Wednesday, September 21, 2016

Perpustakaan Kelamin : Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan

[No. 368]
Judul : Perpustakaan Kelamin : Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan
Penulis : Sanghyang Mughni Pancaniti
Penerbit : Semesta
Cetakan : I, Mei 2016
Tebal : 229 hlm
ISBN : 978-602-14549-3-0

Novel dengan judul yang unik dan menimbulkan rasa penasaran ini mengisahkan tentang seorang tokoh bernama Hariang yang tinggal di desa Cigendel, Sukabumi, Jawa Barat bersama ibunya  yang begitu mencintai buku. Agar anaknya mencintai buku sang ibu mendidik anaknya dengan cara yang unik yaitu merahasiakan isi dari sebuah ruangan terkunci berukuran 4 x 8 meter dari anaknya. Semakin besar Hariang semakin penasaran apa isi dari ruangan yang selalu terkunci tersebut. Setiap kali Hariang bertanya jawaban ibunya selalu sama, "Kamu belum waktunya tahu". 

Baru ketika Hariang berusia 20 tahun sang ibu  mengizinkan anaknya memasuki ruangan rahasia itu yang ternyata sebuah ruangan berisi ribuan buku yang dikumpulkan oleh ibunya selama 19 tahun dari hasil menyisihkan pendapatannya yang diperoleh dari penjualan hasil kebunnya.

Ruangan ini dulunya adalah kandang domba. Sebelum kamu lahir, bapakmu menyulapnya menjadi ruangan yang memang diniatkan untuk menjadi taman baca bagi warga, dan anaknya kelak......Akan tetapi bapakmu keburu menghadap Tuhan, sebelum bisa membeli satu buku pun yang diniatkannya untuk masyarakat serta anaknya."  
 (hlm 9)

Bukan tanpa sebab ibu Hariang merahasiakan perpustakaan kepada anaknya selama 20 tahun hingga Hariang dirasa siap mengetahuinya,

"Merahasiakan ruangan ini dari kamu, adalah mutlak rencana ibu. Alasan ibu sederhana, biar kamu terus bertanya, merindukannya, lalu jatuh cinta kepada yang ibu rahasiakan itu, sesaat setelah kamu mengetahuinya...Ibu hanya ingin kamu jatuh cinta kepada buku, menganggapnya sebagai benda yang istimewa.....Bantu ibu, agar banyak tetangga kita yang mau membaca di sini, terutama anak-anak. Buku bukan hanya milik mereka mengaku dirinya terpelajar,tapi milik semua orang yang ingin menatap makna."
(hlm 10)

Perpustakaan ini akhirnya diberi nama Pabukon Kadeudeuh, Pabukon = Perbukuan/perpustakaan, Kadeudeuh =  Kasih Sayang. Hariang dan ibunya bersama-sama menjadi pengelolanya. Siapapun boleh membaca di perpustakaan tersebut tanpa dipungut biaya. Pada suatu hari Hariang didatangi oleh Kang Ulun, pemuda terpelajar yang kaya. Kang Ulun meminta bantuan Hariang untuk mencari donor kelamin bagi dirinya. Sudah menjadi rahasia umum kalau Kang Ulun tidak memiliki organ kelaim karena terpotong habis ketika proses khitan saat ia berusia 5 tahun. Karena ingin menjadi lelaki seutuhnya maka ia berniat mencari donor kelamin dengan imbalan 1, 5 Milyard. Karena kenal dekat dengan Kang Ulun Hariang pun menyanggupi untuk membantu mencarikan donor kelamin. 

Mencari donor kelamin tidaklah mudah, walau jumlah uang pengganti yang diberikan kepada pendonor begitu besar namun lelaki normal mana yang mau  mengorbankan kelelakiannya. Ketika Hariang berusaha mencari donor kelamin di kota Bandung sebuah musibah terjadi menimpa perpustakaannya. Perpustakaan Pakubon Kadeudeuh dengan koleksi 11.000 buku habis terbakar dilalap api. Tak hanya itu, peristiwa itu membuat jiwa ibunya terguncang parah sehingga menjadi  gila. 

Berbagai cara dilakukan Hariang untuk menyembuhkan ibunya, mulai dari mendatangkan dokter jiwa, hingga lewat doa-doa. Namun semua itu tak bisa mengembalikan kewarasan ibunya.  Sampai akhirnya Hariang mendapat keyakinan bahwa ibunya bisa sembuh jika perpustakaannya dibangun ulang karena buku dan perpustakaan selama ini telah menjadi bagian yang terpisahkan dari ibunya. 

