Thursday, September 05, 2019

Perpustakaan (Dua) Kelamin : Buku dan Dendam Yang Tak Terbatas

[No. 385]
Judul : Perpustakaan (Dua) Kelamin - Buku dan Dendam yang Tak Terbatas
Penulis : Sanghyang Mughni Pancaniti
Penerbit : Penerbit Semesta
Cetakan : I, Maret 2019
Tebal : 180 hlm
ISBN : 978-602-14549-3-0
 
Novel  tentang orang-orang yang mencintai dan menghargai buku  ini merupakan kelanjutan dari novel sebelumnya Perpustakaan Kelamin karya penulis dan praktisi buku Sanghyang Mughni Pancaniti. 

Meneruskan ending di novel sebelumnya yang berakhir saat  Hariang berada di ruang operasi untuk operasi pengangkatan kelaminnya yang dijual kepada Ulun,  temannya seharga 1,5 milyar untuk membangun perpustakaan peninggalan almarhum ayahnya yang terbakar habis. Novel keduanya ini dimulai dengan sebuah pesan singkat dari Drupadi, kekasih Hariang yang mengabarkan bahwa Ibunya  telah meninggal dunia.

Berita duka tersebut menghancurkan hatinya sehingga walau masih dirawat di Jakarta akibat luka operasinya belum pulih betul Hariang nekad dengan perasaan sedih bercampur dendam pulang ke rumahnya di Cigendel - Sumedang agar bisa mengantar ibunya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Rasa nyeriku tiba-tiba terseret pada si Ulun, lelaki yang sudah kuanggap sebagai kakak tapi bangsat! Dialah penyebab semuanya yang kumiliki hilang. Hatiku menghujat, "Kau Ulun, mengapa melakukan kekejian ini kepadaku dan ibuku? Ketika kau membakar perpustakaanku dan mengakibatkan 11.000 buku hancur, ibu yang sangat kucintai  jadi tak waras dan kehilangan kesadaran sebagai manusia. Lalu kujual kelaminku kepadamu seharga 1,5 milyar untuk mendirikan perpustakaan, supaya ibu sembuh, seperti semula. Tapi lihat sekarang, bukannya sembuh, ibu justru menjadi badan tanpa nyawa yang siap ditelan tanah. Kau telah membunuhnya! Kau telah membunuhnya!"
(hlm 2)

Sesampainya di kampung halamannya Hariang mendapat kejutan yang tidak terduga yang membuat semangatnya bangkit kembali untuk mendirikan kembali perpustakaannya yang hancur.  Selain itu walau kini ia hidup tanpa kelamin namun keinginnya untuk  menikahi Drupadi tetap ada.  

Jika di novel sebelumnya dikisahkan bagaimana Hariang berusaha untuk memperoleh uang untuk membangun kembali perpustakaannya yang terbakar agar ibunya kembali dapat sembuh dari ketidakwarasannya, di novel keduanya ini dikisahkan bagaimana akhirnya uang yang diperolehnya itu dipakainya untuk membangun perpustakaan.  Selain itu yang tidak kalah menariknya adalah kisah bagaimana Hariang berusaha untuk memenuhi keinginan Drupadi yang meminta mas kawinnya kelak berupa sebuah buku yang ditulis oleh Hariang sendiri.

Konflik dalam novel ini terbangun dari Hariang yang kini tidak memiliki kelamin. Tidak seorangpun termasuk Ibunya sendiri dan Drupadi yang tahu kalau kelamin Hariang sudah dijual agar ia bisa  membangun kembali perpustakaan ibunya yang hancur. Tanpa memiliki kelamin bagaimana nasib pernikahannya kelak? Apakah ia harus membuka rahasianya ini pada Drupadi, dan jika Drupadi telah mengetahuinya masihkan ia mencintainya? Pertanyaan ini terus menghantui Hariang. Selain itu kelaminnya yang telah dijual kepada Ulun yang ternyata orang yang membakar perpustakaan ibunya membuat Hariang dikuasai oleh perasaan dendam pada Ulun. Dendam yang pada akhirnya tidak terbalaskan karena Ulun sendiri tewas karena kecelakaan,

