Wednesday, March 06, 2019

The Little Coffee Know It All

[No. 382]
Judul Buku : The Little Coffee Know-It-All
Serba-serbi Kopi yang Harus Kamu Tahu
Penulis : Shawn Steiman
Penerjemah : Prasojo & Ining Isalyas
Penerbit : Kriya Rasa Indonesia
Cetakan : I, Januari 2019
ISBN : 978-602-53301-0-0


Buku ini berisi serba-serbi dunia kopi yang ditulis oleh Shawn Steiman, seorang doktor dalam bidang kopi,  praktisi kopi spesialiti,  konsultan kopi internasional, dan  pemegang sertifikat Q-grader.

Secara komprehensif penulis menyajikan bahasan  tentang kopo dengan cakupan yang luas mulai dari seluk beluk biji kopi  hingga ketika kopi disajikan dalam sebuah cangkir. Dalam bukunya ini penulis membagi bahasannya ke dalam empat bagian.yang masing-masing bagian berjudul;  1) Seluk Beluk Biji, 2) Menyangrai, 3) Menyeduh, 4) Di Seputar cangkir.

Walau Shawn Steiman adalah seorang ilmuwan kopi namun dalam bukunya ini ia mencoba menguraikan seluk beluk tentang kopi semudah mungkin antara lain dengan penulisan gaya F.A.Q. dimana semua judul dalam bukunya ini merupakan pertanyaan-pertanyaan  yang diantaranya  sering ditanyakan oleh para pecinta kopi dan mereka yang baru mengenal dunia kopi misalnya;
- Apa benar kopi Lanang lebih enak?
- Bagaimana cara menyimpan kopi agar tetap segar?
- Apa yang perlu saya tahu agar bisa menyangrai kopi di rumah
- Bagaimana cara bikin kopi yang paling nendang?
dll.

Pada intinya buku ini adalah buku mengenai sains kopi yang ditulis dengan gaya populer. Walau penulis sudah berusaha agar bukunya dapat dibaca dengan mudah oleh berbagai kalangan antara lain  dengan metode Q & A dan desain halaman dalam yang menarik namun jejak keilmuan Steiman tetap terlihat. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersaji di buku ini Steinman menggunakan jalur prinsip-prinsip ilmiah dan data stainstifik. Beberapa bagian malah terkesan terlalu ilmiah seperti saat menjawab pertanyaan tentang bagaimana kita mengetahui apakah kita sudah menyeduh dengan benar atau belum.

Buku ini terbit untuk pertama kalinya di Amerika di tahun 2015. Kehadiran terjemahan buku ini yang diterbikan oleh Kriya Rasa Indonesia yang masih satu atap dengan Philocoffee, toko kopi pelopor manual brewing yang sejak tahun 2010 menjual kopi speciality dan alat-alat kopi di Indonesia sangatlah tepat. Kaum urban di kota-kota  besar dan kecil di Indonesia semakin suka nongkrong dan minum kopi di cafe-cafe sehingga mendorong berdirinya cafe-cafe baru dan roaster-roaster baru yang berlomba-lomba  menyangrai dan menyajikan kopi speciality sebaik mungkin

Tidak hanya itu, kini semakin banyak orang kini  menjadi  home brewer, penyeduh kopi rumahan yang tidak hanya sekedar mengguyur kopi bubuk dengan air panas lalu meminumnya, melainkan menguliknya dengan berbagai cara agar dapat menghasilkan secangkir kopi yang enak. Dengan demikian kehadiran terjemahan buku ini sangatlah tepat bagi mereka yang ingin mengenal dan memperdalam lagi dunia kopi.

@htanzil

Bagi yang ingin melihat contoh halaman dalam dan daftar isi buku ini silahkan klik IG sy di sini

Thursday, January 17, 2019

Pohon Buku di Bandung : Sejarah Kecil Komunitas Buku di Bandung 2000-2009

[No.381]
Judul Buku : Pohon Buku di Bandung - Sejarah Kecil Komunitas Buku di Bandung 2000-2009
Penulis : Deni Rachman
Penerbit : MenaraAPI
Cetakan : 1, Des 2018
Tebal : 120 hlm


Bandung yang kini selalu dikenal dengan wisata fashion dan kuliner ternyata memiliki sejarah perbukuan yang panjang. Dinamika perbukuan di kota Bandung terus  mengalami pasang dan surut dan nyaris luput dari catatan sejarah kotanya.

