Tuesday, April 05, 2016

Sang Juragan Teh

[No. 363]
Judul : Sang Juragan Teh
Judul Asli :  Heren van de Thee
Penulis :  Hela S. Haase
Penerjemah : Indira Ismail
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2015
Tebal : 440 hlm ; 20 cm
ISBN : 978-602-03-2342-8

Teh bagi orang Indonesia adalah minuman kedua setelah air putih. Hampir di semua rumah makan mulai dari restoran mewah sampai warung-warung nasi di pinggir jalan selalu menyediakan air teh di samping air putih/mineral.

Walaupun teh begitu populer  dan ada banyak perkebunan teh didirikan di Indonesia namun tak banyak yang tahu bagaimana tanaman teh masuk ke Indonesia.  Tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1684, berupa biji teh dari Jepang yang dibawa Andreas Cleyer dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta. Kemudian, pada 1827 tanaman teh mulai ditanam sebagai tanaman industri di kebun percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Berhasilnya penanaman percobaan tersebut kelak membuka jalan bagi Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menaruh landasan bagi usaha perkebunan teh di Jawa.

Teh dari Jawa pertama kali diterima di Amsterdam pada 1835. Teh jenis assam mulai masuk ke Indonesia (Jawa) dari Sri Langka (Ceylon) pada 1877, dan ditanam oleh Rudolf Eduard (RE) Kerkhoven di  Gambung, Jawa Barat. Teh jenis assam yang ditanam tersebut ternyata cocok untuk iklim di Indonesia. Sejak itu pula, perkebunan teh di Indonesia berkembang semakin luas hingga sekarang sehingga budaya minum teh pun semakin populer hingga kini.

Dalam sejarah Perkebunan Teh di Indonesia nama  RE Kerkhoven (1848-1918 ) adalah salah satu perintis berkembangnya perkebunan teh di Indonesia. Sayangnya kini namanya kurang dikenal dan kalah pamor dengan sepupunya yang bernama RA. Bosscha yang pertama kali datang ke Hindia sebagai administratur perkebunan Teh Malabar. Siapa sebenarnya RE Kerkhoven dan bagaimana perjuangannya mengembangkan perkebunan Teh di Gambung, Jawa Barat hingga berpengaruh besar pada industri teh di Indonesia? Semua itu terkisahkan dalam novel berjudul Sang Juragan Teh.

Di novel yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Kompas pada tahun 1990  ini dikisahkan bagaimana Rudolf Kerkhoven yang baru saja menamatkan pendidikan teknik di Delft Belanda berniat pergi ke Hindia Belanda, mengikuti jejak sang ayah dan beberapa keluarganya yang membuka perkebunan di Hindia. Rudolf berniat meneruskan usaha perkebunan ayahnya  (Rudolph Albertus Kerkhoven)  di Arjasari, Jawa Barat.  Ketika niatannya terlaksana dan sampai di Hindia ternyata ia tidak diizinkan tinggal dan mengelola perkebunan teh milik ayahnya di Arjasari melainkan ia harus mencari dan membuka lahan baru. Untuk itu Rudolf magang di perkebunan milik pamannya, Eduard Kerkhoven di perkebunan Parakan Salak, Sukabumi.

Selepas masa magangnya Rudolf yang awalnya kecewa karena tidak mendapat kepercayaan dari ayahnya untuk bekerja di perkebunan milik ayahnya akhirnya membuka lahan perkebunan baru di bekas perkebunan kopi milik pemerintah di Gambung, Jawa Barat untuk dijadikan perkebunan teh. Bukan hal yang mudah karena ia harus membersihkan lahan yang telah menjadi hutan dan semak belukar dimana akar-akar bekas pohon kopi masih tertanam kuat di tanah.

