Friday, April 24, 2015

Pupur & Gincu Buat Bandung : Album Kenangan 3 Jam Peringatan 50 Tahun Konperensi Asia Afrika

[No.354]
Judul : Pupur & Gincu buat Bandung - Album Kenangan 3 Jam Peringatan 50 Tahun Konperensi Asia Afrika.
Penulis : Sudarsono Katam
Penerbit : Api Bandung
Cetakan : I, April 2015
Tebal : 152 hlm
ISBN : 978-979-1361-21-7

Buku ini merupakan hasil pengamatan kritis Sudarsono Katam, penulis buku-buku Bandung atas usaha-usaha yang dilakukan pemerintah kota Bandung dalam mempersiapkan peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 2005. Sama seperti sekarang dimana Bandung sedang bersolek untuk menjadi tuan rumah yang baik bagi Peringatan 60 tahun KAA, hal ini juga yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung sepuluh tahun yang lampau dimana ruas-ruas jalan dan gedung yang dilalui para delegasi dan tamu undangan lebih menjadi indah dan bersih dari biasanya

Penulis mengistilahkan apa yang dilakukan Pemkot Bandung saat itu seperti seorang wanita yang berpupur dan gincu (bedak dan lipstik) hanya untuk berpesta atau memikat lawan jenisnya. Begitupun kota Bandung yang saat itu  tampak cantik hanya karena ingin tampil memesona di hadapan tamu-tamu asing dari peserta KAA. Setelah perhelatan selesai pupur dan gincu pun langsung memudar dan Bandung kembali seperti sedia kala tanpa riasan apapun bahkan lupa kembali bagaimana caranya bersolek

Dalam memaparkan bagaimana Bandung pernah bersolek sedemikian rupa dalam perhelatan peringatan KAA seperti sekarang, penulis membagi bukunya ke dalam 5 bagian. Karena buku ini bertitel "Album Kenangan" maka tiap bagiannya berisi ulasan dan puluhan foto-foto yang diambil dari berbagai sumber literatur dan foto2 jepretan Lulus Abadi, fotografer yang pernah menjadi partner penulis di beberapa bukunya.

Bagian pertama buku ini berisi tentang Konferensi Asia Afrika 1955, di bagian ini dipaparkan sejarah terbentuknya gagasan untuk menyelenggarakan KAA hingga terselenggaranya KAA di Bandung pada tanggal 18-24 April 1954 yang dihadiri oleh 29 kepala negara/pemerintahan. Di bagian ini terdapat puluhan foto-foto bersejarah seputar KAA 1955 yaitu foto2 persiapan menjelang KAA, kedatangan delegasi, suasana sidang, antusias masyarakat Bandung, mobil-mobil pinjaman dari masyarakat untuk melayani para tamu konferensi, dll

Bagian kedua berisi tentang Persiapan peringatan 50 tahun KAA 1955 pada tahun 2005 yang lalu. Di bagian ini penulis memaparkan bagaimana Bandung mempersiapkan diri untuk menyelenggarakan ulang tahun emas KAA melalui perbaikan sarana yang akan digunakan selama peringatan, perbaikan jalan-jalan yang akan dilalui peserta, keindahan kota dan sistem keamanan.

Dari sisi keindahan kota  perubahan yang paling menonjol pada saat itu adalah penghijauan melalui penananaman pohon-pohon pelindung dan penataan taman-taman kota. Menjelang hari 'H' di trotoar jalan di depan Gedung Merdeka dihiasi taman bunga yang terbuat dari susunan bunga dalam kantung-kantung plastik dan pot bunga berukuran besar. Suasana ini mendorong banyak masyarakat berfoto diantara bunga-bunga beraneka warna. Karena kepedulian dan semangat Walikota Bandung yang saat itu dijabat oleh Dada Rosada untuk menghijaukan Bandung ia kemudian dijuluki "Wagiman", Walikota Gila Taman.

Selain penataan taman, beberapa gedung  yang terbengkalai seperti bekas gedung Miramar, lahan kosong bekas TB Sumur, dll ditutup dengan lembaran seng yang diberi lukisan bunga-bungaan dan baliho. Sedangkan bekas Hotel Swarha yang tadinya kumuh kembali bersinar karena dicat ulang. Yang fenomenal tapi lucu adalah kerangka bangunan bertingkat yang tidak selesai dibangun di jalan Lembong dibalut kain warna-warni sehingga mirip lontong raksaksa.

