Monday, March 02, 2015

Dari Villa Isola ke Bumi Siliwangi

[No. 351]
Judul : Dari Villa Isola ke Bumi Siliwangi
Penulis : Sudarsono Katam & Lulus Abadi
Penerbit : Pustaka Jaya
Cetakan : I, Januari, 2015
Tebal : 134 hlm
ISBN : 978-979-419-437-9


Villa Isola adalah salah satu bangunan terindah peninggalan era kolonial yang hingga kini masih tegak berdiri dengan megahnya. Di balik kemegahannya, bangunan yang selesai dibangun pada tahun 1933  ini ternyata menyimpan sejarah panjang dan kemisteriusan pemilik pertamanya, D.W. Barrety yang meninggal secara tragis setahun setelah rampungnya villa tersebut.

Sejarah panjang Villa Isola (villa terpencil) sejak awal dibangun hingga kini bernama Bumi Siliwangi plus kisah tragis D.W Barrety ini terdapat dalam buku ini. Secara sistematis penulis memulai buku ini ke dalam delapan bagian, dimulai dari Lokasi Villa Isola di masa Hindia Belanda, lalu tentang Rancang Bangun Villa Isola dimana di bagian ini dibahas segi arsitektural bangunannya yang unik dan mendahului zamannya yaitu gaya Streamline Art Deco dengan elemen art deco (Art Deco dengan lengkungan Streamline) rancangan  CP. Wolff Schoemaker yang membuka jalan bagi A.F Aalbers untuk membuat Savoy Homan sebagai salah satu  karya monumentalnya. Di bagian ini juga secara deskriptif penulis menginformasikan ruangan-ruangan yang ada  di tiap lantainya beserta taman-taman yang mengelilinginya.

Di bagian ketiga, buku ini menyajikan riwayat hidup pemilik Villa Isola, Dominique Willem Berretty (1890-1934) kelahiran Jogyakarta yang merupakan anak dari pasangan ayah berdarah Italia - Perancis dan ibu orang Jawa (Maria Salem). Berretty yang pernah bekerja sebagai jurnalis di Java Bode (1915) ini akhirnya mendirikan perusahaan jasa berita dan telegraf ANETA di Batavia yang membuatnya menjadi seorang milyader dan  raja media yang paling berpengaruh di Hindia Belanda karena kemampuannya memonopoli berita-berita di Hindia Belanda saat itu . Berretty adalah orang yang sangat energik, tidak saja dalam kehidupan bisnisnya , tetapi juga kehidupan pribadinya. Antara tahun 1912-1934 ia enam kali menikah dan mempunyai lima anak.

Gosip-gosip tentang D.W. Berretty yang flamboyan serta gaya hidupnya yang mewah, pergaulannya yang luas dan dikelilingi oleh para wanita cantik membuat dirinya banyak digunjingkan orang. Karenanya di akhir bagian ini penulis mengetangahkan gosip-gosip tentang Berretty. Salah satu gosip yang sempat beredar adalah tentang salah seorang anak perempuannya yang bunuh diri dengan cara gantung diri di salah satu pohon besar di halaman Villa Isola. Sedangkan gosip yang paling sensasional mengatakan bahwa D.W. Berrety menjalin asmara dengan putri Gubernur Jendral B.C. de Jonge. Hubungan ini tidak direstui oleh de Jonge sehingga kelak menghadirkan spekulasi bahwa kematiannya Berrety ada kaitannya dengan hubungan terlarangnya dengan anak sang Gubernur Jenderal,. Dugaan bahwa kematian dalam kecelakaan pesawat sengaja dibuat juga dilandasi dugaan bahwa  Berretty adalah mata-mata Jepang.

Bagian ke empat yang berjudul Villa Isola berisi tentang sejarah pembangunan gedung. Dimulai dari peletakan batu pertama pada tanggal 12 Maret 1933 yang dihadiri oleh Wali Kota Bandung, Bupati Bandung, Penghulu Bandung, beberapa anggota Volksraad, dan pejabat-pejabat penting lainnya. Dengan waktu yang relatif singkat (Oktober 1932- Maret 1933/ 5 bulan) 700 buruh dikerahkan untuk menyelesaikan  gedung megah Villa Isola dengan luas 12.000 m di lahan seluas 7,5 ha. Namun gedung itu baru diresmikan delapan bulan setelah bangunan selesai, yaitu pada tanggal 18 Desember 1933.

