Tuesday, August 26, 2014

Perempuan Bernama Arjuna 2 : Sinologi dalam Fiksi

[No. 339]
Judul : Perempuan bernama Arjuna 2 : Sinologi dalam Fiksi
Penulis : Remy Sylado
Penerbit : Nuansa Cendekia
Cetakan : I, Juli 2014
Tebal : 307 hlm
ISBN : 9789-602-7768-61-1



"Saya menulis supaya masyarakat bisa mendapat pengetahuan tidak dengan cara yang pakem seperti membaca buku ilmiah. Itu kurang asyik dan sulit masuk, apalagi untuk generasi sekarang yang serba sulit menerima hal-hal ilmiah secara ketat" 
~ Remy Sylado

Kutipan di atas dikatakan Remy Sylado saat peluncuran novel terbarunya Perempuan Bernama Arjuna 2 : Sinologi dalam Filsi pada 11 Agustus 2014 yang lalu di Gd. Indonesia Menggugat Bandung. Tidak terlalu lama setelah sukses dengan novel Perempuan Bernama Arjuna (Nuansa Cendekia, Nov 2013)  yang mengemas pengetahuan  filsafat dalam bentuk fiksi kini Remy membuat sekuel novel tersebut dengan tema Sinologi (pengetahuan bahasa dan budaya Cina)

Dalam sekuelnya ini penulis melanjutkan kisah Arjuna seorang mahasiswi filsafat dan suaminya Jean-Claudie van Damme, pastor Jesuit yang 'bertobat' saat sedang berbulan madu di Bandung.  Seperti telah disinggung dalam novel sebelumnya Arjuna dan suaminya menemui Kan Hok Hoei untuk meminta petuah-petuah soal sex dari sudut pandang budaya Cina.  Di buku keduanya ternyata pertemuannya dengan Kan Hok Hoei  tidak hanya melulu membicarakan  soal sex melainkan merambah ke Sinologi dan pengaruhnya di bumi Nusantara mulai dari tradisi, masakan, obat, musik, penamaan daerah, dll hingga akhirnya mengerucut pada hal-hal yang menyangkut prasangka rasial, soal pri-non pri, dan politik rasial di jaman Orde Baru beserta dinamika dan usaha pembauran orang-orang Cina di masa Orde Lama hingga kini.

Dalam hal prasangka rasial dan pembauran orang-orang Cina/Tionghoa di Indonesia, novel ini mencatat sejarah timbulnya konflik antara orang-orang pribumi dan orang-orang Cina yang jika dirunut ke belakang mencatat bahwa kebencian terhadap Cina sudah ada sejak abad ke 13 saat  KubilaI Khan, emperor Mongol yang berkuasa di Cina, memaksa Kertanegara (1268-1292) untuk takluk dan memberi upeti pada kerajaannya. Pada masa perang Diponegoro juga timbul pula semangat anti Cina yang sudah mengendap sejak jaman Raffles dimana sosok Tan Jin Song, ketua Raad van Chinezeen diangkat oleh Raffles sebagai pemungut cukai. Tan Jin Song menarik pajak melebihi batas waras menyebabkan rakyat merasa dihisap sehingga membuka celah benci kepada orang-orang Cina di masa itu.

Di masa-masa selanjutnya sikap anti Cina ini terus terpelihara, peristiwa G30-S membuat masyarakat menggeneralisir orang-orang Tionghoa sebagai komunis. Hal ini  diperparah oleh sikap pemerintah yang menetapkan semangat anti Cina menjadi salah satu garis politik pemerintah Orde Baru antara lain dengan melarang penggunaan nama-nama Cina dan melarang perayaan-perayaan Cina dirayakan secara terbuka. Sentimen anti Cina ini mencapai puncaknya pada kerusuhan 1998.

Novel ini juga memuat bagaimana istilah Tionghoa dan Tiongkok terbentuk. Seolah hendak mengkritisi pemerintah sekarang atas digunakannya kembali istilah Tionghoa dan Tiongkok di novel ini penulis mengurai sejarah istilah Tionghoa yang ternyata pernah digunakan oleh Partai Komunis Indonesia.

