Monday, July 14, 2008
Menyusuri Lorong-Lorong Dunia – jilid 2
Catatan Perjalanan Plus Plus !

Judul : Menyusuri Lorong-Lorong Dunia – jilid 2
Penulis : Sigit Susanto
Penyunting : Puthut EA
Penerbit : Insist Press,
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal : xvi + 477 hal

“…aku ingin memboyong seluruh lorong kota atau negara yang sedang aku kunjungi untuk dibawa pulang ke negeri sendiri. Jangan ada satu jejakku yang lepas dari catatan, ketika aku berada di kota atau negeri asing itu”. (hal 11)

- Sigit Susanto, Menyusuri Lorong-Lorong Dunia jilid 2-

Demikian tekad Sigit Susanto, seorang petualang sejati dan penyuka sastra yang hingga tulisan ini dibuat telah mengunjungi sebanyak 27 negara bersama istri tercintanya, Claudia Beck. Dari Swiss dimana ia tinggal dan bekerja, ia memulai petualangannya menyusuri lorong-lorong dunia. Ia rela menyisihkan sebagian penghasilan sebagai buruh pabrik elektronik hinga juru masak hamburger, yang penting ia masih punya waktu dan uang untuk bepergian dan belajar sastra.

Ketekunannya yang luar biasa untuk mencatat semua kisah perjalanannya kini telah berbuahkan dua buah buku catatan perjalanan. Tahun 2005 terbit buku catatan perjalanannya yang berjudul Menyusuri Lorong-lorong Dunia (Insist Press). Dan kini, terbitlah sekuel dari buku pertamanya. Masih dengan judul yang sama hanya diberi imbuhan ‘jilid 2’, mengisyaratkan bakal ada jilid-jilid selanjutnya selama Sigit masih berkelana dan mencatat semua kisah perjalanannya.

Buku pertamanya sukses di pasaran, resensinya muncul di lebih dari 5 media cetak lokal dan nasional. Semuanya bernada positif dan memuji apa yang dicatat oleh Sigit Susanto dalam bukunya. Dan kesemua resensi tersebut sepakat bahwa apa yang ditulis oleh Sigit Susanto menawarkan sesuatu yang ‘lain’ dibanding buku-buku kisah perjalanan lainnya.

Dibanding buku pertamanya, dibuku keduanya ini jumlah negara yang dikunjunginya menyusut hampir setengahnya. Jika dibuku pertamanya Sigit mencatat perjalanannya di 13 negara, kini ia hanya mencatat sebanyak 7 negara saja (Swiss, Dublin, Hongaria, Potugal, Maroko, China, dan Vietnam). Alih-alih memperbanyak jumlah negara yang dikunjunginya, di buku keduanya ini Sigit mencatat kisah perjalanannya dengan begitu detail sehingga dari segi ketebalan buku, buku ini tampak lebih gemuk dibanding yang pertama.

Selalu ada Sastra

Tampaknya dunia sastra sudah mendarah daging dalam jiwa Sigit. Ketika penulis kisah-kisah perjalanan lainnya berasyik-asyik menulis keeksotisan panorama alam yang dilihatnya dan mencerecap nikmatnya keragaman kuliner yang memabukkan raga, Sigit malah mengurai dunia sastra yang ia sesuaikan dengan konteks negara yang dikunjunginya.

Buku ini dibuka dengan bab “Ullyses Dibaca selama Tiga Tahun”. Dari judulnya saja sudah sangat jauh dari kesan sebuah tulisan mengenai catatan perjalanan pada umumnya. Di bab ini Sigit menceritakan pengalamannya mengikuti reading groups Ullyses di kota Zurich, Swiss.

Di dua bab berikutnya, Sigit masih keasikan menulis hal-hal seputar James Joyce. Ia tumpahkan semua informasi yang dimilikinya tentang Joyce dan karya-karyanya. Mulai dari perayaan Blomsday, hingga menyusuri Dublin untuk menapaktilasi kehidupan Joyce disana.

Tulisannya tentang Joyce bisa dikatakan cukup komprehensif, selain mengunjungi rumah-rumah yang pernah ditempati Joyce dan museum James Joyce, Sigit juga mengurai biografi Joyce beserta ulasannya mengenai proses kreatif dibalik pembuatan Ullyses. Tak hanya itu di bab ini disertakan juga teks satu halaman pertama Ullyses dalam bahasa inggris. Singkat kata, ketiga bab pertama dalam buku ini bisa dijadikan pengantar yang sangat baik bagi mereka yang ingin mendalami dunia Joyce.

