jones, lewat buku ini pembaca juga akan memperoleh pengetahuan tentang bagaimana Yaman  ternyata merupakan bagian penting  dari sejarah kopi. Sejarah yang terlupakan oleh harumnya kopi dari negara-negara lain. 

Buku  ini juga mengisahkan bagaimana kehidupan dan kultur para imigran Amerika asal Yaman dan bagaimana mereka juga terkena imbas akibat peristiwa 9/11 yang membuat para imigran muslim senantiasa dicurigai oleh masyarakat dan pemerintah Amerika.  Dan yang tidak kalah menarik adalah bagaimana situasi politik dan ketegangan yang terjadi di beberapa kota di Yaman saat perang saudara di tahun 2015. 

Singkatnya buku ini adalah buku non fiksi tentang kopi, kehidupan kaum imigran di Amerika, reportase perang saudara di Yaman, dan bagaimana seorang yang tadinya bukan siapa-siapa seperti Mokhtar menjadi pahlawan kopi Yaman.  Kecintaannya yang kuat akan negara leluhurnya membuat ia memiliki mimpi dan tekad yang kuat untuk mengembalikan kejayaan kopi Yaman, tempat dimana dia dilahirkan. 

Sepertinya mimpi Mokhtar untuk mengembalikan kejayaan kopi Yaman belum sepenuhnya terwujud. Situasi politik di Yaman yang terus bergejolak membuat ekspor kopi Yaman terhambat. Hingga kini sepertinya masih sulit untuk mendapatkan kopi Yaman.  Ketika buku ini selesai ditulis (2016) harga secangkir kopi Yaman di Amerika menembus  $16 (+/- Rp. 230.000,-). Kini menurut situs https://portofmokha.com kopi single origin Yaman dibandrol dikisaran $ 8-12/ons (Rp 115.000 - 172.000).

@htanzil

Buku The Monk of Mokha bisa dibeli di (klik pada gambar)


Monday, December 21, 2020

Akhir Perpustakaan Kelamin : Sayang Kamu Hanya Kehilangan Kelamin, Bukan Hidup

[No.395]
Judul : Akhir Perpustakaan Kelamin  (Sayang, Kamu Hanya Kehilangan Kelamin, Bukan Hidup)
Penulis : Sanghyang Mughni Pancaniti
Penerbit : Semesta
Cetakan: I, November 2020
Tebal : vii + 209 hlm
ISBN : 978-602-14549-3-0 

+ "Buku apa ini? Perpustakaan Kelamin?"
- "Iya, Pak."
+ "Menceritakan apa? Perpustakaan Kelamin?"
- "Hahaha...Bukan."
+ "Terus? Perpustakaan yang bangunannya tersusun dari kelamin?"
- "Bukan juga, Pak"
+ "Berarti buku porno? Kalau buku porno akan langsung  saya tolak sekarang"
  (hlm 157)

Demikian percakapan antara Hariang, tokoh utama novel ini dengan seorang editor mengenai buku Perpustakaan Kelamin (PK). Mungkin ini juga yang akan ditanyakan orang yang belum pernah membaca dua novel sebelumnya  Perpustakaan Kelamin (PK-1),  Perpustakaan (Dua) Kelamin (PK-2). Ya, ini bukan buku porno atau buku yang berbicara tentang kelamin. Memang kelamin menjadi pengikat kisahnya namun bukan berarti seluruh novel ini membicarakan kelamin, melainkan tentang perpustakaan  yang didirikan dari hasil mendonorkan kelamin.

"Isi Perpustakaan Kelamin tak hanya tentang ceritamu mendonorkan kelamin, ada banyak cerita, terutama tentang dunia perbukuan, yang bisa diambil manfaatnya oleh pembaca.
(hlm 74)

Jika PK-1 mengisahkan bagaimana kisah perjuangan tokoh-tokohnya dalam membangun kecintaannya pada  buku dan membaca, PK-2 tentang perjuangan Hariang menulis memoar untuk mas kawinnya, maka novel pamungkasnya yang diberi judul Akhir Perpustakaan Kelamin mengisahkan bagaimana Hariang berjuang  untuk menerbitkan memoarnya yang diberi judul Perpustakaan Kelamin.

Bagi Hariang bukan hal yang mudah untuk menerbitkan memoarnya. Ada dua rintangan yang harus dihadapinya, pertama ia harus melewati rintangan dari istrinya sendiri yaitu  Drupadi yang tidak ingin naskah itu diterbitkan. Drupadi belum bisa menerima jika akhirnya orang lain mengetahui apa yang terjadi pada suaminya yang harus hidup tanpa kelamin. Kedua adalah dari berbagai penerbit yang menolak menerbitkan naskahnya tersebut dengan beragam alasan. 

