Wednesday, April 19, 2017

Suatu Hari Dalam Kehidupan Pramoedya Ananta Toer

[No. 374]
Judul : Suatu Hari dalam Kehidupan 
Pramoedya Ananta Toer
Penulis : Alfred D. Ticoalu
Penerbit : Epigraf
Cetakan : I, 2017
Tebal : 191 hlm
ISBN : 978-602-60914-0-6

Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah legenda sastra Indonesia dan ikon perlawanan terhadap ketidakadilan yang karya maupun kisah hidupnya selalu dibaca dan dibicarakan orang hingga kini. Dalam 81 tahun  hidupnya yang hampir separuhnya  dilaluinya di penjara/pengasingan  Pram ternyata pernah mengadakan road show  ke Amerika dan Kanada tidak lama setelah era rerformasi bergulir. Satu hal yang tidak mungkin terjadi di era Orde Baru dimana  Pram tentunya akan sangat sulit mendapat paspor karena telah mendapat stigma buruk dari pemerintah Orde Baru sebagai sastrawan komunis yang berbahaya.

Tidak banyak yang tahu apa saja yang dilakukan Pram saat berkunjung ke Amerika & Kanada. Mungkin episode kehidupan Pram ini terlupakan oleh episode kehidupan Pram yang lain karena Pram tidak pernah menuliskan apa yang dilakukannya selama di negeri Paman Sam hingga akhir hanyatnya. Beruntung ada Alfred Ticoalu, seorang penggemar karya-karya Pram yg saat itu sedang menuntut ilmu di New York, AS menuliskan pengalaman pribadinya bertemu dengan sang idolanya.

Buku ini berisi 21 kisah pengalaman atau catatan perjalanan penulis selama memandu Pram bersama rombongan mengunjungi Cornell University, Fordham University, dan beberapa tempat lainnya di Amerika dan Kanada.  Ditulis dengan gaya personal dengan candaan spontan  yang menghibur membuat apa yang dipikirkan, dilihat, dan dirasakan penulis selama mendampingi Pram menjadi begitu hidup sehingga kita seolah berada bersama-sama dengan Pram dan rombongannya.

Setelah mengisahkan bagaimana penulis bisa berkesempatan bertemu langsung dengan idolanya hingga menjadi pemandu bagi Pram dan rombongannya, penulis langsung mengisahkan bagaimana ketika dalam sebuah pertemuan umum di Asia Society, New York City, dengan keberanian penulis menanyakan hal yang mungkin menjadi pertanyaan semua yang hadir saat itu dan yang juga mungkin menjadi pertanyaan kita selama ini yaitu,  apakah Pram itu seorang komunis?

"Orang-orang berkata Bapak adalah seorang komunis, dan karena inilah karya-karya Bapak dilarang di Indonesia......apakah Bapak seorang Komunis?

(jawaban Pak Pram)

"Ya memang pemerintah Orde Baru telah mengangkat saya sebagai komunis. ...dan ini diperkuat oleh pers Orde Baru. Tuduhan itu sudah ada sejak masa Orde Lama. Tapi kalau ditanyakan, saya ini komunis nomor berapa di Indonesia? Nggak ada yang bisa jawab. Komunis siapa yang membina saya? Saya tidak tahu. Saya pribadi hanya berpihak kepada kebenaran, keadilan, kemanusiaan. Ini yang pernah saya katakan 'Pramisme'."  (hlm 33-34)


Ada banyak hal menarik yang bisa diperoleh dari buku ini. Pemikiran Pram yang terungkap lewat kutipan pidato, wawancara, serta pemikiran Joesoef Isak (editor karya-karya Pram), dan pemikiran-pemikiran penulis sendiri yang merupakan refleksi dari setiap apa yang telah ia alami bersama Pram berkelindanan saling melengkapi di setiap kisahnya. Lalu ada pula kisah pengalaman Pram dan Joeseof Ishak selama di pengasingan, dan  bagaimana naskah Tetralogi Bumi Manusia Pram bisa keluar dari P. Buru dan diterbitkan untuk pertama kalinya di Belanda berkat jasa seorang pastor Jerman

