Thursday, January 22, 2015

Katastrofa by Jodhi Giriarso

[No. 349]
Judul : Katastrofa
Penulis : Jodhi Giriarso
Penerbit : Moka Media
Cetakan : I, 2014
Tebal : 348 hlm

Katastrofa secara harafiah berarti bencana atau malapetaka besar . Novel thriller fiksi ilmiah karya Jodhi Giarso ini memang terkait dengan sebuah peristiwa bencana besar yang bakal mengancam Indonesia yaitu meletusnya gunung berapi Tambora di Sumbawa. Sejarah mencatat Tambora pernah meletus secara dahsyat  pada tahun 1815  dimana letusannya sepuluh kali lebih besar dari Krakatau sehingga menyebabkan kehancuran lingkungan di sekitarnya secara dahsyat dengan jumlah korban lebih dari 92.000 orang.

Kono suara letusan gunung Tambora sampai terdengar hingga Sumatera, abunya menghalangi masuknya sinar matahari, secara global dampak yang ditimbulkan menyebabkan turunnya suhu bumi dan mengubah wajah dunia. Dampaknya terasa hingga Eropa, saat itu orang-orang di Eropa menyebutnya sebagai Tahun Tanpa Musim Panas, hal ini pula yang dikaitkan orang menjadi salah satu penyebab kekalahan Napoleon di Medan Perang.

Bagaimana mungkin Tambora yang sudah tertidur selama hampir 200 tahun ini bisa mengancam Indonesia kembali? lewat novel ini penulis mencoba memberikan penjelasan ilmiahnya. Di novel ini dikisahkan sekelompok orang mencoba melakukan suatu usaha ilmiah untuk membangunkan Tambora dari tidurnya dengan tujuan untuk mengatasi pemanasan global yang mengancam dunia. Bagaimana mungkin? di novel ini sekelompok orang tersebut percaya bahwa  cara paling efektif untuk menurunkan suhu bumi adalah dengan cara meletuskan Tambora sehingga suhu bumi akan turun seperti yang terjadi 200 tahun yang lampau.

"Sudah bukan rahasia lagi, bila berhubungan dengan pemanasan global, manusia adalah penyebab utamanya. Manusia memang penyakit kronis bagi bumi.... Sebuah solusi yang sangat masif bisa mengurangi jumlah manusia secara signifikan... pembantaian manusia" (hlm 283)

"Kita bisa merancang bencana di lempeng tektonik. Alat yang kami punya akan menghasilkan gempa di gunung api, dan ketika meletus, kita akan mengulangi letusan terbesar yang pernah direkam oleh sejarah - seperti pada 1815...Sebuah letusan terbesar di dunia akan menyebabkan beberapa bagian bumi tertutup awan hitam, sinar matahati akan terhalang...fotosintesis berhenti, manusia kelaparan, udara kotor, air tercemar, dan manusia akan mati. Tidak ada lagi pemanasan global. Yang perlu dilakukan hanya membuat sebuah bunker yang dapat menampuang orang-orang berguna selama setahun-dua tahun. Setelah itu orang-orang akan keluar dari bunker melihat matahari bersinar lagi, merasakan udara sejuk, dan air yang sudah tersaring dengan sendirinya. Dengan orang-orang terbaik, manusia bisa membangun kembali peradaban dari keping-keping kehancuran." (hlm 284)

Kaldera di Gn Tambora yang meletus 200 thn yang lalu

Novel ini tidak hanya mengisahkan rencana peletusan gunung saja, di awal kisah kita akan disuguhkan dengan kisah terjadinya pembunuhan terhadap dua warga negara asing di sekitar Pindad (Pusat Perindustrian Angkatan Darat / pabrik senjata) di Bandung. Selain itu ada pula tentang kasus hilangnya seorang Profesor kebumian,  soal geng motor Bandung yang memang menjadi sebuah fenomena dunia kriminal di Bandung beberapa tahun belakang ini. Kemudian ada pula soal distribusi senjata ilegal, konspirasi politik perebutan kekuasaan dari sebuah dinasti keluarga pengusaha, dendam pribadi, kisah cinta, dll.  Awalnya semua kisah ini seakan berdiri sendiri, memulai dari berbagai tempat dan peristiwa berbeda namun pada akhirnya akan bertemu pada satu titik yang sama.

