Monday, April 06, 2020

Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih

[No. 390]
Judul : Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih
Penyusun : Deni Rachman
Penerbit : Menara API
Cetakan : I, Februari 2020
136 hlm, 13x19 cm

Nama Inggit Garnasih mungkin kalah terkenal dengan para wanita yang  pernah mendampingi kehidupan Ir. Soekarno proklamator dan Presiden pertama Indonesia. Tidak banyak memang yang menulis tentang Inggit Garnasih, dalam buku teks sejarah-sejarah resmi namanyapun hanya ditulis selewat saja padahal  sebenarnya peran Inggit Garnasih sebagai istri kedua Bung Karno  sangatlah berperan besar bagi perjuangan Bung Karno. Inggit dengan setia mendampingi Bung Karno  semenjak ia menjadi mahasiswa di Technische Hoogeschool te Bandoeng  (sekarang Institut Teknologi Bandung/ITB), terjun ke dunia politik, dipenjara di Sukamiskin Bandung, dibuang ke Flores dan Bengkulu hingga beberapa bulan menjelang kemerdekaan Indonesia.

Buku referensi mengenai Inggit Garnasih pun sangat terbatas. Yang paling populer dan paling sering dijadikan acuan oleh para penulis dalam mengangkat sosok Inggit Garnasih adalah novel biografis Kuantar Ke Gerbang karya Ramadhan KH, yang pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Sinar Harapan, 1981. Selain itu ada buku Perempuan dalam Hidup Sukarno : Biografi Inggit Garnasih, karya Reni Nuryanti, Penerbit Ombak, 2007

Bersyukur kini terbit sebuah buku Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih yang merupakan kumpulan tulisan dari para jurnalis yang dimuat berbagai media cetak (Mahasiswa Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Bernas, Zaman, Mangle, dll) yang terbit dari tahun 1975 - 2000. Beberapa penulis terkenal seperti Seno Gumira Ajidarma, Haryoto Kunto, Tatang Sumarsono, Suryanto Sastroatmodjo ikut menulis tentang Inggit.

Buku ini terdiri dari 13 tulisan tentang Inggit Garnasih yang hampir semuanya menceritakan keistimewaan Inggit dimata para jurnalis dalam berbagai bentuk tulisan jurnalistik yang bersumber dari  wawancara langsung dengan ibu Inggit di masa tuanya, wawancara dengan orang-orang terdekat Inggit atau dari berbagai sumber yang ada saat tulisan-tulisan tersebut dibuat.

Dari ke 13 ragam  tulisan yang ada dalam buku ini  kita dapat memperoleh fakta-fakta dan kisah-kisah menarik dari kehidupan Ibu Inggit antara lain kisah tentang nama Inggit . Seperti yang banyak ditulis nama Inggit berasal kata ringgit karena saat kecil ia sering mendapat  uang seringgit dari orang-orang yang menyukai kelucuan Inggit. Namun ada hal lain terungkap di salah satu tulisan di buku ini yang menyatakan bahwa nama Inggit berasal saat Inggit Garnasih yang cantik adalah  pemain wayang uwong yang pandai menari.

"Setiap dia membuka topengnya dalam menari, lalu tersenyum, maka berhamburanlah uang ringgit para penonton dengan senang hati dan rela demi senyum yang menawan itu." Dan jadilah nama 'Inggir yang berasal dari kata 'ringgit'
(hlm 11)

selain itu terungkap pula cerita lain yang mengatakan bahwa nama 'inggit'  berasal dari karena cantiknya Inggit Garnasih, maka orang tuanya menjadi sangat cemas sehingga ia memingit Inggit. Dari kata 'pingit'lah datangnya nama 'Inggit'

Peran dan jasa Ibu Inggit dalam mengantar Soekarno sampai ke pintu gerbang kemerdekaan sangatlah besar. Hal ini yang membuat pemerintah RI menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama untuk almarhumah Ibu Inggit Garnasih pada tahun 1997.  Seperti yang ditulis Haryoto Kunto bahwa dimanapun Bung Karno berada, Inggit selalu mendampinginya. Jika dalam sebuah acara biasanya istri para tokoh atau pejabat selalu duduk di kursi depan, lain halnya dengan Inggit yang berbaur dengan hadirin di belakang sambil mengamat-ngamati gerak-gerik para hadirin.

