Friday, April 11, 2014

Kepada Apakah by Afrizal Malna

[No. 330]
Judul : Kepada Apakah
Penulis : Afrizal Malna
Penerbit : Motion Publishing
Cetakan : I, Maret 2014
Tebal : 302 hlm

Tidak mudah memahami novel Kepada Apakah  karya Afrizal Malna, penyair senior berkepala plontos yang buku puisinya "Mesin Penghancur Dokumen" menerima anugerah Khatulistiwa Award 2013 untuk katergori puisi. Dari judul yang bernuansa filsafat "Kepada Apakah" dengan covernya yang unik berupa daun telinga yang tertusuk panah ini membuat calon pembacanya sulit untuk dapat mengira-ngira apa isi dari novel ini.

Novel ini dimulai dengan kalimat, "Apakah yang kamu pahami tentang apakah?", sebuah pertanyaan ujian yang diajukan oleh dosen Filsafat Etika kepada Ram, tokoh novel ini, seorang mahasiswa filsafat semester pertama.

"Sejak pertanyaan ujian tadi yang menguasai pikiranku, aku ingin memutuskan semua hubungan dengan apa pun. Aku ingin berada di luar semua ikatan yang telah menciptakan banyak kerumitan... Melepaskan ikatan sirkuit yang menyebalkan antara kehidupan dan kematian. Melepaskan ikatan antar kata-benda dengan kata-sifat." (hlm10)

Pertanyaan itu menguasai pikiran Ram sepanjang perjalanannya ke beberapa kota  mulai dari Bandung, Sukabumi, Surabaya, Malang hingga Ternate. Bagaimana Ram mencari jawaban dari pertanyaan dosennya dan apa saja yang dialami  dalam perjalanannya inilah yang dikisahkan dalam novel ini. Tak hanya apa yang dialaminya secara fisik namun novel ini juga mengisahkan ilusi dan halusinasi yang dialami Ram sepanjang perjalanannya.

Novel ini dibagi dalam dua bagian besar, dimana bagian pertamanya yang mendominasi novel ini mengisahkan tentang sosok Ram, perjalanannya dan kisah cintanya yang tidak biasa, sedangkan bagian berikutnya mengisahkan tentang Wulung, kekasih Ram yang sedang berada di Eropa. Bagian pertama yang merupakan kisah perjalanan Ram ini diambil dari kisah nyata penulisnya, jadi bisa dikatakan ini adalah novel perjalanan Afrizal Malna dan tentang pertemuannya dengan sejumlah orang dari satu tempat ke tempat lain sejak 2012. 

Karena berdasarkan pengalaman penulisnya maka dalam novel ini tampaknya penulis sengaja menampilkan nama-nama asli orang/sastrawan yang pernah ditemuinya, bahkan Afrizal Malna sendiri muncul sebagai cameo dalam novel ini. Selain itu, kegelisahan, pengalaman berteater, keikutsertaannya dalam  Pertemuan Penyair Nusantara VI di Ternate, pandangannya-pandangan kebudayaan, kritik sosial, pandangannya akan puisi kontemporer, serta imajinasi-imajinasinya sebagai seorang pernyair dll bertebaran dalam novel ini. Selain itu beberapa buku, karya sastra, naskah drama, teater, puisi, dan cerpen juga disinggung dalam novel ini. 

Mungkin sebenarnya ini sebuah novel yang menarik jika saya bisa menangkap apa maksud penulis dalam menulis novelnya ini, namun sayangnya saya gagal memahaminya kecuali beberapa tuturan penulis tentang buku, karya sastra, candi-candi peninggalan Majapahit , rumah peninggalan Wallace di Ternate, dan kritik-kritik sosialnya yang membuka wawasan saya akan hal-hal tersebut. Selebihnya saya gagal paham, hal ini mungkin karena keterbatasan wawasan saya dalam dalam memahami karya sastra beraroma filsafat ini. 

Banyaknya penulis memasukkan ilusi dan halusinasi Ram yang berkelindanan dalam kisah perjalanan sang tokoh juga membuat saya sulit memisahkan apakah ini imajinasi atau kejadian yang benar-benar dialami oleh sang tokoh. Singkat kata ini adalah novel  yang tidak bisa sepenuhnya saya mengerti

Awalnya saya hampir saja menyerah membaca novel ini, untungnya seorang kawan mengatakan pada saya kalau karya-karya Afrizal Malna itu memang bukan untuk dimengerti namun untuk dinikmati. Karenanya  alih-alih mencoba untuk memahaminya dan gagal saya pun mencoba menikmati novel ini. Dan benar, saya ternyata lebih bisa menikmati novel ini dibanding memaksakan diri untuk memahaminya. Saya nikmati perjalanan tokohnya beserta kisah cintanya yang tidak biasa, saya sesapi gaya ungkap penulis yang puitis, saya mencoba larut dalam imajinasi/halunisasi tokoh Ram yang liar dan tidak terduga seperti gerbong kereta yang banjir, atau bagaimana  ribuan binatang yang pernah dimakan Ram seperti ayam, sapi, kambing, dan babi bernyanyi dan menari-nari keluar dari kamar kosnya.