Berkat kegigihannya bekerja dan membina hubungan yang baik dengan para pekerja pribuminya akhirnya lambat laun perkebunan tehnya menjadi semakin produktif. Ketika hasil jerih lelahnya mulai menampakkan hasil Rudolf merasa kesepian di tengah perkebunannya yang luas. Untuk mengatasi kesepiannya  ia memilih Jenny Roosegaarde Bisschop, buyut dari Gubernur Jenderal Daendels sebagai istrinya yang ditemuinya ketika ia berkunjung ke rumah adiknya di Batavia. Dari pernikahannya ini Jenny melahirkan lima putra dan putri bagi Rudolf yang semuanya lahir di Gambung. Namun bagi Jenny yang lahir dan besar di Batavia, hidup di perkebunan yang sepi dan lembab membuatnya bagai terbelenggu hingga kelak akan berpengaruh terhadap kondisi kejiwaannya.

Pertikaian keluarga terjadi setelah ayah Rudolf meninggal dunia. Setelah Rudolf berhasil membawa perkebunannya sukses, ia berniat membeli kepemilikan saham ayahnya atas perkebunan yang telah dikeolalnya. Sayangnya Niat Rudolf terhalang oleh tingginya harga saham Perkebunan Gambung yang diajukan oleh adik iparnya Henny.

Bagaimana jatuh bangunnnya Rudolf mendirikan perkebunan Teh Gambung disajikan secara detail dan menarik oleh Hella S. Haase (1918-2011), penulis Belanda yang lahir di Batavia. Suasana Hindia, khususnya Batavia, dan perkebunan teh Gambung beserta gaya hidup orang-orang Eropa di masa itu  terdeskripsi dengan baik sehingga pembaca seakan hadir dan larut dalam kisahnya.




Tokoh-Tokoh Terkenal

Pertalian  keluarga besar Kerkhoven dengan tokoh-tokoh terkenal lainnya pun berseliweran di novel ini, sebut saja Daendels, Douwes Dekker, KF. Hoole, RU Boscha, dll. Yang agak mengejutkan bagi pembaca mungkin tentang karakter Douwes Decker (Multatuli) yang ternyata dalam pandangan kelurga Kerkhoven tidaklah semulia apa yang kita kenal selama ini.

"Setelah ceramahnya selesai aku menyalami Dekker - Multatuli....Pria ini sama sekali tak cocok hidup di perkebunan. Kami kewalahan  bekerja di Parakan Salak, tapi ia tidak mau membantu sedikitpun. Ia berjalan-jalan saja dengan para wanita, atau duduk membaca di pojok, sama sekali tidak peduli pada perusahaan.....Dekker tukang berkhayal! Gadungan! Ia menginap di hotel mahal, tapi ketika tagihan datang, ia bilang dompetnya dicuri.....Ia meninggalkan istri dan anak-anaknya, bepergian kemana-mana dengan gundik, berceramah, bergaya bak pahlawan bagi orang Jawa. Mungkin saja apa yang ditulisnya bagus, tapi apa yang dicapainya dengan itu? Tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan apa yang didapat oleh Karel Hole...." (hlm 52-53)

Jika  Douwes Dekker yang mendapat pandangan miring di tengah keluarga Kerekhoven, tidak demikian dengan Karel Frederik Holle (1825-1896), adalah perintis  perkebunan teh di Hindia Belanda yang membuka perkebunan teh Waspada, Garut.  Holle  dikenal memiliki hubungan yang sangat baik dengan penduduk pribumi karena sangat memperhatikan kesejahteraan pegawai dan penduduk di sekitar perkebunan. Ia juga sangat berminat pada sejarah dan kesusasteraan Sunda. Di novel ini Holle dikisahkan sebagai sosok yang dihormati baik oleh keluarga Kerkhoven maupun penduduk pribumi dan memiliki pengaruh besar bagi perkembangan perkebunan teh di Hindia.

Yang tak kalah menarik, ada pula tentang Daendels. Di novel ini penulis memasukkan pembelaan dari cucu sang Gubernur Jenderal yang terkenal dengan proyek Groote Postweg (Jalan Raya Pos) yang terbentang  antara Anyer - Panarukan sepanjang +/1 1.000 km yang banyak memakan korban jiwa.