Jika ada di antara hadirin yang dicurigainya, maka segera Inggit menghampiri orang tersebut, duduk atau berdiri di sisinya, sambil memegang dan mengelus-ngelus bahu atau punggung orang yang dicurigainya itu, sampai ia terbukti benar-benar spion Belanda.... berkali-kali Ibu Inggit berhasil membongkar spion kolonial yang menyusup. Sorot mata Inggit yang tajam disertai daya linuwih, indra keenam, merupakan kekuatan batin menambah daya tahan Bung Karno dalam perjuangannya kala itu.  
(hlm 39)

Buku ini juga memuat kisah-kisah pertemuan Inggit dengan Soekarno, saat-saat dalam pembuangan di Ende dan Bengkulu,  kisah perceraiannya dengan Bung Karno karena tidak mau dimadu, hingga berita tentang meninggalnya ibu Inggit pada tahun 1984 di usia 90 tahun

Buku ini diakhiri dengan dua tulisan tentang rumah bekas kediaman Ibu Inggit di jalan Ciateul no. 8 Bandung. Yang pertama yaitu tentang rencana Pemda Jabar untuk memugar rumah bersejarah tersebut. Yang kedua tentang keadaan rumah tersebut di tahun 2000 yang ternyata  masih menjadi 'rumah hantu' walau telah dipugar pada tahun 1997.

Beberapa tulisan dalam buku ini bisa digolongkan sebagai sumber primer karena berasal dari wawancara langsung dengan ibu Inggit ketika ia masih hidup atau wawancara dengan orang-orangyang pernah dekat dengan Ibu Inggit. Karena buku ini disajikan dalam bentuk narasi kliping yaitu dengan memindahkan tulisan yang tadinya ada di koran atau majalah tanpa merubahnya (kecuali tulisan  bahasa Sunda yang diterjemahkan penyusun kedalam bahasa Indonesia) maka buku ini membawa suasana, nuansa tulisan, bahasa jurnalistik,  dan semangat zaman pada saat tulisan-tulisan dalam buku ini dimuat sehingga pembaca akan dibawa kedalam suasana di tahun 1970 - 2000-an. 

Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto dari guntingan koran dan majalah. Sayangnya penempatannya  agak kurang tepat misalnya foto kliping artikel majalah Zaman yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma ditempatkan bukan di samping tulisan Seno. Hal ini terjadi juga pada beberapa foto-foto lainnya. Mungkin akan lebih baik kalau foto tersebut ditempatkan tepat di awal atau akhir tulisan yang dimaksud. Atau kalaupun sulit dalam penempatannya seluruh foto-foto bisa dikumpulkan atau ditempatkan di bagian akhir buku ini secara kronologis.

( Foto Ibu Inggit Ganarsih & Haryatie Soekarno, Madjalah Sunda, 1966)

Penyebutan nama Inggit berasal dari dirinya yang ketika kecil sering diberi uang sebanyak seringgit jika pergi ke pasar. Selain itu, di malam harinya juga suka ada yang melempari dinding kamarnya dengan uang seringgit yang terbungkus dengan genting. "Sejak itulah aku diberi nama atau katakanlah disebut orang-orang di rumah pada mulanya, si Ringgit dan kemudian menjadi si Inggit, sebutan yang lebih manis kedengarannya," kata Inggit dalam buku Soekarno: Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan K.H.


Sumber : https://www.sejarahbogor.com/2019/04/romantika-inggit-sukarno.html

Penyebutan nama Inggit berasal dari dirinya yang ketika kecil sering diberi uang sebanyak seringgit jika pergi ke pasar. Selain itu, di malam harinya juga suka ada yang melempari dinding kamarnya dengan uang seringgit yang terbungkus dengan genting. "Sejak itulah aku diberi nama atau katakanlah disebut orang-orang di rumah pada mulanya, si Ringgit dan kemudian menjadi si Inggit, sebutan yang lebih manis kedengarannya," kata Inggit dalam buku Soekarno: Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan K.H.


Sumber : https://www.sejarahbogor.com/2019/04/romantika-inggit-sukarno.html


Untuk berita tentang rumah sejarah peninggalan Inggit agak disayangkan penyusun tidak memasukkan berita atau artikel terkini tentang rumah tersebut. Seperti disebutkan di atas, buku ini ditutup dengan berita di tahun 2000 tentang keadaan rumah ibu Inggit yang masih menjadi 'rumah hantu' padahal saat ini rumah tersebut telah dipugar kembali seperti museum yang berisi panel-panel keterangan dan foto-foto tentang kehidupan Inggit Garnasih. Kini rumah tersebut kerap menjadi tujuan wisatawan dan pelajar untuk menggali sejarah mengenai Inggit Garnasih.

