Monday, September 21, 2015

Merah Putih di Gedung DENIS

[No. 361]
Judul : Merah Putih di Gedung Denis - Catatan Tercecer di Awal Kemerdekaan
Penulis : Enton Supriyatna Sind & Efrie Christianto
Penerbit : Tatali
Cetakan : I, 2015
Tebal : 164 hlm
ISBN : 978-60-96971-4-8

Setiap kota memiliki kisahnya sendiri dalam album besar perjuangan bangsa ini. Kota Bandung sendiri sebenarnya memiliki banyak kisah heroik dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, yang paling dikenal dan diingat orang hingga kini adalah peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) dimana rakyat dan pejuang-pejuang Bandung memilih untuk membumihanguskan kota Bandung daripada harus diserahkan kepada pihak sekutu sesuai dengan kesepakatan yang diambil pemerintah pusat. Namun di balik itu, ada peristiwa-peristiwa lain yang menjadi penyokong kejadian besar tersebut.

Salah satu peristiwa yang mendahului pembumihagusan Bandung adalah pengibaran bendera merah putih dan perobekan bendera Belanda di menara Gedung DENIS (De Eerste Nederlandsch-Indische Spaarkas atau PT. Bank Tabungan Hindia Belanda Pertama)  di jalan Braga  sekitar September-Oktober 1946. Pelakunya adalah Bari Lukman, Endang Karmas, dan Mulyono. Sayangnya peristiwa tersebut jarang diungkapkan secara memadai bahkan nyaris dilupakan orang saat ini. Kalaupun ada, catatan tentang peristwia tersebut hanya berupa kutipan pendek dari sebuah tulisan atau buku-buku yang membahas perjuangan rakyat Bandung.

Bersyukur kini sebuah buku yang secara khusus membahas peristiwa heroik di Gedung DENIS - Bandung yang serupa dengan peristiwa pengibaran bendera merah putih di hotel Oranje Surabaya telah hadir sehingga peristiwa ini bisa kembali terungkap di kalangan masyarakat Indonesia dan Bandung pada khususnya. Buku yang juga dilengkapi dengan puluhan foto-foto ini dibagi dalam tiga bagian besar yaitu  Hikayat Gedung DENIS,  Merah Putih di Gedung DENIS, dan Bukan Kabar Bohong.

Di bagian pertama dideskripsikan tentang sejarah berdirinya Gedung DENIS (kini kantor Bank BJB) yang merupakan karya pertama arsitek terkenal kelahiran Belanda A.F. Aalbers pada tahun 1936. Gedung yang berada di persimpangan Jalan Braga-Naripan ini hingga kini masih berdiri megah dan tetap dalam bentuk aslinya berupa "corak ombak samudera" yang serupa dengan corak bangunan Hotel Homan yang memang sedang trend saat itu.



NV DENIS sendiri didirikan oleh orang-orang  Boer  yang berkebangsaan Belanda yang memberontak melawan penguasa Inggris di Afrika Selatan. Setelah mereka bebas dari penjara, orang-orang Boer itu memilih tinggal di Hindia daripada pulang ke Afrika Selatan. Mereka tinggal dan mendirikan berbagai perusahaan di Bandung, antara lain BMC (Bandung Melk Centrale) - koperasi susu pertama di Hindia, dan mendirikan NV DENIS. Selain tentang gedung DENNIS di bagian ini dibahas pula sejarah jalan Braga, karya-karya Aalbers di Bandung, dan kota Bandung sebagai museum arsitektur dimana banyak bangunan-bangunan heritage karya arsitek-arsitek terkenal Belanda.

Di bagian kedua,  barulah buku ini secara khusus mengupas peristiwa heroik pengibaran bendera merah putih dan perobekan warna biru bendera Belanda. Pengibaran bendera merah putih di gedung DENIS yang saat itu  menjadi tempat favorit bagi warga Bandung untuk mempertahankan harga diri bangsa dilakukan oleh Bari Lukman pada tanggal 18 Agustus 1945 pkl. 13.00 wib. Itulah pengibaran bendera merah putih untuk pertama kalinya di Bandung setelah proklamasi dibacakan.

