Friday, March 09, 2018

Hikayat Sebatang Pensil

[No.380]
Judul : Hikayat Sebatang Pensil, Kumpulan Cerita dan Puisi
Penulis : Putri Salsa Meilani, dkk
Penyunting : Andrenaline Katarsis
Penerbit : Kebun Baca Sarerea & Katarsis Book
Cetakan : I, 2017
Tebal : 78 hlm

Buku ini merupakan kumpulan  cerita dan puisi dari anak-anak TBM (Taman Bacaan Mandiri) Kebun Baca Sarerea (KBS) Kampung Pangadegan Hilir, Desa Pagelaran, Kab, Cianjur- Jawa Barat.  TBM KBS adalah sebuah perpustakaan desa dimana anak-anak di sekitarnya bisa puas membaca buku-buku secara gratis untuk menyemai khazanah kecintaan mereka pada buku, bacaan dan menulis.

TBM KBS didirikan pada tahun 2014 oleh Usep Hamzah, seorang warga desa Pagelaran yang  sekarang bermukim di St. Gallen Swiss. Aktifitas di Kebun Baca Sarerea tidak hanya diisi dengan membaca atau pinjam meminjam buku tetapi juga diadakan pelbagai aktivitas literasi seperti reading group, workshop membuat kliping, teknik pembacaan puisi, dan belajar tulis menulis (cerpen dan puisi) yang dimentori oleh para pengurus KBS. Untuk itu secara rutin dalam kurun waktu setahun sekali Kebun Baca Sarerea mengundang pegiat-pegiat literasi dari kota-kota terdekat untuk membagikan ilmu sekaligus menularkan semangat literasi mereka kepada anak-anak yang berada di sekitar KBS.


Apa yang dilakukan Usep Hamzah dan kawan-kawannya ternyata tidak sia-sia. Anak-anak desa Pangadegan kini tidak hanya suka membaca,  merekapun kini dapat menulis. Dari puluhan karya anak-anak SD dan SMP yang tergabung dalam komunitas KBS  terkumpullah 13 cerita dan 22 puisi dengan beragam tema dan ditulis dalam kepolosan anak-anak seusianya.

Hikayat Sebatang Pensil yang dijadikan judul buku ini adalah salah satu cerita dalam buku ini yang mengisahkan tentang sebatang pensil. Dalam cerpen ini diceritakan tentang sebatang pensil  yang dibeli seseorang dari sebuah toko buku alat-alat tulis. Dikisahkan bagaimana ia harus diruncingkan dalam lubang serutan sebelum digunakan untuk menulis. Walau terasa sakit karena harus selalu diruncingkan dan semakin lama ia menjadi semakin pendek namun sang pensil merasa bahagia.

Pisau yang tajam itu akan kemabli memangkasku. Meski sakit, tapi aku bahagia. Karena aku berguna untuk membuatnya pandai menulis... aku menjadi pendek. Aku sedih sekali. Tapi aku tidak bisa marah. Aku tetap bahagia. (hlm 20)

Selain kisah sebatang pensil ada lagi kisah-kisah lainnya. Semua kisah ditulis rata-rata 3-4 alinea (1 1/2 halaman ) saja. Yang unik dari ke-13 kisah yang ada di buku ini ternyata sebagian besar berkisah tentang horor atau kisah-kisah seram. Entah apakah itu pengalaman mereka sendiri atau imajinasi semata. Apakah ini pengaruh dari film-film yang pernah ditonton oleh anak-anak KBS? Hal ini mungkin menandakan bahwa film-film horor yang kini kerap diputar di TV telah merasuk ke dalam dunia imajinasi anak-anak zaman now termasuk anak-anak di desa Pagelaran, Cianjur.

