Tuesday, September 23, 2014

Total Bung Karno 2 : Serpihan Sejarah yang Tercecer by Roso Daras

[No.341]
Judul : Total Bung Karno 2 : Serpihan Sejarah yang Tercecer
Penulis : Roso Daras
Penerbit : Penerbit Imania
Cetakan : I, Juli 2014
Tebal :  458 hlm
ISBN : 978-602-7926-16-5


Ide Roso Daras, pengagum Bung Karno dalam menulis segala hal tentang sang Proklamator ini seolah tak ada habisnya. Sejak tahun 2009 sudah ada hampir 500 tulisan tentang Bung Karno yang diunggah di blog pribadinya. Dari ratusan tulisan-tulisannya itu beberapa diantaranya sudah didokumentasikan dalam bentuk buku yaitu The Other Stories : Bung Karno (Imania, 2009), Bung Karno - The Other Stories 2 : Serpihan Sejarah yang Tercecer (Pustaka Ilman, 2010), Bung Karno vs Kartosuwiryo (Imania, 2011), Total Bung Karno : Serpihan Sejarah yang Tercecer (Imania, 2013)  Dan kini yang terbaru adalah Total Bung Karno 2 : Serpihan Sejarah yang Tercecer (Imania, 2014)


Seperti dalam buku pertamanya seluruh tulisan dalam buku ini  memberikan serpihan kisah hidup dan pemikiran Bung Karno baik yang selama ini pernah kita dengar  maupun yang belum pernah kita dengar dan baca. Sedikit berbeda dengan buku Total Bung Karno yang pertama dimana seluruh temanya bercampur baur, kisah-kisah dalam buku ini bisa diklasifikasikan dalam tiga bagian besar. Pertama, kisah-kisah periode pembuangan Bung Karno di Ende (1934-1938), kedua, tentang Marhaenisme, dan ketiga, tentang kisah-kisah human interest dalam perjalanan hidup Putra Sang Fajar baik sebelum menjadi presiden maupun selama menjadi Presiden pertama RI.

Di tulisan-tulisan yang mengisahkan periode pembuangan di Pulau Bunga - Ende kita diajak melihat sebuah periode hidup Bung Karno yang penting dimana di masa-masa ini tokoh yang ditakuti pemerintah kolonial  ini tenggelam dan ditenggelamkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Bung Karno tenggelam dalam pergulatan batin yang begitu dalam sehingga ia mengalami depresi dan frustasi. Untungnya di masa-masa sulit ini Ibu Inggit, istrinya yang ikut menyertai Bung Karno selama di P. Bunga Ende senantiasa menguatkannya hingga akhirnya Bung Karno berhasil melewati masa-masa sulit selama di pembuangan. Selain itu kegiatan berkeseniannya yaitu seni lukis dan seni peran drama dan korespondensinya dengan T.A Hasan di Bandung dalam hal ke-islaman membuatnya kembali bangkit dari keterpurukannya.

(Rumah Pengasingan Bung Karno & Keluarga di Ende)


Di bagian ini dikisahkan tentang masa-masa sebelum pembuangan, keberangkatan, dan segala kegiatan dan peristiwa-peristiwa menarik, suka dan duka selama berada di pembuangan. Di pulau ini pula ibu mertua Bung Karno wafat di pangkuannya. Sebagai bukti bakti, hormat dan cintanya Karno sendiri yang memahatkan batu nisan untuk ibu mertuanya. Periodesasi pembuangan Bung Karno ini diakhiri dengan tulisan  yang mengisahkan bagaimana Bung Karno dituding menyebarkan gerakan Ahmadiah. Sebuah fitnah karena dalam surat menyuratnya dengan T.A Hasan di Bandung, bung Karno menulis sikapnya dengan lugas.

"Saya tidak percaya bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah seorang nabi, dan belum percaya pula bahwa ia seorang mujadid " (hlm 95)

Setelah mengisahkan pengalaman Bung Karno di Ende, penulis melanjutkan tulisan-tulisannya tentang Marhaenisme. Mulai dari kisah bertemunya Bung Karno dengan petani di Bandung bernama Marhaen hingga  ideologi,  tujuan, cita-cita gerakan Marhaenisme yang dikutip langsung dari dokumen-dokumen penting Marhaenisme.  Di bagian ini juga dimuat pidato dan  tulisan bung Karno secara lengkap yaitu pidato
Bung Karno 1 Juni 1945 (Lahirnya Pancasila) dan tulisan Bung Karno berjudul Nasionalisme, Islamisme, Marxisme yang dimuat dalam Suluh Indonesia Muda tahun 1926 yang kemudian dimasukkan sebagai tulisan pembuka di buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid 1, 1959). Bagian ini ditutup dengan wawancara penulis dengan Alm.. H. Abdul Madjid, (tokoh Nasionalis & deklarator PDI)  tentang Arti Demokrasi Menurut Bung Karno.