Terlepas dari hal di atas kehadiran buku ini perlu diapresiasi dengan baik. Seperti apa yang menjadi harapan penyusun buku ini, buku ini setidaknya dapat menjadi pembuka kanal awal informasi alternatif terhadap siapa, bagaimana, dan apa manfaat yang publik rasakan dari kisah hidup Inggit Garnasih.

Selain itu buku ini juga berperan besar dalam mengenalkan kembali kepada masyarakat luas terutama genenasi milenial akan sosok Ibu Inggit Garnasih, perempuan Sunda yang dalam kesederhanaan dan kerendahan hatinya mendampingi dan memberi semangat pada Bung Karno. Walau pada akhirnya harus bercerai, dua puluh tahun pernikahan Bung Karno dan Inggit  bukanlah sebuah kesia-siaan karena Inggitlah yang banyak berperan dalam ikut membentuk pribadi Bung Karno menjadi seorang pejuang yang tangguh sekaligus mengantar Bung Karno mewujudkan cita-citanya untuk memerdekakan bangsanya.

@htanzil
Mulanya ia diberi nama Garnasih dari kata hegar (segar menghidupkan) dan asih (kasih sayang). Penyebutan nama Inggit berasal dari dirinya yang ketika kecil sering diberi uang sebanyak seringgit jika pergi ke pasar. Selain itu, di malam harinya juga suka ada yang melempari dinding kamarnya dengan uang seringgit yang terbungkus dengan genting. "Sejak itulah aku diberi nama atau katakanlah disebut orang-orang di rumah pada mulanya, si Ringgit dan kemudian menjadi si Inggit, sebutan yang lebih manis kedengarannya," kata Inggit dalam buku Soekarno: Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan K.H.

Sumber : https://www.sejarahbogor.com/2019/04/romantika-inggit-sukarno.htmlKini rumah tersebut kerap menjadi tujuan wisatawan dan pelajar untuk menggali sejarah mengenai Inggit Garnasih. Di setiap ruangan tersebut dipenuhi oleh foto-foto Inggit bersama dengan Soeka@hta

Friday, March 27, 2020

Bandung di Waktu Malam

[No. 389]
Judul : Bandung Di Waktu Malam
Penulis : Soe Lie Pit
Editor : Wahyu Wibisana
Penerbit : Pustaka Klasik bekerja sama dengan PT Kahatex
Cetakan Pertama : Januari 1931
Diterbitkan Kembali : Desember 2019
Tebal : 120 hlm

Buku ini merupakan sebuah kisah fiksi karya Soe Lie Piet , ayah dari Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin (Arif Budiman). Karya-karya Soe Lie Pit kebanyakan bergenre "novel etnografis", novel yang mengambil latar belakang budaya sebuah daerah.

Di karyanya ini Soe Lie Pit mengambil mengambil latar belakang kota Bandung dan gunung Tangkuban Perahu di tahun 1930-an.  Novel ini menceritakan tentang seorang petapa sakti bernama Rayahna. Ia telah bertapa bertahun-tahun di gua dalam hutan di puncak Gunung Tangkuban Perahu. Kesaktiannya memungkinkan ia dapat melihat sesuatu dari jarak ratusan mil; ia bisa datang di segala tempat, bisa tahu apa yang sedang dipikirkan orang. Selain itu Rayahna juga bisa berganti rupa seperti yang ia kehendaki.

Di atas puncak gunung Tangkuban Perahu Rayahna kerap mengamati kota Bandung yang dimalam hari begitu bercahaya dengan  lampu-lampu yang gilang gemilang. Namun ditengah gemerlapnya Bandung lewat mata batinnya Rayahna melihat adanya cahaya hitam yang senantiasa mengepul naik dari kota Bandung. Baginya cahaya hitam itu adalah nafsu jahat dari hati manusia.

Penasaran dengan cahaya hitam yang mengebul Rayahna bertekad untuk melihat sendiri kota Bandung dari dekat.

"Biarlah mulai besok malah aku akan turun ke Bandung buat begaul kembali pada manusia supaya aku bisa tahu dengan jelas yang disertai bukti-bukti bahwa mengebulnya itu cahaya hitam saban saat ke atas udara bukan tidak ada lantarannya" (hlm 6)

Rayahna turun ke Bandung selama 10 malam. Dari pengalamannya selama di Bandung itulah kisah-kisah dalam novel ini mengalir. Penulis membagi kisah-kisahnya dalam 10 malam. Masing-masing kisah berdiri sendiri dengan benang merah kehidupan malam yang gemerlap.