Demikianlah akhirnya, novel yang gagal saya pahami ini akhirnya berhasil saya nikmati dengan baik. Sungguh tidak mengira novel yang tadinya hendak saya sudahi sebelum saya selesai membacanya ini ternyata sebuah karya yang membawa saya pada pengalaman baru dalam membaca sebuah novel yang tidak biasa seperti ini.

@htanzil

 -------------------------------------------------------------------------------------------------------

Berikut  kutipan beberapa kritik sosial yang disampaikan penulisnya dalam novel ini yang menjadi kutipan favorit saya.


"Aku datang dari desa Bantul. Lahan tebuku sudah berubah menjadi galeri seni yang bisa menjual plastik seharga setengah milyar atas nama karya seni. Warga negara bernama seniman yang tidak malu kepada rakyat biasa, karena mereka tidak bayar pajak untuk benda plastik itu." 
(hlm 37)


"Gank motor adalah topeng paling cocok digunakan untuk milisi taik di kota ini (Bandung). Kota yang cukup sibuk dengan gaya hidup. Yang pernah berambisi menjadi Paris."
(hlm 75)

"Aku membayangkan sebuah kota tanpa iklan-iklan yang berteriak. Tanpa foto-foto tak dikenal, calon pemimpin kota yang memenuhi billboard-billboard pemilihan kepada daerah di jalan. Membayangkan sebuah kota yang memberikan ruang dan waktu kepada halaman lamanya yang menyimpan banyak cerita tentang dewi kesuburan, tentang manusia dan kancil..." 
(hlm 102)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Thursday, March 13, 2014

Santo dan Sultan by Paul Moses

[No.329]
Judul : Santo dan Sultan - Kisah Tersembunyi Tentang Juru Damai Perang Salib
Penulis : Paul Moses
Penerjemah : Adi Toha
Penerbit :  Pustaka Alvabet
Cetakan : I, Desember 2013
Tebal : 440 hlm
ISBN : 978-602-9193-40-4

Perang Salib adalah salah satu perang antar umat beragama (Islam dan Kristen) yang paling besar yang pernah terjadi sepanjang sejarah umat manusia. Perang Salib yang berlangsung selama dua abad (1095-1291)   ini pada hakekatnya bukan perang agama, melainkan perang merebut kekuasaan daerah. Perang ini dimulai pada 1095 ketika Paus Urbanus II  menyerukan Perang Salib guna merebut  Yerusalem yang dikuasai oleh pasukan Muslim. Pasukan Kristen berhasil merebut Yerusalem pada 1099,  tetapi mengalami pukulan telak ketika Sallahudin mengambil alih kota suci itu delapan puluh delapan tahun kemudian. Dalam dekade berikutnya, paus demi paus meluncurkan satu persatu upaya militer yang gagal untuk untuk merebut kembali Yerusalem.

Pada 1219. Di terngah kecamuk Perang Salib V berlangsung. Fransiskus, (yang kelak menjadi seorang Santo) dari Asisi menyeberangi garis pasukan Muslim untuk menemui Sultan Malik al-Kamil di kamp-nya di tepi Sungai Nil guna menawarkan perdamaian. Fransiskus yang pernah menjadi seorang tentara Perang Salib, tidak asing lagi dengan kekejaman manusia dalam peperangan, ia tahu betul akan penyiksaan dan mutilasi yang dilakukan kedua pasukan terhadap orang yang dicurigai sebagai mata-mata. Sadar akan segala resiko yang bakal dihadapinya ia dan rekan seperjalannnya Bruder Illuminatus tetap pergi menemui Sultan.

Sang Sultan berkenan menemui Fransiskus, tidak hanya menemuinya bahkan terjadi sebuah dialog damai antara Fransiskus, Sultan dan para pasukannya, sayangnya apa yang diinginkan Fransiskus tidak tewujud. Setelah pertemuan itu Perang Salib terus berkecamuk dengan hebatnya. Namun pertemuan sang Santo dan Sultan itu menciptakan sebuah hubungan yang baik antara sang Santo dan Sultan, keduanya saling  menghormati dan mengagumi. Pertemuan itu juga mendorong sebuah gagasan revolusioner bagi Fransiskus dan ordo Hina Dina yang dikembangkannya.