Pada waktu itu, menurut cerita ayah saya, adalah pihak orang-orang Cina ekslusif yang menyebut bumiputra dengan cara nista sebagai huhuan ata wana. Padahal secara diksioner, kata yang berlaku semestinya yuan ju min, atau sepelenya tu ren. Di antara mereka yang mineur itu termasuk para etnis Cina yang berpartai Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) dan dikenal berkiblat politik ke RRC (Republik Rakyat Cina) negara komunis yang sedang berselisih dengan Uni Soviet. Maka, Maaf, kalau saya mendengar kata Tiongkok dan Tionghoa, bingkai pikiran saya itu adalah komunis 
(hlm 12-13)

Sejarah mencatat bahwa soal penamaan orang-orang keturunan Cina di Indonesia juga pernah menjadi polemik sehingga soal penamaan ini masuk dalam agenda Seminar Angkatan Darat II pada tahun 1966. Tokoh Baperki, Siaw Giok Tjhan saat itu memang bersikeras menggunakan kata Tionghoa untuk semua etnis Cina. Sedangkan Sindhunata (Ong Tjong Hai), tokoh nasionalis keturunan Cina lebih memilih kata Cina dibanding Tionghoa.

Pada seminar AD II di Lembang, 1966 yang membahas masalah keturunan Cunghua, ia (Sindhunata) diminta menentukan pilihan berbahasa yang tepat antara Cina atau Tionghoa. Dengan tegas ia mengatakan dan kemudian menganjurkan untuk memakai kata Cina sebab secara historis kultural, Cina lebih baik daripada Tionghoa, sedang dalam Tionghoa ada nuansa rasis terhadap pribumi, dan itu justru dipakai oleh golongan etnis Cina yang berhaluan komunis, dengan menyebut pribumi sebagai wana. (hlm 199)

Masih banyak hal-hal lain yang dibahas penulis dalam buku ini, salah satu yang menarik adalah penjelasan suku-suku Cina yang ada di Indonesia yang  bisa dikenal melalui jenis bisnis yang dijalaninya, misalnya suku Santung yang menekuni bisnis tekstil, suku Hainan di bidang kuliner sehingga kita mengenal menu makanan Nasi Hainan, suku Hupei yang banyak melahirkan  'ahli gigi'. Sedangkan suku Cina terbesar yang ada di Indonesia adalah suku Hokkian yang mengusai berbagai bidang dan kegiatan

Pada dasarnya semua hal yang menyangkut pengetahuan sinologi  tersaji dalam novel ini, namun seperti dalam buku pertamanya walau buku ini disebut sebagai novel tapi  kita tidak akan menemukan sebuah peristiwa dramatik dengan plot yang menukik seperti pada novel-novel Remy Sylado atau novel-novel pada umumnya. Seperti  penulis  lebih mengutamakan materi pengetahuan dibanding membuat sebuah kisah dramatik. Dengan demikian semua paparan sinologi dalam novel ini terurai lewat dialog antar Arjuna dengan tokoh-tokoh  yang ia dan suaminya temui selama di Bandung.


Tampaknya seri Arjuna ini masih akan berlanjut, di dua bab terakhir novel ini dikisahkan Arjuna beserta suami dan ibunya berada di Semarang sehingga sepertinya di  kisah petualangan Arjuna selanjutnya penulis akan menyajikan Javanologi dalam fiksi. Jika jeli kita juga akan menemukan clue bahwa setelah Javanologi maka akan terus berlanjut dengan bahasan mengenai Minahasalogi dalam fiksi. Jika ini bisa terwujud tentunya seri Arjuna ini akan menjadi satu-satunya novel berseri di Indonesia yang masing-masing memberikan pengetahuan baru dalam tiap serinya. 