Jika di Dublin kita diajak berkenalan dengan Joyce, maka di Budapest-Hongaria ada Imre Kertesz, peraih nobel sastra 2002, Erno Szep, penyair dan wartawan. Di Portugal ada Vasco da Gama, Fernando Antonio Pessoa (1888-1935), Jose Saramago, dll. Di Maroko ada Fettima Merissi, penulis feminis, di China kita akan bertemu Mao yang juga seorang penyair dan Lu Xun yang berkata, “Semua sastra adalah propaganda, tapi tidak semua propaganda itu sastra “( hal 303). Sedangkan di Vietnam ada Bao Ninh dan Le Thi Deim Thuy, penulis lokal yang menulis novel tentang perang vietnam. Selain itu ada juga Candi Sastra, sekolah pertama dan tertua di Vietnam.

Kesemua nama sastrawan diatas, walau tak sedetail Joyce ditulis dengan informatif beserta karya-karya terkemukanya. Selain bicara soal sastrawan dan karya-karyanya, beberapa kalimat yang nyastra juga ikut menghiasi buku ini, tanpa berlebihan Sigit mennyelipkan sejumlah metafora dalam kalimat-kalimatnya, seperti :

“Stasiun Desa Oberwil masih tidur. Tidak ada kereta di pagi itu yang bisa membawa kami ke bandara”, “Masih ada tiga jam lagi untuk mencumbui sudut-sudut kota yang alpa kami singgahi”, “Cahaya pagi matahari sontak tumpah di kamar. Kami terbangun agak malas.”

Pilihan kalimat-kalimat nyastra diatas tentu saja membuat buku ini semakin enak dibaca. Sigit memang dikenal dengan penutur yang baik. Membaca tulisan-tulisannya yang, deskrpitif, renyah, dan enak dibaca membuat seolah kita sendiri yang sedang berkelana menyusuri lorong-lorong dunia.

Realita Budaya dan Politik.

Tak hanya mencatat soal tempat dan sastra, Sigit juga senantiasa menyinggung realita budaya dan politik di tiap negara yang dikunjunginya. Terlebih ketika ia mengunjungi tiga negara sosialis (Hongaria, Vietnam dan China). Di tiga negara ini tampaknya Sigit antusias sekali mencari tahu pandangan masyarakat kecil mengenai kondisi sosial politik di negara-negara tersebut dan membandingkannya dengan kondisi di Indonesia

Untuk usahanya itu ia tak segan-segan menyelinap dari rombongan tournya dan mewawancarai tiap orang yang ditemuinya untuk memperoleh informasi. Jika dirasa masih juga belum lengkap, ia akan melengkapinya dengan sejumlah buku-buku yang yang dibacanya sebelum dan setelah ia mengunjungi negara tersebut. Karenanya tak heran buku ini menjadi sangat informatif.

Untuk memperkaya catatan perjalanannya ini, Sigit mengunyah lebih dari 100 buku yang dilahapnya dengan rakus. Semua buku yang dibacanya dan dijadikan sumber acuan tulisannya, tertera dalam daftar pustaka di lembar terakhir buku ini.

Ketika menulis realita sosial di setiap negara yang dikunjunginya, akan terungkap bahwa Sigit adalah seorang yang lembut hatinya, berkali-kali ia merasa gelisah manakala melihat ketimpangan dan ketidakadilan yang menimpa orang-orang kecil di negara yang ia kunjugi. Ketika berada di China, hatinya trenyuh melihat bagaimana tukang perahu harus turun ke sungai untuk mendorong perahu manakala sampai di sungai yang dangkal sementara para turis masih asik berada diatas perahu.

Sisi kemanusiaannya tergugah ketika melihat kuli-kuli di China berjalan sempoyongan mengangkut kopor-kopor milik wisatawan. Hatinya membatin resah karena beberapa wisatawan mengabadikan para kuli tersebut dalam kamera foto mereka. “Akankah mereka menjual kemiskinan China yang jarang diberitakan media ? Ataukah para wisatawan itu akan membuktikan, semaju-majunya China, di Barat, dunia mereka, tidak ada kuli seperti di China” (hal 318)

Peta dan Foto-foto

Selain dilengkapi dengan peta rute perjalanan, buku ini juga menyertakan sejumlah foto. Tak seperti di buku pertamanya yang menyajikan foto hitam putih tak jelas, kini foto-fotonya berwarna dan terlihat ‘kinclong’ karena dicetak secara khusus diatas kertas glossy. Sayang semua fotonya ditempatkan di akhir tiap bab, andai saja dapat diletakkan di sebelah halaman yang membahas tempat atau peristiwa dalam foto tersebut, tentunya pembaca akan lebih dimudahkan lagi dalam mengikuti petualangan penulisnya.