"Ada banyak keburukan yang diceritakan mengenai kakek buyut kami, Gubernur Jenderal Daendels. Memang benar bahwa pembuatan Jalan Raya Pos memakan korban ribuan nyawa, namun menurut Papa, kakeknya adalah gubernur yang baik, dan semua itu akibat perlakuan keji para pembesar pribumi, yang tidak peduli apakah rakyat mereka hidup atau mati.....Yang tidak bisa kumengerti adalah mengapa Yang Mulia tidak turun tangan untuk membela para pekerjanya. Papa mengatakan bahwa kakeknya tidak bisa melawan kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat dengan para pembesar pribumi, dan bahwa ia tidak punya hak untuk ikut campur dengan cara bagaimana jalan itu dibuat." (hlm 221-222)

Bagaimana dengan tokoh pribumi? novel ini juga menyebut-nyebut Haji Hasan Mustafa, penghulu besar yang peduli akan sastra dan kebudayaan Sunda, sahabat Karel Holle. Selain itu muncul pula sedikit keterangan tentang anaknya, yaitu Raden Kerta Winata yang dideskripsikan sebagai seorang bangsawan yang cerdas dan menguasai bahasa Belanda

"Di rumah juga ada tamu yang menginap, Raden Kerta Winata, bangsawan muda Sunda, yang dulu murid sekolah pendidikan guru yang didirikan Karel Holle, dan ayahnya adalah penghulu Garut. Ia pemuda yang sederhana bertata krama baik, menguasai bahasa Belanda, dan sedang menerjemahkan berbagai buku untuk kepentingan sekolah: ia sudah menghasilan versi terjemahan Perjalanan Penuh Petualangan ke Hindia Timur karya Willem Bontekoe dalam bahasa Sunda, dan kini sedang menerjemahkan Robinson Crusoe karya Defeo dari edisi Belanda milik ayah Rudolf, yang menawarkan bimbingannya dengan imbalan pelajaran Bahasa Sunda." (hlm 147)

Setia pada Fakta

Sebagai sebuah novel yang mengangkat penggalan kehidupan seorang tokoh yang benar-benar ada tampaknya penulis setia pada fakta-fakta kehidupan keluarga Kerkhoven berdasarkan dokumen dan surat-surat pribadi keluarga Kerkhoven yang diperoleh penulis dari Arsip Perkebunan Teh dan Keluarga Besar Hindia.

Berbagai drama kehidupan yang terjadi pada tokoh utamanya memang benar-benar terjadi sehingga novel ini bisa dibaca sebagai sebuah biografi RE Kerkhoven. Namun sayangnya saking setianya pada fakta penulis tidak menghadirkan tokoh khayalan misalnya tokoh pribumi yang menonjol sehingga novel ini tidak terkesan Eropa sentris. Tadinya saya berharap penulis mengeksplorasi karakter tokoh Babu Engko, pembantu setia rumah tangga RE Kerkhoven. Sayangya karakter babu Engko tidak dieksplorasi secara mendalam jadi hanya terkesan sebagai tempelan saja.Padahal dengan  menghidupkan karakter Engko  novel ini akan menjadi lebih menarik karena dapat melihat pribadi Sang Juragan Teh dari sudut pandang seorang pribumi.

 Babu Engko bersama dua anak Rudolf  (Berta & Karel Kerkhoven)


Saking setianya pada fakta maka  kisah Sang Juragan Teh juga mengalir mengikuti apa yang  memang sesungguhnya dialami  Rudolf ketika membangun perkebunan teh Gambung. Bagi pembaca yang tidak memiliki latar belakang sejarah perkebunan atau yang sebelumnya tidak mengenal siapa itu Rudolf Kerkhoven mungkin akan terasa sedikit membosankan. Namun bagi mereka yang  menyukai sejarah maka novel ini sangat mengasyikan untuk dibaca karena melalui buku ini ada banyak hal yang dapat dipelajari baik itu dari sisi sejarah perkebunan Priangan, kehidupan pribadi Sang Juragan Teh beserta orang-orang yang bersentuhan dengan kehidupannya, maupun dari sisi budaya kolonial saat itu ; sebuah budaya yang terbentuk di era kolonial Hindia Belanda yang dalam beberapa hal masih terlestarikan hingga kini. 

