Friday, November 01, 2019

KRIYA DAN ILMU MENYEDUH KOPI

[No. 388]
Judul : Kriya dan Ilmu Menyeduh Kopi
Penulis : Dr. Britta Folmer (editor)
Penerjemah : Rani S. Ekawati
Penerbit : Kriya Rasa Indonesia
Cetakan : I, September 2019
Tebal : x + 157 hlm
ISBN : 978-602-53301-2-4

Buku ini merupakan jilid kedua dari empat jilid buku yang akan diterbitkan oleh Penerbit Kriya Rasa Indonesia. Jilid pertamanya yang berjudul Kriya dan Ilmu Menyangrai Kopi  telah terbit pada  Juli 2019 lalu. Jika jilid pertama mengangkat tema penyangraian, di jilid kedua ini penerbit mengumpulkan lima bab dari buku The Craft and Science of Coffe yang memiliki tema seputar penyeduhan kopi.

Buku ini membahas mengenai cara menyeduh kopi yang benar,   proses ekstraksi pada kopi, hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyeduh kopi, cara meracik air agar mendapat seduhan terbaik, cara menjaga kesegaran biji kopi sebelum diseduh, dan  tentang  krema pada kopi.

Buku ini dibagi dalam 3 bab utama, pertama dengan judul PENGGILINGAN: Partikel dan Ciri Khasnya mengenai membahas mengenai karakteristik partikel kopi, teknologi penggilingan, dan pentignya penggilingan dalam penyeduhan kopi.

Jika membaca bab ini nyatalah bahwa penggiling (grinder) yang berkualitas tinggi merupakan kebutuhan baik di industri kopi maupun kafe-kafe kopi spesialti karena penggiling yang baik akan menghasilkan kopi bubuk yang sesuai dengan ekstraksi yang diinginkan. Namun secanggih apapun penggilingnya para barista tetap perlu mengembangkan ketrampilan mereka sehingga mereka bisa mengendalikan penggiling untuk mengasilkan bubuk kopi agar dapat diseduh secara sempurna.

Bab kedua dengan judul MEMPERTAHANKAN RASA : Kesegaran Sebagai Kunci Kualitas,  membahas bagaimana kopi yang enak tergantung dari orang yang membuatnya sehingga si penyeduh kopi harus dapa memahami bagaimana mengukur kesegaran kopi, indeks kesegaran, bagaimana menyimpan kopi sangrai agar tetap segar, dan memastikan kesegaran kopi melalui penggunaaan kemasan yang optimal.

Di bagian ini juga kita akan menemukan sejarah kopi spesialti yang berawal  ketika Alfred Peet membuka kedai kopi di Berkeley, Amerika Serikat pada 1 April 1966. Alfred Peet dianggap sebagai pelopor gerakan kopi spesialti meskipun saat itu istilah "kopi spesialti" belum digugakan. Filosofinya dalam membuat kopi adalah membuat jarak sependek mungkin antara roaster dan pelanggan. Kesegaran menjadi jantung dari visi dan konsep kualitas yang diusungnya. Sejak saat itu, kesegaran kopi menjadi fokus bagi mereka yang hendak menghidangkan kopi berkualitas tinggi.

Bab ketiga,  PENYEDUHAN: Mengekstraksi untuk Memperoleh Secangkir Kopi yang Nikmat  membahas variabel penting dalam menyeduh kopi antarai lain kualitas air, suhu air, dan tekanan ekstrasi  untuk memodulasi citarasa kopi hasil seduhan. Selain itu dibahas juga  beberapa metode penyeduhan seperti Kopi Turki, French Press, Moka Pot, kopi seduh dingin  dan es kopi.

Bab keempat AIR UNTUK EKSTRAKSI: Komposisi, Rekomendasi, dan Penangan  membahas mengenai air untuk ekstraksi seperti sifat fisikokimiawi air, dampak komposisi air terhadap ekstraksi, uji citarasa dengan air yang berbeda,dll.