Sama seperti tulisannya yang tak mengumbar keeksotisan suatu tempat, beberapa foto dalam buku inipun menyajikan foto-foto bertema sosial. Di Dublin tersaji foto seorang pemabuk duduk di tengah patung Oscar Wilde dan Eduard Vilde, di Maroko ditampilkan foto tukang cerita yang sedang beraksi, lalu ada pula foto pengemis buta yang berderet-deret.

Di China, alih-alih menyajikan foto Tembok Besar dan kemegahan patung tentara Terra Cotta, Sigit malah menyajikan foto barisan orang yang sedang mengantri untuk menuju mouseleum Mao di Tainamen, selain itu ada pula foto seorang ibu yang menggendong anaknya di dalam keranjang bambu.

Foto penulisnya sendiri tampak dua kali mejeng di buku ini, pertama foto Sigit yang sedang membaca Ullyses dengan latar Martello Tower, Dublin. Kedua foto Sigit di depan monumen kapal ekspedisi Vasco da Gama, Lisabon. Sayang tak ada satupun foto penulis bersama istrinya. Padahal Sigit dan Claudia Beck selalu bersama dalam menyusuri lorong-lorong dunia. Dan lagi bukankah hampir di tiap bab, aktifitas sang istri juga turut mewarnai kisah perjalanan penulisnya?.

Catatan Perjalanan Plus Plus

Akhirnya, setelah melahap habis buku ini dan buku pertamanya, tak berlebihan jika saya katakan bahwa apa yang ditulis Sigit dalam dua bukunya ini bukan sekedar catatan perjalanan biasa. Buku ini merupakan Kumpulan Catatan Perjalanan Plus Plus !. Plus pertama adalah muatan sastranya, plus kedua adalah muatan sosial budaya dan politiknya. Kedua ‘plus’ inilah yang membuat buku ini menjadi begitu informatif, kaya materi, dan yang pasti akan menambah wawasan kita akan negara-negara yang dikunjungi penulisnya.

Namun harus disadari tak semua pembaca catatan perjalanan suka akan kedua plus diatas. Detailnya Sigit mengungkap sastra dan politik akan menjadi hal yang paling membosankan bagi mereka yang tak menyukai kedua bidang tersebut. Karenanya diperlukan positioning yang jelas bagi siapa buku ini diperuntukkan. Jika sekedar diperuntukkan bagi mereka penyuka traveling saja, tentunya ini bukan buku yang tepat. Namun jika diperuntukkan bagi para petualangan sejati yang juga menggemari sastra dan politik, buku inilah yang wajib dibaca dan dimiliki!

Apa yang kurang dibuku ini?

Anwar Holid, pengamat buku yang juga menjadi pembahas ketika buku ini diluncurkan di TB Ultimis Bandung mengungkap bahwa meski buku ini telah dieditori oleh Puthut EA yang dikenal sebagai ‘penulis yang kuat’, buku ini dari segi editing masih menyisakan bebagai kelemahan. Peta yang buruk, salah eja, inkonsistensi format, dan kekeliruan pencantuman indeks membuat hal-hal tersebut mesti segera diperbaiki bila nanti cetak ulang., demikian ungkap Anwar Holid.

Namun terlepas dari berbagai kekurangan di atas, buku ini tetap bisa saya nikmati dengan baik. Bagi saya yang tak pernah menjejakkan kaki ke luar negeri, membaca buku ini yang ditulis dengan renyah, mengalir, enak dibaca, dan kaya akan informasi sastra, membuat saya seolah ikut menyusuri lorong-lorong dunia sambil menekuni dunia sastra lewat halaman-halaman buku.

Sigit masih terus mencatat

Sesusai dengan tekadnya yang saya kutip di awal tulisan ini, Sigit masih akan terus mencatat semua kisah perjalanannya. Di pertengahan tahun 2008 ini saja sudah terjadwal kunjungannya ke 4 negara lagi. Tampaknya tak ada yang bisa menghentikan langkah kaki dan guratan penanya selama ia masih bekerja dan tinggal di Eropa.