Nyaris tidak pernah ada yang mencatat gerakan perbukuan dan komunitasnya di Bandung dalam sebuah buku hingga akhirnya di akhir tahun 2018 yang baru saja kita lewati terbitlah Pohon Buku Bandung, Sejarah Kecil Komunitas Buku di Bandung 2000-2009 yang ditulis oleh Deni Rachman, salah satu pegiat literasi di era 2000-an yang hingga kini masih setia bergelut dengan dunia buku dan literasi.

Mengambil analogi sebuah pohon, penulis mengamati masa tanam satu dasawarsa  perbukuan. Dimulai dari 'kultur tanah dan akar' pascareformasi 98 yang menjadi lahan subur untuk bertumbuhnya  'pohon buku' di Bandung, hal ini ditandai  dengan munculnya toko-toko buku alternatif berserta kantong-kantong literasi di berbagai sudut kota yang didukung oleh kebebasan berkumpul, berpendapat, dan mencari informasi

Buku ini berisi 26 tulisan yang bisa dibagi dalam 3 tema utama yaitu Toko Buku alternatif dan komunitas baca, perpustakaan, dan pelaku perbukuan. Dimulai dengan tulisan berjudul Bandung dan Buku, penulis merilis daftar toko buku yang pernah ada di tahun 1954 dan toko-toko buku umum dan alternatif di Bandung tahun 2000-2009. Tidak hanya berupa daftar toko buku, penulis juga menulis  profil toko-toko buku alternatif berbasis komunitas buku

Pada tulisan berjudul Bandung Kota Buku yang terlupakan kita memperoleh informasi bahwa pada awal abad ke-20 Bandung terukir dalam sejarah sebagai kota berbasis percetakan. Di masa itu tercatat ada dua pecetakan milik pribumi Bandung, salah satu diantaranya adalah Toko Tjitak Affandi (1930) dan sat percetakan milik Indo-Eropa bernama G. Kolff & Co.

Sedangkan toko-toko buku yang terkenal saat itu antara lain toko buku Prawirawinata, toko buku Pribumi pertama di Jalan Oude Hospitalweeg (sekarang Lembong), toko buku Van Drop (sekarang Landmark) di jl Braga, Toko Buku Visser dan Vorkink di jalan Asia Afrika. Selain itu kota Bandung di tahun 1924  juga dilengkapi dengan Perpustakaan "Centralle Bibliotheek" di area Gedung Sate yang memiliki buku tehnik dan umum terlengkap kedua setelah perpustakaan pusat di Batavia.  Di. Perpustakaan ini kabarnya  tersimpan buku antik karya Georf Ebenhard Rumph yang hanya dicetak 3 ekslempar saja.

Untuk pelaku perbukuan di Bandung penulis menyuguhkan hasil wawancaranya dengan nama-nama yang tidak asing di kalangan dunia literasi Bandung yang ikut membuat pohon buku di Bandung semakin membesar antara lain Ajip Rosidi, Haryoto Kunto (penulis legendaris buku--buku Bandung), Tarlen Handayani (Tobucil) yang bisa dikatakan sebagai perintis toko buku alternatif di Bandung, Bilven 'Sandalista' Gultom (Ultimus), Didin Tulus sang legenda pameran buku yang selalu berkiprah di setiap pameran buku di Bandung, Dadi Pakar (penggagas pemeran buku IKAPI pertama di Bandung), Soeria Disastra (penggerak sastra Tionghoa di Bandung), dll.