Di banding buku pertamanya yang menyajikan filsafat dalam fiksi, novel keduanya ini lebih mudah dipahami karena seperti kita ketahui budaya China telah melekat dalam kebudayaan dan tradisi kita sehari-hari sehingga apa yang terungkap dalam novel ini adalah apa yang kita jumpai dalam keseharian kita.  Selain itu jika dalam buku pertama catatan kaki tersaji dalam halaman khusus maka di buku kedua ini catatan kakinya ada di bawah halaman kata yang ingin dijelaskan  sehingga pembaca lebih mudah membacanya dibanding novel sebelumnya dimana pembaca harus bolak-balik halaman untuk membaca keterangannya.. Sebagai tambahan, novel ini juga menyertakan tabel Kronologi Singkat Sejarah Cina mulai dari Dinasti Xia (2100-1600 SM) hingga era RRC (1949- )

Di balik segala kebaikan dan banyaknya pengetahuan Sinologi yang didapat di novel ini sayangnya walau kisah dalam novel ini bersetting di kota Bandung penulis kurang memaksimalkan sejarah atau kiprah mengenai orang2 Cina di Bandung padahal keberadaan orang-orang Cina di Bandung memiliki sejarah dan kisah-kisah yang tidak kalah menarik dan memberikan warna tersendiri bagi perkembangan dan sejarah berdirinya kota yang pernah dijuluki Parijs van Java ini. 

Namun terlepas dari hal itu, sebagai sebuah buku yang hendak memberikan pengetahuan Sinologi secara umum kepada pembacanya dalam bahasa dan kalimat yang mudah dipahami novel ini saya rasa sudah berhasil mewujudkan apa yang menjadi keinginan penulisnya untuk memudahkan masyarakat dalam memahami pengetahuan ilmiah dengan cara yang mengasyikan. Walau bukan bacaan ringan namun dengan menuliskannya dalam bentuk fiksi kesulitan dalam memahami Sinologi akan teratasi.  


"Dengan cara ini barangkali pengetahuan sejarah Cina di Indonesia dalam sinologi ini 
bisa diterima lebih enak"
 ~ Remy Sylado. 

@htanzil

Tuesday, August 05, 2014

Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng by Sudarsono Katam

[No.338]
Judul : Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng
Penulis : Sudarsono Katam
Penerbit : Khazanah Bahari
Cetakan : II, Juli 2014
Tebal : 161 hlm
ISBN : 978-602-97719-4-7


Sejarah kota tidak hanya bisa ditelusuri melalui buku-buku literatur atau bangunan-bangunan kunonya saja, dari kulinernya pun kita bisa melihat bagaimana sebuah kota berkembang dari masa ke masa menyertai gerak dinamika kehidupan masyarakat kota tersebut. Buku ini mencoba mengungkap sejarah kecil (petite histoire) perkembangan kota Bandung melalui menu-menu sarapan (ontbijt) tempo doeloe di masa Hindia Belanda ketika orang-orang Belanda tinggal menetap dikota Bandung.

Seperti halnya kebiasaan orang-orang Eropa, maka walaupun orang-orang Belanda sudah lama menetap di kota Bandung mereka tidak bisa meninggalkan kebiasaan sarapan ala Eropa setiap paginya yaitu mengudap susu dan roti. Kebiasaan ini juga ternyata menular juga kepada para Menak Bandung, pegawai pemerintahan, dan orang-orang yang bergaul akrab dengan orang-orang Belanda.

Menurut buku Bandung Awal Revolusi 1945-1946, karya John Smail (Komunitas Bambu 2013) penduduk Eropa yang tinggal di Bandung pada tahun 1930an sebanyak 20.000 orang atau sekitar 12 persen dari total penduduk kota Bandung yang saat itu berjumlah 167.000 orang. Sedangkan menurut buku 
Statistisch Zakboekje voor Nederlandsch-Indie terbitan tahun 1939 penduduk Eropa di Bandung pada tahun 1930 sebanyak 19.700 orang.