Setelah pembaca diajak membaca bagian-bagian serius dan ideologis  seputar Marhaenisme, penulis melanjutkan dengan kisah-kisah humanisme tentang bung Karno antara lain Sepincuk Pecel Rukiyem buat Bung Karno, bagaimana Bung Karno berjemur di Penjara Sukamiskin, kegemaran Bung Karno bersepeda dan  kemahirannya melakukan aksi "Freestyle Onthel", Bung Karno menjadi Klrek di Stasiun Surabaya, Kisah seekor cacing dan Presiden, atau bagaimana dalam kisah berjudul Bung Karno, Ali Sastoamidjodjo, dan pelacur  Bung Karno berselisih pendapat dengan Ali Sastroamidhohdo tentang niat bung Karno untuk merekrut  670 pelacur-pelacur Bandung sebagai anggota PNI demi kepentingan pergerakan, dll.

( Freestyle onthel ala Bung Karno.)

Selain itu ada pula kisah tentang kamar Bung Karno, tidak semua bisa melihat bagaimana keadaan kamar pribadi bung Karno di Istana negara, salah satu yang beruntung adalah Oey Tjoe Tat, selaku selaku Menteri Negara saat itu. Lalu apa komentar Oey Tjoe Tat tentang kamar Presiden pertama RI itu?

"Kesan pertama saat masuk kamar tidur Bung Karno, terwakili hanya dengan satu kata : Berantakan!
...separuh dari ranjang Presiden berisi buku-buku yang berserakan tak beraturan. Bukan hanya itu, bahkan di lantai pun ia melihat buku-buku berserakan. Pada cantelan baju di dinding, tergantung jas-jas dan pantolan-pantolan yang sangat tidak bertaturan....Tidak rapi dan tidak terawat..."
(hlm 321)

Ada banyak hal-hal menarik lainnya tentang Bung Karno dalam buku ini. Sayangnya walau seperti diungkap di atas bahwa buku ini terdiri dari tiga bagian besar, namun penerbit tidak memilah/membagi  tulisan-tulisan dalam buku ini ke dalam tiga bab besar sehingga pembaca sukar memilih secara cepat mana tulisan-tulisan semasa bung Karno di Enda, Marhaenisme, dan mana tulisan-tulisan tentang human interest Bung Karno. Walau semua itu tersusun secara berurutan namun alangkah baiknya jika penerbit membagi ke 100 tulisan dalam buku ini ke dalam tiga bagian  untuk memudahkan pembacanya jika ingin membaca ulang tulisan-tulisan tertentu.

Terlepas dari itu buku ini dari segala hal yang ada di dalamnya buku ini bisa menjadi buku pelengkap dalam memahami dan mengambil keteladanan Bung Karno baik dari kehidupannya, idelologinya, maupun dari sisi kemanusiannya sebagai seorang proklmator, presiden, dan manusia biasa yang mungkin tidak akan kita peroleh dari buku-buku sejarah atau bahkan dari biografi Bung Karno sendiri.

@htanzil

Tuesday, September 02, 2014

Rampokan Jawa & Selebes by Peter van Dongen

[No.340]
Judul : Rampokan Jawa & Selebes
Penulis : Peter van Dongen
Penerjemah : 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Rampokan Jawa & Selebes adalah  novel grafis/komik karya Peter van Dongen, komikus Belanda yang banyak menyita perhatian para pembaca di Indonesia selain karena guratan-guratannya yang mengingatkan kita akan komik Tintin yang memang sudah akrab di kalangan pembaca Indonesia setting komik (Jawa dan Selebes/Sulawesi)  di era tahun 40-an juga menjadi daya tarik sendiri bagi pembaca Indonesia

Sejatinya komik ini terdiri dari dua buku yang masing-masing terbit dengan selang waktu yang cukup lama (6thn) di Belanda, yaitu Rampokan Java (1998) &  Rampokan Celebes (2004).  Komik  Rampokan Jawa sendiri pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Pustaka Primatama &  Komunitas Komik Alternatif pada 2005 yang lalu, sayangnya  hingga kini penerbit tidak melanjutkan menerbitkan sekuelnya (Rampokan Selebes) hingga akhirnya hak cipta kedua komik ini beralih ke Penerbit Gramedia sehingga kini diterbitkan dalam satu buku sekaligus.

Kisah dalam Rampokan Jawa mengambil setting di Jawa dan Makasar pada tahun 1946 di masa ketika pemerintah kolonial Belanda kembali datang ke Indonesia untuk mengambil alih kekuasaan setelah Jepang pergi dan Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Dikisahkan seorang relawan Belanda bernama John Knevel dalam perjalanan menuju Jawa secara tidak sengaja membunuh Erik Verhagen, seorang komunis Belanda, di atas kapal. akibatnya ia terus dihantui perasaan bersalah dan merasa dihantui oleh arwah rekannya tersebut.