Sedangkan insiden perobekan bendera Belanda dsekitar bulan September-Oktober 2015 dilakukan oleh Endang Karmas dibantu beberapa temannya di tengah desingan muntahan peluru yang ditembakkan tentara Belanda dari Hotel Homan. Berikut kesaksian Endang Karmas yang dimuat di buku ini :

Sampai di atas itu, lalu megang tiang bendera sampai ke atas.......Lalu  terjadi tembakan. "Awas dari Hotel Homan," katanya. Wah panik, akhirnya tidak keburu apa-apa. Jangankan untuk membuka bendera, untuk membawa apa-apa pun tidak ada kesempatan. Untung saja bendera itu terkulai. Saya pegang ujungnya. 'Mul coba ambil nih..pegang..pegang! Nah saya buka bayonet Belanda, disobek-sobek aja gitu. Disobek-sobek hingga jadi warna merah putih lagi, tapi masih banyak birunya. Rusak gitu. (kain warna birunya tercabik-cabik,pen) (hlm 86)



Selain kisah dan kesaksian tentang pengibaran dan perobekan bendera di bagian ini juga bagian yang membahas asal mula ejekan "Peuyeum Bol" terhadap pejuang Bandung. Ejekan yang menyakitkan karena peuyeum dimaknai seagai lembek, tidak bersemangat, dan tidak memiliki daya juang. Ejekan tersebut awalnya dilontarkan oleh Radio Pemberontak Surabaya yang identik dengan Bung Tomo sehingga para pejuang Bandung saat itu menduga  kalau ejekan tersebut datang dari Bung Tomo. Benarkah? di bagian ini terdapat klarifikasi dari Bung Tomo yang menjelaskan  dari mana dan siapa yang mencetuskan istilah tersebut yang sebenarnya untuk membangkitkan semangat para pejuang Bandung. 

Masih di bagian ini, ada juga bab khusus tentang kronologi terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Lalu ada pula bab mengenai sejumlah koran dalam memberitakan perkembangan keadaan di Bandung masa itu dimana ada koran yang berpihak kepada republik dan ada pula koran-koran yang memuji-muji keberhasilan tentara Belanda dan menyebut para pejuang sebagai perusuh atau ekstrimis. 

Buku ini ditutup dengan bagian "Bukan Kabar Bohong" yang mengetengahkan berbagai kesaksian para pelaku  maupun mereka yang pernah menyaksikan insiden perobekan bendera Belanda. Bagian ini ditutup oleh pendapat sejarahwan Nina Herlina Lubis yang  menyimpulkan bahwa  walau terdapat berbagai versi dari para pelaku sejarah dan tidak adanya sumber tertulis/dokumen resmi yang mencatat secara rinci peristiwa tersebut bukan berarti peristiwa pengibaran dan perobekan bendera di Gedung DENIS adalah kabar bohong belaka.

Sebagai sebuah buku yang mengungkap kembali peristiwa heroik di gedung DENIS tampaknya buku ini sangat layak untuk diapresiasi oleh pembaca di masa kini. Selain itu, secara lengkap dan komprehensif penulis juga saja membeberkan peristiwa-peristiwa sejarah sebelum dan sesudahnya peristiwa di Gedung DENIS sehingga pembaca bisa memperoleh gambaran utuh bagaimana keadaan Bandung di masa revolusi kemerdekaan saat ini. Wawancara dari saksi-saksi sejarah yang masih hidup dan pengungkapan sumber-sumber tertulis baik yang pro maupun kontra terhadap peristiwa ini juga tersaji secara berimbang dan apa adanya sehingga pembaca dapat menyimpulkan sendiri apakah peristiwa tersebut memang benar terjadi atau hanya isapan jempol belaka.

Akhir kata apa  yang telah disajikan oleh penulis dalam buku yang menggali kembali kisah heroik di Gedung DENIS yang nyaris dilupakan orang ini sangat patut dihargai karena dengan cara itulah, bangsa ini, khususnya warga Bandung akan mengetahui peristiwa heroik yang pernah terjadi di salah satu bangunan heritage yang menjadi kebanggaan kota Bandung. Dengan mengetahui peristiwa sejarah yang pernah terjadi di kotanya bukan tidak mungkin warga Bandung akan semakin mencintai dan memelihara kotanya.

