Thursday, October 23, 2014

Kepala yang Hilang by Set Wahedi

[No. 344  ]
Judul : Kepala yang Hilang - Kumpulan Cerpen Set Wahedi
Penulis : Set Wahedi
Penerbit : dbuku
Cetakan : I, Agustus 2014
Tebal : 100 hlm
ISBN : 978-602-98997-9-5

Membaca kesembilan cerpen  Set Wahedi, penulis muda kelahiran Sumenep, Madura ini memberikan keasyikan sendiri. Selain menghibur, beberapa diantaranya menghadirkan realita-realita sosial berupa ketidakadilan yang sepertinya sudah menjadi bagian kehidupan kita di negeri setengah makmur dan setengah demokrasi ini.

Cerpen yang secara kuat mengangkat realita sosial yang terjadi di negeri ini antara lain terdapat pada cerpen Kepala yang Terpenggal yang dijadikan judul buku antologi ini. Kepala yang Hilang  mengisahkan seorang lelaki yang mencari kepala ayahnya yang hilang karena bersikap kritis terhadap pembagian BLT (Bantuan Langsung Tunai). Cerpen ini menarik selain karena judulnya yang membuat penasaran kita juga seolah diajak menyusuri hilangnya kepala sang ayah. Namun cerpen ini juga sedikit  membingungkan karena realita dan khayalan bercampur menjadi satu. Pembaca yang kritis tentunya akan bertanya-tanya apakah ini cerpen realis atau surealis.

Kisah-kisah ketidakadilan seperti BLT, kenaikan BBM, nasib TKW, dll adalah hal yang nyata dan dikisahkan secara realis, namun pencarian kepala oleh sang tokoh ke kota-kota yang aneh disuguhkan dalam gaya surealis. Saya tidak tahu apakah percampuran antara gaya realis dan surealis ini sengaja dihadirkan sebagai bagian dari eksperimen penulis atas karyanya atau sebuah ketidaksengajaan?

Selain Kepala yang Hilang, dua cerpen berikutnya yaitu Syam, dan Pemulung juga mengangkat realita sosial yang terjadi di negeri ini. Cerpen Syam dan Pemulung memiliki kesamaan yaitu menceritakan penyair  yang bersikap kritis terhadap pemerintah. Seperti halnya cerpen Kepala yang Terpenggal, Syam dan Pemulung memiliki nasib yang sama yaitu dibungkamkan dengan cara keji.

Masih ada satu tokoh lagi kritis lagi dalam cerpen berjudul Mbah Karna yang dibungkam, namun kali ini dengan cara yang lain. Mbah Karna di masa mudanya adalah seorang sarjana yang memilih menjadi petani, hingga masa tuanya ia rajin melahap semua berita di koran. Sikap kritisnya ia tuangkan dalam tulisan yang coba ia kirimkan ke sebuah koran. Sayangnya setelah lama menanti dan berharap akan dimuat tulisan Mbah Karna ditolak oleh koran tersebut karena dianggap dapat dapat merusak suasana demokrasi.

Selain nuansa realita sosial yang diangkat sebagai bahan baku cerpen, penulis juga mengangkat salah satu tradisi lokal Madura lewat cerpen Di Malam Nyadar. Nyadar adalah ritual yang lahir atas niatan mensyukuri tumbuhnya garam di Pinggir Papas, Madura. Selain tradisi, kisah Legenda Madura tentang kelahiran Jokotole juga dimunculkan dalam cerpen Anak Bulan. Di cerpen ini kelahiran Jokotole dikonstekstualkan dengan sang tokoh yang hidup di masa kini  yang juga sedang mencari siapa sesungguhnya ayahnya.

Tema perselingkuhan yang juga telah menjadi berita sehari-hari di kalangan masyarakat kita dimunculkan dalam dua cerpen yaitu Haemi dan Hand Phone. Cerpen Hand Phone yang mengisahkan bagaimana  teknologi komunikasi yang tadinya diniatkan untuk mempermudah pekerjaan pasangan suami istri nelayan pada akhirnya malah menjadi sarana untuk perselingkuhan. Pada cerpen ini dimasukkan percakapan dalam bahasa Madura.

