Monday, January 08, 2018

Sang Raja

[No.378]
Judul : Sang Raja
Penulis : Iksaka Banu
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : I, September 2017
Tebal : 383 hlm
ISBN : 978-602-424-331-9

Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito di bawah bendera NV. Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito berhasil merubah bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan. 

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga  Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Nitisemito telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. Begitu terkenalnya Nitisemito  sampai-sampai namanya disebut-sebut Bung Karno dalam pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juli 1945 yang sekarang dikenal sebagai Hari Lahir Pancasila.   
Selain itu sejarah mencatat bahwa Nitisemito adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk sehingga bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito  adalah  pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.

Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga  dikenal dengan strateginya yang kreatif dan  fenomenal antara lain menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui  siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan  menjadi salah satu  sponsor bagi film Panggilan Darah yang sukses di pasaran. Selain itu Nitisemito juga  memberikan bonus berupa barang pecah belah import dari Jepang, sepeda, jam dinding, dll yang semuanya berlogo rokok Tjap Bal Tiga kepada pelanggan setianya

Usaha Nitisemito semakin besar sehingga dibutuhkan orang yang sanggup mengontrol keuangan pabrik dengan baik. Untuk itu ia mempekerjakan tenaga pembukuan asal Belanda. Sebuah hal yang luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Selain itu Nitisemito juga disebut-sebut pribumi terkaya di Indonesia sebelum masa kemerdekaan.


Kisah pabrik rokok NV. Nitisesmito di bawah kepemimpinan Sang Raja Kretek Nitisemito   inilah yang dinarasikan dengan apik dalam bentuk novel oleh Iksaka Banu, peraih Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2014  kategori prosa untuk  novelnya yang berjudul  Semua Untuk Hindia (KPG, Mei 2014).

Novel Sang Raja  dibuka dengan porsesi pemakaman Nitisemito menurut sudut pandang seorang wartawan harian Bintang Timur yang berniat untuk menuliskan kisah kehidupan Nitisemito.  Untuk itu dia mewawancarai dua orang pegawai Nitisemito yaitu Filipus Rechterhand dan Wiroesoeseno.  Filipus, seorang Belanda totok adalah pegawai bagian pembukuan di pabrik rokok Bal Tiga,  Sedangkan Wirosoeseno, seorang Jawa tulen, priyayi rendahan yang  bekerja di bagian pemasaran.

Melalui penuturan  Filipus dan Wirosoeseno inilah kisah Nitisemito dan pabrik rokoknya diceritakan. Nitisemito, anak seorang kepala desa di daerah Kudus, Jawa Timur. Nama kecilnya Roesdi bin Soelaeman. Alih-alih mengikuti jejak ayahnya sebagai ambtenaar Ia lebih memilih menempuh jalan hidupnya sendiri, mulai dari buruh jahit, berdagang minyak kelapa, kerbau, hingga menjadi juragan sekaligus kusir dokar. Pada saat ia menjadi kusir dokar ia menikah dengan seorang pemilik warung nasi bernama Narsilah. Setelah menikah Roesdi  mengganti namanya menjadi  Nitisemito.

Untuk menambah penghasilan, disamping berjualan makanan, Narsilah juga berjualan tembakau di warungnya. Pada suatu saat, Narsilah mengolah tembakau itu menjadi rokok klobot. Tembakaunya ia campur dengan cengkeh dicampur saus yang dibuat dari sari-sari buah. Ternyata ramuannya digemari para pelanggannya. Semenjak itu Nitisemito mengembangkan usaha rokok klobotnya ini dan mencoba memasarkan rokoknya dalam kemasan yang diberi merk. Setelah beberapa kali mencoba berbagai merek akhirnya ia menemukan gambar bulatan tiga dan menggunakannya sebagai etiket di kemasannya dan orang menyebutnya sebagai rokok cap Bal Tiga.