@htanzil

Thursday, March 17, 2016

Tewasnya Gagak Hitam

[No.362]
Judul : Tewasnya Gagak Hitam
Penulis : Sidik Nugroho
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Jan 2016
Tebal : 248 hlm ; 18 cm
ISBN : 978-602-03-2429-6

Novel misteri yang rencananya akan dibuat berseri ini mengisahkan bagaimana seorang pelukis bernama Elang Bayu Angkasa bersama aparat kepolisian mencoba memecahkan misteri tewasnya seorang pengarang yang memiliki nama pena Gagak Hitam. Kisahnya berawal saat Elang membaca sebuah berita di harian lokal tentang seorang pengarang yang tewas gantung diri di sebuah kamar kos di Singkawang, Kalimantan Barat tanpa meninggalkan petunjuk apapun. Merasa tertarik dengan kasus tersebut  Elang pun langsung mengontak Effendy, teman Facebooknya yang juga seroang polisi yang tertarik untuk mengungkap misteri tewasnya sang pengarang.

Ketertarikan Elang untuk membantu kepolisian untuk mengungkap kasus ini ditanggapi dengan positif oleh Effendy  sehingga mereka bekerjasama untuk memecahkan apa penyebab kematian Gagak Hitam. Ketika mereka menemukan petunjuk awal berupa sebuah buku TTS (Teka Teki Silang) milik korban dan nota pengiriman surat atas nama Nina Sekarwati, seorang dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta  tiba-tiba tersiar kabar bahwa dr.Nina Sekarwati  ditemukan tewas dalam keadaan hamil. Diduga kuat karena meminum racun. Mayatnya tergantung di kamarnya dengan meninggalkan sebuah pesan  "Merpati putih menyusulmu" yang ditulis pada tembok kamarnya dengan menggunakan lipstik merah. 

Untuk penyelidikan lebih lanjut Elang dan teman-temannya  berangkat ke Jakarta untuk mengungkap misteri dan  memecahkan teka-teki apakah dua kematian di dua kota yang terpisahkan jarak hampiir seribu kilometer tersebut memiliki kaitan atau tidak.

Dari segi alur kisah dan bagaimana lika-liku Elang dan kawan-kawannya memecahkan misteri kematian sang pengarang dan dokter ini, novel ini bisa dikatakan cukup menarik layaknya sebuah novel misteri dimana pembaca dibuat penasaran dan ikut berputar otak untuk memecahkan teka-teki yang muncul disepanjang kisahnya. Sayangnya ada beberapa ganjalan yang membuat novel misteri ini menjadi kurang sempurna.

Yang pertama dan yang paling mengganggu adalah bagaimana Elang, seorang pelukis yang hanya bermodalkan pertemanan dengan seorang anggota kepolisian di media sosial begitu mudahnya bergabung dengan satuan kepolisian guna memecahkan kasus ini. Penulis sendiri mengungkapkan bahwa Elang dan Effendy walau telah berteman di Facebook selama setahun lebih tapi masing-masing belum pernah bertemu dan jarang nengirim apapun di kronologi Facebook mereka. Bagaimana mungkin seorang polisi langsung mempercayai Elang untuk ikut membantu memecahkan kasus kematian Gagak Hitam hanya berdasarkan pertemanan ala kadarnya di Facebook?

Memang bukan hal yang mustahil dimana aparat kepolisian bekerja sama dengan masyarakat awam untuk memecahkan sebuah kasus, namun tentu saja yang dipilih adalah orang-orang yang telah mereka kenal baik dan terpercaya. Sedangkan di novel ini pemilihan Elang untuk membantu aparat kepolisian terkesan begitu ceroboh. Hanya berdasarkan pertemanan di Facebook semata. 

Kabarnya novel ini merupakan novel pertama seri petualangan Elang Bayu Angkasa. Sebagai sebuah novel pembuka dari seri-seri selanjutnya alangkah  baiknya penulis sedikit bersabar untuk tidak langsung melibatkan sang tokoh dalam petualangan memecahkan misteri, melainkan memberikan latar dan dasar kisah yang kuat bagaimana Elang bisa begitu dipercaya oleh aparat kepolisian untuk terlibat atau membantu kepolisian dalam memecahkan sebuah kasus.