Johan datang ke Indonesia juga didorong untuk menemukan kembali surga masa kecil-nya bersama pengasuh pribuminya yang bernama Ninih. Setelah mendarat di Tanjung Priok Johan kemudian ditugaskan ke Bandung, berbagai peristiwa dilaluinya hingga akhirnya ia dinyatakan desersi. Untuk menghindari kejaran tentara Belanda Johan  pergi ke Makasar dengan memakai identitas Erik rekan yang dibunuhnya selama perjalanannya ke Jawa. Di Makasar Johan mencoba mencari Ninih namun karena memakai identitas Erik yang komunis maka tentara Belanda pun tetap memburunya. Sementara itu rasa bersalah atas Erik yang dibunuhnya terus menghantui Johan dalam setiap gerak langkahnya.

Membaca petualangan Johan Knevel di Jawa dan Makasar sebagai sebuah  komik sejarah dan psikologis ini sebenarnya menarik, namun jalinan  kisahnya yang rumit ditambah dengan adanya sub plot beserta banyaknya tokoh-tokoh yang muncul membuat pembacanya harus ekstra konsentrasi mengikuti alur kisah sambil menghafal nama-nama tokohnya yang kebanyakan orang Belanda itu.

Dalam membangun kisahnya  penulis mengaitkan dengan tradisi Rampokan Macan di Jawa dimana ratusan prajurit berjajar berlapis-lapis mengelilingi seekor macan hasil buruan untuk dibunuh beramai-ramai.


Menurut kepercayaan jika sang macan berhasil lolos maka akan ada malapetaka menimpa daerah tersebut. Gambaran rampokan ini kerap muncul di tengah-tengah kisahnya namun sayangnya saya tidak berhasil melihat sebuah hubungan yang kuat antara rampokan macan dengan kisahnya kecuali lepasnya sang macan yang mengisyaratkan malapetaka seperti  yang dialami tokoh Johan Knevel. 

Dalam komik ini selain kisahnya yang menarik kita juga diajak melihat bagaimana situasi Indonesia di masa datangnya kembali pasukan Belanda paska kekalahan Jepang menurut sudut pandang penulisnya yang secara genetis memiliki keterkaitan dengan Indonesia. Kita juga akan melihat peran pedagang China baik dengan orang-orang Belanda maupun dengan orang-orang Jawa dan hubungannnya dengan pejuang kemerdekaan.

Dari segi gambar, komik ini bisa dikatakan mendekati sempurna, semua latar di tiap panelnya baik itu latar persawahan, hutan, kampung, kuburan, pelabuhan, situasi kota (Jakarta, Bandung, Makasar) dengan bangunan-bangunan yang bebeapa diantaranya masih berdiri hingga kini , pecinan,  dll tersaji dengan sangat detail. dalam balutan warna hitam-putih dan sephia. Selain itu kita juga bisa melihat bagaimana suasana pasar, bongkar muat di pelabuhan, adu ayam, becak, tukang cukur di bawah pohon, penjual jamu gendongan, dll. Semuanya itu dimungkinkan berdasarkan riset baik dari buku, arsip,  foto-foto, dan pengamatannya langsung saat berkunjung ke Indonesia sehingga komik ini memiliki detail latar yang nyaris sempurna. Tidak heran jika untuk menyelesaikan  komik yang kaya akan detail ini dibutuhkan waktu 6 tahun lamanya.



Pada intinya baik dari kisah maupun gambar yang bisa kita nikmati di novel ini kita bisa belajar dan mengetahui sejarah Indonesia. Walau bukan sejarah ilmiah namun setidaknya melalui komik ini kita bisa melihat dan mengetahui bagaimana situasi Indonesia di jaman yang juga disebut jaman 'bersiap' dengan segala problema dan romantika orang-orang biasa seperti yang dialami oleh Johan Knevel dan tokoh-tokoh yang terkait dalam komik ini.

Semoga kehadiran komik ini juga menginspirasi komikus-komikus lokal untuk membuat komik sejarah yang menawan berdasarkan riset yang ketat. Adalah sesuatu yang sangat baik seandainya  novel Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer diadaptasi ke dalam komik. Siapa tahu kelak akan jadi  komik yang monumental seperti halnya dengan novelnya.

@htanzil

###

Berikut wawancara tentang komik ini antara Peter Van Dongen dengan Surjorimba Suroto (pengamat komik) yang pernah dimuat di Ruang Baca Tempo beberapa tahun yang lampau.

 (Peter van Dongen dan Sorjorimba Suroto, launching Rampokan Jawa & Selebes 2014)

Indonesia dalam Kenangan Peter Van Dongen

Surjorimba Suroto mewawancarai penulis Rampokan Java dan Rampokan Celebes melalui email. Berikut petikannya:

Apa yang membuat Anda tertarik menulis buku tentang Indonesia?

Ibuku lahir di Manado, 1941 dan itulah alasannya mengapa saya penasaran dengan masa lalunya serta kedua kakek-nenek saya (kakek saya seorang prajurit KNIL). Keluarga ibu juga banyak yang masih tinggal di Sulawesi.

Mengapa Anda memilih Jawa dan Sulawesi sebagai lokasi kedua buku?

