Wednesday, November 23, 2016

Lady in Red

[No. 371]
Judul : Lady in Red
Penulis : Arleen A
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2016
Tebal : 360 hlm ; 20 cm
ISBN : 978-602-03-2712-9

Novel Lady in Red berkisah tentang kisah cinta dua wanita penyuka warna merah dalam bentangan waktu seratus tahun (1920-2020) lamanya.  Dimulai dari kisah Betty Liu, seorang gadis Tionghoa sederhana yang kerap menggunakan baju berwarna merah. Betty adalah gadis yang pandai sehingga ia mendapat beasiswa untuk bersekolah di sekolah swasta elit Redwood High School, California, Amerika Serikat. Karena bukan dari kalangan kaya, Betty kerap dipandang sebelah mata dan menerima ejekan dari teman-teman sekolahnya. Tak seorangpun mempedulikan Betty kecuali Robert Wotton, teman sekelasnya, anak dari pemilik Wotton Dairy Farm,  peternakan sapi perah kedua terbesar di Fort Bragg, Caliornia. 

Singkat cerita Betty Liu menikah dengan Robert Wotton, mereka lalu tinggal di Wotton Farm dan mengelola Wotton Farm hingga peternakan sapi mereka menjadi semakin berkembang bahkan mereka dapat membeli Stephen Farm peternakan sapi terbesar di Fort Bragg. Wotton Farm terus bertahan hingga beberapa generasi.

Dari kisah Betty Liu dan Robbert Wotton kisah beralih ke tokoh Rhonda Roth, cicit Betty Liu  salah satu pewaris Wotton  Farm. Rhonda kecil  memiliki seorang pelindung yaitu Gregory Drew (Greg). Seperti Rhonda, Greg juga tinggal di Wotton Farm karena orang tuanya bekerja di peternakan milik keluarga Rhonda. Kemanapun Rhonda pergi Greg selalu menyertai dibelakangnya sambil membawa tas dan buku-buku Rhonda.  Tanpa disadari ketika keduanya bertumbuh dewasa timbul rasa saling menyayangi diantara keduanya. Rhonda maupun Greg ragu apakah ini cinta? Bagi Greg sendiri ia  berusaha menghalau perasaannya karena ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang pelayan bagi Rhonda.

Ketika Rhonda harus meninggalkan Wotton Farm untuk melanjutkan kuliah di Boston barulah keduanya menyadari arti dari kehilangan. Tak ada yang bisa dilakukan Rhonda selain  membuat puluhan  sketsa wajah Greg yang ia simpan dan rahasiakan dari siapun. Perbedaan jarak dan status (majikan-pelayan) membuat hubungan mereka menjadi berjarak hingga akhirnya Rhonda menyerahkan hatinya pada Brandon Resensky, seorang eksekutif muda sukses yang terus mendekatinya dengan cara-cara romantis yang diluar dugaan. Hubungan Rhonda dan Brandon berlanjut hingga akhirnya  memutuskan untuk bertunangan dan merencakanan sebuah pernikahan.

Ketika pertunangan diresmikan di Wotton Farm, Greg yang kecewa memilih untuk lari menghindar dari kehidupan Rhonda. Ia meninggalkan Wotton Farm dan memilih bekerja di Los Angeles. Sebuah peristiwa yang mengancam peternakan akhirnya memaksa Greg untuk kembali ke Wotton Farm demi menyelamatkan peternakan milik keluarga Rhonda yang telah berdiri selama beberapa generasi. 

Sebenarnya tema novel ini sederhana, yaitu tentang kisah cinta dua pribadi yang berbeda secara status, namun di tangan Arleen A, penulis produktif yang telah menulis ratusan buku anak, kisah cinta ini menjadi sangat menarik untuk dibaca. Penulis termasuk berani mengambil resiko yang jarang ditempuh penulis-penulis lokal yaitu rentang waktu kisah yang panjang ( 1 abad), setting lokasi di Amerika Serikat, dan tokoh-tokoh yang bukan orang Indonesia. Walau novel ini ditulis oleh penulis lokal yang tinggal di Indonesia namun dalam hal pendeskripsian setting lokasi peternakan sapi perah, karakter dan keseharian tokoh-tokohnya semuanya bernuansa barat sehingga saya sependapat dengan dengan beberapa pendapat para blogger buku yang mengatakan bahwa membaca novel ini seperti membaca sebuah karya terjemahan dari penulis asing.

Dari segi romansa kisahnya, penulis mendeskripsikannya dengan sangat baik,  perasaan dan kegalauan para tokoh-tokohnya terungkap dengan baik sehingga kita dapat memahami apa yang dirasakan oleh para tokoh-tokohnya. Kita akan dibuat kesal, galau, dan gregetan seakan sedang mengalami sendiri apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh utamanya.