Selain Elang, nanti di tengah-tengah perburuan dan penyergapan polisi juga melibatkan orang awam lainnya sebagai mata-mata padahal orang tersebut  baru saja dikenal oleh Elang selama beberapa hari di Jakarta. Sungguh suatu perbuatan yang ceroboh lbagi aparat kepolisian jika sampai melibatkan orang awam yang tidak diketahui latar belakangnya untuk terlibat dalam sebuah operasi penyerbuan.

Yang kedua, soal bukti petunjuk berupa buku TTS milik Gagak Hitam. Bukti petunjuk yang harusnya tersimpan di kantor kepolisian ternyata  begitu mudahnya dapat dipinjam dan dibawa oleh Elang ke kamar hotelnya dan Elang membolak balik buku tersebut hanya dengan menggunakan tisu hingga ketiduran.

Ketiga, adalah bagaimana dengan mudahnya pegawai toko buku dibohongi oleh Elang untuk mencari buku TTS serupa guna mencari petunjuk dari halaman yang hilang di buku TTS milik Gagak Hitam. Elang mengatakan bahwa siapa yang bisa mengisi seluruh TTS dalam buku tersebut maka hadiahnya adalah tamasya ke Jepang tiga hari tiga malam ditemani wanita berpenamilan sexy yang dijadikan cover buku TTS tersebut. Bualan tersebut rasanya terlalu berlebihan dan rasanya sulit bagi seseorang sekalipun dia hanya seorang pegawai toko biasa untuk mempercayainya.

Terakhir, novel ini terkesan terlalu menonjolkan ke play boy-an Elang. Bagaimana tidak, setiap wanita yang ditemui Elang dengan mudah jatuh ke pelukannya. Tidak hanya dipacari melainkan sampai bersedia diajak ke tempat tidur. sebagai bumbu penyedap dan mengurangi tensi ketegangan sebuah novel misteri hal ini bisa dimaklumi, namun penulis tampaknya harus berhati-hati dalam mengumbar ke playboy-an Elang karena bukan tidak mungkin penulis dianggap terlalu melecehkan wanita oleh pembacanya karena dalam semua tokoh wanita yang muncul di novel ini hampir semuanya begitu mudah diajak bercinta oleh tokoh utamanya.

Terlepas dari beberapa ganjalan di atas, usaha penulis untuk melahirkan novel berseri dalam genre misteri patut dihargai. Sebelum novel ini, penulis juga telah membuat sebuah novel misteri berjudul Melati dalam Kegelapan, Gramedia 2014. Jika penulis tetap konsisten di genre ini dan terus mengasah kemampuan menulisnya bukan mustahil ia akan jadi penulis terdepan di genre kisah misteri yang belum banyak digarap oleh penulis-penulis Indonesia. 

@htanzil

Monday, September 21, 2015

Merah Putih di Gedung DENIS

[No. 361]
Judul : Merah Putih di Gedung Denis - Catatan Tercecer di Awal Kemerdekaan
Penulis : Enton Supriyatna Sind & Efrie Christianto
Penerbit : Tatali
Cetakan : I, 2015
Tebal : 164 hlm
ISBN : 978-60-96971-4-8

Setiap kota memiliki kisahnya sendiri dalam album besar perjuangan bangsa ini. Kota Bandung sendiri sebenarnya memiliki banyak kisah heroik dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, yang paling dikenal dan diingat orang hingga kini adalah peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) dimana rakyat dan pejuang-pejuang Bandung memilih untuk membumihanguskan kota Bandung daripada harus diserahkan kepada pihak sekutu sesuai dengan kesepakatan yang diambil pemerintah pusat. Namun di balik itu, ada peristiwa-peristiwa lain yang menjadi penyokong kejadian besar tersebut.