Karenanya untuk memenuhi kebutuhan sarapan sektiar 20 ribu orang-orang Eropa /Belanda di masa itu berdirilah berbagai produsen beragam jenis menu sarapan (ontbijt) di kota Bandung. Penulis mencatat ada 22 produsen ontbijt yang berada di Kota Bandung.

Begitu termasyurnya para produsen ontbijt di kota Bandung sehingga ada yang menjadi pemasok resmi untuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Ratu Belanda berupa kue khas kerajaan yang diberi nama Koningin Emmataart dan Wilhelminataart. Diantara para produsen ontbijt di masa Hindia Belanda  ternyata ada juga yang  hingga kini masih berproduksi memperkaya ragam jenis kuliner khas Bandung. Buku ini mengungkapkan pada pembacanya bagaimana dan apa saja menu-menu onbijt yang pernah ada di kota Bandung, produsen-produsen mana saja yang hingga kini masih berproduksi?, dan tidak ketinggalan juga napak tilas bekas bangunan produsen yang sudah lama tutup.

Buku ini dibagi dalam empat bagian besar, yaitu Menu 'Ontbijt', Produsen Roti dan Kue, Produsen Isi Roti, Produsen Minuman Sarapan. Pada bagian 'Menu Ontbijt' dijelaskan berbagai macam menu sarapan pagi di masa itu antara lain roti-rotian (roti tawar, roti kadet, roti krenten, dll), ontbijtkoek, kentang, havermout, nasi olahan, dll. sedangkan untuk isi rotinya sendiri antara lain roomboter, keju, pindakaas (selai kacang), palmsuiker (gula merah), telur, daging olahan, dll. Untuk minuman onbijt terdapat susu murni, susu kental manis, susu tanpa lemak, susu tepung, kopi, cacao, teh, dll. Semua menu-menu di atas diberi keterangan detail mengenai bahan, dan penyajiannya.

Di bagian Produsen Roti dan Kue terungkap bahwa Pemerintah Hindia Belanda memberikan konsesi kepada para  produsen roti dan kue di kota Bandung untuk membuat makanan sesuai dengan standar kualitas makanan orang Belanda.  Produsen roti dan kue di kota Bandung tidak hanya didirikan oleh orang Belanda saja seperti , Merbaboe, Maison Bogerijen, Maison Vogelpoel, Lux Vincet, Valkenet,dll, namun ada juga yang didirikian oleh orang-orang Tionghoa seperti Jap Tek Ho, Khoe Pek Goan, Tan Kim Liang, dll, baik dalam skala besar maupun menengah.

Salah satu produsen ontbijt yang terbesar dan terkenal adalah Pabrik roti Valkenet, pabrik roti tersebut tidak hanya terkenal di Bandung saja, melainkan di seluruh Hindia Belanda karena merupakan pabrik roti yang paling modern di Hindia Belanda. Pabrik Valkenet di masa itu telah menggunakan pemanggang listrik dengan sistem rantai berjalan. Biskuit, kue kering, roti Valkenet didistribusikan ke seluruh Hindia Belanda sehingga pabrik ini memiliki cabang di kota-kota besar Hindia Belanda bahkan untuk menjalin kerjasama dengan Belanda, pabrik ini membuka cabang di 's-Gravenhage Belanda.



Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 1958 tentang  Pengambil alihan modal dan badan usaha milik orang Belanda, maka banyak toko dan produsen roti di kota Bandung berpindah kepemilikan dari orang Belanda kepada kaum pribumi antara lain  Maison Bogerijen (Braga Permai), dan Het Snoephuis (Sumber Hidangan) yang hingga kini masih terus berproduksi di tempat yang sama.

(Maison Bogerijen / Braga Permai dulu dan sekarang)

Sedangkan untuk Produsen isi roti di kota Bandung yang hingga kini masih ada antara lain  Roomboter dan keju yang diproduksi oleh Bandoengsche Melk Centrale (BMC) di jl. Aceh ,  produsen daging olahan Schroder's Food Trading Company yang kini menjadi pabrik & toko Daging Badrananya di jalan Merdeka, dan Peternakan ayam dan Telur Missouri yang kini terletak di jalan Patuha - bandung.