Bab kelima, KREMA: Pembentukan, Stabilisasi, dan Sensasi. Bagian terakhir dari buku ini secara khusus membahas mengenai Krema yang sering dianggap sebagai mahkota kopi pada espreso. Para ahli kopi menggunakan krema untuk menilai kualitas dari ekstraksi kopi. Bagi para barista pembentukan krema adalah suatu seni, sedangkan bagi para penikmat kopi krema adalah bagian dari ritual kopi, ada yang membuangnya, sebagain orang mengaduknya, dan sebagian lain memutar-mutar cangkirnya untuk mencampur krema dengan kopi hingga sesapan terakhir.

Di bagian ini pembaca akan memperoleh pengetahuan bagaimana krema terbentuk, bagaimana menstabilisasi krema, sifat kimia krema,dan bagaiman pengaruh  krema terhadap visualisasi, aroma dan rasa pada kopi.

Dengan bahasannya yang detail, rinci dan ilmiah disertai tabel dan grafik buku ini sangat baik untuk djadikan buku panduan bagi para barista, peneliti kopi, dan  pegiat kopi yang ingin mendalami ilmu pengetahuan terkait penyeduhan kopi. Namun bagi para home brewer atau mereka yang baru saja menekuni dunia kopi kemungkinan  akan menemui kesulitan dalam memahami keseluruhan isi buku ini terutama pada bagian yang terkait proses fisiokimiawi dari kopi dan air yang memang memerlukan pengetahuian khusus untuk dapat memahaminya.

Namun terlepas dari hal tesebut, seperti yang diungkapkan oleh penerbit dalam buku ini, semoga kehadiran buku ini bisa meningkatkan perkembangan dunia penyeduhan kopi di Indonesia menjadi lebih luas dan memanik barista dan brewer serta ilmuwan kopi Indonesia untuk turut menulis soal penyeduhan kopi sesuai dengan keahliannya masing-masing yang dapat memperkaya khazanah kopi Indonesia.

@htanzil

Thursday, October 10, 2019

MERAJUT RELASI BISNIS : Surat-surat Tan Joen Liong, Kapiten Tionghoa Bandung

 [No.387]
Judul : Merajut Relasi Bsinis, Surat-Surat Tan Joen Liong, Kapiten Tionghoa Bandung
Penyunting : Ali Rauf Baswedan
Penerbit : Quantum
Cetakan : I, Agustus 2017
Tebal : 112 hlm
ISBN : 978-602-60475-7-1

Tan Joen Liong (1858-1917) adalah Kapiten Tionghoa Bandung, pejabat lokal yang diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai pemimpin tertinggi orang-orang Tionghoa di wilayah tertentu. Biasanya yang diangkat menjadi kapiten Tionghoa adalah figur terpandang atau tokoh yang berpengaruh di kalangan orang-orang Tionghoa.
Walau Tan Joen Liong termasuk orang yang berpengaruh di masanya sayangnya hanya sedikit riwayat kehidupannya yang diketahui orang hingga kini. Berpuluh tahun yang silam sebenarnya namanya pernah diabadikan menjadi nama sebuah jalan yang waktu itu masih berupa jalan kecil yang diberi nama  Jl. Joen Liong (sekarang Jl. Baranangsiang) di kawasan Kosambi Bandung.

Tan Joen Liong lahir pada tahun 1858 di Jiaoling, provinsi Guandong China. Pada tahun  1888, Di usia yang ke 30  ia diangkat menjadi Letnan Tionghoa Bandung. Mengantikan posisi ayahnya, Tan Haij Liong yang mengundurkan diri.

Kepemimpinan Tan Joen Liong sebagai Letnan Tionghoa Bandung berakhir pada tahun 1917. Tan Joen Liong mengundurkan diri sebelum jabatannya berakhir. Salah satu penyebabnya karena ia menderita sakit permanen.  Pada tanggal 21 April 1917  Tan Joen Liong diberhentikan dengan hormat oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dan    karena jasa-jasanya dan pengabiannya selama 29 tahun sebagai Letnan Tionghoa Bandung pemerintah memberi  gelar kehomatan Kapiten Titulair (Kapiten kehormatan) kepada Tan Joen Liong. Empat bulan kemudian, di usia yang ke 59 Tan Joen Liong meninggal dunia.