Salah satu peristiwa yang mendahului pembumihagusan Bandung adalah pengibaran bendera merah putih dan perobekan bendera Belanda di menara Gedung DENIS (De Eerste Nederlandsch-Indische Spaarkas atau PT. Bank Tabungan Hindia Belanda Pertama)  di jalan Braga  sekitar September-Oktober 1946. Pelakunya adalah Bari Lukman, Endang Karmas, dan Mulyono. Sayangnya peristiwa tersebut jarang diungkapkan secara memadai bahkan nyaris dilupakan orang saat ini. Kalaupun ada, catatan tentang peristwia tersebut hanya berupa kutipan pendek dari sebuah tulisan atau buku-buku yang membahas perjuangan rakyat Bandung.

Bersyukur kini sebuah buku yang secara khusus membahas peristiwa heroik di Gedung DENIS - Bandung yang serupa dengan peristiwa pengibaran bendera merah putih di hotel Oranje Surabaya telah hadir sehingga peristiwa ini bisa kembali terungkap di kalangan masyarakat Indonesia dan Bandung pada khususnya. Buku yang juga dilengkapi dengan puluhan foto-foto ini dibagi dalam tiga bagian besar yaitu  Hikayat Gedung DENIS,  Merah Putih di Gedung DENIS, dan Bukan Kabar Bohong.

Di bagian pertama dideskripsikan tentang sejarah berdirinya Gedung DENIS (kini kantor Bank BJB) yang merupakan karya pertama arsitek terkenal kelahiran Belanda A.F. Aalbers pada tahun 1936. Gedung yang berada di persimpangan Jalan Braga-Naripan ini hingga kini masih berdiri megah dan tetap dalam bentuk aslinya berupa "corak ombak samudera" yang serupa dengan corak bangunan Hotel Homan yang memang sedang trend saat itu.



NV DENIS sendiri didirikan oleh orang-orang  Boer  yang berkebangsaan Belanda yang memberontak melawan penguasa Inggris di Afrika Selatan. Setelah mereka bebas dari penjara, orang-orang Boer itu memilih tinggal di Hindia daripada pulang ke Afrika Selatan. Mereka tinggal dan mendirikan berbagai perusahaan di Bandung, antara lain BMC (Bandung Melk Centrale) - koperasi susu pertama di Hindia, dan mendirikan NV DENIS. Selain tentang gedung DENNIS di bagian ini dibahas pula sejarah jalan Braga, karya-karya Aalbers di Bandung, dan kota Bandung sebagai museum arsitektur dimana banyak bangunan-bangunan heritage karya arsitek-arsitek terkenal Belanda.

Di bagian kedua,  barulah buku ini secara khusus mengupas peristiwa heroik pengibaran bendera merah putih dan perobekan warna biru bendera Belanda. Pengibaran bendera merah putih di gedung DENIS yang saat itu  menjadi tempat favorit bagi warga Bandung untuk mempertahankan harga diri bangsa dilakukan oleh Bari Lukman pada tanggal 18 Agustus 1945 pkl. 13.00 wib. Itulah pengibaran bendera merah putih untuk pertama kalinya di Bandung setelah proklamasi dibacakan.

Sedangkan insiden perobekan bendera Belanda dsekitar bulan September-Oktober 2015 dilakukan oleh Endang Karmas dibantu beberapa temannya di tengah desingan muntahan peluru yang ditembakkan tentara Belanda dari Hotel Homan. Berikut kesaksian Endang Karmas yang dimuat di buku ini :

Sampai di atas itu, lalu megang tiang bendera sampai ke atas.......Lalu  terjadi tembakan. "Awas dari Hotel Homan," katanya. Wah panik, akhirnya tidak keburu apa-apa. Jangankan untuk membuka bendera, untuk membawa apa-apa pun tidak ada kesempatan. Untung saja bendera itu terkulai. Saya pegang ujungnya. 'Mul coba ambil nih..pegang..pegang! Nah saya buka bayonet Belanda, disobek-sobek aja gitu. Disobek-sobek hingga jadi warna merah putih lagi, tapi masih banyak birunya. Rusak gitu. (kain warna birunya tercabik-cabik,pen) (hlm 86)



