Monday, June 27, 2016

Ideologi Saya adalah Pramis : Sosok, Pikiran, dan Tindakan Pramoedya Ananta Toer

[No. 366]
Judul : Ideologi Saya adalah Pramis - Sosok, Pikiran, dan Tindakan Pramoedya Ananta Toer
Penulis : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : Octopus
Cetakan : I, 2016
Tebal : 328 hlm
ISBN : 978-602-72743-1-0

Pramoedya Ananta Toer (Pram)  adalah legenda sastra dan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang bukunya masih terus dibaca dan dibicarakan orang. Tak hanya itu sosok, pemikiran, dan apapun tentangnya seakan tak pernah habis ditulis orang dan selalu menarik orang untuk membacanya. Satu dekade sepeninggal Pram (2006-2016) muncul buku terbaru tentang Pram yang ditulis oleh Muhidin M. Dahlan, penulis, pengagum, dan pewaris semangat Pram dalam mengarsip koran. Buku itu diberi judul yang diambil dari kata-kata Pram sendiri yang ketika ditanyakan soal Ideologinya, dengan lantang mengatakan " Ideologi saya adalah  PRAMIS"

Buku ini seluruhnya merupakan essai-essai penulis tentang sosok, pikiran, dan tindakan Pramoedya Ananta Toer yang sebelumnya terserak di berbagai media seperti  blog pribadi, bahan makalah,  surat kabar, tabloid, hingga kata pengantar di  buku-buku Pram. Essai-essai terbaik tentang Pram itu kini dihimpun dalam sebuah buku yang dibagi dalam 8 bab yang disusun secara sistematis, mulai dari Bab yang menjelaskan Siapakah Pram? Di bab ini terdatpat dua buah essai yaitu Mas Pram. Siapakah Sebenarnya Kamu? yang berisi riwayat singkat Pram yang ditulis dengan gaya personal layaknya sebuah surat pribadi untuk Pram. Setelah itu disajikan sebuah essai  yang akan menjawab kepenasaran orang tentang apa sesungguhnya Agama Pramoedya Ananta Toer : Ateis,Teis, atau Pramis.?


Setelah kita diajak mengenal Pram, maka di bab kedua yang berjudul PRAM BEKERJA kita akan melihat proses kreatif  Pram dalam berkarya. Pram tidak menulis untuk iseng-iseng,  untuk kesenangan sendiri, atau demi uang. Ada 4 jalan yang dilakukan Pram dalam menulis yaitu  menulis adalah ideologis atau tugas nasional, riset, disiplin, dan ketrampilan berbahasa. Kehidupan Pram yang banyak dipengaruhi oleh nenek dan ibunya membuat karya-karyanya banyak bercerita tentang tokoh perempuan.

Para srikandi, ini di tangan Pramoedya menjadi kekuatan anonim yang dengan kekuatan individu yang dipunyainya coba berdiri tegar di zaman yang penuh daya dera yang menggilas, walau pun pada akhirnya mereka kalah dalam pertarungan sejarah 
(hlm 44)

Walau banyak menceritakan tokoh wanita Pram tidak mengekspolitasi keindahan wanita dalam karya-karyanya karena bagi Pram keindahan bukan ada pada keindahan tubuh wanita namun terletak pada kemanusiaan dan perjuangan untuk kemanusaan ; pembebasan terhadap penindasan.

Dibagian ini juga dikisahkan bagaimana dalam menulis Pram melakukan riset pustaka. Pram pernah meminjam buku-buku Perpustakaan Nasional hingga sebecak penuh. Buku yang dipinjam itu ternyata tidak hanya dibaca melainkan disalinnya kembali dengan tekun, bahkan beberapa tetangganya kerap dipanggil untuk membantu menyalin. Selian membaca, menyalin, dan menulis Pram juga dikenal dengan pengkliping yang tekun. Penulis menjulukinya sebagai Si Pendekar Gunting dari Bojong.


 Kliping-kliping ini selain dicita-citakan untuk menjadi sebuah ensiklopedi juga menjadi sumber utama karya-karyanya. "Hampir semua karya saya berasal dari klipingan koran," kata Pram

Bab tiga  berisi tentang esssai-essai penulis tentang Pemikiran Pram yang banyak menyinggung keinginan dan harapan Pram terhadap angkatan muda.  Di bab ke empat dengan judul PRAM DAN POLITIK terdapat essai-essai tentang bagaimana karya-karya Pram senantiasa dikaitkan dengan sikap politiknya yaitu  tentang Pram yang tanpa tedeng aling-aling menolak Hadiah Sastra Yamin, kontorversi Hadiah Magsasay dan bagaimana karya-karya Pram menjadi ancaman bagi mereka yang membacanya.


Essai-essai tentang PRAM DAN PARA SAHABATNYA bisa ditelaah di bagian ke empat buku ini. Persahabatan Pram dengan Hasjim Rahman dan Joesoef Ishak melahirkan sebuah usaha penerbitan yang bernama Hasta Mitra yang kelak akan menjadi ikon bagi karya-karya Pram . Sedangkan persahabatannya dengan HB Jasin melahirkan sebuah kongsi dagang berupa bisnis timah. Sayangnya kongsi Pram dengan para sahabatnya tidak bisa langgeng karena diterpa berbagai masalah, Hasta Mitra maupun kongsi dagang timah pun hanya tinggal sejarah.