Dalam hal infrastruktur perubahan yang paling mendasar antara lain selesainya jalan tol Purwakarta-Padalarang sehingga para delegasi yang menggunakan jalan darat dari Jakarta bisa menggunakan ruas jalan tol ini dalam waktu tempuh hanya 2 jam. Sayangnya jalan layang Pasupati yang saat itu sedang dibangun belum selesai sehingga tidak dapat dipertontonkan pada para delegasi, padahal jembatan layang Pasupati merupakan jembatan layangpertama di Indonesia yang menggunakan alat peredam gempa di tiap tiang penyangganya dan dari segi arsitektur merupakan jembatan layang yang indah dengan kombinasi jembatan tiang beton dengan jembatan kabel. Di bidang transportasi jika dulu panitia meminjam mobil-mobil mewah dari masyarakat maka saat itu panitia meminjamnya dari Group Indomobil Internasional.

Selain itu bandara Husein Sastranegara - Bandung ditingkatkan kinerjanya dengan memperpanjang landas pacu agar pesawat jenis boeing besar yang membawa para kepala pemerintahan bisa mendarat dengan mulus. Dari seluruh persiapan tersebut penulis mengungkapkan bahwa Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) KAA 2005 telah menelan biaya puluhan milyar rupiah.

Di bagian ketiga, buku ini berisi ulasan dan foto-foto saat Perayaan 50 tahun KAA. Di sini kita akan melihat adanya demonstrasi damai dari para mahasiswa dan LSM Bandung yang menyatakan bahwa KTT AA 205 telah menyimpang dari spirit Dasasila Bandung karena lebih mementingkan aspek dan kerjasama ekonomi tanpa menonjolkan hak kemerdekaan bangsa-bangsa negara Asia Afrika. Lalu terungkap pula bagaimana setelah Historical Walk yang dilakukan peserta delegasi selesai maka masyarakat Bandung pun tumpah ruah melakukan historical walk sendiri seperti ldengan semangat dan kebanggaan layaknya para anggota delegasi KAA.

Di bagian ke empat dibahas mengenai kondisi Bandung paska perayaan 50 tahun KAA 1955.

"Banyak anggota masyarakat meramalkan bahwa keindahan Kota Bandung semasa tiga jam peringatan 50 Tahun Konperensi Asia Aftika tidak bertahan lama karena sama sekali tidak tercermin komitmen Pemerintah Kota Bandung untuk tetap menjaga dan mempertahankan keindahan kota pasca Peringatan 50 Tahun Konperensi Asia-Afrika. Ramalan tersebut menjadi kenyataan, setelah 10 hari pasca peringatan, keindahan kota Bandung mulai kembali pada kondisi sebelum peringatan." 
(hlm.129)

Apa yang dipaparkan oleh penulis di atas dibuktikan dengan foto-foto bagaimana semua keindahan itu memudar, fasilitas yang dibangun banyak yang rusak bahkan hilang karena kurangnya kesadaran masyarakat dan  pemerintah kota dalam merawat semua keindahan dan fasilitas yang telah susah payah dibangun dengan biaya puluhan milyar rupiah itu

Sebagai sebuah buku yang mendokumentasikan KAA 1955 dan peringatan 50 tahun KAA 1955 secara narasi buku ini berhasil merekamnya dengan baik sayangnya secara visual buku ini gagal menghadirkan foto-foto yang bisa dinikmati oleh pembacanya karena kualitas cetak foto-foto dalam buku ini bisa dikatakan buruk. Untungnya narasi atau ulasan dari penulis yang padat namun berisi ini begitu kuat sehingga pesan yang hendak disampaikan penulis melalui buku ini tetap dapat sampai ke para pembacanya.


Selain itu ada kejanggalan dalam penulisan kata konferensi. Sub judul dan seluruh isi buku ini  mengunakan kata 'konperensi' bukannya 'konferensi', yang mana yang betul? Penulisan yang baku dan umum di media-media cetak selama ini adalah menggunakan 'f'. Sedangkan jika merujuk pada KBBI maka yang tertera adalah 'konferensi'.

 konferensi/kon·fe·ren·si/ /konferénsi/ n rapat atau pertemuan untuk berunding atau bertukar pendapat mengenai suatu masalah yg dihadapi bersama; permusyawaratan; muktamar: 
(Sumber : KBBI-online)


Terlepas dari kualitas foto yang kurang memadai dan pilihan penggunaan kata konperensi, sebagai sebuah buku album kenangan, melalui buku ini kita bisa belajar dari peristiwa 10 tahun yang lampau dimana Bandung hanya berpupur dan gincu pada saat ada perhelatan besar saja karena ketika perhelatan  itu telah selesai Bandung kembali pada keadaannya yang semula karena kurangnya kesadaran pemerintah kota dan warga Bandung untuk mempertahankan kemolekannya. Buku ini menjadi pengingat sekaligus membangun kesadaran kita agar kita tidak mengalami kesalahan yang sama setelah perayaan akbar 60 Tahun Konferensi Asia Afika ini berakhir.