Selain kisah dan kesaksian tentang pengibaran dan perobekan bendera di bagian ini juga bagian yang membahas asal mula ejekan "Peuyeum Bol" terhadap pejuang Bandung. Ejekan yang menyakitkan karena peuyeum dimaknai seagai lembek, tidak bersemangat, dan tidak memiliki daya juang. Ejekan tersebut awalnya dilontarkan oleh Radio Pemberontak Surabaya yang identik dengan Bung Tomo sehingga para pejuang Bandung saat itu menduga  kalau ejekan tersebut datang dari Bung Tomo. Benarkah? di bagian ini terdapat klarifikasi dari Bung Tomo yang menjelaskan  dari mana dan siapa yang mencetuskan istilah tersebut yang sebenarnya untuk membangkitkan semangat para pejuang Bandung. 

Masih di bagian ini, ada juga bab khusus tentang kronologi terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Lalu ada pula bab mengenai sejumlah koran dalam memberitakan perkembangan keadaan di Bandung masa itu dimana ada koran yang berpihak kepada republik dan ada pula koran-koran yang memuji-muji keberhasilan tentara Belanda dan menyebut para pejuang sebagai perusuh atau ekstrimis. 

Buku ini ditutup dengan bagian "Bukan Kabar Bohong" yang mengetengahkan berbagai kesaksian para pelaku  maupun mereka yang pernah menyaksikan insiden perobekan bendera Belanda. Bagian ini ditutup oleh pendapat sejarahwan Nina Herlina Lubis yang  menyimpulkan bahwa  walau terdapat berbagai versi dari para pelaku sejarah dan tidak adanya sumber tertulis/dokumen resmi yang mencatat secara rinci peristiwa tersebut bukan berarti peristiwa pengibaran dan perobekan bendera di Gedung DENIS adalah kabar bohong belaka.

Sebagai sebuah buku yang mengungkap kembali peristiwa heroik di gedung DENIS tampaknya buku ini sangat layak untuk diapresiasi oleh pembaca di masa kini. Selain itu, secara lengkap dan komprehensif penulis juga saja membeberkan peristiwa-peristiwa sejarah sebelum dan sesudahnya peristiwa di Gedung DENIS sehingga pembaca bisa memperoleh gambaran utuh bagaimana keadaan Bandung di masa revolusi kemerdekaan saat ini. Wawancara dari saksi-saksi sejarah yang masih hidup dan pengungkapan sumber-sumber tertulis baik yang pro maupun kontra terhadap peristiwa ini juga tersaji secara berimbang dan apa adanya sehingga pembaca dapat menyimpulkan sendiri apakah peristiwa tersebut memang benar terjadi atau hanya isapan jempol belaka.

Akhir kata apa  yang telah disajikan oleh penulis dalam buku yang menggali kembali kisah heroik di Gedung DENIS yang nyaris dilupakan orang ini sangat patut dihargai karena dengan cara itulah, bangsa ini, khususnya warga Bandung akan mengetahui peristiwa heroik yang pernah terjadi di salah satu bangunan heritage yang menjadi kebanggaan kota Bandung. Dengan mengetahui peristiwa sejarah yang pernah terjadi di kotanya bukan tidak mungkin warga Bandung akan semakin mencintai dan memelihara kotanya.

@htanzil

Tuesday, September 15, 2015

Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990 by Pidi Baiq

[No. 360]
Judul : Dilan, Dia Adalah Dilanku, tahun 1990
Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : Pastel Books
Cetakan : XIII, 2015
Tebal : 330 hlm
ISBN : 978-602-7870-41-3

Novel ini merupakan novel remaja yang menceritakan kisah bagaimana Dilan mencoba memikat hati Milea teman satu sekolah beda kelas dengan cara-cara yang unik, lucu, natural,  namun tetap meninggalkan kesan romantis yang membuat hati Milea meleleh dan jatuh cinta padanya.