"Sabtu malam tanggal 17 Desember 1933, di Villa Isola diadakan pesta makan malam mewah. Tamu-tamu yang diundang kebanyakan adalah orang-orang yang telah ikut andil dalam pembangunan Villa Isola dan dari media masa.... CP. Schoemaker sebagai arsitek bangunan memandu para tamu untuk berkeliling Villa Isola. Ruang makan, ruang tamu luas, kantor, dan ruangan besar lainnya memberikan kesan megah, membawa ketenangan. Dekorasi dinding dan mahkota Venesia yang indah dipilih dengan cermat sebagai penghias ruang adalah kunci yang memancarkan keramahan yang hangat.

Para tamu berjalan melalui kamar menginap tamu dan taman di atas atap yang bernuansa misterius diterangi obor dari kedua menara di kanan dan kirinya.... Para tamu kemudian memasuki ruang luas yang terdapat di bawah taman atap berada. Di sepanjang dinding ruangan terpajang lukisan yang indah karya pelukis Hindia Belanda dan pelukis asing yang terkenal. Di belakang sofa yang indah tergantung sebuah lukisan besar yang menyajikan panorama Villa Isola dilihat dari bagian timur dataran tinggi. Di sudut ruang terdapat pintu menuju ke sebuah bar yang nyaman." 
(hlm 30-31)

Setelah mendeskirpsikan suasana peletakan batu pertama, malam menjelang peresmian, dan peresmian gedung bagian ini juga menyuguhkan puluhan foto-foto panorama Villa Isola dari udara, eksterior bangunan dari berbagai sudut, interior dalam, dan foto-foto lingkungan dan taman-taman di sekitar bangunan.



Bagian ini ditutup dengan sub bab mengenai akhir nasib Isola paska meninggalnya Berretty. Villa Isola akhirnya dijual dan dimiliki oleh Hotel Homan.  Setelah Jepang mendarat di Pulau Jawa, Villa Isola dijadikan termpat tinggal dan kantor Komandan Divisi Tentara Hindia Belanda. Setelah itu berturut-turut Villa ini berganti fungsi yaitu  dijadikan markas tentara Jepang, kediaman sementara Jenderal Immamura, markas Kenpetai, museum kemenangan Jepang, markas tentara Sekutu, dan terbengkalai rusak parah selama masa revolusi kemerdekaan.

Bagian selanjutnya buku ini mengetengahkan riwayat Villa Isola yang berubah namanya menjadi Bumi Siliwangi setelah dibeli pemerintah (Kementerian P.P. dan K) seharga Rp. 1.500.000,- pada tahun 1954. Villa Isola akhirnya difungsikan sebagai tempat perkuliahan dan perkantoran Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Bandung (sekarang menjadi Universitas Pendidikan Indonesia/UPI). Pada upacara peresmian dan pembukaan PTPG tanggal 20 Oktober 1954 nama Bumi Siliwangi diresmikan sebagai pengganti nama Villa Isola oleh Mr. Muh. Yamin, menteri P.P dan K saat itu.

Di bagian ini dibahas dan disertakan foto-foto perbaikan dan pembangunan kembali Villa Isola dari yang tadinya hampir mirip puing akibat perang menjadi bangunan yang kembali megah. Walau ada beberapa perubahan untungnya semua dilakukan dengan mempertahankan kondisi aslinya sehingga walau interior dalam banyak berubah namun eksterior bangunan tetap dipertahankan sesuai aslinya kecuali adanya penambahan bangunan baru di bekas taman di atap Villa Isola.

Dua bagian akhir buku ini membahas bagaimana pada tahun 2010 UPI memulai sebuah pekerjaan besar, yaitu menata kembali lingkungan Bumi Siliwangi dengan tujuan untuk  mengembalikan Bumi Siliwangi yang asri seperti ketika masih bernama Villa Isola. Buku ini ditutup dengan bab reflektif berjudul Villa Isola Karya Monumental yang hingga kini tetap menjadi salah satu ikon kota Bandung.

Sebagai tambahan buku ini juga menyajikan galeri beberapa  foto-foto berwarna Villa Isola tahun 2011 jepretan Lulus Abadi yang artistik.