Walau didominasi dengan kisah romansa percintaan  namun novel ini juga menyajikan sedikit unsur thriller terutama di penghujung novel. Walau ending-nya mungkin berhasil ditebak oleh beberapa pembaca namun sebelum menuju ending penulis menyajikan sebuah kejutan yang mungkin tidak terpikirkan oleh pembaca yang terlanjur terbuai oleh sebuah kisah roman yang apik.

Selain kisah Betty Liu dengan Robert Wotton, Rhonda dengan Brandon, dan gejolak Greg yang berusaha memendam cintanya pada Rhonda, penulis juga menyelipkan kisah Jerry dan Wanda. Jerry, anak pemilik peternakan Stephen Farm  yang dihadirkan sebagai tokoh antagonis. Walau awalnya tampak tak memiliki hubungan dengan tokoh  Betty atau Rhonda namun kelak pembaca akan mengetahui bahwa kisah Jerry dan Wanda ini bukan sekedar kisah tambahan semata.

Satu hal yang menjadi keunikan dalam novel ini adalah adanya interlude-interlude yang mengisahkan dongeng si Topi/Kerudung Merah (Red Ridding Hood) karya Grimm. Sepertinya penulis mencoba menghubungkan dongeng si Kerudung Merah dengan Lady in Red atau katakanlah ini adalah adaptasi atau versi modern dari dongeng tersebut. Namun sayangnya saya tidak berhasil menemukan keterkaitan yang jelas antara dongeng si topi Merah dengan novel ini. Atau mungkin saya yang kurang peka? :)

Dalam novel ini penulis membagi kisahnya kedalam tiga  bagian besar berdasarkan periode waktu  yaitu 1920-1955, 2013-2016, 2019-2020. Dari bagian pertama ke bagian kedua terdapat lubang rentang waktu yang cukup panjang (58 tahun) kisahnya pun melompat dari tahun 1955 ke 2013. Ada dua generasi keluarga Wotton yang hilang dari penceritaan. Akan lebih menarik jika penulis mengisi lubang waktu itu dengan kisah oleh kisah salah satu anak atau cucu Betty Liu sehingga novel ini bisa menjadi sebuah kisah kehidupan keluarga Roth yang utuh .

Terlepas dari hal tersebut kehadiran novel ini patut diapresiasi dengan baik. Novel yang dikemas dengan cover yang  menarik ini ternyata memiliki isi yang lebih menarik dari covernya. Walau kisahnya hanya kisah cinta biasa yang dibalut dengan pembalasan dendam masa lampau yang diberi bumbu thriller di penghujung kisahnya, namun karena penulis berhasil menyajikan setting waktu, tempat, dan tokoh-tokoh barat yang jarang digarap oleh penulis lokal maka novel ini  mampu memberi warna  tersendiri dalam khazanah novel-novel lokal saat ini.

@htanzil

Tuesday, October 25, 2016

Kisah Seorang Sinyo

[No. 370]
Judul : Kisah Seorang Sinyo
Penulis : Fried Muller
Penerjemah : Sugihardjo Adirono
Penerbit : Katarsis Book
Cetakan I : Juli 2016
Tebal : 107 hlm

Buku ini adalah memoar Fried Muller, seorang sinyo Belanda berdarah campuran Jerman -Indonesia. Fried Muller  lahir di Purwakarta pada 9 September 1933.  Ayahnya bekerja sebagai masinis kereta api di Cibatu, Garut - Jawa Barat.  sebuah desa kecil yang terletak di persimpangan jalan kereta api  Bandung - Yogyakarta.  

Dalam memoarnya ini Fried Muller mengisahkan pengalaman dan pergulatan hidupnya mulai dari masa kecilnya di Cibatu-Garut, Batavia, Jogya, hingga dewasa dan harus pulang ke Negeri Belanda. Kisahnya melintas berbagai zaman, mulai dari zaman kolonial,  penjajahan Jepang, perang kemerdekaan, hingga paska Indonesia merdeka,

Ada banyak hal menarik tentang situasi sosial, politik, dan budaya Indonesia di mata seoang 'sinyo' Indo yang bisa pembaca peroleh dari memoar ini. Melalui memoar yang dilengkapi dengan beberapa foto pembaca bisa melihat seperti apa suasana kehidupan orang-orang Belanda dan orang-orang Indonesia,serta bagaimana hubungan antara keduanya berdasarkan  kacamata seorang Belanda-Indo

Kedekatan antara pelayan dan anak tuannya yang sering kita dengar dalam roman-roman atau kisah kehidupan di era kolonial terwakili dalam memoar ini. Fried sendiri memiliki hubungan yang sangat dekat dengan perempuan tukang cuci

"Kami juga mempunyai babu perempuan tukang cuci pakaian bernama Cuci.....Babu Cuci selalu menjadi tempat pelarianku. Aku selalu lari kepadanya untuk bersembunyi jika ada yang karena alasan tertentu ingin memberi pukulan padaku atau karena alasan lain apapun. Dia melebihi ibuku sendiri...karena dialah yang selalu memberi aku makan dan asuhan. Babu Cuci mengajar aku bicara bahasa Indonesia. Dia juga memberiku nama Sinyo.." (hlm 7-8)

Selain kisah pengalaman Fried selama berada di Hindia memoar ini juga berisi pergulatan batin dirinya, sebagian besar didominasi tentang pergumulan dirinya sebagai seorang berdarah campuran atau Indo. 