Saya memilih Jawa karena kebanyakan buku tentang Hindia Belanda dan perang kemerdekaan Indonesia berpusat di sini. Selain itu juga karena banyaknya foto indah tentang Batavia (kini Jakarta) dan Bandung yang saya temukan. Sulawesi saya pilih karena ibu pernah tinggal di Makassar dan saya juga tertarik kepada Kapten Westerling yang bertanggung jawab atas berbagai aksi militer yang menewaskan banyak warga Indonesia.

Ada alasan tertentu mengapa Anda memilih waktu kejadian sekitar 1946, saat Indonesia baru saja menyatakan kemerdekaannya?

Ya, saya memilih periode ini karena saya ingin bercerita tentang seorang pemuda Belanda kelahiran Indonesia, yang karena suasana kemerdekaan menjadikannya tak diterima di lingkungannya.

Dari kedua buku tersebut, Anda mencoba untuk menyatukan cerita dengan berbagai peristiwa sebenarnya di Indonesia. Menurut pendapat saya hasilnya bagus. Sebagai penulis, apakah Anda cukup puas dengan hasilnya? Apakah Anda merasa hasil karya Anda bisa lebih baik seandainya saja memiliki lebih banyak waktu dan penelitian?

Ya saya puas. Tentu saja ada beberapa halaman yang bisa lebih baik dan mungkin saya menggunakan sedikit alur cerita dan informasi, tapi saat itu saya merasa sudah mencukupi.

Apakah Anda menggunakan banyak buku referensi untuk menjadikan buku Anda sedekat mungkin dengan kenyataan? Banyak dari lukisan Anda yang mendekati akurat dengan berbagai kebiasaan lokal. Sebagai contoh pakaian, motif pakaian, transportasi dan rumah tinggal tradisional, seorang pemangkas rambut di bawah pohon, dan lainnya. Nampaknya Anda melakukan penelitian yang serius dalam menciptakan buku ini. Bagaimana Anda melakukannya?

Saya menggunakan banyak foto tua zaman Hindia-Belanda, kota-kota, literatur, novel (bahasa Indonesia dan Belanda), buku harian para tentara, dll. Saya juga pergi ke Museum Tropis Amsterdam yang memiliki koleksi foto tua dari Makassar. Di kota Yogyakarta, saya juga pergi ke Museum Tentara.

Coretan Anda sangat terpengaruh dengan gaya Herge (komikus legendaris asal Belgia, pencipta Tintin)?

Ya saya sangat terpengaruh oleh gaya Herge. Terutama buku Tintin, Lotus Biru. Buku itu menceritakan pendudukan Jepang di negeri Cina. Komik tersebut sangat membuka mata saya: Anda bisa bercerita apapun melalui komik. Kakek saya, seorang tentara Hindia-Belanda, gugur melawan Jepang saat Perang Dunia II di Indonesia.

Berbeda dengan Herge, Anda tidak menggunakan banyak warna. Hanya hitam, putih dan cokelat muda. Apakah ini ditujukan agar gambar terlihat lebih artistik?

Tidak. Semuanya tentang uang. Penerbit tidak memiliki cukup uang untuk mencetaknya berwarna. Namun di lain pihak terlihat lebih bagus. Lebih otentik.

Apakah Anda dapat bercerita sedikit tentang latar belakang Anda? Apa saja hasil karya Anda di masa lalu? Apakah pernah membuat buku tentang Indonesia sebelumnya? Apakah bagian lain dari Indonesia akan diikutsertakan dalam karya-karya yang akan datang?

Saya lahir di Amsterdam pada 1966 dan memiliki seorang saudara kembar. Saya belajar otodidak dan sejauh ini sering mengerjakan iklan. Hingga saat ini belum menyiapkan waktu untuk berkonsentrasi pada buku yang baru. Saya merencanakan sesuatu lagi tentang Indonesia. Tak banyak yang bisa diceritakan, karena semuanya masih berupa ide. Kedua Rampokan adalah buku saya yang pertama tentang Indonesia. Karya pertama adalah Muizentheater (Mice Theater), sebuah buku komik tentang dua saudara laki-laki di Amsterdam sekitar 1030-an, diterbitkan oleh Casterman pada 1990.

Apakah Anda sering mengunjungi Indonesia, terutama lokasi-lokasi yang memberikan sumber inspirasi?

Saya sudah tiga kali mengunjungi Indonesia. Kota-kota yang saya kunjungi adalah Jakarta, Bandung, Malang, Yogya, dan tentu saja Makassar yang memberikan inspirasi terbesar terutama bangunan-bangunan tuanya dari periode Belanda (1920-1940). Selain itu pemandangan Jawa, Bali dan Sulawesi (desa Bada) memberikan banyak inspirasi.

Apakah ada kenangan manis tentang Indonesia?