Sebelum buku ini sebenarnya sudah ada buku lain tentang Villa Isola dengan judul yang hampir sama dengan buku ini yaitu Dari Isola ke Bumi Siliwangi - Menyusuri Jejak-jejak PTPG FKIP Unpad, IKIP Bandung Rudini Sirait, dkk (Komodo Books, 2011), namun buku tersebut tidak membahas Villa Isola secara khusus melainkan tentang sejarah panjang PTPG hingga Universitas Pendidikan Indonesia.

Sebagai sebuah buku yang membahas sejarah Villa Isola beserta kisah pemiliknya buku ini bisa dikatakan cukup lengkap.  Sayangnya di buku ini tidak diinformasikan siapa yang memberi nama Bumi Siliwangi setelah gedung ini menjadi bagian dari PTPG padahal nama tersebut merupakan bagian dari sejarah gedung ini. Nama Bumi Siliwangi ini diambil dari soneta Bumi Siliwangi karya  Mr. Muh. Yamin yang dibacakan di akhir pidato peresmian bangunan ini di tahun 1954.

Bumi Siliwangi

Dari bumi indah dan permai
Waktu siang pembukaan raya
Tampak Parahiangan bergunung sungai
Dipagari bukit dataran bertjahaja.
Waktu kelam ditinggalkan matahari
Kemarin malam pernah kemari
Sinar seminar di kaki bumi
Mandi cahaja lampu berseri.
Siang malam meriah melimpah
Bumi Siliwangi landjutan sedjarah
Di tengah alam gembira meriah.
Wahai pemuda harapan bangsa
Menuntut ilmu radjinlah senantiasa
Agar nanti menjuluhi masa 

(Pikiran Rakjat, 21/10/1954)

Selain itu kisah bagaimana Villa Isola di jaman revolusi kemerdekaan hanya dibahas sekilas padahal ada beberapa hal penting yang bisa diinformasikan lebih rinci lagi saat gedung ini dipakai oleh pejuang-pejuang kemerdekaan untuk menghalau tentara sekutu sehingga nilai kesejarahan gedung ini akan semakin berharga dan dapat diketahui oleh generasi sekarang.

Terlepas dari kekurangannya buku ini bisa dipakai sebagai buku rujukan bagi mereka yang ingin mengetahui sejarah salah satu ikon kota Bandung yang megah dan monumental. Selain itu adanya  ratusan foto-foto lama maupun baru dengan kualitas cetak yang bagus merupakan sebuah usaha yang sangat layak mendapat apresiasi positif karena dengan demikian ratusan foto-foto Villa Isola yang selama ini terserak di berbagai media cetak dan online kini terkumpul dalam sebuah buku yang kaya akan informasi.

@htanzil

Monday, February 16, 2015

Gunung Padang : Penelitian Situs dan Temuan Menakjubkan by Hermawan Aksan

[No. 350]
Judul : Gunung Padang, Penelitian Situs dan Temuan Menakjubkan
Penulis : Hermawan Aksan
Penerbit : Nuansa Cendekia
Cetakan : I, Januari 2015
Tebal : 281 hlm

Situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat adalah situs megalitik terbesar di Asia Tenggara yang dalam empat tahun terakhir (2010-2014) ini menjadi buah bibir bagi para ahli dan masyarakat umum hingga ke mancanegara. Hal ini dikarenakan temuan-temuan penelitian Tim Terpadu Riset Mandiri yang menyatakan bahwa situs ini adalah bagian dari sebuah Piramida tersembunyi telah dipublikasi di media cetak dan onlen  secara luas.