Semua kisah tersebut terangkai dalam sebuah plot yang menarik ala novel-novel trhiller sehingga membuat pembaca betah membaca novel setebal 347 halaman ini. Tidak hanya kisahnya yang menarik novel ini juga menyajikan materi-materi pengetahuan yang tentunya sangat bermanfaat bagi pembaca terutama tentang gunung berapi dan pemanasan global. Selain itu karena sebagian dari novel ini bersetting di Bandung maka terungkap pula fenomena-fenomena yang ada di Bandung seperti geng motor, tumbuhnya mall-mall dan factory outlet di Bandung yang melebur dalam kisah novel ini.

Yang membuat saya agak kesulitan membaca novel ini adalah adanya banyak tokoh-tokoh yang muncul di novel ini. Bagi yang pernah membaca karya penulis sebelumnya yaitu Konspirasi Nulir (2009) maka tokoh Youri dan Savo akan muncul lagi di buku ini. Selain itu ada banyak tokoh-tokoh lain yang bermunculan. Walau awalnya tampak sebagai tokoh figuran namun ternyata nanti semua tokoh yang muncul kelak akan saling bersinggungan. Tidak mudah mengigatnya, untuk itu  alangkah baiknya jika ada halaman khusus yang berisi keterangan singkat dari tokoh-tokoh yang ikut mewarnai novel. Hal ini tentunya akan memudahkan pembaca memahami dan mengingat para tokoh-tokoh dalam novel ini. 

Sepanjang pembacaan novel ini saya tidak menemukan kata "Katastrofa" yang dijadikan judul novel ini. Memang tidak harus dimunculkan namun alangkah baiknya jika dijelaskan arti kata Katasrofa mengingat kata ini jarang digunakan dalam percakapan atau istilah sehari-hari.  

Sebagai sebuah novel thriller ilmiah novel ini mengasyikan sekaligus mencerdaskan pembacanya. Karena kisah dalam novel ini  menyinggung juga soal ancaman ledakan penduduk  maka novel ini mengingatkan saya akan novel Inferno-nya Dan Brown, namun jika Dan Brown mengatasinya dengan virus infertilitas maka di novel Katasrofa ini karena menangkut juga soal pemanasan global maka ledakan penduduk diatasi dengan sebuah bencana letusan gunung untuk menurunkan suhu bumi

Ide meledakkan gunung yang dipilih oleh penulis sangatlah liar, mungkin bagi sebagain orang ini tidak masuk akal, namun saya percaya sesuai dengan keilmuannya penulis tentunya memiliki dasar ilmiah dan telah melakukan riset mendalam untuk membuat novel yang dikerjakan selama 3 tahun ini menjadi masuk akal. Terlepas dari masuk akal tidaknya, sebagai orang awam penikmat fiksi saya berani mengatakan ide peledakan gunung untuk mengatasi ledakan penduduk dan pemanasan bumi yang ditawarkan penulis lebih 'gila' dibanding ide Dan Brown dengan ide virus invertilitasnya. 


@htanzil

NB : Agar tidak mengganggu kenikmatan calon pembaca untuk menikmati keseruan dari novel ini saya sengaja tidak memberikan sinopsis singkat atau alur kisah dari novel ini. 



Monday, January 19, 2015

Komik Garuda by Oyasujiwo

[No.348]
Judul : Garuda
Penulis : Oyasujiwo
Penerbit : Noura Comic
Cetakan : I, Desember 2014
Tebal : 100 hlm

Pada tanggal 8 Januari 2015 yang lalu film Garuda Superhero, sebuah film superhero karya anak bangsa garapan X-Jo  rilis di bioskop-bioskop tanah air. Selain film, Garuda Superhero juga  dibuat dalam bentuk komik oleh  Noura Comic.

Komik hitam putih dengan judul yang sama seperti filmnya ini dibuat oleh Oyasujiwo .Namun jangan salah, komik ini tidak sekedar memindahkan  kisah yang ada di filmnya ke dalam sebuah komik seperti halnya komik-komik lyang berasal dari sebuah film. Kisah dalam komik Garuda ini berbeda dengan filmnya. Oyasujiwo sendiri mengatakan bahwa komik garapannya ini memperkaya filmnya karena kisah komik Garuda ini dibuat dari sudut pandang anak-anak, terutama anak sekolah.

"Plot komik ini mengambil salah satu bagian awal di cerita filmnya, lalu dikembangkan lebih dalam dengan sudut pandang lain. Dipilihlah sudut pandang bagaimana anak-anak sekolah melihat sosok Garuda" (hlm 76)

Komik ini dibagi dalam 5 bagian yaitu File#01 Invasi, File#02 Gerilya, File#03 Memori, File# 04 Metamorfosis, File#05 Cinema. 