Di masa peperangan, ketika Jepang menyerbu Hindia kehidupan orang-orang Eropa berubah drastis, mereka yang tadinya hidup dalam kemerdekaan tiba-tiba harus masuk dalam kamp-kamp interniran. Demikian juga keluarga Muller. Ayah Fried ditawan sehingga ia beserta ibu dan saudara-saudaranya harus bertahan hidup di luar mencari makanan. Bukan hal yang mudah karena disinilah identitasnya sebagai orang Indo mulai menjadi kesulitan bagi Fried dan keluarganya. Hubungan  antara penduduk pribumi dengan orang  Eropa dan Indo yang tadinya harmonis menjadi berubah karena perang.

Selama 3,5 tahun peperangan, tidak ada satupun orang Indonesia yang pernah menawarkan kepadaku makanan atau bantuan. Bagi mereka kami tidak ada sama sekali....Sedari kecil aku aku tidak pernah mengerti mengapa kami selalu dipaksa memilih pihak Belanda, padahal oleh orang-orang Belanda sendiri kami dianggap sebagai warga negara kelas dua. Bahkan waktu aku ditahan di kamp juga diperlakukan begitu.
(hlm48)
 
Tadinya Fried Muller berpikir bahwa kesulitan sebagai warga kelas dua akan sirna ketika ia kembali ke negeri Belanda. Ternyata tidak, alih-alih mendapat sambutan hangat ketika kembali ke Belanda, ternyata para Belanda- Indo mendapat perlakuan yang sangat dingin. Rupanya pemerintah sosialis yang tengah berkuasa di Belanda saat itu menginginkan agar orang Belanda-Indo dari daerah jajahan tidak pulang ke negeri Belanda.

Di Belanda mereka (kaum sosialis) sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di daerah jajahannya. Mereka sama sekali tidak tertarik pada hal-hal yang terjadi di wilayah koloni. Bahkan dalam buku-buku sejarah tidak ditemukan apa-apa mengenai penjajahan yang lamanya 300 tahun
(hlm 71)  

Tidak hanya berdasarkan pengalaman pribadinya melalui memoar ini juga penulis memberi  penjelasan bagaimana dan mengapa setelah penyerahan kedaulatan Belanda kepada Indonesia secara resmi pada tanggal 27 Desember 1949 orang-orang Indo memilih meninggalkan Indonesia karena mereka khawatir terjadi rasisme setelah Indonesia benar-benar merdeka. Namun banyak juga yang karena pertimbangan keluarga, mengajukan permohonan untuk memperoleh status kewarganegaaan Indonesia. 

Seperti yang dialami Fried Muller, mereka yang pulang ke Belanda disambut sangat dingin dan sebagian besar ditampung di rumah-rumah pensiun kontrakan atau di kamp-kamp militer tua, Pemerintah Belanda waktu itu berharap mereka tidak datang ke Belanda, dan mempropagandakan supaya para Belanda-Indo migrasi ke Papua New Guinea untuk menjalankan rezim kolonial serta membantu pembangunan.

Di akhir memoarnya Fried Muller mencatat tentang generasi ketiga para imigran Belanda-Indo yang menetap di Belanda. Mereka akhirnya bisa memecahkan masalahnya dalam kehidupan di Belanda dan membuat gaya hidup Belanda khas sendiri dan menjadikan penduduk dan budaya Belanda lebih beragam lagi.

Dengan kedatangan mereka, masakan Belanda lebih bervariasi dan warna kulit Negeri Belanda menjadi lebih gelap. Banyak orang Indo generasi ketiga sekarang mencari kembali asal usul mereka, "back to roots" dan dengan cara masing-masing ingin memberikan kontribusi bagi pembangunan Indonesia. 
(hlm 100-101)

@htanzil

Monday, October 17, 2016

Rumah Kertas

[No. 369]
Judul : Rumah Kertas
Penulis : Carlos Maria Dominguez
Penerjemah : Ronny Agustinus
Penerbit : Marjin Kiri
Cetakan : I, September 2016
Tebal : 76 hlm, 12x 19cm
ISBN : 978-979-1260-62-6


Pada musim semi 1998, bu dosen Bluma Lenon membeli satu eksemplar buku lawas Poem karya Emily Dickinson di sebuah toko buku di Soho, dan saat menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal.   
(hlm 1)

Demikianlah paragraf awal dari novelet Rumah Kertas karya Carlos Maria Domiquez, sastrawan kelahiran Argentina yang bermukim dan berkarya di Monteviedo, Uruguay. Sebuah paragraf awal yang menghentak yang membuat pembacanya ingin segera mengetahui kelanjutan dari novel pendek setebal 76 halaman ini.