Lambat laun rokok cap Bal Tiga semakin dikenal orang dan Nitisemito pun terus mengembangkan usahanya hingga akhirnya mendirikan pabrik NV Nitisemito Bal Tiga yang membuatnya menjadi pengusaha rokok terkaya dan terkemuka di zamannya.

Walau telah menjadi pabrik besar, NV. Nitisemito tak luput dari berbagai tantangan baik dari dalam maupun dari luar antara lain saat harga cengkeh yang meroket, atau ketika pemerintah Hindia Belanda memberlakukan cukai rokok yang berpengaruh langsung terhadap harga jual rokok, munculnya pabrik-pabrik rokok kretek lainnya serta depresi ekonomi dunia di tahun 1930.

Tantangan-tantangan tersebut berhasil dilalui oleh Nitisemito namun yang tersulit justru tantangan dari dalam yaitu ketika terjadi konflik kepentingan dalam keluarga Nitisemito.  Akoean Markoem yang merupakan cucu Nitisemito dari istri pertamanya, tak senang dengan Karmain,  menantu Nitisemito dari istri keduanya. Karmain yang saat itu menjadi kuasa usaha  Nv. Nitisemitoa dilaporkan oleh Akoean telah melakukan penggelapan pajak hingga akhirnya dipenjara.

Tidak adanya Kaiman membuat suasana pabrik menjadi lesu. Namun pabrik tetap berlanjut hingga masa pendudukan Jepang, masa revolusi kemerdekaan hingga proklamasi kemerdekaan dan masa bersiap paska kemerdekaan.



Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Sarikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek

Selain itu para  penutur yaitu Filipus dan Wiroseoeseno juga mendapat panggung dan kisah tersendiri di novel ini. Selain kisah tentang bagaimana mereka berkiprah dalam pekerjaan mereka penulis juga menyuguhkan kisah kehidupan pribadi mereka masing-masing

Dibanding kisah kehidupan Wiroseoseono kisah Filipus Rechterhand tampak lebih menarik dan berwarna. Filipus adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia dan  beristrikan seorang wanita pribumi. Latar belakang ini juga membuat tokoh Filipus menjadi seorang Belanda baik yang membela pribumi.

Dari pernikahannya dengan wanita pribumi yang dicintainya  lahir seorang anak laki-laki yang  kelak bergabung dalam  KNIL. Kehidupan nyamannya mulai terusik ketika Jepang datang. Filipus harus berpisah dengan istrinya karena harus masuk kamp inteniran sementara Hans, anaknya ditangkap oleh Jepang. Hal ini yang menjadi sebuah kisah tersendiri yang menarik dalam novel ini.

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, penulis juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia seperti kedatangan Jepang hingga masa revolusi kemerdekaan yang berdampak besar pada operasional pabrik beserta hasil produksinya. Namun sayangnya ada beberapa peristiwa sejarah di bagian akhir novel yang  tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kisah dalam novel ini misalnya tentang serangan Umum Jogya 1949, perjanjian Room-Roijen, tentang Jenderal Sudirman yang berhasil dibujuk untuk melakukan gencatan senjata, dan sebagainya.Hal ini memang bermanfaat namun tentunya  dapat  mengganggu keasyikan dalam membaca novel ini.

Yang agak disayangkan juga adalah tokoh Nitisemito dalam novel ini yang hanya dimunculkan sekilas-sekilas saja padahal judul novel ini "Sang Raja" yang jika menilik judulnya sepertinya  merupakan novelisasi kisah hidup pengusaha rokok kretek terkemuka di paruh pertama abad ke 20. Namun kisah dalam novel ini lebih didominasi tentang pabrik rokok NV. Nitisemito dan kisah kehidupan penuturnya (Filipus dan Wirosoeseno) sementara kisah  kehidupan Sang Raja Kretek sendiri hanya selewat saja dan terkesan hanya sekedar disisipkan diantara kisah pabrik dan kisah penutur. 