File#01 dan File# 02  mengisahkan bagaimana anak-anak dan Garuda  melawan serangan dari mahluk asing yang menyerang Metro City. Bagian ini diawali dengan suasana di dalam kelas SD Nasional Metro City dimana anak-anak diberi tugas menggambar sosok pahlawan menurut imajinasi masing-masing anak. Dari situ kisah bergulir ke proses evakuasi anak-anak dari sekolah karena adanya ancaman kehadiran mahluk asing. Ketika anak-anak dalam perjalanan bersama bus sekolah tiba-tiba mahluk asing dengan senjata canggih meyerbu Metro City. Di dalam bus hanya ada perlengkapan sekolah, alat-alat olah raga dan sekotak mainan. Dari semua yang ada anak-anak mencoba melawan mahluk asing hingga akhirnya Sang Garuda datang menolong.



Di File#3 dikisahkan asal usul tokoh Garuda yang aslinya bernama Bara dan tokoh jahat bernama Durja. Bagian ini dikisahkan  secara paralel dalam dua sisi yang saling berdampingan, halaman sebelah kiri  untuk kisah  Bara, dan halaman sebelah kanan untuk kisah Durja


Bagian ini bagi saya merupakan bagian yang paling  menarik karena dengan kekuatan gambar di atas latar hitam pekat dengan sedikit kata-kata penulis mampu membawa kita menyelusuri jejak kehidupan Bara dan Durja secara bersamaan.

Bagian File#4 berisi tentang proses kreatif penulis dalam merancang versi gambar dari karakter "live" garuda karakter garuda,  membuat plot cerita komik, membuat sketsa dan merapikan, dan memindainya menjadi file digita, memberi "tone", memasukkan aksara hingga siap dikirim ke penerbit.


Buku ini ditutup dengan File#05 yang berisi tentang film Garuda yaitu deskripsi, repro poster film, foto karakter-karakter utama dalam film, dan foto-foto acara Meet Greet Garuda Superhero, dll.

Sebagai sebuah kisah Garuda superhero tampaknya komik ini belum memaksimalkan karakter Garuda-nya, selain kisah yang mengungkapkan masa lalu Garuda komik ini didominasi kisah anak-anak sekolah yang melawan serangan mahluk asing sedangkan sang superhero sendiri hanya muncul di awal dan akhir kisah. Selain di bagian ketiga (memory) , tokoh antagonis Durja juga tidak muncul dalam kisah komik ini. Asal usul mahluk asing yang menyerang Metro City juga tidak dijelaskan sehingga kita tidak tahu dari mana dan apa tujuan dari serangan mereka.  Sepertinya memang komik ini akan ada kelanjutannya. Jika demikian alangkah baiknya jika pembaca diberi petunjuk bahwa akan ada seri-seri selanjutnya.

Terlepas dari hal itu komik ini  mengandung nilai moral yang baik untuk anak-anak, kisah bagaimana anak-anak bahu membahu melawan serangan mahluk asing dengan peralatan yang ada menumbuhkan semangat kebersamaan dan memberi keyakinan bahwa setiap orang bisa menjadi pahlawan.  Walau ada sosok superhero yang sesungguhnya yang diwakili oleh tokoh Garuda namun mereka tidak bergantung pada sang superhero namun dengan keyanikan, kepercayaan diri, dan kerja sama mereka akhirnya bisa mengatasi musuh.

"Yang ingin saya sampaikan, bahwa semangat Garuda Superhero itu ada di diri kita masing-masing, setiap orang bisa jadi pahlawan, dan itu yang ingin saya sampaikan di komik saya, bahwa setiap orang bisa berpartisipasi untuk mengubah dan membuat perbaikan di negeri ini," (Oyasujiwo, www.harnas.co 14/12/2014)

@htanzil

Friday, January 09, 2015

Okultisme di Bandoeng Doeloe : Menelusuri Jejak Gerakan Teosofi dan Freemasonry di Bandung

[No.347]
Judul : Okultisme di Bandoeng Doeloe : Menelusuri Jejak Gerakan Teosofi dan Freemasonry di Bandung
Penulis : M. Ryzki Wiryawan
Penerbit : Khazanah Bahari
Cetakan : I, November 2014
Tebal : 163 hlm

Jika kita hanya membaca judul besar dan ilustrasi cover bukunya  tentunya kita akan mengira buku ini membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan ilmu sihir, gerakan pemujaan setan, atau dunia gelap spiritual karena dalam benak kita Okultisme memang sering diartikan dengan sesuatu yang mengerikan di dunia spiritual. Lalu apa sebenarnya definisi dari Okultisme?   

