Monday, December 21, 2020

Akhir Perpustakaan Kelamin : Sayang Kamu Hanya Kehilangan Kelamin, Bukan Hidup

[No.395]
Judul : Akhir Perpustakaan Kelamin  (Sayang, Kamu Hanya Kehilangan Kelamin, Bukan Hidup)
Penulis : Sanghyang Mughni Pancaniti
Penerbit : Semesta
Cetakan: I, November 2020
Tebal : vii + 209 hlm
ISBN : 978-602-14549-3-0 

+ "Buku apa ini? Perpustakaan Kelamin?"
- "Iya, Pak."
+ "Menceritakan apa? Perpustakaan Kelamin?"
- "Hahaha...Bukan."
+ "Terus? Perpustakaan yang bangunannya tersusun dari kelamin?"
- "Bukan juga, Pak"
+ "Berarti buku porno? Kalau buku porno akan langsung  saya tolak sekarang"
  (hlm 157)

Demikian percakapan antara Hariang, tokoh utama novel ini dengan seorang editor mengenai buku Perpustakaan Kelamin (PK). Mungkin ini juga yang akan ditanyakan orang yang belum pernah membaca dua novel sebelumnya  Perpustakaan Kelamin (PK-1),  Perpustakaan (Dua) Kelamin (PK-2). Ya, ini bukan buku porno atau buku yang berbicara tentang kelamin. Memang kelamin menjadi pengikat kisahnya namun bukan berarti seluruh novel ini membicarakan kelamin, melainkan tentang perpustakaan  yang didirikan dari hasil mendonorkan kelamin.

"Isi Perpustakaan Kelamin tak hanya tentang ceritamu mendonorkan kelamin, ada banyak cerita, terutama tentang dunia perbukuan, yang bisa diambil manfaatnya oleh pembaca.
(hlm 74)

Jika PK-1 mengisahkan bagaimana kisah perjuangan tokoh-tokohnya dalam membangun kecintaannya pada  buku dan membaca, PK-2 tentang perjuangan Hariang menulis memoar untuk mas kawinnya, maka novel pamungkasnya yang diberi judul Akhir Perpustakaan Kelamin mengisahkan bagaimana Hariang berjuang  untuk menerbitkan memoarnya yang diberi judul Perpustakaan Kelamin.

Bagi Hariang bukan hal yang mudah untuk menerbitkan memoarnya. Ada dua rintangan yang harus dihadapinya, pertama ia harus melewati rintangan dari istrinya sendiri yaitu  Drupadi yang tidak ingin naskah itu diterbitkan. Drupadi belum bisa menerima jika akhirnya orang lain mengetahui apa yang terjadi pada suaminya yang harus hidup tanpa kelamin. Kedua adalah dari berbagai penerbit yang menolak menerbitkan naskahnya tersebut dengan beragam alasan. 

Seperti halnya di dua novel sebelumnya, di novel inipun penulis  memperkaya pembacanya dalam hal  dunia buku, khususnya kini tentang  kepenulisan, penerbitan, editing, perjuangan penulis-penulis terkenal dalam menerbitkan buku, tentang self publisher, penerbitan indie, dan sebagainya. Karena novel ini mengisahkan perjuangan Hariang untuk menerbitkan bukunya maka perihal editor, profreader dan editing yang merupakan tahapan penting sebelum buku itu dibawa ke penerbit mendapat porsi yang cukup banyak disinggung di buku ini. 

Sebagai contoh dalam dialog Hariang dengan Kang Uni penulis menjelaskan fungsi editor dan profreader serta perbedaannya karena selama ini orang sering mencampuradukkannya. 

Tugas editor yang paling besar adalah berkutat di cerita dan gagasan...Ibaratnya, naskah seorang penulis itu adalah arca tanpa rupa, lalu sang editor akan memahat dan membentukanya

"Kalau ternyata naskah seorang penulis itu sudah berbentuk?"
"Editor akan memperindahnya."

"Saya kira editor itu yang mengurus kesalahan-kesalahan ketik"
"Yang bekerja untuk bagian itu, disebut proofreader. Sering juga disebut pemeriksa aksara, atau penyelaras akhir. Nanti dia yang membetulkan kata-kata yang salah eja, tidak sesuai kebakuan, tidak mengikuti ejaan yang disempurnakan, kesalahan tanda baca, susunan kalimat yang tak logis, dan hal-hal lain yang besifat teknis. 

...biasanya,  seorang proofreader baru bekerja, ketika tugas editor sudah selesai.
(hlm 57, 59) 

Selanjutnya bagaimana contoh seorang editor berkutat di cerita dan gagasan dicontohkan secara rinci dalam bentuk dialog di novel ini yaitu ketika bagaimana Kang Uni memberikan gagasan, masukan-masukan pada draft Perpusatkaan Kelamin. 

Selain tentang proses editing novel ini juga memberikan porsi yang cukup banyak tentang fisik/anatomi buku, dari soal cover, punggung buku, pembatas buku, halaman 4 yang berisi data buku, hingga halaman ucapan terima kasih. 