Terlepas dari hal di terbitnya novel Sang Raja patut diapresiasi setinggi-tingginya karena novel ini mengangkat tema tentang sejarah awal berdirinya  industri rokok kretek, salah satu industri warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang sudah mengakar turun temurun sehingga tak bisa dilepaskan dari sejarah dan budaya bangsa Indonesia.

Nitisemito adalah tokoh dunia usaha yang inspriratif dimasa kaum pribumi banyak bergantung pada pengusaha Eropa. Nitisemito, seorang pribumi buta huruf di kota kecil Kudus mampu menjadi pengusaha sukses yang setara dengan pengusaha-pengusaha Eropa di masa itu dimana ia menjadi tumpuan puluhan ribu karyawannya. Pengalaman hidupnya yang tertuang dalam novel ini layak jadi ilham dan panutan bagi generasi-generasi sesudahnya.

Satu hal yang tak kalah menarik adalah diterbitkannya novel ini dalam dua versi cover (merah dan hijau) dimana para pembaca diberi kebebasan untuk memilih cover mana yang disukainya. Sepertinya penggunaan dua warna cover yang berbeda untuk sekali terbitan ini baru pertama kalinya dilakukan di ranah perbukuan Nasional.



@htanzil

Tuesday, November 14, 2017

Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe 1930-1950

[No. 377]
Judul : Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe 1930-1950
Penulis : Sudarsono Katam
Penerbit : Pustaka Jaya
Cetakan : I, Maret 2017
Tebal : 154 hlm
ISBN : 978-979-419-461-4

 Jalan Braga adalah jalan  yang paling terkenal di kota Bandung. Jalan sepanjang 700 meter ini  telah ada sejak ratusan tahun yang lampau.  Bermula dari jalan kecil becek yang hanya dilewati pedati sehingga diberi nama Karrenweg (jalan pedati) secara bertahap menjelma menjadi sebuah kawasan pertokoan termegah di Hindia Belanda pada kwartal pertama abad ke 19.

Hingga kini masih banyak bangunan-bangunan kuno bersejarah yang masih tegak berdiri sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal dan mancanegara. Walau kini tidak semegah masa lalunya, Braga tetap menjadi kawasan ikonik dan melegenda di kota Bandung sehingga tetap menjadi salah satu tujuan wisata  bagi mereka yang berkunjung ke kota Bandung. 

Buku Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe  karya Sudarsono Katam, penulis buku-buku tentang Bandung ini mencoba mendokumentasikan perkembangan kawasan sepanjang Braga dengan menyajikan  ratusan foto bangunan/toko-toko, potongan iklan yang pernah ada di Braga di masa-masa kejayaannya di tahun 1930-an hingga tahun 1950. Tidak hanya foto-foto, penulis juga memberikan keterangan dengan sangat lugas dan informatif.

Bagian pertama buku ini menyajikan penjelasan mengenai nama Braga yang hingga kini masih belum jelas asal usulnya, M.A. Salmoen, sastrawan Sunda berpendapat bahwa kata Braga diambil dari kata 'baraga' yang artinya jalan di tengah persawahan yang menyusur sungai karena awalnya kawasan Braga merupakan areal persawahan yang dilalui oleh sungai Cikapundung. Hal ini juga dikatakan oleh Haryoto Kunto yang mengatakan bahwa kata Braga diambil dari 'ngabaraga' yang artinya berjalan menyusuri sungai. 

Masih menurut Haryoto Kunto dalam bukunya "Wajah Bandoeng Tempo Doeloe", nama Karrenweg berubah menjadi Bragaweg akibat ketenaran perkumpulan tonel bernama Toneelvereneging Braga yang didirikan pada tahun 1882 di Karrenweg. Masyarakat Bandung mengagumi toneel ini sehingga menyebut Karrenweg sebagai Bragaweg dalam pembicaraan sehari-hari.