Bagian ke kelima di buku ini merupakan bagian yang paling panjang karena memuat tafsir  penulis atas 20 lebih karya-karya Pram. Yang paling panjang adalah ketika penulis menafsir drama Mangir dalam sebuah perenungan lengkap dengan napak tilas penulis ke beberapa tempat yang pernah dijajaki tokoh-tokoh Mangir sambil membaca penggalan lakon Mangir.

Setelah membaca tafsir-tafsir penulis atas karya-karya Pram, penulis juga merangkum tafsir Prof. Koh Young Hun yang dalam bukunya berjudul Pramoedya Menggugat - Jejak Sejarah Indonesia (Gramedia, 2011)   yang membagi jejak Indonesia dalam empat tonggak berdasarkan karya-karya Pram. Lalu ada pula tulisan tentang pengalaman dan tafsir  Hari "Ong" Wahyu yang banyak membuat ilustrasi sampul untuk buku-buku Pram terbitan Hasta Mitra di tahun 2000-an.

Di bagian akhir, buku ini memuat wawancara penulis dengan  orang-orang terrdekat mulai dari istri dan anak-anaknya yaitu Maemunah Thamrin, Astuti ananta Toer, Yudistira Ananta Toer, dan Mujib Hermani, sahabat Pram. Dari istri dan anak-anaknya kita bisa melihat Pram sebagai seorang suami, dan ayah bagi anak-anak. Dari wawancara penulis dengan Maemunah kita akan mengetahui hal-hal sederhana dalam keseharan seperti Pram yang tidak pernah  membantu memasak karena waktunya habis untuk mengkliping dan menulis, Pram yang menjadi menantu kesayangan, pesan-pesan terakhir Pram, dll.

Dari kisah Astuti dan Yudistira kita melihat sosok pram sebagai ayah yang kaku dan selalu mendorong anak-anaknya untuk menulis catatan  harian sedetail mungkin. Terungkap pula tentang anak-anak Pram yang tidak pernah dibelikan mainan karena 'mainan' yang diberi Pram hanya buku.  Pram juga kerap mengajar anak-anaknya menulis. Beginilah cara Pram mengajar menuli dan membaca buku kepada anak-anaknya


Dari pengalaman Mujib Hermani, sahabat dan orang terdekat Pram diluar keluarganya, terungkap bahwa Pram pernah menghayal jadi presiden seperti yang kita baca dalam buku ini yang meruapakan dialog antara Mujib  dengan Pram


Dari percakapan di atas kita dapat melihat bahwa Pram benar-benar menjunjung tinggi hukum walau ia pernah diperlakukan tidak adil dimana negara pernah menghukumnya belasan tahun di P. Buru tanpa melalui proses hukum yang berlaku saat itu.

Sebelum penulis mengakhiri buku ini dengan sebuah epilog berjudul Keberangkatan Setelah Pasar Malam Usai, penulis menyertakan kronologi 66 jam sebelum Pram meninggal dunia. Di bagian ini penulis mencatat apa yang dilihat dan dialami dengan sangat detail mulai dari keberangkatannya bersama teman-temannya pada 27 April 2006 hingga 30 April  2006.

Sebagai sebuah buku kumpulan essai tentang sosok, pikiran, dan tindakan Pram, buku ini sangat bagus untuk dibaca. Seperti yang saya kagumi dari penulis, kalimat-kalimat yang ditulis Muhidin tidak bertele-tele, ringkas namun bertenaga seperti halnya tulisan-tulisan Pram yang ia jadikan panutan. Bagi pembaca dan penggemar karya-karya Pram buku ini harus disandingkan di samping buku-buku Pram yang monumental.

Walau bisa dikatakan lengkap namun sayangnya ada beberapa tulisan yang seharusnya dapat di update sesuai dengan kekinian seperti di bagian Mesin-mesin Pram yang bahasannya berakhir di tahun 2005. Dan yang perlu disesali bagi saya adalah tidak ada essai tentang bagaimana kondisi penerbitan buku-buku Pram pasca kepergian Pram hingga  kini atau bagaimana generasi masa kini mengapresiasi karya-karya Pram, dan apakah karya, sosok, pikiran, dan tindakan Pram masih berdampak pada pola pikir angkatan muda sekarang?  Angkatan yang selalu diharapkan oleh Pram untuk mendobrak ketidakadilan dan memimpin bangsa ini. 

@htanzil

Friday, June 10, 2016

Kesetrum Cinta

[No. 365]
Judul : Kesetrum Cinta - Kisah Jenaka Pria Jawa Menikah dengan Perempuan Swiss
Penulis : Sigit Susanto
Penerbit : Buku Mojok
Cetakan : I, 2016
Tebal : 264 hlm
ISBN : 978-602-1318-32-4

Buku ini berisi kisah-kisah pengalaman Sigit Susanto, penulis buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia 1-3  yang berasal dari Jawa yang kesetrum cinta lalu  menikah dengan Claudia Beck, perempuan  Swiss. Pernikahan mereka tidak hanya mempertemukan keduanya dalam satu biduk rumah hangga  namun juga mempertemukan dua budaya yang sangat berlainan. 

Disinilah mereka lambat laun menyesuaikan diri mengenal budaya satu sama lain yang tentunya tidak mudah dan kadang melahirkan kejadian-kejadian  unik dan jenaka. Berdasarkan ingatannya semata penulis menceritakan apa yang dialaminya selama 20 tahun hidup bersama istrinya ke dalam 135 kisah sehingga tidak heran buku ini tampak agak gemuk, berbeda dengan buku2 sejenis yang biasanya hanya memuat tidak lebih dari 10-15 kisah saja. 