Bandung yang begitu gemerlap diwaktu malam di tahun 1930an yang terkenal glamour termasuk aktivitas dunia hiburan malam beserta pelacurannya inilah yang menurut penulis merupakan salah satu faktor yang membuat Bandung diberi julukan sebagai Parijs van Java.

"Soal yang kita mau bicarakan di sini yaitu tentang cara bagaimana pelacuran bisa dibasmi atau dibikin  kurang sebisanya yang banyak merajalela di Java, terutama Bandung ada terkenal betul hingga ini kota dapat titel sebagai Parijs van Java" (hlm 98-99)

Hal ini tentu menambah referensi lagi mengapa Bandung disebut Parijs van Java. Kuncen Bandung Haryoto Kunto  dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, 1980 mengatakan kemungkinan julukan tersebut muncul  dari seorang pedagang Belanda bernama Roth yang mempromosikan dagangannya (pakaian) di pasar malam Jaarbeurs.  Kemungkinan diambilnya nama Paris karena Paris saat itu telah menjadi kiblat mode dunia. Dengan sebuatan Parijs van Java diharapkan dapat menarik minat orang untuk datang ke pasar malam tahunan Jaarbeurs dan membeli dagangannya.

Jaarbeurs atau Pasar malam tahunan yang sangat terkenal disaat itu juga ikut mengilhami penulis untuk menulis kisah yang berlatar Jaarbeurs. Dari kisahnya kita bisa melihat bagaimana suasana Jaarbeurs saat itu

Ini malam Bandung penuh sekali dengan keramaian dan kegirangan yang beda betul seperti biasa. Di jalan-jalanan besar sesak dengan berbagai kendaraan dan orang yang jalan kaki yang pada menuju ke sebalah utara. Ada apa? Jaarbeurs!

Hampir boleh dipastikan semua orang dengan paras girang pergi ke Jaarbeurs; di straat, dalam kendaraan,di rumah-rumah, tidak lain yang disebut: Jaarbeurs, karena ini pasar tahunan yang ramai yang baru dibuka ini malam

Lampu-lampu  listrik yang dipasang buat membikin terang lapangan Jaarbeurs dan sekitarnya, ia punya cahaya bisa kelihatan dari tempat-tempat yang terpisah jauh juga.

Ketika itu lapangan Jaarbeurs yang luas telah jadi padat dengan penonton-penonton dari segala bangsa. Suara dari segala macam tontonan dengan musiknya yang ribut sangat diperdengarkan, dan dibarengi dengan suara dari orang banyak yang sebentar-sebentar tertawa girang .
 (hlm 111)

Secara umum kisah-kisah dalam buku ini menggambarkan sebuah paradok antara gemerlapnya kota Bandung di waktu malam dan antusiasnya penduduk kota Bandung menikmati dunia malam dengan kepedihan yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Seolah penulis hendak mengatakan bahwa gemerlapnya dunia malam dapat membawa orang-orang terjerembab kedalam nafsu jahat di hati manusia yang pada akhirnya akan melahirkan berbagai kepedihan seperti yang dialami tokoh-tokohnya.

Walau berupa buku fiksi namun dengan diterbitkannya kembali buku ini patut diapesiasi dengan baik karena sedikit banyak dapat menggambarkan kepada pembaca dimasa kini bagaimana suasana kota Bandung di waktu malam di tahun 1930an ketika Bandung terkenal hinga seantero Eropa

 

Buku Bandung di Waktu Malam  terbit pertama kali pada tahun 1931 oleh penerbit Elect: Drukkeij : Minerva", Bandoeng. Penerbit yang secara rutin, sebulan sekali menerbitkan buku-buku fiksi karya penulis-penulis Tionghoa.

Bersyukur novel yang terbit hampir 90 tahun yang lalu, yang telah lama terlupakan ini akhirnya diterbitkan kembali dalam edisi hard cover oleh Pustaka Klasik berkat dukungan PT. Kahatex, salah satu  pabrik terkstil terbesar di Bandung yang tampaknya peduli akan pelestarian kesasteraan Melayu Tionghoa. 

Dalam penerbitan ulang ini, penerbit tidak mengubah sedikitpun struktur kalimat dan ceritanya. Perubahan hanya dilakukan dengan  mengubah ejaan bahasa yang aslinya ditulis menggunakan ejaan Van Ophuyesen menjadi ejaan baku seperti "oe" menjadi "u","tj" jadi "c" sehingga pembaca masa kini lebih mudah memahami ceritanya.