Okultisme merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, occultism. Kata dasarnya, occult, berasal dari bahasa Latin occultus ('rahasia') dan occulere ('tersembunyi'), yang merujuk kepada 'pengetahuan yang rahasia dan tersembunyi'.  

Okultisme adalah ilmu yang mempelajari pengetahuan tersembunyi yang terdapat dalam alam semesta, pada diri dan lingkungan kita. Tujuan akhirnya bagi praktisi okultisme adalah pemahaman dan pengertian yang sebenarnya tentang diri sendiri yang lebih tinggi yang kemudian akan menghasilkan pencerahan dan kebijaksanaan yang akhirnya akan mendekatkan diri pada sang pencipta. (Sumber : Wikipedia)

Berdasarkan definisi di atas maka dari sekian banyak organisasi maka Teosofi dan Freemansory termasuk dalam kategori organisasi Okultisme . Jika dilihat dari bahasa atau akar katanya maka masing-masing gerakan ini dapat didefinisikan sbb :

Teosofi  berasal dari kata Theos = Allah, dan Sophia = ilmu bisa diartikan sebagai Ilmu Allah (Hikmat Allah) yang ajarannya mengandung tiga hal utama yaitu filsafat, agama, dan ilmu.Gerakan ini berusaha menjembatani antara agama dan ilmu pengetahuan untuk menjawab pertanyaan dan fenomena di dunia.  
(hlm  17 )

 Freemasonry atau Vrijmetselarij dalam bahasa Belanda berarti "Perkumpulan Tukang Bangunan Bebas". Penggunaan istilah "mason" atau tukang bangunan memiliki sejarah panjang berkaitan dengan pemeliharaan rahasia-rahasia ajaran Freemasonry oleh kelompok-kelompok arsitek dan tukang bangunan dari zaman ke zaman. Kata "bebas" sendiri berarti mereka tidak terikat apapun. Sifat gerakan utama Freemasonry, yaitu kerahasiaan, kebatinan, dan pengorganisasian serta tolong menolong  (lm 74-75)

Buku ini secara khusus membahas sejarah gerakan Teosofi dan Freemasonry di Kota Bandung. Gerakan Teosofi yang diprakarsai oleh seorang janda keturunan Rusia bernama Helena Petrovna von Hahn atau lebih dikenal dengan nama Madame Blavatsky dan Kolonel Henry Stell Olcott yang juga merupakan seorang Freemasonry. Organisasi Teosofi berdiri secara resmi pada tanggal 17 November 1875 di New York.

Gerakan Teosofi dibawa masuk ke Hindia Belanda oleh seorang Jerman bernama Baron van Tengnagell yang mendirikan sebuah Loji (rumah perkumpulan/markas) di Pekalongan tahun 1883. Gerakan ini mulai eksis di Bandung sejak tahun 1908. Loji kelompok Teosofi di Bandung yang hingga kini bangunannya masih masih berdiri dengan kokoh adalah sebuah bangunan yang kini dikenal sebagai Gereja Katolik Bebas St. Albanus di Jl. Banda 26 - Bandung.

Loji Teosofi Bandung  yang kini menjadi Gereja Katholik Bebas St. Albanus 


Puncak kemajuan Gerakan Teosofi di Bandung adalah saat didirikannya kompleks perumahan Olcott Park pada tahun 1930 untuk menghargai  jasa salah satu pendiri dan mantan presiden Theosopical Society, Henry Steel Olcott (1832-1907). Kompleks ini berada di seputaran Jl. Merdeka yang kini menjadi Mall Bandung Indah Plaza.

Sedangkan Freemasonry sendiri secara resmi berdiri pada tahun 1717 di Inggris dan masuk ke Hindia Belanda pada tahun 1767 yang ditandai dengan pendirian Loji La Fidele Sincerite (Kesetiaan Ikhlas) di Batavia. Di Bandung sendiri jejak gerakan Freemansory terutama ditunjukkan oleh pendirian Loji St. Jan pada tahun 1896 di Logeweg Bandung. Berbeda dengan bangunan bekas Loji kelompok Teosofi yang hingga kini masih ada, Loji Sint Jan kini sudah tidak ada jejaknya lagi.

Pada tahun 1962, Soekarno  melalui Keputusan Presiden No.264 melarang adanya segala bentuk kegiatan Freemasonry. Setahun sebelumnya, entah atas dasar apa Soekarno juga memerintahkan pembongkaran bangunan Loji St. Jan.  Bertahun-tahun sebelum dibongkar Gedung Loji St. Jan itu terbengkalai. Mayarakat sekitar menyebutnya 'Gedung Setan'  karena konon berbagai upacara ritual asing dan aneh pernah dilakukan di bangunan tersebut  
(hlm 91-92)
Kini di bekas lahan Loji St Jan berdiri dengan megahnya Masjid Al-Ukhuwah. Arsitektur masjid ini konon juga menggunakan konsep segitiga sacred geometri dari arsitektur Freemasonry.