Di bab selanjutnya dijelaskan bahwa sebelum menjadi kawasan pertokoan, kawasan Braga merupakan kawasan perumahan. Toko pertama di Braga  didirikan pada 1894 oleh C.A. Hellerman yang hingga kini bekas bangunannya masih ada. Toko C.A. Hellerman menjual senjata api, kereta kuda, sepeda dan juga menyediakan reparasi senjata. Kehadiran toko CA. Hallerman kemudian diikuti oleh beberapa toko lainnya sehingga merubah kawasan Braga yang tadinya merupakan kawasan perumahan menjadi pertokoan.Dari tahun ke tahun Bragaweg semakin berkembang pesat terutama karena munculnya rencana pemindahan Ibu Kota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung. 

Bragaweg yang kemudian menjadi pusat belanja barang mewah, eksklusif dan tempat bersantai para Preangerplanters, raja perkebunan mencapai puncaknya pada tahun 1930-an sehingga menjadi daya tarik para wisatawan asing serta merupakan salah satu unsur Kota Bandung mendapat julukan Parijs van Java. Kawasan Braga. Sedangkan  untuk kawasan Bragaweg mendapat julukan De meest Eropeesche winkelstraat van Indie (Kompleks pertokoan Eropa paling terkemuka di Hindia Belanda) 

Setelah membaca tuturan penulis tentang metamorfosis Braga dari kawasan perumahan menjadi pertokoan eksklusif yang juga dilengkapi dengan foto-foto lawas, secara berurutan buku ini mengajak pembacanya menelusuri Braga mulai dari Simpang Grote Postweg - Naripanweg - Gang Coorde - Bengkel Fuchs en Rens - Oud Hospitalweg.

Hampir semua toko yang pernah ada di sepanjang jalan Braga dari tahun 1930-150 dijelaskan  baik melalui narasi, foto-foto, maupun potongan iklan-iklan yang pernah dimuat di media cetak. Ada beberapa hal yang menarik yang dapat kita temui di bagian ini antara lain tentang Optik Kurt Shcasser & Co yang kemudian  menjadi A. Kasoem Optik. Di bagian ini dikisahkan sedikit tentang riwayat A. Kasoem (Atjoem Kasoem) yang pernah belajar tentang kacamata langsung dari Kurt Kascher hingga akhirnya menjadi pengusaha pribumi pertama yang membuka toko di Bragaweg.

Selain itu Satu hal yang menjadi pionir di kawasan Braga  adalah tercatatnya toko Java Store di
Dj. Braga 29A sebagai toko pertama di Bandung yang menghadirkan mesin fotocopy bermerek American Photocopy Company (Apeco) pada akhir tahun 1960-an.

Keeksklusifan toko-toko di Bragaweg terungkap dalam buku ini antara lain Toko Au Bon Marche yang menyediakan gaun-gaun mewah wanita dengan model terbaru dari Paris, Perancis, restoran Maison Borgerijen (sekarang Braga Permai) yang merupakan restoran satu-satunya di Hindia Belanda yang diberi izin untuk membuat kue khas kerajaan Belanda yaitu Koningin Emma Tart dan Willhelmina Taart. Lalu ada juga toko bunga terkenal  yaitu toko bunga Abuntandia yang penerima pesanan untuk mengirm bunga ke Istana Gubernur Jenderal Hindia Belada di Etlevreden (Gambir) Batavia setiap hari  menggunakan kereta api atau pesawat udara sejak tahun 1925 sampai tahun 1942.


( halaman dalam buku, foto dan keterangan yang informatif )

Di buku ini juga penulis mengoreksi apa yang pernah ditulisnya di buku-buku sebelumnya. Selain itu ada juga koreksi atas apa yang ditulis oleh Haryoto Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe yang menyatakan bahwa di lokasi bekas Gudang Garam yang terbakar habis sekitar tahun 1910 didirikan gedung de Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia). Berdasarkan foto yang terdapat dalam buku ini terungkap bahwa sebenarnya  Gudang Garam terletak di sisis selatan rel kereta api, jadi tidak dijadikan lahan pembanungan de Javache Bank. Setelah terbakar habis, Gudang Garam dibangun ulang.