Sigit masih terus berkelana dan mencatat kisah-kisahnya, akankah kembali dibukukan ? Apakah penerbit memiliki komitmen untuk menerbitkan jilid-jilid selanjutnya? Jika jawabannya “Ya”, maka seri Menyusuri Lorong Lorong Dunia akan merupakan buku seri catatan perjalanan yang kedua yang terbit secara konsisten setelah era legenda traveling Prof. HOK Tanzil yang pernah merajai tulisan catatan perjalanan di era 80an.

@h_tanzil
 
posted by h_tanzil at 1:27 AM | Permalink | 4 comments
Monday, July 07, 2008
Mohon Maaf...
Kepada para pengunjung setia blog ‘bukuygkubaca’, saya mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah lebih dari 2 minggu ini saya belum juga meng-update review buku. Karena kesibukan baik di keluarga dan pekerjaan yang semakin menumpuk, otomatis jam baca saya semakin sempit sehingga buku yang saya baca tak juga rampung-rampung terselesaikan.

Sebenarnya saya sudah menyelesaikan buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia jilid 2 – Sigit Susanto, namun hingga kini belum sempat menuntaskan reviewnya. Semoga minggu depan bisa saya buatkan reviewnya

Seperti biasa walau waktu semakin sempit untuk membaca, ‘lapar mata’ terhadap buku tetap saja tak bisa dibendung. Di sela-sela menunggu mertua yang sakit di RS Boromoeus Bandung, saya menyempatkan diri ke counter TB Gramedia yang masih satu komplek dengan RS Boromeous.

Counter Gramedia yang mungil namun lengkap dan ditata dengan menawan itu membuat saya tak bosan-bosannya mampir untuk menghilangkan kejenuhan selama menunggu di rumah sakit. Setelah beberapa kali berkunjung akhirnya kemarin saya melihat sebuah buku sejarah :

Nusantara, Sejarah Indonesia
Judul Asli : Nusantara : A History of Indonesia
Penulis : Bernard HM. Vleke
Penerjemah : Samsudin Berlian
Penerbit : KPG, cet II April 2008
Tebal : 528 hal

Buku ini diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) dan diterjemahkan dari edisi tahun 1961. Sebelumnya saya memang sudah mendengar bahwa buku yang banyak dijadikan sumber referensi oleh para peneliti sejarah ini telah diterjemahkan oleh KPG. Namun baru kali ini saya melihat wujud fisiknya.

Secara fisik buku Nusantara ini menarik, covernya yang berupa lukisan peperangan karya Rully Sutanto sangat menawan dan terkesan lebih menyerupai novel dibanding buku sejarah, selain itu halaman dalamnya dicetak diatas kertas yang ringan sehingga buku setebal 528 halaman ini terasa enteng ditangan.

Di halaman copyright ada hal yang menarik, berupa penjelasan dari penerbit sbb :

Penerbitan buku ini sudah melalui proses pencarian hak terjemahan sebagaimana mestinya. Kendati demikian, hingga buku naik cetak, penerbit belum berhasil menghubungi pemegang hak cipta buku yang sah. Penerbit akan menyelesaikan persoalan hak terjemahan buku ini segera setelah berhasil menghubungi pemegang hak cipta yang sah.

Wah, pernyataan yang jujur dari penerbit nih…

Akhirnya tanpa pikir panjang saya beli buku Nusantara tersebut seharga Rp. 60.000,-. Dan karena saya belum sempat membacanya, maka saya akan memberikan deskripsinya saja sesuai dengan yang tercetak di cover belakang buku ini.

Deskripsi :

Nusantara merupakan salah satu karya tentang sejarah Indonesia yang ditulis dengan perspektif komprehensif. Kurun waktu yang dibahas sejak zaman pra-kolonial sampai 1941.”Buku ini dirancang sebagai sejarah Indonesia dan bukan perluasan perusahaan dan koloni Belanda di luar negeri,” tukas Vlekke, seng penulis, dalam prakatanya. Karena itu, sejarah negara-negara dan pranata-pranata di Indonesia pra-kolonial mendapat porsi pembahasan lebih besar.

Uraiaannya tentang sejarah Indonesia pra-kolonial itu sangat penting dan kaya ilustrasi. Tentang Majapahit, misalnya. Menurut Vlekke, kejayaan Majapahit runtuh bukan disebabkan oleh kerajaan Islam.