Ketika membahas isi halaman 4 yang biasanya berisi data buku (judul, penulis, penerbit,editor,dll), ada hal yang sepertinya kini jarang terdengar dan tersaji di halaman 4,  yaitu Kolofon yang memuat informasi seperti jenis tipografi yang digunakan untuk teks buku, jenis kertas, jenis tinta, jenis jilid, dan jenis mesin yang digunakan untuk mencetaknya.  

Soal  buku best seller juga dibahas di buku ini, di Indonesia karena tidak memiliki standard nasional maka patokan best seller itu berbeda-beda, tergantung penerbitnya. Berbeda dengan Inggris yang menetapkan angka best seller jika buku telah terjual 4000 sampai 25.000 ekslempar pe minggu. Salah satu contoh buku yang benar-benar masuk kategori best seller adalah novel Musashi karya Eiji Yoshikawa, di Jepang buku ini terjual 35 juta kopi padahal penduduk Jepang hanya 30 juta!

Ada masih banyak hal-hal seputar dunia buku yang menarik dalam novel  ini. Lalu bagaimana dengan unsur drama atau konflik dari   kisah sang tokohnya sendiri?  Di novel pangungkas Perpustakaan Kelamin ini sepertinya unsur dramanya agak berkurang dibanding dua buku sebelumnya. Sejak awal hingga menjelang akhir, dialog mengenai dunia buku lebih mendominasi. Bagi pembaca yang senang akan dunia buku hal ini tidak menjadi masalah karena novel ini akan memberi pengetahuan yang limpah akan dunia buku khususnya tentang bagaimana menerbitkan sebuah buku. Namun bagi pembaca yang menginginkan atau berekspektasi akan mendapat sebuah novel dengan keseruan drama dari konfik para tokoh-tokohnya tentunya hal ini akan sedikit mengecewakan.

Namun untungnya di bab-bab akhir penulis menyajikan sebuah keseruan sekaligus kejutan buat pembacanya.  Apa yang menjadi sebab Hariang dipenjara di akhir novel sebelumnya (Perpustakaan Dua Kelamin)  akan terjawab di bagian akhir novel ini. Selain itu sebuah akhir kisah  yang tidak teduga  akan mengguncang pembacanya sehingga pembaca akan berkata seperti yang sering dikatakan Hariang, "Edan!!". Ketegangan, keharuan, dan kelegaan akan bercampur aduk ketika pembaca mengakhiri pembacaan atas novel ini. 

Namun sayangnya ada sedikit yang agak mengganggu di bagian akhir, yaitu tentang handphone yang sedang dicharge yang merekam terjadinya sebuah peristiwa yang selama ini tersembunyi dengan rapih.  Umumnya orang mencharge handphone dalam keadaan telentang atau tertelungkup sehingga sulit rasanya membayangkan handphone yang sedang dicharge secara tidak disengaja dapat merekam sebuah adegan dengan sempurna.

Walau dunia buku mendominasi novel ini namun ada beberapa pelajaran kehidupan diluar tema buku yang bisa diambil hikmahnya seperti misalnya bagaimana Hariang yang walau harus hidup tanpa kelamin namun tidak membuat dirinya minder, Drupadi yang dengan cintanya yang tulus mau mempertahankan pernikahannya walau suaminya tanpa kelamin, dan bagaimana  pengorbanan seorang ibu pada anaknya, demikian juga sebaliknya yang mengajarkan pada kita akan cinta yang luhur dan penuh pengorbanan antara ibu dan anaknya. 

Selain itu ada satu hal yang juga menarik yaitu mengenai hadirnya tokoh seorang ustaz terkenal yang diceritakan sering tampil di TV dan pengajiannya selalu dihadiri ribuan orang sehingga membuat sang ustaz menjadi sombong dan mensyaratkan tarif puluhan juga untuk siapapun yang mengundangnya.  Hal ini membuat ayah dari sang ustaz tersebut memperingatinya dengan keras.

"Karena tiap hari dijunjung, tiap hari dipuja, akhirnya kamu merasa yakin kalau kamu memang pantas dijunjung dan dipuja. Maka kamu menomorsatukan dirimu, mengutamakan nama besarmu. Kamu lupa, kalau kamu ini bukanlah apa-apa! Kamu lupa, kalau kamu ini tak penting! Kamu lupa, jangankan kamu, seluruh jagat raya ini tidaklah berharga, yaitu saat kamu tenggelam dalam kesunyian cintamu yang tunggal dan utuh kepada Tuhanmu."  (hlm 28) 

Masih banyak hal yang menarik di buku ini terlebih mengenai bagaimana perjuangan Hariang dalam menerbitkan bukunya. Opini atau pendapat penulis yang kritis dalam dunia buku dan kepenulisan juga  tumpah ruah di novel ini.   Bagi pembaca yang saat ini sedang menulis buku atau sedang berusaha untuk menerbitkan bukunya saya sarankan untuk membaca novel ini karena bisa menjadi panduan  untuk buku yang sedang ditulis atau hendak diterbitkan.