Tidak sekedar menampilkan perkembangan Braga lewat foto dan keterangan yang informatif saja, di bagian akhir buku ini penulis mengemukakan kritik berupa pendapat dan usulannya terhadap kondisi Braga di masa kini dan  masa yang akan datang. Berikut  ide atau masukan dari penulis tentang Braga yang ditulis di buku ini:

Jadikan Braga sebagai pusat kota dan landmark Bandung yang bercirikan budaya dan bernuansa Sunda, sehingga para pengunjung kawasan Braga bisa berbangga barang eksklusif, kala letih bisa duduk santai dengan tenang menikmati  panganan dan masakan Sunda.....sambil diiringi kecapi suling atau angklung dan memilih cenderamata khas Bandung. (hlm 135)

Pada intinya buku ini mengungkap bagaimana perubahan Braga dari masa ke masa, bermula dari sebuah jalan kecil yang hanya dilewati pedati, berdebu dan becek yang secara bertahap berubah menjadi sebuah kawasan perumahan lalu menjadi kawasan pertokoan termegah di kota Bandung bahkan di Hindia Belanda pada masanya.

Metamorfosa Braga ini tidak dapat dipisahkan dari dinamika kota Bandung dan merupakan sejarah kecil (petite historie) Kota Bandung, karenanya kehadiran buku ini sangat bermanfaat sebagai dokumentasi kawasan Braga dan bahan kajian bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Selain itu buku ini tentunya semakin memperkaya literatur tentang kota Bandung pada umumnya dan kawasan Braga pada khususnya.

@htanzil

Tuesday, September 05, 2017

SEPOER OEAP DI DJAWA TEMPO DOELOE

[No. 376]
Judul : Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe
Penulis : Olivier Johannes Raap
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : I, Juli 2017
Tebal :xx +271 hlm; 19 cm x 24 cm
ISBN : 978-602-424-369-2

Membicarakan sistem transportasi masal antar kota, antar provinsi di pulau Jawa tidak dapat dilepaskan dari kereta api, moda transportasi jarak jauh masal yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Kereta api di pulau Jawa sendiri telah memiliki sejarah yang sangat panjang. Hampir semua jalur kereta api yang kini digunakan merupakan jalur yang telah ada semenjak abad ke 19 yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda.

Jalur kereta api pertama di Indonesia dibuat di pulau Jawa pada tahun 1867 dengan rute Semarang - Tanggung yang berjarak 26 km yang dibangun oleh perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij (NIS) / Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda. Di kemudian hari akan muncul perusahaan-perusahaan perkeretaapian lainnya. Salah satu yang akan mendominasi adalah perusahaan kereta negara Staats Spoorwagen (SS) yang kelak akan dinasionalisasi menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) yang kemudian sekarang menjadi PT Kereta Indonesia (PT KAI)

Awalnya kereta api pertama  menggunakan tenaga uap yang dalam bahasa Belanda disebut spoor yang sebenarnya artinya adalah jalur kereta api. Namun bagi orang Jawa spoor diartikan sebagai kereta api yang kemudian oleh orang lidah orang Jawa  menjadi kosa kata baru, yaitu sepur. Buku ini mencoba menyelusuri keberadaan sepur uap/kereta api uap di Jawa tempo dulu melalui kartu pos yang terbit mulai dari thn 1900-an hingga berakhirnya era lokomotif uap di  tahun 1970an.

