Friday, July 29, 2016

Senja di Langit Ceko

[No. 367]
Judul : Senja di Langit Ceko
Penulis : Kirana Kejora
Penerbit : Dua Media
Cetakan : I, 2016
Tebal : 290 hlm
ISBN : 978-602-72707-1-8

Praha, ibukota Republik Ceko adalah salah satu kota tua di Eropa yang terkenal karena keindahannya. Praha sisebut sebagai kota yang paling cantik di Eropa sehingga dijuluki sebagai "Mahkota Cantik dari Eropa". Hal ini membuat Praha menjadi salah satu destinasi favorit bagi para pelancong dan para pengantin baru yang ingin berbulan madu di Eropa. Keindahan dan keromantisan Praha ini membuat Kirana Kejora, salah satu penulis produktif Indonesia tergelitik untuk menulis sebuah roman  yang diangkat dari kisah nyata dengan Praha sebagai latar kisahnya.

Novel ke-12 Kirana Kejora ini mengisahkan kisah romansa antara Senja Rinjani seorang jurnalis sekaligus novelis dengan Bumi Saujana (Sau), ilmuwan cerdas yang dikecewakan oleh pemerintah sehingga memilih untuk berkarya di negeri orang yang lebih menghargai karya dan keilmuwanannya. Senja adalah seorang  yatim piatu yang tinggal bersama eyangnya yang ahli forensik. Orang tua Senja meninggal dalam sebuah kecelakaan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin agar penyelidikan forensik yang dilakukan eyang  dihentikan. Sedangkan Sau tinggal bersama ibunya yang single parent.  Prahara politik tahun 1965 di Indonesia membuat ayahnya yang saat itu sedang kuliah di Cekoslowakia tak bisa pulang ke tanah air hingga akhirnya menghilang tanpa jejak.

Perjumpaan antara Senja dan Sau dimulai dari sebuah seminar internasional di Jakarta. Berawal dari perdebatan di seminar tersebut, mereka bertukar email dan lewat media cyber inilah akhirnya benih-benih cinta tumbuh diantara mereka hingga akhirnya  Sau memutuskan untuk melamarnya dan mengajaknya menikah.

Singkat cerita Senja yang awalnya ragu untuk menerima pinangan Sau akhirnya bersedia menikah dengan Sau. Sebagaimana pasangan yang baru menikah dan hidup berkecukupan mereka memutuskan untuk berbulan madu. Praha menjadi kota pilihan mereka karena selain untuk menikmati bulan madu  di kota yang memberikan nuansa romantisme yang kuat, Sau juga berniat mencari informasi mengenai keberadaan ayahnya yang hilang tanpa jejak di kota tersebut. Bagi Senja, Praha juga mendapat tempat yang istimewa karena ia sangat mengagumi karya-karya Franz Kafka yang lahir dan berkarya di Praha.

Untuk dapat menikmati bulan madu secara nyaman mereka menggunakan jasa seorang tour guide bernama Sam, pemuda Ceko blasteran yang memiliki darah Indonesia dari ayahnya yang menikah dengan perempuan Ceko asli.  Berkat pelayanan Sam, Sau berhasil mewujudkan keinginannya untuk menghadirkan bulan madu romantis yang tak mungkin terlupakan bagi Senja  Sayangnya sebuah tragedi tiba-tiba menghancurkan bulan madu mereka. Beruntung Tuhan mempertemukan mereka dengan Sam yang walau pada akhirnya Senja harus menerima kenyataan pahit di negeri impiannya namun ada Sam yang  menyelamatkan dirinya dari sebuah kepedihan yang tak terkira.

Sebagai sebuah roman, novel ini mengeksplor habis sisi-sisi keromantisan antara kedua tokohnya. Di halaman-halaman awal pembaca diajak membaca chating Sau dan Senja yang sarat dengan kalimat-kalimat puitis dan filosofis. Awalnya saya menduga seluruh percakapan antara Sau dan Senja akan dibuat puitis, ternyata tidak. Selepas mereka bertemu dan menikah percakapan mereka menjadi lebih cair. Setelah mereka berada di Ceko sisi romantisme novel ini tercipta bukan lewat kalimat-kalimat puitis namun lewat bagaimana Sau berusaha menyenangkan istrinya dengan berbagai kejutan manis sambil mengunjungi tempat-tempat romantis di Praha.

Selama kisah bergulir di Praha, penulis  mengajak pembaca menikmati keindahan Praha melalui deskripsinya yang begitu detail tentang Praha lengkap dengan bangunan-bangunan bersejarah dan destinasi-destinasi wisata romantis yang menarik. Tak hanya itu di novel ini juga penulis memasukkan materi yang cukup banyak tentang Franz Kafka dan karya-karyanya plus narasi kunjungan Sau dan Senja ke museum Kafka. Hal ini membuat pembaca akan mengetahui kehidupan dan karya Kafka dalam novel ini. Selain itu disinggung juga tentang Valvac Havel, sastrawan/penulis Ceko yang akhirnya menjadi Presiden Ceko yang dicintai rakyatnya. Bagi pembaca yang suka sastra, munculnya  Kafka dan Havel dalam novel ini sedikit banyak akan melahirkan minat untuk mengenal lebih dalam lagi karya-karya mereka. 