Kisahnya sendiri sebenarnya biasa-biasa saja namun bagaimana penulis menuturkan kisahnya lewat sudut pandang Milea yang sedang menulis kisah masa remajanya yaitu bagaimana Dilan mencoba memikat Milea dengan cara-cara yang unik inilah yang membuat novel ini menjadi sangat menarik. Contohnya bagaimana ketika Milea berulang tahun Dilan menghadiahi sebuah buku TTS yang telah seluruhnya diisi olehnya dengan pesan sbb :

"SELAMAT ULANG TAHUN, MILEA.
INI HADIAH UNTUKMU. CUMA TTS.
TAPI SUDAH KUISI SEMUA.
AKU SAYANG KAMU
AKU TIDAK MAU KAMU PUSING
KARENA HARUS MENGISINYA.
DILAN!"

(hlm 72)

dan ketika Milea sakit, alih-alih membelikan obat, Dilan menunjukkan perhatiannya dengan tiba-tiba mengirim tukang pijat ke rumah Milea. Atau bagaimana Dilan mengirim cokelat buat Milea lewat tukang koran, dan yang agak konyol adalah bagaimana Dilan menulis surat pada tetangga sebelah yang isinya meminta izin untuk mencintai Milea. Masih banyak cara-cara unik, lucu, namun romantis yang dilakukan Dilan untuk memikat hati Milea.

Selain mendapat kisah menarik bagaimana Dilan memikat Milea, penulis juga jmendeskripsikan suasana kota Bandung yang masih cukup asri di tahun 1990 sehingga pembaca yang pernah atau kini tinggal di Bandung seakan diajak bernostalgia untuk menikmati suasana kota Bandung dua puluh lima tahun yang lampau.

Melalui sosok Dilan dan Milea penulis nampaknya mencoba membuat sebuah kisah percintaan yang wajar dan khas remaja secara natural dan sederhana sehingga pembaca akan merasa dekat dengan kedua tokoh utama novel ini sehingga bukan tidak mungkin apa yang dikisahkan  Dilan dan Milea  pernah juga dialami oleh pembaca novel ini. 

Sayangnya sosok Dilan digambarkan agak terlalu sempurna, walau sebagai salah seorang anggota gank motor namun Dilan adalah anak yang pintar di sekolah, romantis, memiliki pergaulan yang luas, senang membaca buku sehingga kamarnya penuh dengan buku seperti perpustakaan. Selain itu Dilan juga pandai menulis puisi dan menggambar dan karya-karyanya dimuat di koran lokal. Untungnya kesempurnaan Dilan ini diimbangi juga dengan kenakalannya, antara lain suka membolos dan berkelahi sehingga di sini penulis tidak terjebak untuk menampilkan seorang tokoh Hero tanpa cela namun tokoh yang memiliki kelebihan dan kelemahan walau kelebihannya terkesan tampak terlalu berlebihan. 

Singkat kata dalam novelnya ini penulis berhasil menghadirkan sebuah kisah cinta yang sederhana dan natural. Kisah cinta yang dihadirkan dalam novel ini pun bukan kisah cinta yang muluk-muluk atau penuh dengan drama yang menguras air mata, melainkan sebuah kisah yang biasa-biasa saja yang dikemas dengan gaya bertutur yang khas.  Karakter Dilan yang lucu dengan gaya rayuan yang tidak terduga, tidak gombal tapi unik dan lucu namun romantis ini dipastikan mampu memikat pembacanya untuk  ikut tertawa, cemburu, terharu, dan bahagia seiring dengan apa yang dialami oleh Dilan dan Milea. Bagi pembaca yang menggermari novel romantis namun bosan dengan kisah percintaan yang berat dan mengharu biru, novel ini bisa menjadi pilihan yang tepat.


Dengan segala kelebihannya tak heran novel yang juga dihiasi oleh ilustrasi yang dibuat oleh penulisnya sendiri ini  langsung memikat banyak pembaca, hal ini terbukti dengan larisnya buku ini toko-toko buku sehingga hanya dalam waktu setahun novel ini telah dicetak sebanyak 13 kali! Kisah Dilan dan Milea tak berhenti hingga lembar terakhir novel ini.Penulis melanjutkan kisah Dilan dan Milea di buku selanjutnya dengan  judul  Dilan 2 : Dia adalah Dilanku, tahun 1991 yang saat ini telah terbit dan beredar di toko-toko buku.

@htanzil