Seperti halnya di dua novel sebelumnya, di novel inipun penulis  memperkaya pembacanya dalam hal  dunia buku, khususnya kini tentang  kepenulisan, penerbitan, editing, perjuangan penulis-penulis terkenal dalam menerbitkan buku, tentang self publisher, penerbitan indie, dan sebagainya. Karena novel ini mengisahkan perjuangan Hariang untuk menerbitkan bukunya maka perihal editor, profreader dan editing yang merupakan tahapan penting sebelum buku itu dibawa ke penerbit mendapat porsi yang cukup banyak disinggung di buku ini. 

Sebagai contoh dalam dialog Hariang dengan Kang Uni penulis menjelaskan fungsi editor dan profreader serta perbedaannya karena selama ini orang sering mencampuradukkannya. 

Tugas editor yang paling besar adalah berkutat di cerita dan gagasan...Ibaratnya, naskah seorang penulis itu adalah arca tanpa rupa, lalu sang editor akan memahat dan membentukanya

"Kalau ternyata naskah seorang penulis itu sudah berbentuk?"
"Editor akan memperindahnya."

"Saya kira editor itu yang mengurus kesalahan-kesalahan ketik"
"Yang bekerja untuk bagian itu, disebut proofreader. Sering juga disebut pemeriksa aksara, atau penyelaras akhir. Nanti dia yang membetulkan kata-kata yang salah eja, tidak sesuai kebakuan, tidak mengikuti ejaan yang disempurnakan, kesalahan tanda baca, susunan kalimat yang tak logis, dan hal-hal lain yang besifat teknis. 

...biasanya,  seorang proofreader baru bekerja, ketika tugas editor sudah selesai.
(hlm 57, 59) 

Selanjutnya bagaimana contoh seorang editor berkutat di cerita dan gagasan dicontohkan secara rinci dalam bentuk dialog di novel ini yaitu ketika bagaimana Kang Uni memberikan gagasan, masukan-masukan pada draft Perpusatkaan Kelamin. 

Selain tentang proses editing novel ini juga memberikan porsi yang cukup banyak tentang fisik/anatomi buku, dari soal cover, punggung buku, pembatas buku, halaman 4 yang berisi data buku, hingga halaman ucapan terima kasih. 

Ketika membahas isi halaman 4 yang biasanya berisi data buku (judul, penulis, penerbit,editor,dll), ada hal yang sepertinya kini jarang terdengar dan tersaji di halaman 4,  yaitu Kolofon yang memuat informasi seperti jenis tipografi yang digunakan untuk teks buku, jenis kertas, jenis tinta, jenis jilid, dan jenis mesin yang digunakan untuk mencetaknya.  

Soal  buku best seller juga dibahas di buku ini, di Indonesia karena tidak memiliki standard nasional maka patokan best seller itu berbeda-beda, tergantung penerbitnya. Berbeda dengan Inggris yang menetapkan angka best seller jika buku telah terjual 4000 sampai 25.000 ekslempar pe minggu. Salah satu contoh buku yang benar-benar masuk kategori best seller adalah novel Musashi karya Eiji Yoshikawa, di Jepang buku ini terjual 35 juta kopi padahal penduduk Jepang hanya 30 juta!

Ada masih banyak hal-hal seputar dunia buku yang menarik dalam novel  ini. Lalu bagaimana dengan unsur drama atau konflik dari   kisah sang tokohnya sendiri?  Di novel pangungkas Perpustakaan Kelamin ini sepertinya unsur dramanya agak berkurang dibanding dua buku sebelumnya. Sejak awal hingga menjelang akhir, dialog mengenai dunia buku lebih mendominasi. Bagi pembaca yang senang akan dunia buku hal ini tidak menjadi masalah karena novel ini akan memberi pengetahuan yang limpah akan dunia buku khususnya tentang bagaimana menerbitkan sebuah buku. Namun bagi pembaca yang menginginkan atau berekspektasi akan mendapat sebuah novel dengan keseruan drama dari konfik para tokoh-tokohnya tentunya hal ini akan sedikit mengecewakan.