Untuk membangun kembali perpustakaannya Hariang bekerja sebagai pegawai toko buku, pegawai restoran, dan mengisi kolom cerpen di sebuah koran. Dari penghasilannya bekerja dan menulis cerpen Hariang bisa membeli 400 buah buku. Jumlah yang masih jauh dibanding 11.000 buku yang sebelumnya dimiliki Perpustakaannya

"Aku sudah mencoba bersabar, untuk terus mengumpulkan buku sampai satu tahun lamanya, agar ada perubahan pada kejiwaan ibu, tapi sepertinya putus asa mulai menyergapku, bertakhta. Baru saja tiga bulan mencari uang, aku tak mampu menunggu kesembuhan ibu lebih lama lagi, perpustakaan harus segera didirikan. Tapi dengan cara apa? Tak ada barang berharga yang bisa kujual. Aku miskin "

Ada satu nama yang tiba-tiba terlintas, namun yang membuatku bergidik ngeri, diakah jalannya? Kang Ulun, ya Kang Ulun. Haruskah aku mendonorkan kelaminku kepadanya? Uang 1,5 Milyard yang dijanjikannya itu bisa kubelikan buku sebanyak mungkin, bahkan gedung perpustakaan bisa kudirikan kembali, dengan lebih besar, lebih megah. Tapi benarkah, demi buku dan ibu, haruskah kupertaruhkan kelamin yang sangat kupuja ini? Edan!"
(hlm 207)

Bukan hal yang mudah bagi Hariang untuk memutuskan apakah ia akan korbankan kelaminnya untuk dapat membangun perpustakaan demi kesembuhan ibunya. Apalagi saat itu ia telah memiliki seorang kekasih yang telah ia yakini akan menjadi calon istrinya kelak. 


Khazanah Perbukuan dalam Perpustakaan Kelamin

Novel ini tak hanya menyuguhkan kisah menarik  usaha Hariang dalam membangun perpustakaan guna menyembuhkan ibunya melainkan ada banyak khazanah perbukuan dunia dan Indonesia yang disusupkan dalam novel ini. Kita akan menemukan kisah bagaimana sejarah buku tercipta, kegilaan orang dan tokoh-tokoh dunia yang gila membaca seperti Napoleon Bonaparte yang membuat lemari buku di keretanya agar di sela-sela berperang tetap bisa membaca, atau Sun Ching  yang karena tak ingin berhenti membaca mengikat rambutnya pada tiang di atas kepalanya untuk menjaga dirinya supaya tegak. Ada pula diceritakan kisah tentang penulis cabul Marquis de Sadde yang terus menulis walau dalam penjara seperti yang dikisahkan dalam film  Quills

Sebutan atau istilah bagi para penggila buku yang pernah dimuat di buku Memposisikan Buku di Era cybercpace karya Putut Widjanarko seperti bibliomania, bibliofil, bibliotaf, biblioklas, dll dikutip dalam novel ini. Selain itu ada banyak kutipan-kutipan menarik dari berbagai penulis dan buku yang bertebaran di novel ini. Mungkin ada ratusan judul buku yang disebut-sebut dalam novel ini.

Kecintaan dan kesadaran orang akan pentingnya membaca buku selain terwakili oleh tokoh Hariang dan ibunya juga tercermin dalam komunitas PAKU (Pasukan Anti Kuliah) yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang drop out atau kecewa dengan sistem pendidikan di Indonesia. Walau mereka tidak kuliah namun wawasan para anggotanya tidak kalah dengan mereka yang kuliah. Mereka secara rutin menggelar diskusi buku. Dalam novel ini pemikiran, filosofi,  dan aktivitas PAKU terdeskripsikan dalam satu bab khusus dan hal ini membuat novel ini menjadi semakin menarik dan begitu hidup sehingga saya penasaran apakah komunitas ini benar-benar ada di Bandung?

Dari bab khusus tentang PAKU ini akan terungkap tentang sejarah pelarangan buku di dunia dan Indonesia, dan untuk melengkapinya di bab-bab akhir dimuat juga Daftar Pelarangan Buku di Indonesia 1968-1998 yang dikutip penulis dari buku Menentang Peradaban (Pelarangan Buku di Indonesia), LSAM, 1999.

Bukan Novel Biasa 

Selain tentang khazanah perbukuan, novel ini juga memasukkan wacana tentang keagamaan, seksualitas, kritik terhadap sistem pendidikan, dan sebagainya yang pada akhirnya mengerucut pada sebuah pertaruhan antara buku dan kelamin dan apakah yang menjadi puncak peradaban itu bukukah atau kelamin? Semua wacana tersebut tersaji dalam dialog antar tokoh-tokohnya sehingga novel ini bukan sekedar novel sastra biasa melainkan novel sastra plus-plus yang akan menambah wawasan pembacanya. Di novel ini terdapat juga sebuah epilog berjudul Sex, benarkah Puncak dari Peradaban? yang ditulis Shiny ane El Poesya.

Sebagai sebuah novel yang ditulis oleh penulis yang mukim di Bandung dan memiliki setting cerita di Sumedang dan Bandung, penulis memasukkan kandungan lokal khas orang-orang Sunda yaitu istilah-istilah dan peribahasa Sunda beserta artinya. Beberapa peribahasa mungkin sudah jarang kita dengar sehingga novel ini bisa dikatakan mengangkat kearifan lokal budaya Sunda yang mungkin sudah terlupakan bagi pembaca muda.