Dengan piawai penulis meramu potongan-potongan pengalaman hidup bersama istrinya dengan tidak terlalu panjang namun sanggup membuat pembaca tersenyum atau tertawa sendiri dengan kisah-kisahnya yang lucu dan terkadang menyentuh hati.  Walau judulnya Kesetrum Cinta namun bukan berarti buku ini hanya  menyajikan kisah cinta penulis dan istrinya yang berbeda negara dan budaya melainkan juga pengalaman-pengalaman menarik yang tak terduga  akibat geger budaya yang ia dan istrinya alami. Terkadang di akhir kisah penulis mengemukakan pendapatnya secara lugas dan jujur seperti yang terdapat dalam kisah berjudul Cium Tangan yang dialami oleh Claudia, istri penulis.

"Pemandangan cium tangan sekarang ini makin ramai. Saat Claudia salaman, sering tangannya diangkat oleh anak-anak muda dan disentuhkan jidat mereka. Kebanyakan ia menolak sambil bilang, "Tidak perlu, kita sama-sama manusia, sejajar sama tingginya."

Gejala lain, yakni bersalaman antara lelaki dan perempuan akhir-akhir ini terasa makin dihindari. Beberapa kali aku menyodorkan tangan kepada perempuan yang aku kenal cukup lama, kali ini ia menolak bersalaman. Sejak kapan budaya Indonesia menghindarkan orang salaman, walau berbeda jenis kelamin? Aku merasa seolah seperti di negeri Arab saja. 
(hlm 36-37)

Perbedaaan cara orang bertanya antara orang Indonesia dan Swiss rupanya tak luput dari pengamatan penulis.  Saat menghadiri forum tanya jawab ketika Pramoedya Ananta Toer bertandang ke Swiss pada tahun 2002, teman  penulis yang orang Swiss berkata demikian,

"Perhatikan dengan seksama ketika orang Swiss bertanya dan orang Indonesia bertanya. Kebanyakan orang Indonesia lebih suka bercerita dulu yang panjang, pertanyaannya pendek sekali, malah kadang lupa apa yang ditanyakan, saking panjangnya pengantar."

hal tersebut sependapat dengan apa yang diungkapkan oleh penulis, 

Pertanyaan yang dilontarkan orang Swiss kebanyakan langsung ke tema yang ditanyakan. Terkesan ringkas, lugas, dan efektif. Pertanyaan orang Indonesia kebanyakan didahului pengantar, kadang bertele-tele.  (hlm 197)

Seperti negara-negara di Eropa, Swiss juga menerapkan disiplin dalam segala hal, termasuk dalam hal membuang sampah. Jika di Indonesia semua sampah rumah tangga disatukan dan diambil oleh petugas sampah sekaligus maka di Swiss sampah dibagi bagi menurut jenisnya, dan diambilnya pun berdasarkan jenisnya.



Cara mereka membuang sampah pun diberi jadwal. Misal Senin untuk sampah plastik dan kertas. Rabu untuk sampah dapur. Botol pun dikumpulkan pada tempat yang teratur sesuai warna botolnya; putih, hijau, atau coklat.  
(hlm 251)

Masih banyak hal-hal menarik yang terdapat dalam buku ini. Karena penulis yang telah bermukim di Swiss ini setiap tahunnya selalu 'pulang' ke Indonesia bersama  istrinya selama beberapa bulan maka kisah-kisah yang tersaji di buku ini menjadi lengkap karena pembaca bisa melihatnya dari dua sisi yang berbeda. Ada kisah bagaimana pengalaman penulis di Swiss, ada juga kisah pengalaman istrinya selama berada di Indonesia.


 Yang agak disayangkan dalam buku ini adalah penyajian antara satu kisah dengan kisah yang lainnya yang terkesan melompat-lompat.Tiap judul dalam buku ini tidak disusun berdasarkan kronologi waktu dan tempat. Kalaupun tidak memungkinkan disusun berdasarkan kronologi waktu mungkin buku ini bisa dibagi dalam dua bab besar. Bab pertama memuat kisah-kisah penulis selama berada di Swiss dan satu bab lagi memuat kisah-kisah penulis bersama istrinya saat berada di Indonesia.  Atau bisa pula disiasati seperti gaya menulis P. Swantoro dalam bukunya berjudul Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu (KPG, 2016) dan Remy Sylado dalam novel Perempuan Bernama Arjuna (Nuansa Cendekia 2014) yang dalam setiap akhir babnya menggunakan kalimat penghubung untuk menuju bab selanjutnya sehingga setiap kisahnya terangkai sambung menyambung seolah menjadi sebuah kesatuan. 

Terlepas dari itu kehadiran buku ini sangat baik untuk diapresiasi oleh siapa saja yang ingin mengetahui perbedaan budaya antara Eropa dan Indonesia dan geger budaya yang terjadi akibat akulturasi antara dua pasangan yang berbeda budaya. Walau kisah-kisah dalam buku ini diangkat dari keseharian penulisnya namun semua itu dapat dijadikan contoh bagaimana perbedaan budaya antara dua benua . Selain itu pembaca juga akan memperoleh kisah-kisah humanis dari orang-orang yang ditemui penulis dan istrinya.