Namun untungnya di bab-bab akhir penulis menyajikan sebuah keseruan sekaligus kejutan buat pembacanya.  Apa yang menjadi sebab Hariang dipenjara di akhir novel sebelumnya (Perpustakaan Dua Kelamin)  akan terjawab di bagian akhir novel ini. Selain itu sebuah akhir kisah  yang tidak teduga  akan mengguncang pembacanya sehingga pembaca akan berkata seperti yang sering dikatakan Hariang, "Edan!!". Ketegangan, keharuan, dan kelegaan akan bercampur aduk ketika pembaca mengakhiri pembacaan atas novel ini. 

Namun sayangnya ada sedikit yang agak mengganggu di bagian akhir, yaitu tentang handphone yang sedang dicharge yang merekam terjadinya sebuah peristiwa yang selama ini tersembunyi dengan rapih.  Umumnya orang mencharge handphone dalam keadaan telentang atau tertelungkup sehingga sulit rasanya membayangkan handphone yang sedang dicharge secara tidak disengaja dapat merekam sebuah adegan dengan sempurna.

Walau dunia buku mendominasi novel ini namun ada beberapa pelajaran kehidupan diluar tema buku yang bisa diambil hikmahnya seperti misalnya bagaimana Hariang yang walau harus hidup tanpa kelamin namun tidak membuat dirinya minder, Drupadi yang dengan cintanya yang tulus mau mempertahankan pernikahannya walau suaminya tanpa kelamin, dan bagaimana  pengorbanan seorang ibu pada anaknya, demikian juga sebaliknya yang mengajarkan pada kita akan cinta yang luhur dan penuh pengorbanan antara ibu dan anaknya. 

Selain itu ada satu hal yang juga menarik yaitu mengenai hadirnya tokoh seorang ustaz terkenal yang diceritakan sering tampil di TV dan pengajiannya selalu dihadiri ribuan orang sehingga membuat sang ustaz menjadi sombong dan mensyaratkan tarif puluhan juga untuk siapapun yang mengundangnya.  Hal ini membuat ayah dari sang ustaz tersebut memperingatinya dengan keras.

"Karena tiap hari dijunjung, tiap hari dipuja, akhirnya kamu merasa yakin kalau kamu memang pantas dijunjung dan dipuja. Maka kamu menomorsatukan dirimu, mengutamakan nama besarmu. Kamu lupa, kalau kamu ini bukanlah apa-apa! Kamu lupa, kalau kamu ini tak penting! Kamu lupa, jangankan kamu, seluruh jagat raya ini tidaklah berharga, yaitu saat kamu tenggelam dalam kesunyian cintamu yang tunggal dan utuh kepada Tuhanmu."  (hlm 28) 

Masih banyak hal yang menarik di buku ini terlebih mengenai bagaimana perjuangan Hariang dalam menerbitkan bukunya. Opini atau pendapat penulis yang kritis dalam dunia buku dan kepenulisan juga  tumpah ruah di novel ini.   Bagi pembaca yang saat ini sedang menulis buku atau sedang berusaha untuk menerbitkan bukunya saya sarankan untuk membaca novel ini karena bisa menjadi panduan  untuk buku yang sedang ditulis atau hendak diterbitkan.

Sebuah pesan dari tokoh ibu yang ada di bagian akhir novel ini juga sangat baik untuk para penulis pemula yang mungkin sedang membaca novil ini . Ini pesan Ibu : 

"Jangan melabeli diri sebagai penulis pemula. Karena label ini akan menjebak mereka untuk memaafkan kesalahan-kesalahan dalam menulis, mudah mentolerir kekurangan serta kedangkalannya lantaran menganggap diri jadi penulis pemula. Katakan pada mereka, jadilah penulis pelanjut! Artinya, sebelum berpikir menerbitkan buku, menulislah dulu yang banyak, membacalah buku yang banyak, dan reguklah pengalaman yang luas."
(hlm 206)

Ingat pesan Ibu! Akhir kata saya berpendapat bahwa novel ini dapat dikatakan sebagai panduan praktis tentang bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan agar kita dapat menerbitkan karya kita menjadi  sebuah buku. Buku panduan menerbitkan buku yang dikemas dalam bentuk novel yang menarik.  Novel dengan tokoh-tokohnya yang begitu mencintai buku dan dunianya. Novel yang tokoh-tokohnya menghargai dan memuliakan buku pada tempat yang seharusnya. 