Walau banyak mengandung materi-materi tambahan yang dimasukkan dalam novel ini  namun penulis meramunya  sedemikian rupa sehingga seluruhnya melebur dalam kisahnya sehingga pembaca novel ini akan mendapat kisah yang menarik dengan bonus berupa materi-materi penambah wawasan yang telah disebutkan di atas.

Dari segi karakter tokoh, tokoh utama dalam novel ini yaitu Hariang dieksporasi oleh penulisnya dengan sangat baik lewat dialog batin Hariang maupun lewat dialog-dialog dengan lawan bicaranya. Tokoh Hariang  digambarkan apa adanya, dia bukan manusia sempurna, di satu sisi dia paham dan taat pada ajaran agamanya, namun sebagai manusia yang penuh kelemahan dia juga dikisahkan tidak luput dari keinginan dan melakukan berbuat dosa. Pergulatan batin inilah yang juga dimunculkan oleh penulisnya sehingga hal ini membuat pembaca akan merasa dekat dengan tokohnya yang begitu manusiawi.

Mengenai kelamin apakah betul bisa didonorkan dan dipasang di tubuh orang lain saya sendiri tidak tahu kebenarannya. Bagi sebagaian pembaca mungkin menganggap hal ini berlebihan dan tidak masuk akal, namun saya pribadi tidak mempermasalahkan karena dengan menggunakan isu donor kelamin sebagai sebuah pertaruhan demi buku dan kasih sayang  akan membuat posisi buku sebagai salah satu simbol dari   peradaban menjadi semakin kokoh. 

Dengan segala kebaikan yang ada dalam novel ini ada sedikit ganjalan yaitu bagaimana Hariang menemukan bahwa Pohon adalah simbol dari tercapainya Puncak Spiritual

'Pohon' adalah simbol bagi ketercapain 'Puncak Spiritual' para orang suci : Musa a.s   dengan pohon Zion-nya, Buddha dengan Pohon Bodinya, Isa a.s dengan Pohon Cemaranya dan Muhammad SAW dengan Sidrotul Muntaha-Nya.
(hlm 12)

Hingga saat ini saya belum menemukan literatur yang menghubungkan Nabi Isa a.s (Yesus dalam Kristen) dengan pohon cemara. Atau bagaimana Isa a.s pernah bersinggungan dengan pohon cemara dalam mencapai puncak spiritualnya. Kalaupun pohon cemara sering dikaitkan dalam simbol natal (kelahiran Isa) itu betul, namun simbol itupun terbentuk jauh setelah nabi Isa lahir, dan tradisi menggunakan pohon cemara dalam natal adalah tradisi kaum pagan yang diadopsi oleh orang Kristen di Eropa. 

Yang kedua adalah ketika tim dokter yang akan mengoperasi pendonor kelamin hanya terdiri dari dokter anestesi dan dokter bedah saja. Seperti yang kita ketahui organ kelamin pria adalah sebuah struktur yang kompleks dan jika memang hendak dibuang tentunya ada dokter-dokter spesialis lain yang akan menjadi tim operasi.

Terlepas dari dua hal yang menjadi ganjalan bagi saya, secara umum novel ini sangat bagus untuk dipahami dan dimaknai, ada berbagai hal yang bisa pembaca maknai dan membuka wawasan berpikir pembaca. Ini bukan sekedar novel biasa namun novel yang berkisah tentang tokoh-tokohnya yang begitu mencintai buku yang dibalut dalam drama tentang pengorbanan, kasih sayang, dan pengkhianatan.

Bagi para pecinta literasi atau mereka yang gemar membaca, mencintai buku, dan sadar akan makna buku bagi peradaban dunia tentunya akan menemukan kepuasan total ketika membaca novel ini yang rencananya akan ada kelanjutannya. 

@htanzil

Friday, July 29, 2016

Senja di Langit Ceko

[No. 367]
Judul : Senja di Langit Ceko
Penulis : Kirana Kejora
Penerbit : Dua Media
Cetakan : I, 2016
Tebal : 290 hlm
ISBN : 978-602-72707-1-8

Praha, ibukota Republik Ceko adalah salah satu kota tua di Eropa yang terkenal karena keindahannya. Praha sisebut sebagai kota yang paling cantik di Eropa sehingga dijuluki sebagai "Mahkota Cantik dari Eropa". Hal ini membuat Praha menjadi salah satu destinasi favorit bagi para pelancong dan para pengantin baru yang ingin berbulan madu di Eropa. Keindahan dan keromantisan Praha ini membuat Kirana Kejora, salah satu penulis produktif Indonesia tergelitik untuk menulis sebuah roman  yang diangkat dari kisah nyata dengan Praha sebagai latar kisahnya.