@htanzil

Friday, November 01, 2019

KRIYA DAN ILMU MENYEDUH KOPI

[No. 388]
Judul : Kriya dan Ilmu Menyeduh Kopi
Penulis : Dr. Britta Folmer (editor)
Penerjemah : Rani S. Ekawati
Penerbit : Kriya Rasa Indonesia
Cetakan : I, September 2019
Tebal : x + 157 hlm
ISBN : 978-602-53301-2-4

Buku ini merupakan jilid kedua dari empat jilid buku yang akan diterbitkan oleh Penerbit Kriya Rasa Indonesia. Jilid pertamanya yang berjudul Kriya dan Ilmu Menyangrai Kopi  telah terbit pada  Juli 2019 lalu. Jika jilid pertama mengangkat tema penyangraian, di jilid kedua ini penerbit mengumpulkan lima bab dari buku The Craft and Science of Coffe yang memiliki tema seputar penyeduhan kopi.

Buku ini membahas mengenai cara menyeduh kopi yang benar,   proses ekstraksi pada kopi, hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyeduh kopi, cara meracik air agar mendapat seduhan terbaik, cara menjaga kesegaran biji kopi sebelum diseduh, dan  tentang  krema pada kopi.

Buku ini dibagi dalam 3 bab utama, pertama dengan judul PENGGILINGAN: Partikel dan Ciri Khasnya mengenai membahas mengenai karakteristik partikel kopi, teknologi penggilingan, dan pentignya penggilingan dalam penyeduhan kopi.

Jika membaca bab ini nyatalah bahwa penggiling (grinder) yang berkualitas tinggi merupakan kebutuhan baik di industri kopi maupun kafe-kafe kopi spesialti karena penggiling yang baik akan menghasilkan kopi bubuk yang sesuai dengan ekstraksi yang diinginkan. Namun secanggih apapun penggilingnya para barista tetap perlu mengembangkan ketrampilan mereka sehingga mereka bisa mengendalikan penggiling untuk mengasilkan bubuk kopi agar dapat diseduh secara sempurna.

Bab kedua dengan judul MEMPERTAHANKAN RASA : Kesegaran Sebagai Kunci Kualitas,  membahas bagaimana kopi yang enak tergantung dari orang yang membuatnya sehingga si penyeduh kopi harus dapa memahami bagaimana mengukur kesegaran kopi, indeks kesegaran, bagaimana menyimpan kopi sangrai agar tetap segar, dan memastikan kesegaran kopi melalui penggunaaan kemasan yang optimal.

Di bagian ini juga kita akan menemukan sejarah kopi spesialti yang berawal  ketika Alfred Peet membuka kedai kopi di Berkeley, Amerika Serikat pada 1 April 1966. Alfred Peet dianggap sebagai pelopor gerakan kopi spesialti meskipun saat itu istilah "kopi spesialti" belum digugakan. Filosofinya dalam membuat kopi adalah membuat jarak sependek mungkin antara roaster dan pelanggan. Kesegaran menjadi jantung dari visi dan konsep kualitas yang diusungnya. Sejak saat itu, kesegaran kopi menjadi fokus bagi mereka yang hendak menghidangkan kopi berkualitas tinggi.

Bab ketiga,  PENYEDUHAN: Mengekstraksi untuk Memperoleh Secangkir Kopi yang Nikmat  membahas variabel penting dalam menyeduh kopi antarai lain kualitas air, suhu air, dan tekanan ekstrasi  untuk memodulasi citarasa kopi hasil seduhan. Selain itu dibahas juga  beberapa metode penyeduhan seperti Kopi Turki, French Press, Moka Pot, kopi seduh dingin  dan es kopi.

Bab keempat AIR UNTUK EKSTRAKSI: Komposisi, Rekomendasi, dan Penangan  membahas mengenai air untuk ekstraksi seperti sifat fisikokimiawi air, dampak komposisi air terhadap ekstraksi, uji citarasa dengan air yang berbeda,dll.

Bab kelima, KREMA: Pembentukan, Stabilisasi, dan Sensasi. Bagian terakhir dari buku ini secara khusus membahas mengenai Krema yang sering dianggap sebagai mahkota kopi pada espreso. Para ahli kopi menggunakan krema untuk menilai kualitas dari ekstraksi kopi. Bagi para barista pembentukan krema adalah suatu seni, sedangkan bagi para penikmat kopi krema adalah bagian dari ritual kopi, ada yang membuangnya, sebagain orang mengaduknya, dan sebagian lain memutar-mutar cangkirnya untuk mencampur krema dengan kopi hingga sesapan terakhir.