                                                Praha - sumber foto : www.trekearth.com

Kemunculan detail tentang lanskap kota Praha dan kisah tentang Kafka yang mendapat tempat cukup banyak  dalam novel ini memang membuat novel ini terkesan lain karena tidak hanya  menghadirkan  sisi romantisme berserta drama cinta semata namun memberikan wawasan baru bagi pembacanya. Namun konsekuensi logis dari hal ini adalah adanya sebagian pembaca yang mungkin akan merasa bosan karena misalnya ia sama sekali tidak tertarik dengan deskirpsi tentang Kafka. Detailnya penulis mendeskripsikan lanskap dan tempat-tempat menarik di Praha juga berpotensi membuat pembaca seolah sedang membaca sebuah buku catatan perjalanan.
 
Secara imajiner novel ini dapat dibagi menjadi 3 bagian besar, pertama masa-masa hubungan lewat email dan kisah sebelum Sau dan Senja menikah. Kedua tentang bulan madu di Praha, dan ketiga tentang tragedi dan paska tragedi yang menimpa salah satu tokohnya. Bagian kedua merupakan bagian yang paling panjang, sayangnya di bagian ini ketika penulis menuturkan tentang sisi romantisme pasangan Sau dan Senja selama Praha, penulis tidak memasukkan unsur drama sehingga terasa agak membosankan.  Tentunya akan lebih menarik jika di bagian ini penulis memasukkan drama-drama kecil yang akan memuncak di bagian ketiga ketika tragedi menimpa pasangan ini.

Terlepas dari hal di atas kehadiran novel yang butuh waktu 10 tahun untuk menyelesaikannya karena  penulis sempat kehilangan jejak narasumber (novel ini diangkat dari kisah nyata)  dan juga riset pustaka yang mendalam untuk menjaga keakuratan landskap kota Praha ini patut diberi apresiasi yang baik dalam ranah fiksi tanah air. 

Selain menyuguhkan sisi romantisme kisah cinta sejati berbalut tragedi  dengan latar Praha yang indah melalui  novel ini kita akan melihat realita  pahit dari sebuah situasi politik yang mengakibatkan tercerabutnya sebuah keluarga. Novel ini  menyuarakan bagaimana para ilmuwan tak diberi ruang dan kesempatan untuk berkarya di tanah airnya sendiri,  dipecundangi oleh pemerintah sendiri,  sehingga tidak heran jika kita sering  mendengar mengapa banyak para ilmuwan atau orang-orang pintar yang memilih berkarya di luar negeri karena di sanalah mereka lebih dihargai dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berkarya bagi kemajuan umat manusia. 

TENTANG PENULIS :

Kirana Kejora. Peneliti Sosek Fakultas Kelautan Perikanan Universitas Brawijaya (1991-1993), pengajar SMK Perikanan Dipasena Citra Darmaja, Lampung (1996-2000), staf ahli sosek Management Monitoring Cosultant JBIC-DPK Sulawesi Tenggara (2000-2001), Peneliti sosek PT. Pilar Artha Nugraha (2007 – sekarang), Penulis (2004 – sekarang).

Karya Buku :
– Novel Kepak Elang Merangkai Eidelweis (2006)
– Antologi Tunggal Cerpen & Puisi Perempuan dan Daun (2007)
Novel Elang, (2009)
– Novel Querido (2011)
– Novel Air Mata Terakhir Bunda (2012) best seller, telah diangkat ke layar lebar, Best Feature Film di  Balinale International Film Festival 2013, Nominasi FFI 2013.
– Novel Ayah Menyayangi Tanpa Akhir (2013) best seller dan diangkat ke layar lebar.
– Novel Pencarian Cinta Terakhir (2013)
– Novel Kenang Langit (2014)
– Novel Kidung Cinta Sejati (2014)
– Novel Surga Kecil di Atas Awan (2015)
– Novel Rindu Terpisah di Raja Ampat (2015)
– Novel Senja di Langit Praha (2016)

Karya Naskah Film :
– 40-an FTV
– Layar Lebar :
– Munajat Cinta Sang Gibran (2009)
– Hasduk Berpola terpilih sebagai Film Inspiratif Kemendikbud 2013, Film Favorit di Apresiasi Film Indonesia 2013, terpilih masuk Program Educational Screening IFF Merlbourne 2015.
– Mencium Kaki Langit (2014) film drama dokumenter Kementerian Daerah Tertinggal
– Dhenok (2015) (gr)

sumber foto : www.gapuranews.com

@htanzil

Monday, June 27, 2016

Ideologi Saya adalah Pramis : Sosok, Pikiran, dan Tindakan Pramoedya Ananta Toer

[No. 366]
Judul : Ideologi Saya adalah Pramis - Sosok, Pikiran, dan Tindakan Pramoedya Ananta Toer
Penulis : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : Octopus
Cetakan : I, 2016
Tebal : 328 hlm
ISBN : 978-602-72743-1-0