Buku ini ditutup dengan cerpen  Boneka David Joseph yang mengisahkan bagaimana sebuah boneka dari Amerika yang pada awalnya menjadi kebanggan dan membahagiakan seluruh anggota keluarganya ternyata hanya menghadirkan kebahagiaan semu.

Secara keseluruhan kesembilan cerpen dalam buku ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi, walau terangkai dalam kalimat-kalimat sastrawi dalam setiap cerpennya namun semua itu tersaji dengan porsi yang cukup sehingga keindahan kata tidak mengganggu pembacanya baik dari pemahaman kisah maupun alur ceritanya. Ending di beberapa cerpen juga cukup menarik sehingga membuat kita tersenyum, terhentak, dan terhenyak setiap kita mengakhiri pembacaan dari masing-masing cerpen.

Selain kesembilan cerpen, buku ini dilengkapi dengan empat ulasan pembaca. Pemuatan ulasan/review dari pembaca awal sebuah buku seperti ini termasuk jarang ditemukan di buku-buku kumpulan cerpen kita. Biasanya kalaupun ada itu hanyalah sebuah pengantar baik dari penulisnya sendiri ataupun seorang tokoh terkenal. Namun buku ini menghadirkan empat ulasan sekaligus. Hal ini tentunya memberi sebuah masukan positif bagi pembacanya. Karena selain dihibur dengan cerpen-cerpennya, pembaca juga diajak memahami keseluruhan cerpen menurut sudut pandang para pengulasnya.

@htanzil

Friday, October 17, 2014

Ibu, Doa yang Hilang by Bagas D. Bawono

[No. 343 ]
Judul : Ibu, Doa yang Hilang
Penulis : Bagas D. Bawono
Penerbit : Zettu
Cetakan : 2014
Tebal : 233 hlm
ISBN : 978-602-1298-54-1

Ibu, Doa yang Hilang adalah sebuah kumpulan kisah nyata yang dialami oleh penulisnya tentang bagaimana ibunya, seorang single mother yang telah menjadi janda di usia 37, saat penulis masih berusia 8  tahun berjuang membesarkan kedua anaknya dalam kesendirian.

Buku ini memuat 29 kisah inspiratif tentang keseharian yang dialami penulis dengan ibu tercinta beserta keluarganya mulai dari kenangan paling awal ketika keluarga penulis masih lengkap, meninggalnya sang ayah, perjuangan tanpa lelah dan suka duka seorang ibu yang membesarkan kedua anaknya hingga dewasa,  hingga kisah bagaimana akhirnya sang ibu berpulang ke haribaan-Nya beserta kenangan-kenangan manis dan teladan yang ditinggalkannya.

Karena ditulis oleh orang yang mengalami langsung dan ditulis dalam kalimat-kalimat yang sederhana tentang kisah-kisah keseharian yang mungkin pernah kita alami juga maka seluruh kisah dalam buku ini terasa dekat dan begitu kuat menyentuh hati pembacanya. Selain itu, seluruh kisah dalam buku ini juga sarat dengan contoh keteladanan figur seorang ibu yang bisa menginspirasi kita semua untuk berjuang tanpa lelah demi anak-anak kita, selain itu

Masing-masing kisah dalam buku ini juga ditulis dengan tidak terlalu panjang sehingga diperlukan waktu yang tidak terlalu lama untuk membaca seluruh kisah inspiratif yang ada dalam buku ini. Sayangnya ke 29 kisah dalam buku ini tidak ditulis secara kronologis waktu sehingga terkesan melompat-lompat, maju-mundur dari satu kisah ke kisah yang lainnya. Yang terasa agak mengganggu adalah di kisah-kisah akhir yang menceritakan masa-masa akhir hidup sang ibunda. Setelah dikisahkan sang ibu telah meninggal tiba-tiba di kisah berikutnya sang ibu diceritakan masih ada. Mungkin akan lebih baik jika kisah-kisahnya disusun berdasarkan kronologis waktu.