Buku ini juga memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi dan rentang usia pembaca yang panjang (remaja hingga dewasa). Seluruh kisahnya dengan gaya personal, kita yang membacanya bagaikan mendengarkan langsung dari tuturan sang penulis yang sedang bercerita di depan kita, sehingga walau ada ratusan kisah di dalamnya kita akan betah membaca buku ini hingga habis.

@htanzil


.


Monday, May 30, 2016

Rasia Bandoeng

[No.364]
Judul : Rasia Bandoeng
Rasia Bandoeng atawa Satoe Pertjintaan jang Melanggar Peradatan Bangsa Tionghoa : Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917
Penulis : Chabanneau
Penerbit : Katarsis Book 
Cetakan : II, April 2016
Tebal : 236 hlm



Para pembatja jang terhormat saja berkata
Tjerita ini betoel terdjadi boekannja djoesta
Boewat pendodoek di Bandoeng kota
Semoewa taoe benarnja ini tjerita
(hl. xii)

Demikian yang diungkapkan Chabanneau, penulis roman Rasia Bandoeng dalam Permoelahan Kata di lembar pertama bukunya untuk menyakinkan pembaca bahwa kisah yang ditulisnya adalah kisah nyata. Hal ini sekan menegaskan kembali apa yang dijadikan judul panjang romannya yaitu "Rasia Bandoeng atawa Satoe Pertjintaan jang Melanggar Peradatan Bangsa Tionghoa : Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917"

Dari judul di atas kita dapat langsung menebak apa yang ingin dikisahkan penulis yaitu tentang cinta terlarang, cinta yang tidak direstui oleh keluarga seperti kisah Romeo dan Juliet, Laija Majnun,  Sam Pek Eng Tay, dll.  Rasia Bandoeng menceritakan kisah cinta antara dua insan orang Tionghoa yang memiliki marga yang sama, yaitu Tan Kaij No (Hilda Tan) dengan Tan Tjin Hiauw. Cinta yang terlarang karena menurut adat Tionghoa pernikahan satu marga adalah hal yang tabu.

Dalam roman ini dikisahkan Tan Djia Goan seorang pedagang batik Tionghoa yang sukses memiliki dua putri yaitu Tan Kaij No dan Tan Giok Nio. Kedua putrinya ini dididiki secara modern dan disekolahkan ke sekolah Belanda dan diberi nama Barat yaitu Helena Tan  (Tan Kaij No) dan Hilda Tan (Tan Giok Nio).  Kedua putri Tan Djia Goan ini tumbuh menjadi remaja yang berpikiran modern dan maju. Tidak itu saja Hilda dan seluruh  keluarganyapun telah menganut agama Kristen yang saat itu dianggap sebagai agama orang Eropa.  Berbeda dengan Hilda yang berasal dari keluarga kaya, Tan Tjin Hiauw sendiri berasal dari keluarga sederhana namun seperti halnya Hilda, Tjin Hiauw sendiri adalah seorang yang terdidik dan telah bekerja sebagai boekhouder (bidang pembukuan) di firma Dewaal & Co.

Baik Hilda maupun Tjin Hiauw sebenarnya sadar betul bahwa penikahan sesama warga adalah hal yang tabu. Itulah yang menyebabkan Hilda merahasian hubungan mereka pada orang tuanya. Sementara Tjin Hiauw sendiri berterus terang mengenai hubungannya dengan keluarganya dan keluarganyapun merestuinya dan menyarankan untuk melamarnya. Tjin Hiauw sendiri masih berharap keluarga Hilda mengabulkannya karena mereka adalah keluarta modern yang juga telah beragama Kristen sehingga diharapkan dapat sedikit fleksibel terhadap adat leluhur.

"Saja djoega baroesan soedah berdami (berembug-red) sama Hilda," kata Tan Tjin Hiauw, "boewat lamar sadja dengan berterang pada orang toewanja. Siapa taoe lantaran Tan Djia Goan anoet agama Christen. Nanti soeka loeloeskan saja poenja permintaan dengan boewang itoe adat lembaga koene jang boeseok, jang melarang orang tida boleh kawin sama satoe She" 
 (hlm 23)

Sebelum Tjin Hiauw melamar Hilda, sepucuk surat dari Tjin Hiauw untuk Hilda secara tidak sengaja ditemukan oleh Tan Djia Goan (ayah Hilda) sehingga hubungan mereka diketahui dan tidak seperti yang diduga Tjin Hiaw ternyata keluarga Hilda tidak merestuinya dan melarang Hilda berhubungan dengan Tjin Hiauw. Walau mendapat larangan,  teguran keras, bahkan hukuman dari ayahnya namun Hilda dan Tjin Hiauw melanjutkan hubungan mereka.

Di tengah terjalinnya hubungan mereka secara rahasia muncullah Lie Tok Sim yang menyatakan cintanya pada Hilda lewat surat. Walau Hilda menolaknya sejak awal namun Lie Tok Sim tidak menyerah  dan ia terus mengirim surat pada Hilda. Karena cintanya pada Tjin Hiauw Hilda menolak cinta Lie Tok Sim dan menyuruhnya membakar semua surat-surat diantara mereka.