Sebuah pesan dari tokoh ibu yang ada di bagian akhir novel ini juga sangat baik untuk para penulis pemula yang mungkin sedang membaca novil ini . Ini pesan Ibu : 

"Jangan melabeli diri sebagai penulis pemula. Karena label ini akan menjebak mereka untuk memaafkan kesalahan-kesalahan dalam menulis, mudah mentolerir kekurangan serta kedangkalannya lantaran menganggap diri jadi penulis pemula. Katakan pada mereka, jadilah penulis pelanjut! Artinya, sebelum berpikir menerbitkan buku, menulislah dulu yang banyak, membacalah buku yang banyak, dan reguklah pengalaman yang luas."
(hlm 206)

Ingat pesan Ibu! Akhir kata saya berpendapat bahwa novel ini dapat dikatakan sebagai panduan praktis tentang bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan agar kita dapat menerbitkan karya kita menjadi  sebuah buku. Buku panduan menerbitkan buku yang dikemas dalam bentuk novel yang menarik.  Novel dengan tokoh-tokohnya yang begitu mencintai buku dan dunianya. Novel yang tokoh-tokohnya menghargai dan memuliakan buku pada tempat yang seharusnya. 

@htanzil

Thursday, November 12, 2020

Jejak-Jejak Bandung

[No.394]
Judul : Jejak-Jejak Bandung
Penulis : Atep Kurnia
Penyunting : Deni Rachman
Penerbit : ProPublic.Info & Oleh-oleh Boekoe
Cetakan : I, 25 September 2020
Tebal : xii + 196 hlm ; 13x19 cm
ISBN : 978-623-93907-2-3


 Kota Bandung pun mungkin seperti Istanbul, telah menjadi teks. Ia barangkali seperti novel, cerita pendek, atau puisi. Sebagaimana sebuah teks. Kota Bandung bisa dibentuk dan dibuat oleh siapa saja. (hlm 64)

Bandung memang kota yang sejak dulu selalu menginspirasi bagi para penulis untuk diubah menjadi teks, sebut saja   Haryoto Kunto, Sjarif Amin, R. Moch Affandie, Us Tiarsa, Her Suganda, Sudarsono Katam, Ryzki Wiryawan, dan lain-lain. Seperti para pendahulunya Atep Kurnia, penulis yang menetap dan menjejakkan karier kepenulisannya di Kota Bandung juga terinspirasi untuk menulis hal ihwal tentang Bandung.

Dengan energi menulisnya yang luar biasa Atep menulis artikel-artikel tentang Bandung di masa lalu dan mengirimkannya ke media-media cetak dan internet. Dalam tulisan-tulisannya ia mencoba menjelajahi sisi-sisi menarik mengenai Bandung di jaman kolonial yang mungkin belum pernah disentuh penulis lain atau  menambah hal-hal baru dari yang sudah ditulis oleh pendahulu-pendahulunya. Bersyukur kini tulisan-tulisan Atep tentang Bandung yang tadinya tersebar di berbagai media akhirnya dapat dibaca dalam satu buku yang diberi judul Jejak-Jejak Bandung.

Walau buku tentang Bandung telah banyak ditulis namun buku ini tetap istimewa karena Atep mendasari tulisan-tulisannya  dari sumber-sumber primer yaitu koran-koran yang terbit di masa lampau, dokumen-dokumen sejarah, buku-buku kuno, dan sebagainya sehingga semua kisah tentang Bandung yang ada di buku bukan berdasarkan legenda atau hanya cerita dari mulut kemulut melainkan sebuah fakta  yang  dapat ditelusuri dari buku ke buku hingga ke dokumen aslinya. 

Ketika Atep menulis asal muasal Bandung mendapat julukan Parijs van Java, ia menemukan fakta yang menarik. Kalau sebelumnya banyak orang beranggapan  julukan ini mulai muncul di masa keemasan Bandung tempo dulu di tahun 1920-1930an, ternyata berdasarkan  koran-koran berbahasa Belanda yang terbit di Hindia Belanda ia menemukan bahwa  koran paling lama yang menjuluki Bandung sebagai Parijs van Java adalah Alkmaarsche Courant edisi 20 Maret 1904. Ini membuktikan bahwa julukan tersebut sudah ada sejak awal abad ke-20.

Terinspirasi dar pengalaman masa kecilnya yang tak terlupakan ketika mengunjungi  kebun binatang Bandung  lahirlah tulisan berjudul Derenten (Kebun Binatang) Bandung tahun 1930-an yang ditulis berdasarkan koran-koran dan majalah di masa kolonial diantaranya majalah Moii Bandoeng yang terbit di tahun 1930an.  Tulisan ini menjadi salah satu yang  spesial karena  belum pernah ada buku atau tulisan tentang Kebun Binatang Bandung di tahun 1930-an dengan sangat rinci.

Dengan detail penulis menyuguhkan data-data tentang sejarah pendiriannya dan apa saja koleksi binatang yang dimiliki Kebun Binatang Bandung saat itu. Kehadiran Deranten di masa itu sangat menarik perhatian orang Bandung dan sekitarnya. Dari data kunjungan di tahun 1933 tercatat ada 21.000 pengunjung pribumi dan Eropa yang sama banyaknya. Yang menarik, orang-orang saat itu sangat antusias menyerahkan binatang hasil buruannya ke kebun binatang Bandung hingga pengelola kebun binatang saat itu kewalahan dan membuat ketentuan untuk membatasi kiriman binatang dari masyarakat. 