Novel ke-12 Kirana Kejora ini mengisahkan kisah romansa antara Senja Rinjani seorang jurnalis sekaligus novelis dengan Bumi Saujana (Sau), ilmuwan cerdas yang dikecewakan oleh pemerintah sehingga memilih untuk berkarya di negeri orang yang lebih menghargai karya dan keilmuwanannya. Senja adalah seorang  yatim piatu yang tinggal bersama eyangnya yang ahli forensik. Orang tua Senja meninggal dalam sebuah kecelakaan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin agar penyelidikan forensik yang dilakukan eyang  dihentikan. Sedangkan Sau tinggal bersama ibunya yang single parent.  Prahara politik tahun 1965 di Indonesia membuat ayahnya yang saat itu sedang kuliah di Cekoslowakia tak bisa pulang ke tanah air hingga akhirnya menghilang tanpa jejak.

Perjumpaan antara Senja dan Sau dimulai dari sebuah seminar internasional di Jakarta. Berawal dari perdebatan di seminar tersebut, mereka bertukar email dan lewat media cyber inilah akhirnya benih-benih cinta tumbuh diantara mereka hingga akhirnya  Sau memutuskan untuk melamarnya dan mengajaknya menikah.

Singkat cerita Senja yang awalnya ragu untuk menerima pinangan Sau akhirnya bersedia menikah dengan Sau. Sebagaimana pasangan yang baru menikah dan hidup berkecukupan mereka memutuskan untuk berbulan madu. Praha menjadi kota pilihan mereka karena selain untuk menikmati bulan madu  di kota yang memberikan nuansa romantisme yang kuat, Sau juga berniat mencari informasi mengenai keberadaan ayahnya yang hilang tanpa jejak di kota tersebut. Bagi Senja, Praha juga mendapat tempat yang istimewa karena ia sangat mengagumi karya-karya Franz Kafka yang lahir dan berkarya di Praha.

Untuk dapat menikmati bulan madu secara nyaman mereka menggunakan jasa seorang tour guide bernama Sam, pemuda Ceko blasteran yang memiliki darah Indonesia dari ayahnya yang menikah dengan perempuan Ceko asli.  Berkat pelayanan Sam, Sau berhasil mewujudkan keinginannya untuk menghadirkan bulan madu romantis yang tak mungkin terlupakan bagi Senja  Sayangnya sebuah tragedi tiba-tiba menghancurkan bulan madu mereka. Beruntung Tuhan mempertemukan mereka dengan Sam yang walau pada akhirnya Senja harus menerima kenyataan pahit di negeri impiannya namun ada Sam yang  menyelamatkan dirinya dari sebuah kepedihan yang tak terkira.

Sebagai sebuah roman, novel ini mengeksplor habis sisi-sisi keromantisan antara kedua tokohnya. Di halaman-halaman awal pembaca diajak membaca chating Sau dan Senja yang sarat dengan kalimat-kalimat puitis dan filosofis. Awalnya saya menduga seluruh percakapan antara Sau dan Senja akan dibuat puitis, ternyata tidak. Selepas mereka bertemu dan menikah percakapan mereka menjadi lebih cair. Setelah mereka berada di Ceko sisi romantisme novel ini tercipta bukan lewat kalimat-kalimat puitis namun lewat bagaimana Sau berusaha menyenangkan istrinya dengan berbagai kejutan manis sambil mengunjungi tempat-tempat romantis di Praha.

Selama kisah bergulir di Praha, penulis  mengajak pembaca menikmati keindahan Praha melalui deskripsinya yang begitu detail tentang Praha lengkap dengan bangunan-bangunan bersejarah dan destinasi-destinasi wisata romantis yang menarik. Tak hanya itu di novel ini juga penulis memasukkan materi yang cukup banyak tentang Franz Kafka dan karya-karyanya plus narasi kunjungan Sau dan Senja ke museum Kafka. Hal ini membuat pembaca akan mengetahui kehidupan dan karya Kafka dalam novel ini. Selain itu disinggung juga tentang Valvac Havel, sastrawan/penulis Ceko yang akhirnya menjadi Presiden Ceko yang dicintai rakyatnya. Bagi pembaca yang suka sastra, munculnya  Kafka dan Havel dalam novel ini sedikit banyak akan melahirkan minat untuk mengenal lebih dalam lagi karya-karya mereka. 

                                                Praha - sumber foto : www.trekearth.com

Kemunculan detail tentang lanskap kota Praha dan kisah tentang Kafka yang mendapat tempat cukup banyak  dalam novel ini memang membuat novel ini terkesan lain karena tidak hanya  menghadirkan  sisi romantisme berserta drama cinta semata namun memberikan wawasan baru bagi pembacanya. Namun konsekuensi logis dari hal ini adalah adanya sebagian pembaca yang mungkin akan merasa bosan karena misalnya ia sama sekali tidak tertarik dengan deskirpsi tentang Kafka. Detailnya penulis mendeskripsikan lanskap dan tempat-tempat menarik di Praha juga berpotensi membuat pembaca seolah sedang membaca sebuah buku catatan perjalanan.
 