Saking kuatnya rasa cinta antara Hilda dan Tjin Hiauw akhirnya Hilda nekad melarikan diri dari rumahnya menuju rumah kekasihnya. Dia berharap tindakannya ini akan membutkikan betapa ia mencintai kekasihnya sehingga meluluhkan hati ayahnya. Ternyata ayahnya semakin berang sehingga tanpa sepengetahuan siapapun Hilda disembunyikan di sebuah tempat yang jauh. Hukuman ini tidak membuat Hilda jera, berbagai cara dilakukannya  untuk terus berhubungan dengan kekasihnya.

Tidak itu saja, agar bisa bersatu dengan kekasihnya, Hilda kembali kabur ke Surabaya, Makasar, hingga Singapura. Kemarahan ayahnya semakin memuncak,  Hilda dianggap telah memberi aib pada keluarganya hingga  akhirnya Tan Djia Goan dengan tega memutuskan hubungan ayah-anak. Hilda diadopsi ke keluarga lain sehingga segala tindak tanduk Hilda  tidak lagi menjadi tanggung jawabnya. 


Kaya akan latar Bandoeng tempo doeloe

Kisah cinta dalam roman Rasia Bandoeng ini sebenarnya  sebuah kisah cinta biasa yang banyak ditulis orang namun  untungnya penulis memberikan latar kisah cinta ini dengan begitu apik dan detail sehingga roman ini menjadi sangat menarik dan menjadi abadi walau ditulis hampir satu abad yang lampau. Keadaan Bandoeng di awal abad ke 20 dideskripsikan dengan sangat detail seperti jalan-jalan, taman-taman, dan beberapa pusat hiburan yang ada di kota Bandung saat itu sehingga pembaca masa kini masih bisa membayangkan dan melacak lokasi-lokasi yang disebutkan dalam roman ini seperti Pasar Baru, Gardujadi, Cibadak, Tegalega, Banceuy, dll. Bahkan jejak kediaman rumah keluarga Hilda masih bisa ditemukan hingga kini, yaitu yang pernah menjadi Hotel Surabaya lalu sekarang menjadi Hotel Carradine di Jalan Kebon Jati Bandung.

Rumah  Hilda dan keluarganya sebelum dipugar menjadi Hotel Carradine

Selain setting lokasi yang detail, roman ini juga mengungkap aktivitas pelacuran yang ada di Bandoeng yang ternyata telah ada sejak dulu dan bagaimana para pemuda Tionghoa menggunakan jasa mereka. Bahkan salah satu tokoh utama dalam roman ini pun secara diam-diam memelihara seorang wanita penghibur dengan mengontrakkan rumah dan melengkapi rumah kontrakan dengan perabotannya.

Karena menceritakan kehidupan tokoh-tokoh Tionghoa maka roman ini bisa dikatakan dapat menjadi sebuah dokumen yang merekam sebuah peristiwa dan kondisi sosial masyarakat Tionghoa Bandung karena roman ini jugamenggambarkan bagaimana perilaku dan budaya orang-orang Tionghoa Bandung di masa itu. Hilda mewakili gadis Tionghoa yang berpendidikan yang lahir dari keluaga Tionghoa modern yang sukses namun tetap memegang teguh adat istiadat leluhur mereka. Sementara  Tan Tjin Hiauw mewakili sosok pemuda Tionghoa tipe pekerja keras dan gaul yang walau  terlahir dari keluarga biasa namun keluarganya lebih bersikap kompromi terhadap adat leluhur. 


Berdasarkan Kisah Nyata

Seperti diungkapkan penulisnya baik lewat judul maupun Permoelahan Kata (Pendahuluan), kisah yang diangkat dalam roman ini memang benar-benar pernah terjadi. Penulis hanya mengganti nama-nama tokoh-tokoh dalam novel ini dengan tetap mempertahankan inisial atau huruf pertama dari setiap nama. Misalnya Hilda Tan =  Hermine Tan, Tan Tjin Hiauw = Tan Tjeng Hoe, Tan ShioTjhie = Tan Sim Cong (yang kelak menjadi salah satu dermawan Tionghoa  yang terkenal dan namanya diabadikan menjadi nama jalan di Bandung / Gg. Simcong).

Saja harap antero pembatja maoe mengarti
Nama jang benar saja terpaksa ganti
Sebagi pengarang saja haroes berati-ati
Soepaja tida dapat soesah di hari nanti
(hlm xii)

Lalu dari mana kita bisa yakin kalau ini benar-benar kisah nyata?  Tinneke Helwig, sejarahwan sekaligus Feminis asal Kanada telah membuktikan bahwa kisah dalam roman ini benar-benar terjadi di Bandung pada tahun 1917. Dalam salah satu bukunya yang berjudul Women and Malay Voices: Undercurrent Murmurings in Indonesia's Colonial Past" (New York, Peter Lang, 2012) Tinneke menyinggung banyak tentang roman ini dalam satu bab  dengan judul  A Western Educated Chinese Woman dimana ia membahas sosok Hermine/Hilda Tan lewat penelusuran langsung ke keturunan Hermine Tan. Lewat penelurusannya Tinneke berhasil memperoleh  beberapa foto Hermine Tan (Hilda Tan) dengan Tan Tjeng Hoe (Tan Tjin Hiauw)  dan  koran Sin Po edisi 2 Januari 1918 yang memuat iklan kweepang atau adopsi Hermine Tan yang dimuat dalam bukunya tersebut