Selain sebagai seorang kapiten, Tan Joen Liong juga dikenal sebagai seorang pengusaha. Bisnis utamanya adalah berdagang Tapioka. Ia memiliki pabrik tapioka dengan kapasitas produksi hingga 3000 pikul (180 ton) per bulan. Selain untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, tapiokanya juga diekspor ke mancanegara seperti yang terungkap dalam surat penawaran produknya kepada Agenschap der Maatschappij pada 4 September 1902

"Produksi pabrik saya sebulan 1000 pikul sampai 3000 pikul.....Saya selalu pakai karung baru (merk strip 3 biru). Selama ini saya pakai karung itu untuk dikirim ke Amerika, London, Amsterdam juga ke negeri Tiongkok.... Pabrik saya memproduksi 3 jenis tepung tapioka no 1 merk Bathong A, no 2 merk Liongkie K.K dan no. 3 jenis merk Banthong B. Tuan-tuan di Eropah sudah percaya 3 jenis merk ini, tanpa mengirim contoh barang terlebih dahulu, hanya bicara soal merk dan harga saja."
 (hlm 80)

Seperti pebisnis besar pada masanya, Tan Joen Liong  kerap menulis surat kepada rekan-rekan bisnisnya.  Rupanya surat-surat bisnisnya tersebut masih ada hingga kini. Walau telah berusia 120 thn lebih  surat-suratnya masih terbaca dan kini dikoleksi oleh Ali Rauf Baswedan, seorang dokter yang juga  kolektor surat-surat dan kartu pos lawas. Surat-surat Tan Joen Liong tersebut ditulis tangan menggunakan huruf latin dalam bahasa Melayu dan Inggris diatas kertas tipis ukuran. 28 x 22 cm yang dijilid menjadi sebuah buku setebal 500 halaman.

Surat-surat asli Tan Joen Liong yang sudah dijilid. 

Berdasarkan surat-surat bisnis Tan Joen Liong yang dimilikinya tersebut dr. Ali Baswedan memilah-milahnya berdasarkan kategori untuk dijadikan buku yang dapat dibaca oleh banyak orang hingga akhirnya terbitlah buku berjudul Merajut Relasi Bisnis, Surat-Surat Tan Joen Liong, Kapiten Tionghoa Bandung

Buku ini memuat 77 surat bisnis Tan Joen Liong ke rekan bisnisnya di Cimahi, Cimindi, Sumedang, Sukabumi, Bogor dan Batavia selama tahun 1900-1903. Surat-suratnya tersebut dibagi kedalam 9 bagian berdasarkan tujuan dan jenis surat. Karena surat bisnis tentunya semua surat-suratnya ditulis dangan lugas, to the point. Dari surat-suratnya ini kita akan mengetahui bagaimana Tan Joen Liong menjalankan roda bisnisnya. Selain tapioka yang menjadi bisnis utamanya Sang Kapiten juga menjalankan bisnis penggilingan beras, dedak, ubi, dll.

Karena bisnisnya merambah hingga ke luar negeri tentu saja Tan Joen Liong fasih berbahasa inggris.  hal tersebut dibuktikan dengan beberapa suratnya yang menggunakan bahasa inggris. Selain itu ia juga memiliki rasa keingintahuan yang kuat untuk mengetahui apa yang terjadi di luar negeri. Dalam surat bisnisnya kepada Silas & Cohen terselip permintaannya pada rekan bisnisnya agar dapat dikirimkan secara rutin koran berbahasa Inggris dari Singapura dan London.

...Juga kalau Tuan berkenan, setelah Tuan habis membaca koran dari Singapura atau London yang berbahasa Ingris setiap penerbitan, mohon dikirimkan pada saya. Biaya kirim nanti saya ganti pada Tuan.