"Puluhan milyar hanya untuk tiga jam perayaan, bukanlah uang yang sedikit bila dilihat manfaatnya bagi kesejahteraan warga Bandung yang tidak mampu. Apakah "pupur dan gincu" tersebut akan dapat langsung menjadi bagian dari keindahan kota Bandung atau hanya sekedar kemubaziran demi gengsi kota dan pemerintah kota Bandung, hanya waktu yang akan membuktikan" 

(Sudarsono Katam, Pupur dan Gincu buat Bandung, hlm 61) 


@htanzil

Wednesday, April 08, 2015

Album Bandoeng En Omstreken 1845-1910an

[No. 353]
Judul : Album Bandoeng en Omstreken 1845-1910an
Penulis : Sudarsono Katam
Penerbit : Khazanah Bahari
Cetakan : I, Februari 2015
Tebal : 250 hlm
ISBN : 978-602-14732-6-9

Sebagai sebuah bukti sejarah, foto adalah salah satu dokumen sejarah yang akurat karena mampu memperlihatkan kondisi visual dari sebuah obyek tertentu di masa lampau. Buku ini merupakan sebuah album foto sejarah yang menampilkan panorama Bandung dan sekitarnya (Bandoeng en omstreken) di tahun 1845-1910an yang disusun oleh Sudarsono Katam yang kerap menulis buku-buku tentang Bandung tempo doeloe.

Buku ini menyajikan lebih dari 250 foto yang diambil dari berbagai literatur dan kartu pos di masa lampau yang merupakan karya pionir fotografer di Hindia Belanda (Indonesia) sejak tahun 1845-1910an. Menurut penulis pemilihan periode ini sengaja dilakukan karena pada masa itu kita akan melihat panorama Kota Bandung dan sekitarnya yang pada masa itu masih begitu asri, bersih, dan hijau. Pembangunan kota Bandung sendiri mulai menggeliat pada tahun 1910 hingga menjelang 1920 dimana setelah itu Bandung memasuki masa keemasannya di era 1930an.








Album foto dalam Buku ini dibagi menjadi tiga bagian besar, yang pertama tentang Panorama Bandung dimana kita akan melihat panorama jalan Grote Postweg (Jl Asia Afrika) dan alun-alun Bandung, Bragaweg, Pasar Baroeweg, Kebon Jukut, sekolah, stasiun kereta api, rumah residen, sungai Cikapundung, Seputar kota, dan Seni Budaya yang menampilkan foto-foto pagelaran seni, upacara festival, foto pernikahan, dll)



Di bagian Warga Bandung terdapat foto-foto pemuka Kabupaten yaitu Bupati Bandung (RAA Wiranatakoesoema III, IV, R.A Koesoemadilangga, Wedana Cisondere, jaksa Bandung (1870). Lalu ada pula foto para tokoh asing yaitu Mijnheer Gerstaeker, Franz Willem Junghuhn, dan dr. Issac Groneeman (1832-1912) yang merupakan satu-satunya dokter di kawasan Bandung dan sekitarnya pada masa itu.  Selain itu ada pula foto-foto penduduk Bandung di masa itu plus tabel komposisi penduduk kota Bandung 1846-1920.


Di bagian akhir "Sekitar Bandung" menampilkan foto-foto panorama wilayah Cimahi, Lembang, Situ Patenggang, Air Terjun, Jaringan Rel Kereta Api, pegunungan, Pedesaan, dan panorama sekeliling Bandung seperti situ Jatinangor, Pangalengan, Alun-alun Banjaran, Cicalengka, dll.

Secara keseluruhan semua foto dalam buku ini sangat menarik karena memberikan kita visualisasi kota Bandung dan sekitarnya sebelum kota Bandung mengalami masa emasnya. Walau sebagian besar foto-fotonya tersaji secara tajam namun ada juga beberapa foto yang agak buram. Hal ini bisa dimaklumi karena mungkin kondisi foto asli yang sudah tidak baik lagi karena termakan usia atau beberapa foto kecil yang diperbesar sehingga gambarnya agak pecah. Mungkin sebaiknya buku ini dicetak di atas kertas art paper agar kualitas fotonya dapat tersaji dengan sempurna namun jika hal ini dilakukan tentunya harga buku akan semakin mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat luas. 


Tidak hanya menampilkan foto, masing-masing bagian dan foto diberi keterangan yang singkat namun padat informasi sehingga membantu pembaca mengetahui latar dari setiap bagian dan foto-fotonya. Sayangnya ada satu foto yang kurang lengkap keterangannya yaitu pada foto  Mijnheer Gerstaeker yang hanya disebutkan bermukim di lembang tetapi sering ke Bandung.