Secara imajiner novel ini dapat dibagi menjadi 3 bagian besar, pertama masa-masa hubungan lewat email dan kisah sebelum Sau dan Senja menikah. Kedua tentang bulan madu di Praha, dan ketiga tentang tragedi dan paska tragedi yang menimpa salah satu tokohnya. Bagian kedua merupakan bagian yang paling panjang, sayangnya di bagian ini ketika penulis menuturkan tentang sisi romantisme pasangan Sau dan Senja selama Praha, penulis tidak memasukkan unsur drama sehingga terasa agak membosankan.  Tentunya akan lebih menarik jika di bagian ini penulis memasukkan drama-drama kecil yang akan memuncak di bagian ketiga ketika tragedi menimpa pasangan ini.

Terlepas dari hal di atas kehadiran novel yang butuh waktu 10 tahun untuk menyelesaikannya karena  penulis sempat kehilangan jejak narasumber (novel ini diangkat dari kisah nyata)  dan juga riset pustaka yang mendalam untuk menjaga keakuratan landskap kota Praha ini patut diberi apresiasi yang baik dalam ranah fiksi tanah air. 

Selain menyuguhkan sisi romantisme kisah cinta sejati berbalut tragedi  dengan latar Praha yang indah melalui  novel ini kita akan melihat realita  pahit dari sebuah situasi politik yang mengakibatkan tercerabutnya sebuah keluarga. Novel ini  menyuarakan bagaimana para ilmuwan tak diberi ruang dan kesempatan untuk berkarya di tanah airnya sendiri,  dipecundangi oleh pemerintah sendiri,  sehingga tidak heran jika kita sering  mendengar mengapa banyak para ilmuwan atau orang-orang pintar yang memilih berkarya di luar negeri karena di sanalah mereka lebih dihargai dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berkarya bagi kemajuan umat manusia. 

TENTANG PENULIS :

Kirana Kejora. Peneliti Sosek Fakultas Kelautan Perikanan Universitas Brawijaya (1991-1993), pengajar SMK Perikanan Dipasena Citra Darmaja, Lampung (1996-2000), staf ahli sosek Management Monitoring Cosultant JBIC-DPK Sulawesi Tenggara (2000-2001), Peneliti sosek PT. Pilar Artha Nugraha (2007 – sekarang), Penulis (2004 – sekarang).

Karya Buku :
– Novel Kepak Elang Merangkai Eidelweis (2006)
– Antologi Tunggal Cerpen & Puisi Perempuan dan Daun (2007)
Novel Elang, (2009)
– Novel Querido (2011)
– Novel Air Mata Terakhir Bunda (2012) best seller, telah diangkat ke layar lebar, Best Feature Film di  Balinale International Film Festival 2013, Nominasi FFI 2013.
– Novel Ayah Menyayangi Tanpa Akhir (2013) best seller dan diangkat ke layar lebar.
– Novel Pencarian Cinta Terakhir (2013)
– Novel Kenang Langit (2014)
– Novel Kidung Cinta Sejati (2014)
– Novel Surga Kecil di Atas Awan (2015)
– Novel Rindu Terpisah di Raja Ampat (2015)
– Novel Senja di Langit Praha (2016)

Karya Naskah Film :
– 40-an FTV
– Layar Lebar :
– Munajat Cinta Sang Gibran (2009)
– Hasduk Berpola terpilih sebagai Film Inspiratif Kemendikbud 2013, Film Favorit di Apresiasi Film Indonesia 2013, terpilih masuk Program Educational Screening IFF Merlbourne 2015.
– Mencium Kaki Langit (2014) film drama dokumenter Kementerian Daerah Tertinggal
– Dhenok (2015) (gr)

sumber foto : www.gapuranews.com

@htanzil

Monday, June 27, 2016

Ideologi Saya adalah Pramis : Sosok, Pikiran, dan Tindakan Pramoedya Ananta Toer

[No. 366]
Judul : Ideologi Saya adalah Pramis - Sosok, Pikiran, dan Tindakan Pramoedya Ananta Toer
Penulis : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : Octopus
Cetakan : I, 2016
Tebal : 328 hlm
ISBN : 978-602-72743-1-0

Pramoedya Ananta Toer (Pram)  adalah legenda sastra dan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang bukunya masih terus dibaca dan dibicarakan orang. Tak hanya itu sosok, pemikiran, dan apapun tentangnya seakan tak pernah habis ditulis orang dan selalu menarik orang untuk membacanya. Satu dekade sepeninggal Pram (2006-2016) muncul buku terbaru tentang Pram yang ditulis oleh Muhidin M. Dahlan, penulis, pengagum, dan pewaris semangat Pram dalam mengarsip koran. Buku itu diberi judul yang diambil dari kata-kata Pram sendiri yang ketika ditanyakan soal Ideologinya, dengan lantang mengatakan " Ideologi saya adalah  PRAMIS"

Buku ini seluruhnya merupakan essai-essai penulis tentang sosok, pikiran, dan tindakan Pramoedya Ananta Toer yang sebelumnya terserak di berbagai media seperti  blog pribadi, bahan makalah,  surat kabar, tabloid, hingga kata pengantar di  buku-buku Pram. Essai-essai terbaik tentang Pram itu kini dihimpun dalam sebuah buku yang dibagi dalam 8 bab yang disusun secara sistematis, mulai dari Bab yang menjelaskan Siapakah Pram? Di bab ini terdatpat dua buah essai yaitu Mas Pram. Siapakah Sebenarnya Kamu? yang berisi riwayat singkat Pram yang ditulis dengan gaya personal layaknya sebuah surat pribadi untuk Pram. Setelah itu disajikan sebuah essai  yang akan menjawab kepenasaran orang tentang apa sesungguhnya Agama Pramoedya Ananta Toer : Ateis,Teis, atau Pramis.?