 
Francis and The Sultan (1901) karya Arnoldo Zoocchi 
di Gereja St Joseph, Kairo-Mesir

Sekembali dari pertemuan, Fransiskus menganjurkan pengikutnya agar hidup damai dengan umat Muslim jika memang ingin mengabarkan injil di dunia Arab. Sebuah anjuran yang sangat tidak populer karena di masa itu telah terbentuk sebuah paradigma bahwa untuk mengubah keyakinan suatu bangsa haruslah melalui peperangan.  Gagasan itu tidak mendapat restu dari Paus sehingga tidak heran kisah pertemuan dan gagasannya itu tidak bergema di kalangan Kristen pada masa itu.

Seiring berjalannya waktu, kisah pertemuan Sang Santo dan Sang Sultan lambat laun semakin menguap, informasi resmi dari sumber-sumber sejarahpun sangat sedikit yang menceritakan peristiwa tersebut hingga akhirnya Paul Moses mencoba menggali berbagai literatur sejarah guna mengungkap kembali perihal diplomasi damai antara Sang Santo dan Sang Sultan hingga akhirnya pada 2009 terbit sebuah buku berjudul Saint and the Sultan : The Crusades, Islam, and Francis of Assisi's Mission Peace ketika Perang Teluk yang oleh sebagian orang dianggap sebagai sebuah Perang Salib di abad modern ini sedang berkecamuk.

Dalam bukunya ini Paul Moses tidak hanya mengungkap kembali peristiwa bertemunya Sang Santo dan Sultan dan bagaimana dahsyatnya Perang Salib yang menelan banyak korban.  Lebih dari itu di buku ini kita bisa membaca kisah kehidupan dua tokoh itu. Dari Fransiskus kita bisa melihat bagaimana pertobatannya dari seorang tentara menjadi seorang biarawan yang menemukan makna dari kemiskinan, makna kehidupan sederhana dan keras dalam pengabdiannya kepada Yesus. Fransiskus kelak mendirikan ordo Hina Dina yang  pertahankan kemurnian ajarannya yang mengutamakan kesederhaaan secara ekstrim dan perdamaian dalam menjalankan misi ordonya.


Walau dikenal sebagai seorang biarawan yang taat dalam keimanannya, di buku ini juga terungkap bahwa Fransiskus memiliki sikap yang terbuka terhadap umat Muslim. Setelah kunjungannya ke perkemahan Sultan ia terkesan oleh kumandang azan dan bagaimana prajurit Muslim bergegas meninggalkan semua aktifitasnya untuk bersembahyang menghadap ke Mekah. Ia tidak sekedar mengaguminya namun ia juga ingin menghadirkan kesungguhan dan kepatuhan yang sama ke dalam dunia Kristen. "Jika semua orang di dunia ini membungkuk damai dalam doa, era perdamaian tidak jauh lagi", demikian ujar Fransiskus

Melalui  kehidupan Sultan Al-Kamil yang adalah keponakan dari Salahudin (Pahlawan Perang Salib di pihak tentara Muslim)  kita melihat bagaimana di masa remajanya, di saat Perang Salib III  al-Kamil dinobatkan sebagai ksatria di Acre oleh ksatria Perang Salib Richard si Hati Singa. Satu hal yang menarik adalah bagaimana Sultan al-Kamil juga sesungguhnya seorang raja yang mencintai perdamaian, selama Perang Salib V ia mengajukan beberapa kesepakatan damai guna mengakhiri Perang Salib. Buku ini juga mengungkap sosok Sultan al-Kamil yang oleh kalangan Kristen dianggap sebagai sultan yang bengis ternyata seorang Sultan yang murah hati. Di akhir Perang Salib V sebelum membebaskan tentara Kristen yang menjadi tawanan perangnya ia menjamu para tawanan yang hendak dibebaskannya dalam jamuan makan yang mewah dan melimpah.

Di bagian akhir buku ini, penulis juga mengungkapkan bagaimana kisah misi perdamaian dan biografi Fransiskus dikaburkan dari makna perdamaian demi melindungi mimpi-mimpi Perang Salib dari para Paus, contohnya pada 1266 The Mayor Legend of Saint Francis karya Bonaventura dinyatakan sebagai biografi resmi Fransiskus. Biografi sebelumnya yang ditulis oleh penulis lain dimusnahkan sehingga  hanya ada dua salinan dari riwayat kehidupan Fransiskus sebelum karya Bonaventura yang selamat hingga kini.

Walaupun kisahnya telah berubah dan dilupakan orang namun benih-benih perdamaian Fransiskus yang jatuh di tanah yang berbatu tetap bertunas. Gagasan Fransiskus agar umat Kristen untuk hidup damai dengan umat Muslim akhirnya terwujud secara resmi dalam Konsili Vatikan Kedua pada 1965 dengan dikeluarkannya Pernyataan tentang Hubungan Gereja dengan Agama-Agama Bukan Kristen atau Nostra Atete, Pada Zaman Kita yang menyatakan bahwa Gereja Katolik sangat menghargai umat Islam.