Selain foto beserta keterangan, di bagian Pendahuluan kita akan mengetahui sejarah perkembangan fotografi di Hindia Belanda yang dimulai pada tahun 1841 ketika pemerintah Hindia Belanda mendatangkan dr. Jurrian Munnich (1817-1865) untuk melakukan pemotretan di Hindia Belanda terutama di Jawa. Setelah Jurrian fotografer-fotografer lain berdatangan antara lain Walter Bentley Woodbury dan James Page yang tiba di Batavia pada tahun 1857, mereka berdua dianggap sebagai peletak tonggak pendokumentasian segala sesuatu di Hindia Belanda sehingga foto menjadi bagian dokumen kesejarahan Belanda.  Lalu ada pula sedikit tentang Kassian Cephas (1844-1912) fotografer pribumi pertama. Sayangnya di bagian ini tidak disebutkan satu pun fotografer abad ke 19 yang tinggal dan membuka studio foto di Bandung. Apakah memang di saat itu belum ada fotografer yang bermukim dan membuka usahanya di Bandung?

Sebagai sebuah album foto Bandoeng periode 1845-1910an buku ini sangat baik untuk memahami secara visual Bandung di abad ke 19. Seperti kita tahu sebagian besar foto-foto Bandoeng tempo doeloe yang sering kita lihat baik di buku, majalah, koran, internet, dll berasal dari abad ke-20, terutama di tahun 1920-1930an ketika kota Bandung mengalami masa emas dalam pembangunan fisiknya. Karenanya buku ini dapat menjadi sangat berharga sebagai sumber referensi dalam melihat kota Bandoeng tempo doeleo sebelum memasuki masa emasnya.

(Kantor Pos Bandung 1900an)

Buku ini juga dapat menjadi pembanding untuk situasi kota Bandung dulu dan kini. Dan seperti kata penulisnya semoga buku ini dapat memotivasi pembaca untuk bersama-sama lebih mencintai, memelihara, menjada, da melestarikan warisan (heritage) kota Bandung sebagaimana diamanahkan leluhur kepada warga kota dan generasi selanjutnya.

@htanzil

Monday, March 30, 2015

693 Km, Jejak Gerilya Sudirman

[No.352]
Judul : 693 Km - Jejak Gerilya Sudirman
Penulis : Ayi Jufridar
Penerbit : Noura Books
Cetakan : I, Januari 2015
Tebal : 312 hlm
ISBN : 978-602-1306-07-9

Buku ini adalah novelisasi jejak sejarah Panglima Besar Jenderal Sudirman ketika ia bersama pasukannya bergerilya sepanjang 693 km selama 7 bulan untuk menyerang pos-pos pertahanan Belanda. Setting Novel ini dimulai di lapangan Andir - Bandung  ketika Jenderal Spoor yang pada tanggal 18 Desember 1948 memulai operasi yang diberi nama Operasi Burung Gagak dengan target merebut kembali Yogyakarta (Ibukota Republik Indonesia saat itu), menghancurkan Tentara Nasional Indonesia yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam satu pukulan, serta  menangkap Sukarno berserta pengikut-pengikutnya.

Menghadapi serangan dari Belanda, Sudirman tidak menyerah begitu saja, walau dalam keadaan sakit dan baru saja pulang dari Panti Rapih ia memilih untuk terjun langsung mengangkat senjata. Tekadnya sudah bulat sehingga ketika ia dipanggil ke Gedung Agung oleh Presiden Sukarno ia menyampaikan tekadnya dan berharap Presiden pun ikut bersamanya untuk mengangkat senjata.

"Ini kesempatan untuk mengajak Sukarno dan Bung Hatta mengangkat senjata seperti yang mereka janjikan dulu, pikir Sudirman. Belanda sudah melakukan agresi militer untuk kali kedua. Indonesia harus mempertahankan kemerdekaan juga dengan kekuatan militer" 
(hlm.65)

Namun apa yang diharapkan Sudriman tidak menjadi kenyataan. Sudirman kekecewa terhadap pilihan Sukarno-Hatta yang memilih jalan diplomasi padahal sebelumnya Bung Karno pernah berjanji akan memimpin sendiri perang gerilya jika Belanda menyerang, bahkan janji tersebut dituangkan dalam keputusan resmi Dewan Siasat.

Walau Bung Karno dan bung Hatta memilih jalur diplomasi Sudirman tetap memilih untuk berjuang mengangkat senjata dengan cara gerilya walau saat itu kesehataannya belum pulih benar. Masa-masa gerilya Sudriman berserta pasukannya inilah yang menjadi inti kisah dari novel ini. Dengan penuturan yang mudah dibaca dan mengalir penulis melukiskan suka duka, semangat, dan pergolakan batin Jenderal Sudirman saat bergerilya bersama pasukannya yang setia. Perjuangan yang secara fisik dan emosi begitu melelahkan. Sementara ia bergerilya untuk menyerang pos-pos pertahanan Belanda, Jenderal Sudirman dan pasukannya juga harus terus menghindar dari kejaran pasukan Belanda yang terus menerus memburunya.