Setelah kita diajak mengenal Pram, maka di bab kedua yang berjudul PRAM BEKERJA kita akan melihat proses kreatif  Pram dalam berkarya. Pram tidak menulis untuk iseng-iseng,  untuk kesenangan sendiri, atau demi uang. Ada 4 jalan yang dilakukan Pram dalam menulis yaitu  menulis adalah ideologis atau tugas nasional, riset, disiplin, dan ketrampilan berbahasa. Kehidupan Pram yang banyak dipengaruhi oleh nenek dan ibunya membuat karya-karyanya banyak bercerita tentang tokoh perempuan.

Para srikandi, ini di tangan Pramoedya menjadi kekuatan anonim yang dengan kekuatan individu yang dipunyainya coba berdiri tegar di zaman yang penuh daya dera yang menggilas, walau pun pada akhirnya mereka kalah dalam pertarungan sejarah 
(hlm 44)

Walau banyak menceritakan tokoh wanita Pram tidak mengekspolitasi keindahan wanita dalam karya-karyanya karena bagi Pram keindahan bukan ada pada keindahan tubuh wanita namun terletak pada kemanusiaan dan perjuangan untuk kemanusaan ; pembebasan terhadap penindasan.

Dibagian ini juga dikisahkan bagaimana dalam menulis Pram melakukan riset pustaka. Pram pernah meminjam buku-buku Perpustakaan Nasional hingga sebecak penuh. Buku yang dipinjam itu ternyata tidak hanya dibaca melainkan disalinnya kembali dengan tekun, bahkan beberapa tetangganya kerap dipanggil untuk membantu menyalin. Selian membaca, menyalin, dan menulis Pram juga dikenal dengan pengkliping yang tekun. Penulis menjulukinya sebagai Si Pendekar Gunting dari Bojong.


 Kliping-kliping ini selain dicita-citakan untuk menjadi sebuah ensiklopedi juga menjadi sumber utama karya-karyanya. "Hampir semua karya saya berasal dari klipingan koran," kata Pram

Bab tiga  berisi tentang esssai-essai penulis tentang Pemikiran Pram yang banyak menyinggung keinginan dan harapan Pram terhadap angkatan muda.  Di bab ke empat dengan judul PRAM DAN POLITIK terdapat essai-essai tentang bagaimana karya-karya Pram senantiasa dikaitkan dengan sikap politiknya yaitu  tentang Pram yang tanpa tedeng aling-aling menolak Hadiah Sastra Yamin, kontorversi Hadiah Magsasay dan bagaimana karya-karya Pram menjadi ancaman bagi mereka yang membacanya.


Essai-essai tentang PRAM DAN PARA SAHABATNYA bisa ditelaah di bagian ke empat buku ini. Persahabatan Pram dengan Hasjim Rahman dan Joesoef Ishak melahirkan sebuah usaha penerbitan yang bernama Hasta Mitra yang kelak akan menjadi ikon bagi karya-karya Pram . Sedangkan persahabatannya dengan HB Jasin melahirkan sebuah kongsi dagang berupa bisnis timah. Sayangnya kongsi Pram dengan para sahabatnya tidak bisa langgeng karena diterpa berbagai masalah, Hasta Mitra maupun kongsi dagang timah pun hanya tinggal sejarah.

Bagian ke kelima di buku ini merupakan bagian yang paling panjang karena memuat tafsir  penulis atas 20 lebih karya-karya Pram. Yang paling panjang adalah ketika penulis menafsir drama Mangir dalam sebuah perenungan lengkap dengan napak tilas penulis ke beberapa tempat yang pernah dijajaki tokoh-tokoh Mangir sambil membaca penggalan lakon Mangir.

Setelah membaca tafsir-tafsir penulis atas karya-karya Pram, penulis juga merangkum tafsir Prof. Koh Young Hun yang dalam bukunya berjudul Pramoedya Menggugat - Jejak Sejarah Indonesia (Gramedia, 2011)   yang membagi jejak Indonesia dalam empat tonggak berdasarkan karya-karya Pram. Lalu ada pula tulisan tentang pengalaman dan tafsir  Hari "Ong" Wahyu yang banyak membuat ilustrasi sampul untuk buku-buku Pram terbitan Hasta Mitra di tahun 2000-an.