Selain membahas sejarah berdirinya Teosofi dan Freemasonry buku ini juga membahas mengenai kiprah dua gerakan ini di Bandung antara lain diadakannya kongges Tahunan Teosofi di Bandung pada tahun 1926 dan 1928. Para  Teosof  di Bandung baik secara kelompok maupun perorangan juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan sosial seperti membantu resotrasi candi Borobudur, memberikan sumbangan dana untuk pencetakan buku-buku Braile, menjadi pelopor perayaan hari Waisak di Candi Borobudur, melakukan propaganda anti madat, dll.

Freemansory di Bandung pun tidak kalah sumbangsihnya dalam bidang-bidang sosial. Saat itu Freemansory  memang memfokuskan diri  pada kegiatan sosial antara lain membangun sekolah, memberi pinjaman usaha, dan  membangun perpustakaan umum De Openbare bibilotheek van Bandoeng di Kweekschool  pada tahun 1891 sehingga  perpustakaan ini menjadi salah satu perpustakaan terlengkap di Bandung dengan koleksi lebih kurang 2.500 buku.. Aksi Freemansory terkenal lainnya adalah memberikan sokongan dana bagi pendirian lembaga orang buta di Bandung pada tahun 1901 yang hingga kini masih berdiri.

Buku ini juga membahas mengenai tokoh-tokoh Teosofi dan Freemasonry yang terkenal di Bandung, dari  kelompok Teosofi antara lain Mr. Ong Soe An, A.J.H Van Leewuen, Kiai Haji Hasan Mustapa (Hoodfdpenghulu Bandung), dan Wangsaatmaja (sekretaris Hasan Mustapa). Sedangkan dari kelompok Freemasonry antara lain J.R De Vries, Keluarga Soesman, N. Beets (Walikota Bandung 1937-1942), R.A. Wiranatakusumah V (Bupati Bandung 1920-1931), Mas Sewaka (Gubernur Jawa Barat prd. 1947-1952), dan lain-lain

 Tokoh-tokoh Teosofi & Freemasonry asal Bandung 
(KH. Hasan Mustafa, RA Wiranatakusumah V, Mas Sewaka)

Selain itu dibahas pula Jejak-jejak Freemansory di Bandung berupa bangunan-bangunan era kolonial yang masih ada hingga kini seperti Kweekschool (kini Kapolwiltabes Bandung, Van Drop (kini gd. Landmark), Technische Hogelscool (kini ITB), dll. Selain itu buku ini juga dilengkapi dengan tambahan dua tulisan terkait Freemansory dan Teosofi  yang isinya tidak terpisahkan dari sejarah dua gerakan tersebut di Hindia Belanda yang masing-masing berjudul  "Gereja Katolik Bebas di Hindia Belanda 1926-1942" oleh Yasmin Nindya Chaerunissa, dan "Hinloopen Labberton - Peran Seorang Teosof dalam Pergerakan Nasional" oleh R. Indra Pratama.

Masih banyak bahasan menarik di buku yang juga dilengkapi dengan foto-foto yang tersaji dengan kualitas yang sangat baik ini. Berikut sub bab dalam buku ini yang terdapat di bagian Teosofi & Freemasonry

Teosofi : Apakah Teosofi itu, Gerakan Teosofi, Teosofi di Hindia Belanda, Bintang Timoer, Teosofi di Bandung, Ong Soe An, A.J.H. van Leeuwen, Teosofi di Priangan, Wangsaatmadja, Hasan Mustapa,  Teosofi, Gereja Katolik Bebas St. Albanus, - Lampiran : Surat Presiden Teosofi Internasional kepada pimpinan Teosofi di Bandung

Freemasonry : Sejarah Freemansory di Hindia Belanda, Hubungan Freemansonry dan Teosofi, Sejarah Freemansonry di Bandung, Tokoh Freemansory Terkemuka di Bandung, Jejak-jejak Freemasonry di Bandung, - Lampiran : Daftar anggota Loji Sint Jan Bandung tahun 1938

Tidak seperti buku-buku yang membahas Freemansonry di buku ini kita tidak akan menemukan kisah-kisah kontroversial, konspirasi global, intrik-intrik, kesan jahat atau kemisteriusan dari gerakan Teosofi dan Freemasonry, buku ini hanya membahas secara  ilmiah mengenai sejarah dan kiprah dua kelompok tersebut di Bandung. Kemisteriusan dua organisasi ini tidak nampak karena berdasarkan fakta sejarah yang digali oleh penulisnya  kehadiran Teosofi dan Freemasonry di Hindia Belanda berjalan secara terbuk.