Di novel ini penulis mendeskripsikan dengan baik bagaimana beratnya perjalanan gerilya Sudirman bersama pasukannya. Salah satu bagian dari kisah perjalanan gerilya Sudirman yang terkenal dan melekat dalam benak kita hingga kini adalah bagaimana Sudirman yang dalam keadaan sakit harus ditandu untuk melanjutkan perjalanan heroiknya. Walaupun hanya duduk di tandu namun hal itu tetaplah merupakan hal yang sulit dan melelahkan baik bagi Sudirman maupun penandunya yang adalah para sukarelawan, penduduk sipil dari desa-desa yang dilalui Sudirman.

"Sinar matahari yang panas membuat para penandu lebih lelah cepat sehingga beberapa kali mereka harus bergantian. Dengan dua penandu di depan dan dua penandu di belakang sesungguhnya mereka sudah berbagi berat badan Sudirman yang ringkih. Namun, rasa lelah yang menyerang tak mampu mereka hindari, apalagi beberapa di antaranya tidak mengenakan baju sehingga gesekan bambu membuat kulit bahu mereka melepuh. Padahal mereka sudah menggunakan kain gombal sebagai alat." 
(hlm 94)

"Di dalam tandu, tubuh Sudirman terhuyung ke kiri, kanan, depan, dan belakang seperti gempa telah mengguncang bumi. Bumi bagi Sudirman kali ini menjadi sangat kecil dan pengap... di dalam tandunya, Sudirman merasa sesak. Tangannya mencengkeram sandaran kursi kuat-kuat agar tubuhnya tidak terjatuh. Ia membutuhkan lebih banyak tenaga di tengah guncangan yang begitu hebat." 
(hlm97)

Tidak hanya itu, ketika tandu sulit digunakan di jalananan yang terjal, maka Sudirman pun harus berjalan kaki, dan ketika ia tidak sanggup berjalan kaki maka Sudirman harus digendong oleh pengawal pribadinya yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri yaitu, Nolly (Tjokpropranollo, 1924-1988) yang kelak menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 1977-1982.

(Jenderal Sudirman berserta pasukannya, Tjokropranolo yang mengenakan baju hitam)

Berbagai kisah menarik lainnya dan seru terungkap dalam novel ini seperti bagaimana Sudirman dan pasukannya harus menghindar dari buruan tentara Belanda dengan cara menyamar atau membuat Sudirman palsu lengkap dengan tandunya untuk mengecoh tentara Belanda. Dikisahkan pula bagaimana dalam perjalanan gerilyanya Sudirman menemukan sebuah kenyataan pilu bahwa rakyat bisa terbeli kesetiaannya kepada negaranya karena madat seperti yang terjadi di daerah Pacitan.

"Rakyat di Pacitan dan Ponorogo sudah biasa nyandu. Belanda menggunakan madat untuk menguasai orang-orang tertentu, orang berpengaruh. Para preman yang suka mengganggu masyarakat. Mereka dijadikan antek-antek Belanda dengan madat sebagai pengikatnya....Di sini, rakyat tanpa madat bisa berkhianat...." 
(hlm 270)


Seperti kita ketahui, Sudirman juga tidak pernah lepas dari kerisnya, di novel ini dikisahkan bagaimana ia memperoleh keris dengan cara yang gaib dan bagaimana kerisnya itu atas seizin Allah melindunginya dari serbuan Cocor Merah (pesawat Belanda) yang  memborbadir sebuah desa dimana ia berada. Dalam keadaan terjepit itu Sudirman memerintahkan anak buahnya berdoa dan keajaiban pun terjadi.

(Jenderal Sudirman dan keris yang selalu menyertainya)

"Setelah ia kembali memanjatkan doa dengan mata terpejam, tiba-tiba kerisnya berdiri tegak. Ujungnya menunjuk ke langit. Suara cocor merah yang semula keras, perlahan menjauh, terdengar sayup-sayup, lalu menghilang dan tak terdengar lagisetelah keris roboh di atas tikar dengan ujung yang masih tetap menghadap ke Makkah."

"Sudirman mengucapkan doa untuk meningatkan dirinya agar tidak bersikap riya. bukan dirinya yang mampu mengusir Cocor Merah, bukan pula sebilah keris yang hanya benda mati, melainkan kekuasaan Allah yang memberikan kelebihan pada segala sesuatu yang dikehendakinya." (hlm187-188)

Masih banyak hal-hal menarik yang dapat kita baca sepanjang perjalanan gerilya Jenderal Sudirman beserta anak buahnya. Tidak hanya petualangan, namun kegalauan yang dialami Sudirman selama bergerilya juga terungkap di sini. Yang paling menonjol adalah kekecewaannya terhadap para pejabat sipil yang memilih jalan perundingan yang hasilnya selalu menguntungkan Belanda.