Kenangan terindah adalah saat saya mencari makam keluarga di pemakaman bangsa Eropa di Ternate pada 1992. Sekelompok anak membantu mencari makam kedua kakek dan nenek buyut saya. Seseorang menghampiri dan saya menunjukkan foto tua hitam-putih yang menggambarkan makam tersebut dan ia membawa saya ke sana. Yang mengejutkan adalah ia mengenal beberapa orang, yang tinggal tak jauh dari kompleks makam, yang ternyata merupakan keluarga nenek buyut saya. Nenek buyut asli dari Ternate dan menikah dengan seorang keturunan Cina, kakek buyut saya. Saya bertemu dengan seorang tua yang menyebutkan banyak sekali nama keluarga yang telah pindah ke Belanda. Perasaan saya saat itu sungguh menakjubkan. Orang ini, yang asing bagi saya, ternyata adalah keluarga saya. Padahal kami terpisah jauh, terpisah oleh lautan yang luas.


sumber :  
http://www.ruangbaca.com/buku_bulan_ini/?action=b3Blbg==&id=MTE=.&when=MjAwNTA3MjE=


 sumber foto : http://tembi.net

###
sangat gemar mengadakan acara Rampogan Macan ini. Macan dan hewan – hewan liar lainnya memang sengaja dipelihara dalam kandang – kandang di sudut alun – alun. Hewan liar ini adalah hasil buruan atau tangkapan dan nantinya akan dipagelarkan dalam acara Rampogan. - See more at: http://benerpost.blogspot.com/2012/12/gladiator-ala-jawa-rampogan-macan.html#sthash.tlUMof1Y.dpuf

Tuesday, August 26, 2014

Perempuan Bernama Arjuna 2 : Sinologi dalam Fiksi

[No. 339]
Judul : Perempuan bernama Arjuna 2 : Sinologi dalam Fiksi
Penulis : Remy Sylado
Penerbit : Nuansa Cendekia
Cetakan : I, Juli 2014
Tebal : 307 hlm
ISBN : 9789-602-7768-61-1



"Saya menulis supaya masyarakat bisa mendapat pengetahuan tidak dengan cara yang pakem seperti membaca buku ilmiah. Itu kurang asyik dan sulit masuk, apalagi untuk generasi sekarang yang serba sulit menerima hal-hal ilmiah secara ketat" 
~ Remy Sylado

Kutipan di atas dikatakan Remy Sylado saat peluncuran novel terbarunya Perempuan Bernama Arjuna 2 : Sinologi dalam Filsi pada 11 Agustus 2014 yang lalu di Gd. Indonesia Menggugat Bandung. Tidak terlalu lama setelah sukses dengan novel Perempuan Bernama Arjuna (Nuansa Cendekia, Nov 2013)  yang mengemas pengetahuan  filsafat dalam bentuk fiksi kini Remy membuat sekuel novel tersebut dengan tema Sinologi (pengetahuan bahasa dan budaya Cina)

Dalam sekuelnya ini penulis melanjutkan kisah Arjuna seorang mahasiswi filsafat dan suaminya Jean-Claudie van Damme, pastor Jesuit yang 'bertobat' saat sedang berbulan madu di Bandung.  Seperti telah disinggung dalam novel sebelumnya Arjuna dan suaminya menemui Kan Hok Hoei untuk meminta petuah-petuah soal sex dari sudut pandang budaya Cina.  Di buku keduanya ternyata pertemuannya dengan Kan Hok Hoei  tidak hanya melulu membicarakan  soal sex melainkan merambah ke Sinologi dan pengaruhnya di bumi Nusantara mulai dari tradisi, masakan, obat, musik, penamaan daerah, dll hingga akhirnya mengerucut pada hal-hal yang menyangkut prasangka rasial, soal pri-non pri, dan politik rasial di jaman Orde Baru beserta dinamika dan usaha pembauran orang-orang Cina di masa Orde Lama hingga kini.

Dalam hal prasangka rasial dan pembauran orang-orang Cina/Tionghoa di Indonesia, novel ini mencatat sejarah timbulnya konflik antara orang-orang pribumi dan orang-orang Cina yang jika dirunut ke belakang mencatat bahwa kebencian terhadap Cina sudah ada sejak abad ke 13 saat  KubilaI Khan, emperor Mongol yang berkuasa di Cina, memaksa Kertanegara (1268-1292) untuk takluk dan memberi upeti pada kerajaannya. Pada masa perang Diponegoro juga timbul pula semangat anti Cina yang sudah mengendap sejak jaman Raffles dimana sosok Tan Jin Song, ketua Raad van Chinezeen diangkat oleh Raffles sebagai pemungut cukai. Tan Jin Song menarik pajak melebihi batas waras menyebabkan rakyat merasa dihisap sehingga membuka celah benci kepada orang-orang Cina di masa itu.

Di masa-masa selanjutnya sikap anti Cina ini terus terpelihara, peristiwa G30-S membuat masyarakat menggeneralisir orang-orang Tionghoa sebagai komunis. Hal ini  diperparah oleh sikap pemerintah yang menetapkan semangat anti Cina menjadi salah satu garis politik pemerintah Orde Baru antara lain dengan melarang penggunaan nama-nama Cina dan melarang perayaan-perayaan Cina dirayakan secara terbuka. Sentimen anti Cina ini mencapai puncaknya pada kerusuhan 1998.