@htanzil

Tuesday, September 15, 2015

Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990 by Pidi Baiq

[No. 360]
Judul : Dilan, Dia Adalah Dilanku, tahun 1990
Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : Pastel Books
Cetakan : XIII, 2015
Tebal : 330 hlm
ISBN : 978-602-7870-41-3

Novel ini merupakan novel remaja yang menceritakan kisah bagaimana Dilan mencoba memikat hati Milea teman satu sekolah beda kelas dengan cara-cara yang unik, lucu, natural,  namun tetap meninggalkan kesan romantis yang membuat hati Milea meleleh dan jatuh cinta padanya.

Kisahnya sendiri sebenarnya biasa-biasa saja namun bagaimana penulis menuturkan kisahnya lewat sudut pandang Milea yang sedang menulis kisah masa remajanya yaitu bagaimana Dilan mencoba memikat Milea dengan cara-cara yang unik inilah yang membuat novel ini menjadi sangat menarik. Contohnya bagaimana ketika Milea berulang tahun Dilan menghadiahi sebuah buku TTS yang telah seluruhnya diisi olehnya dengan pesan sbb :

"SELAMAT ULANG TAHUN, MILEA.
INI HADIAH UNTUKMU. CUMA TTS.
TAPI SUDAH KUISI SEMUA.
AKU SAYANG KAMU
AKU TIDAK MAU KAMU PUSING
KARENA HARUS MENGISINYA.
DILAN!"

(hlm 72)

dan ketika Milea sakit, alih-alih membelikan obat, Dilan menunjukkan perhatiannya dengan tiba-tiba mengirim tukang pijat ke rumah Milea. Atau bagaimana Dilan mengirim cokelat buat Milea lewat tukang koran, dan yang agak konyol adalah bagaimana Dilan menulis surat pada tetangga sebelah yang isinya meminta izin untuk mencintai Milea. Masih banyak cara-cara unik, lucu, namun romantis yang dilakukan Dilan untuk memikat hati Milea.

Selain mendapat kisah menarik bagaimana Dilan memikat Milea, penulis juga jmendeskripsikan suasana kota Bandung yang masih cukup asri di tahun 1990 sehingga pembaca yang pernah atau kini tinggal di Bandung seakan diajak bernostalgia untuk menikmati suasana kota Bandung dua puluh lima tahun yang lampau.

Melalui sosok Dilan dan Milea penulis nampaknya mencoba membuat sebuah kisah percintaan yang wajar dan khas remaja secara natural dan sederhana sehingga pembaca akan merasa dekat dengan kedua tokoh utama novel ini sehingga bukan tidak mungkin apa yang dikisahkan  Dilan dan Milea  pernah juga dialami oleh pembaca novel ini. 

Sayangnya sosok Dilan digambarkan agak terlalu sempurna, walau sebagai salah seorang anggota gank motor namun Dilan adalah anak yang pintar di sekolah, romantis, memiliki pergaulan yang luas, senang membaca buku sehingga kamarnya penuh dengan buku seperti perpustakaan. Selain itu Dilan juga pandai menulis puisi dan menggambar dan karya-karyanya dimuat di koran lokal. Untungnya kesempurnaan Dilan ini diimbangi juga dengan kenakalannya, antara lain suka membolos dan berkelahi sehingga di sini penulis tidak terjebak untuk menampilkan seorang tokoh Hero tanpa cela namun tokoh yang memiliki kelebihan dan kelemahan walau kelebihannya terkesan tampak terlalu berlebihan. 

Singkat kata dalam novelnya ini penulis berhasil menghadirkan sebuah kisah cinta yang sederhana dan natural. Kisah cinta yang dihadirkan dalam novel ini pun bukan kisah cinta yang muluk-muluk atau penuh dengan drama yang menguras air mata, melainkan sebuah kisah yang biasa-biasa saja yang dikemas dengan gaya bertutur yang khas.  Karakter Dilan yang lucu dengan gaya rayuan yang tidak terduga, tidak gombal tapi unik dan lucu namun romantis ini dipastikan mampu memikat pembacanya untuk  ikut tertawa, cemburu, terharu, dan bahagia seiring dengan apa yang dialami oleh Dilan dan Milea. Bagi pembaca yang menggermari novel romantis namun bosan dengan kisah percintaan yang berat dan mengharu biru, novel ini bisa menjadi pilihan yang tepat.