Dengan semua hal tesebut  buku ini bukan hanya sekedar sebuah catatan perjalanan atau kisah perjumpaan antara sang maestro dengan penggemarnya melainkan sebuah buku yang menyajikan pemikiran Pram dan refleksi dari penulis yang mampu membangun kesadaran pembaca buku ini dalam hal kemanusiaan, ketidakadilan, dan demokrasi

Tidak hanya hal-hal yang serius, kisah-kisah dalam buku ini juga mengungkap sisi-sisi manusiawi Pram, seperti kebiasaannya merokok, Pram yang  tiba-tiba suka mengasingkan diri di tengah keramaian dan tenggelam dalam dunianya sendiri, guyonan Pram dalam keseharian, kebiasaannya yang kerap buang air kecil,  hingga kisah lucu bagaimana Pram tiba-tiba dalam sebuah kunjungan personal menolak untuk turun dari mobil dengan alasan kelelahan padahal sebenarnya celana Pram telah basah karena tidak bisa menahan keinginannya untuk buang air kecil.

Seluruh kisah dalam buku ini pernah dimuat oleh penulisnya dalam web Pramoedya Ananta Toer yang sengaja dibuat oleh penulis atas kecintaannya terhadap karya-karya Pramoedya di tahun 1999. Saya pribadi termasuk pengunjung setia webnya dan selalu menanti munculnya postingan baru dari Bung Alfred. Tidak itu saja saya bahkan memprint ke 21  kisahnya beserta hampir seluruh materi yang ada di web tersebut. 

Delapan belas  tahun kemudian, kisah perjalanan Pram ke Amerika & Kanadan itu diterbitkan menjadi sebuah buku. Apakah sudah sangat terlambat? Jika dilihat dari kapan penulis menuliskan pengalamannya dan dan kapan tulisannya  diterbitkan tentu saja sangat terlambat. Namun karena  buku ini turut merekam pemikiran dan perjuangan Pram untuk menciptakan Indonesia yang lebih adil, demokrasi,  dan bermartabat, buku yang terlambat terbit hampir dua dekade ini menjadi tetap relevan karena apa yang diperjuangkan oleh Pram dan nilai-nilai Pramisme itu belum sepenuhnya terwujud di negeri tercinta ini.

Berikut saya tutup review sederhana atas buku ini dengan petikan wawancara Pram dengan audiens di sebuah pertemuan di Toronto Kanada tahun 1999 seperti yang dimuat di buku ini

"Apa yang akan Pak Pram  lakukan kalau Pak Pram jadi Presiden?"

"Presiden? Wah, ini kalau ya...Kalau jadi presiden, akan saya ciptakan pemerintahan desa. Bergabung dan bekerja samalah. Bentuk sebuah paguyuban sehingga Anda memiliki juru bicara dan dengan demikian suara Anda akan terdengar dan tersalurkan"
 (hlm. 135-135)

@htanzil

Alfred D. Ticoalu saat diwawancarai oleh VOA (Voice of America) di kediamannya 
terkait terbitnya buku "Suatu Hari dalam Kehidupan Pramoedya Ananta Toer.

Sumber foto :
Nia Ntes Iman-Santoso
(VOA Indonesia)

Tuesday, April 04, 2017

Kelenteng Xie Tian Gong (Hiap Thian Kiong, Vihara Satya Budhi) & Tiga Liutenant Tionghoa di Bandoeng

[No.373]
Judul : Kelenteng Xie Tian Gong (Hiap Thian Kiong, Vihara Satya Budhi) & Tiga Liutenant Tionghoa di Bandoeng
Penulis : Sugiri Kustedja
Penerbit : Bina Manggala Widya
Cetakan : I, 2017
Tebal : 299 hlm
ISBN : 978-602-18659-7-2

Seperti halnya di kota-kota besar di Indonesia keberadaan Orang-orang Tionghoa di Bandung telah ada sejak lama dan telah  menjadi bagian dari kehidupan kota Bandung. Hingga kini belum diketahui secara pasti sejak kapan awal mula kedatangan orang-orang Tionghoa di Bandung.  Kemungkinan besar gelombang pertama kedatangan orang Tionghoa ke Bandung baru dimulai pada tahun 1810 ketika Gubernur Jenderal Daendels mengeluarkan Besluit van den Zomermaand,   yang mengatur penempatan orang-orang Tionghoa di Cianjur, Bandung, Parakanmuncang dan Sumedang. Satu-satunya data yang tercatat ada di data yang dikumpulkan peneliti asal Belanda P. Bleeker (1815-1875) yang mencatat bahwa  pada tahun 1845  ada 13 orang Cina di distrik Bandung.