Namun terlepas dari hal itu buku ini saya rasa sangat baik untuk dibaca dan dimaknai oleh kita semua baik itu para ibu maupun kita yang  adalah anak-anak yang dilahirkan dari rahim seorang ibu. Melalui buku ini kita akan disadarkan akan arti ketulusan cinta suci dan keteladanan dari seorang ibu hingga akhir hayatnya. Selain itu di buku ini ada banyak kutipan-kutipan inspiratif yang juga dituliskan kembali di lembar khusus di setiap akhir kisahnya, hal ini tentunya akan memudahkan kita untuk menemukan dan membaca kembali kutipan-kutipan inspiratif yang ada di tiap kisahnya.

Bagi para orang tua, khususnya para single mother buku ini tentunya sangat mengisnpirasi dan dapat menjadi sebuah penyemangat sekaligus menyadarkan bahwa dalam kondisi sesulit apapun mendidik anak-anak haruslah menjadi prioritas utama dan tugas mulia yang harus terus dilakukan dan diperjuangkan hingga akhir hayat. 

"Bukankah Tuhan yang memilihku untuk mengantarmu ke dunia ini. maka, jika aku mendampingimu dalam mengarunginya, itu adalah bagian tugas muliaku" 

@htanzil



Wednesday, October 08, 2014

Luka Tanah by Hary B Kori'un

[No. 342]
Judul : Luka Tanah
Penulis : Hary B Kori'un
Penerbit : Palagan Press
Cetakan : I, Mei 2014
Tebal : 174 hlm
ISBN : 9786029665161

Luka tanah adalah sebuah novel tentang cinta terlarang dua anak manusia yang dikemas dalam balutan isu-isu sosial seperti kemelut tanah di daerah transmigrasi, isu komunisme, dan kondisi pasca bencana gempa di Jambi dan Tsunami di Aceh.

Novel ini berkisah tentang seorang tokoh bernama Rama  yang terobsesi  untuk mencari tahu mengapa ayahnya diculik orang tak dikenal di sebuah desa pedalaman di Sumatera ketika ia masih berumur satu tahun. Setelah ayahnya diculik, ibunya membawanya ke Jakarta, disana ia dibesarkan dan ekolah hingga lulus menjadi Sarjana Hukum. Setelah selesai menyelesaikan studinya, Rama kembali ke Desa Sukadana-Sumatera, tanah kelahirannya untuk mencari tau mengapa ayahnya diculik.  Di sana, ia menemukan rumah lamanya yang kosong dan tidak terawat. Ia pun memugarnya dan tinggal di sana. Di rumah itulah, lewat mimpi, dia bisa bertemu dengan ayahnya, dan lewat mimpinya ini pula ia  menyaksikan bagaimana ayahnya lolos dari lubang maut karena dituduh sebagai komunis paska peristiwa G/30S 

Malangnya ketika tinggal di Sukadana, terjadi kerusuhan etnis yang melibatkan penduduk setempat dengan para  transmigrasi asal Jawa. Rama dianggap sebagai provokatornya selain karena ia aktif memberikan edukasi sosial kepada masyarakat setempat ia juga diketahui oleh aparat setempat sebagai anak seorang keturunan PKI.  Rama ditangkap polisi dan kemudian dipenjara.Semenjak itu hidupnya terus dibayang-bayangi oleh aparat. 

Setelah keluar dari penjara, Rama menjadi aktifis kemanusiaan yang tergabung dalam sebuah LSM . Dia selalu ada di wilayah-wilayah bencana yang membutuhkan relawan seperti gempa, tsunami, dll. Saat gempa 1995 di Kabupaten Kerinci (Jambi) dia berkenalan dan kemudian jatuh cinta dengan Kartika, seorang dokter  yang telah memiliki suami dan anak. Keduanya kemudian terlibat cinta terlarang, namun kemudian mereka tersadar dan berjanji saling melupakan. Untuk melupakan cintanya pada Kartika Rama terus berkelana, ia menjadi relawan yang idealis dan berdedikasi. Sepuluh tahun kemudian ketika Tsunami melanda Aceh, ia pun pergi ke sana. Di Aceh Rama bertemu dengan Sasa seorang gadis relawan yang usianya sepuluh tahun lebih muda darinya. Ada percik cinta diantara mereka, namun kali ini pun Rama harus meredam cintanya karena ternyata Sasa memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan cinta terlarangnya di masa lampau dengan Kartika. 