Pramoedya Ananta Toer (Pram)  adalah legenda sastra dan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang bukunya masih terus dibaca dan dibicarakan orang. Tak hanya itu sosok, pemikiran, dan apapun tentangnya seakan tak pernah habis ditulis orang dan selalu menarik orang untuk membacanya. Satu dekade sepeninggal Pram (2006-2016) muncul buku terbaru tentang Pram yang ditulis oleh Muhidin M. Dahlan, penulis, pengagum, dan pewaris semangat Pram dalam mengarsip koran. Buku itu diberi judul yang diambil dari kata-kata Pram sendiri yang ketika ditanyakan soal Ideologinya, dengan lantang mengatakan " Ideologi saya adalah  PRAMIS"

Buku ini seluruhnya merupakan essai-essai penulis tentang sosok, pikiran, dan tindakan Pramoedya Ananta Toer yang sebelumnya terserak di berbagai media seperti  blog pribadi, bahan makalah,  surat kabar, tabloid, hingga kata pengantar di  buku-buku Pram. Essai-essai terbaik tentang Pram itu kini dihimpun dalam sebuah buku yang dibagi dalam 8 bab yang disusun secara sistematis, mulai dari Bab yang menjelaskan Siapakah Pram? Di bab ini terdatpat dua buah essai yaitu Mas Pram. Siapakah Sebenarnya Kamu? yang berisi riwayat singkat Pram yang ditulis dengan gaya personal layaknya sebuah surat pribadi untuk Pram. Setelah itu disajikan sebuah essai  yang akan menjawab kepenasaran orang tentang apa sesungguhnya Agama Pramoedya Ananta Toer : Ateis,Teis, atau Pramis.?


Setelah kita diajak mengenal Pram, maka di bab kedua yang berjudul PRAM BEKERJA kita akan melihat proses kreatif  Pram dalam berkarya. Pram tidak menulis untuk iseng-iseng,  untuk kesenangan sendiri, atau demi uang. Ada 4 jalan yang dilakukan Pram dalam menulis yaitu  menulis adalah ideologis atau tugas nasional, riset, disiplin, dan ketrampilan berbahasa. Kehidupan Pram yang banyak dipengaruhi oleh nenek dan ibunya membuat karya-karyanya banyak bercerita tentang tokoh perempuan.

Para srikandi, ini di tangan Pramoedya menjadi kekuatan anonim yang dengan kekuatan individu yang dipunyainya coba berdiri tegar di zaman yang penuh daya dera yang menggilas, walau pun pada akhirnya mereka kalah dalam pertarungan sejarah 
(hlm 44)

Walau banyak menceritakan tokoh wanita Pram tidak mengekspolitasi keindahan wanita dalam karya-karyanya karena bagi Pram keindahan bukan ada pada keindahan tubuh wanita namun terletak pada kemanusiaan dan perjuangan untuk kemanusaan ; pembebasan terhadap penindasan.

Dibagian ini juga dikisahkan bagaimana dalam menulis Pram melakukan riset pustaka. Pram pernah meminjam buku-buku Perpustakaan Nasional hingga sebecak penuh. Buku yang dipinjam itu ternyata tidak hanya dibaca melainkan disalinnya kembali dengan tekun, bahkan beberapa tetangganya kerap dipanggil untuk membantu menyalin. Selian membaca, menyalin, dan menulis Pram juga dikenal dengan pengkliping yang tekun. Penulis menjulukinya sebagai Si Pendekar Gunting dari Bojong.


 Kliping-kliping ini selain dicita-citakan untuk menjadi sebuah ensiklopedi juga menjadi sumber utama karya-karyanya. "Hampir semua karya saya berasal dari klipingan koran," kata Pram

Bab tiga  berisi tentang esssai-essai penulis tentang Pemikiran Pram yang banyak menyinggung keinginan dan harapan Pram terhadap angkatan muda.  Di bab ke empat dengan judul PRAM DAN POLITIK terdapat essai-essai tentang bagaimana karya-karya Pram senantiasa dikaitkan dengan sikap politiknya yaitu  tentang Pram yang tanpa tedeng aling-aling menolak Hadiah Sastra Yamin, kontorversi Hadiah Magsasay dan bagaimana karya-karya Pram menjadi ancaman bagi mereka yang membacanya.


Essai-essai tentang PRAM DAN PARA SAHABATNYA bisa ditelaah di bagian ke empat buku ini. Persahabatan Pram dengan Hasjim Rahman dan Joesoef Ishak melahirkan sebuah usaha penerbitan yang bernama Hasta Mitra yang kelak akan menjadi ikon bagi karya-karya Pram . Sedangkan persahabatannya dengan HB Jasin melahirkan sebuah kongsi dagang berupa bisnis timah. Sayangnya kongsi Pram dengan para sahabatnya tidak bisa langgeng karena diterpa berbagai masalah, Hasta Mitra maupun kongsi dagang timah pun hanya tinggal sejarah.