Keberadaan orang-orang Tionghoa semakin berkembang semenjak Belanda membuka daerah Priangan yang tadinya tertutup bagi orang asing di pertengahan abad ke 19, terlebih ketika dibangunnya jalur kereta api di wilayah Priangan di akhir abad ke 19 dimana orang-orang Tionghoa ikut berperan dalam pembangunannya. Ketika komunitas orang-orang Tionghoa semakin banyak tentunya mereka membutuhkan sebuah sarana untuk beribadah, untuk itu pada tahun 1885 dibangunlah kelenteng pertama di Bandung yang diberi nama Sheng -Di-Miao (Kelenteng Kaisar Suci) yang kemudian menjadi Xie Tian Gong/Hiap Thian Kiong yang secara harafiah berarti Istana Pembantu Penguasa Langit/Alam Semesta.

 Tahun 1920-an

Di era Orde Baru dengan dilarangnya nama dan segala sesuatu yang berbau Tiongkok oleh pemerintah nama kelenteng ini dirubah menjadi Vihara Satya Budhi. Baru pada masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid, ketika etnis Tionghoa diberi kebebasan dalam menjalankan budaya, tradisi dan kepercayaannya. Nama Kelenteng Xie Tian Gong kembali muncul tanpa menghilangkan  nama Vihara Satya Budhi

Buku ini merupakan  buku pertama yang mengupas secara lengkap tentang kelenteng tertua di Bandung yg kini telah berusia 131  tahun. Buku yang ditulis oleh Sugiri Kustedja seorang doktor di bidang arsitektur ini  merupakan hasil penelitian yang dilakukan selama beberapa tahun untuk program studi doktoralnya di bidang arsitektur. Dalam bukunya ini penulis mengawalinya dengan penjelasan mengenai istilah Klenteng dan Vihara yang sering dianggap sama namun ternyata berbeda karena istilah vihara sebenarnya diperuntukkan bagi kuil Budha sedangkan Kelenteng diperuntukkan untuk para penganut kepercayaan Tao (Konfusius).  Kemudian dijelaskan juga secara singkat mengenai sejarah berdirinya Klenteng ini beserta nama dan maknanya.

Setelah itu secara berurutan penulis merinci lokasi kelenteng dan tata letak ruangan dan bangunan kelenteng termasuk benda-bendanya mulai dari pintu gerbang, singa batu penjaga, teras, pintu masuk utama bangunan, lantai, kolom bangunan, hingga ornamen pada wuwungan atap yang ternyata memiliki makna dan arti sendiri sehingga pembaca akan memahami bahwa kelenteng bukan sekedar rumah ibadah saja melainkan sebuah representasi dari alam semesta yang harmonis. Setelah itu penulis juga mendeskripsikan setiap mural yang ada pada dinding bangunan kelenteng lengkap dengan kisah yang mendasari lukisan tersebut dibuat.

Pembahasan mengenai prasasti pembangunan, perbaikan kelenteng, sirkulasi umat saat ritual pribadi, tokoh utama Kim Sin, rupang tuan rumah, perlengkapan ritual, daftar ketua pengurus kelenteng dari masa ke masa, dll juga membuat buku tentang kelenteng ini menjadi lengkap.  Dan yang tidak kalah menarik adalah dua lampiran tentang tiga liutenant Tionghoa di Bandoeng (1881-1917), dan lampiran tentang hirarki dan posisi berdasarkan model Mikro-Kosmos Yin-Yang pada Kelenteng Tradisional.

Buku ini menghadirkan juga  ratusan foto berwarna yang disajikan beriringan dengan apa yang sedang dibahas  sehingga kita dapat lebih memahami apa yang dideskripsikan oleh penulis lewat sajian visual yang tercetak secara baik.