"Kita tidak boleh tertipu lagi dengan politik perundingan" Sudirman berharap ketiga pejabat sipil itu menyampaikan pandangan militer tersebut kepada pejabat sipil lainnya, agar mereka tidak buru-buru menerima tawaran perundingan dari Belanda atau pendukung mereka. "Pemerintah jangan mengabaikan hasil perjuangan tentara dan rakyat di medan perang," kata Sudirman
(hlm 218)

Belanda sudah dibuat sesak napas di medan gerilya. Itu harus menjadi pertimbangan pemimpin negara dalam menghadapi Belanda. Sudirman khawatir, perjuangan gerilya ini akan berakhir di meja perundingan yang membuat Indonesia terpuruk dalam lubang yang sama
(hlm 277)

Di hadapan  para perwira tinggi dalam rapat Sudirman  tidak lagi menutup kekecewaannya kepeda pemerintahan sipil. "Delegasi kita terlalu lemah dalam mengajukan usul-usul. Mereka telah melemahkan arti perjuangan kita selama ini. Mereka tidak percaya pada kekuatan militer sendiri. Lihat saja, dalam persetujuan ini kita disebut sebagai 'segerombolan pengikut senjata'. Kita tidak dianggap sebagai tentara. Hanya gerombolan, seperti preman..." 
(hlm 291)

Masih banyak hal-hal menarik dari novel tentang perjalanan gerilya Jenderal Sudirman berserta anak buahnya ini. Novel ini berakhir ketika Sudirman kembali ke Jogya untuk menghadap Bung Karno, di lembar terakhir kita akan melihat bagaimana ia masih menyimpan kekecewaan atas perjuangan diplomasi beserta hasilnya yang dilakukan pejabat sipil. Di sini Sudirman sampai pada titik galaunya dimana terbesit kienginannya untuk mundur dari jabatannya sebagai panglima TNI.

Keputusanku sangat bergantung pada hasil pembicaraan dengan Sukarno dan Mohammad Hatta nanti, atau setelah parade militer berlalu. Apakah akan mundur sebagai panglima TNI atau tidak, aku tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Sekarang ini tidak lagi berada di medah gerilya yang menuntut keputusan cepat dan strategis. Perjanjian politik sudah memadamkan api gerilya.
(hlm 310)

Karena ini novel sejarah yang ditulis berdasarkan riset dari fakta-fakta sejarah yang benar-benar terjadi, hal ini tentunya membuat pembaca bisa memahami dan mengenal sejarah perjuangan Sudirman dengan cara yang mengasyikan layaknya novel-novel fiksi. Selain itu sosok Sudirman dalam novel ini tidak hanya digambarkan sebagai sosok hero semata melainkan tampil apa adanya sehingga  memberikan kita gambaran seorang pahlawan secara manusiawi. Karenanya tidak berlebihan rasanya kalau buku sangat baik dibaca oleh para generasi muda agar dapat memahami bagaimana situasi perjuangan saat itu dan bagaimana salah satu pahlawan nasional, Jenderal Besar berjuang tanpa pamrih di tengah keterbatasan kesehatannya demi cintanya pada bangsanya.

@htanzil

Monday, March 02, 2015

Dari Villa Isola ke Bumi Siliwangi

[No. 351]
Judul : Dari Villa Isola ke Bumi Siliwangi
Penulis : Sudarsono Katam & Lulus Abadi
Penerbit : Pustaka Jaya
Cetakan : I, Januari, 2015
Tebal : 134 hlm
ISBN : 978-979-419-437-9


Villa Isola adalah salah satu bangunan terindah peninggalan era kolonial yang hingga kini masih tegak berdiri dengan megahnya. Di balik kemegahannya, bangunan yang selesai dibangun pada tahun 1933  ini ternyata menyimpan sejarah panjang dan kemisteriusan pemilik pertamanya, D.W. Barrety yang meninggal secara tragis setahun setelah rampungnya villa tersebut.

Sejarah panjang Villa Isola (villa terpencil) sejak awal dibangun hingga kini bernama Bumi Siliwangi plus kisah tragis D.W Barrety ini terdapat dalam buku ini. Secara sistematis penulis memulai buku ini ke dalam delapan bagian, dimulai dari Lokasi Villa Isola di masa Hindia Belanda, lalu tentang Rancang Bangun Villa Isola dimana di bagian ini dibahas segi arsitektural bangunannya yang unik dan mendahului zamannya yaitu gaya Streamline Art Deco dengan elemen art deco (Art Deco dengan lengkungan Streamline) rancangan  CP. Wolff Schoemaker yang membuka jalan bagi A.F Aalbers untuk membuat Savoy Homan sebagai salah satu  karya monumentalnya. Di bagian ini juga secara deskriptif penulis menginformasikan ruangan-ruangan yang ada  di tiap lantainya beserta taman-taman yang mengelilinginya.