Saya sudah terima surat Tuan dan juga koran, terima kasih banyak Kalau tuan masih berkenan dan korannya masih ada yang lain, saya harap dikirim lagi.
 (hlm 36-37)

Selain menjalankan bisnis Tapioka, Tan Joen Liong juga kerap mengikuti beberapa tender, beberapa diantaranya merupakan tender proyek besar seperti perbaikan jembatan Ancol dengan nilai proyek f 1.180, proyek jembatan diatas kanal Gunung Sahari senilai f 2.000, dan pembangunan konstruksi lengkungan jembatan Tjitjantik VII afdelling Sukabumi senilai f 18.850. Selain itu Tan Joen Liong menjadi pemasok pelumas dan material penerangan untuk keperluan dinas jawatan kereta api di Jawa selama tahun 1898.

Surat-surat Tan Joe Liong juga  mengungkapkan hubungan bisnisnya dengan sesama pegawai pemerintah, antara lain dengan  Nio Hoei Oen, Kapitan Tionghoa Batavia periode 1913-1916.  Hubungan bisnis seperti ini belum banyak diungkap dalam tulisan-tulisan tentang Kapiten Tionghoa lainnya.

Salah satu perannya sebagai seorang kapiten Tionghoa Bandung terungkap dalam suratnya kepada Law Kang Boen, agen kembang api di Batavia. Surat tersebut berisi pesanan kembang api untuk  perkawinan putra Bupati Bandung, RAA Martanegara pada tanggal 18 April 1902, dan surat pesanan kembang api untuk menyambut kedatangan Gubernur Jendral Williem Roseboom di Bandung pada tanggal 13-14 Mei 1902

Yang paling menarik dari puluhan surat bisnis dalam buku ini adalah terungkapnya tanggal kelahiran Tan Joen Liong. Selama ini publik hanya mengetahui tahun kelahirannya saja melalui batu nisan sang kapiten di pemakaman Cikadut Bandung.

Di surat pengajuan polis asuransi yang ditujukan kepada perusahaan asuransi Nederlandsch Indische Crediet en Bank Vereeniging di Batavia, Tan Joen Liong menulis demikian;

Saya lahir tahun Masehi 1858. Tanggal dan bulan tidak bisa saya sebut seperti tanggal dan bulan Masehi. Tetapi saya hitung waktu saya lahir kira2 72 hari lagi orang Eropah masuk tahun baru 1859. Hanya saya ingat betul tanggal, bulan, dan tahun kelahiran saya mengikuti almanak Tionghoa, yaitu tahun Kibi, bulan Kauw Gowe tanggal 28.
(hlm 56)

Berdasarkan surat tersebut jika dicocokkan dengan kalender Masehi maka akan muncul tanggal 3 November 1858. Tanggal ini berbeda dengan tahun kelahiran (tanpa tanggal dan bulan) yang tertulis di makam Tan Joen Liong, yaitu tahun 1859.

Masih banyak hal-hal menarik yang bisa ditemui dari surat-surat bisnis Tan Joe Liong yang ada di buku ini. Untuk menjaga originalitas surat sekaligus memudahkan pembaca masa kini untuk memahaminya maka setiap surat dalam buku ini disajikan dalam dua versi, pertama versi asli yg ditulis dalam bahasa melayu ejaan Van Ophuijsen dan  adaptasinya dalam versi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
Selain itu untuk lebih memahami konteks suratnya dalam setiap bab  penyunting memberikan keterangan  singkat tentang profil penerima surat beserta potongan iklan terkait dari berbagai koran lawas yang terbit di masa itu.




Kehadiran buku ini yang mendokumentasikan surat-surat bisnis Tan Joen Liang patut patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya. Apalagi ini menyangkut tokoh Kapiten Tionghoa di Bandung yang hingga kini riwayat kehidupannya tidak banyak diketahui orang karena minimnya data-data mengenai dirinya. Melalui surat-suratnya bisnisnya ini setidaknya bisa melengkapi data tentang Sang Kapiten yang terkubur oleh zaman.