Buku yang memuat ratusan lembar kartu pos bergambar kereta api disertai deskripsi singkat namun informatif  tentang apa yang ada tiap lembar kartu pos  ini dibagi dalam 17 bab. Sebelum menyajikan uraian tentang kartu pos, penulis mengawalinya dengan sebuah pengantar tentang apa itu Sepur, sejarah awal perkembangan kereta api di Jawa berserta jaringannya, tempat pemberhentian kereta (stasiun, halte, stooplaats), jenis lokomotif, tentang kartu pos (produsen, perangko, cap pos), dan lain-lain.

Penyusunan buku ini dibagi berdasarkan lintas dan jaringan terbatas, yang dibangun di masa awal perkembangan kereta api oleh perusahaan kereta api yang beroperasi pada zaman itu dimana semua perusahaan memiliki sejarah dan sifat tersendiri yang menarik untuk didalami. Dengan demikian melalui ratusan kartu pos yang disusun secara komprehensif oleh penulisnya kita akan mendapatkan sejarah perkerataapian di Jawa melalui  kartu pos. Tak hanya kereta, penulis juga menyajikan bab khusus mengenai kartu pos bergambar  trem (kereta api ringan) yang ada di Pulau Jawa.

Dari setiap narasi yang ada di tiap lembar kartu pos kita akan melihat bagaimana penulis memiliki pengetahuan yang cukup mendalam akan sejarah dan jenis-jenis kereta api uap tempo dulu disertai pengamatan yang sangat jeli ketika mendeskripsikannya. Saking jelinya penulis bisa melihat dan menuliskan kode lokomotif, nama bangunan, dan menarasikan  semua hal-hal detail yang mungkin luput dari pengamatan kita.

Berdasarkan riset dan pengetahuannya, penulis juga mengoreksi keterangan yang salah yang tercetak di beberapa lembar kartu pos, misalnya salah penulisan lokasi, jurusan kereta api, dan sebagainya.  Tidak hanya itu, keterangan masih dibuka tidaknya  jalurnya kereta api, sejak dan sampai kapan lokomotif beroperasi, pabrik pembuatnya, dan di mana  lokomotif tua itu kini disimpan ada dalam setiap keterangannya. 

Ada berbagai hal menarik yang bisa diamati dalam kartu-kartu pos dalam buku ini, antara lain kartu pos bergambar stasiun Pasuruan yang dibuka pada 1878, stasiun tertua di Indonesia yang hingga kini masih aktif dan dilestarikan dalam keadaan aslinya. 

Stasiun Pasuruan dulu (kartu pos 1900an) dan sekarang


Selain menggambarkan  bangunan stasiun, kereta api, jembatan kereta api, lanskap indah jalur kereta, dan sebagainya, penulis juga menyajikan kartu pos bergambar kecelakaan kereta. Ada dua kartu pos bertema kecelakaan kereta yang tersaji dalam buku ini. Hal ini  menginformasikan pada kita bahwa di masa lampau kartu pos juga dapat berfungsi sebagai  sebuah berita dalam bentuk foto.

Kartu Pos Lokomotif terbalik (1920)

Dalam buku ini pada kartu pos Stasiun Semarang Jurnatan  terungkap juga bangunan Rijwielfabriek "Insulinde"  pabrik sepeda pertama di Hindia Belanda yang letaknya berdekatan dengan Stasiun Jurnatan. Pada keterangan kartu pos Stasiun Solo Jebres  terungkap bahwa stasiun Jebres juga dikenal sebagai Stasiun Solo Kraton dimana terdapat ruang tunggu khusus untuk Sri Sunan.

Pabrik Sepeda pertama di Hindia Belanda

Sebagian besar kartu pos dalam buku ini tersaji dengan warna sephia dan hitam putih namun ada pula beberapa kartu pos  berwarna sesuai dengan aslinya. Semuanya tercetak dengan sangat baik di atas kertas art paper yang mengkilap sehingga membuat  semua foto dalam buku ini menjadi tajam dan dikemudian hari kelak akan lebih awet tanpa terdistorsi oleh jamur, kelembapan, dll seperti jika dicetak menggunakan kertas biasa.