Paus Yohanes Paulus II kemudian memperkokoh hubungan ini. Selain dengan menyatakan penghargaan kepada agama-agama bukan Kristen dalam surat ensilik pertamanya, seperti Fransiskus, dia menciptakan tablo perdamaian; antara lain dengan mengunjungi tempat -tempat suci umat Islam di Yerusalem yang pernah diperebutkan oleh Tentara Salib, menetapkan hari Doa untuk Perdamaian Sedunia yang diadakan di Asisi, kota kelahiran Fransiscus pada 26 Oktober 1986, mengunjungi Masjid Agung Bani Umayah di Damaskus pada 2001, dll

 Doa untuk Perdamaian Sedunia di Asisi, 1986

Sebagai sebuah buku yang memunculkan kembali kisah yang kini hanya samar-samar terdengar mengenai misi perdamaian yang diupayakan Fransiskus saya rasa melalui buku ini Paul Moses dengan riset sejarahnya yang mendalam berhasil mengungkap informasi perihal diplomasi damai antara Sang Santo dan Sang Sultan serta peristiwa yang melatarinya dengan sangat rinci, kontekstual, berimbang (tidak memihak), dan informatif. Bagi mereka yang tertarik dengan Perang Salib, buku ini bisa menjadi salah satu sumber literatur yang baik. Dan yang lebih  penting buku ini tampaknya mampu menggugah kesadaran pembacanya akan arti penting sebuah dialog antara umat bergama demi perdamaian dunia

Yang sangat disayangkan dalam versi terjemahan buku ini yang dilengkapi dengan 38 halaman catatan kaki, keterangan singkat tokoh-tokoh utama, kronologi, daftar singkatan, dan ratusan daftar pustaka ini tidak dilengkapi dengan indeks. Entah mengapa penerbit Alvabet tidak menyertakan indeks seperti di buku aslinya. Untuk sebuah buku sejarah indeks sangatlah diperlukan untuk memudahkan pembacanya mencari tokoh, peristiwa, atau apapun yang terkait dalam bahasan buku ini.

Terlepas dari itu melalui kisah Santo Fransiskus  ini dari upaya perdamaian yang dilakukannya di masa lampau kita dapat belajar bahwa jalan menuju perdamaian bukan hanya dapat dilakukan oleh penjabat pemerintah yang memimpin atas nama kita . Fransiskus mengambil inisiatif sendiri dengan memberanikan diri mengupayakan suatu hubungan pribadi dengan sang sultan. Perang lebih mungkin terjadi jika suatu masyarakat berjarak dari masyarakat yang lain dan saling mengutuk. Perdamaian akan mendapat kesempatan jika kesenjangan antar-masyarakat tersebut dijembatani melalui hubungan pribadi.

@htanzil

http://klasikfanda.blogspot.com/2013/11/history-reading-challenge-2014-sail-to.html

Tuesday, March 04, 2014

Bank Saudara 1906-2006 : Seratus Tahun Perjalanan Bank Urang Sunda

[No. 328]
Judul : Bank Saudara 1906-2006 - Seratus Tahun Perjalanan Bank Urang Sunda
Penggagas : Arifin Paniogoro
Editor : Yani Panigoro, et al
Penulis : Ahmad Irfan, Budi Syahbudin, Gindo S. Yaza
Penerbit : Yayasan Yusuf Panigoro (YYP)
Cetakan : I, 228 hlm ; Hardcover


Mengenali jejak dan peristiwa dari sebuah kota di masa lampau tidak harus melalui buku-buku literatur yang secara khusus membahas sejarah kota, ada beberapa  buku atau literatur lain yang bisa dijadikan pelengkap seperti majalah-majalah lokal, buku biografi, memoar tokoh lokal atau nasional, buku/booklet peringatan ulang tahun insitusi/lembaga yang berdiri dan berkembang di kota tersebut, dll. Walau tidak membahas sejarah kota namun buku-buku tersebut biasanya memperkaya wawasan kita akan keadaan kota di suatu masa tertentu. Bahkan tidak jarang banyak hal-hal  menarik yang mungkin terlewatkan di buku-buku yang secara khusus membahas sejarah kota.  

Buku Peringatan 100 tahun Bank Saudara  ini adalah salah satu buku dimana kita tidak hanya membaca tentang sejarah berdirinya bank ini melainkan dapat juga tentang kota Bandung  karena bank ini berkaitan erat dengan para saudagar batik yang dulu berdagang di Pasar Baru Bandung yang kemudian mendirikan sebuah perhimpunan yang menjadi cikal bakal Bank Saudara yang hingga kini di usianya yang ke 107 tahun masih beroperasi dan merupakan bank swasta tertua di Indonesia.