Bagian ke kelima di buku ini merupakan bagian yang paling panjang karena memuat tafsir  penulis atas 20 lebih karya-karya Pram. Yang paling panjang adalah ketika penulis menafsir drama Mangir dalam sebuah perenungan lengkap dengan napak tilas penulis ke beberapa tempat yang pernah dijajaki tokoh-tokoh Mangir sambil membaca penggalan lakon Mangir.

Setelah membaca tafsir-tafsir penulis atas karya-karya Pram, penulis juga merangkum tafsir Prof. Koh Young Hun yang dalam bukunya berjudul Pramoedya Menggugat - Jejak Sejarah Indonesia (Gramedia, 2011)   yang membagi jejak Indonesia dalam empat tonggak berdasarkan karya-karya Pram. Lalu ada pula tulisan tentang pengalaman dan tafsir  Hari "Ong" Wahyu yang banyak membuat ilustrasi sampul untuk buku-buku Pram terbitan Hasta Mitra di tahun 2000-an.

Di bagian akhir, buku ini memuat wawancara penulis dengan  orang-orang terrdekat mulai dari istri dan anak-anaknya yaitu Maemunah Thamrin, Astuti ananta Toer, Yudistira Ananta Toer, dan Mujib Hermani, sahabat Pram. Dari istri dan anak-anaknya kita bisa melihat Pram sebagai seorang suami, dan ayah bagi anak-anak. Dari wawancara penulis dengan Maemunah kita akan mengetahui hal-hal sederhana dalam keseharan seperti Pram yang tidak pernah  membantu memasak karena waktunya habis untuk mengkliping dan menulis, Pram yang menjadi menantu kesayangan, pesan-pesan terakhir Pram, dll.

Dari kisah Astuti dan Yudistira kita melihat sosok pram sebagai ayah yang kaku dan selalu mendorong anak-anaknya untuk menulis catatan  harian sedetail mungkin. Terungkap pula tentang anak-anak Pram yang tidak pernah dibelikan mainan karena 'mainan' yang diberi Pram hanya buku.  Pram juga kerap mengajar anak-anaknya menulis. Beginilah cara Pram mengajar menuli dan membaca buku kepada anak-anaknya


Dari pengalaman Mujib Hermani, sahabat dan orang terdekat Pram diluar keluarganya, terungkap bahwa Pram pernah menghayal jadi presiden seperti yang kita baca dalam buku ini yang meruapakan dialog antara Mujib  dengan Pram


Dari percakapan di atas kita dapat melihat bahwa Pram benar-benar menjunjung tinggi hukum walau ia pernah diperlakukan tidak adil dimana negara pernah menghukumnya belasan tahun di P. Buru tanpa melalui proses hukum yang berlaku saat itu.

Sebelum penulis mengakhiri buku ini dengan sebuah epilog berjudul Keberangkatan Setelah Pasar Malam Usai, penulis menyertakan kronologi 66 jam sebelum Pram meninggal dunia. Di bagian ini penulis mencatat apa yang dilihat dan dialami dengan sangat detail mulai dari keberangkatannya bersama teman-temannya pada 27 April 2006 hingga 30 April  2006.

Sebagai sebuah buku kumpulan essai tentang sosok, pikiran, dan tindakan Pram, buku ini sangat bagus untuk dibaca. Seperti yang saya kagumi dari penulis, kalimat-kalimat yang ditulis Muhidin tidak bertele-tele, ringkas namun bertenaga seperti halnya tulisan-tulisan Pram yang ia jadikan panutan. Bagi pembaca dan penggemar karya-karya Pram buku ini harus disandingkan di samping buku-buku Pram yang monumental.

Walau bisa dikatakan lengkap namun sayangnya ada beberapa tulisan yang seharusnya dapat di update sesuai dengan kekinian seperti di bagian Mesin-mesin Pram yang bahasannya berakhir di tahun 2005. Dan yang perlu disesali bagi saya adalah tidak ada essai tentang bagaimana kondisi penerbitan buku-buku Pram pasca kepergian Pram hingga  kini atau bagaimana generasi masa kini mengapresiasi karya-karya Pram, dan apakah karya, sosok, pikiran, dan tindakan Pram masih berdampak pada pola pikir angkatan muda sekarang?  Angkatan yang selalu diharapkan oleh Pram untuk mendobrak ketidakadilan dan memimpin bangsa ini. 

@htanzil

Friday, June 10, 2016

Kesetrum Cinta

[No. 365]
Judul : Kesetrum Cinta - Kisah Jenaka Pria Jawa Menikah dengan Perempuan Swiss
Penulis : Sigit Susanto
Penerbit : Buku Mojok
Cetakan : I, 2016
Tebal : 264 hlm
ISBN : 978-602-1318-32-4

Buku ini berisi kisah-kisah pengalaman Sigit Susanto, penulis buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia 1-3  yang berasal dari Jawa yang kesetrum cinta lalu  menikah dengan Claudia Beck, perempuan  Swiss. Pernikahan mereka tidak hanya mempertemukan keduanya dalam satu biduk rumah hangga  namun juga mempertemukan dua budaya yang sangat berlainan. 