Setelah peristiwa tragis tersebut tokoh 'Aku' yang tidak disebutkan namanya hingga akhir novel ini menggantikan posisi Bluma di Jurusan Sastra Amerika Latin Universitas Cambridge, London. Di suatu pagi ia menerima paket  yang dialamatkan pada almarhum Bluma Lenon. Paket  berperangko Uruguay  tanpa nama dan alamat pengirim tersebut berisi sebuah buku edisi lama La linea de sombra karya Joseph Conrad. Yang mengherankan adalah di sampul depan dan belakang buku tersebut menempel kerak bekas adukan semen. Satu-satunya petunjuk yang ada terdapat di halaman persembahan di mana tertera tulisan Bluma 

"Buat Carlos, novel ini telah menemaniku dari bandara ke bandara, demi mengenang hari-hari sinting di Monterrey itu..... tertanggal 8 Juli 1996."

Terdorong rasa penasaran siapa Carlos dan apa motif pengiriman buku tersebut ke Bluma maka tokoh Aku berusaha  mencari identitas si pengirim hingga akhirnya didapatinya sebuah nama bernama Carlos Brauer, seorang bibliofil yang menjadi salah satu pendengar di konferensi penulis yang pernah dihadiri Bluma di Montterrey, Mexico. Tokoh Aku menempuh jarak ribuan kilometer, melintas benua untuk menemui Carlos Brauer. Pencariannya ini mengantarnya bertemu dengan  Delgado yang juga seorang bibliofil yang sangat mengenal Brauer dan kegilaannya akan buku.

Sejatinya kisah novel ini sangat sederhana yaitu pencarian sang tokoh terhadap asal-usul buku aneh yang diterima oleh koleganya yang telah meniggal, namun dari pencariannya inilah yang akan mengantar kita memasuki dunia para bibliofil dengan ragam keunikannya yang bisa dikatakan bukan lagi unik melainkan gila. Dunia para penggila buku.

Melalui novel ini  kita diajak melihat bagaimana Carlos Brauer dan Delgado begitu menggilai buku hingga seluruh rumahnya dipenuhi buku. Brauer memiliki 20 ribu buku yg tersimpan dalam rak-rak buku besar dari lantai sampai ke plafon. Selain dalam lemari buku-bukunya juga bertumpukan di dapur, kamar mandi, kamar tidur,  di anak tangga menuju loteng, hingga kamar mandinya 

"Kamar mandinya berisi buku di tiap dindingnya, kecuali di dinding tempat pancuran air, dan buku-bukunya tak sampai rusak hanya karena ia berhenti mandi air hangat buat mencegah uap. Mau musim panas atau musim dingin, ia selalu mandi air dingin" 
(hlm 30)

Dan yang lebih gila lagi adalah secara sukarela Brauer  memberikan mobilnya ke temannya agar bisa mengisi garasinya dengan buku!

Brauer juga memiliki cara  yang unik untuk menata bukunya. Ia menyusun buku-bukunya sedemikian rupa di atas ranjangya hingga  menyerupai kontur tubuh manusia. Selain itu Baurer juga memperlakukan buku-bukunya seperti layaknya manusia yang memiliki perasaan atau emosi yaitu menempatkan buku-bukunya berdasarkan sistem kekerabatan atau bagaimana penulis buku memiliki relasi dengan penulis lainnya.

Tak terbayangkan buatnya untuk menarih buku Borges bersebelahan dengan Garcia Loca, yang oleh penulis Argentina itu pernah diejek sebagai 'Andalanus Profesiona'. Brauer juga merasa tidak mungkin meletakkan Shakespeare bersebelahan dengan Marlowe, mengingat tudingan-tudingan penjiplakan.... Dan tentunya ia tidak bisa menjajarkan buku Martin Amis dengan Julian Barnes, setelah kedua teman ini bermusuhan, sama halnya dengan Vargas Llosa bersebelahan dengan Garcia Marquez  (hlm 37)

Cara membaca Brauer tidak kalah eksentriknya, ia memiliki kebiasaan membaca penulis-penulis Perancis abad kesembilan belas diterangi cahaya lilin

"Mungkin menurut Anda eksentrik dan tak ada gunanya, tapi coba saja terangi sebuah lukisan cat minyak dengan cahaya lilin, akan terlihat segi lain yang benar-benar baru. Lukisan itu akan jadi lukisan baru, bayang-bayang jadi hidup, nyala api memainkan lidahnya, ....... cahaya lilin memberikan sebuah buku pendar tambahan yang bisa memancarkan nilai-nilai dan kelembutannya dengan ajaib". 
 (hlm 42-43)

 Kebiaaan membaca dengan cahaya lilin ini pada akhirnya membawa bencana, karena terlalu banyak minum anggur, Brauer lupa meninggalkan kandil lilin di atas lemari indeksnya, lilinnya jatuh dan membakar habis lemari indeks buku beserta isinya. Peristiwa itu membuat Brauer terpukul. Kehilangan indeksnya dalam kebakaran telah memupus semua ilusi untuk bisa menata perpustakaannya. Karena itu Brauer menjual rumahnya dan  pergi ke Rocha La Paloma,  Uruguay bersama buku-bukunya. Di sana  dan membangun sebuah rumah di daerah terpencil di tepi laut.