Keberadaan situs megalitik Gunung Padang berbentuk punden berundak ini diduga kuat sudah diketahui sejak 4 abad yang lampau. Di awal abad ke-16, Bujangga Manik, seorang bangsawan kerajaan Sunda (Pajajaran) menulis sebuah sajak dalam bahasa Sunda Kuno yang merujuk sebuah tempat yang mirip dengan penggambaran kondisi Gunung Padang. Di tahun 1891, Rogier Diederik Marius Verbeek dalam bukunya Oudheden van Java memuat laporan De-Corte tentang Gunung Padang. NJ. Krom seorang ahli kepurbaklaaan Belanda pada tahun 1914 dalam bukunya yang berjudul Rapporten Oudheidkundige Dienst juga telah mendeskirpsikan situs ini. Di era modern setelah Indonesia merdeka pada 1979 untuk pertama kalinya dilakukan peninjauan dan ekskavasi oleh D.D Bintari dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang dilanjutkan dengan penelitian hingga tahun 1982. Hingga tahun 2011 telah dilakukan sejumlah peneliitian, survei,ekskavasi, analisa, dll oleh Balai Arkeologi Bandung, Tim Katastropik Purba 
Dari semua tulisan penelitian diatas tidak satupun yang mengungkap kefenomenalan situs Gunung Padang selain adanya situs megalitik berbentuk punden berundak di puncak gunung Padang sebagai tempat pemujaan. Pada tahun 2010-2014 setelah Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) yang digagas oleh Andi Arief (staf khusus kepresidenan RI di masa pemerintahan SBY) barulah terungkap bahwa situs Gunung Padang yang ada sekarang adalah puncak dari sebuah peradaban tinggi masa lampau berbentuk Piramida yang diperkirakan 10 kali lebih besar dari Borobudur yang dibangun tahun 16.000 SM sehingga usianya jauh  lebih tua dari  Piramida Giza di Mesir yang dibangun pada tahun 2.584 SM.







Seluruh hasil penlitian dan temuan menakjubkan dari tim tersebut kerap dipublikasikan kepada umum dan dimuat di berbagai media. Karena terungkapnya hal-hal yang mencengangkan maka tidak heran temuan-temuan dari tim ini menimbulkan kontroversi dan polemik dari para arkelog di luar tim yang mencoba mematahkan pendapat tim tersebut.

Apa saja hasil temuan TTRM yang menghebohkan beserta polemiknya  itu kini bisa dibaca di Buku Gunung Padang, Penelitian Situs dan Temuan Menakjubkan yang ditulis oleh Hermawan Aksan. Jurnalis senior ini mencoba merekam hasil kerja tim dengan cara meliput hasil penelitian secara langsung di sana. Mengumpulkan arsip-arsip berita dan  laporan para peneliti, serta melakukan wawancara kepada para peneliti dan nara sumber lain seperti penduduk, pejabat daerah setempat, juru kunci Gn Padang, dll

Buku yang ditulis secara jurnalistik ini dibagi dalam delapan bagian. Di bagian pertama penulis mendeskripsikan keberadaan situs Gunung Padang mulai dari lokasinya termasuk rute bagaimana kita bisa mencapai situs yang kini telah menjadi obyek wisata ini. Di bagian ini juga dideskripsikan kelima teras situs Gunung Padang secara detail termasuk sejumlah cerita rakyat dan mitos yang masih menyelimuti Gunung Padang seperti tempat bersemayam Prabu Siliwangi, tempat melihat bintang, misteri harta karun, piramida, dll.

Bagian kedua dan ketiga berisi sejarah penemuan situs Gunung Padang dan bagaimana tim Katostropik Purba yang kemudian dilanjutkan oleh Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) membedah situs ini melalui berbagai survei dan eksavasi dengan  melibatkan metode dan para ahli dari 19 disiplin ilmu. Seluruh profil singkat anggota tim ini juga disertakan di bagian ini.  Hasil penelitian Tim Katostropiok Purba,yang kemudian dilanjutkan TTRM ini dilaporkan secara berkala kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang laporannya secara utuh terdapat di bagian ketiga buku ini.

Bagian keempat secara khusus mengetengahkan kontroversi dan polemik hasil penelitian TTRM yang disanggah oleh berbagai kalangan, puncaknya adalah dikeluarkannya petisi pada tanggal 29 April 2013 untuk mengenghentikan penelitian situs Gunung Padang oleh kelompok Forum Pelestarian Gunung Padang yang ditandatangani oleh 34 peneliti dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Kelompok Riset Cekungan Bandung, dan Himpunan Ahli Geofisika Indonesia dimana sebagian besar dari mereka adalah para peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas).

Menurut mereka apa yang dilakukan TTRM Gunung Padang berupa eksavasi besar-besaran mengancam kelestarian Gunung Padang karena menggunakan tenaga yang tidak terlatih. Selain itu mereka juga menilai penelitian yang dilakukan TTRM dilaksanakan tanpa kaidag-kaidah keilmuan, wawasan pelestarian, dan ketentuan administrasi sesuai dengan izin yang dikeluarkan oleh karena itu dalam petisinya mereka menghimbau pemerintah untuk menghentikan penelitian TTRM.

