Wednesday, August 19, 2015

Seteru 1 Guru : Novel Pergulatan 3 Murid Tjokroaminoto - Soekarno, Musso Kartosoewirjo

[No.359]
Judul : Seteru 1 Guru : Novel Pergulatan 3 Murid Tjokroaminoto: Soekarno, Musso Kartosoewirjo
Penulis : Haris Priyatna
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, April 2015
Tebal : 260 hlm
ISBN : 978-602-1637-78-4

Seteru 1 Guru adalah sebuah novel sejarah yang mengisahkan penggalan hidup tiga orang murid HOS Tjokroaminoto yaitu Soekarno, Muso, dan Kartosoewiyo. Walau ketiganya mendapat gemblengan yang sama dalam hal perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda namun ketiganya memilih jalan perlawanan yang berbeda sesuai dengan ideologi yang mereka yakini dapat membawa Indonesia pada kemerdekaan dan kemakmuran. Soekarno memilih jalan nasionalisme, Musso memilih jalan komunisme, sedangkan Kartosoewiryo memilih jalan islam radikal.

Bagaimana dan seperti apa ketiga murid Tjokroaminoto menempuh jalannya masing-masing hingga akhirnya berseteru inilah yang diungkapkan oleh penulis dalam novel ini. Novel setebal 243 hlm ini dibagi kedalam tiga bagian besar yaitu : Kemelut, Internaat, Kulminasi. Di bagian pertama dikisahkan bagaimana kemelut politik yang terjadi sebelum dan setelah  kemerdekaan Indonesia dan  bagaimana Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo berperan di masa itu.

Di bagian kedua, Internaat (Asrama atau rumah kos) diceritakan bagaimana  awalnya Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo bertemu dan mondok tempat kos milik Tjkoroaminoto di Surabaya dan seperti apa jalan politik yang mereka tempuh masing-masing  untuk mempertahankan kemerdekaan dan mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat. Di bagian ini terungkap persahabatan antara Soekarno dan Kartosoewirjo sehingga orang menyebut dua sahabat itu dengan sebutan "Karno dan Karto".

Sedangkan di bagian ketiga, Kulminasi, mengungkap bagaimana Muso dan Kartosoewirjo akhirnya masing-masing melakukan pemberontakan melawan pemerintah Republik Indonesia yang dipimpin oleh teman mereka sendiri, Soekarno. Bagian ini tidak kalah menariknya dengan dua bagian terdahulunya dimana di bagian ini dikisahkan bagaimana Muso dan Kartosewirjo harus lari ke hutan untuk menghindari pasukan TNI yang mencarinya hingga akhirnya Muso ditembak mati dan Kartosoewirjo berhasil di tangkap hidup-hidup. Di bagian ini terungkap juga bagaimana  Soekarno yang saat itu telah menjadi presiden harus bergumul untuk menandatangani surat eksekusi mati bagi Kartosoewirjo, sahabatnya sendiri

                                                    (Soekarno, Musso, Kartosoewirjo)

Di buku ini  tergambar dengan jelas apa yang menjadi alasan bagi Musso dan Kartosoewirjo mengambil sikap menentang pemerintahan Soekarno yang ternyata bersumber dari kekecewaan mereka akan hasil perundingan Renville dan Linggarjari yang mereka anggap merugikan sangat merugikan Indonesia. Sayangnya, alih-alih melakukan protes atau pendekatan terhadap pemerintahan yang sah, mereka berdua memilih melakukan konfrontasi langsung dengan pemerintah RI.