Bagaimana dengan produsen Minuman Sarapan? Hampir seluruh minuman sarapan orang Belanda di Kota Bandung diproduksi di Bandung dan sekitarnya, antara lain susu yang diproduksi oleh Bandoengsche Melk Central (BMC). Juga ada produsen kopi Aroma yang kini menjadi incaran para wisatawan penikmat kopi yang bertandang ke Bandung. Hingga kini  kopi Aroma masih diproduksi di lokasi yang sama dengan mesin-mesin kuno dan dikemas dalam kemasan tempo doeloe yang menjadi ciri khasnya.

Di bagian ini juga terungkap tentang produsen air mineral, ternyata air mineral juga sudah dikonsumsi oleh penduduk Bandung di jaman Hindia Belanda. Pada 1923 didirikan Pabrik Air mineral Malabar di Jl. Naripan 61 yang kini bekas bangunannya ditempati oleh Toko Buku Rohani Kalam Hidup. Selain pabrik air mineral Malabar, ada juga pabrik air mineral Preanger, Buddha, dan Nova.

Selain ke empat bagian di atas, buku yang dilengkapi oleh foto-foto ini juga menyertakan 10 buah lampiran untuk melangkapi dan memberi detail dari hal-hal yang perlu disampaikan secara khusus antara lain lampiran mengenai; nasib bangunan dan metamorfosis produsen ontbijt, Jejak Langkah pendiri Indische Partij, KAR Bosscha, dan tentang kebun Gandum di zaman kolonial di kawasan Pangalengan yang saat itu  menjadi menjadi salah satu sentra penghasil Gandum di Hindia Belanda.

Secara keseluruhan buku ini sangat menarik dalam memahami sejarah kota melalui menu sarapan orang-orang Belanda di kota Bandung. Penulis mengungkapkannya dengan detail, walau ada beberapa data yang tampaknya kurang lengkap namun sebagai buku yang pertama kali membahas mengenai produsen makanan sarapan orang-orang Belanda di Bandung apa yang telah tersaji di buku ini sangatlah bermanfaat.

Buku ini bermanfaat bagi siapa saja yang gandrung akan buku-buku tentang sejarah masa lampau terlebih bagi mereka penggemar buku-buku sejarah kota Bandung. Walau mungkin dianggap hal yang sepele, produsen menu onbijt di Bandung telah menjadi sejarah kecil (petite histoire) perkembangan kota Bandung. Saya sependapat dengan penulis buku ini yang mengatakan bahwa buku ini dimaksudkan untuk menambah dan melengkapi literatur-literatur sejarah Kota Bandung. Bukan bagi pengamat sejarah kota saja, melainkan bagi siapa saja yang mencintai kota Bandung karena dengan bertambahnya informasi tentang Kota Bandung diharapkan warga Bandung semakin mencintai kotanya dengan cara melestarikan kotanya.

@htanzil

http://klasikfanda.blogspot.com/2013/11/history-reading-challenge-2014-sail-to.html



Friday, July 04, 2014

Kereta Api di Priangan Tempo Doeloe By Sudarsono Katam

[No.337]
Judul : Kereta Api di Priangan Tempo Doeloe
Penulis : Sudarsono Katam
Penerbit : Pustaka Jaya
Cetakan : I, 2014
Tebal : 179 hlm
ISBN : 978-979-419-7430-10

Kereta Api bisa dikatakan sebuah sarana transportasi masal jarak jauh pertama yang ada di dunia. Untuk pertama kalinya kereta api komersial beroperasi di Inggris tahun 1830 pada lintasan Liverpool-Manchester. Tiga puluh tujuh  tahun kemudian, tepatnya pada 1867 dimulailah sejarah perekeretaapian di Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda.