Dengan segala kelebihannya tak heran novel yang juga dihiasi oleh ilustrasi yang dibuat oleh penulisnya sendiri ini  langsung memikat banyak pembaca, hal ini terbukti dengan larisnya buku ini toko-toko buku sehingga hanya dalam waktu setahun novel ini telah dicetak sebanyak 13 kali! Kisah Dilan dan Milea tak berhenti hingga lembar terakhir novel ini.Penulis melanjutkan kisah Dilan dan Milea di buku selanjutnya dengan  judul  Dilan 2 : Dia adalah Dilanku, tahun 1991 yang saat ini telah terbit dan beredar di toko-toko buku.

@htanzil

Wednesday, August 19, 2015

Seteru 1 Guru : Novel Pergulatan 3 Murid Tjokroaminoto - Soekarno, Musso Kartosoewirjo

[No.359]
Judul : Seteru 1 Guru : Novel Pergulatan 3 Murid Tjokroaminoto: Soekarno, Musso Kartosoewirjo
Penulis : Haris Priyatna
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, April 2015
Tebal : 260 hlm
ISBN : 978-602-1637-78-4

Seteru 1 Guru adalah sebuah novel sejarah yang mengisahkan penggalan hidup tiga orang murid HOS Tjokroaminoto yaitu Soekarno, Muso, dan Kartosoewiyo. Walau ketiganya mendapat gemblengan yang sama dalam hal perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda namun ketiganya memilih jalan perlawanan yang berbeda sesuai dengan ideologi yang mereka yakini dapat membawa Indonesia pada kemerdekaan dan kemakmuran. Soekarno memilih jalan nasionalisme, Musso memilih jalan komunisme, sedangkan Kartosoewiryo memilih jalan islam radikal.

Bagaimana dan seperti apa ketiga murid Tjokroaminoto menempuh jalannya masing-masing hingga akhirnya berseteru inilah yang diungkapkan oleh penulis dalam novel ini. Novel setebal 243 hlm ini dibagi kedalam tiga bagian besar yaitu : Kemelut, Internaat, Kulminasi. Di bagian pertama dikisahkan bagaimana kemelut politik yang terjadi sebelum dan setelah  kemerdekaan Indonesia dan  bagaimana Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo berperan di masa itu.

Di bagian kedua, Internaat (Asrama atau rumah kos) diceritakan bagaimana  awalnya Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo bertemu dan mondok tempat kos milik Tjkoroaminoto di Surabaya dan seperti apa jalan politik yang mereka tempuh masing-masing  untuk mempertahankan kemerdekaan dan mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat. Di bagian ini terungkap persahabatan antara Soekarno dan Kartosoewirjo sehingga orang menyebut dua sahabat itu dengan sebutan "Karno dan Karto".

Sedangkan di bagian ketiga, Kulminasi, mengungkap bagaimana Muso dan Kartosoewirjo akhirnya masing-masing melakukan pemberontakan melawan pemerintah Republik Indonesia yang dipimpin oleh teman mereka sendiri, Soekarno. Bagian ini tidak kalah menariknya dengan dua bagian terdahulunya dimana di bagian ini dikisahkan bagaimana Muso dan Kartosewirjo harus lari ke hutan untuk menghindari pasukan TNI yang mencarinya hingga akhirnya Muso ditembak mati dan Kartosoewirjo berhasil di tangkap hidup-hidup. Di bagian ini terungkap juga bagaimana  Soekarno yang saat itu telah menjadi presiden harus bergumul untuk menandatangani surat eksekusi mati bagi Kartosoewirjo, sahabatnya sendiri

                                                    (Soekarno, Musso, Kartosoewirjo)

Di buku ini  tergambar dengan jelas apa yang menjadi alasan bagi Musso dan Kartosoewirjo mengambil sikap menentang pemerintahan Soekarno yang ternyata bersumber dari kekecewaan mereka akan hasil perundingan Renville dan Linggarjari yang mereka anggap merugikan sangat merugikan Indonesia. Sayangnya, alih-alih melakukan protes atau pendekatan terhadap pemerintahan yang sah, mereka berdua memilih melakukan konfrontasi langsung dengan pemerintah RI.