Buku yang dicetak dengan kemasan hardcover yang menawan, dicetak dengan kertas mewah dan dilengkapi foto-foto klasik yang dilay-out dengan  baik ini merekam sejarah panjang berdirinya Bank Saudara yang pada 2006 yang lalu merayakan ulang tahunnya yang ke 100.

Buku ini diawali dengan kisah sepuluh orang saudagar batik Pasar Baru Bandung yang mendirikan sebuah perkumpulan simpan pinjam yang bernama Himpoenan Soedara (HS) pada 18 April 1906 dengan tujuan untuk saling membantu dalam membeli kain batik yang saat itu menjadi salah satu komoditas utama di Bandung. Mulanya pengukuhan HS tidak disertai ikatan hukum, kecuali perjanjian bermaterai di bawah tangan. Saat itu setiap orang diwajibkan. menyimpan uang sebanyak 10 gulden setiap bulan, yang tidak bisa diambil selama 5 tahun. Simpanan ini difungsikan untuk tambahan modal bagi usaha yang mereka rintis.

Pada tahun 1913 barulah perhimpunan ini memiliki asas legalitas dengan disahkannya sebagai badan hukum dengan nama Vereeniging Himpoenan Soedara. Setelah itu berangur-angsur secara sesuai dengan perkembangan zaman dan peraturan lembaga keuangan yang berlaku maka pada tahun 1974 Perkumpulan Himpunan Saudara bubar dan menjadi perseroan terbatas sehingga namanya menjadi PT Bank Tabungan Himpunan Saudara 1906. Pada1993 statusnya berubah lagi dari bank tabungan menjadi PT Bank Himpunan Saudara 1906 hingga akhirnya di tahun 2006 di usianya yang ke 100 bank ini merubah logo dan namanya menjadi Bank Saudara dan pada April 2006 Bank Saudara tercatat di Bursa Efek Jakarta sebagai perusahaan terbuka.

Buku ini juga menceritakan suka duka perjalanan Bank Saudara yang ternyata penuh dengan tantangan akibat kondisi perekonomian dan politik di Indonesia saat itu seperti krisis ekonomi dunia tahun 1929-1933, peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946, tindakan moneter pemerintah yang dikenal dengan sebutan "Gunting Syarifudin", dll.

Bank ini pernah pula mengalami krisis likuiditas pada tahun 1987-1989 dimana saat itu sejumlah tokoh dan pengusaha Jawa Barat 'turun gunung' untuk menopang Bank yang disebut-sebut sebagai bank-nya Urang Sunda.  Secara bahu membahu mereka berusaha agar bank ini dapat memenuhi kewajiban menyetor Rp. 250 jt kepada Bank Indonesia. Dan di tahun 1990 Arifin Paniogoro (pengusaha) yang juga keturunan dari salah satu pengurus  Himpunan Saudara  ini menyelamatkan bank ini dengan suntikan modalnya sehingga semenjak itu Arifin Panigoro menjadi pemegang saham utamanya. Ketika badai krisis moneter terjadi Indonesia di tahun 1997-1998 bank ini nyaris dilikuidasi oleh Bank Indonesia sebelum akhirnya kembali Arifin Panigoro menyuntikkan dana segarnya  sehingga pada 1999 Bank ini terselamatkan karena telah  memenuhi rasio kecukupan modal sebesar 4% yang disyaratkan Bank Indonesia saat itu.

Seratus tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun Bank Saudara tampaknya mencatat seluruh perjalanannya dengan rapih.  Dokumen akta pendirian, arsip, buku asli laporan keuangan, buku peringatan ulang tahun ke 30, 70, dan dokumentasi berupa foto-foto menjadi sumbangan yang sangat berharga bagi penyusunan buku ini sehingga foto-foto yang bersumber dari materi-materi tersebut ikut menghiasi buku ini.

Yang patut diacungi jempol penyusun buku ini berhasil merangkum semua data dan dokumen yang ada menjadi sebuah buku peringatan yang tidak sekedar menyajikan data semata melainkan mengisahkan perjalanan panjang bank ini secara  menarik dengan kalimat-kalimat yang mudah dipahami seperti layaknya sebuah memoar. Foto-foto masa lampau yang tajam dan ilustrasi dalam buku ini juga  membuat pembacanya betah membacanya sehingga buku ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi.