"Tapi buku-bukunya memang ia boyong ke Rocha bersamanya. Ke beting tanah di antara tasik dan laut. Kepindahan yang mahal, sebab buku-buku itu harus diangkut lebih dari dua ratus kilometer dengan truk-truk berlapis terpat. Mereka harus meyusuri jalan tanah lalu dibawa melintas beting dengan gerobak-gerobak, sampai akhirnya tiba di pondok nyaris di batas laut."
(hlm 51)

Di tempatnya yang baru Brauer memiliki obsesi yang aneh, agar puluhan ribu buku-bukunya dapat melindungi dirinya dari angin, hujan, dan keteduhan di musim panas  ia menyuruh para kuli yang membangun rumahnya menggunakan buku-bukunya sebagai ganti batu bata!.

"....Ia mengulurkan ke si kuli  sejilid Borges buat dipaskan di bawah kusen jendela, Vallejo untuk pintu, Kafka di atasnya, dan di sampingnya Kant, serta edisi sampul tebal Farrewel to Arms-nya Hemingway, juga Cortazar dan Vargas Llosa, yang selalu menulis karya tebal-tebal; Valle-Inclan dengan Aristoteles, Camus dengan Morosoli; dan Shakespeare lengket selamanya dengan Marlowe kena adukan semen; dan semuanya ditadirkan untuk mendirikan tembok..." 
(hlm 53)

Dari hal inilah akhirnya tokoh Aku bisa mengerti mengapa buku yang dikirim Brauer pada Prof Bluma memiliki noda berupa kerak semen. Apakah Brauer kelak membongkar rumah bukunya untuk mengambil dan mengembalikan sebuah buku yang diberikan Blauma padanya? Jawabannya ada di bagian akhir dari novel ini.

Bagi para pecinta buku novel ini sangat layak untuk dibaca dan memberikan kepuasan  karena di novel ini penulis mengisahkan bagaimana  para penggila buku memperlakukan buku-buku melebihi apapun. Mereka rela mengorbankan kenikmatannya demi buku-bukunya. Penulis tampaknya memahami betul jiwa dan ragam kebiasaan-kebiasaan yang lazim dan tak lazim dari para penggila  buku sehingga perilaku unik dan menarik dari para bibliofil dikisahkan dengan begitu hidup dan menarik.

Kita  tidak perlu meniru perilaku gila Brauer terhadap buku-bukunya namun dari novel ini setidaknya kita akan melihat bagaimana buku yang adalah puncak peradaban manusia modern begitu dihargai dan dicintai. 

Kegilaan Brauer yang mejadikan buku sebagai ganti batu bata untuk rumahnya tidak bisa diterima dengan akal sehat namun bukan tak mungkin kita melakukan hal yang sama dalam tingkat yang lebih sederhana, misalnya kita terus membeli buku dan merasa nyaman tinggal dalam rumah atau kamar yang dikelilingi buku.  Atau kita hanya menjadikan buku sebagai pajangan agar kita terlihat cerdas di mata tamu-tamu kita seperti yang terdapat dalam novel ini

 "Seorang profesor sastra klasik  sengaja berlama-lama menyeduh kopi di dapur agar tamunya bisa mengagumi buku-buku di raknya", dan baru kembali ke ruang tamu setelah efek-efek tertentu mulai merasuki sang tamu"

Untungnya dibalik kegilaan Brauer akan buku ternyata iapun seorang pembaca buku yang tekun. Buku bukan sekedar dibeli dan disimpan, ia membaca dan membuat catatan dari apa yang dibacanya. Bahkan Brauer tidak segan-segan membuat catatan penting pada marjin  buku-buku antik yang sedang dibacanya.

 "Aku sanggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme
(hlm. 32)
 
 Bagi Brauer buku bukan sekedar untuk disimpan atau sekedar pemuas hasrat pribadi namun buku juga harus dibaca dan dimaknai dengan memberi tanda atau catatan-catatan penting di buku-buku yang ia baca.