Di Hindia Belanda, organisasi ini berjalan secara terbuka tanpa sembunyi-sembunyi seperti halnya di Eropa. Loji-Loji dan keanggotaan mereka dapat diketahui secara terang-terangan. Pada awalnya gerakan ini kebanyakan beranggotakan orang-orang Belanda yang berprofesi sebagai tentara, pelaut, dan mardjikers (budak yang dimerdekakan), lalu pada perkembangannya banyak juga orang dengan posisi penting di masyarakat maupun di pemerintahan bergabung menjadi anggota.  (hlm 76)

Saat itu kita bisa menemukan loji-loji tempat peribadatan mereka secara terbuka. Kita bisa mengakses perpustakaan mereka. Bahkan kita bisa menyekolahkan anak-anak kita di sekolah mereka. Setiap hari kita bisa bergaul dengan anggota Freemasonry yang menjadi tokoh-tokoh publik. Jadi, saat itu kegiatan Freemasonry yang sekarang kita anggap sebagai organisasi jahat rahasia penggerak organisasi "konspirasi global" tidaklah berbeda dengan kegiatan umat beragama lainnya. 

Karenanya tidak heran jika  Teosofi dan Freemasonry sempat berkembang dengan begitu pesat di Bandung. Contohnya Loji St Jan di Bandung termasuk yang terbesar anggotanya di Hindia Belanda, pada tahun 1929 terdaftar 238 anggota dari berbagai kalangan, mulai dari pegawai, pengusaha, hingga pejabat pemerintahan sehingga dari seluruh markas Freemasonry di Hindia Belanda  Loji di Bandung  ini diakui sebagai salah satu yang paling berhasil dalam perekrutan anggotanya.

Loji St. Jan

Lampiran Daftar Angota Loji St. Jant - Bandung

Sebagai sebuah buku yang membahas mengenai gerakan Teosofi dan Freemansory di Bandung buku ini bisa dikatakan cukup lengkap dan informatif. Sayangnya di  buku ini tidak ada halaman "Daftar Pustaka", padahal kehadiran halaman Daftar Pustaka dalam buku bertema sejarah seperti buku ini sangat bermanfaat dan memudahkan pembaca yang ingin menggali lebih dalam lagi perihal Teosofi dan Freemasonry melalui buku-buku yang dijadikan sumber penulisan buku ini. 

Selain itu dari segi judul dan cover, pemberian judul Okultisme dan ilustrasi sepasang mata yang mendominasi sampul buku ini saya rasa agak mengecoh calon pembacanya. Judul dan cover buku ini berpotensi membangun persepsi bahwa ini ada sebuah buku yang mengupas sisi-sisi kemisteriusan dan spiritualitas gerakan Teosofi dan Freemasonry. Mungkin ini trik untuk menarik minat pembaca namun saya rasa tanpa cukup dengan mencantumkan Freemansonry pada judulnya maka buku ini tetap akan membuat calon pembacanya penasaran.

Terlepas dari itu sebagai buku yang dimaksudkan untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan tentang Bandung khususnya tentang sejarah gerakan Teosofi dan Freemasonry di Bandung saya sepakat dengan apa yang dikatakan penulis dalam kata pengantarnya bahwa buku ini diharapkan dapat memberikan fakta baru tentang kota Bandung serta dapat menjadi setitik pembuka tabir sejarah okultisme di Bandung yang jejaknya masih tersisa hingga kini.

@htanzil

Wednesday, December 03, 2014

Architectural Conservation Award Bandung by Dr. Dibyo Hartono

[No.346]
Judul : Architectural Conservation Award Bandung - Penghargaan Konservasi Bangunan Cagar Budaya
Penulis : Dr. Dibyo Hartoyo
Penerbit : Remaja Rosdakarya
Cetakan : I, 2014
Tebal : 274 hlmn
ISBN : 978-979-692-541-4


Kota Bandung yang pada bulan September lalu baru saja merayakan hari ulang tahunnya yang ke 204 di era tahun 1930-an selain dijuluki Parjis van Java juga dikenal  sebagai Ratu dari Pegunungan di Sebelah Timur. Bandung yang terletak di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut dan terletak di kaki pegunungan Tangkuban Perahu pada saat itu memiliki suhu yang sejuk (22-27 derajad celsius) sehingga sangat nyaman sebagai kota hunian. Karena itu Bandung tempo doeloe menjadi kawasan yang menarik bagi warga Eropa untuk tinggal di sana.