Vlekke juga punya penjelasan menarik tentang mengapa masyarakat Jawa berbondong-bondong masuk Islam, tapi pada saat yang sama begitu bersahabat dengan tradisi lokal (sinkretis). Para raja Jawa, menurut Vlekke, memilih Islam bukan karena mereka suka dengan agama itu, melainkan karena situasi politik mendorong mereka untuk bertindak demikian. Mereka dihadapkan pilihan sulit antara memilih bersekutu dengan Portugis atau bekerjasama dengan Johor dan Demak, yang berarti harus memilih antara Kristen dan Islam.

Membaca Nusantara seperti membaca dongeng karena kaya ilustrasi. Inilah kelebihan lain karya ini dibandingkan kebanyakan buku sejarah tentang Indonesia.

Daftar Isi :

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG GEOGRAFIS

BAB 1
FAJAR SEJARAH INDONESIA

BAB 2
KERAJAAN-KERAJAAN JAWA DAN SUMATERA

BAB 3
PENDIRI-PENDIRI IMPERIUM DI JAWA

BAB 4
MUSLIM DAN PORTUGIS

BAB 5
PEDAGANG DARI NEGERI RENDAH

BAB 6
INDONESIA DI ZAMAN SULTAN AGUNG
DAN ZAN PIETERSZOON COEN

BAB 7
KEUNGGULAN KEKUATAN LAUT DI INDONESIA

BAB 8
KERUNTUHAN NEGARA-NEGARA INDONESIA

BAB 9
ASPEK-ASPEK BARU KEHIDUPAN DI INDONESIA

BAB 10
ORANG BELANDA DAN INDONESIA PADA ABAD KE 18

BAB 11
HERMAN WILLEM DAENDELS,
NAPOLEON DARI BATAVIA

BAB 12
THOMAS STAMFORD RAFLESS, PENDIRI SINGAPURA

BAB 13
JOHANNES VAN DEN BOSCH DAN KAUM LIBERAL

BAB 14
PENYATUAN INDONESIA

BAB 15
BERAKHIRNYA SUATU KOLONI,
LAHIRNYA SUATU BANGSA

BAB 16
MENUJU PERANG DAN REVOLUSI

CATATAN
RINGKASAN KRONOLOGIS
INDEKS


Nah! Menarik bukan? Yang pasti melihat cover , membaca deskripsi, dan melihat daftar isinya membuat saya ingin segera membacanya.. Wah bertambah panjang lagi deretan buku-buku yang antri menanti untuk dibaca…..

Postingan ini bukan iklan atas buku NUSANTARA, namun hanya sekedar berbagi pengalaman membeli sebuah buku sejarah.

@h_tanzil
 
posted by h_tanzil at 1:43 AM | Permalink | 2 comments
Sunday, June 22, 2008
Lolita
Judul : Lolita
Penulis : Vladimir Nabokov
Penerjemah : Anton Kurnia
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal : 529 hal

Novel Lolita adalah mahakarya Vladimir Nobakov (1899-1977), penulis kelahiran Rusia yang kemudian menetap di Amerika Serikat. Walau kini Lolita telah diakui sebagai salah satu karya sastra klasik dunia, novel ini sempat dilarang beredar dan ditolak oleh beberapa penerbit Amerika karena tema dan isinya dianggap tidak senonoh dan melanggar standar moral masyarakat pada zaman itu

Novel ini akhirnya diterbitkan untuk pertama kalinya dalam bahasa Perancis oleh Olympia Perss, 15 Sept 1955, penerbit Perancis yang biasa menerbitkan buku-buku serius dan beberapa buku ‘dewasa’. Seketika itu pula novel ini menjadi best seller dan laris terjual 5000 kopi. Langsung saja novel ini menuai kontroversi, akibatnya pada Desember 1956 pemerintah Perancis melarang peredaran novel ini selama hampir dua tahun lamanya.

Selang dua tahun setelah edisi pertamanya terbit di Perancis, pada 1958 Lolita diterbitkan di Amerika oleh penerbit G.P. Putnam's Sons. Sama seperti di Perancis, novel ini langsung menjadi best seller dan terjual 100.000 kopi pada tingga minggu pertama setelah diterbitkan.