Novel ini juga memuat bagaimana istilah Tionghoa dan Tiongkok terbentuk. Seolah hendak mengkritisi pemerintah sekarang atas digunakannya kembali istilah Tionghoa dan Tiongkok di novel ini penulis mengurai sejarah istilah Tionghoa yang ternyata pernah digunakan oleh Partai Komunis Indonesia.

Pada waktu itu, menurut cerita ayah saya, adalah pihak orang-orang Cina ekslusif yang menyebut bumiputra dengan cara nista sebagai huhuan ata wana. Padahal secara diksioner, kata yang berlaku semestinya yuan ju min, atau sepelenya tu ren. Di antara mereka yang mineur itu termasuk para etnis Cina yang berpartai Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) dan dikenal berkiblat politik ke RRC (Republik Rakyat Cina) negara komunis yang sedang berselisih dengan Uni Soviet. Maka, Maaf, kalau saya mendengar kata Tiongkok dan Tionghoa, bingkai pikiran saya itu adalah komunis 
(hlm 12-13)

Sejarah mencatat bahwa soal penamaan orang-orang keturunan Cina di Indonesia juga pernah menjadi polemik sehingga soal penamaan ini masuk dalam agenda Seminar Angkatan Darat II pada tahun 1966. Tokoh Baperki, Siaw Giok Tjhan saat itu memang bersikeras menggunakan kata Tionghoa untuk semua etnis Cina. Sedangkan Sindhunata (Ong Tjong Hai), tokoh nasionalis keturunan Cina lebih memilih kata Cina dibanding Tionghoa.

Pada seminar AD II di Lembang, 1966 yang membahas masalah keturunan Cunghua, ia (Sindhunata) diminta menentukan pilihan berbahasa yang tepat antara Cina atau Tionghoa. Dengan tegas ia mengatakan dan kemudian menganjurkan untuk memakai kata Cina sebab secara historis kultural, Cina lebih baik daripada Tionghoa, sedang dalam Tionghoa ada nuansa rasis terhadap pribumi, dan itu justru dipakai oleh golongan etnis Cina yang berhaluan komunis, dengan menyebut pribumi sebagai wana. (hlm 199)

Masih banyak hal-hal lain yang dibahas penulis dalam buku ini, salah satu yang menarik adalah penjelasan suku-suku Cina yang ada di Indonesia yang  bisa dikenal melalui jenis bisnis yang dijalaninya, misalnya suku Santung yang menekuni bisnis tekstil, suku Hainan di bidang kuliner sehingga kita mengenal menu makanan Nasi Hainan, suku Hupei yang banyak melahirkan  'ahli gigi'. Sedangkan suku Cina terbesar yang ada di Indonesia adalah suku Hokkian yang mengusai berbagai bidang dan kegiatan

Pada dasarnya semua hal yang menyangkut pengetahuan sinologi  tersaji dalam novel ini, namun seperti dalam buku pertamanya walau buku ini disebut sebagai novel tapi  kita tidak akan menemukan sebuah peristiwa dramatik dengan plot yang menukik seperti pada novel-novel Remy Sylado atau novel-novel pada umumnya. Seperti  penulis  lebih mengutamakan materi pengetahuan dibanding membuat sebuah kisah dramatik. Dengan demikian semua paparan sinologi dalam novel ini terurai lewat dialog antar Arjuna dengan tokoh-tokoh  yang ia dan suaminya temui selama di Bandung.


Tampaknya seri Arjuna ini masih akan berlanjut, di dua bab terakhir novel ini dikisahkan Arjuna beserta suami dan ibunya berada di Semarang sehingga sepertinya di  kisah petualangan Arjuna selanjutnya penulis akan menyajikan Javanologi dalam fiksi. Jika jeli kita juga akan menemukan clue bahwa setelah Javanologi maka akan terus berlanjut dengan bahasan mengenai Minahasalogi dalam fiksi. Jika ini bisa terwujud tentunya seri Arjuna ini akan menjadi satu-satunya novel berseri di Indonesia yang masing-masing memberikan pengetahuan baru dalam tiap serinya. 

Di banding buku pertamanya yang menyajikan filsafat dalam fiksi, novel keduanya ini lebih mudah dipahami karena seperti kita ketahui budaya China telah melekat dalam kebudayaan dan tradisi kita sehari-hari sehingga apa yang terungkap dalam novel ini adalah apa yang kita jumpai dalam keseharian kita.  Selain itu jika dalam buku pertama catatan kaki tersaji dalam halaman khusus maka di buku kedua ini catatan kakinya ada di bawah halaman kata yang ingin dijelaskan  sehingga pembaca lebih mudah membacanya dibanding novel sebelumnya dimana pembaca harus bolak-balik halaman untuk membaca keterangannya.. Sebagai tambahan, novel ini juga menyertakan tabel Kronologi Singkat Sejarah Cina mulai dari Dinasti Xia (2100-1600 SM) hingga era RRC (1949- )

Di balik segala kebaikan dan banyaknya pengetahuan Sinologi yang didapat di novel ini sayangnya walau kisah dalam novel ini bersetting di kota Bandung penulis kurang memaksimalkan sejarah atau kiprah mengenai orang2 Cina di Bandung padahal keberadaan orang-orang Cina di Bandung memiliki sejarah dan kisah-kisah yang tidak kalah menarik dan memberikan warna tersendiri bagi perkembangan dan sejarah berdirinya kota yang pernah dijuluki Parijs van Java ini. 