 Tahun 2017 (Sumber foto : http://www.alaikaabdullah.com)

Bisa dikatakan buku ini sangat bergizi bagi mereka yang ingin mengetahui tentang kelenteng tertua di Bandung. Melalui buku ini kita tidak hanya diajak melihat apa isi kelenteng berserta arsitekturnya melainkan juga budaya dan kisah-kisah klasik dan mitologi  Tiongkok kuno  yang sarat makna dapat kita peroleh. Lampiran khusus tentang tiga Liutenant Tionghoa di Bandung yang memiliki keterkaitan dengan kelenteng Xie Tian Gong menjadi nilai tambah buku ini karena selama ini belum ada bahasan khusus dalam buku manapun dalam bahasa Indonesia tentang para Liutenant Tionghoa Bandung.

Yang agak disayangkan adalah sejarah kedatangan orang-orang Tionghoa di Bandung yang tentunya berkaitan erat dengan sejarah kelenteng ini tidak dibahas secara detail dalam buku ini. Sejarah berdirinya kelenteng pun hanya disebutkan sekilas saja sehingga bisa dikatakan unsur kesejarahan dalam buku ini kurang tereksplorasi dibanding unsur-unsur lainnya (arsitektur, budaya, mitologi, dll)

Terlepas dari hal tersebut sebagai sebuah buku pertama yang secara khusus membahas tentang Kelenteng Xie Tian Gong kehadiran  buku dapat menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingin mempelajari tradisi kepercayaan Tionghoa. Tingkat keterbacaan buku ini sangat tinggi, ditulis dalam bahasa yang mudah dimengerti sehingga unsur arsitektur, sejarah, dongeng, dan mitologi yang terdapat dalam buku ini akan terserap dengan baik oleh pembaca dari berbagai kalangan. 

Buku ini juga dapat menjadi semacam buku panduan bagi umat yang biasa beribadah di kelenteng Xie Tian Gong sehingga mereka dapat lebih memahami makna ritual ibadah yang mereka lakukan. Bagi masyarakat umum, buku ini juga bisa dijadikan pegangan ketika berkunjung untuk menikmati keindahan arsitektural dan budaya Tionghoa yang terkandung dalam semua tempat dan sisi dalam bangunan kelenteng tertua dan terbesar di Bandung ini.

Dan yang pasti, kehadiran buku ini menambah lagi khazanah literatur tentang kota Bandung, kota di Indonesia yang paling banyak ditulis orang dalam bentuk buku. Bagi masyarakat lokal, buku ini tentunya dapat menambah wawasan dan kecintaan masyarakat Bandung akan kota dengan ragam budayanya sehingga mereka akan semakin mencintai dan memelihara kotanya. 

@htanzil

Tuesday, January 31, 2017

Lost in The USA

[No.372]
Judul : Lost in The USA - Perjuangan Seorang Remaja Menaklukkan Amerika dengan Modal Pas-Pasan
Penulis : Fathi Bawazier
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2016
Tebal : 276 hlm
ISBN : 978-602-03-2687-0

Novel ini ditulis berdasarkan pengalaman penulisnya, Fathi Bawazier selama ia mengadu nasib di Amerika pada tahun 1984-1991. Saat ini penulis berprofesi sebagai direktur percetakan besar Cipta Grafika, speaker, dan motivator. Novel ini menceritakan pengalaman tokoh Fathin, remaja badung yang oleh teman-teman SMA nya dijuluki sebagai 'Anak Garpu' karena menggunakan garpu makan sebagai sisir untuk merapikan rambut kribonya dalam mewujudkan mimpinya untuk dapat menuntut ilmu sambil bekerja di luar ngeri.

Selepas lulus dari SMA sebenarnya Fathi berniat melanjutkan ke ITB atau UI, sayangnya karena tidak diterima di universitas favoritnya Fathi dengan nekad memutuskan untuk merantau, mencari peruntungan nasib di luar negeri. Pilihan nekad karena ia bukan berasal dari keluarga kaya yang sanggup untuk membiayai kehidupannya di luar negeri.

Awalnya Fathi hanya ingin merantau ke Australia. Tidak mudah karena berkali-kali pengajuan visanya ke negeri kangguru itu ditolak. Fathi tidak menyerah hingga akhirnya ia mendapat visa turis yang hanya mengizinkannya tinggal  di Australia selama 14 hari saja. Dengan visa turis tersebut Fathi mencoba mencari pekerjaan, ia memang berhasil tinggal dan bekerja di Austalia namun hanya  beberapa bulan saja karena keburu ketahuan petugas imigrasi sehingga Fathi harus ditahan di penampungan bagi imigran gelap untuk segera dipulangkan ke Indonesia.