Selain itu dengan membaca buku ini kita dapat mengetahui gambaran dari kegiatan bisnis dan dinamikanya di awal abad ke 20 dan bagaimana peran bisnis orang Tionghoa di masa itu. Walau tidak bisa digeneralisir namun setidaknya kita bisa mengetahui kira-kira seperti itulah kegiatan bisnis pengusaha etnis Tionghoa  di masa itu.

Bagi masyarakat kota Bandung, buku ini tentunya dapat menjadi kepingan berharga yang dapat melengkapi mengenai sejarah kota Bandung khususnya  tentang  etnis Tionghoa Bandung yang telah menjadi bagian dari pertumbuhan kota Bandung sejak ratusan tahun yang lampau.

Ketika review ini ditulis, penyunting buku ini sedang mempersiapkan jilid 2 dari buku ini yang masih rencananya akan diberi judul : Dipusaran Bisnis Tapioka. 

@htanzil

Iring-iringan prosesi pemakaman Tan Joen Liong di depan gedung De Vries, Bandung


"Kemarin sore (23 Agustus 1917), setelah mengalami sakit yang lama. 
Kapiten Titulair Tionghoa Bandung, Tan Joen Liong, meninggal dunia".
"Tidak hanya dalam dunia bisnis, sebagai pemilik pabrik tapioka dan penggilingan padi, Tan Joen Liong juga dikenal sebagai seorang tokoh yang familiar...Untuk tujuan amal, orang selalu bisa menemuinya, dia murah hati"

- Surat kabar De Preanger-Bode edisi 24 Agustus 1917-


Makan Tan Joen Liong di TPU Cikadut - Bandung
sumber foto : https://catatanvecco.wordpress.com


Nisan Tan Joen Liong, Kapiten Titulair Der Chineezen
sumber foto : https://mtnugraha.wordpress.com

Monday, September 23, 2019

LALITA : 51 Cerita Perempuan Hebat di Indonesia

 [No.386]
Judul : LALITA - 51 Cerita Perempuan Hebat Indonesia
Penulis : Abigail Limuria & Grace Kadiman
Editor : Anita Putri
Penerbit : Lalita Project
Cetakan : I, 2019
Tebal : 107 hlm, art paper

Abigail dan Grace, dua perempuan Indonesia yang sedang kuliah di Biola University Los Angels, Amerika Serikat berpikir, "Apa artinya menjadi peremuan Indonesia yang mencintai negaranya? Apakah Indonesia memiliki tokoh-tokoh perempuan yang hebat? Jika ada kenapa kita jarang mendengar kisah mereka?"

Pemikiran tersebut dilanjutkan dengan percakapan antara mereka seperti yang tertuang di buku ini :

- Harusnya ada yang nulis buku tentang perempuan Indonesia
+ Kenapa 'nggak kita aja?
- Kamu mau?
+ Yuk!

Melalui proses yang panjang, berkat ketekunan, kegigihan mereka dalam memilih dan menyempatkan diri untuk mewawancarai langsung 51 tokoh perempuan yang hendak diangkat kisahnya akhirnya terwujudlah buku berjudul Lalita : 51 Cerita Perempuan Hebat Indonesia. Lalita sendiri berasal dari kata Sansakerta yang berarti berharga, jelita, riang, dan pandai berucap yang oleh penulisnya direpresentasikan sebagai perempuan-perempuan Indonesia yang aktif, tak terbatas, cerdas, tangguh, dan berambisi.

Sesuai judulnya, buku ini berisi kisah nyata dari 51 perempuan Indoesia yang cemerlang, berprestasi, menginspirasi, dan mengharumkan bangsa dalam berbagai bidang dan profesi antara lain seniman, olahragawan, ilmuwan, penyanyi, akitvis lingkungan hidup, galerist, pematung, fotografer,  pembalap, presenter. politikus, menteri dan lain-lain yang disusun secara alfabetikal berdasarkan nama-namanya,

Buku ini bukan seperti ensiklopedi tokoh-tokoh yang disajikan dalam kalimat-kalimat yang kaku melainkan dituturkan dengan cara berkisah yang ringkas seperti kita membaca sebuah cerpen.