Buku memoar, buku pengantar pekan raya, dan skripsi mahasiswa juga tidak luput dari penelusuran Atep dan dijadikan salah satu sumber untuk menulis tentang pekan raya tahunan Jaarbeurs di Bandung.  Dalam penelusurannya Atep menemukan bahwa ada  buku pengantar Jaarbeurs yang ditulis dalam bahasa Sunda. Hal ini dapat disimpulkan bahwa di tahun 1920an pemerintah kolonial Belanda telah menyadari pentingnya menyampaikan kabar pelaksanaan Jaarbeurs ke komunitas atau orang-orang pribumi yang tempatnya dijadikan pelakanaan pekan raya. Selain itu hal ini juga membuktikan bahwa dimasa itu sudah ada komunitas baca atau literasi Sunda, atau kalau boleh saya tambahkan sudah ada cukup banyak orang-orang Sunda yang melek aksara. 

Sedangkan dari skripsi Yudi Hamzah (2007) yang diselesaikan bagi jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Pajajaran diperoleh hasil wawancara dari dua tokoh terkenal yaitu pelukis Barli Sasmitawijaya dan Brigjen Pol (Purn) Yuhanda mengenai kesan-kesan   mereka mengujungi Pekan Raya Jaarbeurs  saat mereka masih muda.

Sumber primer lain yang digunakan Atep adalah naskah ketikan dan tulisan tangan Raden Ibrahim Prawira-Winata. Naskah tersebut menjadi salah satu sumber bagi Atep untuk menulis artikel bertuliskan Toko Buku MI. Prawira-Winata. Toko buku dan penerbit partikelir kecil di Bandung milik orang Sunda yang pernah mengikuti pameran internasional di tahun 1920-an. Lewat naskah itu  selain membahas tentang toko buku dan penerbitannya dibahas juga tentang riwayat hidup RI. Prawira-Winata yang belum pernah diungkapkan dibuku manapun. 

Tidak hanya sumber tertulis, sumber berupa film juga digunakan Atep untuk menulis tentang suasana Bandung di awal abad ke 20. Di tulisan yang berjudul Bandung dalam Film Bisu Atep mendasari tulisannya berdasarkan film Autotoch door Bandoeng (1913) dan Mooi Bandoeng (1927) produksi Kolonial Intstituut, Belanda. Di tulisan ini selain mendapat informasi lengkap tentang siapa yang membuatnya dan apa tujuan dari dibuatnya film tersebut Atep juga memberikan rincian adegan per adegan dari kedua film tersebut sehingga bisa membantu pembaca untuk lebih menikmati film bisu tersebut yang kini dapat disaksikan di YouTube Eye Filmmuseum

Bagi Atep selain film, plat piringan hitam juga bisa dijadikan sumber tulisan. Dari piringan hitam berwarna merah yang ditengahnya terdapat tulisan "Konperensi A.A. (n.n)" lahirlah tulisan berjudul Konperensi Asia-Afrika Dalam Rumpaka Sunda. Dari rumpaka (teks lagu/lirik) Atep menyimpulkan bahwa itu membuktikan keterlibatan seniman Sunda dalam ikut menyebarkan informasi mengenai pentingnya perhetalan KAA kepada publik berbahasa Sunda. 

Masih banyak hal-hal menarik dan fakta-fakta sejarah yang jarang  bahkan mungkin belum pernah diungkap tentang jejak-jejak Bandung dalam buku ini. Ketekunan Atep untuk mencari sumber-sumber primer sebagai dasar untuk setiap tulisannya patut diberi apresiasi setinggi-tingginya  karena hal itu bukanlah hal yang mudah. Walaupun internet membuat segala sesuatu lebih mudah namun mencari sumber primer di belantara cyber tetaplah membutuhkan ketekunan dan keahlian tersendiri.

Sumber-sumber primer yang digunakan sebagai dasar semua tulisan dalam buku ini membuat buku ini menjadi buku yang memiliki otoritas untuk dijadikan acuan bagi siapa saja yang ingin mengenal dan menapaki jejak-jejak Bandung di masa kolonial dari berbagai sisi.  Ada 4  jejak Bandung yang disajikan Atep dalam bukunya ini. yaitu : Jejak Bandung dan Rekreasi, Jejak Bandung dan Penerbitan, Jejak Bandung dan Peristiwa Bersejarah, dan Jejak Bandung dan para Tokoh.

  

Ada banyak jejak-jejak Bandung lain yang belum tersentuh oleh Atep, namun melihat produktifnya Atep dalam menulis saya  sangat yakin masih banyak hal ikhwal tentang Bandung di masa lampau yang akan ditulisnya sehingga bukan tidak mungkin buku ini menjadi buku berseri. Jejak-Jejak Bandung 1, 2, 3..dan seterusnya. 

Apresiasi yang tinggi juga patut diberikan kepada penyunting buku ini. Seluruh tulisan dalam buku ini pernah dimuat di media cetak dan onlen, saya yang kebetulan sering membaca tulisan-tulisan Atep di berbagai media  merasa semua tulisan  di buku ini lebih enak dibaca dibanding apa yang pernah tersaji di koran, majalah, dan versi onlennya. 