Kegagalannya meniti karir di Australia tidak mematahkan semangatnya untuk meraih penghidupan yang lebih baik di luar negeri. Alih-alih kapok, Fathi malah ingin mencoba peruntungan nasib di Amerika Serikat. Setelah berhasil mendapatkan visa. Dengan membawa uang pas-pasan Fathi bersama sepupunya berangkat menuju Amerika. Perjalanan nekad karena di sana ia sama sekali tidak memiliki kenalan atau saudara yang akan membimbingnya. Ia hanya tahu Amerika dari film-film yang pernah ia saksikan.

Sesampainya di Amerika beragam kesulitan harus dihadapi. Setelah sempat terlunta-lunta di Los Angeles dan dibayangi ketakutan akan diciduk oleh petugas imigrasi atau ditolak kerja karena tidak memiliki green card akhirnya Fathi mendapat pekerjaan di sebuah pom bensin. Mulai dari bawah ia menapak karirnya, Keuletan, tekad yang kuat, dan anugerah Allah mengantarnya ke posisi yang diidamkannya yaitu sebagai Manajer di Mobil Oil Corporation, perusahaan perminyakan kelas dunia. Tidak itu saja Fathi bahkan bisa mengikuti kuliah hingga akhirnya sebuah peristiwa mengharuskan dirinya pulang kembali ke Indonesia dan meninggalkan apa yang telah ia perjuangkan dengan susah payah.

Kisah kehidupan Fathi meniti karir di Amerika dalam novel ini disajikan secara menarik. Penulis menghadirkan rentetan pengalaman-pengalaman menarik baik suka maupun duka Fathi di sepanjang novelnya ini sehingga pembaca tidak merasa bosan dan penasaran untuk mengetahui bagaimana akhir dari kisahnya. Gambaran kehidupan di Amerika  terdeskripsi dengan detail sehingga kita  seolah mengalami, merasakan, dan melihat apa yang dialami penulisnya termasuk  gambaran masyarakat beserta budaya kerja orang Amerika, kehidupan para imigran, dan bagaimana keberadaan masyarakat muslim di sana di tahun 80-90an.

Sejumlah pesan-pesan motivasi mengenai tekad dan pesan-pesan religi Islami juga terselip dalam novel ini. Untungnya semua disajikan dalam porsi yang pas dan menyatu dalam kisahnya sehingga pembaca tidak akan merasa digurui atau dikotbahi. Bahkan pembaca non muslim pun saya rasa tetap bisa menikmati novel ini karena pesan-pesan religi yang ada di novel ini bersifat universal dan mudah dipahami oleh semua orang.

Melalui pengalaman penulis yang tertuang dalam novel yang inspiratif ini pembaca dimotivasi untuk bekerja keras dan doa    untuk meraih kesuksesan walau ada banyak tantangan yang dihadapi. Prinsip-prinsip kejujuran dan iman yang kuat juga ditunjukkan oleh  Fathi dalam novelnya ini, misalnya  ketika ia menolak untuk bekerja saat harus menunaikan ibadah sholat. Masih banyak hal-hal positif lainnya yang bisa pembaca peroleh dari novel inspiratif ini sehingga novel ini cocok dibaca oleh siapa saja yang memiliki mimpi untuk menjadi sukses tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip kejujuran dan iman. 