Sebagai contoh, dalam Rapat Akbar PKI di Jogyakarta yang dihadiri oleh 50 ribu orang setelah Muso kembali dari pengembaraannya di Uni Soviet selama 23 tahun,  dalam pidatonya Musso mengatakan :

"Saudara-saudara perundingan dengan Belanda harus dihentikan! Kita harus selekasnya membuka hubungan dengan Uni Soviet..... Selain itu, Saudara-Saudara, revolusi harus dipegang oleh golongan proletar, bukan golongang borjuis! Karena kaum proletarlah yang paling revolusioner dan paling anti imperialis. Kesalahan itu harus segera kita perbaiki. Saatnya kita ambil jalan baru. Marilah kita dukung PKI..." (hlm 40)

dan setelah rapat akbar tersebut maka Muso langsung mengambil langkah-langkah sbb :


"...langkah pertama yang dilakukan Musso setibanya di Indonesia adalah mengambil alih pimpinan Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan melebur Partai Komunis, Partai Buruh, Partai Sosialis, dan Pesindo menjadi partai tunggal: Partai Komunis Indonesia. Musso meminta seluruh pemimpin organiasi tersebut bersumpah menentang politik pemerintah. " (hlm 41)

Jika Muso menenentang pemerintahan melalui partainya yang berideologi komunis, maka Kartosoewirjo mennempuh jalan perjuangan dengan cara yang radikal yaitu membentuk laskar Islam dengan tujuan mendirikan negara sendiri.

"Saudara-saudaraku para Mujahidin yang gagah berani, naskah Renville tak ada beda dengan naskah Linggarjati, bahkan lebih tidak berharga lagi. Sama sekali tak ada nilanya bagi kita secara politik maupun militer. ...."

Pidato pembukaan Kartosoewirjo pagi itu membakar semangat untuk terus memperjuangkan kemerdekaan Jawa Barat. Pada akhir rapat, dihasilkan keputusan untuk membekukan Masyumi Jawa Barat, dan melebur seluruh laskar Islam ke dalam TII (Tentara Islam Indonesia) dengan markas besar di Gunung Cupu. (hlm 57)

Sementara  Muso berjuang  melalui ideologi komunis, Kartosoewiryo melalui cara Islam radikal, dan Tjokroaminoto melalui ideologi sosialisme Islam maka Soekarno menempuh jalan Nasionalisme yang kelak terbukti mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

....Soekarno mulai meninggalkan ideologi yang diajarkan gurunya itu. Bagi Soekarno pandangan Tjokro tentang kemerdekaan tanah air terasa kaku karena ditinjau melalui konsep mikroskop Islam. (hlm  165-166)

Sebagai sebuah novel sejarah, tentunya ada banyak sekali peristiwa dan latar sejarah terkait perjuangan ketiga murid Tjokroaminoto di masa-masa genting paska kemerdekaan hingga akhirnya Muso dan Kartosoewirjo melakukan pemberontakan bersenjata untuk merebut pemerintahan yang sah yang dipimpin oleh Soekarno sahabat mereka sendiri.

Walau novel ini tentang ketiga murid Tjokro namun penulis juga menyajikan porsi yang cukup besar tentang kehidupan Tjokroaminoto sehingga kita pun bisa mengenal sosok sang guru bangsa yang sederhana namun memiliki kharisma dan disegani, tidak hanya oleh kalangan pribumi saja melainkan juga oleh orang-orang Belanda di Hindia sehingga ia dijuluki sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota.

Dikisahkan juga bagaimana Soekarno selalu menjadi buntut Tjokro. Kemanapun Tjokro pergi, Soekarno ikut termasuk ketika Tjokro berpidato di berbagai tempat. Hal inilah yang kelak menjadikan Soekarno sebagai seorang orator ulung.