Sebagai contoh, dalam Rapat Akbar PKI di Jogyakarta yang dihadiri oleh 50 ribu orang setelah Muso kembali dari pengembaraannya di Uni Soviet selama 23 tahun,  dalam pidatonya Musso mengatakan :

"Saudara-saudara perundingan dengan Belanda harus dihentikan! Kita harus selekasnya membuka hubungan dengan Uni Soviet..... Selain itu, Saudara-Saudara, revolusi harus dipegang oleh golongan proletar, bukan golongang borjuis! Karena kaum proletarlah yang paling revolusioner dan paling anti imperialis. Kesalahan itu harus segera kita perbaiki. Saatnya kita ambil jalan baru. Marilah kita dukung PKI..." (hlm 40)

dan setelah rapat akbar tersebut maka Muso langsung mengambil langkah-langkah sbb :


"...langkah pertama yang dilakukan Musso setibanya di Indonesia adalah mengambil alih pimpinan Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan melebur Partai Komunis, Partai Buruh, Partai Sosialis, dan Pesindo menjadi partai tunggal: Partai Komunis Indonesia. Musso meminta seluruh pemimpin organiasi tersebut bersumpah menentang politik pemerintah. " (hlm 41)

Jika Muso menenentang pemerintahan melalui partainya yang berideologi komunis, maka Kartosoewirjo mennempuh jalan perjuangan dengan cara yang radikal yaitu membentuk laskar Islam dengan tujuan mendirikan negara sendiri.

"Saudara-saudaraku para Mujahidin yang gagah berani, naskah Renville tak ada beda dengan naskah Linggarjati, bahkan lebih tidak berharga lagi. Sama sekali tak ada nilanya bagi kita secara politik maupun militer. ...."

Pidato pembukaan Kartosoewirjo pagi itu membakar semangat untuk terus memperjuangkan kemerdekaan Jawa Barat. Pada akhir rapat, dihasilkan keputusan untuk membekukan Masyumi Jawa Barat, dan melebur seluruh laskar Islam ke dalam TII (Tentara Islam Indonesia) dengan markas besar di Gunung Cupu. (hlm 57)

Sementara  Muso berjuang  melalui ideologi komunis, Kartosoewiryo melalui cara Islam radikal, dan Tjokroaminoto melalui ideologi sosialisme Islam maka Soekarno menempuh jalan Nasionalisme yang kelak terbukti mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

....Soekarno mulai meninggalkan ideologi yang diajarkan gurunya itu. Bagi Soekarno pandangan Tjokro tentang kemerdekaan tanah air terasa kaku karena ditinjau melalui konsep mikroskop Islam. (hlm  165-166)

Sebagai sebuah novel sejarah, tentunya ada banyak sekali peristiwa dan latar sejarah terkait perjuangan ketiga murid Tjokroaminoto di masa-masa genting paska kemerdekaan hingga akhirnya Muso dan Kartosoewirjo melakukan pemberontakan bersenjata untuk merebut pemerintahan yang sah yang dipimpin oleh Soekarno sahabat mereka sendiri.

Walau novel ini tentang ketiga murid Tjokro namun penulis juga menyajikan porsi yang cukup besar tentang kehidupan Tjokroaminoto sehingga kita pun bisa mengenal sosok sang guru bangsa yang sederhana namun memiliki kharisma dan disegani, tidak hanya oleh kalangan pribumi saja melainkan juga oleh orang-orang Belanda di Hindia sehingga ia dijuluki sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota.

Dikisahkan juga bagaimana Soekarno selalu menjadi buntut Tjokro. Kemanapun Tjokro pergi, Soekarno ikut termasuk ketika Tjokro berpidato di berbagai tempat. Hal inilah yang kelak menjadikan Soekarno sebagai seorang orator ulung.

Soekarno selalu memperhatikan cara Tjokro berpidato. Menyimak cara Tjokro menjatuhkan suaranya. Mengamati gerak tubuhnya. Dia juga menelisik kekurangan Tjokro, yaitu intonasinya yang cenderung monoton dan minus lelucon. Dari sanalah, Soekarno tidak pernah berlatih pidato di depan cermin. Tjokro-lah yang menjadi cerminnya.  (hlm139-140)

                                                    (beberapa foto di novel Seteru 1 Guru)

Masih banyak hal-hal menarik tentang kehidupan keempat tokoh dalam novel ini termasuk sejarah bangsa di masa sebelum dan paska kemerdekaan. Sayangnya sepertinya penulis terlalu setia pada fakta sejarah. Jika memang fakta sejarah tidak bisa terlalu dieksplorasi menjadi sebuah fiksi yang menarik namun ada kehidupan pribadi keempat tokoh sejarah yang menjadi tokoh novel ini yang bisa digali dan dikembangkan secara imajinatif misalnya keluarga Musso dan Kartosoewirjo yang tidak terungkap di novel ini. Sehingga kedua tokoh itu terasa lebih kaku dibanding sosok Tjokro dan Soekarno.