Saya akan menutup review  ini dengan mengutip tentang  dua jenis bibliofil/pecinta buku yang ada di novel ini

"Orang-orang ini (bibliofil) ada dua golongan....pertama, kolektor, yang bertekad mengumpulkan edisi-edisi langka.....edisi pertama buku-buku Borges sekalitus artikel-artikel di majalah-majalah; buku-buku yang dicetak oleh Colombo, disunting oleh Bonet, sekalipun mereka tak pernah membuka-bukanya selain untuk melihat-lihat halamannya, seperti orang-orang mengagumi sebuah objek indah.

Lainnya, ada para kutu buku, pelahap bacaan yang rakus, seperti Brauer itu, yang sepanjang umurnya membangun koleksi perpustakaan yang penting. Pecinta buku tulen, yang sanggup mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam-jam, tanpa kebutuhan lain kecuali untuk mempelajari dan memahaminya."
(hlm 17) 

Anda termasuk yang mana? kolektor atau kutu buku?

@htanzil

Wednesday, September 21, 2016

Perpustakaan Kelamin : Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan

[No. 368]
Judul : Perpustakaan Kelamin : Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan
Penulis : Sanghyang Mughni Pancaniti
Penerbit : Semesta
Cetakan : I, Mei 2016
Tebal : 229 hlm
ISBN : 978-602-14549-3-0

Novel dengan judul yang unik dan menimbulkan rasa penasaran ini mengisahkan tentang seorang tokoh bernama Hariang yang tinggal di desa Cigendel, Sukabumi, Jawa Barat bersama ibunya  yang begitu mencintai buku. Agar anaknya mencintai buku sang ibu mendidik anaknya dengan cara yang unik yaitu merahasiakan isi dari sebuah ruangan terkunci berukuran 4 x 8 meter dari anaknya. Semakin besar Hariang semakin penasaran apa isi dari ruangan yang selalu terkunci tersebut. Setiap kali Hariang bertanya jawaban ibunya selalu sama, "Kamu belum waktunya tahu". 

Baru ketika Hariang berusia 20 tahun sang ibu  mengizinkan anaknya memasuki ruangan rahasia itu yang ternyata sebuah ruangan berisi ribuan buku yang dikumpulkan oleh ibunya selama 19 tahun dari hasil menyisihkan pendapatannya yang diperoleh dari penjualan hasil kebunnya.

Ruangan ini dulunya adalah kandang domba. Sebelum kamu lahir, bapakmu menyulapnya menjadi ruangan yang memang diniatkan untuk menjadi taman baca bagi warga, dan anaknya kelak......Akan tetapi bapakmu keburu menghadap Tuhan, sebelum bisa membeli satu buku pun yang diniatkannya untuk masyarakat serta anaknya."  
 (hlm 9)

Bukan tanpa sebab ibu Hariang merahasiakan perpustakaan kepada anaknya selama 20 tahun hingga Hariang dirasa siap mengetahuinya,

"Merahasiakan ruangan ini dari kamu, adalah mutlak rencana ibu. Alasan ibu sederhana, biar kamu terus bertanya, merindukannya, lalu jatuh cinta kepada yang ibu rahasiakan itu, sesaat setelah kamu mengetahuinya...Ibu hanya ingin kamu jatuh cinta kepada buku, menganggapnya sebagai benda yang istimewa.....Bantu ibu, agar banyak tetangga kita yang mau membaca di sini, terutama anak-anak. Buku bukan hanya milik mereka mengaku dirinya terpelajar,tapi milik semua orang yang ingin menatap makna."
(hlm 10)

Perpustakaan ini akhirnya diberi nama Pabukon Kadeudeuh, Pabukon = Perbukuan/perpustakaan, Kadeudeuh =  Kasih Sayang. Hariang dan ibunya bersama-sama menjadi pengelolanya. Siapapun boleh membaca di perpustakaan tersebut tanpa dipungut biaya. Pada suatu hari Hariang didatangi oleh Kang Ulun, pemuda terpelajar yang kaya. Kang Ulun meminta bantuan Hariang untuk mencari donor kelamin bagi dirinya. Sudah menjadi rahasia umum kalau Kang Ulun tidak memiliki organ kelaim karena terpotong habis ketika proses khitan saat ia berusia 5 tahun. Karena ingin menjadi lelaki seutuhnya maka ia berniat mencari donor kelamin dengan imbalan 1, 5 Milyard. Karena kenal dekat dengan Kang Ulun Hariang pun menyanggupi untuk membantu mencarikan donor kelamin. 

Mencari donor kelamin tidaklah mudah, walau jumlah uang pengganti yang diberikan kepada pendonor begitu besar namun lelaki normal mana yang mau  mengorbankan kelelakiannya. Ketika Hariang berusaha mencari donor kelamin di kota Bandung sebuah musibah terjadi menimpa perpustakaannya. Perpustakaan Pakubon Kadeudeuh dengan koleksi 11.000 buku habis terbakar dilalap api. Tak hanya itu, peristiwa itu membuat jiwa ibunya terguncang parah sehingga menjadi  gila. 