Berikut salah satu kisah seram yang ditulis dalam buku ini yang berjudul Kepala Jatuh yang ditulis oleh Aima Siti Nurohmah

Saat kami sedang asyik bercerita tentang cerita horor. Tiba-tiba dari arah belakang, aku mendengar ada suara. Seperti sesuatu yang jatuh dari atas pohon kelapa..........begitu aku lihat benda yang jatuh itu, ternyata itu sebuah kepala manusia! Teman-temanku hanya bisa bengong. Ada juga yang menjerit ketakutan. Dan benda itu benar-benar sebuah kepala manusia, karena terlihat ada hidung, mata, dan mulut.  Setelah kejadian melihat kepala manusia iu, kami semua jatuh sakit. 
(hlm 11-12)

Namun tidak semua kisah horor adalah benar-benar hantu, ada beberapa cerita horor yang ternyata berakhir dengan lucu karena apa yang dikira hantu ternyata bukan misalnya di kisah Tangisan dalam Lemari, dan Si Baju Putih.
Berbeda di bagian cerita, di bagian puisi tidak ada tema horor dalam puisi-puisi di buku ini. Tema puisi-puisi yang ditulis tampak lebih kaya dan variatif dibanding ketika mereka membuat cerita. Anak-anak KBS menulis puisi tentang apa yang mereka lihat, rasakan dan alami misalnya puisi tentang pemandangan, rumah, desa, perpustakaan, sepeda baru, guru, pahlawan, ibu, dll. tidak ketinggalan hewan-hewan peliharaan atau hewan yang mereka lihatpun seperti ikan cupang, kelinci, kupu2 dijadikan objek puisi-puisi mereka.

Ada sebuah puisi yang cukup mengharukan mengenai seorang anak yang ditinggalkan oleh ibunya.

Selamat Jalan Ibuku
- Sonia Siti Sufi Sundari-

ibu,
kenapa engkau meninggalkan kami
apa salah kami?
apakah kami tidak menuruti nasihatmu?
atau kami melanggar tata tertib?

ibu,
tolonglah jangan pergi
maaf atas segala kesalahan kami
tapi kalau itu memang maumu 
kami akan izinkan engkau pergi
tapi jangan lupakan kami
doakanlah kamu supaya menjadi
anak yang pintar

ibu, 
kami akan selalu mengingatmu
selamat jalan ibu, sampai jumpa
semoga engkau bahagia di tempat baru.  

Seluruh karya anak-anak Desa Pagelaran, Cianjur yang terangkum dalam buku ini ditulis dalam kesederhanaan  dan puisi-puisinyapun tanpak bersahaja. Memang tidak sempurna namun  apa yang telah mereka tulis sangat pantas untuk diapesiasi sehingga api semangat literasi yang disemai oleh pegiat-pegiat literasi yang secara rutin mengunjungi  KBS dapat terus menyala dan menular ke desa-desa lainnya.


Akhir kata buku ini dapat menjadi sebuah tonggak sejarah literasi anak- anak KBS. Seperti apa yang ditulis oleh penyunting buku ini, dengan hadirnya buku yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, diharapkan akan menjadi sebuah dokumentasi yang akan menggugah semangat menulis mereka di kemudian hari dengan lebih baik lagi.

@htanzil

Wednesday, January 31, 2018

Desain, Bandung, & Budaya Sunda

[No. 379]
Judul : Desain, Bandung & Budaya Sunda
Penulis : Jamaludin
Penerbit : Kiblat Buku Utama
Cetakan : 1, November 2017
Tebal : 228 hlm
ISBN : 978-979-8004-07-0

 Buku ini berisi 45 esai tentang Desain, Bandung, dan Budaya Sunda dari Jamaludin atau lebih dikenal dengan panggilan akrab Mang Jamal yang dalam kesehariannya berkecimpung dalam dunia akademis sebagai dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Nasional (Itenas), Bandung.

Di dunia akademis dan desain praktis,  Mang Jamal memulainya dengan menempuh pendidikan di Jurusan Desain Studio Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, setelah lulus ia sempat bekerja di Jakarta sebagai desainer interior hingga menjadi dosen Desain Interior hingga sekarang. Sambil mengajar Mang Jamal terus melanjutkan studinya hingga ke jenjang S-3 di Program Ilmu Seni Rupa dan Desain ITB dan memperoleh gelar Doktor Ilmu Seni Rupa dan Desain pada tahun 2011

Mang Jamal juga dikenal di dunia sastra, novel debutannya Lousiana-Lousiana (Grasindo 2003)  yang cukup sukses di pasaran membuatnya ketagihan menulis novel hingga melahirkan 4  buah novel lainnya. Tahun 2007 Mang Jamal menulis buku teks pengantar Desain Mebel yang diterbitkan oleh Kiblat Buku Utama. 