Dalam sejarah Kereta Api Indonesia dicatat bahwa pencangkulan secara simbolis jalur rel kereta api pertama dilakukan pada 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda LAJW Baron Sloet va Beele,tiga tahun kemudian, pada tgl 10 Agustus 1867 untuk pertama kalinya di Indonesia resmi dioperasikan angkutan penumpang kereta api dari Stasiun Samarang menuju Tangoeng (Tanggung) sepanjang 25 kilometer. Setelah itu jalur-jalur kereta api baru mulai dibangun di beberapa wilayah mulai dari Pulau Jawa dan terus menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia

Bagaimana dengan sejarah kerata api di Priangan (Jawa Barat)?,  buku ini secara khusus  memberikan informasi dan foto-foto bagaimana kereta api mulai dibangun di wilayah Priangan dan perkembangannya di era kolonialisme beserta jejak-jejak peninggalan jalur dan stasiun kereta yang masih ada hingga kini.

Buku yang terbagi dalam delapan bab ini memulai pembahasannya dari bab Pembentukan Karesidenan Priangan mulai dari jaman kerajaan Galuh, Mataram, VOC, hingga jaman pemerintahan kolonialisme Belanda. Kemudian di bab selanjutnya dibahas mengenai Sejarah Singkat Kereta Api di dunia dan Perkeretaapian di Jawa. Bab berikutnya membahas Perekerataapian di Priangan yang memulai layanan kereta api pada 1881. Di bagian ini penulis menyajikan data beserta foto dari semua jalur yang ada di wilayah ini antara lain jalur kereta api Bogor, Sukabumi, Ciamis, Purwakarta, Bandung, Tasikmalaya, Banjar, dll.

Selanjutnya buku ini juga menyajikan bab berjudul  Lokomotif Kereta Api dan Gerbong Kereta Api yang membahas mengenai tipe dan bentuk lokomitif dan gerbong kereta api tempo doeloe.  Lalu ada pula bab khusus mengenai Kereta Api Cepat Vlugge Vier yang menghubungkan antara Batavia dengan Bandung dan beberapa tujuan lain di wilayah Priangan. Kereta api cepat yang mulai dioperasikan tahun 1934 ini menjalani lintasan Batavia - Bandung dengan jarak  175 km dalam waktu tempuh 2 jam 45 menit. Kecepatan rata-rata Vlugge Vier adalah 63,6 km/ jam dengan waktu perhentian selama 1 menit di 3 stasiun (Karawang, Cikampek, Purwakarta) yang dilewatinya.Sayangnya di bagian ini tidak ada foto KA Vlugge Vier kecuali foto jadwal perjalanan kereta apinya saja.

Perayaan 50 Tahun Kereta Api di Priangan juga mendapat porsi khusus di buku ini. Perayaan meriah memperingati  50 tahun (1875-1925) kiprah perusahaan kereta api Staadsspoor En Tramwegen (SS) di Hindia Belanda dilaksanakan di berbagai kota di tempat beroperasinya SS.  Acara peringatan di Bandung termasuk yang paling meriah, hal ini tampak dari foto-foto yang tersaji di bagian ini yang menampilkan foto-foto yang menampilkan pawai kendaraan, pertunjukan sandiwara, dan pawai obor.

Stasiun Kereta Api tempo doeloe ternyata tidak hanya berfungsi sebagai tempat bermula dan pengentian jalur kereta api seja namun juga dimanfaatkan sebagai Kantor Pos. Di bab yang diberi judul Kantor Pos di Stasiun Kereta Api dijelaskan bahwa Pendirian kantor pos di stasiun kereta api di Hindia Belanda mulai dilakukan pada tanggal 1 Januari 1883. Uniknya pengangkutannya ke dalam kereta tidak dilakukan saat  saat kereta berjalan dengan menggunakan sistem pengait yang diletakkan di atas tiang. Pengambilan kantong surat ke dalam kereta maupun penurunan kantong surat dilakukan tanpa penghentian kereta api, kecuali pada stasiun yang memang dijadwalkan kereta api berhenti. Setelah kantong surat diambil maka surat-surat tersebut diproses dalam sebuah gerbong kantor pos  yang ada dalam rangkaian kereta api tersebut.