Di bagian ini pembaca akan memperoleh pengetahuan bagaimana krema terbentuk, bagaimana menstabilisasi krema, sifat kimia krema,dan bagaiman pengaruh  krema terhadap visualisasi, aroma dan rasa pada kopi.

Dengan bahasannya yang detail, rinci dan ilmiah disertai tabel dan grafik buku ini sangat baik untuk djadikan buku panduan bagi para barista, peneliti kopi, dan  pegiat kopi yang ingin mendalami ilmu pengetahuan terkait penyeduhan kopi. Namun bagi para home brewer atau mereka yang baru saja menekuni dunia kopi kemungkinan  akan menemui kesulitan dalam memahami keseluruhan isi buku ini terutama pada bagian yang terkait proses fisiokimiawi dari kopi dan air yang memang memerlukan pengetahuian khusus untuk dapat memahaminya.

Namun terlepas dari hal tesebut, seperti yang diungkapkan oleh penerbit dalam buku ini, semoga kehadiran buku ini bisa meningkatkan perkembangan dunia penyeduhan kopi di Indonesia menjadi lebih luas dan memanik barista dan brewer serta ilmuwan kopi Indonesia untuk turut menulis soal penyeduhan kopi sesuai dengan keahliannya masing-masing yang dapat memperkaya khazanah kopi Indonesia.

@htanzil

Thursday, October 10, 2019

MERAJUT RELASI BISNIS : Surat-surat Tan Joen Liong, Kapiten Tionghoa Bandung

 [No.387]
Judul : Merajut Relasi Bsinis, Surat-Surat Tan Joen Liong, Kapiten Tionghoa Bandung
Penyunting : Ali Rauf Baswedan
Penerbit : Quantum
Cetakan : I, Agustus 2017
Tebal : 112 hlm
ISBN : 978-602-60475-7-1

Tan Joen Liong (1858-1917) adalah Kapiten Tionghoa Bandung, pejabat lokal yang diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai pemimpin tertinggi orang-orang Tionghoa di wilayah tertentu. Biasanya yang diangkat menjadi kapiten Tionghoa adalah figur terpandang atau tokoh yang berpengaruh di kalangan orang-orang Tionghoa.
Walau Tan Joen Liong termasuk orang yang berpengaruh di masanya sayangnya hanya sedikit riwayat kehidupannya yang diketahui orang hingga kini. Berpuluh tahun yang silam sebenarnya namanya pernah diabadikan menjadi nama sebuah jalan yang waktu itu masih berupa jalan kecil yang diberi nama  Jl. Joen Liong (sekarang Jl. Baranangsiang) di kawasan Kosambi Bandung.

Tan Joen Liong lahir pada tahun 1858 di Jiaoling, provinsi Guandong China. Pada tahun  1888, Di usia yang ke 30  ia diangkat menjadi Letnan Tionghoa Bandung. Mengantikan posisi ayahnya, Tan Haij Liong yang mengundurkan diri.

Kepemimpinan Tan Joen Liong sebagai Letnan Tionghoa Bandung berakhir pada tahun 1917. Tan Joen Liong mengundurkan diri sebelum jabatannya berakhir. Salah satu penyebabnya karena ia menderita sakit permanen.  Pada tanggal 21 April 1917  Tan Joen Liong diberhentikan dengan hormat oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dan    karena jasa-jasanya dan pengabiannya selama 29 tahun sebagai Letnan Tionghoa Bandung pemerintah memberi  gelar kehomatan Kapiten Titulair (Kapiten kehormatan) kepada Tan Joen Liong. Empat bulan kemudian, di usia yang ke 59 Tan Joen Liong meninggal dunia.