Di bagian akhir, buku ini memuat wawancara penulis dengan  orang-orang terrdekat mulai dari istri dan anak-anaknya yaitu Maemunah Thamrin, Astuti ananta Toer, Yudistira Ananta Toer, dan Mujib Hermani, sahabat Pram. Dari istri dan anak-anaknya kita bisa melihat Pram sebagai seorang suami, dan ayah bagi anak-anak. Dari wawancara penulis dengan Maemunah kita akan mengetahui hal-hal sederhana dalam keseharan seperti Pram yang tidak pernah  membantu memasak karena waktunya habis untuk mengkliping dan menulis, Pram yang menjadi menantu kesayangan, pesan-pesan terakhir Pram, dll.

Dari kisah Astuti dan Yudistira kita melihat sosok pram sebagai ayah yang kaku dan selalu mendorong anak-anaknya untuk menulis catatan  harian sedetail mungkin. Terungkap pula tentang anak-anak Pram yang tidak pernah dibelikan mainan karena 'mainan' yang diberi Pram hanya buku.  Pram juga kerap mengajar anak-anaknya menulis. Beginilah cara Pram mengajar menuli dan membaca buku kepada anak-anaknya


Dari pengalaman Mujib Hermani, sahabat dan orang terdekat Pram diluar keluarganya, terungkap bahwa Pram pernah menghayal jadi presiden seperti yang kita baca dalam buku ini yang meruapakan dialog antara Mujib  dengan Pram


Dari percakapan di atas kita dapat melihat bahwa Pram benar-benar menjunjung tinggi hukum walau ia pernah diperlakukan tidak adil dimana negara pernah menghukumnya belasan tahun di P. Buru tanpa melalui proses hukum yang berlaku saat itu.

Sebelum penulis mengakhiri buku ini dengan sebuah epilog berjudul Keberangkatan Setelah Pasar Malam Usai, penulis menyertakan kronologi 66 jam sebelum Pram meninggal dunia. Di bagian ini penulis mencatat apa yang dilihat dan dialami dengan sangat detail mulai dari keberangkatannya bersama teman-temannya pada 27 April 2006 hingga 30 April  2006.

Sebagai sebuah buku kumpulan essai tentang sosok, pikiran, dan tindakan Pram, buku ini sangat bagus untuk dibaca. Seperti yang saya kagumi dari penulis, kalimat-kalimat yang ditulis Muhidin tidak bertele-tele, ringkas namun bertenaga seperti halnya tulisan-tulisan Pram yang ia jadikan panutan. Bagi pembaca dan penggemar karya-karya Pram buku ini harus disandingkan di samping buku-buku Pram yang monumental.

Walau bisa dikatakan lengkap namun sayangnya ada beberapa tulisan yang seharusnya dapat di update sesuai dengan kekinian seperti di bagian Mesin-mesin Pram yang bahasannya berakhir di tahun 2005. Dan yang perlu disesali bagi saya adalah tidak ada essai tentang bagaimana kondisi penerbitan buku-buku Pram pasca kepergian Pram hingga  kini atau bagaimana generasi masa kini mengapresiasi karya-karya Pram, dan apakah karya, sosok, pikiran, dan tindakan Pram masih berdampak pada pola pikir angkatan muda sekarang?  Angkatan yang selalu diharapkan oleh Pram untuk mendobrak ketidakadilan dan memimpin bangsa ini. 

@htanzil

Friday, June 10, 2016

Kesetrum Cinta

[No. 365]
Judul : Kesetrum Cinta - Kisah Jenaka Pria Jawa Menikah dengan Perempuan Swiss
Penulis : Sigit Susanto
Penerbit : Buku Mojok
Cetakan : I, 2016
Tebal : 264 hlm
ISBN : 978-602-1318-32-4

Buku ini berisi kisah-kisah pengalaman Sigit Susanto, penulis buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia 1-3  yang berasal dari Jawa yang kesetrum cinta lalu  menikah dengan Claudia Beck, perempuan  Swiss. Pernikahan mereka tidak hanya mempertemukan keduanya dalam satu biduk rumah hangga  namun juga mempertemukan dua budaya yang sangat berlainan. 

Disinilah mereka lambat laun menyesuaikan diri mengenal budaya satu sama lain yang tentunya tidak mudah dan kadang melahirkan kejadian-kejadian  unik dan jenaka. Berdasarkan ingatannya semata penulis menceritakan apa yang dialaminya selama 20 tahun hidup bersama istrinya ke dalam 135 kisah sehingga tidak heran buku ini tampak agak gemuk, berbeda dengan buku2 sejenis yang biasanya hanya memuat tidak lebih dari 10-15 kisah saja. 

Dengan piawai penulis meramu potongan-potongan pengalaman hidup bersama istrinya dengan tidak terlalu panjang namun sanggup membuat pembaca tersenyum atau tertawa sendiri dengan kisah-kisahnya yang lucu dan terkadang menyentuh hati.  Walau judulnya Kesetrum Cinta namun bukan berarti buku ini hanya  menyajikan kisah cinta penulis dan istrinya yang berbeda negara dan budaya melainkan juga pengalaman-pengalaman menarik yang tak terduga  akibat geger budaya yang ia dan istrinya alami. Terkadang di akhir kisah penulis mengemukakan pendapatnya secara lugas dan jujur seperti yang terdapat dalam kisah berjudul Cium Tangan yang dialami oleh Claudia, istri penulis.