Selain menulis novel dan buku teks Mang Jamal juga produktif menulis esai-esai di harian Kompas dan media-media cetak lainnya tentang Desain, kota Bandung, dan budaya Sunda. Kini esai-esai tersebut dibukukan dalam sebuah buku kumpulan esai ini.

Buku ini dibagi ke dalam 4 bagian berdasarkan tema tulisan-tulisannya, yaitu Desain, Bandung, Budaya Sunda, dan Esai Basa Sunda. Walau banyak bergelut di dunia akademis namun karena Mang Jamal juga adalah seorang novelis maka semua esainya dibuat dengan kalimat-kalimat yang enak dibaca dengan disisipi humor khas penulis disertai kritik-kritik yang membangun.

Di bagian desain setelah membahas mengenai hikayat kursi yang dikupas secara menarik, kritik Mang Jamal menohok langsung ke jantung pusat pemerintahan yaitu Istana Negara dan Istana Merdeka. Tentunya kita semua bangga dan kagum dengan desain Istana Presiden yang berdiri dengan megah dan kokoh selama ratusan tahun. Namun dibalik keindahan dan kekokohan kedua istana itu, Mang Jamal merasa terusik akan diapakainya bekas Istana Gubernur Jenderal Belanda itu sebagai kantor pemerintahan.

Mari sejenak lupakan "kebanggaan nasional" terhadap kedua gedung megah itu dan cobalah menggunakan cara pandang seperti ini: kedua gedung itu dulunya adalah rumah dinas sekaligus kantor Gubernur Jenderal pemerintahan kolonial Belanda. Para gubernur jenderal itu bersemayam di sana sebagai perpanjangan tangan Kerajaan Belanda.......untuk melaksanakan administrasi pemerintahan negara jajahan bernama Hindia Belanda.

Ironisnya, sekarang bangunan itu dipakai sebagai kediaman resmi Presiden Republik Indonesia, presiden dari negara yang merdeka dan berdaulat..... Apa betul, kepala negara bangsa sendiri yang adalah lambang negara merdeka berkantor di bekas kediaman dan kantor gembong penjajah negeri ini? (hlm 25)

Dalam gugatannya ini, sebagai seorang desainer interior yang peduli dengan budaya bangsa sendiri Mang Jamal menganjurkan agar kantor Presiden RI berkantor dalam gedung dengan langgam bangunan khas Indonesia.

Untuk bangunan kantor presiden, begitu banyak langgam yang dimiliki oleh setiap daerah di Nusantara, tinggal memilih atau mencampurnya bila perlu, atau memilih salah satu berdasar karakter yang paling mewakili seperti terpilihnya bahasa Melayu Riau yang lalu dijadikan bahasa persatuan: Bahasa Indonesia. Kita bisa, kalau mau!
(hlm 27)

Wacana memindahkan Ibukota Indonesia juga tidak luput dari pengamatan Mang Jamal. Selain tentang pemindahan lokasi ibukota, Mang Jamal juga memiliki gagasan yang menarik antara lain menyebarkan setiap kementrian ke pulau-pulau sesuai dengan potensi dan prioritas pembangunan wilayah. Misalnya kantor Kementrian Pariwisata dan Budaya di Bali atau di Samosir, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral di kawasan pertambangan seperti di Riau, Kalimantan, Sulawesi, dll.  Selain lokasi kementrian penulis juga mengusulkan agar bangunan desain kementrian dibuat berdasarkan desain tradisional atau disesuaikan dengan bidang pekerjaan atau fungsinya. Gedung Kementrian Perdagangan menggunakan model pasar, gedung Kementrian Perindustrian  model pabrik, Gedung Kementrian Perhubungan menggunakan model kereta api, dll.

Selain tentang istana dan ibukota, di bagian desain terdapat juga esai-esai lain antara lain tentang Wajah Arsitektur Indonesia Modern, Aristektur Rumah Ajip Rodisi, tentang Gedung Sate, dan laporan penulis tentang kunjungannya ke rumah Schoder di Utrect, Beland, sebuah ikon gerakan modern dalamdunia  arsitektur yang telah ditetapkan oleh Unesco sebagai Warisan Dunia (World Heritage)

Di Bagian Bandung,  kita akan banyak menemukan kiritk dan usulan atas penataan di kota Bandung khususnya di jantung kota Bandung di era 2003-2010 antara lain tentang penataan Alun-alun, Braga, gedung eks Palaguna, dll. Salah satu yang menarik adalah bagaimana Bandung yang mendapat  julukan Parijs van Java benar-benar dibandingkan dengan kota Paris, Perancis dalam esai berjudul Mencari Paris di Bandung. Selain itu ada juga satu esai tentang sebuah monumen yang mungkin  terlupakan orang yaitu Monumen Perjuangan (Monju) Jawa Barat di Jl Dipatiukur, Bandung.