Selain sebagai seorang kapiten, Tan Joen Liong juga dikenal sebagai seorang pengusaha. Bisnis utamanya adalah berdagang Tapioka. Ia memiliki pabrik tapioka dengan kapasitas produksi hingga 3000 pikul (180 ton) per bulan. Selain untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, tapiokanya juga diekspor ke mancanegara seperti yang terungkap dalam surat penawaran produknya kepada Agenschap der Maatschappij pada 4 September 1902

"Produksi pabrik saya sebulan 1000 pikul sampai 3000 pikul.....Saya selalu pakai karung baru (merk strip 3 biru). Selama ini saya pakai karung itu untuk dikirim ke Amerika, London, Amsterdam juga ke negeri Tiongkok.... Pabrik saya memproduksi 3 jenis tepung tapioka no 1 merk Bathong A, no 2 merk Liongkie K.K dan no. 3 jenis merk Banthong B. Tuan-tuan di Eropah sudah percaya 3 jenis merk ini, tanpa mengirim contoh barang terlebih dahulu, hanya bicara soal merk dan harga saja."
 (hlm 80)

Seperti pebisnis besar pada masanya, Tan Joen Liong  kerap menulis surat kepada rekan-rekan bisnisnya.  Rupanya surat-surat bisnisnya tersebut masih ada hingga kini. Walau telah berusia 120 thn lebih  surat-suratnya masih terbaca dan kini dikoleksi oleh Ali Rauf Baswedan, seorang dokter yang juga  kolektor surat-surat dan kartu pos lawas. Surat-surat Tan Joen Liong tersebut ditulis tangan menggunakan huruf latin dalam bahasa Melayu dan Inggris diatas kertas tipis ukuran. 28 x 22 cm yang dijilid menjadi sebuah buku setebal 500 halaman.

Surat-surat asli Tan Joen Liong yang sudah dijilid. 

Berdasarkan surat-surat bisnis Tan Joen Liong yang dimilikinya tersebut dr. Ali Baswedan memilah-milahnya berdasarkan kategori untuk dijadikan buku yang dapat dibaca oleh banyak orang hingga akhirnya terbitlah buku berjudul Merajut Relasi Bisnis, Surat-Surat Tan Joen Liong, Kapiten Tionghoa Bandung

Buku ini memuat 77 surat bisnis Tan Joen Liong ke rekan bisnisnya di Cimahi, Cimindi, Sumedang, Sukabumi, Bogor dan Batavia selama tahun 1900-1903. Surat-suratnya tersebut dibagi kedalam 9 bagian berdasarkan tujuan dan jenis surat. Karena surat bisnis tentunya semua surat-suratnya ditulis dangan lugas, to the point. Dari surat-suratnya ini kita akan mengetahui bagaimana Tan Joen Liong menjalankan roda bisnisnya. Selain tapioka yang menjadi bisnis utamanya Sang Kapiten juga menjalankan bisnis penggilingan beras, dedak, ubi, dll.

Karena bisnisnya merambah hingga ke luar negeri tentu saja Tan Joen Liong fasih berbahasa inggris.  hal tersebut dibuktikan dengan beberapa suratnya yang menggunakan bahasa inggris. Selain itu ia juga memiliki rasa keingintahuan yang kuat untuk mengetahui apa yang terjadi di luar negeri. Dalam surat bisnisnya kepada Silas & Cohen terselip permintaannya pada rekan bisnisnya agar dapat dikirimkan secara rutin koran berbahasa Inggris dari Singapura dan London.

...Juga kalau Tuan berkenan, setelah Tuan habis membaca koran dari Singapura atau London yang berbahasa Ingris setiap penerbitan, mohon dikirimkan pada saya. Biaya kirim nanti saya ganti pada Tuan.

Saya sudah terima surat Tuan dan juga koran, terima kasih banyak Kalau tuan masih berkenan dan korannya masih ada yang lain, saya harap dikirim lagi.
 (hlm 36-37)

Selain menjalankan bisnis Tapioka, Tan Joen Liong juga kerap mengikuti beberapa tender, beberapa diantaranya merupakan tender proyek besar seperti perbaikan jembatan Ancol dengan nilai proyek f 1.180, proyek jembatan diatas kanal Gunung Sahari senilai f 2.000, dan pembangunan konstruksi lengkungan jembatan Tjitjantik VII afdelling Sukabumi senilai f 18.850. Selain itu Tan Joen Liong menjadi pemasok pelumas dan material penerangan untuk keperluan dinas jawatan kereta api di Jawa selama tahun 1898.

Surat-surat Tan Joe Liong juga  mengungkapkan hubungan bisnisnya dengan sesama pegawai pemerintah, antara lain dengan  Nio Hoei Oen, Kapitan Tionghoa Batavia periode 1913-1916.  Hubungan bisnis seperti ini belum banyak diungkap dalam tulisan-tulisan tentang Kapiten Tionghoa lainnya.