Terlepas dari hal itu saya rasa novel yang juga menyertakan beberapa foto sejarah ini wajib dibaca oleh generasi muda yang mungkin sudah mulai enggan membaca buku sejarah. Novel ini membuat sejarah yang biasanya tersaji secara kaku dalam buku-buku teks sejarah menjadi lentur dan enak dibaca dan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi sehingga peristiwa sejarah dan ide-ide besar dari keempat tokoh yang ikut membentuk bangsa Indonesia seperti sekarang ini tersampaikan secara jelas kepada para pembacanya.

@htanzil

Tuesday, July 28, 2015

Kota di Djawa Tempo Doeloe

[No.358]
Judul : Kota di Djawa Tempo Doeloe
Penulis : Olivier Johannes Raap
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan : I, Juni 2015
Tebal : 340 hlm
ISNB : 978-979-91-0887-6

Kartu pos di masa kini bisa dikatakan kurang populer digunakan dan sudah sangat jarang ditemui. Alih-alih mengirim kartu pos untuk mengabarkan bahwa kita berada di sebuah kota  kini kita lebih suka memfoto dan mengirimnya langsung ke orang tertentu atau mengupload-nya di sosial media melalui smarphone kita.

Walau kini sudah jadi barang langka dan dilupakan orang namun kartu pos pernah mengalami masa-masa emas di seluruh pelosok dunia di akhir abad ke 19 hingga pertengahan abad ke 20. Saat itu kartu pos merupakan media korespondensi yang terpenting untuk kalangan yang bisa baca tulis.

Kartu pos generasi pertama di Indonesia lahir pada tahun 1874 oleh pos negara, yaitu pemerintahan Hindia Belanda. Awalnya kartu pos masih berbentuk selembar kartu tanpa gambar/foto. Lembar pertama untuk alamat penerima dengan perangko yang telah tercetak, sedangkan satu sisi lagi digunakan untuk menulis surat/pesan. Kartu pos bergambar sendiri baru terbit pada tahun 1900an. Di awal abad ke 20 gambar atau foto-foto yang ditampilkan tidak hanya berupa pemandangan alam tempat wisata  seperti yang tedapat di kartu-kartu pos modern melainkan menampilkan situasi kota, bangunan, dan khazanah kebudayaan lokal.

Seperti apa kartu-kartu pos di Indonesia tempo doeloe? bersyukur karena berkat ketekunan Olivier Johannes Raap, seorang  kolektor kartu pos lawas kelahiran Belanda, kartu-kartu pos itu tetap terlestarikan dengan baik dan kini bisa dinikmati oleh kita semua lewat beberapa bukunya yang telah terbit.

(Koleksi kartu pos Olivier Johannes Raap)

Setelah menerbitkan dua buku yang menampilkan koleksi kartu2 posnya yaitu Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe (Galang Press, Maret 2013) dan Soeka-Doeka di Djawa Tempo Doeloe (KPG, Oktober 2013) kini Olivier menerbitkan kembali sebuah buku  tentang kartu pos yang secara khusus menampilkan panorama dan  unsur-unsur kota-kota  di Jawa tempo doeloe (1900-an - 1950). Seperti di buku-buku sebelumnya, buku ini juga menyajikan foto-foto kartu pos disertai deskripsi yang detail pada tiap-tiap kartu posnya. Karena sebuah kota merupakan bagian dari catatan sejarah maka di bukunya yang terbaru ini penulis menyertakan data-data sejarah terkait foto dan kondisi terkini dari bangunan atau tempat yang terekam dalam kartu pos-kartu pos tersebut.