Setiap tokoh dikisahkan dalam satu halaman saja yang dimulai dengan kalimat pembuka seperti, "Suatu hari...., Sejak kecil...., Di sebuah kota kecil...., Ada seorang anak bernama...."
dari kalimat pembuka tersebut mengalirlah kisah-kisah pendek namun informatif dari tiap-tiap tokohnya sehingga kita tidak akan bosan membaca ke 51 tokoh yang dikisahkan.  Dan sebagai penutup di setiap kisahnya terdapat kutipan kalimat inspiratif yang berasal dari masing-masing tokohnya 

 Qutoe Grace Natalie, politikus

Ada banyak hal yang menarik yang terungkap dari masing-masing perempuan hebat di buku ini, ada yang sudah sangat terkenal seperti Susi Susanti, Najwa Shihab, Grace Natalie, hingga para menteri yaitu Sri Mulyani, Susi Pudjiastusi, Retno Marsudi dll, namun ada juga perempuan-perempuan hebat yang mungkin belum dikenal oleh masyarakat luas antara lain;

Aleta Baun (Mama Aleta), aktivis lingkungan yang memprotes sebuah perusahaan marmer yang hendak memotong gunung batu tanpa seizin masyarakat Mollo, Nusa Tenggara Timur. Mama Aleta bersama 150 perempuan lainnya duduk di kaki gunung batu sambil menenun kain tradisional sebagai bentuk protes. Protes yang bersahaja, tanpa kekerasan.

Herawati Sudoyo, ahli genetika yang mempelajari kode genetika populasi. Selama 20 tahun  ia berkunjung ke 19 pulau untuk mempelajari kode genetika lebih dari 130 suku di Indonesia. Ilmunya ini ternyata juga berguna ketika ada kasus pengeboman Kedutaan Australia tahun 2014. Dengan metode yang sudah biasa ia lakukan, Herawati berhasil mengidentifikasi pelaku bom dengan sangat cepat.

Evvy Kartini, satu dari 10 ahli nuklir dunia. Selain ahli nuklir Evvy juga penemu penghantar listrik berbahan gelas. Penemuannya ini membuatnya diajak bekerja sama oleh berbagai negara maju di 5 benua.  Namun hal ini tidak membuatnya terlena, ia tidak lupa tanah kelahirannya. Ia kembali ke Indonesia dan mengaplikasikan penemuannya sebagai bahan baterai litium yang ramah lingkungan.

Engel Tanzil, galerist yang membangun artspace Dia.Lo.Gue di kawasan Kemang Jakarta,  galeri yang nyaman, modern, dan bebas diakses oleh semua orang termasuk bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Engel kerap membuat pameran seni dengan berbagai konsep yang menarik. Salah satunya  pameran "Warna-Warna" dimana Engel berkolaborasi dengan penyanyi Andien untuk   menampilkan karya anak-anak difabel.

Masih banyak hal-hal menarik dan inspiratif dari kisah setiap tokoh yang ditulis. Yang juga menarik adalah sebagian besar kesuksesan mereka berawal dari pengalaman mereka dimasa kecil bersama keluarga mereka. Hal ini membuktikan bahwa pengaruh lingkungan keluarga adalah salah satu penentu sukses tidaknya seseorang di masa depannya.
 
Selain isinya yang inspiratif buku ini juga dikemas secara artistik. Tidak hanya di cover bukunya saja yang bernuansa seni, di halaman dalamnya juga tidak luput dari sentuhan seni. Semua tokoh yang dibahas diberi ilustrasi indah  yang merepresentasikan profesi, kepribadian, dan karakter dari masing-masing tokohnya. Uniknya setiap kisah diilustrasikan oleh ilustrator yang berbeda sehingga membuat setiap kisah menjadi unik karena memiliki kekhasan sendiri sesuai guratan tangan masing-masing ilustrator.