Temuan-temuan yang dihasilkan oleh TTRM disajikan secara lengkap di bagian kelima dan keenam buku ini. Di dua bagian ini kita akan melihat analisa dan temuan-temuan  menarik seperti hasil uji carbon usia lapisan tanah Gunung Padang yang ternyata berusia belasan ribu tahun SM,  skala gunung padang yang dibuat oleh Ir. Pon Purajatmika, seorang arsitek yang tergabung dalam tim mandiri yang memvisualkan kemegahan dan kebesaran situs Gunung Padang yang ia yakini bahwa situs Gunung Padang bukan hanya punden berundak yang hanya berada di puncak gunung saja melainkan meliputi seluruh bagian gunung. Lalu ada pula temuan mengenai keberadaan struktur bangunan di bawah situs, adanya semen purba untuk mengikat batu, indikasi adanya teknologi metalurgi purba, dugaan adanya ruang dan lorong di bawah situs gunung Padang, temuan batu berbentuk kujang, amulet, ratusan artefak,  dll.












(Kiri : Sketsa imajiner yg dibuat Ir. Pom Purajatmika.  Kanan : Struktur G. Padang oleh TTRM)

Di Bagian tujuh, buku ini memuat secara utuh resume laporan kegiatan peneliatian TTRM/Tim Nasional Pelestarian dan Pengolahan Gunung Padang bersama Karya Bakti TNI kepada Presiden SBY dan tanggapan Presiden SBY atas laporan tersebut. Selain itu di bagian ini ada juga poin-poin hasil penelitian yang disampaikan kepada Presiden. Diantara 22 poin yang disampaikan ada satu poin menarik yang tentunya membuat kita penasaran yaitu :



Temuan apakah itu? mari kita bersabar hingga pada saatnya nanti temuan rahasia tersebut dibuka bagi seluruh masyarakat. Buku ini ditutup di bagian ke delapan dengan bahasan mengenai misteri yang masih menyelimuti Gunung Padang yaitu apa sebenarnya gunung padang, kapan dibangun?, siapa yang membangun, dan untuk apa dibangun?.

Secara umum buku ini sangat informatif bagi mereka yang ingin mengetahui tentang situs Gunung Padang lengkap dengan temuan ilmiah plus segala misteri dan polemiknya. Di buku ini penulis berupaya menyajikan polemik Gunung Padang secara obyektif. Pendapat dari tim dan kelompok yang menyanggahnya disajikan secara seimbang, setiap bantahan terhadap hasil kerja tim disertakan juga pembelaannya. Namun tampaknya dalam menyusun buku ini penulis tidak berinteraksi atau melakukan wawancara secara langsung dengan kelompok yang menyanggah (mohon dikoreksi kalau salah), padahal kalau penulis melakukan wawancara khusus dan menyajikannya secara khusus dalam buku ini tentunya sisi polemik dari penelitian situs ini akan semakin lengkap dan berimbang.  

Sebelum buku ini terbit, sebetulnya sudah ada buku tentang Gunung Padang berjudul Situs Gunung Padang, Misteri dan Arkeologinya (Change Publication, 2014) yang ditulis oleh Dr. Ali Akbar, Arkeolog UI, ketua Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM). Namun tampaknya buku tersebut lebih bernuansa ilmiah dimana salah satu tujuan ditulisnya buku tersebut antara lain agar dapat dijadikan panduan bagi para arkeolog yang nantinya akan melanjutkan penelitian Gunung Padang.

Sedangkan buku Gunung Padang yang ditulis oleh Hermawan Aksan ini tampaknya lebih mudah dipahami oleh pembaca awam karena ditulis dengan gaya populer. Istilah-istilah ilmiah memang tidak dapat dihindarkan namun penulis berhasil menyajikannya dalam kalimat-kalimat yang mudah oleh dipahami masyarakat umum.

Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto hitam putih dan berwarna dengan kualitas yang baik sehingga pembaca bisa melihat secara visual berbagai temuan menarik dari tim TTRM.  Selain itu buku ini juga memuat sejumlah data penting seperti laporan tim kepada Presiden, isi petisi, serta polemik di media cetak dan online sehingga buku ini sangat kaya akan informasi penting mengenai situs Gunung Padang yang layak diketahui dan dikomunikasikan secara luas kepada masyarakat Indonesia.