Di bagian ketiga, buku ini menyajikan riwayat hidup pemilik Villa Isola, Dominique Willem Berretty (1890-1934) kelahiran Jogyakarta yang merupakan anak dari pasangan ayah berdarah Italia - Perancis dan ibu orang Jawa (Maria Salem). Berretty yang pernah bekerja sebagai jurnalis di Java Bode (1915) ini akhirnya mendirikan perusahaan jasa berita dan telegraf ANETA di Batavia yang membuatnya menjadi seorang milyader dan  raja media yang paling berpengaruh di Hindia Belanda karena kemampuannya memonopoli berita-berita di Hindia Belanda saat itu . Berretty adalah orang yang sangat energik, tidak saja dalam kehidupan bisnisnya , tetapi juga kehidupan pribadinya. Antara tahun 1912-1934 ia enam kali menikah dan mempunyai lima anak.

Gosip-gosip tentang D.W. Berretty yang flamboyan serta gaya hidupnya yang mewah, pergaulannya yang luas dan dikelilingi oleh para wanita cantik membuat dirinya banyak digunjingkan orang. Karenanya di akhir bagian ini penulis mengetangahkan gosip-gosip tentang Berretty. Salah satu gosip yang sempat beredar adalah tentang salah seorang anak perempuannya yang bunuh diri dengan cara gantung diri di salah satu pohon besar di halaman Villa Isola. Sedangkan gosip yang paling sensasional mengatakan bahwa D.W. Berrety menjalin asmara dengan putri Gubernur Jendral B.C. de Jonge. Hubungan ini tidak direstui oleh de Jonge sehingga kelak menghadirkan spekulasi bahwa kematiannya Berrety ada kaitannya dengan hubungan terlarangnya dengan anak sang Gubernur Jenderal,. Dugaan bahwa kematian dalam kecelakaan pesawat sengaja dibuat juga dilandasi dugaan bahwa  Berretty adalah mata-mata Jepang.

Bagian ke empat yang berjudul Villa Isola berisi tentang sejarah pembangunan gedung. Dimulai dari peletakan batu pertama pada tanggal 12 Maret 1933 yang dihadiri oleh Wali Kota Bandung, Bupati Bandung, Penghulu Bandung, beberapa anggota Volksraad, dan pejabat-pejabat penting lainnya. Dengan waktu yang relatif singkat (Oktober 1932- Maret 1933/ 5 bulan) 700 buruh dikerahkan untuk menyelesaikan  gedung megah Villa Isola dengan luas 12.000 m di lahan seluas 7,5 ha. Namun gedung itu baru diresmikan delapan bulan setelah bangunan selesai, yaitu pada tanggal 18 Desember 1933.

"Sabtu malam tanggal 17 Desember 1933, di Villa Isola diadakan pesta makan malam mewah. Tamu-tamu yang diundang kebanyakan adalah orang-orang yang telah ikut andil dalam pembangunan Villa Isola dan dari media masa.... CP. Schoemaker sebagai arsitek bangunan memandu para tamu untuk berkeliling Villa Isola. Ruang makan, ruang tamu luas, kantor, dan ruangan besar lainnya memberikan kesan megah, membawa ketenangan. Dekorasi dinding dan mahkota Venesia yang indah dipilih dengan cermat sebagai penghias ruang adalah kunci yang memancarkan keramahan yang hangat.

Para tamu berjalan melalui kamar menginap tamu dan taman di atas atap yang bernuansa misterius diterangi obor dari kedua menara di kanan dan kirinya.... Para tamu kemudian memasuki ruang luas yang terdapat di bawah taman atap berada. Di sepanjang dinding ruangan terpajang lukisan yang indah karya pelukis Hindia Belanda dan pelukis asing yang terkenal. Di belakang sofa yang indah tergantung sebuah lukisan besar yang menyajikan panorama Villa Isola dilihat dari bagian timur dataran tinggi. Di sudut ruang terdapat pintu menuju ke sebuah bar yang nyaman." 
(hlm 30-31)

Setelah mendeskirpsikan suasana peletakan batu pertama, malam menjelang peresmian, dan peresmian gedung bagian ini juga menyuguhkan puluhan foto-foto panorama Villa Isola dari udara, eksterior bangunan dari berbagai sudut, interior dalam, dan foto-foto lingkungan dan taman-taman di sekitar bangunan.



Bagian ini ditutup dengan sub bab mengenai akhir nasib Isola paska meninggalnya Berretty. Villa Isola akhirnya dijual dan dimiliki oleh Hotel Homan.  Setelah Jepang mendarat di Pulau Jawa, Villa Isola dijadikan termpat tinggal dan kantor Komandan Divisi Tentara Hindia Belanda. Setelah itu berturut-turut Villa ini berganti fungsi yaitu  dijadikan markas tentara Jepang, kediaman sementara Jenderal Immamura, markas Kenpetai, museum kemenangan Jepang, markas tentara Sekutu, dan terbengkalai rusak parah selama masa revolusi kemerdekaan.