"Pemandangan cium tangan sekarang ini makin ramai. Saat Claudia salaman, sering tangannya diangkat oleh anak-anak muda dan disentuhkan jidat mereka. Kebanyakan ia menolak sambil bilang, "Tidak perlu, kita sama-sama manusia, sejajar sama tingginya."

Gejala lain, yakni bersalaman antara lelaki dan perempuan akhir-akhir ini terasa makin dihindari. Beberapa kali aku menyodorkan tangan kepada perempuan yang aku kenal cukup lama, kali ini ia menolak bersalaman. Sejak kapan budaya Indonesia menghindarkan orang salaman, walau berbeda jenis kelamin? Aku merasa seolah seperti di negeri Arab saja. 
(hlm 36-37)

Perbedaaan cara orang bertanya antara orang Indonesia dan Swiss rupanya tak luput dari pengamatan penulis.  Saat menghadiri forum tanya jawab ketika Pramoedya Ananta Toer bertandang ke Swiss pada tahun 2002, teman  penulis yang orang Swiss berkata demikian,

"Perhatikan dengan seksama ketika orang Swiss bertanya dan orang Indonesia bertanya. Kebanyakan orang Indonesia lebih suka bercerita dulu yang panjang, pertanyaannya pendek sekali, malah kadang lupa apa yang ditanyakan, saking panjangnya pengantar."

hal tersebut sependapat dengan apa yang diungkapkan oleh penulis, 

Pertanyaan yang dilontarkan orang Swiss kebanyakan langsung ke tema yang ditanyakan. Terkesan ringkas, lugas, dan efektif. Pertanyaan orang Indonesia kebanyakan didahului pengantar, kadang bertele-tele.  (hlm 197)

Seperti negara-negara di Eropa, Swiss juga menerapkan disiplin dalam segala hal, termasuk dalam hal membuang sampah. Jika di Indonesia semua sampah rumah tangga disatukan dan diambil oleh petugas sampah sekaligus maka di Swiss sampah dibagi bagi menurut jenisnya, dan diambilnya pun berdasarkan jenisnya.



Cara mereka membuang sampah pun diberi jadwal. Misal Senin untuk sampah plastik dan kertas. Rabu untuk sampah dapur. Botol pun dikumpulkan pada tempat yang teratur sesuai warna botolnya; putih, hijau, atau coklat.  
(hlm 251)

Masih banyak hal-hal menarik yang terdapat dalam buku ini. Karena penulis yang telah bermukim di Swiss ini setiap tahunnya selalu 'pulang' ke Indonesia bersama  istrinya selama beberapa bulan maka kisah-kisah yang tersaji di buku ini menjadi lengkap karena pembaca bisa melihatnya dari dua sisi yang berbeda. Ada kisah bagaimana pengalaman penulis di Swiss, ada juga kisah pengalaman istrinya selama berada di Indonesia.


 Yang agak disayangkan dalam buku ini adalah penyajian antara satu kisah dengan kisah yang lainnya yang terkesan melompat-lompat.Tiap judul dalam buku ini tidak disusun berdasarkan kronologi waktu dan tempat. Kalaupun tidak memungkinkan disusun berdasarkan kronologi waktu mungkin buku ini bisa dibagi dalam dua bab besar. Bab pertama memuat kisah-kisah penulis selama berada di Swiss dan satu bab lagi memuat kisah-kisah penulis bersama istrinya saat berada di Indonesia.  Atau bisa pula disiasati seperti gaya menulis P. Swantoro dalam bukunya berjudul Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu (KPG, 2016) dan Remy Sylado dalam novel Perempuan Bernama Arjuna (Nuansa Cendekia 2014) yang dalam setiap akhir babnya menggunakan kalimat penghubung untuk menuju bab selanjutnya sehingga setiap kisahnya terangkai sambung menyambung seolah menjadi sebuah kesatuan. 

Terlepas dari itu kehadiran buku ini sangat baik untuk diapresiasi oleh siapa saja yang ingin mengetahui perbedaan budaya antara Eropa dan Indonesia dan geger budaya yang terjadi akibat akulturasi antara dua pasangan yang berbeda budaya. Walau kisah-kisah dalam buku ini diangkat dari keseharian penulisnya namun semua itu dapat dijadikan contoh bagaimana perbedaan budaya antara dua benua . Selain itu pembaca juga akan memperoleh kisah-kisah humanis dari orang-orang yang ditemui penulis dan istrinya.

Buku ini juga memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi dan rentang usia pembaca yang panjang (remaja hingga dewasa). Seluruh kisahnya dengan gaya personal, kita yang membacanya bagaikan mendengarkan langsung dari tuturan sang penulis yang sedang bercerita di depan kita, sehingga walau ada ratusan kisah di dalamnya kita akan betah membaca buku ini hingga habis.

@htanzil


.