Berbagai cara dilakukan Hariang untuk menyembuhkan ibunya, mulai dari mendatangkan dokter jiwa, hingga lewat doa-doa. Namun semua itu tak bisa mengembalikan kewarasan ibunya.  Sampai akhirnya Hariang mendapat keyakinan bahwa ibunya bisa sembuh jika perpustakaannya dibangun ulang karena buku dan perpustakaan selama ini telah menjadi bagian yang terpisahkan dari ibunya. 

Untuk membangun kembali perpustakaannya Hariang bekerja sebagai pegawai toko buku, pegawai restoran, dan mengisi kolom cerpen di sebuah koran. Dari penghasilannya bekerja dan menulis cerpen Hariang bisa membeli 400 buah buku. Jumlah yang masih jauh dibanding 11.000 buku yang sebelumnya dimiliki Perpustakaannya

"Aku sudah mencoba bersabar, untuk terus mengumpulkan buku sampai satu tahun lamanya, agar ada perubahan pada kejiwaan ibu, tapi sepertinya putus asa mulai menyergapku, bertakhta. Baru saja tiga bulan mencari uang, aku tak mampu menunggu kesembuhan ibu lebih lama lagi, perpustakaan harus segera didirikan. Tapi dengan cara apa? Tak ada barang berharga yang bisa kujual. Aku miskin "

Ada satu nama yang tiba-tiba terlintas, namun yang membuatku bergidik ngeri, diakah jalannya? Kang Ulun, ya Kang Ulun. Haruskah aku mendonorkan kelaminku kepadanya? Uang 1,5 Milyard yang dijanjikannya itu bisa kubelikan buku sebanyak mungkin, bahkan gedung perpustakaan bisa kudirikan kembali, dengan lebih besar, lebih megah. Tapi benarkah, demi buku dan ibu, haruskah kupertaruhkan kelamin yang sangat kupuja ini? Edan!"
(hlm 207)

Bukan hal yang mudah bagi Hariang untuk memutuskan apakah ia akan korbankan kelaminnya untuk dapat membangun perpustakaan demi kesembuhan ibunya. Apalagi saat itu ia telah memiliki seorang kekasih yang telah ia yakini akan menjadi calon istrinya kelak. 


Khazanah Perbukuan dalam Perpustakaan Kelamin

Novel ini tak hanya menyuguhkan kisah menarik  usaha Hariang dalam membangun perpustakaan guna menyembuhkan ibunya melainkan ada banyak khazanah perbukuan dunia dan Indonesia yang disusupkan dalam novel ini. Kita akan menemukan kisah bagaimana sejarah buku tercipta, kegilaan orang dan tokoh-tokoh dunia yang gila membaca seperti Napoleon Bonaparte yang membuat lemari buku di keretanya agar di sela-sela berperang tetap bisa membaca, atau Sun Ching  yang karena tak ingin berhenti membaca mengikat rambutnya pada tiang di atas kepalanya untuk menjaga dirinya supaya tegak. Ada pula diceritakan kisah tentang penulis cabul Marquis de Sadde yang terus menulis walau dalam penjara seperti yang dikisahkan dalam film  Quills

Sebutan atau istilah bagi para penggila buku yang pernah dimuat di buku Memposisikan Buku di Era cybercpace karya Putut Widjanarko seperti bibliomania, bibliofil, bibliotaf, biblioklas, dll dikutip dalam novel ini. Selain itu ada banyak kutipan-kutipan menarik dari berbagai penulis dan buku yang bertebaran di novel ini. Mungkin ada ratusan judul buku yang disebut-sebut dalam novel ini.

Kecintaan dan kesadaran orang akan pentingnya membaca buku selain terwakili oleh tokoh Hariang dan ibunya juga tercermin dalam komunitas PAKU (Pasukan Anti Kuliah) yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang drop out atau kecewa dengan sistem pendidikan di Indonesia. Walau mereka tidak kuliah namun wawasan para anggotanya tidak kalah dengan mereka yang kuliah. Mereka secara rutin menggelar diskusi buku. Dalam novel ini pemikiran, filosofi,  dan aktivitas PAKU terdeskripsikan dalam satu bab khusus dan hal ini membuat novel ini menjadi semakin menarik dan begitu hidup sehingga saya penasaran apakah komunitas ini benar-benar ada di Bandung?

Dari bab khusus tentang PAKU ini akan terungkap tentang sejarah pelarangan buku di dunia dan Indonesia, dan untuk melengkapinya di bab-bab akhir dimuat juga Daftar Pelarangan Buku di Indonesia 1968-1998 yang dikutip penulis dari buku Menentang Peradaban (Pelarangan Buku di Indonesia), LSAM, 1999.