@htanzil

Wednesday, October 28, 2020

Museum Kenangan

[No. 393]
Judul : Museum Kenangan - Buku, Cinta dan Karnaval Kesedihan
Penulis : Andrenaline Katarsis
Penerbit : Katarsis Book
Cetakan : I, Juni 2020
Tebal : vi + 244 hlm, 12 x 18 cm

...sekarang aku ingin menulis untuk orang lain. Aku ingin tulisanku dibaca orang lain, atau meminjam kalimat Multatuli, "Aku ingin dibaca". Entah bagaimana bentuk tulisanku nanti, aku juga belum tahu benar. Pokoknya aku ingin menulis. Sebab yang yang sedang berisik dan menari-nari di dalam benakku sekarang adalah aku ingin menulis. Hanya itu saja. Lain tidak.  (hlm 168)

Bagi seorang pegiat literasi yang setiap hari bergelut dengan aksara,  menulis dan menghasilkan sebuah karya berupa buku yang dibaca oleh banyak orang adalah salah satu pencapaian hidup yang diidamkan. Demikian juga dengan Andrenaline Katarsis, penulis, penerbit buku, traveler, dan pegiat literasi, keinginannya untuk menulis buku seakan tak pernah pupus selama ia masih bisa membaca dan menulis. 

Setelah dua karyanya terbit, Jelajah Kampung (2016) dan Selepas Bapakku Pergi (2018) kini ia menerbitkan  sebuah  novel memoar berjudul Museum Kenangan : Buku, Cinta dan Karnaval Kesedihan. Seperti judulnya penulis mengisahkan kehidupan dan pengalaman pribadinya yang berhubungan dengan pustaka, cinta, dan kegalauan hidupnya.

Penulis memulai kisahnya saat ia berada dalam kereta api  menuju Bali dalam rangka Kuliah Kerja Lapangan. Selama berada di kereta api ia memperhatikan seorang mahasiswa yang asik membaca buku sepanjang perjalanan. Hal ini membuatnya penasaran, sementara dirinya dan mahasiswa lain  asik mengobrol atau memelamun sambil merokok ada seorang mahasiswa yang mengisi sepanjang perjalanannya  dengan membaca buku. 

Singkat cerita tokoh 'aku' akhirnya berkenalan dengan Ricky Manik,  mahasiswa kutubuku yang ditemuinya di kereta. Ricky Manik yang ternyata seorang aktivis mahasiswa ini mengajaknya bergabung dengan organisasi mahasiswa bernama GEBRAK, akronim dari Gerakan Bersama Rakyat yang berhaluan kiri. Dari sinilah kisah kehidupan sang tokoh mengalir. Perkenalannya dengan Ricky Manik mengubah hidupnya, memperkenalkannya pada dunia pustaka dan mengajarinya bagaimana mencintai buku. Dari yang tadinya tidak suka membaca kini menjadi penggila buku. Apalagi ketika ia akhirnya bergabung dalam GEBRAK yang mengharuskannya membaca banyak buku agar bisa terlibat aktif dalam diskusi-diskusi kritis.

Saat itu aku seperti dibisiki, kalau ingin pandai bicara seperti para aitivis itu, maka aku harus banyak-banyak membaca.  (hlm 39)

Sejak itu sang tokoh memang jadi banyak membaca buku, banyak cara dilakukannya agar bisa membaca, selain membaca di perpustakaan, meminjam buku temannya, membeli buku-buku bekas hingga mencuri di perpustakaan kampusnya. Di buku ini dikisahkan bagaimana sang tokoh berhasil mencuri buku Madiog karya Tan Malaka. Setelah mencuri ia menjadi gusar karena takut masa depannya hancur karena ketahuan mencuri buku. Untuk  menghibur diri ia bandingkan dirinya dengan  Carrie Blumberg, pencuri buku terlihai di dunia yang berhasil mencuri puluhan ribu buku dari 268 perpustakaan di Amerika.

Kalaupun aku berdosa karena menguntil Tan Malaka, dosaku tentulah tidak akan seberat Stephen Carrie Blumberg yang sukses mencuri puluhan ribu buku. Aku cuman mencuri sebiji buku saja, kok repot amat!".  Dan sesudahnya akupun mulai mengamini tesisku sendiri : penggila buku mana sih yang belum pernah mengambil buku di perpustakaan? 

Dan asal tahu saja, buku buku yang dicurinya (Carrie Blumberg) itu bukanlah buku-buku murahan, melainkan buku-buku kuno yang jika dinilai dengan uang bisa mencapai puluhan juta dolar. Lha aku yang hanya mengutil sebiji buku saja sudah luar biasa gusarnya, 
(hlm 30-31)

Tidak hanya menjadi suka membaca, kini hidupnya menjadi begitu lekat dengan buku, dua kali berpindah tempat mondok, buku-buku seolah ingin selalu bersamanya. Ketika mondok di sekretariat GEBRAK ia tidur di kamar belakang  yang juga menjadi perpustakaan organisasi. Setelah organisasi itu bubar ia dipercaya untuk mondok dan mengelola Perpustakaan Tanah Air  milik temannya. 