Selain pelaku buku ada juga profil tentang perpustakaan dan toko buku alternatif, toko buku online, dan komunitas buku yang melegenda baik yang saat ini sudah tidak ada maupun yang masih bertahan antara lain Rumah Buku (sekarang Kinereku), Das Mutterland yang fokus pada karya sastra Jerman, Ommunium yang menggabungkan antara toko buku dan distro, Klab Membaca Pramodedya, dll.

Beberapa pameran dan kegiatan perbukuan juga diulas di buku ini antara lain pemeran dan festival buku Stock Buku Bandung (5-8 Juni 2006), pasar buku Sabuga (7-14 Okt 2006), Books Day Out (2009) dll. Selain itu ada juga laporan pandangan mata penulis ketika terjadi peristiwa pembubaran Diskusi Filsafat Marxisme di toko Buku Ultimus pada 14 Desember 2006 yang kebetulan saat itu penulis bersama rekannya hadir di lokasi.

Sebagai penutup buku ini diakhiri dengan Kronik Buku di Bandung 2000-2009 yang mendata aktifitas perbukuan dan literasi di Bandung misalnya pameran, diskusi, worskop, peluncuran buku hingga peristiwa kebakaran pasar buku Palasari Bandung dan pembubaran diskusi filsafat Marxisme di Toko Buku Ultimus Bandung.

 Sebagai sebuah buku  yang merekam jejak dunia buku dan komunitas buku di Bandung dari awal bertumbuhnya hingga mencapai puncaknya selama satu dasawarsa buku ini patut diapresiasi karena buku ini menggambarkan bagaimana suasana perbukuan pada masa itu.

Yang sedikit disayangkan pada buku ini selain cetakan foto-foto yang kurang maksimal adalah tidak adanya kondisi terkini mengenai komunitas atau toko-toko buku alternatif yang dibahas di buku ini. Mengingat ada jarak satu dasawarsa lagi dari ketika pohon buku tumbuh subur hingga kini tentunya ada komunitas atau toko buku yang masih bertahan dan ada pula yang tinggal kenangan.

Tentunya akan lebih informatif jika dibagian akhir tiap bahasan penulis  melaporkan kondisi terkininya. Jika toko buku atau komunitas  itu sudah tidak ada bagaimana dengan orang-orang yang pernah mengelolanya saat ini? Intinya karena sebagian besar tulisan-tulisan dalam buku ini dibuat hampir satu dasawarsa yang lalu akan lebih informatif jika penulis meng-update kondisi terkini di setiap akhir tulisannya.

Terlepas dari hal diatas semoga kehadiran buku ini dapat menjadi pupuk yang subur bagi tumbuhnya kembali pohon buku di Bandung. Semoga buku ini dapat menjadi pemicu kembalinya komunitas-komunitas buku yang dulu pernah semarak sehingga cita-cita Bandung sebagai kota Buku yang pernah didengungkan oleh Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung prd 2013-2018 dapat terwujud.

Jika dilihat dari sisi historisnya Bandung memang layak disebut kota buku, namun sayangnya kini geliat perbukuan di Bandung semakin meredup. Akankah gairah perbukuan di Bandung kembali tumbuh, dapatkah pohon buku di Bandung tumbuh kembali dengan subur ditengah semaraknya pertumbuhan dunia fashion dan kulinernya?
 
@htanzil

Friday, March 09, 2018

Hikayat Sebatang Pensil

[No.380]
Judul : Hikayat Sebatang Pensil, Kumpulan Cerita dan Puisi
Penulis : Putri Salsa Meilani, dkk
Penyunting : Andrenaline Katarsis
Penerbit : Kebun Baca Sarerea & Katarsis Book
Cetakan : I, 2017
Tebal : 78 hlm

Buku ini merupakan kumpulan  cerita dan puisi dari anak-anak TBM (Taman Bacaan Mandiri) Kebun Baca Sarerea (KBS) Kampung Pangadegan Hilir, Desa Pagelaran, Kab, Cianjur- Jawa Barat.  TBM KBS adalah sebuah perpustakaan desa dimana anak-anak di sekitarnya bisa puas membaca buku-buku secara gratis untuk menyemai khazanah kecintaan mereka pada buku, bacaan dan menulis.