Monju di Bandung berbentuk tumpukan beton melengkung sebagai abstraksi rumpun bambu dan enam diorama di museum bawah tanah, Monju hanya ditandai dengan berbagai ringkasan peristiwa perjuangan dalam bentuk relief pada salah satu dindingnya. Di mata Mang Jamal Monju  indah sebagai penghias kota  tetapi kering dari kenangan terhadap perjuangan yang sebenarnya karena tidak adanya nama-nama pejuang yang ditampilkan di monumen tersebut seperti halnya monumen Arch de Triomphe di Paris yang mengukir nama-nama jenderal yang pernah berjuang di bawah komando Napoleon Bonaparte.

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, sesuai namanya adalah monumen untuk mengenang perjuangan rakyat Jawa Barat. Yang namanya perjuangan dilakukan oleh manusia yang tentu saja memiliki nama. Adalah sebuah kewajaran apabila nama-nama mereka diabadikan di monumen. Dinding monumen dapat dilengkapi dengan nama-nama pejuang...... Dengan begitu Monju akan memiliki nilai lebih, membumi dan melekat di hati rakyat Jawa Barat.  
(hlm 114-115)


Di bagian ketiga, penulis menyuguhkan 14 esai tentang Budaya Sunda antara lain tentang Rumah Gaya Sunda, ajaran karuhun, estetika Sunda, arsitektur Sunda, dll. Yang paling serius  adalah essai berjudul Konsep Estetika dalam Budaya Rupa Sunda yang merupakan naskah orasi ilmiah penulis pada acara Dies Natalis Itenas ke 40 (2012). Tidak hanya hal-hal serius, di baian ini ada juga essai yang menggelitik antara lain   esai berjudul Urang Sunda Jadi Presiden yang didasari munculnya kesadaran untuk  meningkatkan peran orang Sunda di pentas politik Nasional.

Buku ini akhirnya ditutup dengan 7 buah esai berbahasa Sunda yang isinya berupa pengalaman penulis berada di Paris dan Belanda, usulan museum kota Bandung, dan tentang budaya dan filosofi masyarakat Sunda. Karena ditulis dalam bahasa Sunda maka nuansa dan greget esai-esai budaya kesundaannya akan terasa lebih menggugah pembacanya. 

Yang agak disayangkan dalam buku ini adalah esai-esai tentang Bandung. Esai-esai tentang Bandung  ditulis penulis dalam kurun waktu 2003-2010, sedangkan buku ini terbit pada akhir 2017 dengan demikian terjadi kesenjangan selama 7 tahun, padahal penataan dan pembangungan  kota Bandung berubah dengan cepat. Tentunya bagian ini akan menjadi lebih baik jika penulis mengupdate beberapa esai tentang Bandung sesuai dengan kondisi kekinian. 

Terlepas dari hal di atas, sebagai sebuah buku yang berbicara tentang Desain, Bandung, dan Budaya Sunda, buku ini berhasil menautkan ketiga unsur tersebut. Penulis yang notabene orang  Sunda  yang lama tinggal di Bandung dan berkecimpung dalam dunia desain secara  membuat kita bisa melihat bagaimana Desain, Bandung dan Budaya Sunda dilihat dari sudut pandang dan orang Sunda sehingga tak belebihan jika Prof. Dr. Setiawan Sabana, MFA (Guru Besar Fakultas Seni Rupa & Desain ITB) dalam kata pengantar buku ini menilai bahwa tulisan dalam buku ini adalah tulisan yang kritis, kreatif, inspiratif, dan bergaya Sunda.

@htanzil




Monday, January 08, 2018

Sang Raja

[No.378]
Judul : Sang Raja
Penulis : Iksaka Banu
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : I, September 2017
Tebal : 383 hlm
ISBN : 978-602-424-331-9

Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito di bawah bendera NV. Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito berhasil merubah bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan. 