@htanzil

Catatan :
Menurut informasi yang saya peroleh, saat ini Gramedia sedang memproses untuk cetakan ke II-nya, dan penulis sedang menulis lanjutan dari novelnya ini yang mengisahkan bagaimana perjuangan penulis sepulang dari Amerika dalam mencari rejeki halal dan mendirikan perusahaan di Indonesia.
1. LOST IN THE USA-FATHI BAWAZIER Dari judulnya mungkin kebanyakan akan memiliki menyimpulkan bahwa ini adalah novel traveling. Awalnya saya juga berpikir begitu, dan memang benar, ini mengenai perjalanan. Tapi…. Bukan hanya mengenai perjalanan seorang Backpacker sejati, namun juga perjalanan hidup seorang remaja yg terlalu sayang jika hanya menjadi kenangan pelakunya saja, karena apa yg dialami penuh dengan hikmah-hikmah kehidupan yg dapat menjadi inspirasi bagi pembaca, maka inilah yang membuat Lost in The USA merupakan novel yang juga berisikian nilai-nilai religi dan motivasi. Mengisahkan tentang perjuangan hidup inspiratif yang sarat pengorbanan ini, menghipnotis pembacanya untuk terus membuka halaman demi halaman. Hidup di luar negeri tanpa sanak saudara dan berbagai kisah yang menggambarkan kebulatan tekad dan keberanian untuk nekat berdasarkan dari kisah hidup yang di alami oleh penulisnya ini membuat pembaca hanyut dan seolah ikut menjalani hari-hari sulit bersama Fathi muda puluhan tahun silam. Salutnya penggambaran latar tempat dan suasana dalam rangkaian kata di novel ini mampu membawa kita seakan ada di sana, bersama tokoh utama menyaksikan perjuangannya. Ya, penyampaian cerita dengan pemilihan diksi yang tepat membuat pembaca seperti tengah menonton film di layar lebar. Teladan-teladan yang dikisahkan penulis memotivasi saya pribadi untuk tetap teguh pada nilai agama sebagai pegangan utama dalam menjalani hidup. Sesulit dan seterhimpit apapun, ketika kita yakin ada Yang Maha Menolong, maka pertolongan pun akan tiba pada kita, seperti Firman-Nya “Aku sebagaimana prasangka umatku.” Banyak kisah yang mampu kita ambil hikmah dan di jadikan cerminan yang dapat diambil ambil dari novel ini, salah satunya adalah ketika tokoh utama tengah di landa keraguan pada profesi yang tengah di jalaninya apakah halal untuknya atau tidak, maka dia kembalikan keyakinan seutuhnya hanya kepada Sang Khalik, sumber keraguannya ia tinggalkan. Memulai kembali dari nol, dengan kembali percaya sepenuhnya bahwa Allah Maha Menolong, menjadi self reminder bagi saya untuk tidak perlu ragu pada apa-apa ketetapan Allah. Novel ini candu, alurnya berhasil membuat saya terlarut dalam kehidupan yang di kisahkan penulis. Novel ini memiliki ciri khasnya sendiri, membuat pembaca penasaran akan kisah Fathi selanjutnya. Semoga segera terbit novel Lost In The USA 2 nya yaa.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hildapurnamasa/novel-gramedia-terbaru-2016_57b680621fafbdfb71f39f8e
Bukan hanya mengenai perjalanan seorang Backpacker sejati, namun juga perjalanan hidup seorang remaja yg terlalu sayang jika hanya menjadi kenangan pelakunya saja, karena apa yg dialami penuh dengan hikmah-hikmah kehidupan yg dapat menjadi inspirasi bagi pembaca, maka inilah yang membuat Lost in The USA merupakan novel yang juga berisikian nilai-nilai religi dan motivasi. Mengisahkan tentang perjuangan hidup inspiratif yang sarat pengorbanan ini, menghipnotis pembacanya untuk terus membuka halaman demi halaman. Hidup di luar negeri tanpa sanak saudara dan berbagai kisah yang menggambarkan kebulatan tekad dan keberanian untuk nekat berdasarkan dari kisah hidup yang di alami oleh penulisnya ini membuat pembaca hanyut dan seolah ikut menjalani hari-hari sulit bersama Fathi muda puluhan tahun silam. Salutnya penggambaran latar tempat dan suasana dalam rangkaian kata di novel ini mampu membawa kita seakan ada di sana, bersama tokoh utama menyaksikan perjuangannya. Ya, penyampaian cerita dengan pemilihan diksi yang tepat membuat pembaca seperti tengah menonton film di layar lebar. Teladan-teladan yang dikisahkan penulis memotivasi saya pribadi untuk tetap teguh pada nilai agama sebagai pegangan utama dalam menjalani hidup. Sesulit dan seterhimpit apapun, ketika kita yakin ada Yang Maha Menolong, maka pertolongan pun akan tiba pada kita, seperti Firman-Nya “Aku sebagaimana prasangka umatku.” Banyak kisah yang mampu kita ambil hikmah dan di jadikan cerminan yang dapat diambil ambil dari novel ini, salah satunya adalah ketika tokoh utama tengah di landa keraguan pada profesi yang tengah di jalaninya apakah halal untuknya atau tidak, maka dia kembalikan keyakinan seutuhnya hanya kepada Sang Khalik, sumber keraguannya ia tinggalkan. Memulai kembali dari nol, dengan kembali percaya sepenuhnya bahwa Allah Maha Menolong, menjadi self reminder bagi saya untuk tidak perlu ragu pada apa-apa ketetapan Allah. Novel ini candu, alurnya berhasil membuat saya terlarut dalam kehidupan yang di kisahkan penulis. Novel ini memiliki ciri khasnya sendiri, membuat pembaca penasaran akan kisah Fathi selanjutnya. Semoga segera terbit novel Lost In The USA 2 nya yaa.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hildapurnamasa/novel-gramedia-terbaru-2016_57b680621fafbdfb71f39f8e