@htanzil


Bonus Poster dari buku Gunung Padang

Thursday, January 22, 2015

Katastrofa by Jodhi Giriarso

[No. 349]
Judul : Katastrofa
Penulis : Jodhi Giriarso
Penerbit : Moka Media
Cetakan : I, 2014
Tebal : 348 hlm

Katastrofa secara harafiah berarti bencana atau malapetaka besar . Novel thriller fiksi ilmiah karya Jodhi Giarso ini memang terkait dengan sebuah peristiwa bencana besar yang bakal mengancam Indonesia yaitu meletusnya gunung berapi Tambora di Sumbawa. Sejarah mencatat Tambora pernah meletus secara dahsyat  pada tahun 1815  dimana letusannya sepuluh kali lebih besar dari Krakatau sehingga menyebabkan kehancuran lingkungan di sekitarnya secara dahsyat dengan jumlah korban lebih dari 92.000 orang.

Kono suara letusan gunung Tambora sampai terdengar hingga Sumatera, abunya menghalangi masuknya sinar matahari, secara global dampak yang ditimbulkan menyebabkan turunnya suhu bumi dan mengubah wajah dunia. Dampaknya terasa hingga Eropa, saat itu orang-orang di Eropa menyebutnya sebagai Tahun Tanpa Musim Panas, hal ini pula yang dikaitkan orang menjadi salah satu penyebab kekalahan Napoleon di Medan Perang.

Bagaimana mungkin Tambora yang sudah tertidur selama hampir 200 tahun ini bisa mengancam Indonesia kembali? lewat novel ini penulis mencoba memberikan penjelasan ilmiahnya. Di novel ini dikisahkan sekelompok orang mencoba melakukan suatu usaha ilmiah untuk membangunkan Tambora dari tidurnya dengan tujuan untuk mengatasi pemanasan global yang mengancam dunia. Bagaimana mungkin? di novel ini sekelompok orang tersebut percaya bahwa  cara paling efektif untuk menurunkan suhu bumi adalah dengan cara meletuskan Tambora sehingga suhu bumi akan turun seperti yang terjadi 200 tahun yang lampau.

"Sudah bukan rahasia lagi, bila berhubungan dengan pemanasan global, manusia adalah penyebab utamanya. Manusia memang penyakit kronis bagi bumi.... Sebuah solusi yang sangat masif bisa mengurangi jumlah manusia secara signifikan... pembantaian manusia" (hlm 283)

"Kita bisa merancang bencana di lempeng tektonik. Alat yang kami punya akan menghasilkan gempa di gunung api, dan ketika meletus, kita akan mengulangi letusan terbesar yang pernah direkam oleh sejarah - seperti pada 1815...Sebuah letusan terbesar di dunia akan menyebabkan beberapa bagian bumi tertutup awan hitam, sinar matahati akan terhalang...fotosintesis berhenti, manusia kelaparan, udara kotor, air tercemar, dan manusia akan mati. Tidak ada lagi pemanasan global. Yang perlu dilakukan hanya membuat sebuah bunker yang dapat menampuang orang-orang berguna selama setahun-dua tahun. Setelah itu orang-orang akan keluar dari bunker melihat matahari bersinar lagi, merasakan udara sejuk, dan air yang sudah tersaring dengan sendirinya. Dengan orang-orang terbaik, manusia bisa membangun kembali peradaban dari keping-keping kehancuran." (hlm 284)

Kaldera di Gn Tambora yang meletus 200 thn yang lalu

Novel ini tidak hanya mengisahkan rencana peletusan gunung saja, di awal kisah kita akan disuguhkan dengan kisah terjadinya pembunuhan terhadap dua warga negara asing di sekitar Pindad (Pusat Perindustrian Angkatan Darat / pabrik senjata) di Bandung. Selain itu ada pula tentang kasus hilangnya seorang Profesor kebumian,  soal geng motor Bandung yang memang menjadi sebuah fenomena dunia kriminal di Bandung beberapa tahun belakang ini. Kemudian ada pula soal distribusi senjata ilegal, konspirasi politik perebutan kekuasaan dari sebuah dinasti keluarga pengusaha, dendam pribadi, kisah cinta, dll.  Awalnya semua kisah ini seakan berdiri sendiri, memulai dari berbagai tempat dan peristiwa berbeda namun pada akhirnya akan bertemu pada satu titik yang sama.