Sebagai sebuah buku yang secara spesifik menyajikan kartu pos bergambar kereta uap jaman dulu tentunya buku ini memberikan sebuah sumbangsih besar bagi pemerhati dan  pecinta kereta api khususnya kereta api uap tempo dulu.  Buku ini juga bisa menjadi  pelengkap buku-buku sejarah kereta api di Indonesia. Dan bagi mereka yang tergabung dalam komunitas heritage kereta api dan penelusur jalur-jalur kereta api yang sudah tidak aktif buku ini bisa menjadi sebuah panduan untuk penjelajahan mereka. 

Saat ini kartu-kartu pos kuno dari Indonesia menjadi barang yang sangat langka untuk diperoleh. Generasi orang yang yang dahulu pernah menerima dan menyimpan kartu pos mulai punah. Kalaupun ada mungkin hanya sedikit yang memilikinya sehingga generasi sekarang dan yang akan datang akan sulit menemukan atau bahkan sekedar melihatnya saja.

Apa yang dilakukan oleh penulis patut diapresiasi setinggi-tingginya. Sebagai seorang kolektor kartu pos kuno ia tidak hanya ingin menikmati sendiri ribuan koleksinya. Ia bagikan kartu-kartu posnya lewat buku-bukunya sehingga generasi kini dan generasi yang akan datang bisa mengetahui, mengenal bahwa kartu pos pernah begitu populer sebagai sebuah alat komunikasi. Tidak itu saja, melalui kartu pos kita juga bisa belajar dan mengenal sejarah yang terekam dalam tiap lembarnya.

Buku Sepoer Oeap di Djawa Tempo doeloe ini  adalah buku ke 4 Olivier  Johannes Raap, kolektor ribuan kartu pos kuno bertema Jawa yang sebelumnya telah menebitkan buku-buku sejenis (buku tentang kartu pos) yaitu Pekerja di Djawa Tempo Doeloe (2013), Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe (2013), Kota di Djawa Tempo Doeloe (2015). 

 @htanzil

Tuesday, May 16, 2017

SERBU! Pengisahan Belanja Buku

[No. 375]
Judul : SERBU! Pengisahan Belanja Buku
Editor : Bandung Mawardi
Penerbit : Bilik Literasi
Cetakan : I, Maret 2017
Tebal : 120 hlm
ISBN : 978-602-609-6302

Bagi para penggila buku, berbelanja buku ibarat berburu harta karun. Hasrat untuk memperoleh buku dengan harga murah adalah hasrat yang tak akan pernah padam. Apapun akan mereka usahakan, kalau perlu berkorban dengan memotong anggaran untuk membeli baju, makan, dll asal buku-buku yang dicari terbeli.

Kisah reportase bagaimana para penggila buku, para essais muda yang tergabung dalam komunitas Bilik Literasi - Solo  ketika  berburu buku di Blok M Jakarta tertuang dalam buku ini.  Masing-masing menulis dengan gaya dan sudut pandangnya masing-masing bagaimana pengorbanan mereka dan bagaima keseruan mereka saling adu cepat berebut buku ketika mereka berada di lapak buku yang sama.

Buku-buku yang mereka buru bukanlah buku-buku baru melainkan buku-buku lawas yang mungkin sudah lama disingkirkan dari display toko-toko buku besar. Tidak heran perburuan buku yang mereka alami adalah perburuan yang menegangkan karena untuk satu judul jumlahnya sangat terbatas atau bahkan mungkin hanya ada satu ekslempar saja. Untuk itu harus saling berlomba cepat untuk mengambil sebuah buku yang sama-sama menjadi incaran mereka.