Di bukunya ini, penulis membagi kartu-kartu posnya ke dalam 17 bab di mana di masing-masing bab diberi pengantar yang lugas, jernih dan sangat informatif bagi pembacanya


Sebagai sebuah buku yang menyajikan 277 lembar foto kartu pos dari 44 kota di Jawa diantaranya Batavia, Bandung, Surabaya (masing-masing diwakili oleh 20 kartu pos lebih), dll  buku ini dapat mewakili kondisi seperti apa panorama kota-kota di Jawa tempo doeloe.  Deskripsinya yang detail akan apa yang tergambar dalam tiap lembar kartu posnya plus muatan sejarahnya membuat buku ini dapat dikatakan sebagai sebuah buku sejarah populer yang menarik untuk dibaca oleh semua kalangan.



Hal-hal menarik, unik, dan menambah wawasan terungkap dalam buku ini, antara lain Jembatan besi pertama di Jawa di sungai Brantas - Kediri yang dibangun pada tahun 1855 yang hingga kini masih befungsi, pelabuhan Surabaya yang di masa itu diharapkan dalam mengungguli pelabuhan Singapura, gardu ronda yang menyediakan kendi untuk pejalan kaki, dll.  Ketika membahas bangunan kita akan diajak mengenal model-model bangunan tua baik di kota maupun di kampung baik dari segi arsitektur keseluruhan bangunan maupun dari kekhasan atap, bahan bangunan, dll. Di pembahasan mengenai jalan kita akan mengerti asal-usul penamaan jalan, persimpangan jalan, jalan-jalan pertokoan, dan sebagainya.

Dari segi penyajian fotonya karena seluruh halaman buku ini dicetak di atas kertas art paper yang mengkilat maka ratusan foto kartu pos lawas tersaji secara tajam dan sempurna. Ukuran buku yang agak besar dan foto tiap kartu pos yang sedikit besar dibanding kartu pos aslinya juga membuat pembaca bisa lebih detail menikmati foto-fotonya. Sayangnya ada beberapa foto kartu pos yang diperbesar hingga menyeberang halaman sehingga bagian yang terkena lipatan buku menjadi tidak bisa dilihat secara baik.

Akhir kata sebagai sebuah buku yang menyajikan panorama kota-kota di Jawa tempo doeloe plus deksripsinya buku ini akan membawa pembacanya memasuki mesin waktu untuk menyusuri kota-kota di Jawa di akhir abad ke 19 hingga pertengahan abad ke 20. Pemandangan kota yang indah, unsur-unsur pembentuk kota, toponimi, dan sejarah yang terungkap di buku ini tentunya akan menambah wawasan pembacanya akan sejarah dan budaya di tiap-tiap kota baik secara visual maupun naratif.

Melalui buku ini juga kita bisa melihat bagaimana bagian-bagian kota yang ada di buku ini telah hilang tergerus oleh arus modernisasi. Ada kehijauan dan keasrian yang hilang, bangunan-bangunan heritage yang dengan cita rasa arsitektural yang tinggi telah berganti wajah dengan bangunan modern dan sebagainya. Dengan membaca buku ini diharapkan generasi kini bisa lebih mencintai kotanya dengan berkaca dari masa lampau, memelihara unsur-unsur kota yang perlu dilestarikan, menghargai bangunan-bangunan tuanya dan memelihara kotanya agar tetap nyaman dan tertata dengan baik.

Akan sangat baik jika buku ini juga bisa diterbitkan dalam bahasa Inggris agar sejarah kota-kota di Indonesia masa lampau juga dapat dinikmati oleh orang-orang asing yang ingin mengenal kota-kota di Indonesia di masa lampau dengan cara yang menyenangkan.