Semua kisah tersebut terangkai dalam sebuah plot yang menarik ala novel-novel trhiller sehingga membuat pembaca betah membaca novel setebal 347 halaman ini. Tidak hanya kisahnya yang menarik novel ini juga menyajikan materi-materi pengetahuan yang tentunya sangat bermanfaat bagi pembaca terutama tentang gunung berapi dan pemanasan global. Selain itu karena sebagian dari novel ini bersetting di Bandung maka terungkap pula fenomena-fenomena yang ada di Bandung seperti geng motor, tumbuhnya mall-mall dan factory outlet di Bandung yang melebur dalam kisah novel ini.

Yang membuat saya agak kesulitan membaca novel ini adalah adanya banyak tokoh-tokoh yang muncul di novel ini. Bagi yang pernah membaca karya penulis sebelumnya yaitu Konspirasi Nulir (2009) maka tokoh Youri dan Savo akan muncul lagi di buku ini. Selain itu ada banyak tokoh-tokoh lain yang bermunculan. Walau awalnya tampak sebagai tokoh figuran namun ternyata nanti semua tokoh yang muncul kelak akan saling bersinggungan. Tidak mudah mengigatnya, untuk itu  alangkah baiknya jika ada halaman khusus yang berisi keterangan singkat dari tokoh-tokoh yang ikut mewarnai novel. Hal ini tentunya akan memudahkan pembaca memahami dan mengingat para tokoh-tokoh dalam novel ini. 

Sepanjang pembacaan novel ini saya tidak menemukan kata "Katastrofa" yang dijadikan judul novel ini. Memang tidak harus dimunculkan namun alangkah baiknya jika dijelaskan arti kata Katasrofa mengingat kata ini jarang digunakan dalam percakapan atau istilah sehari-hari.  

Sebagai sebuah novel thriller ilmiah novel ini mengasyikan sekaligus mencerdaskan pembacanya. Karena kisah dalam novel ini  menyinggung juga soal ancaman ledakan penduduk  maka novel ini mengingatkan saya akan novel Inferno-nya Dan Brown, namun jika Dan Brown mengatasinya dengan virus infertilitas maka di novel Katasrofa ini karena menangkut juga soal pemanasan global maka ledakan penduduk diatasi dengan sebuah bencana letusan gunung untuk menurunkan suhu bumi

Ide meledakkan gunung yang dipilih oleh penulis sangatlah liar, mungkin bagi sebagain orang ini tidak masuk akal, namun saya percaya sesuai dengan keilmuannya penulis tentunya memiliki dasar ilmiah dan telah melakukan riset mendalam untuk membuat novel yang dikerjakan selama 3 tahun ini menjadi masuk akal. Terlepas dari masuk akal tidaknya, sebagai orang awam penikmat fiksi saya berani mengatakan ide peledakan gunung untuk mengatasi ledakan penduduk dan pemanasan bumi yang ditawarkan penulis lebih 'gila' dibanding ide Dan Brown dengan ide virus invertilitasnya. 


@htanzil

NB : Agar tidak mengganggu kenikmatan calon pembaca untuk menikmati keseruan dari novel ini saya sengaja tidak memberikan sinopsis singkat atau alur kisah dari novel ini. 



Monday, January 19, 2015

Komik Garuda by Oyasujiwo

[No.348]
Judul : Garuda
Penulis : Oyasujiwo
Penerbit : Noura Comic
Cetakan : I, Desember 2014
Tebal : 100 hlm

Pada tanggal 8 Januari 2015 yang lalu film Garuda Superhero, sebuah film superhero karya anak bangsa garapan X-Jo  rilis di bioskop-bioskop tanah air. Selain film, Garuda Superhero juga  dibuat dalam bentuk komik oleh  Noura Comic.

Komik hitam putih dengan judul yang sama seperti filmnya ini dibuat oleh Oyasujiwo .Namun jangan salah, komik ini tidak sekedar memindahkan  kisah yang ada di filmnya ke dalam sebuah komik seperti halnya komik-komik lyang berasal dari sebuah film. Kisah dalam komik Garuda ini berbeda dengan filmnya. Oyasujiwo sendiri mengatakan bahwa komik garapannya ini memperkaya filmnya karena kisah komik Garuda ini dibuat dari sudut pandang anak-anak, terutama anak sekolah.