Seperti di novel sebelumnya, konflik dalam novel ini berkelindanan dengan hal-hal yang berhubungan dengan buku dari berbagai genre dan penulis-penulisnya. Ada ratusan buku dan penulis baik lokal maupun mancanaegara  muncul disebutkan dalam buku ini. Dari yang serius sampai yang  lucu tentang buku muncul lewat dialog-dialog antar tokoh-tokohnya.  Misalnya saja saat teman-teman Hariang berdiskusi tentang kebiasaan mereka dalam membaca dan mengoleksi buku-buku dengan tema tertentu yang memunculkan julukan-julukan sebagai berikut :

Bibliokawe = kolektor buku-buku bajakan
Bibliokidal = kolektor buku-buku 'kiri'
Biblionista = kolektor  buku-buku kontroversial/banyak dikecam orang
Bibliotutup = kolektor buku-buku yang penerbitnya sudah tidak menerbitkan buku lagi

Lalu ada juga tentang proses kreatif penulis-penulis terkenal. Ketika Hariang  mengalami kebuntuan saat menulis buku untuk mas kawinnya ia mencoba mengikuti cara-cara yang unik dari  penulis-penulis dunia  antara lain; menulis sambil berdiri selama enam jam seperti Hemingway, HB Jasin, Virginia Wolf. Duduk di dalam bak mandi yang telah dikuras seperti Agatha Christie saat ingin membuat cerita yang plotnya rumit. Menulis di atas kertas warna pink seperti Alexander Dumas dan Emha Ainun Nadjib, dll.

Atep Kurnia (penulis, peneliti literasi) dalam catatan penutupnya mengatakan bahwa novel ini dapat dikelompokkan sebagai Metabuku atau buku yang membicarakan buku karena banyak dialog-dialog dalam novel ini yang langsung merujuk pada beberapa buku, misalnya tentang rambut gondrong berdasarkan buku Dilarang Gondrong karya Aria Wiratama Yudhistira, para pencuri buku dari buku The Man Who Loved Books to Much karya  Hoover Barlet, atau keunikan para penggandrung buku berdasarkan buku Memposisikan Buku di era Cyberspace karya Putut Widjanarko.

Dengan demikian   pembaca novel ini akan dirujuk ke berbagai buku sehingga bukan tidak mungkin novel ini menjadi pintu pembuka  bagi pembaca yang penasaran ingin  membaca  buku-buku yang disebut-sebut didalam novel ini.

Sepertinya penulis masih akan melanjutkan kisah Hariang, di akhir kisah ada sebuah clue yang menggiring persepsi pembaca bahwa masih akan ada kelanjutannya. Semoga penulis diberikan energi dan kreatifitas yang melimpah sehingga petualangan Hariang dan kisah tentang buku-bukunya akan berlanjut menjadi sebuah trilogi, bahkan menjadi tetralogi. Bukan Tetralogi Bumi Manusia melainkan Tetralogi Perpustakaan Kelamin.

@htanzil

Wednesday, August 21, 2019

Perburuan

[No. 384]
Judul : Perburuan
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Cetakan : IV, Januari 2002
Tebal : vii + 163 hlm ; 20 cm
ISBN : 979-8659-00-7

Novel ini menceritakan tentang Hardo, seorang bangsawan, anak seorang Wedana yang menjadi anggota tentara PETA (Pembela Tanah Air). Jelang beberapa hari sebelum kemerdekaan Ia bersama beberapa temannya melakukan pemberontakan. Sayangnya usahanya tersebut gagal karena pengkhianatan temannya sendiri sehingga Hardo menjadi desertir. Diburu oleh tentara Jepang.

Selama 6 bulan  dalam pelariannya Hardo menyamar menjadi seorang gelandangan, ia hanya menggenakan cawat sebagai penutup auratnya,  tubuhnya yang semakin kurus dan kotor , rambutnya  memanjang hingga bahu, kotor membuat dirinya tidak dikenal  Sayangnya Hardo memiliki tanda yang tidak dapat disembunyikannya yaitu garis cacat memanjang di lengan kanannya.

Selama menjadi desertir Hardo menderita baik secara fisik maupun psikis, selain  karena takut tertangkap dan dipenggal oleh Kempetai ia juga tak habis pikir mengapa Karmin, temannya menghianati dirinya sehingga pemberontakannya gagal.  Selain itu Hardo juga harus menanggung rindu dan kehilangan Ningsih, tunangannya yang keberadaannya tidak ia ketahui. 