Berbagai hal yang dialami sang tokoh  terungkap dengan menarik dalam novel ini baik  saat ia aktif di organisasi mahasiswa beraliran kiri yang membuatnya menjadi seorang demonstran di tahun 98, kekecewaannya terhadap organisi, romansa kisah cintanya, dan bagaimana akhirnya  dirinya berniat untuk menuliskan tentang penggalan kehidupannya.

Berdasarkan pengalaman tokoh dalam novel ini kita akan bisa melihat bagaimana buku yang dibaca dapat  mengubah cara pandang dan berpikir. Mungkin inilah yang menjadi dasar mengapa pemerintah yang otoriter sampai melarang atau memberangus buku-buku  yang dianggap berbahaya.  

YANG KURASAKAN pengaruh paling membekas dari hasil membaca buku-buku Marxis itu, entah kenapa aku menjadi sensitif memandang kemiskinan dan selalu menaruk syak wasangka buruk pada segala bentuk kekayaan. Exploitasi gila-gilaan diatas karpet kemiskinan dengan kepemilikan uang yang hanya berputar-putar di segelintir orang saja. 

Aku tiba-tiba ikut marah ketika warung kopi di seberang kampusku digusur petugas ketertiban kota. Aku yang yang panas jika ada kesewenang-wenangan. Aku tiba-tiba jadi sosok perasa. Sebab barangkali tujuan ujaran-ujaran yang dijewantahkan dalam wacana kiri, yakni menumbuhkan kesadaran bahwa disekitarku ternyata masih ada sekelompok kelas sosial yang hidupnya tidak beruntung. (hlm 55-56)

Tidak hanya berpengaruh pada pemikiran  politik dan kemanusiaan, buku juga berpengaruh pada romansa kisah cintanya. Ketika sang tokoh membina hubungan dekat dengan seorang wanita, buku yang pernah ia bacapun  tetap terlintas menemani kegalauannya.

Nina, perempuan berwajah bulan sabit, dengan dagu agak lonjong dan bermata sendu itu mengingatkan aku pada Anne Frank....

Entah jenis perasaan apa yang kurasakan padanya. Dibilang teman tapi mesra. Dibilang pacar tak secuilpun ada ungkapan yang terlontar dari mulutku bahwa aku dan dirinya pernah saling mengikat diri. Barangkali, meminjam istilah sosiolog Clifford Geertz, aku sedang di dalam sebuah permainan yang mendalam. 

Aduhai, segala macam diskursus tentang cinta yang pernah ditawarkan Fromm, Rumi, atau Gibran atau filsuf cinta lainnya sudah tak bisa lagi kuterima dan kubedakan. Di hadapan Nina, segala khotbah dan petuah cinta itu ambruk seketika. .....Sebab perjumpaan dengannya adalah serupa rahmat dan berkah dari Tuhan yang membahagiakan hati, persis seperti   Sajak-sajak Cinta Gandrung karya Mustofa Bisri
(hlm 129-130)

Banyak hal-hal menarik yang akan kita temui dalam novel yang bernuansa muram ini.  Sesuai sub judulnya, Buku, Cinta, dan Karnaval Kesedihan, ungkapan kegalauan dan kesedihan dari tokohnya mendominasi novel ini. Hampir tidak ada keceriaan yang muncul. Walau  terkesan muram namun bukan berarti kita akan lelah dan tertekan.

Parade judul buku-buku bermutu beserta kutipan-kutipan yang inspiratif, nama penulis-penulis terkenal beserta penggalan kehidupannya, nukilan buku, hingga resensi buku berkelindan diantara kisah-kisahnya sehingga karnaval kesedihan dalam buku ini diimbangi dengan parade buku-buku yang pernah dibaca oleh sang tokoh dalam novel ini. 

Bagi pembaca yang tidak terlalu suka membaca atau bukan pecinta buku mungkin bagian kutipan-kutipan buku, nama-nama penulis lokal dan dunia akan menjadi sesuatu yang membosankan namun bagi pembaca yang mencintai buku sekaligus pelahap berbagai genre buku, novel ini dipastikan akan memuaskan mereka karena akan disegarkan kembali ingatannya tentang sejarah bacaannya dari berbagai buku-buku sastra, filsafat, politik, dan sebagainya.

Itulah keuntungan yang diperoleh bagi pembaca buku ini. Tidak hanya bagi pembacanya, penulis buku inipun mendapat manfaat. Seperti pesan  yang ditorehkan  penulis pada buku yang diberikan pada saya,


 "Sebaik-baiknya tempat menyimpan kenangan hanya di dalam buku".  

Seperti judul novel ini, Museum Kenangan,  karyanya  ini adalah sebuah tempat menyimpan kenangannya terhadap buku, romansa cinta, dan kesedihan yang dialaminya. Selain itu seperti yang pernah dikatkan oleh Pramoedya Ananta Toer, apapun pengalaman atau pemikiran yang dituangkan dalam tulisan pasti akan berguna;

"Semuanya harus dituliskan. Apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat akan berguna," begitu kata Pram. (hlm 71)

Ya, apa yang sudah ditulis di novel ini  pasti akan akan berguna, berguna untuk penulis dan berguna untuk pembacanya. Sebagai penutup dari kesan pembacaan saya akan novel ini saya akan kutipkan apa yang menjadi keinginan penulis buku ini seperti yang diungkapkan dalam novel memoarnya ini.