"Plot komik ini mengambil salah satu bagian awal di cerita filmnya, lalu dikembangkan lebih dalam dengan sudut pandang lain. Dipilihlah sudut pandang bagaimana anak-anak sekolah melihat sosok Garuda" (hlm 76)

Komik ini dibagi dalam 5 bagian yaitu File#01 Invasi, File#02 Gerilya, File#03 Memori, File# 04 Metamorfosis, File#05 Cinema. 

File#01 dan File# 02  mengisahkan bagaimana anak-anak dan Garuda  melawan serangan dari mahluk asing yang menyerang Metro City. Bagian ini diawali dengan suasana di dalam kelas SD Nasional Metro City dimana anak-anak diberi tugas menggambar sosok pahlawan menurut imajinasi masing-masing anak. Dari situ kisah bergulir ke proses evakuasi anak-anak dari sekolah karena adanya ancaman kehadiran mahluk asing. Ketika anak-anak dalam perjalanan bersama bus sekolah tiba-tiba mahluk asing dengan senjata canggih meyerbu Metro City. Di dalam bus hanya ada perlengkapan sekolah, alat-alat olah raga dan sekotak mainan. Dari semua yang ada anak-anak mencoba melawan mahluk asing hingga akhirnya Sang Garuda datang menolong.



Di File#3 dikisahkan asal usul tokoh Garuda yang aslinya bernama Bara dan tokoh jahat bernama Durja. Bagian ini dikisahkan  secara paralel dalam dua sisi yang saling berdampingan, halaman sebelah kiri  untuk kisah  Bara, dan halaman sebelah kanan untuk kisah Durja


Bagian ini bagi saya merupakan bagian yang paling  menarik karena dengan kekuatan gambar di atas latar hitam pekat dengan sedikit kata-kata penulis mampu membawa kita menyelusuri jejak kehidupan Bara dan Durja secara bersamaan.

Bagian File#4 berisi tentang proses kreatif penulis dalam merancang versi gambar dari karakter "live" garuda karakter garuda,  membuat plot cerita komik, membuat sketsa dan merapikan, dan memindainya menjadi file digita, memberi "tone", memasukkan aksara hingga siap dikirim ke penerbit.


Buku ini ditutup dengan File#05 yang berisi tentang film Garuda yaitu deskripsi, repro poster film, foto karakter-karakter utama dalam film, dan foto-foto acara Meet Greet Garuda Superhero, dll.

Sebagai sebuah kisah Garuda superhero tampaknya komik ini belum memaksimalkan karakter Garuda-nya, selain kisah yang mengungkapkan masa lalu Garuda komik ini didominasi kisah anak-anak sekolah yang melawan serangan mahluk asing sedangkan sang superhero sendiri hanya muncul di awal dan akhir kisah. Selain di bagian ketiga (memory) , tokoh antagonis Durja juga tidak muncul dalam kisah komik ini. Asal usul mahluk asing yang menyerang Metro City juga tidak dijelaskan sehingga kita tidak tahu dari mana dan apa tujuan dari serangan mereka.  Sepertinya memang komik ini akan ada kelanjutannya. Jika demikian alangkah baiknya jika pembaca diberi petunjuk bahwa akan ada seri-seri selanjutnya.

Terlepas dari hal itu komik ini  mengandung nilai moral yang baik untuk anak-anak, kisah bagaimana anak-anak bahu membahu melawan serangan mahluk asing dengan peralatan yang ada menumbuhkan semangat kebersamaan dan memberi keyakinan bahwa setiap orang bisa menjadi pahlawan.  Walau ada sosok superhero yang sesungguhnya yang diwakili oleh tokoh Garuda namun mereka tidak bergantung pada sang superhero namun dengan keyanikan, kepercayaan diri, dan kerja sama mereka akhirnya bisa mengatasi musuh.

"Yang ingin saya sampaikan, bahwa semangat Garuda Superhero itu ada di diri kita masing-masing, setiap orang bisa jadi pahlawan, dan itu yang ingin saya sampaikan di komik saya, bahwa setiap orang bisa berpartisipasi untuk mengubah dan membuat perbaikan di negeri ini," (Oyasujiwo, www.harnas.co 14/12/2014)

@htanzil