TBM KBS didirikan pada tahun 2014 oleh Usep Hamzah, seorang warga desa Pagelaran yang  sekarang bermukim di St. Gallen Swiss. Aktifitas di Kebun Baca Sarerea tidak hanya diisi dengan membaca atau pinjam meminjam buku tetapi juga diadakan pelbagai aktivitas literasi seperti reading group, workshop membuat kliping, teknik pembacaan puisi, dan belajar tulis menulis (cerpen dan puisi) yang dimentori oleh para pengurus KBS. Untuk itu secara rutin dalam kurun waktu setahun sekali Kebun Baca Sarerea mengundang pegiat-pegiat literasi dari kota-kota terdekat untuk membagikan ilmu sekaligus menularkan semangat literasi mereka kepada anak-anak yang berada di sekitar KBS.


Apa yang dilakukan Usep Hamzah dan kawan-kawannya ternyata tidak sia-sia. Anak-anak desa Pangadegan kini tidak hanya suka membaca,  merekapun kini dapat menulis. Dari puluhan karya anak-anak SD dan SMP yang tergabung dalam komunitas KBS  terkumpullah 13 cerita dan 22 puisi dengan beragam tema dan ditulis dalam kepolosan anak-anak seusianya.

Hikayat Sebatang Pensil yang dijadikan judul buku ini adalah salah satu cerita dalam buku ini yang mengisahkan tentang sebatang pensil. Dalam cerpen ini diceritakan tentang sebatang pensil  yang dibeli seseorang dari sebuah toko buku alat-alat tulis. Dikisahkan bagaimana ia harus diruncingkan dalam lubang serutan sebelum digunakan untuk menulis. Walau terasa sakit karena harus selalu diruncingkan dan semakin lama ia menjadi semakin pendek namun sang pensil merasa bahagia.

Pisau yang tajam itu akan kemabli memangkasku. Meski sakit, tapi aku bahagia. Karena aku berguna untuk membuatnya pandai menulis... aku menjadi pendek. Aku sedih sekali. Tapi aku tidak bisa marah. Aku tetap bahagia. (hlm 20)

Selain kisah sebatang pensil ada lagi kisah-kisah lainnya. Semua kisah ditulis rata-rata 3-4 alinea (1 1/2 halaman ) saja. Yang unik dari ke-13 kisah yang ada di buku ini ternyata sebagian besar berkisah tentang horor atau kisah-kisah seram. Entah apakah itu pengalaman mereka sendiri atau imajinasi semata. Apakah ini pengaruh dari film-film yang pernah ditonton oleh anak-anak KBS? Hal ini mungkin menandakan bahwa film-film horor yang kini kerap diputar di TV telah merasuk ke dalam dunia imajinasi anak-anak zaman now termasuk anak-anak di desa Pagelaran, Cianjur.

Berikut salah satu kisah seram yang ditulis dalam buku ini yang berjudul Kepala Jatuh yang ditulis oleh Aima Siti Nurohmah

Saat kami sedang asyik bercerita tentang cerita horor. Tiba-tiba dari arah belakang, aku mendengar ada suara. Seperti sesuatu yang jatuh dari atas pohon kelapa..........begitu aku lihat benda yang jatuh itu, ternyata itu sebuah kepala manusia! Teman-temanku hanya bisa bengong. Ada juga yang menjerit ketakutan. Dan benda itu benar-benar sebuah kepala manusia, karena terlihat ada hidung, mata, dan mulut.  Setelah kejadian melihat kepala manusia iu, kami semua jatuh sakit. 
(hlm 11-12)

Namun tidak semua kisah horor adalah benar-benar hantu, ada beberapa cerita horor yang ternyata berakhir dengan lucu karena apa yang dikira hantu ternyata bukan misalnya di kisah Tangisan dalam Lemari, dan Si Baju Putih.
Berbeda di bagian cerita, di bagian puisi tidak ada tema horor dalam puisi-puisi di buku ini. Tema puisi-puisi yang ditulis tampak lebih kaya dan variatif dibanding ketika mereka membuat cerita. Anak-anak KBS menulis puisi tentang apa yang mereka lihat, rasakan dan alami misalnya puisi tentang pemandangan, rumah, desa, perpustakaan, sepeda baru, guru, pahlawan, ibu, dll. tidak ketinggalan hewan-hewan peliharaan atau hewan yang mereka lihatpun seperti ikan cupang, kelinci, kupu2 dijadikan objek puisi-puisi mereka.