Disinilah mereka lambat laun menyesuaikan diri mengenal budaya satu sama lain yang tentunya tidak mudah dan kadang melahirkan kejadian-kejadian  unik dan jenaka. Berdasarkan ingatannya semata penulis menceritakan apa yang dialaminya selama 20 tahun hidup bersama istrinya ke dalam 135 kisah sehingga tidak heran buku ini tampak agak gemuk, berbeda dengan buku2 sejenis yang biasanya hanya memuat tidak lebih dari 10-15 kisah saja. 

Dengan piawai penulis meramu potongan-potongan pengalaman hidup bersama istrinya dengan tidak terlalu panjang namun sanggup membuat pembaca tersenyum atau tertawa sendiri dengan kisah-kisahnya yang lucu dan terkadang menyentuh hati.  Walau judulnya Kesetrum Cinta namun bukan berarti buku ini hanya  menyajikan kisah cinta penulis dan istrinya yang berbeda negara dan budaya melainkan juga pengalaman-pengalaman menarik yang tak terduga  akibat geger budaya yang ia dan istrinya alami. Terkadang di akhir kisah penulis mengemukakan pendapatnya secara lugas dan jujur seperti yang terdapat dalam kisah berjudul Cium Tangan yang dialami oleh Claudia, istri penulis.

"Pemandangan cium tangan sekarang ini makin ramai. Saat Claudia salaman, sering tangannya diangkat oleh anak-anak muda dan disentuhkan jidat mereka. Kebanyakan ia menolak sambil bilang, "Tidak perlu, kita sama-sama manusia, sejajar sama tingginya."

Gejala lain, yakni bersalaman antara lelaki dan perempuan akhir-akhir ini terasa makin dihindari. Beberapa kali aku menyodorkan tangan kepada perempuan yang aku kenal cukup lama, kali ini ia menolak bersalaman. Sejak kapan budaya Indonesia menghindarkan orang salaman, walau berbeda jenis kelamin? Aku merasa seolah seperti di negeri Arab saja. 
(hlm 36-37)

Perbedaaan cara orang bertanya antara orang Indonesia dan Swiss rupanya tak luput dari pengamatan penulis.  Saat menghadiri forum tanya jawab ketika Pramoedya Ananta Toer bertandang ke Swiss pada tahun 2002, teman  penulis yang orang Swiss berkata demikian,

"Perhatikan dengan seksama ketika orang Swiss bertanya dan orang Indonesia bertanya. Kebanyakan orang Indonesia lebih suka bercerita dulu yang panjang, pertanyaannya pendek sekali, malah kadang lupa apa yang ditanyakan, saking panjangnya pengantar."

hal tersebut sependapat dengan apa yang diungkapkan oleh penulis, 

Pertanyaan yang dilontarkan orang Swiss kebanyakan langsung ke tema yang ditanyakan. Terkesan ringkas, lugas, dan efektif. Pertanyaan orang Indonesia kebanyakan didahului pengantar, kadang bertele-tele.  (hlm 197)

Seperti negara-negara di Eropa, Swiss juga menerapkan disiplin dalam segala hal, termasuk dalam hal membuang sampah. Jika di Indonesia semua sampah rumah tangga disatukan dan diambil oleh petugas sampah sekaligus maka di Swiss sampah dibagi bagi menurut jenisnya, dan diambilnya pun berdasarkan jenisnya.



Cara mereka membuang sampah pun diberi jadwal. Misal Senin untuk sampah plastik dan kertas. Rabu untuk sampah dapur. Botol pun dikumpulkan pada tempat yang teratur sesuai warna botolnya; putih, hijau, atau coklat.  
(hlm 251)

Masih banyak hal-hal menarik yang terdapat dalam buku ini. Karena penulis yang telah bermukim di Swiss ini setiap tahunnya selalu 'pulang' ke Indonesia bersama  istrinya selama beberapa bulan maka kisah-kisah yang tersaji di buku ini menjadi lengkap karena pembaca bisa melihatnya dari dua sisi yang berbeda. Ada kisah bagaimana pengalaman penulis di Swiss, ada juga kisah pengalaman istrinya selama berada di Indonesia.


 Yang agak disayangkan dalam buku ini adalah penyajian antara satu kisah dengan kisah yang lainnya yang terkesan melompat-lompat.Tiap judul dalam buku ini tidak disusun berdasarkan kronologi waktu dan tempat. Kalaupun tidak memungkinkan disusun berdasarkan kronologi waktu mungkin buku ini bisa dibagi dalam dua bab besar. Bab pertama memuat kisah-kisah penulis selama berada di Swiss dan satu bab lagi memuat kisah-kisah penulis bersama istrinya saat berada di Indonesia.  Atau bisa pula disiasati seperti gaya menulis P. Swantoro dalam bukunya berjudul Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu (KPG, 2016) dan Remy Sylado dalam novel Perempuan Bernama Arjuna (Nuansa Cendekia 2014) yang dalam setiap akhir babnya menggunakan kalimat penghubung untuk menuju bab selanjutnya sehingga setiap kisahnya terangkai sambung menyambung seolah menjadi sebuah kesatuan. 