Bab terakhir buku ini yang diberi judul Sekilas dalam Kenangan mengetengahkan tentang sisa-sisa peninggalan stasitun dan jalur kereta api yang kini sudah tidak aktif. Dalam bab ini disebutkan bahwa  sarana perekeretaapian di Priangan memiliki beberapa keunikan antara lain jalur kereta yang mempunyai terowongan kereta api terbanyak di Pulau Jawa, terowongan kereta api terpanjang di Pulau Jawa (Terowongan Wilhelmina di jalur Parigi-Banjar, 1,116 km), stasiun kereta api yang letaknya tertinggi di Pulau Jawa (Stasiun KA Cikajang, 1,24 km dari permukaan laut),  dan jembatan kereta api terpanjang di Priangan (Jembatan kereta api Cikacepit pd jalur Banjar-Perigi, 1,25 km)

(Jembatan Kereta Api Cikuda - Jatinangor)


Bagaimana nasib jejak-jejak kenangan tersebut kini? Ada yang dibiarkan terbengkalai, ada juga yang sudah beralih fungsi seperti jembatan kereta api beton yang indah di Cikuda, Jatinanngor . Karena rel keretanya telah lama dipindahkan ke daerah lain selama pendudukan tentara Jepang jembatan itu kini sekarang menjadi sebuah monumen yang menarik dan landmark kawasan pendidikan Jatinangor. Bekas jembatan kereta api ini sekarang dimanfaatkan sebagai sarana pengairan air.

Buku yang berusaha mendokumentasikan sejarah perkeretaapian di Priangan tempo doeloe ini didominasi oleh foto-foto yang tersaji secara tajam.  Ada begitu banyak foto-foto tersaji dalam buku ini (lebih dari 300 foto)  sehingga rasanya lebih tepat kalau buku ini disebut sebagai "Album foto Sejarah Kereta Api di Priangan".

 Sayangnya karena buku ini  menyajikan begitu banyak foto-foto dibanding dengan teksnya maka buku ini secara narasi terasa kurang detail dalam hal mendeskripsikan sejarah kereta api di Priangan. Walau data berupa tabel dan jalur-jalur kereta api bisa dikatakan lengkap namun buku ini miskin kisah-kisah menarik seputar pembangunan, siutasi sebelum dan setelah adanya jalur kereta api, dan sebagainya  yang mungkin akan sangat menarik jika dideskripsikan  lebih dalam lagi. Namun bagi mereka yang memang ingin melihat gambaran visual atau foto-foto kereta api tempo doeloe beserta bangunan stasiun, jembatan, dan terowongan kereta api buku ini sangat layak dikoleksi. .

Namun terlepas dari hal itu kehadiran buku ini patut kita apresiasi dengan baik. Bagi pengamat, pecinta kereta api buku ini menjadi buku pelengkap buku sejarah perkeretaapian yang telah ada. Khusus mengenai sejarah kereta api di Priangan mungkin  buku yang pertama kali membahasnya secara khusus. Dan bagi pengamat kota Bandung atau mereka yang mengoleksi buku-buku bertema Bandung, buku ini juga bisa dibaca dan dikoleksi untuk memperkaya khazanah literatur tentang Kota Bandung.

@htanzil

http://klasikfanda.blogspot.com/2013/11/history-reading-challenge-2014-sail-to.html

Monday, June 30, 2014

Bandung di Lingkung Gunung

[No. 336]
Judul : Bandung di Lingkung Gunung
Penulis : Tim Penyusun Jantera
Penerbit : Rizqi Press & JANTERA
Cetakan : I, Maret 2013
Tebal : 116 hlm
ISBN : 978-602-9089-55-6

Jauh sebelum kota Bandung mendapat julukan Parjis van Java,  Bandung di Lingkung Gunung adalah julukan paling lawas untuk kota Bandung. Julukan ini  telah muncul sejak zaman Belanda yang juga tercantum di berbagai tulisan, buku, pamflet, dan brosur-bosur pariwisata hingga lirik lagu.