Yang menarik dari novel ini bukanlah hanya kisah cinta Rama dan Kartika melainkan nuansa dan isu-situ sosial yang membalut novel ini. Dalam isu komunisme ada  kisah bagaimana paska G30S banyak orang dieksekusi aparat dan rakyat tanpa diadili, lalu bagaimana stigma komunis yang terus melekat hingga keturunan orang yang pernah dituduh komunis seperti halnya tokoh Rama.

Sesuai judulnya, di novel ini juga mengungkap konflik tanah di daerah transmigrasi yang dipicu oleh kecemburuan sosial antara penduduk asli dengan para transmigran Jawa. Hal ini memicu terjadinya perang antar dusun. Hal yang sangat krusial dan berbahaya karena biasanya jika menyangkut hal tanah orang tidak segan saling bunuh untuk mempertahankan tanahnya.

Derita dan perjuangan para transmigran juga terungkap di novel ini, di sini pembaca diajak melihat realita bahwa kehidupan para transmigran tidaklah semudah atau semakmur apa yang digembar-gemborkan pemerintah.

"Sampai empat musim tanam, hasil panen kami melimpah, namun di tahun kelima dan seterusnya, setelah humus tanah habis, semua menjadi lain. Sejak saat itulah, ketika tanah ini sudah tak subur lagi dan kami tak memiliki uang untuk membeli pupuk, kami mulai menemukan saat-saat yang buruk. Banyak dari transmigran yang akhirnya menjual tanah dan rumahnya dengan murah dan memilih pulang ke kampung asalnya di Jawa. " 
(hlm 93)
Selain tentang tanah, masalah-masalah yang dihadapi para pengungsi dan relawan di daerah yang terkena bencana  juga terungkap di novel ini
"Di mana-mana warga resah. Bantuan tidak merata. Hanya daerah yang keluar di televisi dan ditulis di koran saja yang mendapat bantuan, sementara desa-desa yang tak terjangkau oleh wartawan, dibiarkan tanpa bantuan..." 
(hm, 16)

Para pelancong yang kerap datang ke daerah bencana dan para pejabat atau artis  yang memanfaatkan bencana sebagai ajang cari muka juga diungkapkan penulis dalam novel ini.

"...saat ini banyak pihak yang memanfaatkan bencana ini sebagai ajang cari muka. Entah itu pejabat negara, pejabat daerah yang ingin naik pangkat dan orang-orang oportunitis lainnya. Tak ketinggalan, para istri mereka yang tak pernah memegang mayat dan lumpur, tiba-tiba datang dengan membawa organisasi yang entah apa namanya dan segudang bantuan untuk menjelaskan kepeduliannya. Hal yang sama juga dilakukan banyak artis , mulai dari model, penyanyi, sampai bintang sinetron, untuk mendongkrak popularitas mereka. ..... sementara banyak yang ingin membantu relawan dengan ikhlas, tidak bisa berangkat karena tiket pesawat sudah di-booking oleh orang-orang...pelancong itu..." 
(hlm 132)

Masih banyak hal-hal menarik menyangkut isu-isu sosial yang terungkap dalam novel ini, untungnya penulis memasukkan isu-isu tersebut dengan baik dan dalam komposisi yang tidak berlebihan sehingga semua itu melarut dalam alur kisahnya. Yang mungkin membuat novel ini agak sukar dinikmati adalah alur kisah yang melompat-lompat maju-mundur dalam rentang 10 tahun ( 1996, 2003, 2004, 2006 ) dan tokoh 'aku' / pencerita yang berganti-ganti, misalnya di satu bab tokoh Rama yang jadi pengisahnya namun di bab lain tokoh Kartika atau Sasa yang menjadi 'aku' sebagai pengisahnya.

Selain itu petunjuk yang akhirnya diperoleh Rama mengenai alasan ayahnya diculik beserta masa lalunya yang tragis melalui sebuah mimpi saya rasa terlalu dipaksakan. Alangkah baiknya kalau petunjuk itu diperoleh Rama melalui hal-hal yang alami seperti kisah tetangga, atau saksi-saksi hidup yang mengetahui dengan pasti tragedi yang pernah dialami ayahnya di masa lampau.