Terlepas dari itu kehadiran buku ini sangat baik untuk diapresiasi oleh siapa saja yang ingin mengetahui perbedaan budaya antara Eropa dan Indonesia dan geger budaya yang terjadi akibat akulturasi antara dua pasangan yang berbeda budaya. Walau kisah-kisah dalam buku ini diangkat dari keseharian penulisnya namun semua itu dapat dijadikan contoh bagaimana perbedaan budaya antara dua benua . Selain itu pembaca juga akan memperoleh kisah-kisah humanis dari orang-orang yang ditemui penulis dan istrinya.

Buku ini juga memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi dan rentang usia pembaca yang panjang (remaja hingga dewasa). Seluruh kisahnya dengan gaya personal, kita yang membacanya bagaikan mendengarkan langsung dari tuturan sang penulis yang sedang bercerita di depan kita, sehingga walau ada ratusan kisah di dalamnya kita akan betah membaca buku ini hingga habis.

@htanzil


.


Monday, May 30, 2016

Rasia Bandoeng

[No.364]
Judul : Rasia Bandoeng
Rasia Bandoeng atawa Satoe Pertjintaan jang Melanggar Peradatan Bangsa Tionghoa : Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917
Penulis : Chabanneau
Penerbit : Katarsis Book 
Cetakan : II, April 2016
Tebal : 236 hlm



Para pembatja jang terhormat saja berkata
Tjerita ini betoel terdjadi boekannja djoesta
Boewat pendodoek di Bandoeng kota
Semoewa taoe benarnja ini tjerita
(hl. xii)

Demikian yang diungkapkan Chabanneau, penulis roman Rasia Bandoeng dalam Permoelahan Kata di lembar pertama bukunya untuk menyakinkan pembaca bahwa kisah yang ditulisnya adalah kisah nyata. Hal ini sekan menegaskan kembali apa yang dijadikan judul panjang romannya yaitu "Rasia Bandoeng atawa Satoe Pertjintaan jang Melanggar Peradatan Bangsa Tionghoa : Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917"

Dari judul di atas kita dapat langsung menebak apa yang ingin dikisahkan penulis yaitu tentang cinta terlarang, cinta yang tidak direstui oleh keluarga seperti kisah Romeo dan Juliet, Laija Majnun,  Sam Pek Eng Tay, dll.  Rasia Bandoeng menceritakan kisah cinta antara dua insan orang Tionghoa yang memiliki marga yang sama, yaitu Tan Kaij No (Hilda Tan) dengan Tan Tjin Hiauw. Cinta yang terlarang karena menurut adat Tionghoa pernikahan satu marga adalah hal yang tabu.

Dalam roman ini dikisahkan Tan Djia Goan seorang pedagang batik Tionghoa yang sukses memiliki dua putri yaitu Tan Kaij No dan Tan Giok Nio. Kedua putrinya ini dididiki secara modern dan disekolahkan ke sekolah Belanda dan diberi nama Barat yaitu Helena Tan  (Tan Kaij No) dan Hilda Tan (Tan Giok Nio).  Kedua putri Tan Djia Goan ini tumbuh menjadi remaja yang berpikiran modern dan maju. Tidak itu saja Hilda dan seluruh  keluarganyapun telah menganut agama Kristen yang saat itu dianggap sebagai agama orang Eropa.  Berbeda dengan Hilda yang berasal dari keluarga kaya, Tan Tjin Hiauw sendiri berasal dari keluarga sederhana namun seperti halnya Hilda, Tjin Hiauw sendiri adalah seorang yang terdidik dan telah bekerja sebagai boekhouder (bidang pembukuan) di firma Dewaal & Co.

Baik Hilda maupun Tjin Hiauw sebenarnya sadar betul bahwa penikahan sesama warga adalah hal yang tabu. Itulah yang menyebabkan Hilda merahasian hubungan mereka pada orang tuanya. Sementara Tjin Hiauw sendiri berterus terang mengenai hubungannya dengan keluarganya dan keluarganyapun merestuinya dan menyarankan untuk melamarnya. Tjin Hiauw sendiri masih berharap keluarga Hilda mengabulkannya karena mereka adalah keluarta modern yang juga telah beragama Kristen sehingga diharapkan dapat sedikit fleksibel terhadap adat leluhur.

"Saja djoega baroesan soedah berdami (berembug-red) sama Hilda," kata Tan Tjin Hiauw, "boewat lamar sadja dengan berterang pada orang toewanja. Siapa taoe lantaran Tan Djia Goan anoet agama Christen. Nanti soeka loeloeskan saja poenja permintaan dengan boewang itoe adat lembaga koene jang boeseok, jang melarang orang tida boleh kawin sama satoe She" 
 (hlm 23)

Sebelum Tjin Hiauw melamar Hilda, sepucuk surat dari Tjin Hiauw untuk Hilda secara tidak sengaja ditemukan oleh Tan Djia Goan (ayah Hilda) sehingga hubungan mereka diketahui dan tidak seperti yang diduga Tjin Hiaw ternyata keluarga Hilda tidak merestuinya dan melarang Hilda berhubungan dengan Tjin Hiauw. Walau mendapat larangan,  teguran keras, bahkan hukuman dari ayahnya namun Hilda dan Tjin Hiauw melanjutkan hubungan mereka.