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga  Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Nitisemito telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. Begitu terkenalnya Nitisemito  sampai-sampai namanya disebut-sebut Bung Karno dalam pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juli 1945 yang sekarang dikenal sebagai Hari Lahir Pancasila.   
Selain itu sejarah mencatat bahwa Nitisemito adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk sehingga bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito  adalah  pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.

Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga  dikenal dengan strateginya yang kreatif dan  fenomenal antara lain menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui  siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan  menjadi salah satu  sponsor bagi film Panggilan Darah yang sukses di pasaran. Selain itu Nitisemito juga  memberikan bonus berupa barang pecah belah import dari Jepang, sepeda, jam dinding, dll yang semuanya berlogo rokok Tjap Bal Tiga kepada pelanggan setianya

Usaha Nitisemito semakin besar sehingga dibutuhkan orang yang sanggup mengontrol keuangan pabrik dengan baik. Untuk itu ia mempekerjakan tenaga pembukuan asal Belanda. Sebuah hal yang luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Selain itu Nitisemito juga disebut-sebut pribumi terkaya di Indonesia sebelum masa kemerdekaan.


Kisah pabrik rokok NV. Nitisesmito di bawah kepemimpinan Sang Raja Kretek Nitisemito   inilah yang dinarasikan dengan apik dalam bentuk novel oleh Iksaka Banu, peraih Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2014  kategori prosa untuk  novelnya yang berjudul  Semua Untuk Hindia (KPG, Mei 2014).

Novel Sang Raja  dibuka dengan porsesi pemakaman Nitisemito menurut sudut pandang seorang wartawan harian Bintang Timur yang berniat untuk menuliskan kisah kehidupan Nitisemito.  Untuk itu dia mewawancarai dua orang pegawai Nitisemito yaitu Filipus Rechterhand dan Wiroesoeseno.  Filipus, seorang Belanda totok adalah pegawai bagian pembukuan di pabrik rokok Bal Tiga,  Sedangkan Wirosoeseno, seorang Jawa tulen, priyayi rendahan yang  bekerja di bagian pemasaran.

Melalui penuturan  Filipus dan Wirosoeseno inilah kisah Nitisemito dan pabrik rokoknya diceritakan. Nitisemito, anak seorang kepala desa di daerah Kudus, Jawa Timur. Nama kecilnya Roesdi bin Soelaeman. Alih-alih mengikuti jejak ayahnya sebagai ambtenaar Ia lebih memilih menempuh jalan hidupnya sendiri, mulai dari buruh jahit, berdagang minyak kelapa, kerbau, hingga menjadi juragan sekaligus kusir dokar. Pada saat ia menjadi kusir dokar ia menikah dengan seorang pemilik warung nasi bernama Narsilah. Setelah menikah Roesdi  mengganti namanya menjadi  Nitisemito.

Untuk menambah penghasilan, disamping berjualan makanan, Narsilah juga berjualan tembakau di warungnya. Pada suatu saat, Narsilah mengolah tembakau itu menjadi rokok klobot. Tembakaunya ia campur dengan cengkeh dicampur saus yang dibuat dari sari-sari buah. Ternyata ramuannya digemari para pelanggannya. Semenjak itu Nitisemito mengembangkan usaha rokok klobotnya ini dan mencoba memasarkan rokoknya dalam kemasan yang diberi merk. Setelah beberapa kali mencoba berbagai merek akhirnya ia menemukan gambar bulatan tiga dan menggunakannya sebagai etiket di kemasannya dan orang menyebutnya sebagai rokok cap Bal Tiga.

Lambat laun rokok cap Bal Tiga semakin dikenal orang dan Nitisemito pun terus mengembangkan usahanya hingga akhirnya mendirikan pabrik NV Nitisemito Bal Tiga yang membuatnya menjadi pengusaha rokok terkaya dan terkemuka di zamannya.

Walau telah menjadi pabrik besar, NV. Nitisemito tak luput dari berbagai tantangan baik dari dalam maupun dari luar antara lain saat harga cengkeh yang meroket, atau ketika pemerintah Hindia Belanda memberlakukan cukai rokok yang berpengaruh langsung terhadap harga jual rokok, munculnya pabrik-pabrik rokok kretek lainnya serta depresi ekonomi dunia di tahun 1930.