Belanja buku bareng kawan-kawan Bilik Literasi selalu membahagiakan sekaligus menegangkan. Selalu saja penuh tarik ulur buku-buku apik yang ketersediaannya terbatas. Senggol kanan-kiri, rebutan buku edisi yang  mungkin tak cetak ulang lagi
(hlm 101-102)

Kesepuluh essais yg berburu buku di Blok M ini bukanlah orang-orang yang berkelebihan secara materi, mereka harus mengatur anggaran sehari-hari agar dapat menyisihkan sejumlah uang untuk membeli buku. Bahkan ada yang hanya bermodalkan 50 ribu  ruipah saja. Namun hal ini tidak menghalangi antusiasme mereka untuk berbelanja buku karena bagi mereka buku adalah sebuah kebutuhan utama agar mereka bisa menulis essai di koran atau majalah.

Karena dikisahkan secara personal, jujur, dan apa adanya maka kesepuluh kisah dalam buku ini menjadi begitu bersahaja dan menarik bahkan menginsporasi karena tak jarang beberapa quote menarik terselip di dalam keseruan pengalaman mereka berburu  misalnya apa yang diungkapkan oleh Hanputro Widyono tentang bagaimana dia bersama komunitas Bilik Literasi memuliakan buku:

Tampaknya bukan cara kami untuk "memuliakan" buku dengan menaruhnya di rak-rak besar nan mewah. Membuat buku lebih mirip barang pajangan. Apalagi kalau rak berbentuk lemari kaca yang berada di ruang tamu. Ah itu mirip laku intelektuil-intelektuil kelas wahid. Sedangkan kami, selalu didambakan tetap menjadi "amatir": penulis esais, peresensi amatir......agar kami tetap merasa bodoh dan tak berhenti sinau (belajar) untuk semakin mengeri kebodohan diri sendiri. Kesederhanaan - boleh juga disebut juga kemiskinan -kami membuat satu-satunya cara yang mungkin untuk memuliakan buku yaitu lewat membaca dan menjadikannya referensi 
menggarapan essai. 
 (hlm 31)

 atau bagaimana Mutimmatun Nadhifah dalam tulisan berjudul Pada Suatu Hari, Sekardus Buku: yang menulis bahwa 

Belanja buku adalah bekal menjadi perempuan bercerita. Aku tak ingin memiliki nasib buruk karena tak menjadi pembaca buku dan cukup bahagia menjadi bagian jamaah pengajian, peserta seminar kampus, tapi ditanya soal feature malah menjawab baru dengar 
(hlm. 18).

Selain kisah  berburu buku, masing-masing penulis juga dengan bangga melaporkan buku-buku apa saja yang mereka peroleh beserta beberapa foto cover buku dan  sedikit ulasan atau pertanggungjawaban mengapa mereka membeli buku-buku tersebut. Hal ini membut buku ini menjadi semakin bermanfaat bagi para pembaca buku karena sangat mungkin  beberapa buku  yang mereka beli adalah buku yang sedang kita butuhkan. Walau semua yang dibeli adalah buku-buku lawas beberapa diantaranya mungkin saja baru kita ketahui atau sudah kita lupakan karena derasnya buku-buku baru bermunculan di toko-toko buku.

Akhir kita seluruh  kisah kesepuluh pemburu buku yang ditulis dengan antusiasme yang menggebu-gebu  ini akan membuat pembaca yang doyan buku terhanyut dalam serunya mereka berbelanja. Buku ini adalah catatan reportase kecil yang sayang untuk diabaikan. Lewat buku ini kita akan melihat bagaimana semangat juang mereka berburu buku.  Selain itu, yang lebih penting, belanja buku bagi mereka bukan sekedar memuaskan hasrat mereka untuk  mengoleksi buku saja, namun buku-buku tersebut akan mereka baca dan jadikan sebagai sumber referensi bagi essai-essai yang akan mereka tulis dan mereka kirimkan ke berbagai koran dan majalah. 

Apa yang mereka lakukan terhadap buku adalah sebuah teladan berharga bagaimana seharusnya kita memuliakan buku.

@htanzil