Dari buku yang ditulis Tinneke Helwig juga terungkap bahwa selain Rasia Bandoeng yang ditulis Chabbaneu, pada tahun yang sama dengan terbitnya Rasia Bandoeng kisah Hermine Tan ini juga ditulis oleh K.Kh Liong dengan judul Tjerita Nona Tang Seng Nio alias Hermine T...., atawa tjara bagimana orang toewa haroes didik sama anaknja. Satoe tjerita jang betoel soedah kedjadian die Bandoeng, dalem tahoen 1912 dan berachir tahoen 1917. Lalu pada tahun 1940 terbit pula roman berdasakan kisah Hermine Tan dengan judul Rasianja satoe gadis hartawan yang ditulis oleh Monsieur Indo Jr. Dari terbitnya tiga buku yang tersebut maka bisa  disimpulkan bahwa kisah Hermine Tan di masanya merupakan kisah yang menghebohkan

Siapa sebenarnya  Chabannau?, hingga kini siapa Chabanneau masih misteri. James T. Siegel, seorang antropolog dalam bukunya "Fetish, Recognation and Revolution" mengidentifikasikan bahwa Chabanneau adalah seorang pemeras yang mengancam keluarga Hermine Tan. Ia mengancam akan menyebarkan aib keluarga Tan Djin Gie (ayah Hermine/Hilda) dalam bentuk novel jika keluarga Hermine tidak memberikan sejumlah uang yang dikehendakinya.  Rupanya Tan Djin Gie menolak ancaman Chabanneu sehingga akhirnya roman ini diterbitkan. Menurut Siegel, Chabanneau memperoleh bahan-bahan untuk menulis roman ini dari surat-surat Hermine/Helda yang dijual oleh Lie Tok Sim pada Chabanneau karena Hilda menampik cintanya.

Terbit Kembali Secara Terbatas


Rasia Bandoeng cetakan ke-2, 1918

Walau pernikahan kawin semarga ini sempat menghebohkan kota Bandung terlebih dengan diterbitkannya 3 jilid Roman Rasia Bandoeng ini 97 tahun yang lalu oleh penerbit Gouw Kim Liong, Batavia, 1918 namun seiring perjalanan waktu tampaknya peristiwa dan romannya sudah dilupakan orang. Apalagi roman yang ditulis dalam bahasa Melayu Pasar ini tidak pernah disebutkan dalam buku-buku resmi sejarah sastra Indonesia. Roman ini akan terkubur sepanjang masa jika saja Tinneke Helwig tidak menulis bab khusus tentang roman ini dalam bukunya pada tahun 2012  dan Lina Nursanty (wartawan PR)  dalam tulisan berserinya berjudul Tionghoa Bandung dalam Roman yang dimuat di koran Pikiran Rakyat 16-18 Februari 2015.

Terungkapnya kembali roman ini di harian Pikiran Rakyat itu mendorong beberapa komunitas sejarah di kota Bandung (Balad Junghuhn, Gambung Vooruit & Co, Tjimahi Heritage) dan Katarsis Book untuk  menerbitkan kembali Roman Rasia Bandoeng secara indie dalam jumlah yang terbatas dengan tetap menggunakan bahasa Melayu Pasar seperti di cetakan pertamanya. Sebuah langkah yang baik karena walau mungkin agak sulit dibaca  namun dengan tetap mempertahankan sesuai dengan naskah aslinya maka hal ini dapat mengenalkan bahasa Melayu Pasar yang pernah digunakan dalam sejarah keberbahasaan kita.

Tanpa diduga cetak ulang pertama roman ini ludes dalam waktu sekejap. Karenanya buku ini kembali dicetak  ulang dalam jumlah yang masih terbatas. Yang membedakan buku ini dari cetakan pertamanya adalah dihilangkannya foto-foto memang tampilannya kurang memadai. Lampiran foto-foto tersebut diganti dengan tambahan informasi yang sangat bermanfaat bagi pembaca untuk memahami roman ini yaitu  kata pengantar dari Sugiri Kustedja, ketua Pusat Studi Diaspora Tionghoa Universitas Kristen Maranatha, dan penutup dari Bambang Tjahjadi,  keturunan dari salah satu tokoh yang ada dalam roman Rasia Bandoeng.

@htanzil

Tuesday, April 05, 2016

Sang Juragan Teh

[No. 363]
Judul : Sang Juragan Teh
Judul Asli :  Heren van de Thee
Penulis :  Hela S. Haase
Penerjemah : Indira Ismail
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2015
Tebal : 440 hlm ; 20 cm
ISBN : 978-602-03-2342-8

Teh bagi orang Indonesia adalah minuman kedua setelah air putih. Hampir di semua rumah makan mulai dari restoran mewah sampai warung-warung nasi di pinggir jalan selalu menyediakan air teh di samping air putih/mineral.

Walaupun teh begitu populer  dan ada banyak perkebunan teh didirikan di Indonesia namun tak banyak yang tahu bagaimana tanaman teh masuk ke Indonesia.  Tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1684, berupa biji teh dari Jepang yang dibawa Andreas Cleyer dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta. Kemudian, pada 1827 tanaman teh mulai ditanam sebagai tanaman industri di kebun percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Berhasilnya penanaman percobaan tersebut kelak membuka jalan bagi Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menaruh landasan bagi usaha perkebunan teh di Jawa.

Teh dari Jawa pertama kali diterima di Amsterdam pada 1835. Teh jenis assam mulai masuk ke Indonesia (Jawa) dari Sri Langka (Ceylon) pada 1877, dan ditanam oleh Rudolf Eduard (RE) Kerkhoven di  Gambung, Jawa Barat. Teh jenis assam yang ditanam tersebut ternyata cocok untuk iklim di Indonesia. Sejak itu pula, perkebunan teh di Indonesia berkembang semakin luas hingga sekarang sehingga budaya minum teh pun semakin populer hingga kini.