Ada sebuah puisi yang cukup mengharukan mengenai seorang anak yang ditinggalkan oleh ibunya.

Selamat Jalan Ibuku
- Sonia Siti Sufi Sundari-

ibu,
kenapa engkau meninggalkan kami
apa salah kami?
apakah kami tidak menuruti nasihatmu?
atau kami melanggar tata tertib?

ibu,
tolonglah jangan pergi
maaf atas segala kesalahan kami
tapi kalau itu memang maumu 
kami akan izinkan engkau pergi
tapi jangan lupakan kami
doakanlah kamu supaya menjadi
anak yang pintar

ibu, 
kami akan selalu mengingatmu
selamat jalan ibu, sampai jumpa
semoga engkau bahagia di tempat baru.  

Seluruh karya anak-anak Desa Pagelaran, Cianjur yang terangkum dalam buku ini ditulis dalam kesederhanaan  dan puisi-puisinyapun tanpak bersahaja. Memang tidak sempurna namun  apa yang telah mereka tulis sangat pantas untuk diapesiasi sehingga api semangat literasi yang disemai oleh pegiat-pegiat literasi yang secara rutin mengunjungi  KBS dapat terus menyala dan menular ke desa-desa lainnya.


Akhir kata buku ini dapat menjadi sebuah tonggak sejarah literasi anak- anak KBS. Seperti apa yang ditulis oleh penyunting buku ini, dengan hadirnya buku yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, diharapkan akan menjadi sebuah dokumentasi yang akan menggugah semangat menulis mereka di kemudian hari dengan lebih baik lagi.

@htanzil

Wednesday, January 31, 2018

Desain, Bandung, & Budaya Sunda

[No. 379]
Judul : Desain, Bandung & Budaya Sunda
Penulis : Jamaludin
Penerbit : Kiblat Buku Utama
Cetakan : 1, November 2017
Tebal : 228 hlm
ISBN : 978-979-8004-07-0

 Buku ini berisi 45 esai tentang Desain, Bandung, dan Budaya Sunda dari Jamaludin atau lebih dikenal dengan panggilan akrab Mang Jamal yang dalam kesehariannya berkecimpung dalam dunia akademis sebagai dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Nasional (Itenas), Bandung.

Di dunia akademis dan desain praktis,  Mang Jamal memulainya dengan menempuh pendidikan di Jurusan Desain Studio Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, setelah lulus ia sempat bekerja di Jakarta sebagai desainer interior hingga menjadi dosen Desain Interior hingga sekarang. Sambil mengajar Mang Jamal terus melanjutkan studinya hingga ke jenjang S-3 di Program Ilmu Seni Rupa dan Desain ITB dan memperoleh gelar Doktor Ilmu Seni Rupa dan Desain pada tahun 2011

Mang Jamal juga dikenal di dunia sastra, novel debutannya Lousiana-Lousiana (Grasindo 2003)  yang cukup sukses di pasaran membuatnya ketagihan menulis novel hingga melahirkan 4  buah novel lainnya. Tahun 2007 Mang Jamal menulis buku teks pengantar Desain Mebel yang diterbitkan oleh Kiblat Buku Utama. 

Selain menulis novel dan buku teks Mang Jamal juga produktif menulis esai-esai di harian Kompas dan media-media cetak lainnya tentang Desain, kota Bandung, dan budaya Sunda. Kini esai-esai tersebut dibukukan dalam sebuah buku kumpulan esai ini.