Tak hanya dirinya, keluarganyapun harus menanggung akibat dari pemberontakannya. Terguncang karena anaknya terus diburu tentara Jepang, Ibunya sakit hingga  meninggal, ayahnya yang tadinya seorang wedana  kehilangan jabatannya dan menjadi seorang penjudi.  Namun semua derita yang dialami Hardo dan keluarganya tidak  membuatnya menyerah, ia tetap optimis akan masa depannya.Yakin bahwa Jepang akan kalah sehingga ia tidak lagi diburu-buru.

Ketika lurah Kaliwangan yang juga calon mertuanya berhasil menemuinya dan dibujuk  agar dirinya pulang, Hardo menolaknya karena ia telah bertekad tidak akan kembali sampai Jepang kalah. Sebuah pernyataan yang sepertinya mustahil terjadi karena saat itu kekuasaan Jepang begitu kuat mencengkram Indonesia.

Setelah bertemu calon mertuanya Hardo juga secara tidak sengaja bertemu dengan ayahnya, seorang wedana yang akhirnya menjadi penjudi  di sebuah pondok di kebun jagung. Awalnya ayahnya tidak menyadari bahwa orang yang ditemuinya dan diajaknya mengobrol semalaman itu adalah anaknya sendiri, namun  lambat laun ayahnya sadar bahwa pengemis itu adalah anaknya sendiri apalagi ketika ia melihat tanda cacat di lengan pengemis tersebut. Namun hingga akhirnya  Hardo harus kabur karena tentara Jepang mendatangi pondok tersebut, Hardo tetap tidak mengaku pada ayahnya bahwa ia adalah anaknya.

Tentara Jepang terus memburu Hardo. Dibantu oleh Karmin, teman Hardo yang berkhinat dengan membocorkan rencana pemberontakan  pada Jepang mereka malukan berbagai cara untuk menangkap Hardo hingga akhinya menangkap calon mertuanya dan  Ningsih, tunangan Hardo sebagai sandera

Novel ini mencapai klimaksnya saat kemerdekaan diproklamasikan dan gaungnya sampai ketempat dimana sebuah pertemuan yang tidak diinginkan terjadi antara Hardo, Ningsih, lurah Kaliwangan, Karmin beserta tentara Jepang yang memburunya.

Melalui novel yang sarat dengan dialog-dialog panjang ini Pram mengungkapkan hubungan antara Hardo dengan orang tuanya dan juga calon mertuanya yang rumit, kebenciannya terhadap Jepang, dan harapannya agar bisa kembali dari pelariannya saat Jepang kalah.  Tokoh-tokoh yang dibangun Pram dalam novel ini tampak begitu manusiawi, masing-masing memiliki motivasi personal dibalik tindakannya ,misalnya Hardo yang tidak lari jauh-jauh karena sebenarnya ia ingin menemui Ningsih dan Karmin yang berkhianat karena gagal menikah. Jadi novel ini tidak semata-mata soal heroisme kemerdekaan dari penjajah namun juga soal motivasi personal tokoh-tokohnya.

Selain itu novel ini juga mengungkapkan bagaimana masyarakat yang terjajah akan melahirkan dua sikap yang berbeda. Yang kuat  akan memiliki semangat, pantang menyerah, kesetiaan, dan harapan untuk menang melawan penjajah. Yang tidak kuat akan menjadi egois, mencari selamat sendiri, menjadi serakah dan akhirnya melahirkan pengkhianatan keji.  tidak hanya berhianat kepada bangsanya sendiri melainkan terhadap kawan, bahkan terhadap darah daging sendiri.

Seperti halnya mahakarya Pramoedya (Pram) Tetralogi Bumi Manusia yang ditulis Pram didalam tahanan, novel Perburuan juga ditulis ketika Pram ditahan di Penjara Bukit Duri Jakarta di tahun 1949 karena menyebarkan poster perlawanan terhadap Belanda. Dalam satu minggu Pram menyelesaikan novel ini. Naskahnya berhasil diselundupkan keluar, memenangkan juara pertama sayembara penulisan Balai Pustaka di tahun 1949, setahun kemudian (1950) Balai Pustaka menerbitkan novel Perburuan.

Novel Perburuan hingga saat ini telah 8 kali dicetak ulang, terakhir pada oleh Hasta Mitra di tahun 2002. Novel ini juga diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam  29 edisi diberbagai negara (Amerika, Inggris, Belanda, Jerman, Italia, China,dll).  