Dalam sejarah Perkebunan Teh di Indonesia nama  RE Kerkhoven (1848-1918 ) adalah salah satu perintis berkembangnya perkebunan teh di Indonesia. Sayangnya kini namanya kurang dikenal dan kalah pamor dengan sepupunya yang bernama RA. Bosscha yang pertama kali datang ke Hindia sebagai administratur perkebunan Teh Malabar. Siapa sebenarnya RE Kerkhoven dan bagaimana perjuangannya mengembangkan perkebunan Teh di Gambung, Jawa Barat hingga berpengaruh besar pada industri teh di Indonesia? Semua itu terkisahkan dalam novel berjudul Sang Juragan Teh.

Di novel yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Kompas pada tahun 1990  ini dikisahkan bagaimana Rudolf Kerkhoven yang baru saja menamatkan pendidikan teknik di Delft Belanda berniat pergi ke Hindia Belanda, mengikuti jejak sang ayah dan beberapa keluarganya yang membuka perkebunan di Hindia. Rudolf berniat meneruskan usaha perkebunan ayahnya  (Rudolph Albertus Kerkhoven)  di Arjasari, Jawa Barat.  Ketika niatannya terlaksana dan sampai di Hindia ternyata ia tidak diizinkan tinggal dan mengelola perkebunan teh milik ayahnya di Arjasari melainkan ia harus mencari dan membuka lahan baru. Untuk itu Rudolf magang di perkebunan milik pamannya, Eduard Kerkhoven di perkebunan Parakan Salak, Sukabumi.

Selepas masa magangnya Rudolf yang awalnya kecewa karena tidak mendapat kepercayaan dari ayahnya untuk bekerja di perkebunan milik ayahnya akhirnya membuka lahan perkebunan baru di bekas perkebunan kopi milik pemerintah di Gambung, Jawa Barat untuk dijadikan perkebunan teh. Bukan hal yang mudah karena ia harus membersihkan lahan yang telah menjadi hutan dan semak belukar dimana akar-akar bekas pohon kopi masih tertanam kuat di tanah.

Berkat kegigihannya bekerja dan membina hubungan yang baik dengan para pekerja pribuminya akhirnya lambat laun perkebunan tehnya menjadi semakin produktif. Ketika hasil jerih lelahnya mulai menampakkan hasil Rudolf merasa kesepian di tengah perkebunannya yang luas. Untuk mengatasi kesepiannya  ia memilih Jenny Roosegaarde Bisschop, buyut dari Gubernur Jenderal Daendels sebagai istrinya yang ditemuinya ketika ia berkunjung ke rumah adiknya di Batavia. Dari pernikahannya ini Jenny melahirkan lima putra dan putri bagi Rudolf yang semuanya lahir di Gambung. Namun bagi Jenny yang lahir dan besar di Batavia, hidup di perkebunan yang sepi dan lembab membuatnya bagai terbelenggu hingga kelak akan berpengaruh terhadap kondisi kejiwaannya.

Pertikaian keluarga terjadi setelah ayah Rudolf meninggal dunia. Setelah Rudolf berhasil membawa perkebunannya sukses, ia berniat membeli kepemilikan saham ayahnya atas perkebunan yang telah dikeolalnya. Sayangnya Niat Rudolf terhalang oleh tingginya harga saham Perkebunan Gambung yang diajukan oleh adik iparnya Henny.

Bagaimana jatuh bangunnnya Rudolf mendirikan perkebunan Teh Gambung disajikan secara detail dan menarik oleh Hella S. Haase (1918-2011), penulis Belanda yang lahir di Batavia. Suasana Hindia, khususnya Batavia, dan perkebunan teh Gambung beserta gaya hidup orang-orang Eropa di masa itu  terdeskripsi dengan baik sehingga pembaca seakan hadir dan larut dalam kisahnya.




Tokoh-Tokoh Terkenal

Pertalian  keluarga besar Kerkhoven dengan tokoh-tokoh terkenal lainnya pun berseliweran di novel ini, sebut saja Daendels, Douwes Dekker, KF. Hoole, RU Boscha, dll. Yang agak mengejutkan bagi pembaca mungkin tentang karakter Douwes Decker (Multatuli) yang ternyata dalam pandangan kelurga Kerkhoven tidaklah semulia apa yang kita kenal selama ini.

"Setelah ceramahnya selesai aku menyalami Dekker - Multatuli....Pria ini sama sekali tak cocok hidup di perkebunan. Kami kewalahan  bekerja di Parakan Salak, tapi ia tidak mau membantu sedikitpun. Ia berjalan-jalan saja dengan para wanita, atau duduk membaca di pojok, sama sekali tidak peduli pada perusahaan.....Dekker tukang berkhayal! Gadungan! Ia menginap di hotel mahal, tapi ketika tagihan datang, ia bilang dompetnya dicuri.....Ia meninggalkan istri dan anak-anaknya, bepergian kemana-mana dengan gundik, berceramah, bergaya bak pahlawan bagi orang Jawa. Mungkin saja apa yang ditulisnya bagus, tapi apa yang dicapainya dengan itu? Tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan apa yang didapat oleh Karel Hole...." (hlm 52-53)

Jika  Douwes Dekker yang mendapat pandangan miring di tengah keluarga Kerekhoven, tidak demikian dengan Karel Frederik Holle (1825-1896), adalah perintis  perkebunan teh di Hindia Belanda yang membuka perkebunan teh Waspada, Garut.  Holle  dikenal memiliki hubungan yang sangat baik dengan penduduk pribumi karena sangat memperhatikan kesejahteraan pegawai dan penduduk di sekitar perkebunan. Ia juga sangat berminat pada sejarah dan kesusasteraan Sunda. Di novel ini Holle dikisahkan sebagai sosok yang dihormati baik oleh keluarga Kerkhoven maupun penduduk pribumi dan memiliki pengaruh besar bagi perkembangan perkebunan teh di Hindia.