Cover Lolita cetakan pertama
Olympia Perss, Sept 1955





Apa sebenarnya yang ditulis oleh Nobakov dalam novelnya ini? Novel Lolita yang diyakini mengandung elemen-elemen autobiografis Nobakov ini merupakan memoar seorang profesor bernama Humbert Humbert yang menuliskan petualangan cintanya bersama Lolita. Dalam bab pendahulaun dikisiahkan pada saat memornya diterbitkan, Humbert tewas dalam tahanan akibat penyakit jantung pada 1952. Memoar yang diberi judul “Lolita, ATAU Pengakuan Seorang Duda” ini akhirnya sampai ke tangan seorang editor yang kemudian menerbitkannya dengan judul Lolita. Dari memoar inilah cerita dalam novel ini bergulir.

Humbert Humbert adalah seorang terdidik yang lahir di Paris. Seperti umumnya pria remaja, gairah remajanya dilewatinya dengan menjalin cinta monyet dengan Annabel Leigh. Malangnya cintanya pada Annabel kandas karena kekasihnya meninggal akibat penyakit tipus. Menurut pengakuan Humbert kisah cintanya dengan Annabel inilah yang membuat dirinya mulai tertarik secara seksual kepada gadis-gadis kecil berusia 9 sampai 14 tahun yang disebutnya sebagai ‘peri asmara’ (nymphet).

Ketika beranjak dewasa gairahnya pada para peri asmara terus membuncah. Untuk menekan gairahnya ganjilnya ini Humbert akhirnya menikah dengan Vallerie gadis sepantarannya yang menurutnya memiliki gaya dan pesona seorang gadis kecil. Namun rumah tangganya ini tak berlangsung lama, Vallerie menghianatinya dan akhirnya merekapun bercerai.

Setelah bercerai, Humbert memutuskan berkelana ke Amerika. Jalan hidupnya menempatkan dirinya tinggal dalam sebuah pondokan di Ramsdale, New England. Di tempat inilah Humbert terkesiap melihat sosok Lolita, gadis berusia 12 tahun yang merupakan putri Charlote si pemilik pondokan. Humbert yang saat itu berusia tigapuluhan tak kuasa menahan gejolak asmara dan berahinya melihat Dolorez Haze atau Lolita, gadis kecil yang jelas merupakan ‘peri asmara’ baginya.

Demi mendapatkan cinta dan tubuh Lolita, Humbert rela menikahi Charlote, ibu gadis itu. Sempat terbesit niat jahatnya untuk membunuh Charlote. Namun keberuntungan seolah berpihak padanya. Charlote tewas dalam sebuah kecelakaan. Tanpa banyak menunggu, Lolita yang saat itu sedang mengikuti perkemahan bersama sekolahnya dijemput oleh Humbert dan dibawanya mengelilingi Amerika Serikat. Dan dimulailah petualangan cinta terlarang antara ayah dengan anak tirinya.


Salah satu adegan film Lolita ketika Humbert bersama Lolita melakukan perjalanannya keliling Amerika

Lolita, Directed by Stanley Kubrick, 1962


Novel ini menjadi menarik selain karena tema cinta terlarang antara ayah dan anak tirinya, Nabokov juga dengan deskriptif melukiskan nuansa psikologis tokoh-tokohnya dengan disertai penokohan yang kuat . Humbert yang berkepribadian rumit dan Lolita seorang pecinta kebebasan namun terkadang misterius. Dengan piawai Nabokov menggiring pembacanya untuk memahami kekuatan cinta seorang Humbert terhadap Lolita. Bagaimana keragu-raguannya ketika pertama kali berniat menyentuh tubuh anak tirinya, dan bagaimana Lolita melakukan tarik ulur dalam merespon cinta ayah tirinya.

Emosi pembaca akan dibawa pada rasa kasihan dan geram terhadap Humbert dan Lolita. Kasihan karena sesungguhnya Humbert adalah pribadi yang kesepian yang membutuhkan cinta. Geram karena gairahnya yang menggebu-gebu terhadap Lolita, kadang Humbert tak mempedulikan Lolita yang sedang sakit dengan tetap mencumbunya.

Bagi sebagian pembaca mungkin akan menganggap novel ini bukan novel yang cair dan mudah dimengerti karena Nabokov banyak mengeksplorasi kondisi kejiwaan dan lamunan-lamunan Humbert. Selain itu novel ini juga banyak menggunakan simbol-simbol yang baru akan dimengerti oleh pembacanya setelah melahap habis novel ini hingga lembar terakhir. Namun bagi sebagian pembaca lainnya justru hal-hal itulah yang membuat novel ini mengasyikan untuk dibaca hingga tuntas.