Wednesday, November 23, 2016

Lady in Red

[No. 371]
Judul : Lady in Red
Penulis : Arleen A
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2016
Tebal : 360 hlm ; 20 cm
ISBN : 978-602-03-2712-9

Novel Lady in Red berkisah tentang kisah cinta dua wanita penyuka warna merah dalam bentangan waktu seratus tahun (1920-2020) lamanya.  Dimulai dari kisah Betty Liu, seorang gadis Tionghoa sederhana yang kerap menggunakan baju berwarna merah. Betty adalah gadis yang pandai sehingga ia mendapat beasiswa untuk bersekolah di sekolah swasta elit Redwood High School, California, Amerika Serikat. Karena bukan dari kalangan kaya, Betty kerap dipandang sebelah mata dan menerima ejekan dari teman-teman sekolahnya. Tak seorangpun mempedulikan Betty kecuali Robert Wotton, teman sekelasnya, anak dari pemilik Wotton Dairy Farm,  peternakan sapi perah kedua terbesar di Fort Bragg, Caliornia. 

Singkat cerita Betty Liu menikah dengan Robert Wotton, mereka lalu tinggal di Wotton Farm dan mengelola Wotton Farm hingga peternakan sapi mereka menjadi semakin berkembang bahkan mereka dapat membeli Stephen Farm peternakan sapi terbesar di Fort Bragg. Wotton Farm terus bertahan hingga beberapa generasi.

Dari kisah Betty Liu dan Robbert Wotton kisah beralih ke tokoh Rhonda Roth, cicit Betty Liu  salah satu pewaris Wotton  Farm. Rhonda kecil  memiliki seorang pelindung yaitu Gregory Drew (Greg). Seperti Rhonda, Greg juga tinggal di Wotton Farm karena orang tuanya bekerja di peternakan milik keluarga Rhonda. Kemanapun Rhonda pergi Greg selalu menyertai dibelakangnya sambil membawa tas dan buku-buku Rhonda.  Tanpa disadari ketika keduanya bertumbuh dewasa timbul rasa saling menyayangi diantara keduanya. Rhonda maupun Greg ragu apakah ini cinta? Bagi Greg sendiri ia  berusaha menghalau perasaannya karena ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang pelayan bagi Rhonda.

Ketika Rhonda harus meninggalkan Wotton Farm untuk melanjutkan kuliah di Boston barulah keduanya menyadari arti dari kehilangan. Tak ada yang bisa dilakukan Rhonda selain  membuat puluhan  sketsa wajah Greg yang ia simpan dan rahasiakan dari siapun. Perbedaan jarak dan status (majikan-pelayan) membuat hubungan mereka menjadi berjarak hingga akhirnya Rhonda menyerahkan hatinya pada Brandon Resensky, seorang eksekutif muda sukses yang terus mendekatinya dengan cara-cara romantis yang diluar dugaan. Hubungan Rhonda dan Brandon berlanjut hingga akhirnya  memutuskan untuk bertunangan dan merencakanan sebuah pernikahan.

Ketika pertunangan diresmikan di Wotton Farm, Greg yang kecewa memilih untuk lari menghindar dari kehidupan Rhonda. Ia meninggalkan Wotton Farm dan memilih bekerja di Los Angeles. Sebuah peristiwa yang mengancam peternakan akhirnya memaksa Greg untuk kembali ke Wotton Farm demi menyelamatkan peternakan milik keluarga Rhonda yang telah berdiri selama beberapa generasi. 