Di tengah terjalinnya hubungan mereka secara rahasia muncullah Lie Tok Sim yang menyatakan cintanya pada Hilda lewat surat. Walau Hilda menolaknya sejak awal namun Lie Tok Sim tidak menyerah  dan ia terus mengirim surat pada Hilda. Karena cintanya pada Tjin Hiauw Hilda menolak cinta Lie Tok Sim dan menyuruhnya membakar semua surat-surat diantara mereka.



Saking kuatnya rasa cinta antara Hilda dan Tjin Hiauw akhirnya Hilda nekad melarikan diri dari rumahnya menuju rumah kekasihnya. Dia berharap tindakannya ini akan membutkikan betapa ia mencintai kekasihnya sehingga meluluhkan hati ayahnya. Ternyata ayahnya semakin berang sehingga tanpa sepengetahuan siapapun Hilda disembunyikan di sebuah tempat yang jauh. Hukuman ini tidak membuat Hilda jera, berbagai cara dilakukannya  untuk terus berhubungan dengan kekasihnya.

Tidak itu saja, agar bisa bersatu dengan kekasihnya, Hilda kembali kabur ke Surabaya, Makasar, hingga Singapura. Kemarahan ayahnya semakin memuncak,  Hilda dianggap telah memberi aib pada keluarganya hingga  akhirnya Tan Djia Goan dengan tega memutuskan hubungan ayah-anak. Hilda diadopsi ke keluarga lain sehingga segala tindak tanduk Hilda  tidak lagi menjadi tanggung jawabnya. 


Kaya akan latar Bandoeng tempo doeloe

Kisah cinta dalam roman Rasia Bandoeng ini sebenarnya  sebuah kisah cinta biasa yang banyak ditulis orang namun  untungnya penulis memberikan latar kisah cinta ini dengan begitu apik dan detail sehingga roman ini menjadi sangat menarik dan menjadi abadi walau ditulis hampir satu abad yang lampau. Keadaan Bandoeng di awal abad ke 20 dideskripsikan dengan sangat detail seperti jalan-jalan, taman-taman, dan beberapa pusat hiburan yang ada di kota Bandung saat itu sehingga pembaca masa kini masih bisa membayangkan dan melacak lokasi-lokasi yang disebutkan dalam roman ini seperti Pasar Baru, Gardujadi, Cibadak, Tegalega, Banceuy, dll. Bahkan jejak kediaman rumah keluarga Hilda masih bisa ditemukan hingga kini, yaitu yang pernah menjadi Hotel Surabaya lalu sekarang menjadi Hotel Carradine di Jalan Kebon Jati Bandung.

Rumah  Hilda dan keluarganya sebelum dipugar menjadi Hotel Carradine

Selain setting lokasi yang detail, roman ini juga mengungkap aktivitas pelacuran yang ada di Bandoeng yang ternyata telah ada sejak dulu dan bagaimana para pemuda Tionghoa menggunakan jasa mereka. Bahkan salah satu tokoh utama dalam roman ini pun secara diam-diam memelihara seorang wanita penghibur dengan mengontrakkan rumah dan melengkapi rumah kontrakan dengan perabotannya.

Karena menceritakan kehidupan tokoh-tokoh Tionghoa maka roman ini bisa dikatakan dapat menjadi sebuah dokumen yang merekam sebuah peristiwa dan kondisi sosial masyarakat Tionghoa Bandung karena roman ini jugamenggambarkan bagaimana perilaku dan budaya orang-orang Tionghoa Bandung di masa itu. Hilda mewakili gadis Tionghoa yang berpendidikan yang lahir dari keluaga Tionghoa modern yang sukses namun tetap memegang teguh adat istiadat leluhur mereka. Sementara  Tan Tjin Hiauw mewakili sosok pemuda Tionghoa tipe pekerja keras dan gaul yang walau  terlahir dari keluarga biasa namun keluarganya lebih bersikap kompromi terhadap adat leluhur. 


Berdasarkan Kisah Nyata

Seperti diungkapkan penulisnya baik lewat judul maupun Permoelahan Kata (Pendahuluan), kisah yang diangkat dalam roman ini memang benar-benar pernah terjadi. Penulis hanya mengganti nama-nama tokoh-tokoh dalam novel ini dengan tetap mempertahankan inisial atau huruf pertama dari setiap nama. Misalnya Hilda Tan =  Hermine Tan, Tan Tjin Hiauw = Tan Tjeng Hoe, Tan ShioTjhie = Tan Sim Cong (yang kelak menjadi salah satu dermawan Tionghoa  yang terkenal dan namanya diabadikan menjadi nama jalan di Bandung / Gg. Simcong).