Walaupun merupakan buku peringatan Bank Saudara yang dicetak dan diedarkan secara terbatas namun bukan berarti buku ini hanya bermanfaat dibaca oleh nasabah, pemilik,  atau mereka yang memiliki keterkaitan dengan Bank Saudara.  Buku ini perlu dibaca oleh siapa saja karena melalui buku ini kita diajak menyaksikan perjalanan panjang yang dilakukan para pendiri dan penerus bank dalam mengelola dan mempertahankan banknya. Jatuh bangunnya kondisi moneter Indonesia dari masa ke masa yang terekam dalam buku ini juga membuat kita bisa memahami apa yang terjadi seiring dengan perjalanan Bank Saudara.  Pengalaman-pengalaman Bank Saudara dalam melintasi zaman dengan berbagai kesulitannya ini menjadi selalu relevan untuk disimak dan dipelajari, terutama ketika siklus kehidupan perekonomian bangsa kita ini belum juga meraih kemapanan

Selain itu seperti diungkap di awal tulisan ini  melalui buku ini terutama di bab-bab awalnya kita juga diajak melihat situasi kota Bandung dan perekonomiannya dimana Bank ini lahir dari perkumpulan simpan pinjam para Saudagar Pasar Baru Bandung, berkembang dan akhirnya bermetamorfosis  menjadi salah satu bank swasta modern tertua yang kini masih berdiri kokoh di Indonesia.

Jadi bagi mereka yang mencintai Bandung, pemerhati kota Bandung, kolektor buku-buku bertema Bandung, buku ini layak untuk dibaca dan dikoleksi sebagai pelengkap buku-buku referensi kota Bandung. Tidak mudah mencarinya karena buku ini terbit 8 tahun yang lampau dan tidak dijual di toko-toko buku umum melainkan hanya beredar secara terbatas. Happy hunting! :)

@htanzil

Tuesday, February 25, 2014

Lebih Dekat dengan Karel Albert Rudolf Bosscha

[No. 327]
Judul : Lebih Dekat dengan Karel Albert Rudolf Bosscha
Editor  : Ridwan Hutagalung 
Penerbit : Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI)
Cetakan : II, Februari 2014
Tebal : 152 hlm

Bagi sebagian orang nama Bosscha tidaklah asing terlebih bagi para pengamat dan pecinta dunia astronomi di Indonesia karena namanya dijadikan nama observatorium tertua di  Indonesia sekaligus yang terbesar di Asia Tenggara yaitu Observatorium Bosscha di Lembang - Bandung. Bagi masyarakat Bandung nama Bosscha lebih familiar lagi karena namanya diabadikan menjadi salah satu nama ruas jalan di Bandung.

Jadi siapakah Bosscha yang memiliki nama lengkap Karel Albert Rudolf Bosscha sehingga namanya dijadikan nama observatorium dan nama jalan di Bandung? Seperti yang menjadi judulnya, Lebih Dekat dengan Karel Albert Rudolf Bosscha melalui buku ini kita diajak lebih mengenal lebih dekat lagi siapa Bossca, apa yang telah dilakukannya dan sumbangsihnya bagi Indonesia sehingga  85 tahun setelah kematiannya berdirilah sebuah komunitas yang menamakan dirinya "Sahabat Bosscha" yang diketuai oleh Eka Budianta (budayawan/sastrawan/akitivis lingkungan) dimana komunitas ini bertekad untuk merawat, memelihara, dan meneruskan cita-cita Bossca.

Buku ini berisi  kumpulan tulisan dari para sahabat Bosscha yang terdiri berbagai profesi antara lain mahasiswa, astronom, wartawan, pecinta sejarah dan budaya, pemerhati kepariwisataan, budayawan, dll. Masing-masing menulis tentang Bosscha dari sudut pandang dan profesi mereka masing-masing sehingga melalui buku ini kita bisa melihat sosok dan kiprah Bosscha secara utuh

Lima belas tulisan dalam buku ini bisa dibagi menjadi dua bagian besar dimana di enam tulisan pertama setelah sambutan dari Ketua BPPI (Badan Pelestarian Pusaka Indonesia) dan Ketua Observatorium Bossca,  para sahabat Bossca menulis kehidupan serta sosok Bosscha beserta kiprahnya lengkap dengan beberapa peninggalannya yang masih ada hingga kini.  Sedangkan lima tulisan berikutnya berisi tentang komunitas Sahabat Bosscha yang baru saja terbentuk pada tanggal 17 Agustus 2013, yang bertepatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI dan HUT Observatorium Bosscha yang ke 90.

Di tulisan-tulisan yang membahas Bosscha kita akan diajak menelusuri kehidupan latar  Bosscha yang lahir pada 15 Mei 1865 dari keluarga imuwan terpandang di Belanda. Sejak kecil Bosscha dikenal memiliki kemauan yang kuat, namun sayangnya ia gagal meraih gelar sarjana di Politeknik Belanda karena berselisih pendapat dengan dosen pembimbingnya saat menyelesaikan tugas akhir. Dalam kekecewaannya Bosscha  berlayar ke Hindia Belanda pada tahun 1887, saat itu usianya baru 22 tahun.