Soekarno selalu memperhatikan cara Tjokro berpidato. Menyimak cara Tjokro menjatuhkan suaranya. Mengamati gerak tubuhnya. Dia juga menelisik kekurangan Tjokro, yaitu intonasinya yang cenderung monoton dan minus lelucon. Dari sanalah, Soekarno tidak pernah berlatih pidato di depan cermin. Tjokro-lah yang menjadi cerminnya.  (hlm139-140)

                                                    (beberapa foto di novel Seteru 1 Guru)

Masih banyak hal-hal menarik tentang kehidupan keempat tokoh dalam novel ini termasuk sejarah bangsa di masa sebelum dan paska kemerdekaan. Sayangnya sepertinya penulis terlalu setia pada fakta sejarah. Jika memang fakta sejarah tidak bisa terlalu dieksplorasi menjadi sebuah fiksi yang menarik namun ada kehidupan pribadi keempat tokoh sejarah yang menjadi tokoh novel ini yang bisa digali dan dikembangkan secara imajinatif misalnya keluarga Musso dan Kartosoewirjo yang tidak terungkap di novel ini. Sehingga kedua tokoh itu terasa lebih kaku dibanding sosok Tjokro dan Soekarno.

Terlepas dari hal itu saya rasa novel yang juga menyertakan beberapa foto sejarah ini wajib dibaca oleh generasi muda yang mungkin sudah mulai enggan membaca buku sejarah. Novel ini membuat sejarah yang biasanya tersaji secara kaku dalam buku-buku teks sejarah menjadi lentur dan enak dibaca dan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi sehingga peristiwa sejarah dan ide-ide besar dari keempat tokoh yang ikut membentuk bangsa Indonesia seperti sekarang ini tersampaikan secara jelas kepada para pembacanya.

@htanzil

Tuesday, July 28, 2015

Kota di Djawa Tempo Doeloe

[No.358]
Judul : Kota di Djawa Tempo Doeloe
Penulis : Olivier Johannes Raap
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan : I, Juni 2015
Tebal : 340 hlm
ISNB : 978-979-91-0887-6

Kartu pos di masa kini bisa dikatakan kurang populer digunakan dan sudah sangat jarang ditemui. Alih-alih mengirim kartu pos untuk mengabarkan bahwa kita berada di sebuah kota  kini kita lebih suka memfoto dan mengirimnya langsung ke orang tertentu atau mengupload-nya di sosial media melalui smarphone kita.

Walau kini sudah jadi barang langka dan dilupakan orang namun kartu pos pernah mengalami masa-masa emas di seluruh pelosok dunia di akhir abad ke 19 hingga pertengahan abad ke 20. Saat itu kartu pos merupakan media korespondensi yang terpenting untuk kalangan yang bisa baca tulis.

Kartu pos generasi pertama di Indonesia lahir pada tahun 1874 oleh pos negara, yaitu pemerintahan Hindia Belanda. Awalnya kartu pos masih berbentuk selembar kartu tanpa gambar/foto. Lembar pertama untuk alamat penerima dengan perangko yang telah tercetak, sedangkan satu sisi lagi digunakan untuk menulis surat/pesan. Kartu pos bergambar sendiri baru terbit pada tahun 1900an. Di awal abad ke 20 gambar atau foto-foto yang ditampilkan tidak hanya berupa pemandangan alam tempat wisata  seperti yang tedapat di kartu-kartu pos modern melainkan menampilkan situasi kota, bangunan, dan khazanah kebudayaan lokal.

Seperti apa kartu-kartu pos di Indonesia tempo doeloe? bersyukur karena berkat ketekunan Olivier Johannes Raap, seorang  kolektor kartu pos lawas kelahiran Belanda, kartu-kartu pos itu tetap terlestarikan dengan baik dan kini bisa dinikmati oleh kita semua lewat beberapa bukunya yang telah terbit.