Terlepas dari hal itu novel ini memiliki kisah dan latar kisah yang menarik. Bukan hanya kisah cinta dan konflik antara tokoh utamanya saja melainkan isu-isu sosial yang diangkat dalam novel ini membuat novel ini menjadi istimewa dan menambah wawasan pembacanya. Novel ini juga  menggugah kesadaran pembacanya akan konfilk yang terjadi karena tanah yang luka. Luka karena diperebutkan, luka karena menyimpan kepedihan sejarah manusia yang mendiaminya, dan tanah yang luka karena bencana.

@htanzil

Tuesday, September 23, 2014

Total Bung Karno 2 : Serpihan Sejarah yang Tercecer by Roso Daras

[No.341]
Judul : Total Bung Karno 2 : Serpihan Sejarah yang Tercecer
Penulis : Roso Daras
Penerbit : Penerbit Imania
Cetakan : I, Juli 2014
Tebal :  458 hlm
ISBN : 978-602-7926-16-5


Ide Roso Daras, pengagum Bung Karno dalam menulis segala hal tentang sang Proklamator ini seolah tak ada habisnya. Sejak tahun 2009 sudah ada hampir 500 tulisan tentang Bung Karno yang diunggah di blog pribadinya. Dari ratusan tulisan-tulisannya itu beberapa diantaranya sudah didokumentasikan dalam bentuk buku yaitu The Other Stories : Bung Karno (Imania, 2009), Bung Karno - The Other Stories 2 : Serpihan Sejarah yang Tercecer (Pustaka Ilman, 2010), Bung Karno vs Kartosuwiryo (Imania, 2011), Total Bung Karno : Serpihan Sejarah yang Tercecer (Imania, 2013)  Dan kini yang terbaru adalah Total Bung Karno 2 : Serpihan Sejarah yang Tercecer (Imania, 2014)


Seperti dalam buku pertamanya seluruh tulisan dalam buku ini  memberikan serpihan kisah hidup dan pemikiran Bung Karno baik yang selama ini pernah kita dengar  maupun yang belum pernah kita dengar dan baca. Sedikit berbeda dengan buku Total Bung Karno yang pertama dimana seluruh temanya bercampur baur, kisah-kisah dalam buku ini bisa diklasifikasikan dalam tiga bagian besar. Pertama, kisah-kisah periode pembuangan Bung Karno di Ende (1934-1938), kedua, tentang Marhaenisme, dan ketiga, tentang kisah-kisah human interest dalam perjalanan hidup Putra Sang Fajar baik sebelum menjadi presiden maupun selama menjadi Presiden pertama RI.

Di tulisan-tulisan yang mengisahkan periode pembuangan di Pulau Bunga - Ende kita diajak melihat sebuah periode hidup Bung Karno yang penting dimana di masa-masa ini tokoh yang ditakuti pemerintah kolonial  ini tenggelam dan ditenggelamkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Bung Karno tenggelam dalam pergulatan batin yang begitu dalam sehingga ia mengalami depresi dan frustasi. Untungnya di masa-masa sulit ini Ibu Inggit, istrinya yang ikut menyertai Bung Karno selama di P. Bunga Ende senantiasa menguatkannya hingga akhirnya Bung Karno berhasil melewati masa-masa sulit selama di pembuangan. Selain itu kegiatan berkeseniannya yaitu seni lukis dan seni peran drama dan korespondensinya dengan T.A Hasan di Bandung dalam hal ke-islaman membuatnya kembali bangkit dari keterpurukannya.

(Rumah Pengasingan Bung Karno & Keluarga di Ende)


Di bagian ini dikisahkan tentang masa-masa sebelum pembuangan, keberangkatan, dan segala kegiatan dan peristiwa-peristiwa menarik, suka dan duka selama berada di pembuangan. Di pulau ini pula ibu mertua Bung Karno wafat di pangkuannya. Sebagai bukti bakti, hormat dan cintanya Karno sendiri yang memahatkan batu nisan untuk ibu mertuanya. Periodesasi pembuangan Bung Karno ini diakhiri dengan tulisan  yang mengisahkan bagaimana Bung Karno dituding menyebarkan gerakan Ahmadiah. Sebuah fitnah karena dalam surat menyuratnya dengan T.A Hasan di Bandung, bung Karno menulis sikapnya dengan lugas.