Bagian selanjutnya buku ini mengetengahkan riwayat Villa Isola yang berubah namanya menjadi Bumi Siliwangi setelah dibeli pemerintah (Kementerian P.P. dan K) seharga Rp. 1.500.000,- pada tahun 1954. Villa Isola akhirnya difungsikan sebagai tempat perkuliahan dan perkantoran Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Bandung (sekarang menjadi Universitas Pendidikan Indonesia/UPI). Pada upacara peresmian dan pembukaan PTPG tanggal 20 Oktober 1954 nama Bumi Siliwangi diresmikan sebagai pengganti nama Villa Isola oleh Mr. Muh. Yamin, menteri P.P dan K saat itu.

Di bagian ini dibahas dan disertakan foto-foto perbaikan dan pembangunan kembali Villa Isola dari yang tadinya hampir mirip puing akibat perang menjadi bangunan yang kembali megah. Walau ada beberapa perubahan untungnya semua dilakukan dengan mempertahankan kondisi aslinya sehingga walau interior dalam banyak berubah namun eksterior bangunan tetap dipertahankan sesuai aslinya kecuali adanya penambahan bangunan baru di bekas taman di atap Villa Isola.

Dua bagian akhir buku ini membahas bagaimana pada tahun 2010 UPI memulai sebuah pekerjaan besar, yaitu menata kembali lingkungan Bumi Siliwangi dengan tujuan untuk  mengembalikan Bumi Siliwangi yang asri seperti ketika masih bernama Villa Isola. Buku ini ditutup dengan bab reflektif berjudul Villa Isola Karya Monumental yang hingga kini tetap menjadi salah satu ikon kota Bandung.

Sebagai tambahan buku ini juga menyajikan galeri beberapa  foto-foto berwarna Villa Isola tahun 2011 jepretan Lulus Abadi yang artistik.



Sebelum buku ini sebenarnya sudah ada buku lain tentang Villa Isola dengan judul yang hampir sama dengan buku ini yaitu Dari Isola ke Bumi Siliwangi - Menyusuri Jejak-jejak PTPG FKIP Unpad, IKIP Bandung Rudini Sirait, dkk (Komodo Books, 2011), namun buku tersebut tidak membahas Villa Isola secara khusus melainkan tentang sejarah panjang PTPG hingga Universitas Pendidikan Indonesia.

Sebagai sebuah buku yang membahas sejarah Villa Isola beserta kisah pemiliknya buku ini bisa dikatakan cukup lengkap.  Sayangnya di buku ini tidak diinformasikan siapa yang memberi nama Bumi Siliwangi setelah gedung ini menjadi bagian dari PTPG padahal nama tersebut merupakan bagian dari sejarah gedung ini. Nama Bumi Siliwangi ini diambil dari soneta Bumi Siliwangi karya  Mr. Muh. Yamin yang dibacakan di akhir pidato peresmian bangunan ini di tahun 1954.

Bumi Siliwangi

Dari bumi indah dan permai
Waktu siang pembukaan raya
Tampak Parahiangan bergunung sungai
Dipagari bukit dataran bertjahaja.
Waktu kelam ditinggalkan matahari
Kemarin malam pernah kemari
Sinar seminar di kaki bumi
Mandi cahaja lampu berseri.
Siang malam meriah melimpah
Bumi Siliwangi landjutan sedjarah
Di tengah alam gembira meriah.
Wahai pemuda harapan bangsa
Menuntut ilmu radjinlah senantiasa
Agar nanti menjuluhi masa 

(Pikiran Rakjat, 21/10/1954)

Selain itu kisah bagaimana Villa Isola di jaman revolusi kemerdekaan hanya dibahas sekilas padahal ada beberapa hal penting yang bisa diinformasikan lebih rinci lagi saat gedung ini dipakai oleh pejuang-pejuang kemerdekaan untuk menghalau tentara sekutu sehingga nilai kesejarahan gedung ini akan semakin berharga dan dapat diketahui oleh generasi sekarang.

Terlepas dari kekurangannya buku ini bisa dipakai sebagai buku rujukan bagi mereka yang ingin mengetahui sejarah salah satu ikon kota Bandung yang megah dan monumental. Selain itu adanya  ratusan foto-foto lama maupun baru dengan kualitas cetak yang bagus merupakan sebuah usaha yang sangat layak mendapat apresiasi positif karena dengan demikian ratusan foto-foto Villa Isola yang selama ini terserak di berbagai media cetak dan online kini terkumpul dalam sebuah buku yang kaya akan informasi.

@htanzil