 ....aku ingin tulisanku bisa juga dibaca orang lain dan senang ketika membaca tulisanku.            Syukur-syukur setelah membaca tulisanku jadi bisa terinspirasi karenanya.  (hlm 168)

@htanzil

Monday, October 12, 2020

Pesona Sejarah Bandung

[No. 392]
Judul : Pesona Sejarah Bandung - Bandung Hingga Awal Abad ke-20
Penulis : M. Ryzki Wiryawan
Penerbit : Layung
Cetakan : I, 2020
Tebal : vi + 244 hlm, 15 x 21 cm
ISBN : 978-623-92997-0-5                                                                            

"Apabila Bandung adalah sebuah "Museum yang Besar", maka buku ini adalah panduan untuk mengunjunginya."

Demikian kalimat pertama yang mengawali deskripsi buku Pesona Sejarah Bandung karya Ryzki Wiryawan, penulis, kolektor buku antik, dosen yang juga pegiat Komunitas Aleut (komunitas sejarah Bandung). Bandung memang Museum Besar yang pesonanya seakan  tidak pernah berhenti ditulis orang  sejak jaman Kolonial Belanda hingga kini. Sepertinya Bandung adalah kota yang paling banyak ditulis dalam buku. 

Pada tahun 2010 Rachmat Taufiq Hidayat menulis artikel berjudul Bandung Dalam Buku - Sebuah Survei bibliografis yang dimuat di buku Panduan Pesta Buku Bandung, 17-23 Febuari 2010. Di artikel tersebut terdata sebanyak 105 buku yang berkaitan tentang Bandung yang terbit dari tahun 1917 hingga 2009.  Sayangnya  hingga kini belum ada lagi yang mendata dan mempublikasikan buku-buku Bandung yang terbit dalam 10 tahun terakhir padahal buku-buku tentang Bandung masih terus ditulis dan diterbitkan hingga terbitnya buku ini

Buku yang ditulis selama hampir 10 tahun ini awalnya adalah buku tentang sejarah Bandung dari kelahirannya hingga zaman Jepang yang jika dijadikan satu buku tebalnya bisa 1000 halaman lebih. Namun atas beberapa pertimbangan akhirnya penulis memutuskan untuk memecahnya menjadi beberapa buku. Buku ini merupakan buku pertama dari seri Pesona Sejarah Bandung yang membahas Bandung dari zaman prasejarah hingga awal abad ke-20.

Buku ini terdiri dari dua bagian besar yaitu  Awal Mula Bandung dan Oud Bandoeng

 

Di Bagian pertama diawali dengan pembahasan tentang terbentuknya kawasan Bandung baik secara geologis maupun secara legenda yang masih terpelihara hingga masa kini yaitu legenda Sangkuriang.  Lagenda Sangkuriang  secara simbolis menyiratkan beberapa hal  seputar terbentuknya Bandung yaitu terbendungnya sungai ci Tarum, terbentuknya danau hingga terjadinya gunung Tangkuban Perahu  akibat "amarah" Sang Kuriang. 

Di bagian pertama juga dibahas mengenai manusia pra sejarah yang menghuni kawasan Bandung kemudian  terbentuknya kerajaan Galuh dan Sunda, kelahiran Bandung dengan Tumenggung Wiraangunangun sebagai penguasa/bupati Bandung pertama yang saat itu masih berada dibawah kekuasaan kerajaan Mataram. 

Saat wilayah Bandung dan Priangan masih dikuasai oleh Mataram kawasan Priangan kurang mendapat perhatian dari pemerintahan pusat Mataram di Kartasura. Hal ini selain karena letaknya yang memang jauh dari pusat kekuasaan, hasil alam di Priangan tidak banyak memberikan kontribusi  kepada Mataram yang saat itu sedang disibukkan dengan berbagai persoalan internal.  Yang lebih miris lagi adalah bagaimana sikap pemerintah pusat memperlakukan bupati-bupati Priangan antara lain dengan mengkaryakan para bupati Bandung dengan pekerjaan-pekerjaan yang mengelikan seperti mencabuti rumput di pekarangan keraton Mataram.

Di bagian ini sejarah kawasan Bandung dan Priangan terus bergulir. Secara kronologis dibahas mengenai kedatangan  dan keruntuhan Kompeni ,  pemerintahan Daendels hingga kedatangan Inggris yang melanjutkan kebijakan Daendels untuk menjual tanah kepada pihak swasta dan penguasa-penguasa Jawa. Salah satunya adalah Andries de Wilde, seorang tuan tanah asal Belanda yang nantinya memiliki peran besar dalam pembangunan Priangan dan Bandung. De Wilde kelak menjadi seorang 'raja' lokal dimana setengah dari Kabupaten Bandung dimilikinya.  Kisah dari Andries de Wilde ini  dibahas secara khusus di buku ini

Pada Bagian Kedua yang diberi judul Oud Bandoeng (Bandung Tempo dulu) dibahas mengenai perkembangan kota Bandung di abad ke 19 hingga awal abad ke 20 dimana kekuasaan para bupati yang tadinya sangat besar terhadap rakyatnya perlahan beralih kepada orang-orang Eropa. Dari yang tadinya berkuasa bagai raja kini hanya tinggal sebagai simbol sosial dan  pegawai kolonial yang menerima gaji dari pemerintahan Belanda. Diantara bupati-bupati Priangan, bupati Bandung mendapat gaji dan tunjangan 120 ribu gulden,  3-6 kali lipat lebih besar dibanding bupati lainnya. 