Di awal abad ke-20, kota Bandung memang telah direncanakan  sebagai kota hunian dan dikembangkan ke dalam beberapa kawasan kegiatan sosial budaya seperti kawasan Militer dan pemerintahan di pusat kota, kawasan tengah untuk kawasan perdagangan untuk masyarakat Tionghoa, dan utara untuk kawasan pemukiman dan villa bagi penduduk Eropa. Selain itu Bandung juga pernah direncanakan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda!  Di tahun 1916, sebuah studi  lingkungan menyimpulkan bahwa kondisi dan kualitas fisik kota Batavia dinilai  kurang sehat dan tidak ideal sebagai pusat administrasi pemerintahan, oleh karena itu diusulkan untuk dipindahkan ke pedalaman yang udaranya lebih nyaman dan segar, dan Bandung menjadi salah satu alternatifnya. 

Pertimbangan tersebut ditanggapi dengan serius oleh Pemernitah Hindia Belanda, maka Bandung pun membenari diri, gedung-gedung  untuk menunjang andiminstrasi pemerintahan mulai dibangun, bahkan beberapa kantor adminstrasi sudah mulai dipindahkan ke Bandung. Sayangnya rencana tersebut akhirnya gagal, lantaran krisis global atau “malaise” di tahun 1930-an. Kendati demikian, pembangunan kota Bandung  oleh para arsitek kenamaan pada zaman itu terus berlanjut sehingga Bandung terus berkembang menjadi salah satu kota hunian yang sangat nyaman bagi warta Eropa.

Hingga kini bangunan-bangunan heritage peninggalan zaman kolonial Belanda masih banyak dijumpai di kota Bandung. Paguyuban Masyarakat Pelestarian Budaya atau Bandung Society for Bandung Heritage (Bandung Heritage), sebuah lembaga pengabdian masyarakat yang peduli dengan bangunan-bangunan bersejarah di Bandung mencatat ada lebih dari 300 bangunan yang termasuk bangunan cagar budaya yang hingga kini masih ada dengan berbagai kondisi, baik yang terawat maupun yang terbengkalai.

Diantara ratusan bangunan-bangunan era kolonial  tersebut ada 32 bangunan yang memperoleh penghargaan Pelestarian Bangunan Cagar Budaya 2011 dari Bandung Heritage. Dan untuk menyebarluaskannya kepada masyarakat maka kini terbitlah sebuah buku yang berjudul Architectural Conservation Award Bandung  - Penghargaan Konservasi Bangunan Cagar Budaya

Buku yang ditulis oleh Dr. Dibyo Hartono, pakar konservasi bangunan cagar budaya yang telah menyesaikan pendidikan Master dan Doktoral-nya di ITB Bandung ini berisi informasi detail berupa foto, tahun dibangun, arsitek, langgam/style, dan deksripsi arsitektural dan sejarah dari ke 32 bangunan peraih penghargaaan Pelestarian Bangunan Cagar Budaya.

Buku yang tersaji dalam dua bahasa sekaligus/bilingual (Indonesia & Inggris) ini dibagi dalam 5 bagian, bagian pertama /pendahuluan berisi pembahasan mengenai  Arsitektur periode Hindia Belanda, Art Noveou sebagai awal langgam arsitektur modern,  Awal, perkembangan, dan akhir  langgam Art Deco di kota Bandung, karya arsitektur ternama Maclaine Pont,   Peraturan Pelestarian Bangunan Cagar Budaya, Latar Belakang Pemberian Penghargaan Konservasi Arsitektur, nilai sejarah budaya, dll. 

Bagian Dua  yang membahas mengenai lokasi 32 Bangunan penghargaan menyuguhkan foto dan keterangan peta Tua Kota Bandung, Peta Rencana Perluasan Kawasan Kota Bandung Utara 1931, dan lokasi 32 Bangunan Dalam Enam Kawasan Bersejarah (kawasan Pusat Kota, Pecinan, Militer, Etnik Sunda, Villa, Industri). Kesemuaa bangunan peraih penghargaamn tersebut hanya ada di lima kawasan bersejarah (Pusat kota, Pecinan, Militer, Etnik Sunda, Villa), tidak satupun berada di kawasan Industri karena hingga saat diberikannya penghargaan (2011), Bandung Heritage belum menemukan bangunan cagar budaya yang telah dilindungi dan dirawat dengan baik di kawasan industri.