Sebenarnya tema novel ini sederhana, yaitu tentang kisah cinta dua pribadi yang berbeda secara status, namun di tangan Arleen A, penulis produktif yang telah menulis ratusan buku anak, kisah cinta ini menjadi sangat menarik untuk dibaca. Penulis termasuk berani mengambil resiko yang jarang ditempuh penulis-penulis lokal yaitu rentang waktu kisah yang panjang ( 1 abad), setting lokasi di Amerika Serikat, dan tokoh-tokoh yang bukan orang Indonesia. Walau novel ini ditulis oleh penulis lokal yang tinggal di Indonesia namun dalam hal pendeskripsian setting lokasi peternakan sapi perah, karakter dan keseharian tokoh-tokohnya semuanya bernuansa barat sehingga saya sependapat dengan dengan beberapa pendapat para blogger buku yang mengatakan bahwa membaca novel ini seperti membaca sebuah karya terjemahan dari penulis asing.

Dari segi romansa kisahnya, penulis mendeskripsikannya dengan sangat baik,  perasaan dan kegalauan para tokoh-tokohnya terungkap dengan baik sehingga kita dapat memahami apa yang dirasakan oleh para tokoh-tokohnya. Kita akan dibuat kesal, galau, dan gregetan seakan sedang mengalami sendiri apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh utamanya.

Walau didominasi dengan kisah romansa percintaan  namun novel ini juga menyajikan sedikit unsur thriller terutama di penghujung novel. Walau ending-nya mungkin berhasil ditebak oleh beberapa pembaca namun sebelum menuju ending penulis menyajikan sebuah kejutan yang mungkin tidak terpikirkan oleh pembaca yang terlanjur terbuai oleh sebuah kisah roman yang apik.

Selain kisah Betty Liu dengan Robert Wotton, Rhonda dengan Brandon, dan gejolak Greg yang berusaha memendam cintanya pada Rhonda, penulis juga menyelipkan kisah Jerry dan Wanda. Jerry, anak pemilik peternakan Stephen Farm  yang dihadirkan sebagai tokoh antagonis. Walau awalnya tampak tak memiliki hubungan dengan tokoh  Betty atau Rhonda namun kelak pembaca akan mengetahui bahwa kisah Jerry dan Wanda ini bukan sekedar kisah tambahan semata.

Satu hal yang menjadi keunikan dalam novel ini adalah adanya interlude-interlude yang mengisahkan dongeng si Topi/Kerudung Merah (Red Ridding Hood) karya Grimm. Sepertinya penulis mencoba menghubungkan dongeng si Kerudung Merah dengan Lady in Red atau katakanlah ini adalah adaptasi atau versi modern dari dongeng tersebut. Namun sayangnya saya tidak berhasil menemukan keterkaitan yang jelas antara dongeng si topi Merah dengan novel ini. Atau mungkin saya yang kurang peka? :)

Dalam novel ini penulis membagi kisahnya kedalam tiga  bagian besar berdasarkan periode waktu  yaitu 1920-1955, 2013-2016, 2019-2020. Dari bagian pertama ke bagian kedua terdapat lubang rentang waktu yang cukup panjang (58 tahun) kisahnya pun melompat dari tahun 1955 ke 2013. Ada dua generasi keluarga Wotton yang hilang dari penceritaan. Akan lebih menarik jika penulis mengisi lubang waktu itu dengan kisah oleh kisah salah satu anak atau cucu Betty Liu sehingga novel ini bisa menjadi sebuah kisah kehidupan keluarga Roth yang utuh .

Terlepas dari hal tersebut kehadiran novel ini patut diapresiasi dengan baik. Novel yang dikemas dengan cover yang  menarik ini ternyata memiliki isi yang lebih menarik dari covernya. Walau kisahnya hanya kisah cinta biasa yang dibalut dengan pembalasan dendam masa lampau yang diberi bumbu thriller di penghujung kisahnya, namun karena penulis berhasil menyajikan setting waktu, tempat, dan tokoh-tokoh barat yang jarang digarap oleh penulis lokal maka novel ini  mampu memberi warna  tersendiri dalam khazanah novel-novel lokal saat ini.

@htanzil