Meskipun bukan novel yang mudah dicerna, novel ini sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Agar dapat menikmati novel ini ada baiknya kita membacanya lebih ke pendekatan psikologis dibanding naratif sehingga kita bisa menikmati dan memahami gejolak jiwa Humbert yang sakit.

Menurut penerjemah novel ini, Anton Kurnia, yang dikenal sebagai cerpenis sekaligus penerjemah karya-karya sastra dunia. Nabokov memang menulis novelnya ini dengan menggunakan kalimat yang panjang-panjang dan sebagai besar berisi lamunan Humbert yang sakit jiwanya. Untuk itu Anton tak jarang harus memotong satu kalimat panjang dalam novel ini menjadi dua atau bahkan tiga kalimat agar lebih mudah dan tidak capek membacanya.

Hal itulah yang membuat Anton harus berjerih lelah untuk menghadirkan terjemahan yang baik. Menurut pengakuannya untuk menerjemahkan novel yang dalam edisi bahasa Inggrisnya setebal 300-an halaman ini, ia memerlukan waktu satu tahun hingga novel tersebut siap dicetak. “Ini terjemahan paling sulit dan paling lama yg saya tangani,: ini lebih berat dari les miserables (Victor Hugo)”, ungkap Anton. Namun walau sulit, Anton justru menikmati proses penerjemahannya ini, “Saya suka Lolita jadi saya ikuti terus liku-likunya”, imbuhnya.

Walau novel ini sempat menuai kontroversi tapi saya sendiri tak melihat ada sesuatu yang berlebihan dalam novel ini. Selain temanya yang tak lazim dalam standar moral masyarakat pada umumnya, rasanya tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Deskripsi pelampiasan gairah Humbert terhadap Lolita saya pikir masih dalam batas-batas keindahan sastrawi, masih kalah dengan beberapa novel-novel lokal yang terkesan lebih berani dalam mengurai adegan percintaan.

Yang pasti novel yang kini telah menjadi salah satu karya sastra klasik dunia, pada masanya pernah menjadi buku laris selama puluhan tahun. Karena kepopulerannya, Lolita sempat dua kali diangkat ke layer lebar (1962 & 1997). Berbagai pujian dianugerahkan kepada novel ini. BBC mendapuk Lolita sebagai novel terbaik sepanjang masa, Majalah Times menyatakan bahwa Lolita adalah salah satu diantara tiga novel paling berpengaruh di dunia.

Modern Library yang beranggotakan sejumlah pengarang, kritisi sastra dan itelektual ternama pada tahun 1998 melakukan pemilihan 100 novel terbaik abad ke dua puluh yang ditulis dalam bahasa Inggris. Pemilihan ini disusun berdasarkan peringkat. Lolita masuk dalam peringkat keempat dibawah Ullyses (James Joysce), The Great Gastsby (F.Scott Fizgerald), dan A Portrait Of The Artist As a Young Man (James Joyce).


Jadi tak ada alasan lagi untuk tidak membaca novel ini. Salut untuk Serambi yang telah menerjemahkan novel ini. Walau novel ini terlambat diterjemahkan lebih dari 50 tahun, namun tak ada kata terlambat untuk membaca sebuah karya sastra klasik dunia. Dan lagi apa yang diangkat oleh Nabokov dalam novel ini tampak masih relevan untuk masa kini. Jika kita mau menengok sekeliling kita, ada banyak Humbert-Humbert disekeliling kita baik yang secara terus terang maupun sembunyi-sembunyi.

Dan yang pasti seperti yang ditulis dalam novel ini ; “Lolita seharusnya membuat kita semua para orangtua, pekerja sosial, pendidik – meningkatkan wawasan dan kewaspadaan dalam menunaikan tugas membesarkan gernerai yang lebih baik dalam sebuah dunia yang lebih aman.” (hal 11)


@h_tanzil
 
posted by h_tanzil at 8:12 PM | Permalink | 4 comments
Sunday, June 08, 2008
Perjalanan Ajaib
No.
Judul : Chicken Soupr for The Soul – Perjalanan Ajaib
Genre : Graphic Novel / Komik
Gambar oleh : Kim Donghwa
Penerjemah : Prasasti Budiyanto
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2008
Tebal : 145 hal

Buku seri Chicken Soup for The Soul seakan tak pernah ada matinya. Sudah lebih dari 10 tahun ketika Jack Canfield dan Mark Victor Hansen mengumpulkan kisah-kisah nyata yang inspiratif dan menyentuh hati yang kemudian dirangkai dalam sebuah buku bertajuk Chicken Soup for The Soul. Setelah buku pertamanya sukses dipasaran, buku ini seolah tak dapat dibendung lagi. Jack Canfield & Victor Hansen melanjutkan proyeknya, hasilnya berpuluh-puluh tema buku dibawah judul Chicken Soup for The Soul terus diterbitkan dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia termasuk di Indonesia hingga kini.