Kehadiran buku ini patut diapresiasi setinggi-tingginya karena  mengenalkan tokoh-tokoh perempuan hebat yang patut diteladani. Karena  masing-masing dikisahkan secara singkat buku ini juga dapat  menjadi pintu pembuka bagi pembacanya untuk mengenal tokoh-tokoh yang ada lebih dalam lagi. Selain itu buku ini juga membuka mata kita semua, ternyata ada banyak perempuan-perempuan Indonesia yang hebat yang namanya jarang terdengar namun ternyata memberi kontribusi luar biasa pada Indonesia.

Dan sesuai dengan harapan kedua penulisnya buku ini juga dapat menginspirasikan anak-anak perempuan Indonesia untuk bermimpi tinggi, dan bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. 


 Grace Kadiman & Abigail Limuria, penulis Lalita
sumber foto : https://www.goodnewsfromindonesia.id


@htanzil

Thursday, September 05, 2019

Perpustakaan (Dua) Kelamin : Buku dan Dendam Yang Tak Terbatas

[No. 385]
Judul : Perpustakaan (Dua) Kelamin - Buku dan Dendam yang Tak Terbatas
Penulis : Sanghyang Mughni Pancaniti
Penerbit : Penerbit Semesta
Cetakan : I, Maret 2019
Tebal : 180 hlm
ISBN : 978-602-14549-3-0
 
Novel  tentang orang-orang yang mencintai dan menghargai buku  ini merupakan kelanjutan dari novel sebelumnya Perpustakaan Kelamin karya penulis dan praktisi buku Sanghyang Mughni Pancaniti. 

Meneruskan ending di novel sebelumnya yang berakhir saat  Hariang berada di ruang operasi untuk operasi pengangkatan kelaminnya yang dijual kepada Ulun,  temannya seharga 1,5 milyar untuk membangun perpustakaan peninggalan almarhum ayahnya yang terbakar habis. Novel keduanya ini dimulai dengan sebuah pesan singkat dari Drupadi, kekasih Hariang yang mengabarkan bahwa Ibunya  telah meninggal dunia.

Berita duka tersebut menghancurkan hatinya sehingga walau masih dirawat di Jakarta akibat luka operasinya belum pulih betul Hariang nekad dengan perasaan sedih bercampur dendam pulang ke rumahnya di Cigendel - Sumedang agar bisa mengantar ibunya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Rasa nyeriku tiba-tiba terseret pada si Ulun, lelaki yang sudah kuanggap sebagai kakak tapi bangsat! Dialah penyebab semuanya yang kumiliki hilang. Hatiku menghujat, "Kau Ulun, mengapa melakukan kekejian ini kepadaku dan ibuku? Ketika kau membakar perpustakaanku dan mengakibatkan 11.000 buku hancur, ibu yang sangat kucintai  jadi tak waras dan kehilangan kesadaran sebagai manusia. Lalu kujual kelaminku kepadamu seharga 1,5 milyar untuk mendirikan perpustakaan, supaya ibu sembuh, seperti semula. Tapi lihat sekarang, bukannya sembuh, ibu justru menjadi badan tanpa nyawa yang siap ditelan tanah. Kau telah membunuhnya! Kau telah membunuhnya!"
(hlm 2)

Sesampainya di kampung halamannya Hariang mendapat kejutan yang tidak terduga yang membuat semangatnya bangkit kembali untuk mendirikan kembali perpustakaannya yang hancur.  Selain itu walau kini ia hidup tanpa kelamin namun keinginnya untuk  menikahi Drupadi tetap ada.  

Jika di novel sebelumnya dikisahkan bagaimana Hariang berusaha untuk memperoleh uang untuk membangun kembali perpustakaannya yang terbakar agar ibunya kembali dapat sembuh dari ketidakwarasannya, di novel keduanya ini dikisahkan bagaimana akhirnya uang yang diperolehnya itu dipakainya untuk membangun perpustakaan.  Selain itu yang tidak kalah menariknya adalah kisah bagaimana Hariang berusaha untuk memenuhi keinginan Drupadi yang meminta mas kawinnya kelak berupa sebuah buku yang ditulis oleh Hariang sendiri.