Saja harap antero pembatja maoe mengarti
Nama jang benar saja terpaksa ganti
Sebagi pengarang saja haroes berati-ati
Soepaja tida dapat soesah di hari nanti
(hlm xii)

Lalu dari mana kita bisa yakin kalau ini benar-benar kisah nyata?  Tinneke Helwig, sejarahwan sekaligus Feminis asal Kanada telah membuktikan bahwa kisah dalam roman ini benar-benar terjadi di Bandung pada tahun 1917. Dalam salah satu bukunya yang berjudul Women and Malay Voices: Undercurrent Murmurings in Indonesia's Colonial Past" (New York, Peter Lang, 2012) Tinneke menyinggung banyak tentang roman ini dalam satu bab  dengan judul  A Western Educated Chinese Woman dimana ia membahas sosok Hermine/Hilda Tan lewat penelusuran langsung ke keturunan Hermine Tan. Lewat penelurusannya Tinneke berhasil memperoleh  beberapa foto Hermine Tan (Hilda Tan) dengan Tan Tjeng Hoe (Tan Tjin Hiauw)  dan  koran Sin Po edisi 2 Januari 1918 yang memuat iklan kweepang atau adopsi Hermine Tan yang dimuat dalam bukunya tersebut



Dari buku yang ditulis Tinneke Helwig juga terungkap bahwa selain Rasia Bandoeng yang ditulis Chabbaneu, pada tahun yang sama dengan terbitnya Rasia Bandoeng kisah Hermine Tan ini juga ditulis oleh K.Kh Liong dengan judul Tjerita Nona Tang Seng Nio alias Hermine T...., atawa tjara bagimana orang toewa haroes didik sama anaknja. Satoe tjerita jang betoel soedah kedjadian die Bandoeng, dalem tahoen 1912 dan berachir tahoen 1917. Lalu pada tahun 1940 terbit pula roman berdasakan kisah Hermine Tan dengan judul Rasianja satoe gadis hartawan yang ditulis oleh Monsieur Indo Jr. Dari terbitnya tiga buku yang tersebut maka bisa  disimpulkan bahwa kisah Hermine Tan di masanya merupakan kisah yang menghebohkan

Siapa sebenarnya  Chabannau?, hingga kini siapa Chabanneau masih misteri. James T. Siegel, seorang antropolog dalam bukunya "Fetish, Recognation and Revolution" mengidentifikasikan bahwa Chabanneau adalah seorang pemeras yang mengancam keluarga Hermine Tan. Ia mengancam akan menyebarkan aib keluarga Tan Djin Gie (ayah Hermine/Hilda) dalam bentuk novel jika keluarga Hermine tidak memberikan sejumlah uang yang dikehendakinya.  Rupanya Tan Djin Gie menolak ancaman Chabanneu sehingga akhirnya roman ini diterbitkan. Menurut Siegel, Chabanneau memperoleh bahan-bahan untuk menulis roman ini dari surat-surat Hermine/Helda yang dijual oleh Lie Tok Sim pada Chabanneau karena Hilda menampik cintanya.

Terbit Kembali Secara Terbatas


Rasia Bandoeng cetakan ke-2, 1918

Walau pernikahan kawin semarga ini sempat menghebohkan kota Bandung terlebih dengan diterbitkannya 3 jilid Roman Rasia Bandoeng ini 97 tahun yang lalu oleh penerbit Gouw Kim Liong, Batavia, 1918 namun seiring perjalanan waktu tampaknya peristiwa dan romannya sudah dilupakan orang. Apalagi roman yang ditulis dalam bahasa Melayu Pasar ini tidak pernah disebutkan dalam buku-buku resmi sejarah sastra Indonesia. Roman ini akan terkubur sepanjang masa jika saja Tinneke Helwig tidak menulis bab khusus tentang roman ini dalam bukunya pada tahun 2012  dan Lina Nursanty (wartawan PR)  dalam tulisan berserinya berjudul Tionghoa Bandung dalam Roman yang dimuat di koran Pikiran Rakyat 16-18 Februari 2015.

Terungkapnya kembali roman ini di harian Pikiran Rakyat itu mendorong beberapa komunitas sejarah di kota Bandung (Balad Junghuhn, Gambung Vooruit & Co, Tjimahi Heritage) dan Katarsis Book untuk  menerbitkan kembali Roman Rasia Bandoeng secara indie dalam jumlah yang terbatas dengan tetap menggunakan bahasa Melayu Pasar seperti di cetakan pertamanya. Sebuah langkah yang baik karena walau mungkin agak sulit dibaca  namun dengan tetap mempertahankan sesuai dengan naskah aslinya maka hal ini dapat mengenalkan bahasa Melayu Pasar yang pernah digunakan dalam sejarah keberbahasaan kita.

Tanpa diduga cetak ulang pertama roman ini ludes dalam waktu sekejap. Karenanya buku ini kembali dicetak  ulang dalam jumlah yang masih terbatas. Yang membedakan buku ini dari cetakan pertamanya adalah dihilangkannya foto-foto memang tampilannya kurang memadai. Lampiran foto-foto tersebut diganti dengan tambahan informasi yang sangat bermanfaat bagi pembaca untuk memahami roman ini yaitu  kata pengantar dari Sugiri Kustedja, ketua Pusat Studi Diaspora Tionghoa Universitas Kristen Maranatha, dan penutup dari Bambang Tjahjadi,  keturunan dari salah satu tokoh yang ada dalam roman Rasia Bandoeng.

@htanzil