Buku ini dibagi ke dalam 4 bagian berdasarkan tema tulisan-tulisannya, yaitu Desain, Bandung, Budaya Sunda, dan Esai Basa Sunda. Walau banyak bergelut di dunia akademis namun karena Mang Jamal juga adalah seorang novelis maka semua esainya dibuat dengan kalimat-kalimat yang enak dibaca dengan disisipi humor khas penulis disertai kritik-kritik yang membangun.

Di bagian desain setelah membahas mengenai hikayat kursi yang dikupas secara menarik, kritik Mang Jamal menohok langsung ke jantung pusat pemerintahan yaitu Istana Negara dan Istana Merdeka. Tentunya kita semua bangga dan kagum dengan desain Istana Presiden yang berdiri dengan megah dan kokoh selama ratusan tahun. Namun dibalik keindahan dan kekokohan kedua istana itu, Mang Jamal merasa terusik akan diapakainya bekas Istana Gubernur Jenderal Belanda itu sebagai kantor pemerintahan.

Mari sejenak lupakan "kebanggaan nasional" terhadap kedua gedung megah itu dan cobalah menggunakan cara pandang seperti ini: kedua gedung itu dulunya adalah rumah dinas sekaligus kantor Gubernur Jenderal pemerintahan kolonial Belanda. Para gubernur jenderal itu bersemayam di sana sebagai perpanjangan tangan Kerajaan Belanda.......untuk melaksanakan administrasi pemerintahan negara jajahan bernama Hindia Belanda.

Ironisnya, sekarang bangunan itu dipakai sebagai kediaman resmi Presiden Republik Indonesia, presiden dari negara yang merdeka dan berdaulat..... Apa betul, kepala negara bangsa sendiri yang adalah lambang negara merdeka berkantor di bekas kediaman dan kantor gembong penjajah negeri ini? (hlm 25)

Dalam gugatannya ini, sebagai seorang desainer interior yang peduli dengan budaya bangsa sendiri Mang Jamal menganjurkan agar kantor Presiden RI berkantor dalam gedung dengan langgam bangunan khas Indonesia.

Untuk bangunan kantor presiden, begitu banyak langgam yang dimiliki oleh setiap daerah di Nusantara, tinggal memilih atau mencampurnya bila perlu, atau memilih salah satu berdasar karakter yang paling mewakili seperti terpilihnya bahasa Melayu Riau yang lalu dijadikan bahasa persatuan: Bahasa Indonesia. Kita bisa, kalau mau!
(hlm 27)

Wacana memindahkan Ibukota Indonesia juga tidak luput dari pengamatan Mang Jamal. Selain tentang pemindahan lokasi ibukota, Mang Jamal juga memiliki gagasan yang menarik antara lain menyebarkan setiap kementrian ke pulau-pulau sesuai dengan potensi dan prioritas pembangunan wilayah. Misalnya kantor Kementrian Pariwisata dan Budaya di Bali atau di Samosir, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral di kawasan pertambangan seperti di Riau, Kalimantan, Sulawesi, dll.  Selain lokasi kementrian penulis juga mengusulkan agar bangunan desain kementrian dibuat berdasarkan desain tradisional atau disesuaikan dengan bidang pekerjaan atau fungsinya. Gedung Kementrian Perdagangan menggunakan model pasar, gedung Kementrian Perindustrian  model pabrik, Gedung Kementrian Perhubungan menggunakan model kereta api, dll.

Selain tentang istana dan ibukota, di bagian desain terdapat juga esai-esai lain antara lain tentang Wajah Arsitektur Indonesia Modern, Aristektur Rumah Ajip Rodisi, tentang Gedung Sate, dan laporan penulis tentang kunjungannya ke rumah Schoder di Utrect, Beland, sebuah ikon gerakan modern dalamdunia  arsitektur yang telah ditetapkan oleh Unesco sebagai Warisan Dunia (World Heritage)

Di Bagian Bandung,  kita akan banyak menemukan kiritk dan usulan atas penataan di kota Bandung khususnya di jantung kota Bandung di era 2003-2010 antara lain tentang penataan Alun-alun, Braga, gedung eks Palaguna, dll. Salah satu yang menarik adalah bagaimana Bandung yang mendapat  julukan Parijs van Java benar-benar dibandingkan dengan kota Paris, Perancis dalam esai berjudul Mencari Paris di Bandung. Selain itu ada juga satu esai tentang sebuah monumen yang mungkin  terlupakan orang yaitu Monumen Perjuangan (Monju) Jawa Barat di Jl Dipatiukur, Bandung.