Kisah Perburuan ini lama terlupakan, hingga akhirnya di tahun 2019 ini novel ini dibuat filmnya oleh  Falcon Picture dengan disutradarai oleh Richard Oh  Semoga dengan dirilisnya film Perburuan maka karya-karya Pram akan dikenal oleh generasi milenial sehingga nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang kerap muncul di karya-karya Pram akan kembali tersampaikan dimasa kini. 

@htanzil

Thursday, August 08, 2019

Kriya dan Ilmu Menyangrai Kopi

[No. 383]
Judul : Kriya dan Ilmu Menyangrai Kopi
Penulis : Dr. Britta Folmer (ed)
Penerjemah : Nadya Andwiani
Penerbit : Kriya Rasa Indonesia
Cetakan : I, Juli 2019
Tebal : xii + 106 hlm
ISBN : 978-602-53301-1-7

Saat ini dunia kopi sudah memasuki era gelombang ketiga (third wave) dimana kopi spesialiti  dengan aneka citarasa semakin diminati orang.  Hal ini membuat para penyangrai kopi  bukan lagi  sekedar menyangrai biji kopi hijau menjadi hitam sehingga menghasilkan kopi yang pekat, kental, dan pahit. Kini menyangrai kopi berarti juga membentuk rasa dan kekhasan dari kopi yang akan diseduh.

Untuk itu dibutuhkan keahlian dari para penyangrai kopi. Hasil sangraian kopi tidak hanya bergantung pada kecanggihan mesin sangrai melainkan bagaimana si penyangrai mengolahnya berdasarakan berbagai variabel seperti suhu, waktu, jenis kopi, dan sebagainya.  Karena itulah proses menyangrai kopi adalah sebuah kriya atau pekerjaan tangan, sebuah hastakarya dari si penyangrainya.

Bagaimana  para penyangrai kopi dapat membentuk citarasa kopi yang sesuai dengan karakteristik biji kopi yang akan disangrainya akan dapat kita peroleh dalam buku Kriya dan Ilmu Menyangrai Kopi yang diterbitkan oleh Kriya Rasa Indoesia yang merupakan divisi penerbitan Phlicoffee salah satu pelopor produsen kopi spesialiti di Indonesia.

Buku yang merupakan jilid pertama dari 4 jilid yang direncanakan akan terbit ini merupakan terjemahan dari The Craft and Science of Coffee. Untuk jilid pertama ini penerbit menerjemahkan bab 11 & 12 yang merupakan bab terkait penyangraian.  Bab pertama  berjudul Penyangraian Menciptakan Kekhasan Biji Kopi  membahas perubahan biji kopi selama penyangraian baik secara fisik (warna, volume, bobot) maupun perubahan kimiawi yang menciptakan rasio keasaman atau kepahitan seiring peningkatan derajad sangrainya. Selain itu dibahas pula mengenai klasifikasi mesin sangrai, blending kopi, profil penyangraian, pemilihan mesin sangrai, hingga bagaimana mengetahui rasa, bunyi, aroma saat penyangraian.

Bab  kedua berjudul Kimia Penyangraian : Pengawasan dan Pembentukan Citarasa membahas mengenai faktor-faktor kunci yang mempengaruhi kualitas citarasa kopi, bahan kimia yang membentuk citarasa kopi, senyawa yang dihasilkan selama penyangraian, perubahan komposisi bahan kimia selama penyangraian, dan kinetika pembentuk citarasa.


The Craft and Science of Coffee, Academic Press, 2017, 556 hlm


Karena buku ini secara spesifik membahas mengenai penyangraian kopi, penjelasan dan istilah-istilah teknis fisika dan kimiawi selama proses penyangraian kopi menjadi tidak terhindarkan.  Karenanya bagi pembaca awam butuh usaha ekstra untuk memahami hal-hal tersebut.

Namun bukan berarti buku ini menjadi tidak tidak terbaca bagi orang awam atau bagi mereka yang sekedar ingin mengetahui bagaimana kopi disangrai. Tips untuk membaca buku ini yaitu, jika kita tidak memiliki latar belakang ilmu kimia dan fisika kita dapat saja hanya membaca bagian pertama buku ini yang memberikan hal-hal  praktis dan tidak terlalu memusingkan. Sedangkan jika kita ingin mengetahui lebih lanjut mengenai sifat fisika dalam senyawa kimia selama proses penyangraian kita bisa meneruskannya ke bagian kedua buku ini hingga tuntas. 

Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya kehadiran buku yang wajib dibaca oleh para roaster yang ditulis oleh para praktisi dan ilmuwan yang sudah lama berkecimpung dalam bidang kopi ini patut diapresiasi setinggi-tingginya untuk kemajuan dunia kopi di Indonesia. Karena buku aslinya terbit pada tahun 2017 maka saran praktis dan ilmu yang dibagikan dibuku ini bisa dikatakan ilmu yang mutakhir yang bisa diterapkan.

Selain itu seperti yang menjadi tujuan penerbit untuk menerjemahkan buku ini adalah agar memantik para penyangrai kopi dan  ilmuwan kopi di Indonesia untuk menulis soal penyangraian kopi yang disesuaikan  dengan keanekaragaman  kopi-kopi di tanah air. 

@htanzil

Wednesday, March 06, 2019

The Little Coffee Know It All

[No. 382]
Judul Buku : The Little Coffee Know-It-All
Serba-serbi Kopi yang Harus Kamu Tahu
Penulis : Shawn Steiman
Penerjemah : Prasojo & Ining Isalyas
Penerbit : Kriya Rasa Indonesia
Cetakan : I, Januari 2019
ISBN : 978-602-53301-0-0


Buku ini berisi serba-serbi dunia kopi yang ditulis oleh Shawn Steiman, seorang doktor dalam bidang kopi,  praktisi kopi spesialiti,  konsultan kopi internasional, dan  pemegang sertifikat Q-grader.

Secara komprehensif penulis menyajikan bahasan  tentang kopo dengan cakupan yang luas mulai dari seluk beluk biji kopi  hingga ketika kopi disajikan dalam sebuah cangkir. Dalam bukunya ini penulis membagi bahasannya ke dalam empat bagian.yang masing-masing bagian berjudul;  1) Seluk Beluk Biji, 2) Menyangrai, 3) Menyeduh, 4) Di Seputar cangkir.

Walau Shawn Steiman adalah seorang ilmuwan kopi namun dalam bukunya ini ia mencoba menguraikan seluk beluk tentang kopi semudah mungkin antara lain dengan penulisan gaya F.A.Q. dimana semua judul dalam bukunya ini merupakan pertanyaan-pertanyaan  yang diantaranya  sering ditanyakan oleh para pecinta kopi dan mereka yang baru mengenal dunia kopi misalnya;
- Apa benar kopi Lanang lebih enak?
- Bagaimana cara menyimpan kopi agar tetap segar?
- Apa yang perlu saya tahu agar bisa menyangrai kopi di rumah
- Bagaimana cara bikin kopi yang paling nendang?
dll.

Pada intinya buku ini adalah buku mengenai sains kopi yang ditulis dengan gaya populer. Walau penulis sudah berusaha agar bukunya dapat dibaca dengan mudah oleh berbagai kalangan antara lain  dengan metode Q & A dan desain halaman dalam yang menarik namun jejak keilmuan Steiman tetap terlihat. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersaji di buku ini Steinman menggunakan jalur prinsip-prinsip ilmiah dan data stainstifik. Beberapa bagian malah terkesan terlalu ilmiah seperti saat menjawab pertanyaan tentang bagaimana kita mengetahui apakah kita sudah menyeduh dengan benar atau belum.

Buku ini terbit untuk pertama kalinya di Amerika di tahun 2015. Kehadiran terjemahan buku ini yang diterbikan oleh Kriya Rasa Indonesia yang masih satu atap dengan Philocoffee, toko kopi pelopor manual brewing yang sejak tahun 2010 menjual kopi speciality dan alat-alat kopi di Indonesia sangatlah tepat. Kaum urban di kota-kota  besar dan kecil di Indonesia semakin suka nongkrong dan minum kopi di cafe-cafe sehingga mendorong berdirinya cafe-cafe baru dan roaster-roaster baru yang berlomba-lomba  menyangrai dan menyajikan kopi speciality sebaik mungkin

Tidak hanya itu, kini semakin banyak orang kini  menjadi  home brewer, penyeduh kopi rumahan yang tidak hanya sekedar mengguyur kopi bubuk dengan air panas lalu meminumnya, melainkan menguliknya dengan berbagai cara agar dapat menghasilkan secangkir kopi yang enak. Dengan demikian kehadiran terjemahan buku ini sangatlah tepat bagi mereka yang ingin mengenal dan memperdalam lagi dunia kopi.

@htanzil

Bagi yang ingin melihat contoh halaman dalam dan daftar isi buku ini silahkan klik IG sy di sini