Tantangan-tantangan tersebut berhasil dilalui oleh Nitisemito namun yang tersulit justru tantangan dari dalam yaitu ketika terjadi konflik kepentingan dalam keluarga Nitisemito.  Akoean Markoem yang merupakan cucu Nitisemito dari istri pertamanya, tak senang dengan Karmain,  menantu Nitisemito dari istri keduanya. Karmain yang saat itu menjadi kuasa usaha  Nv. Nitisemitoa dilaporkan oleh Akoean telah melakukan penggelapan pajak hingga akhirnya dipenjara.

Tidak adanya Kaiman membuat suasana pabrik menjadi lesu. Namun pabrik tetap berlanjut hingga masa pendudukan Jepang, masa revolusi kemerdekaan hingga proklamasi kemerdekaan dan masa bersiap paska kemerdekaan.



Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Sarikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek

Selain itu para  penutur yaitu Filipus dan Wiroseoeseno juga mendapat panggung dan kisah tersendiri di novel ini. Selain kisah tentang bagaimana mereka berkiprah dalam pekerjaan mereka penulis juga menyuguhkan kisah kehidupan pribadi mereka masing-masing

Dibanding kisah kehidupan Wiroseoseono kisah Filipus Rechterhand tampak lebih menarik dan berwarna. Filipus adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia dan  beristrikan seorang wanita pribumi. Latar belakang ini juga membuat tokoh Filipus menjadi seorang Belanda baik yang membela pribumi.

Dari pernikahannya dengan wanita pribumi yang dicintainya  lahir seorang anak laki-laki yang  kelak bergabung dalam  KNIL. Kehidupan nyamannya mulai terusik ketika Jepang datang. Filipus harus berpisah dengan istrinya karena harus masuk kamp inteniran sementara Hans, anaknya ditangkap oleh Jepang. Hal ini yang menjadi sebuah kisah tersendiri yang menarik dalam novel ini.

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, penulis juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia seperti kedatangan Jepang hingga masa revolusi kemerdekaan yang berdampak besar pada operasional pabrik beserta hasil produksinya. Namun sayangnya ada beberapa peristiwa sejarah di bagian akhir novel yang  tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kisah dalam novel ini misalnya tentang serangan Umum Jogya 1949, perjanjian Room-Roijen, tentang Jenderal Sudirman yang berhasil dibujuk untuk melakukan gencatan senjata, dan sebagainya.Hal ini memang bermanfaat namun tentunya  dapat  mengganggu keasyikan dalam membaca novel ini.

Yang agak disayangkan juga adalah tokoh Nitisemito dalam novel ini yang hanya dimunculkan sekilas-sekilas saja padahal judul novel ini "Sang Raja" yang jika menilik judulnya sepertinya  merupakan novelisasi kisah hidup pengusaha rokok kretek terkemuka di paruh pertama abad ke 20. Namun kisah dalam novel ini lebih didominasi tentang pabrik rokok NV. Nitisemito dan kisah kehidupan penuturnya (Filipus dan Wirosoeseno) sementara kisah  kehidupan Sang Raja Kretek sendiri hanya selewat saja dan terkesan hanya sekedar disisipkan diantara kisah pabrik dan kisah penutur. 

Terlepas dari hal di terbitnya novel Sang Raja patut diapresiasi setinggi-tingginya karena novel ini mengangkat tema tentang sejarah awal berdirinya  industri rokok kretek, salah satu industri warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang sudah mengakar turun temurun sehingga tak bisa dilepaskan dari sejarah dan budaya bangsa Indonesia.

Nitisemito adalah tokoh dunia usaha yang inspriratif dimasa kaum pribumi banyak bergantung pada pengusaha Eropa. Nitisemito, seorang pribumi buta huruf di kota kecil Kudus mampu menjadi pengusaha sukses yang setara dengan pengusaha-pengusaha Eropa di masa itu dimana ia menjadi tumpuan puluhan ribu karyawannya. Pengalaman hidupnya yang tertuang dalam novel ini layak jadi ilham dan panutan bagi generasi-generasi sesudahnya.