@htanzil

Monday, June 15, 2015

Halaman Terakhir : Sebuah Novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng

[No 357]
Judul : Halaman Terakhir - Sebuah Novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng
Penulis : Yudhi Herwibowo
Penerbit : Noura Books
Cetakan : I, Februari 2015
Tebal : 436 hlm


Halaman terakhir adalah novelisasi penggalan dari kehidupan Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, sosok polisi teladan yang jujur,  berintegritas, dan sederhana yang mungkin hingga kini tidak ada yang sepertinya. Di novel ini penulis hanya membatasi kisahnya dari dua kasus terakhir yang ditangani oleh Hoegeng sebelum ia dipurna baktikan sebelum masa tugasnya berakhir oleh pemerintah Orde Baru saat itu.

Novel ini dimulai dengan sebuah prolog yang mengisahkan bagaimana pergulatan batin Hoegeng saat membaca surat dinas dari Menhankam yg salah satu kalimatnya berbunyi seperi ini

"...dengan ini kami menunjuk Jenderal Hoegeng Iman Santoso sebagai Duta Besar Kerajaan Belgia..."

Kalimat itu menandaskan bahwa tugasnya sebagi Kapolri telah selesai walaupun sebenarnya masa tugasnya belum habis. Sebagai seorang prajurit Hoegeng  menerima keputusan tersebut namun yang disesalkannya adalah mengapa ia harus berhenti saat ia sedang menyelesaikan dua kasus besar yang selama ini menyita energi dan waktunya. Dua kasus yang telah dijanjikannya akan terselesaikan selama masa kepemimpinannya.

Kemudian setting kisah beralih secara beruntun ke dua kasus terakhir Hoegeng yaitu pemerkosaan Sumaryah, gadis desa penjual telur di Jogyakarta yang kelak akan menghebohkan masyarakat Indonesia karena ada dugaan keterlibatan anak pejabat, dan kasus penyeludupan mobil mewah oleh Soni Cahaya yang memiliki kedekatan dengan Keluarga Cendana dan diduga melibatkan para pejabat terkait dalam usaha ilegalnya ini.

Dalam kisah Sumaryah penulis menarasikan tragedi gadis penjual telur itu dengan dramatis mulai dari perkosaan yang dilakukan empat orang pemuda dalam mobil combi terhadap Sumaryah hingga proses persidangan yang berlarut-larut, berbelit,  dan melelahkan.Tekanan batin yang dialami Sumaryah terungkap dengan jelas di novel ini, apalagi ketika pada akhirnya dia sempat menjadi tersangka atau bagaimana kasusnya ini menjadi kasus besar dan rumit karena diduga ada anak pejabat yang terlibat dan hadirnya tersangka dan saksi-saksi baru yang janggal. Hal inilah yang menyebabkan Jenderal Hoegeng menaruh perhatian khusus terhadap kasus ini dengan membentuk tim khusus sebelum akhirnya kasus ini tiba-tiba diambil alih oleh Terpepu (Tim Pemeriksa Pusat) yang biasanya mengurusi kasus-kasus berdimensi politik.

Pada kasus penyeludupan mobil mewah pembaca akan diajak melihat bagaimana Soni Cahaya mendatangkan mobil-mobil mewah dengan cara yang cerdik yang tentu saja melibatkan instansi-instansi terkait. Di bagian ini pembaca juga disuguhkan keseruan proses penangkapan Soni Cahaya sang gembong penyeludup mobil mewah.

Setelah menarasikan dua kasus terakhir Hoegeng, di bab-bab terakhir penulis menyuguhkan bagaimana kehidupan Hoegeng setelah tidak menjadi Kapolri lagi antara lain menjadi pengisi acara talk show Radio Elshinta yang membahas isu-isu sosial hingga menjadi seorang penyanyi Hawaian yang pada akhirnya bersama groupnya yang bernama Hawaiian Senior tampil seminggu sekali di TVRI.