@htanzil

Buku ini bisa diperoleh di Tokopedia , Shopee

Thursday, November 12, 2020

Jejak-Jejak Bandung

[No.394]
Judul : Jejak-Jejak Bandung
Penulis : Atep Kurnia
Penyunting : Deni Rachman
Penerbit : ProPublic.Info & Oleh-oleh Boekoe
Cetakan : I, 25 September 2020
Tebal : xii + 196 hlm ; 13x19 cm
ISBN : 978-623-93907-2-3


 Kota Bandung pun mungkin seperti Istanbul, telah menjadi teks. Ia barangkali seperti novel, cerita pendek, atau puisi. Sebagaimana sebuah teks. Kota Bandung bisa dibentuk dan dibuat oleh siapa saja. (hlm 64)

Bandung memang kota yang sejak dulu selalu menginspirasi bagi para penulis untuk diubah menjadi teks, sebut saja   Haryoto Kunto, Sjarif Amin, R. Moch Affandie, Us Tiarsa, Her Suganda, Sudarsono Katam, Ryzki Wiryawan, dan lain-lain. Seperti para pendahulunya Atep Kurnia, penulis yang menetap dan menjejakkan karier kepenulisannya di Kota Bandung juga terinspirasi untuk menulis hal ihwal tentang Bandung.

Dengan energi menulisnya yang luar biasa Atep menulis artikel-artikel tentang Bandung di masa lalu dan mengirimkannya ke media-media cetak dan internet. Dalam tulisan-tulisannya ia mencoba menjelajahi sisi-sisi menarik mengenai Bandung di jaman kolonial yang mungkin belum pernah disentuh penulis lain atau  menambah hal-hal baru dari yang sudah ditulis oleh pendahulu-pendahulunya. Bersyukur kini tulisan-tulisan Atep tentang Bandung yang tadinya tersebar di berbagai media akhirnya dapat dibaca dalam satu buku yang diberi judul Jejak-Jejak Bandung.

Walau buku tentang Bandung telah banyak ditulis namun buku ini tetap istimewa karena Atep mendasari tulisan-tulisannya  dari sumber-sumber primer yaitu koran-koran yang terbit di masa lampau, dokumen-dokumen sejarah, buku-buku kuno, dan sebagainya sehingga semua kisah tentang Bandung yang ada di buku bukan berdasarkan legenda atau hanya cerita dari mulut kemulut melainkan sebuah fakta  yang  dapat ditelusuri dari buku ke buku hingga ke dokumen aslinya. 

Ketika Atep menulis asal muasal Bandung mendapat julukan Parijs van Java, ia menemukan fakta yang menarik. Kalau sebelumnya banyak orang beranggapan  julukan ini mulai muncul di masa keemasan Bandung tempo dulu di tahun 1920-1930an, ternyata berdasarkan  koran-koran berbahasa Belanda yang terbit di Hindia Belanda ia menemukan bahwa  koran paling lama yang menjuluki Bandung sebagai Parijs van Java adalah Alkmaarsche Courant edisi 20 Maret 1904. Ini membuktikan bahwa julukan tersebut sudah ada sejak awal abad ke-20.

Terinspirasi dar pengalaman masa kecilnya yang tak terlupakan ketika mengunjungi  kebun binatang Bandung  lahirlah tulisan berjudul Derenten (Kebun Binatang) Bandung tahun 1930-an yang ditulis berdasarkan koran-koran dan majalah di masa kolonial diantaranya majalah Moii Bandoeng yang terbit di tahun 1930an.  Tulisan ini menjadi salah satu yang  spesial karena  belum pernah ada buku atau tulisan tentang Kebun Binatang Bandung di tahun 1930-an dengan sangat rinci.

Dengan detail penulis menyuguhkan data-data tentang sejarah pendiriannya dan apa saja koleksi binatang yang dimiliki Kebun Binatang Bandung saat itu. Kehadiran Deranten di masa itu sangat menarik perhatian orang Bandung dan sekitarnya. Dari data kunjungan di tahun 1933 tercatat ada 21.000 pengunjung pribumi dan Eropa yang sama banyaknya. Yang menarik, orang-orang saat itu sangat antusias menyerahkan binatang hasil buruannya ke kebun binatang Bandung hingga pengelola kebun binatang saat itu kewalahan dan membuat ketentuan untuk membatasi kiriman binatang dari masyarakat. 

Buku memoar, buku pengantar pekan raya, dan skripsi mahasiswa juga tidak luput dari penelusuran Atep dan dijadikan salah satu sumber untuk menulis tentang pekan raya tahunan Jaarbeurs di Bandung.  Dalam penelusurannya Atep menemukan bahwa ada  buku pengantar Jaarbeurs yang ditulis dalam bahasa Sunda. Hal ini dapat disimpulkan bahwa di tahun 1920an pemerintah kolonial Belanda telah menyadari pentingnya menyampaikan kabar pelaksanaan Jaarbeurs ke komunitas atau orang-orang pribumi yang tempatnya dijadikan pelakanaan pekan raya. Selain itu hal ini juga membuktikan bahwa dimasa itu sudah ada komunitas baca atau literasi Sunda, atau kalau boleh saya tambahkan sudah ada cukup banyak orang-orang Sunda yang melek aksara. 