Di bagian tiga  disajikan ulasan dari 32 bangunan cagar budaya penerima penghargaan yang merupakan karya arsitektur terkemuka di zamannya seperti Maclaine Pont, Wollf Schoemaker, Frederik Aalbers, dll yang penyajiannya dikelompokkan berdasarkan kawasan bersejarah. Bangunan tertua yang mendapat penghargaan adalah Vihara Setya Budhi (1865) dan yang termuda, Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang (1957).

Bagian ke empat berisi tentang Pameran dan Acara Pemberian Penghargaan yang merupakan dokumentasi acara pemberian penghargaan yang berlangsung pada tanggal 26  Februai 2011 yang lalu di gedung bersejarah  Indonesia Menggugat - Bandung. Dan terakhir di bagian ke lima yang berjudul Keindahan Masa Lalu yang Telah Hilang  kita akan disuguhkan ulasan dan foto dari bangunan-bangunan cagar budaya yang terbengkalai dan bangunan yang hancur sebagian atau seluruhnya  antara lain, Gedung Singer, Panti Karya, eks rumah tinggal Keluarga Wiranatakusumah III, dll.

Sebagai sebuah buku yang berisi informasi mengenai bangunan-bangunan cagar budaya yang hingga kini masih terpelihara dan dipugar dengan baik seusai dengan prinsip-prinsip konservasi yang baik buku tentunya merupakan sebuah sumber informasi yang sangat berharga. Ukuran buku yang besar dengan kualitas foto-foto berwarna yang tercetak dengan baik di atas kertas art paper membuat pembaca bisa menikmati keindahan bangunan-bangunan lama yang masih terpelihara dengan baik.



Dari segi foto, di buku ini pembaca tidak hanya disuguhkan foto fasad bangunannya saja, melainkan juga denah dan foto-foto bagian dalamnya  hal ini tentunya sangat bermanfaat bagi pembaca yang belum pernah mengunjungi bagian dalamnya terlebih bagi bangunan-bangunan yang kini di jadikan instalasi militer dimana tidak sembarang orang bisa melihat dan masuk melihat keindahan interior dalamnya.

Selain foto-foto bangunan di masa kini, disertakan juga foto-foto lama dari masing-masing bangunan, sayangnya dari ketiga puluh dua bangunan yang dibahas tidak semuanya menyajikan foto-foto lamanya. Walau ada beberapa bangunan yang masih sama seperti aslinya namun pemuatan foto-foto lama tentunya akan semakin meningkatkan unsur kesejarahan dan keekslusifan buku ini, apalagi kalau buku ini memuat foto-foto lama yang jarang dipublikasikan. Yang sangat disayangkan adalah tidak adanya foto lama Hotel Carcadine/Eks Hotel Surabaya yang kini hanya menyisakan sebagian dari bangunan lamanya saja.

Deskripsi arsitektural dan sejarah dari ketiga puluh dua bangunan yang dibahas juga cukup memadai walau ada beberapa hal menyangkut sejarah gedung yang luput dari penjelasan seperti misalnya Gd. Psikologi A.D  eks Villa Mei Ling yang tidak diberikan penjelasan mengapa dan siapa Mei Ling yang pernah memiliki dan tinggal di villa tersebut atau keterangan tentang penambahan satu lantai di Gd. UPPI Bandung / ex Villa Isola yang luput dari penjelasan.  Beberapa kesalahan cetak dan ejaan juga terdapat dalam buku ini, walau tidak terlalu mengganggu namun tentunya sangat disayangkan untuk buku yang telah dikemas dengan begitu baik ini.

Terlepas dari hal tersebut kehadiran buku yang ditulis oleh seorang pakar konservasi bangunan ini dapat mengisi kelangkaan buku referensi yang membahas asritektur kota Bandung. Buku ini juga dapat menambah khazanah pengetahuan kita tentang bangunan cagar budaya yang berada di kota Bandung. Dan yang utama semoga kehadiran buku ini juga menyadarkan dan menginspirasi kita semua untuk berbuat nyata melindungi dan melestarikan bangunan cagar budaya sebagai peninggalan budaya

@htanzil

Beberapa foto yang terdapat di buku ini : 


 Bangunan Hotel Carcadine (Eks Hotel Surabaya)


Pilar luar dan interioer dalam Gereja Bethel

Denah dan interior dalam Gd Psikologi AD (Ex Villa Mei Ling)

Masjid Agung Aloen Aloen  icon Bandung dan sejarah Islam Sunda yang telah hilang

###