Para bupati Priangan, 1912

Dalam kepeduliannya terhadap sejarah ternyata para  bupati Bandung  selalu mencatat sejarah daerah dan keluarganya sebagai bukti legimitasi kepemimpinannya. Bahkan Bupati Bandung RAA. Martanegara yang dikenal sangat berjasa dalam membangun pondasi Bandung menjadi sebuah kota modern,  pada tgl 20 November 1918 menetapkan pembentukan "Komisi Sejarah Bandung" yang bertugas menyusun sejarah Bandung dan sekitarnya.  Komisi itu berhasil membukukan empat jilid sejarah Bandung yang dikemudian hari dilengkapi oleh penerusnya.

Di buku ini juga dibahas secara khusus   dua peristiwa besar yang terjadi di Bandung di pertengahan abad ke 19 di masa kepemimpinan Bupati Bandung Wiranatakusumah III  yaitu peristiwa  Hura Hara Munada yang memakan korban pejabat tinggi Eropa dan peristiwa Raksa Praja.  

Transfomasi Bandung menjadi ibukota Priangan juga dibahas di buku ini. Dengan dijadikannya Bandung sebagai pusat pemerintahan karesidenan, maka Bandung mulai bebenah. Lalu lintas pengunjung Bandung baik tamu pemerintah maupun swasta semakin meningkat. Hal itu memicu didirikannya hotel, restoran, bank, dan perusahaan-perusahaan dagang Eropa di Bandung.Masuknya jalur kereta api keBandung juga mengubah wajah Bandung menjelang abad ke 20. Dalam waktu singkat, kawasan Bandung dan sekitarnya yang juga terkenal dengan keindahan alamnya menarik banyak wisatawan untuk berkunjung.

Sebagai pelengkap buku ini menyajikan rute wisata Bandung dari Hotel Homann yang diterjemahkan dari buku Gods voor Bandoeng. Selain itu ada pula kutipan lengkap dari buku catatan perjalanan M Buys, pengelana Belanda yang menelurusi kota  Bandung dan sekitarnya di akhir abad ke 19.


Buku ini diakhiri dengan potongan pengalaman William H. Sewards, pengelana asal Amerika Serikat ketika mengunjungi Bandung pada 1870 yang diantaranya memuat kesan khususnya terhadap bupati Bandung yang bertindak bagaikan raja dan pengalamannya menunjungi Curug Dago. 

Walau bersifat ensiklopedis namun  buku setebal 244 halaman  ini bukan sekedar pemaparan angka, tahun, akan apa yang pernah terjadi di Bandung  hingga awal abad ke 20 saja, melainkan juga menyajikan kisah-kisah baik itu legenda maupun kisah-kisah menarik yang benar-benar terjadi dimasa itu. Dengan demikian buku ini menjadi buku sejarah populer yang mengasyikan untuk dibaca.

Buku yang dilengkapi puluhan foto/ilustrasi ini sangat kaya akan informasi baik  mulai dari sejarah geografis Bandung, legenda, artefak-artefak, tokoh-tokoh sejarah baik tokoh lokal dan asing yang pernah tinggal di Bandung, kebijakan para bupati dan pemerintahan kolonial di Bandung dan sekitarnya hingga obyek-obyek wisata dimata para pengelana asing. Hal ini dimungkinkan karena penulis sepertinya telah menelisik ratusan buku. koran, majalah, dll. yang terkait Bandung dan sekitarnya. Tidak heran jika buku ini memuat ratusan catatan kaki yang bersumber dari puluhan buku-buku sejarah dari yang tertua hingga terkini. 

Yang agak disayangkan dari buku ini adalah dari segi layoutnya saja. Batas margin teks pada buku ini terkesan mepet, sehingga tampilan teks dan fotonya terkesan sempit. Jika batas marginnya agak dilebarkan mungkin akan lebih nyaman dibaca.

Terlepas dari hal diatas buku ini sangat baik untuk diapresiasi bagi siapa saja yang ingin mengetahui sejarah kota Bandung secara lengkap. Buku ini bagaikan sebuah rangkuman yang mengungkap informasi yang selama ini tercecer di beberapa buku atau bahkan informasi unik yang belum diketahui masyarakat umum. Mulai dari Bandung pada masa prasejarah hingga awal abad ke-20.

Sebagai informasi tambahan, menurut penulisnya, jilid kedua dari buku ini akan terbit di akhir tahun 2020 ini dengan judul Pesona Perkebunan di Priangan. Setelah itu rencananya akan terbit lagi hingga 5-6 jilid lagi dengan judul sbb :

Pesona Pendidikan dan Pergerakan Nasional di Bandung, Pesona Masa Keemasan Bandung (2 buku), Pesona Bangunan Kolonial di Bandung.

 @htanzil