(Koleksi kartu pos Olivier Johannes Raap)

Setelah menerbitkan dua buku yang menampilkan koleksi kartu2 posnya yaitu Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe (Galang Press, Maret 2013) dan Soeka-Doeka di Djawa Tempo Doeloe (KPG, Oktober 2013) kini Olivier menerbitkan kembali sebuah buku  tentang kartu pos yang secara khusus menampilkan panorama dan  unsur-unsur kota-kota  di Jawa tempo doeloe (1900-an - 1950). Seperti di buku-buku sebelumnya, buku ini juga menyajikan foto-foto kartu pos disertai deskripsi yang detail pada tiap-tiap kartu posnya. Karena sebuah kota merupakan bagian dari catatan sejarah maka di bukunya yang terbaru ini penulis menyertakan data-data sejarah terkait foto dan kondisi terkini dari bangunan atau tempat yang terekam dalam kartu pos-kartu pos tersebut.



Di bukunya ini, penulis membagi kartu-kartu posnya ke dalam 17 bab di mana di masing-masing bab diberi pengantar yang lugas, jernih dan sangat informatif bagi pembacanya


Sebagai sebuah buku yang menyajikan 277 lembar foto kartu pos dari 44 kota di Jawa diantaranya Batavia, Bandung, Surabaya (masing-masing diwakili oleh 20 kartu pos lebih), dll  buku ini dapat mewakili kondisi seperti apa panorama kota-kota di Jawa tempo doeloe.  Deskripsinya yang detail akan apa yang tergambar dalam tiap lembar kartu posnya plus muatan sejarahnya membuat buku ini dapat dikatakan sebagai sebuah buku sejarah populer yang menarik untuk dibaca oleh semua kalangan.



Hal-hal menarik, unik, dan menambah wawasan terungkap dalam buku ini, antara lain Jembatan besi pertama di Jawa di sungai Brantas - Kediri yang dibangun pada tahun 1855 yang hingga kini masih befungsi, pelabuhan Surabaya yang di masa itu diharapkan dalam mengungguli pelabuhan Singapura, gardu ronda yang menyediakan kendi untuk pejalan kaki, dll.  Ketika membahas bangunan kita akan diajak mengenal model-model bangunan tua baik di kota maupun di kampung baik dari segi arsitektur keseluruhan bangunan maupun dari kekhasan atap, bahan bangunan, dll. Di pembahasan mengenai jalan kita akan mengerti asal-usul penamaan jalan, persimpangan jalan, jalan-jalan pertokoan, dan sebagainya.

Dari segi penyajian fotonya karena seluruh halaman buku ini dicetak di atas kertas art paper yang mengkilat maka ratusan foto kartu pos lawas tersaji secara tajam dan sempurna. Ukuran buku yang agak besar dan foto tiap kartu pos yang sedikit besar dibanding kartu pos aslinya juga membuat pembaca bisa lebih detail menikmati foto-fotonya. Sayangnya ada beberapa foto kartu pos yang diperbesar hingga menyeberang halaman sehingga bagian yang terkena lipatan buku menjadi tidak bisa dilihat secara baik.

Akhir kata sebagai sebuah buku yang menyajikan panorama kota-kota di Jawa tempo doeloe plus deksripsinya buku ini akan membawa pembacanya memasuki mesin waktu untuk menyusuri kota-kota di Jawa di akhir abad ke 19 hingga pertengahan abad ke 20. Pemandangan kota yang indah, unsur-unsur pembentuk kota, toponimi, dan sejarah yang terungkap di buku ini tentunya akan menambah wawasan pembacanya akan sejarah dan budaya di tiap-tiap kota baik secara visual maupun naratif.

Melalui buku ini juga kita bisa melihat bagaimana bagian-bagian kota yang ada di buku ini telah hilang tergerus oleh arus modernisasi. Ada kehijauan dan keasrian yang hilang, bangunan-bangunan heritage yang dengan cita rasa arsitektural yang tinggi telah berganti wajah dengan bangunan modern dan sebagainya. Dengan membaca buku ini diharapkan generasi kini bisa lebih mencintai kotanya dengan berkaca dari masa lampau, memelihara unsur-unsur kota yang perlu dilestarikan, menghargai bangunan-bangunan tuanya dan memelihara kotanya agar tetap nyaman dan tertata dengan baik.

Akan sangat baik jika buku ini juga bisa diterbitkan dalam bahasa Inggris agar sejarah kota-kota di Indonesia masa lampau juga dapat dinikmati oleh orang-orang asing yang ingin mengenal kota-kota di Indonesia di masa lampau dengan cara yang menyenangkan.

@htanzil