"Saya tidak percaya bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah seorang nabi, dan belum percaya pula bahwa ia seorang mujadid " (hlm 95)

Setelah mengisahkan pengalaman Bung Karno di Ende, penulis melanjutkan tulisan-tulisannya tentang Marhaenisme. Mulai dari kisah bertemunya Bung Karno dengan petani di Bandung bernama Marhaen hingga  ideologi,  tujuan, cita-cita gerakan Marhaenisme yang dikutip langsung dari dokumen-dokumen penting Marhaenisme.  Di bagian ini juga dimuat pidato dan  tulisan bung Karno secara lengkap yaitu pidato
Bung Karno 1 Juni 1945 (Lahirnya Pancasila) dan tulisan Bung Karno berjudul Nasionalisme, Islamisme, Marxisme yang dimuat dalam Suluh Indonesia Muda tahun 1926 yang kemudian dimasukkan sebagai tulisan pembuka di buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid 1, 1959). Bagian ini ditutup dengan wawancara penulis dengan Alm.. H. Abdul Madjid, (tokoh Nasionalis & deklarator PDI)  tentang Arti Demokrasi Menurut Bung Karno.

Setelah pembaca diajak membaca bagian-bagian serius dan ideologis  seputar Marhaenisme, penulis melanjutkan dengan kisah-kisah humanisme tentang bung Karno antara lain Sepincuk Pecel Rukiyem buat Bung Karno, bagaimana Bung Karno berjemur di Penjara Sukamiskin, kegemaran Bung Karno bersepeda dan  kemahirannya melakukan aksi "Freestyle Onthel", Bung Karno menjadi Klrek di Stasiun Surabaya, Kisah seekor cacing dan Presiden, atau bagaimana dalam kisah berjudul Bung Karno, Ali Sastoamidjodjo, dan pelacur  Bung Karno berselisih pendapat dengan Ali Sastroamidhohdo tentang niat bung Karno untuk merekrut  670 pelacur-pelacur Bandung sebagai anggota PNI demi kepentingan pergerakan, dll.

( Freestyle onthel ala Bung Karno.)

Selain itu ada pula kisah tentang kamar Bung Karno, tidak semua bisa melihat bagaimana keadaan kamar pribadi bung Karno di Istana negara, salah satu yang beruntung adalah Oey Tjoe Tat, selaku selaku Menteri Negara saat itu. Lalu apa komentar Oey Tjoe Tat tentang kamar Presiden pertama RI itu?

"Kesan pertama saat masuk kamar tidur Bung Karno, terwakili hanya dengan satu kata : Berantakan!
...separuh dari ranjang Presiden berisi buku-buku yang berserakan tak beraturan. Bukan hanya itu, bahkan di lantai pun ia melihat buku-buku berserakan. Pada cantelan baju di dinding, tergantung jas-jas dan pantolan-pantolan yang sangat tidak bertaturan....Tidak rapi dan tidak terawat..."
(hlm 321)

Ada banyak hal-hal menarik lainnya tentang Bung Karno dalam buku ini. Sayangnya walau seperti diungkap di atas bahwa buku ini terdiri dari tiga bagian besar, namun penerbit tidak memilah/membagi  tulisan-tulisan dalam buku ini ke dalam tiga bab besar sehingga pembaca sukar memilih secara cepat mana tulisan-tulisan semasa bung Karno di Enda, Marhaenisme, dan mana tulisan-tulisan tentang human interest Bung Karno. Walau semua itu tersusun secara berurutan namun alangkah baiknya jika penerbit membagi ke 100 tulisan dalam buku ini ke dalam tiga bagian  untuk memudahkan pembacanya jika ingin membaca ulang tulisan-tulisan tertentu.

Terlepas dari itu buku ini dari segala hal yang ada di dalamnya buku ini bisa menjadi buku pelengkap dalam memahami dan mengambil keteladanan Bung Karno baik dari kehidupannya, idelologinya, maupun dari sisi kemanusiannya sebagai seorang proklmator, presiden, dan manusia biasa yang mungkin tidak akan kita peroleh dari buku-buku sejarah atau bahkan dari biografi Bung Karno sendiri.

@htanzil