Satu hal yang tak kalah menarik adalah diterbitkannya novel ini dalam dua versi cover (merah dan hijau) dimana para pembaca diberi kebebasan untuk memilih cover mana yang disukainya. Sepertinya penggunaan dua warna cover yang berbeda untuk sekali terbitan ini baru pertama kalinya dilakukan di ranah perbukuan Nasional.



@htanzil

Tuesday, November 14, 2017

Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe 1930-1950

[No. 377]
Judul : Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe 1930-1950
Penulis : Sudarsono Katam
Penerbit : Pustaka Jaya
Cetakan : I, Maret 2017
Tebal : 154 hlm
ISBN : 978-979-419-461-4

 Jalan Braga adalah jalan  yang paling terkenal di kota Bandung. Jalan sepanjang 700 meter ini  telah ada sejak ratusan tahun yang lampau.  Bermula dari jalan kecil becek yang hanya dilewati pedati sehingga diberi nama Karrenweg (jalan pedati) secara bertahap menjelma menjadi sebuah kawasan pertokoan termegah di Hindia Belanda pada kwartal pertama abad ke 19.

Hingga kini masih banyak bangunan-bangunan kuno bersejarah yang masih tegak berdiri sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal dan mancanegara. Walau kini tidak semegah masa lalunya, Braga tetap menjadi kawasan ikonik dan melegenda di kota Bandung sehingga tetap menjadi salah satu tujuan wisata  bagi mereka yang berkunjung ke kota Bandung. 

Buku Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe  karya Sudarsono Katam, penulis buku-buku tentang Bandung ini mencoba mendokumentasikan perkembangan kawasan sepanjang Braga dengan menyajikan  ratusan foto bangunan/toko-toko, potongan iklan yang pernah ada di Braga di masa-masa kejayaannya di tahun 1930-an hingga tahun 1950. Tidak hanya foto-foto, penulis juga memberikan keterangan dengan sangat lugas dan informatif.

Bagian pertama buku ini menyajikan penjelasan mengenai nama Braga yang hingga kini masih belum jelas asal usulnya, M.A. Salmoen, sastrawan Sunda berpendapat bahwa kata Braga diambil dari kata 'baraga' yang artinya jalan di tengah persawahan yang menyusur sungai karena awalnya kawasan Braga merupakan areal persawahan yang dilalui oleh sungai Cikapundung. Hal ini juga dikatakan oleh Haryoto Kunto yang mengatakan bahwa kata Braga diambil dari 'ngabaraga' yang artinya berjalan menyusuri sungai. 

Masih menurut Haryoto Kunto dalam bukunya "Wajah Bandoeng Tempo Doeloe", nama Karrenweg berubah menjadi Bragaweg akibat ketenaran perkumpulan tonel bernama Toneelvereneging Braga yang didirikan pada tahun 1882 di Karrenweg. Masyarakat Bandung mengagumi toneel ini sehingga menyebut Karrenweg sebagai Bragaweg dalam pembicaraan sehari-hari.

Di bab selanjutnya dijelaskan bahwa sebelum menjadi kawasan pertokoan, kawasan Braga merupakan kawasan perumahan. Toko pertama di Braga  didirikan pada 1894 oleh C.A. Hellerman yang hingga kini bekas bangunannya masih ada. Toko C.A. Hellerman menjual senjata api, kereta kuda, sepeda dan juga menyediakan reparasi senjata. Kehadiran toko CA. Hallerman kemudian diikuti oleh beberapa toko lainnya sehingga merubah kawasan Braga yang tadinya merupakan kawasan perumahan menjadi pertokoan.Dari tahun ke tahun Bragaweg semakin berkembang pesat terutama karena munculnya rencana pemindahan Ibu Kota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung. 

Bragaweg yang kemudian menjadi pusat belanja barang mewah, eksklusif dan tempat bersantai para Preangerplanters, raja perkebunan mencapai puncaknya pada tahun 1930-an sehingga menjadi daya tarik para wisatawan asing serta merupakan salah satu unsur Kota Bandung mendapat julukan Parijs van Java. Kawasan Braga. Sedangkan  untuk kawasan Bragaweg mendapat julukan De meest Eropeesche winkelstraat van Indie (Kompleks pertokoan Eropa paling terkemuka di Hindia Belanda) 

Setelah membaca tuturan penulis tentang metamorfosis Braga dari kawasan perumahan menjadi pertokoan eksklusif yang juga dilengkapi dengan foto-foto lawas, secara berurutan buku ini mengajak pembacanya menelusuri Braga mulai dari Simpang Grote Postweg - Naripanweg - Gang Coorde - Bengkel Fuchs en Rens - Oud Hospitalweg.