Konflik dalam novel ini terbangun dari Hariang yang kini tidak memiliki kelamin. Tidak seorangpun termasuk Ibunya sendiri dan Drupadi yang tahu kalau kelamin Hariang sudah dijual agar ia bisa  membangun kembali perpustakaan ibunya yang hancur. Tanpa memiliki kelamin bagaimana nasib pernikahannya kelak? Apakah ia harus membuka rahasianya ini pada Drupadi, dan jika Drupadi telah mengetahuinya masihkan ia mencintainya? Pertanyaan ini terus menghantui Hariang. Selain itu kelaminnya yang telah dijual kepada Ulun yang ternyata orang yang membakar perpustakaan ibunya membuat Hariang dikuasai oleh perasaan dendam pada Ulun. Dendam yang pada akhirnya tidak terbalaskan karena Ulun sendiri tewas karena kecelakaan,

Seperti di novel sebelumnya, konflik dalam novel ini berkelindanan dengan hal-hal yang berhubungan dengan buku dari berbagai genre dan penulis-penulisnya. Ada ratusan buku dan penulis baik lokal maupun mancanaegara  muncul disebutkan dalam buku ini. Dari yang serius sampai yang  lucu tentang buku muncul lewat dialog-dialog antar tokoh-tokohnya.  Misalnya saja saat teman-teman Hariang berdiskusi tentang kebiasaan mereka dalam membaca dan mengoleksi buku-buku dengan tema tertentu yang memunculkan julukan-julukan sebagai berikut :

Bibliokawe = kolektor buku-buku bajakan
Bibliokidal = kolektor buku-buku 'kiri'
Biblionista = kolektor  buku-buku kontroversial/banyak dikecam orang
Bibliotutup = kolektor buku-buku yang penerbitnya sudah tidak menerbitkan buku lagi

Lalu ada juga tentang proses kreatif penulis-penulis terkenal. Ketika Hariang  mengalami kebuntuan saat menulis buku untuk mas kawinnya ia mencoba mengikuti cara-cara yang unik dari  penulis-penulis dunia  antara lain; menulis sambil berdiri selama enam jam seperti Hemingway, HB Jasin, Virginia Wolf. Duduk di dalam bak mandi yang telah dikuras seperti Agatha Christie saat ingin membuat cerita yang plotnya rumit. Menulis di atas kertas warna pink seperti Alexander Dumas dan Emha Ainun Nadjib, dll.

Atep Kurnia (penulis, peneliti literasi) dalam catatan penutupnya mengatakan bahwa novel ini dapat dikelompokkan sebagai Metabuku atau buku yang membicarakan buku karena banyak dialog-dialog dalam novel ini yang langsung merujuk pada beberapa buku, misalnya tentang rambut gondrong berdasarkan buku Dilarang Gondrong karya Aria Wiratama Yudhistira, para pencuri buku dari buku The Man Who Loved Books to Much karya  Hoover Barlet, atau keunikan para penggandrung buku berdasarkan buku Memposisikan Buku di era Cyberspace karya Putut Widjanarko.

Dengan demikian   pembaca novel ini akan dirujuk ke berbagai buku sehingga bukan tidak mungkin novel ini menjadi pintu pembuka  bagi pembaca yang penasaran ingin  membaca  buku-buku yang disebut-sebut didalam novel ini.

Sepertinya penulis masih akan melanjutkan kisah Hariang, di akhir kisah ada sebuah clue yang menggiring persepsi pembaca bahwa masih akan ada kelanjutannya. Semoga penulis diberikan energi dan kreatifitas yang melimpah sehingga petualangan Hariang dan kisah tentang buku-bukunya akan berlanjut menjadi sebuah trilogi, bahkan menjadi tetralogi. Bukan Tetralogi Bumi Manusia melainkan Tetralogi Perpustakaan Kelamin.

@htanzil