Namun terlepas dari hal itu, sebagai sebuah buku yang hendak memberikan pengetahuan Sinologi secara umum kepada pembacanya dalam bahasa dan kalimat yang mudah dipahami novel ini saya rasa sudah berhasil mewujudkan apa yang menjadi keinginan penulisnya untuk memudahkan masyarakat dalam memahami pengetahuan ilmiah dengan cara yang mengasyikan. Walau bukan bacaan ringan namun dengan menuliskannya dalam bentuk fiksi kesulitan dalam memahami Sinologi akan teratasi.  


"Dengan cara ini barangkali pengetahuan sejarah Cina di Indonesia dalam sinologi ini 
bisa diterima lebih enak"
 ~ Remy Sylado. 

@htanzil

Tuesday, August 05, 2014

Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng by Sudarsono Katam

[No.338]
Judul : Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng
Penulis : Sudarsono Katam
Penerbit : Khazanah Bahari
Cetakan : II, Juli 2014
Tebal : 161 hlm
ISBN : 978-602-97719-4-7


Sejarah kota tidak hanya bisa ditelusuri melalui buku-buku literatur atau bangunan-bangunan kunonya saja, dari kulinernya pun kita bisa melihat bagaimana sebuah kota berkembang dari masa ke masa menyertai gerak dinamika kehidupan masyarakat kota tersebut. Buku ini mencoba mengungkap sejarah kecil (petite histoire) perkembangan kota Bandung melalui menu-menu sarapan (ontbijt) tempo doeloe di masa Hindia Belanda ketika orang-orang Belanda tinggal menetap dikota Bandung.

Seperti halnya kebiasaan orang-orang Eropa, maka walaupun orang-orang Belanda sudah lama menetap di kota Bandung mereka tidak bisa meninggalkan kebiasaan sarapan ala Eropa setiap paginya yaitu mengudap susu dan roti. Kebiasaan ini juga ternyata menular juga kepada para Menak Bandung, pegawai pemerintahan, dan orang-orang yang bergaul akrab dengan orang-orang Belanda.

Menurut buku Bandung Awal Revolusi 1945-1946, karya John Smail (Komunitas Bambu 2013) penduduk Eropa yang tinggal di Bandung pada tahun 1930an sebanyak 20.000 orang atau sekitar 12 persen dari total penduduk kota Bandung yang saat itu berjumlah 167.000 orang. Sedangkan menurut buku 
Statistisch Zakboekje voor Nederlandsch-Indie terbitan tahun 1939 penduduk Eropa di Bandung pada tahun 1930 sebanyak 19.700 orang.

Karenanya untuk memenuhi kebutuhan sarapan sektiar 20 ribu orang-orang Eropa /Belanda di masa itu berdirilah berbagai produsen beragam jenis menu sarapan (ontbijt) di kota Bandung. Penulis mencatat ada 22 produsen ontbijt yang berada di Kota Bandung.

Begitu termasyurnya para produsen ontbijt di kota Bandung sehingga ada yang menjadi pemasok resmi untuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Ratu Belanda berupa kue khas kerajaan yang diberi nama Koningin Emmataart dan Wilhelminataart. Diantara para produsen ontbijt di masa Hindia Belanda  ternyata ada juga yang  hingga kini masih berproduksi memperkaya ragam jenis kuliner khas Bandung. Buku ini mengungkapkan pada pembacanya bagaimana dan apa saja menu-menu onbijt yang pernah ada di kota Bandung, produsen-produsen mana saja yang hingga kini masih berproduksi?, dan tidak ketinggalan juga napak tilas bekas bangunan produsen yang sudah lama tutup.

Buku ini dibagi dalam empat bagian besar, yaitu Menu 'Ontbijt', Produsen Roti dan Kue, Produsen Isi Roti, Produsen Minuman Sarapan. Pada bagian 'Menu Ontbijt' dijelaskan berbagai macam menu sarapan pagi di masa itu antara lain roti-rotian (roti tawar, roti kadet, roti krenten, dll), ontbijtkoek, kentang, havermout, nasi olahan, dll. sedangkan untuk isi rotinya sendiri antara lain roomboter, keju, pindakaas (selai kacang), palmsuiker (gula merah), telur, daging olahan, dll. Untuk minuman onbijt terdapat susu murni, susu kental manis, susu tanpa lemak, susu tepung, kopi, cacao, teh, dll. Semua menu-menu di atas diberi keterangan detail mengenai bahan, dan penyajiannya.