Yang tak kalah menarik, ada pula tentang Daendels. Di novel ini penulis memasukkan pembelaan dari cucu sang Gubernur Jenderal yang terkenal dengan proyek Groote Postweg (Jalan Raya Pos) yang terbentang  antara Anyer - Panarukan sepanjang +/1 1.000 km yang banyak memakan korban jiwa.

"Ada banyak keburukan yang diceritakan mengenai kakek buyut kami, Gubernur Jenderal Daendels. Memang benar bahwa pembuatan Jalan Raya Pos memakan korban ribuan nyawa, namun menurut Papa, kakeknya adalah gubernur yang baik, dan semua itu akibat perlakuan keji para pembesar pribumi, yang tidak peduli apakah rakyat mereka hidup atau mati.....Yang tidak bisa kumengerti adalah mengapa Yang Mulia tidak turun tangan untuk membela para pekerjanya. Papa mengatakan bahwa kakeknya tidak bisa melawan kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat dengan para pembesar pribumi, dan bahwa ia tidak punya hak untuk ikut campur dengan cara bagaimana jalan itu dibuat." (hlm 221-222)

Bagaimana dengan tokoh pribumi? novel ini juga menyebut-nyebut Haji Hasan Mustafa, penghulu besar yang peduli akan sastra dan kebudayaan Sunda, sahabat Karel Holle. Selain itu muncul pula sedikit keterangan tentang anaknya, yaitu Raden Kerta Winata yang dideskripsikan sebagai seorang bangsawan yang cerdas dan menguasai bahasa Belanda

"Di rumah juga ada tamu yang menginap, Raden Kerta Winata, bangsawan muda Sunda, yang dulu murid sekolah pendidikan guru yang didirikan Karel Holle, dan ayahnya adalah penghulu Garut. Ia pemuda yang sederhana bertata krama baik, menguasai bahasa Belanda, dan sedang menerjemahkan berbagai buku untuk kepentingan sekolah: ia sudah menghasilan versi terjemahan Perjalanan Penuh Petualangan ke Hindia Timur karya Willem Bontekoe dalam bahasa Sunda, dan kini sedang menerjemahkan Robinson Crusoe karya Defeo dari edisi Belanda milik ayah Rudolf, yang menawarkan bimbingannya dengan imbalan pelajaran Bahasa Sunda." (hlm 147)

Setia pada Fakta

Sebagai sebuah novel yang mengangkat penggalan kehidupan seorang tokoh yang benar-benar ada tampaknya penulis setia pada fakta-fakta kehidupan keluarga Kerkhoven berdasarkan dokumen dan surat-surat pribadi keluarga Kerkhoven yang diperoleh penulis dari Arsip Perkebunan Teh dan Keluarga Besar Hindia.

Berbagai drama kehidupan yang terjadi pada tokoh utamanya memang benar-benar terjadi sehingga novel ini bisa dibaca sebagai sebuah biografi RE Kerkhoven. Namun sayangnya saking setianya pada fakta penulis tidak menghadirkan tokoh khayalan misalnya tokoh pribumi yang menonjol sehingga novel ini tidak terkesan Eropa sentris. Tadinya saya berharap penulis mengeksplorasi karakter tokoh Babu Engko, pembantu setia rumah tangga RE Kerkhoven. Sayangya karakter babu Engko tidak dieksplorasi secara mendalam jadi hanya terkesan sebagai tempelan saja.Padahal dengan  menghidupkan karakter Engko  novel ini akan menjadi lebih menarik karena dapat melihat pribadi Sang Juragan Teh dari sudut pandang seorang pribumi.

 Babu Engko bersama dua anak Rudolf  (Berta & Karel Kerkhoven)


Saking setianya pada fakta maka  kisah Sang Juragan Teh juga mengalir mengikuti apa yang  memang sesungguhnya dialami  Rudolf ketika membangun perkebunan teh Gambung. Bagi pembaca yang tidak memiliki latar belakang sejarah perkebunan atau yang sebelumnya tidak mengenal siapa itu Rudolf Kerkhoven mungkin akan terasa sedikit membosankan. Namun bagi mereka yang  menyukai sejarah maka novel ini sangat mengasyikan untuk dibaca karena melalui buku ini ada banyak hal yang dapat dipelajari baik itu dari sisi sejarah perkebunan Priangan, kehidupan pribadi Sang Juragan Teh beserta orang-orang yang bersentuhan dengan kehidupannya, maupun dari sisi budaya kolonial saat itu ; sebuah budaya yang terbentuk di era kolonial Hindia Belanda yang dalam beberapa hal masih terlestarikan hingga kini. 

@htanzil