Selain terus munculnya judul-judul baru, seri Chicken Soup juga telah diadaptasi kedalam novel grafis (komik) oleh komikus Korea, Kim Donghwa. Tahun 2006 terjemahan dua buah komik adaptasi Chicken Soup yang bertajuk “Hadiah Terindah” dan “Pelajaran Berharga” diterbitkan oleh Gramedia. Kabarnya komik ini laris manis di pasaran sehingga kini terbit pula komik ketiga Chicken Soup dengan judul Perjalanan Ajaib (2008) yang diadaptasi dari A 2 nd Helping of Chicken Soup fot The Soul & A 3 rd Serving of Chicken Soup for The Soul.

Perjalanan Ajaib yang dijadikan judul novel grafis ini merupakan kisah seorang editor yang dalam sebuah kunjungannya ke sebuah desa terpencil menemukan sebuah toko buku bekas. Secara tak diduga di toko buku tersebut ia menemukan sebuah buku kesayangannya yang dulu pernah diloakkan ke penjual buku bekas.

Ia merasa seperti bertemu dengan teman masa kecil secara tak terduga. Terbesit keinginan untuk membelinya kembali, tapi ia kemudian menyadari bahwa buku tersebut mungkin telah berganti pemilik beberapa kali, dan kisah dalam buku itu telah menyentuh beberapa pembacanya. Jika ia membeli kembali buku itu, maka perjalanan buku tersebut akan terhenti. Jadi ia membiarkan buku tersebut melanjutkan perjalanan untuk menyentuh hati pembaca-pembaca lainnya

Selain itu ada pula kisah berjudul Pelajaran dari Angsa, dimana dikisahkan perilaku rombongan angsa yang terbang untuk berpindah tempat karena perubahan musim. Dalam perjalanannya jika ada seekor angsa sakit dan tak bisa terbang, maka dua ekor angsa lainnya akan mendampingi angsa yang sakit itu, melindungi dan menolongnya mendarat di tanah sampai angsa itu dapat terbang lagi. Jika angsa yang sakit itu sekarat, dua angsa itu akan menunggu dan baru akan bergabung dengan kawanan angsa lainnya jika angsa yang sakit itu mati.

Masih banyak kisah-kisah menarik lainnya tentang kebaikan dan ketegaran hati yang menghiasi halaman-halaman buku ini. Tak perlu banyak komentar akan buku ini. Yang pasti selain ketigabelas kisah-kisahnya yang menyentuh dan isnspiratif, mata pembaca juga akan dimanjakan dengan sapuan warna dan gambar Kim Donghwa yang sangat indah.

Karena bentuknya komik berwarna dan digambar dengan gaya komik-komik jepang atau korea pada umumnya, serta cover yang samangat menarik, tak heran buku ini akan menarik perhatian anak-anak untuk membacanya. Kisah-kisahnya pendek-pendek, untuk satu kisah hanya diperlukan 5-12 halaman dengan panel-panel gambar yang dinamis dan teks-teks dalam balon percakapan yang tidak terlalu panjang, karenanya bukan mustahil anak-anakpun bisa memahaminya.

Yang pasti, komik Chicken Soup for The Soul – Perjalanan Ajaib ini dipilih oleh anak saya Sherine (7 tahun) ketika ia diajak ke toko buku. Ternyata dia bisa menikmati buku yang dipilihnya ini. Memang ada kisah-kisah yang tidak dimengerti maknanya, jika demikian tentunya saya akan membantunya untuk memahami buku ini.

Karenanya tak berlebihan jika komik Chicken Soup ini bisa kita jadikan sebagai bacaan yang membangun jiwa bagi anak-anak kita. Seperti Sherine tentunya tak semua kisah bisa dipahaminya, namun tugas kitalah sebagai orang tua untuk membimbingnya dalam memahami apa makna dibalik kisah-kisah yang menyentuh dan inspiratif ini.

@h_tanzil
 
posted by h_tanzil at 8:11 PM | Permalink | 4 comments