Di bagian Produsen Roti dan Kue terungkap bahwa Pemerintah Hindia Belanda memberikan konsesi kepada para  produsen roti dan kue di kota Bandung untuk membuat makanan sesuai dengan standar kualitas makanan orang Belanda.  Produsen roti dan kue di kota Bandung tidak hanya didirikan oleh orang Belanda saja seperti , Merbaboe, Maison Bogerijen, Maison Vogelpoel, Lux Vincet, Valkenet,dll, namun ada juga yang didirikian oleh orang-orang Tionghoa seperti Jap Tek Ho, Khoe Pek Goan, Tan Kim Liang, dll, baik dalam skala besar maupun menengah.

Salah satu produsen ontbijt yang terbesar dan terkenal adalah Pabrik roti Valkenet, pabrik roti tersebut tidak hanya terkenal di Bandung saja, melainkan di seluruh Hindia Belanda karena merupakan pabrik roti yang paling modern di Hindia Belanda. Pabrik Valkenet di masa itu telah menggunakan pemanggang listrik dengan sistem rantai berjalan. Biskuit, kue kering, roti Valkenet didistribusikan ke seluruh Hindia Belanda sehingga pabrik ini memiliki cabang di kota-kota besar Hindia Belanda bahkan untuk menjalin kerjasama dengan Belanda, pabrik ini membuka cabang di 's-Gravenhage Belanda.



Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 1958 tentang  Pengambil alihan modal dan badan usaha milik orang Belanda, maka banyak toko dan produsen roti di kota Bandung berpindah kepemilikan dari orang Belanda kepada kaum pribumi antara lain  Maison Bogerijen (Braga Permai), dan Het Snoephuis (Sumber Hidangan) yang hingga kini masih terus berproduksi di tempat yang sama.

(Maison Bogerijen / Braga Permai dulu dan sekarang)

Sedangkan untuk Produsen isi roti di kota Bandung yang hingga kini masih ada antara lain  Roomboter dan keju yang diproduksi oleh Bandoengsche Melk Centrale (BMC) di jl. Aceh ,  produsen daging olahan Schroder's Food Trading Company yang kini menjadi pabrik & toko Daging Badrananya di jalan Merdeka, dan Peternakan ayam dan Telur Missouri yang kini terletak di jalan Patuha - bandung.

Bagaimana dengan produsen Minuman Sarapan? Hampir seluruh minuman sarapan orang Belanda di Kota Bandung diproduksi di Bandung dan sekitarnya, antara lain susu yang diproduksi oleh Bandoengsche Melk Central (BMC). Juga ada produsen kopi Aroma yang kini menjadi incaran para wisatawan penikmat kopi yang bertandang ke Bandung. Hingga kini  kopi Aroma masih diproduksi di lokasi yang sama dengan mesin-mesin kuno dan dikemas dalam kemasan tempo doeloe yang menjadi ciri khasnya.

Di bagian ini juga terungkap tentang produsen air mineral, ternyata air mineral juga sudah dikonsumsi oleh penduduk Bandung di jaman Hindia Belanda. Pada 1923 didirikan Pabrik Air mineral Malabar di Jl. Naripan 61 yang kini bekas bangunannya ditempati oleh Toko Buku Rohani Kalam Hidup. Selain pabrik air mineral Malabar, ada juga pabrik air mineral Preanger, Buddha, dan Nova.

Selain ke empat bagian di atas, buku yang dilengkapi oleh foto-foto ini juga menyertakan 10 buah lampiran untuk melangkapi dan memberi detail dari hal-hal yang perlu disampaikan secara khusus antara lain lampiran mengenai; nasib bangunan dan metamorfosis produsen ontbijt, Jejak Langkah pendiri Indische Partij, KAR Bosscha, dan tentang kebun Gandum di zaman kolonial di kawasan Pangalengan yang saat itu  menjadi menjadi salah satu sentra penghasil Gandum di Hindia Belanda.

Secara keseluruhan buku ini sangat menarik dalam memahami sejarah kota melalui menu sarapan orang-orang Belanda di kota Bandung. Penulis mengungkapkannya dengan detail, walau ada beberapa data yang tampaknya kurang lengkap namun sebagai buku yang pertama kali membahas mengenai produsen makanan sarapan orang-orang Belanda di Bandung apa yang telah tersaji di buku ini sangatlah bermanfaat.

Buku ini bermanfaat bagi siapa saja yang gandrung akan buku-buku tentang sejarah masa lampau terlebih bagi mereka penggemar buku-buku sejarah kota Bandung. Walau mungkin dianggap hal yang sepele, produsen menu onbijt di Bandung telah menjadi sejarah kecil (petite histoire) perkembangan kota Bandung. Saya sependapat dengan penulis buku ini yang mengatakan bahwa buku ini dimaksudkan untuk menambah dan melengkapi literatur-literatur sejarah Kota Bandung. Bukan bagi pengamat sejarah kota saja, melainkan bagi siapa saja yang mencintai kota Bandung karena dengan bertambahnya informasi tentang Kota Bandung diharapkan warga Bandung semakin mencintai kotanya dengan cara melestarikan kotanya.

@htanzil

http://klasikfanda.blogspot.com/2013/11/history-reading-challenge-2014-sail-to.html