Monju di Bandung berbentuk tumpukan beton melengkung sebagai abstraksi rumpun bambu dan enam diorama di museum bawah tanah, Monju hanya ditandai dengan berbagai ringkasan peristiwa perjuangan dalam bentuk relief pada salah satu dindingnya. Di mata Mang Jamal Monju  indah sebagai penghias kota  tetapi kering dari kenangan terhadap perjuangan yang sebenarnya karena tidak adanya nama-nama pejuang yang ditampilkan di monumen tersebut seperti halnya monumen Arch de Triomphe di Paris yang mengukir nama-nama jenderal yang pernah berjuang di bawah komando Napoleon Bonaparte.

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, sesuai namanya adalah monumen untuk mengenang perjuangan rakyat Jawa Barat. Yang namanya perjuangan dilakukan oleh manusia yang tentu saja memiliki nama. Adalah sebuah kewajaran apabila nama-nama mereka diabadikan di monumen. Dinding monumen dapat dilengkapi dengan nama-nama pejuang...... Dengan begitu Monju akan memiliki nilai lebih, membumi dan melekat di hati rakyat Jawa Barat.  
(hlm 114-115)


Di bagian ketiga, penulis menyuguhkan 14 esai tentang Budaya Sunda antara lain tentang Rumah Gaya Sunda, ajaran karuhun, estetika Sunda, arsitektur Sunda, dll. Yang paling serius  adalah essai berjudul Konsep Estetika dalam Budaya Rupa Sunda yang merupakan naskah orasi ilmiah penulis pada acara Dies Natalis Itenas ke 40 (2012). Tidak hanya hal-hal serius, di baian ini ada juga essai yang menggelitik antara lain   esai berjudul Urang Sunda Jadi Presiden yang didasari munculnya kesadaran untuk  meningkatkan peran orang Sunda di pentas politik Nasional.

Buku ini akhirnya ditutup dengan 7 buah esai berbahasa Sunda yang isinya berupa pengalaman penulis berada di Paris dan Belanda, usulan museum kota Bandung, dan tentang budaya dan filosofi masyarakat Sunda. Karena ditulis dalam bahasa Sunda maka nuansa dan greget esai-esai budaya kesundaannya akan terasa lebih menggugah pembacanya. 

Yang agak disayangkan dalam buku ini adalah esai-esai tentang Bandung. Esai-esai tentang Bandung  ditulis penulis dalam kurun waktu 2003-2010, sedangkan buku ini terbit pada akhir 2017 dengan demikian terjadi kesenjangan selama 7 tahun, padahal penataan dan pembangungan  kota Bandung berubah dengan cepat. Tentunya bagian ini akan menjadi lebih baik jika penulis mengupdate beberapa esai tentang Bandung sesuai dengan kondisi kekinian. 

Terlepas dari hal di atas, sebagai sebuah buku yang berbicara tentang Desain, Bandung, dan Budaya Sunda, buku ini berhasil menautkan ketiga unsur tersebut. Penulis yang notabene orang  Sunda  yang lama tinggal di Bandung dan berkecimpung dalam dunia desain secara  membuat kita bisa melihat bagaimana Desain, Bandung dan Budaya Sunda dilihat dari sudut pandang dan orang Sunda sehingga tak belebihan jika Prof. Dr. Setiawan Sabana, MFA (Guru Besar Fakultas Seni Rupa & Desain ITB) dalam kata pengantar buku ini menilai bahwa tulisan dalam buku ini adalah tulisan yang kritis, kreatif, inspiratif, dan bergaya Sunda.

@htanzil