Salah satu perannya sebagai seorang kapiten Tionghoa Bandung terungkap dalam suratnya kepada Law Kang Boen, agen kembang api di Batavia. Surat tersebut berisi pesanan kembang api untuk  perkawinan putra Bupati Bandung, RAA Martanegara pada tanggal 18 April 1902, dan surat pesanan kembang api untuk menyambut kedatangan Gubernur Jendral Williem Roseboom di Bandung pada tanggal 13-14 Mei 1902

Yang paling menarik dari puluhan surat bisnis dalam buku ini adalah terungkapnya tanggal kelahiran Tan Joen Liong. Selama ini publik hanya mengetahui tahun kelahirannya saja melalui batu nisan sang kapiten di pemakaman Cikadut Bandung.

Di surat pengajuan polis asuransi yang ditujukan kepada perusahaan asuransi Nederlandsch Indische Crediet en Bank Vereeniging di Batavia, Tan Joen Liong menulis demikian;

Saya lahir tahun Masehi 1858. Tanggal dan bulan tidak bisa saya sebut seperti tanggal dan bulan Masehi. Tetapi saya hitung waktu saya lahir kira2 72 hari lagi orang Eropah masuk tahun baru 1859. Hanya saya ingat betul tanggal, bulan, dan tahun kelahiran saya mengikuti almanak Tionghoa, yaitu tahun Kibi, bulan Kauw Gowe tanggal 28.
(hlm 56)

Berdasarkan surat tersebut jika dicocokkan dengan kalender Masehi maka akan muncul tanggal 3 November 1858. Tanggal ini berbeda dengan tahun kelahiran (tanpa tanggal dan bulan) yang tertulis di makam Tan Joen Liong, yaitu tahun 1859.

Masih banyak hal-hal menarik yang bisa ditemui dari surat-surat bisnis Tan Joe Liong yang ada di buku ini. Untuk menjaga originalitas surat sekaligus memudahkan pembaca masa kini untuk memahaminya maka setiap surat dalam buku ini disajikan dalam dua versi, pertama versi asli yg ditulis dalam bahasa melayu ejaan Van Ophuijsen dan  adaptasinya dalam versi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
Selain itu untuk lebih memahami konteks suratnya dalam setiap bab  penyunting memberikan keterangan  singkat tentang profil penerima surat beserta potongan iklan terkait dari berbagai koran lawas yang terbit di masa itu.




Kehadiran buku ini yang mendokumentasikan surat-surat bisnis Tan Joen Liang patut patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya. Apalagi ini menyangkut tokoh Kapiten Tionghoa di Bandung yang hingga kini riwayat kehidupannya tidak banyak diketahui orang karena minimnya data-data mengenai dirinya. Melalui surat-suratnya bisnisnya ini setidaknya bisa melengkapi data tentang Sang Kapiten yang terkubur oleh zaman.

Selain itu dengan membaca buku ini kita dapat mengetahui gambaran dari kegiatan bisnis dan dinamikanya di awal abad ke 20 dan bagaimana peran bisnis orang Tionghoa di masa itu. Walau tidak bisa digeneralisir namun setidaknya kita bisa mengetahui kira-kira seperti itulah kegiatan bisnis pengusaha etnis Tionghoa  di masa itu.

Bagi masyarakat kota Bandung, buku ini tentunya dapat menjadi kepingan berharga yang dapat melengkapi mengenai sejarah kota Bandung khususnya  tentang  etnis Tionghoa Bandung yang telah menjadi bagian dari pertumbuhan kota Bandung sejak ratusan tahun yang lampau.

Ketika review ini ditulis, penyunting buku ini sedang mempersiapkan jilid 2 dari buku ini yang masih rencananya akan diberi judul : Dipusaran Bisnis Tapioka. 

@htanzil

Iring-iringan prosesi pemakaman Tan Joen Liong di depan gedung De Vries, Bandung


"Kemarin sore (23 Agustus 1917), setelah mengalami sakit yang lama. 
Kapiten Titulair Tionghoa Bandung, Tan Joen Liong, meninggal dunia".
"Tidak hanya dalam dunia bisnis, sebagai pemilik pabrik tapioka dan penggilingan padi, Tan Joen Liong juga dikenal sebagai seorang tokoh yang familiar...Untuk tujuan amal, orang selalu bisa menemuinya, dia murah hati"

- Surat kabar De Preanger-Bode edisi 24 Agustus 1917-


Makan Tan Joen Liong di TPU Cikadut - Bandung
sumber foto : https://catatanvecco.wordpress.com


Nisan Tan Joen Liong, Kapiten Titulair Der Chineezen
sumber foto : https://mtnugraha.wordpress.com