Bukan Novel Biasa 

Selain tentang khazanah perbukuan, novel ini juga memasukkan wacana tentang keagamaan, seksualitas, kritik terhadap sistem pendidikan, dan sebagainya yang pada akhirnya mengerucut pada sebuah pertaruhan antara buku dan kelamin dan apakah yang menjadi puncak peradaban itu bukukah atau kelamin? Semua wacana tersebut tersaji dalam dialog antar tokoh-tokohnya sehingga novel ini bukan sekedar novel sastra biasa melainkan novel sastra plus-plus yang akan menambah wawasan pembacanya. Di novel ini terdapat juga sebuah epilog berjudul Sex, benarkah Puncak dari Peradaban? yang ditulis Shiny ane El Poesya.

Sebagai sebuah novel yang ditulis oleh penulis yang mukim di Bandung dan memiliki setting cerita di Sumedang dan Bandung, penulis memasukkan kandungan lokal khas orang-orang Sunda yaitu istilah-istilah dan peribahasa Sunda beserta artinya. Beberapa peribahasa mungkin sudah jarang kita dengar sehingga novel ini bisa dikatakan mengangkat kearifan lokal budaya Sunda yang mungkin sudah terlupakan bagi pembaca muda.

Walau banyak mengandung materi-materi tambahan yang dimasukkan dalam novel ini  namun penulis meramunya  sedemikian rupa sehingga seluruhnya melebur dalam kisahnya sehingga pembaca novel ini akan mendapat kisah yang menarik dengan bonus berupa materi-materi penambah wawasan yang telah disebutkan di atas.

Dari segi karakter tokoh, tokoh utama dalam novel ini yaitu Hariang dieksporasi oleh penulisnya dengan sangat baik lewat dialog batin Hariang maupun lewat dialog-dialog dengan lawan bicaranya. Tokoh Hariang  digambarkan apa adanya, dia bukan manusia sempurna, di satu sisi dia paham dan taat pada ajaran agamanya, namun sebagai manusia yang penuh kelemahan dia juga dikisahkan tidak luput dari keinginan dan melakukan berbuat dosa. Pergulatan batin inilah yang juga dimunculkan oleh penulisnya sehingga hal ini membuat pembaca akan merasa dekat dengan tokohnya yang begitu manusiawi.

Mengenai kelamin apakah betul bisa didonorkan dan dipasang di tubuh orang lain saya sendiri tidak tahu kebenarannya. Bagi sebagaian pembaca mungkin menganggap hal ini berlebihan dan tidak masuk akal, namun saya pribadi tidak mempermasalahkan karena dengan menggunakan isu donor kelamin sebagai sebuah pertaruhan demi buku dan kasih sayang  akan membuat posisi buku sebagai salah satu simbol dari   peradaban menjadi semakin kokoh. 

Dengan segala kebaikan yang ada dalam novel ini ada sedikit ganjalan yaitu bagaimana Hariang menemukan bahwa Pohon adalah simbol dari tercapainya Puncak Spiritual

'Pohon' adalah simbol bagi ketercapain 'Puncak Spiritual' para orang suci : Musa a.s   dengan pohon Zion-nya, Buddha dengan Pohon Bodinya, Isa a.s dengan Pohon Cemaranya dan Muhammad SAW dengan Sidrotul Muntaha-Nya.
(hlm 12)

Hingga saat ini saya belum menemukan literatur yang menghubungkan Nabi Isa a.s (Yesus dalam Kristen) dengan pohon cemara. Atau bagaimana Isa a.s pernah bersinggungan dengan pohon cemara dalam mencapai puncak spiritualnya. Kalaupun pohon cemara sering dikaitkan dalam simbol natal (kelahiran Isa) itu betul, namun simbol itupun terbentuk jauh setelah nabi Isa lahir, dan tradisi menggunakan pohon cemara dalam natal adalah tradisi kaum pagan yang diadopsi oleh orang Kristen di Eropa. 

Yang kedua adalah ketika tim dokter yang akan mengoperasi pendonor kelamin hanya terdiri dari dokter anestesi dan dokter bedah saja. Seperti yang kita ketahui organ kelamin pria adalah sebuah struktur yang kompleks dan jika memang hendak dibuang tentunya ada dokter-dokter spesialis lain yang akan menjadi tim operasi.

Terlepas dari dua hal yang menjadi ganjalan bagi saya, secara umum novel ini sangat bagus untuk dipahami dan dimaknai, ada berbagai hal yang bisa pembaca maknai dan membuka wawasan berpikir pembaca. Ini bukan sekedar novel biasa namun novel yang berkisah tentang tokoh-tokohnya yang begitu mencintai buku yang dibalut dalam drama tentang pengorbanan, kasih sayang, dan pengkhianatan.

Bagi para pecinta literasi atau mereka yang gemar membaca, mencintai buku, dan sadar akan makna buku bagi peradaban dunia tentunya akan menemukan kepuasan total ketika membaca novel ini yang rencananya akan ada kelanjutannya. 

@htanzil