Di Hindia Belanda awalnya Bosscha membantu pamannya di perkebunan Sinagar Sukabumi, mengikuti kakaknya sebagai geolog ke Kalimantan, hingga akhirnya menetap dan mengelola perkebunan teh di Malabar. Perkebunan teh inilah yang membuat nama Bossca mulai dikenal. Dengan bibit teh dari daerah Assam, India yang ternyata sangat cocok ditanam di Malabar dan digunakannya  mesin-mesin pengolahan teh yang canggih dengan  3000 karyawan pribumi dan 12 staff Eropa maka hasil dari pekebunan tehnya ini menjadi salah satu penghasil teh  yang terbesar di dunia saat itu (1910). Keberhasilannya ini menempatkan Bosscha sebagai salah seorang pria terkaya di Bandung setelah Perang Dunia Pertama dan menjadi salah satu Raja Perkebunan Teh di Priangan (Thee Koning)

Kesuksesan Bossca dalam mengelaola perkebunan tehnya tidak membuat ia lupa dan berpuas diri, keuntungan yang diperolehnya tidak ia gunakan  hanya untuk kepentingan pribadinya. Ia gunakan kekayaannya untuk ikut berperan dalam mendirikan berbagai, sarana pendidikan, kesehatan, ilmu pengetahuan, dll di Bandung antara lain Sekolah Teknik pertama di Indonesia yang kini dikenal dengan nama ITB, Observatorium Bossca, sekolah tuna rungu, sekolah bagi penderita buta, gedung Sositet Concordia (Gd.Merdeka-Bandung), dan masih banyak lainnya.

Sumbangan Bosscha yang mungkin paling besar dan monumental adalah Obesvatorium Bossca yang didirikan atas inisiatifnya pada tahun 1923 dimana Bosscha menjadi penyandang dana utamanya dengan membeli sebuah teropong tercanggih di masa itu. Sebagai bentuk penghargaan, nama Bosscha kemudian dijadikan sebagai nama peneropong bintang yang dibangunnya, Bossca Sterrenwacht,serta sebagai sebuah nama jalan di kawasan Bandung Utara

Bebragai sumbangsihnya ini membuat Bosscha menjadi salah satu tokoh Belanda yang disegani dan dihormati di Hindia Belanda baik di kalangan penduduk Eropa maupun pribumi . Bosscha juga dikenal sangat dekat dan memperhatikan kesejahteraan ribuan karyawannya. antara lain dengan mendirikan Vervoloog Malabar, sekolah gratis bagi kaum pribumi khususnya anak-anak karyawan dan buruh perkebunannya.

Dengan segala kebaikanya dan kiprahnya di berbagai bidang  maka  tak heran ketika Bosscha meninggal dalam pangkuan salah seorang karyawan pribuminya karena terserang tetanus pada tgl 28 November 1928 di usianya yang ke 63 , ada ribuan orang termasuk Bupati Bandung Wiranatakusumah V  mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya di kompleks perkebunan tehnya di Gn. Malabar sehingga panjang iring-iringannya mencapai 2 km!. Kepergiannya ini tak lama setelah ia mendapatkan penghargaan sebagai Warga Utama Kota Bandung dari pemerintah kota saat itu.

 Makam KAR Bosscha di Kompleks Perkebunan Teh Malabar


Selain tulisan tentang riwayat hidup Bosscha ada pula tulisan yang secara khusus menguraikan hubungan pembangunan kota Bandung yang terkait dengan kegiatan Bosscha, kedermawanan Hati Bosscha, sejarah teh di Priangan dan Hindia Belanda dimana Bosscha menjadi salah satu pelaku sejarahnya, dan tenang Astronomi Urban yang mengemukakan bagaimana kini astronom-astronom pemula dapat mengamati angkasa lewat peralatan teleskop sederhana plus aplikasi android dan situs-situs internet yang kini memudahkan siapa saja yang berniat mengamati dan mempelajari dunia astronomi.

Setelah tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Bosscha dan karyanya di 5 tulisan terakhir tersaji tulisan-tulisan yang merekam kegiatan-kegiatan serta sejarah terbentuknya komunitas Sahabat Bosscha yang bertujuan untuk melestarikan Observatorium Bosscha dan lingkungan sekitarnya sebagai cagar budaya Indonesia sekaligus menjadi juru bicara yang menyuarakan kampanye-kampanye untuk penyadaran publik agar Observatorium Bosscha bisa melaksanakan fungsinya dan masyarakat luas bisa memanfaatkannya bagi ilmu pengetahuan secara maksimal.

 Kunjungan Sahabat Bosscha ke makam K.A.R. Bosscha

Di bagian akhir sebelum Eka Budianta selaku ketua Sahabat Bossca menuliskan tentang Falsafah Persahabatan Bosscha,ada pula tulisan berjudul Sekilas Observatorium Bosscha yang memaparkan tentang latar belakang pendirian, pembiayaan, pembangunan, fasilitas, direktur/kepala Observatorium Bosscha dari masa ke masa serta kendala yang dihadapi Observatorium Bosscha di masa kini

Buku  ini juga dilengkapi dengan puluhan foto-foto masa lampau dan masa kini yang tersaji dengan kualitas yang baik sehingga pembaca dapat melihat dengan jelas peninggalan dan sumbangsih Bosscha bagi dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Selain itu ada pula album  foto-foto kegiatan para Sahabat Bossca yang tidak kalah menariknya.