Di bagian ini kita akan melihat kepedulian Hoegeng sebagai seorang polisi yang berbedikasi tidak luntur walau ia telah pensiun. Dari acara radio yang diasuhnya ia kerap menerima pengaduan-pengaduan masyarakat. Apa yang  ia dengar ia catat dan sampaikan ke teman-teman atau anak buahnya yang masih aktif di kepolisian lewat sebuah memo.

Di bagian akhir novel ini kita juga akan melihat bagaimana pada akhirnya Hoegeng disingkirkan pemerintah Orde Baru  ketika pada akhirnya ia memilih berseberangan dengan pemerintah dan bergabung bersama Jenderal (Purn) Nasution, Bung Hatta, Ali Sadikin, dll yang tergabung dalam Lembaga Kesadaran Berkonstitusi (LKB) dan menandatangani sebuah petisi yang kelak akan dikenal dengan sebutan Petisi 50  ditujukan pada pemerintah. (5 Mei 1980)

"Dan dari situlah, semua hal yang seharusnya tak diterimanya kemudian diterima! Presiden Soeharto, yang pada tahun-tahun itu semakin kuat, merasa kalau gerakan seperti itu seperti menentang dirinya. Maka, ia kemudian mencatat semua orang yang terlibat di dalamnya. Dengan gerakan halus dan nyaris tak terlihat, Seoharto kemudian melakukan serangan balasan." (hl, 423)

Novel ini mengungkapkan bahwa sejak Hoegeng ikut menandatangani Petisi 50 maka banyak yang berubah dari kehidupannya, antara lain ia tidak bisa datang ke pernikahan Prabowo dan Titiek Soeharto padahal ia adalah sahabat Soemitro, ayah Prabowo. Selain itu TVRI juga menghentikan siaran musik Hawaiian Seniors, yang sudah berjalan bertahun-tahun. Hoegeng menerima semua perlakuan itu dengan lapang dada, hanya satu yang paling memberatkan dan melukai hatinya yaitu pelarangan dirinya untuk hadir di upacaya Bhayangkara (HUT POLRI), setiap tanggal 1 Juli. 

Selain  Hoegeng novel ini juga memunculkan tokoh-tokoh lain yaitu Djaba Kresna, wartawan yang peduli akan nasib Sumaryah yang mendapat perlakuan tidak adil yang  ia tuliskan dalam bentuk berita atau opini di koran tempatnya bekerja. Lalu ada pula tokoh Jati Kusuma dan Wulan Sari, dua orang polisi yang ditugasi oleh Hoegeng untuk menangani kasus Sumaryah dan Soni Cahaya. Ketiga tokoh ini membuat novel ini menjadi semakin menarik karena ketiga tokoh inilah yang membuat kisah Hoegeng dan dua kasus yang ditanganinya ini menjadi lebih hidup dan seru untuk dibaca.


Melalui novel yang dikerjakan hampir setahun dengan riset pustaka yang serius dan wawancara dengan keluarga Alm. Hoegeng penulis juga menyuguhkan latar peristiwa-peristiwa sejarah dan sosial yang terjadi di Indonesia semasa Hoegeng menjadi Kapolri sehingga kita bisa belajar sejarah melalui novel ini.  Di luar dua kasus besar yang ditangani Hoegeng terungkap juga  bagaimana sulitnya Hoegeng menerapkan peraturan pemakaian helm bagi pengendara motor yang mendapat banyak tantangan dari masyarakat sampai-sampai Hoegeng diisukan memiliki pabrik helm sehingga mengeluarkan kebijakan tersebut.

Secara keseluruhan novel ini berhasil mengungkap dengan baik seluk beluk dan kerumitan penanganan dari dua kasus besar yang benar-benar pernah terjadi ini dalam balutan dramatisasi fiksi yang menarik. Namun sayangnya porsi pengungkapan dua kasus ini  terlalu mendominasi kisahnya sehingga porsi dan ketokohan Hoegeng sendiri tampak sedikit tenggelam padahal sub judul novel ini adalah "Sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng". Sub judul tersebut  tentunya akan menggiring pembaca pada persepsi bahwa mereka akan banyak mendapat kisah kehidupan Hoegeng sebagai seorang polisi.