Hampir semua toko yang pernah ada di sepanjang jalan Braga dari tahun 1930-150 dijelaskan  baik melalui narasi, foto-foto, maupun potongan iklan-iklan yang pernah dimuat di media cetak. Ada beberapa hal yang menarik yang dapat kita temui di bagian ini antara lain tentang Optik Kurt Shcasser & Co yang kemudian  menjadi A. Kasoem Optik. Di bagian ini dikisahkan sedikit tentang riwayat A. Kasoem (Atjoem Kasoem) yang pernah belajar tentang kacamata langsung dari Kurt Kascher hingga akhirnya menjadi pengusaha pribumi pertama yang membuka toko di Bragaweg.

Selain itu Satu hal yang menjadi pionir di kawasan Braga  adalah tercatatnya toko Java Store di
Dj. Braga 29A sebagai toko pertama di Bandung yang menghadirkan mesin fotocopy bermerek American Photocopy Company (Apeco) pada akhir tahun 1960-an.

Keeksklusifan toko-toko di Bragaweg terungkap dalam buku ini antara lain Toko Au Bon Marche yang menyediakan gaun-gaun mewah wanita dengan model terbaru dari Paris, Perancis, restoran Maison Borgerijen (sekarang Braga Permai) yang merupakan restoran satu-satunya di Hindia Belanda yang diberi izin untuk membuat kue khas kerajaan Belanda yaitu Koningin Emma Tart dan Willhelmina Taart. Lalu ada juga toko bunga terkenal  yaitu toko bunga Abuntandia yang penerima pesanan untuk mengirm bunga ke Istana Gubernur Jenderal Hindia Belada di Etlevreden (Gambir) Batavia setiap hari  menggunakan kereta api atau pesawat udara sejak tahun 1925 sampai tahun 1942.


( halaman dalam buku, foto dan keterangan yang informatif )

Di buku ini juga penulis mengoreksi apa yang pernah ditulisnya di buku-buku sebelumnya. Selain itu ada juga koreksi atas apa yang ditulis oleh Haryoto Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe yang menyatakan bahwa di lokasi bekas Gudang Garam yang terbakar habis sekitar tahun 1910 didirikan gedung de Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia). Berdasarkan foto yang terdapat dalam buku ini terungkap bahwa sebenarnya  Gudang Garam terletak di sisis selatan rel kereta api, jadi tidak dijadikan lahan pembanungan de Javache Bank. Setelah terbakar habis, Gudang Garam dibangun ulang.

Tidak sekedar menampilkan perkembangan Braga lewat foto dan keterangan yang informatif saja, di bagian akhir buku ini penulis mengemukakan kritik berupa pendapat dan usulannya terhadap kondisi Braga di masa kini dan  masa yang akan datang. Berikut  ide atau masukan dari penulis tentang Braga yang ditulis di buku ini:

Jadikan Braga sebagai pusat kota dan landmark Bandung yang bercirikan budaya dan bernuansa Sunda, sehingga para pengunjung kawasan Braga bisa berbangga barang eksklusif, kala letih bisa duduk santai dengan tenang menikmati  panganan dan masakan Sunda.....sambil diiringi kecapi suling atau angklung dan memilih cenderamata khas Bandung. (hlm 135)

Pada intinya buku ini mengungkap bagaimana perubahan Braga dari masa ke masa, bermula dari sebuah jalan kecil yang hanya dilewati pedati, berdebu dan becek yang secara bertahap berubah menjadi sebuah kawasan perumahan lalu menjadi kawasan pertokoan termegah di kota Bandung bahkan di Hindia Belanda pada masanya.

Metamorfosa Braga ini tidak dapat dipisahkan dari dinamika kota Bandung dan merupakan sejarah kecil (petite historie) Kota Bandung, karenanya kehadiran buku ini sangat bermanfaat sebagai dokumentasi kawasan Braga dan bahan kajian bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Selain itu buku ini tentunya semakin memperkaya literatur tentang kota Bandung pada umumnya dan kawasan Braga pada khususnya.

@htanzil