Secara keseluruhan buku kecil tentang Bosscha ini sangat menarik, yang mungkin agak disayangkan adalah terjadinya pengulangan kisah-kisah kehidupan Bosscha di beberapa tulisan yang merupakan masalah klasik dari sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan.

Dari segi penyajian data ada perbedaan data yang dikemukakan oleh masing-masing penulis, pertama mengenai panjang iring-iringan yang mengantar jenazah Bosscha ke tempat pemakamannya, di halaman 20  tercatat panjang iring-iringan adalah 5 km, sedangkan di halaman 43ditulis sepanjang 2 km.

Kedua, mengenai keadaan sekolah rakyat yang didirikan Bosscha pada tahun 1901 di perkebunan Malabar. Pada halaman 26 disebutkan bahwa bekas sekolah ini dibiarkan terbengkalai sejak terkena gempa Pangalengan beberapa tahun yang lalu, di halaman 48 disebutkan bahwa kini sekolah ini menjadi SD Negeri Malabar II, sedangkan di halaman 95 disebutkan bahwa sekolah tersebut kini digunakan oleh Sekolah Dasar Ciemas, Malabar. Mungkin ketiganya benar, dalam arti nama lain SD Malabar II adalah SD Ciemas yang kini keadaannya terbengkalai namun ada baiknya jika editor menyeragamkan penamaan dan keterangannya agar tidak terkesan adanya perbedaan.

Kemudian dalam hal sejarah Perkebunan Teh Malabar yang pernah dikelola Bosscha, dalam buku ini tidak diungkapkan bagaimana perkembangan pabrik teh ini sepeninggal Bosscha hingga kini dikelola oleh pemerintah lewat PTP XII. Informasi  ini tentunya perlu diketahui masyarakat agar perkebunan teh yang pernah berjaya di Hindia dan pasar teh dunia ini kini masih terus berproduksi.

Terlepas dari semua itu sebagai sebuah buku yang  mengenalkan masyarakat pada sosok dan peran K.A.R Bosscha  pada perkembangan kota Bandung serta sumbangsihnya pada dunia pendidikan dan ilmu pengatahuan buku ini dapat menjadi awalan atau pengantar yang sangat baik karena hingga kini belum ada sebuah bukupun yang secara khusus membahas tentang Bosscha dalam khazanah literatur Indonesia bahkan dunia karena menurut Ridwan Hutagalung (editor buku in) di negara asal-nya (Belanda) pun tidak ditemukan buku atau biografi Bosscha. Mengapa ya?

Buku ini juga tentunya sangat bermanfaat sebagai publikasi yang baik bagi komunitas Sahabat Bosscha, satu hal yang sangat positif karena dengan demikian visi dan misi Sahabat Bosscha yang walau baru berusia 6 bulan  telah beranggotakan sebanyak 200 orang ini akan tersebar luas.  Dengan demikian diharapkan akan semakin banyak orang tertarik bergabung dengan Sahabat Bosscha dalam upaya melestarikan salah satu peninggalan terbesar Bossca sebagai salah satu cagar budaya sekaligus peneropong bintang yang harus dilindungi dan terus dikembangkan bagi dunia astronomi dari generasi ke generasi.

@htanzil

###

Informasi Tambahan :

Kendala yang dihadapi Observatorium Bosscha kini :

Saat ini, kondisi di sekitar Observatorium Bosscha dianggap tidak layak untuk mengadakan pengamatan. Hal ini diakibatkan oleh perkembangan pemukiman di daerah Lembang dan kawasan Bandung Utara yang tumbuh laju pesat sehingga banyak daerah atau kawasan yang dahulunya rimbun ataupun berupa hutan-hutan kecil dan area pepohonan tertutup menjadi area pemukiman, vila ataupun daerah pertanian yang bersifat komersial besar-besaran.

Akibatnya banyak intensitas cahaya dari kawasan pemukiman yang menyebabkan terganggunya penelitian atau kegiatan peneropongan yang seharusnya membutuhkan intensitas cahaya lingkungan yang minimal.

Sementara itu, kurang tegasnya dinas-dinas terkait seperti pertanahan, agraria dan pemukiman dikatakan cukup memberikan andil dalam hal ini. Dengan demikian observatorium yang pernah dikatakan sebagai observatorium satu-satunya di kawasan khatulistiwa ini menjadi terancam keberadaannya.

Sumber : Lebih Dekat dengan Karel Albert Rudolf Bossca / Wikipedia