Walau demikian, sekalipun tidak banyak,  penulis tetap menyertakan kilasan-kilasan kehidupan Hoegeng mulai dari awal kariernya di kepolisian hingga masa pensiunnya sehingga pembaca dapat  melihat sosok dan keteladanan Hoegeng sebagai polisi yang berdedikasi, jujur, dan sederhana. Hal ini antara lain terungkap ketika Hoegeng ditugaskan sebagai Kadit Reskim Sumatera Utara.

Ketika itu di dalam rumah dinasnya, ditemukan barang-barang mewah kiriman seorang pengusaha yang mengaku sebagai Ketua Panitia Selamat Datang. 

Tentu saja, Hoegenge menolak sambutan itu. Namun, si tukang suap ternyata bukan orang yang mudah menyerah. Ia tak menghiraukan penolakan Hoegeng yang meminta barang-barang itu diambil kembali. Sehingga, sampai batas waktu yang ditetapkan, Hoegeng akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk mengeluarkan barang-barang itu dari rumah dinasnya. (hlm 129-130)

Sikap Hoegeng untuk menolak pemberian itu adalah tindakan nyata dari apa yang pernah dipesankan Hoegeng pada anak buahnya sbb :



Selain hal di atas masih ada beberapa kisah lain yang mengungkap kejujuran dan dedikasi Hoegeng pada tugas yang diembannya sehingga novel ini patut dibaca oleh siapapun di tengah langkanya figur seorang pemimpin teladan di tengah-tengah kita. Dipaparkannya dua kasus besar yang  sarat konflik kepentingan di masa Hoegeng bertugas di tahun 70an ini menyadarkan kita bahwa keadilan yang hampir tidak pernah dirasakan rakyat kecil seperti Sumaryah dan kasus kejahatan yang  yang melibatkan instasi oknum-oknum di jajaran pemerintahan tetap saja masih terjadi di jaman ini. Apakah ini menandakan bahwa dalam segi hukum dan keadilan negara kita hanya "berjalan di tempat" ?

@htanzil

Wednesday, May 20, 2015

Serba 90-an dalam Komik

[No. 356]
Judul : Serba 90-an dalam Komik
Ilustrator : Nana Naung
Penerbit : Alisha Books
Tebal : 138 hlm
ISBN : 978-602-70410-8-0

Komik ini berisi serba-serbi permainan, kegiatan, dan kebiasaan-kebiasaan yang populer di era-90an ketika kita khususnya anak-anak belum dilanda demam gadget seperti sekarang. Saya tidak akan berpanjang-panjang dalam mereview komik ini karena khawatir menggangu kenikmatan dan membiarkan calon pembaca komik ini untuk menduga-duga sendiri apa yang akan mereka temui dalam lembar demi lembar komik ini.

Secara keseluruhan komik ini berhasil mengangkat hal-hal menarik yang pernah kita alami di era-90an ketika kita masih sekolah dalam panel-panel gambar yang dinamis dengan eksrpesi wajah-wajah lucu dari orang-orang yang ada di dalamnya. Singkat kata komik ini akan membawa kita kembali ke masa-masa indah ketika masih anak-anak dengan senyum dan tawa sambil meningat kebodohan-kebodohan dan keisengan yang mungkin pernah kita lakukan seperti yang tertuang dalam puluhan judul dalam komik ini.

Tidak hanya berisi komik hitam putih, buku ini juga menyajikan beberapa halaman berwarna, dan di bagian paling akhir ada bonus berupa lirik dan kord gitar dari lagu tema film yang populer di tahun 90-an yaitu OST Keluarga Cemara, Remi, dan Honey Bee Hatch.

Akhir kita, ini endorsment saya untuk komik ini.





Berikut contoh beberapa panel gambar yang ada di buku ini







@htanzil