Sedangkan dari skripsi Yudi Hamzah (2007) yang diselesaikan bagi jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Pajajaran diperoleh hasil wawancara dari dua tokoh terkenal yaitu pelukis Barli Sasmitawijaya dan Brigjen Pol (Purn) Yuhanda mengenai kesan-kesan   mereka mengujungi Pekan Raya Jaarbeurs  saat mereka masih muda.

Sumber primer lain yang digunakan Atep adalah naskah ketikan dan tulisan tangan Raden Ibrahim Prawira-Winata. Naskah tersebut menjadi salah satu sumber bagi Atep untuk menulis artikel bertuliskan Toko Buku MI. Prawira-Winata. Toko buku dan penerbit partikelir kecil di Bandung milik orang Sunda yang pernah mengikuti pameran internasional di tahun 1920-an. Lewat naskah itu  selain membahas tentang toko buku dan penerbitannya dibahas juga tentang riwayat hidup RI. Prawira-Winata yang belum pernah diungkapkan dibuku manapun. 

Tidak hanya sumber tertulis, sumber berupa film juga digunakan Atep untuk menulis tentang suasana Bandung di awal abad ke 20. Di tulisan yang berjudul Bandung dalam Film Bisu Atep mendasari tulisannya berdasarkan film Autotoch door Bandoeng (1913) dan Mooi Bandoeng (1927) produksi Kolonial Intstituut, Belanda. Di tulisan ini selain mendapat informasi lengkap tentang siapa yang membuatnya dan apa tujuan dari dibuatnya film tersebut Atep juga memberikan rincian adegan per adegan dari kedua film tersebut sehingga bisa membantu pembaca untuk lebih menikmati film bisu tersebut yang kini dapat disaksikan di YouTube Eye Filmmuseum

Bagi Atep selain film, plat piringan hitam juga bisa dijadikan sumber tulisan. Dari piringan hitam berwarna merah yang ditengahnya terdapat tulisan "Konperensi A.A. (n.n)" lahirlah tulisan berjudul Konperensi Asia-Afrika Dalam Rumpaka Sunda. Dari rumpaka (teks lagu/lirik) Atep menyimpulkan bahwa itu membuktikan keterlibatan seniman Sunda dalam ikut menyebarkan informasi mengenai pentingnya perhetalan KAA kepada publik berbahasa Sunda. 

Masih banyak hal-hal menarik dan fakta-fakta sejarah yang jarang  bahkan mungkin belum pernah diungkap tentang jejak-jejak Bandung dalam buku ini. Ketekunan Atep untuk mencari sumber-sumber primer sebagai dasar untuk setiap tulisannya patut diberi apresiasi setinggi-tingginya  karena hal itu bukanlah hal yang mudah. Walaupun internet membuat segala sesuatu lebih mudah namun mencari sumber primer di belantara cyber tetaplah membutuhkan ketekunan dan keahlian tersendiri.

Sumber-sumber primer yang digunakan sebagai dasar semua tulisan dalam buku ini membuat buku ini menjadi buku yang memiliki otoritas untuk dijadikan acuan bagi siapa saja yang ingin mengenal dan menapaki jejak-jejak Bandung di masa kolonial dari berbagai sisi.  Ada 4  jejak Bandung yang disajikan Atep dalam bukunya ini. yaitu : Jejak Bandung dan Rekreasi, Jejak Bandung dan Penerbitan, Jejak Bandung dan Peristiwa Bersejarah, dan Jejak Bandung dan para Tokoh.

  

Ada banyak jejak-jejak Bandung lain yang belum tersentuh oleh Atep, namun melihat produktifnya Atep dalam menulis saya  sangat yakin masih banyak hal ikhwal tentang Bandung di masa lampau yang akan ditulisnya sehingga bukan tidak mungkin buku ini menjadi buku berseri. Jejak-Jejak Bandung 1, 2, 3..dan seterusnya. 

Apresiasi yang tinggi juga patut diberikan kepada penyunting buku ini. Seluruh tulisan dalam buku ini pernah dimuat di media cetak dan onlen, saya yang kebetulan sering membaca tulisan-tulisan Atep di berbagai media  merasa semua tulisan  di buku ini lebih enak dibaca dibanding apa yang pernah tersaji di koran, majalah, dan versi onlennya. 

@htanzil