Secara geologis  kota Bandung terletak di sebuah cekungan yang awalnya berupa danau kaldera akibat letusan dahsyat Gunung Sunda Purba ratusanribu tahun yang lampau. Cekungan Bandung itu terletak diantara kaki-kaki gunung di Pegunungan Priangan yang didominasi gunung api. Gunung-gunung itu seolah bergandengan tangan membentengi kota Bandung sehingga tidak mengherankan jika kemudian lahir julukan “Bandung Di Lingkung Gunung

Dari sekian banyak gunung-gunung yang melingkungi Cekungan Bandung hanya sedikit yang mungkin dikenal luas oleh masyarkat, misalnya Gn Tangkuban Perahu yang menjadi trade mark kota Bandung, Gn. Malabar, Gn Burangrang padahal masih banyak gunung-gunung lainnya yang tidak kalah menarik baik itu dari pemandangannya maupun keuinikannya. 

Melalui buku ini kita akan mengetahui data serta informasi dari sejumlah gunung-gunung yang mengelilingi Bandung. Buku ini sejatinya merupakan pendokumentasian ekspedisi  "Bandung di Lingkung Gunung" (April-Juni 2011), ekspedisi  pendakian gunung yang dilakukan oleh JANTERA (Perhimpunan Pecinta alam Geografi UPI_Bandung) untuk mendata dan menyusun profil gunung yang dianggap mewakili populasi gunung-gunung di sekitar Cekungan Bandung.

Buku ini dibagi kedalam 6 bab, dimulai dari bab pendahuluan yang menjelaskan latar belakang kegiatan/ekspedisi ini, di kedua  kita akan diberikan gambaran umum Cekungan Bandung berupa deskripsi, iklim geologi, perkembangan, dan peningalan arkeologi di  wilayah cekungan Bandung. Setelah itu di bab 3 hingga bab 6 buku ini memberikan data geografis dan gambaran ke-23 gunung yang dibagi per wilayah yaitu gunung-gunung di kawasan Bandung Selatan, Bandung Barat, Bandung Utara, dan Bandung Timur.


Selain data gografis seperti ketinggian, koordinat, lokasi, peta pendakian, dll  masing-masing gunung juga disertai dengan gambaran tentang pemandangan,  fenomena alam, rute angkutan, peta pendakian, temuan-temuan arkeologis, makam karuhun, danau, air terjun, lengkap dengan kisah-kisah misterius dan legenda yang hidup di masyarakat sekitarnya. 

Dari legenda masing-masing gunung akan tampak bahwa Legenda Sangkuriang begitu kuat mengakar dalam kehidupan masyakarat di kaki gunung2 sehingga penamaan gunung-gunung pun terkait dengan legenda Sangkuriang seperti Gn Tangkuban Perahu, Gn. Bukittunggul, Gn Burangrang, gn Pasir Pabeasan, Gn Pawon, dll. Semua itu tersaji secara singkat namun padat lengkap dengan foto-foto berwarna sehingga membuat buku ini menjadi tidak membosankan dan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi.


Lengkapnya data dan gambaran mengenai ke-23 gunung yang melingkupi Bandung ini membuat buku ini dapat dijadikan sebagai buku panduan bagi mereka yang ingin mendaki gunung-gunung di wilayah Bandung.  Bagi mahasiswa Geografi atau pengamat geologi buku ini tentunya sangat bermanfaat karena isinya mengulas kegeografian Bandung. Tidak hanya itu,  seperti yang terungkap dalam buku ini, tujuan utama buku ini adalah mengangkat keistimewaan dan  mendokumentasikan  profil gunung-gunung yang ada di sekitar Cekungan Bandung sebagai sebuah informasi bagi masyakarat kota Bandung pada umumnya.

Sayangnya buku ini tidak bisa kita dapatkan di toko-toko buku umum, namun kita bisa memperolehnya secara onlen ke nomor telpon yang tertera di website  JANTERA

@htanzil