Monday, October 12, 2020

Pesona Sejarah Bandung

[No. 392]
Judul : Pesona Sejarah Bandung - Bandung Hingga Awal Abad ke-20
Penulis : M. Ryzki Wiryawan
Penerbit : Layung
Cetakan : I, 2020
Tebal : vi + 244 hlm, 15 x 21 cm
ISBN : 978-623-92997-0-5                                                                            

"Apabila Bandung adalah sebuah "Museum yang Besar", maka buku ini adalah panduan untuk mengunjunginya."

Demikian kalimat pertama yang mengawali deskripsi buku Pesona Sejarah Bandung karya Ryzki Wiryawan, penulis, kolektor buku antik, dosen yang juga pegiat Komunitas Aleut (komunitas sejarah Bandung). Bandung memang Museum Besar yang pesonanya seakan  tidak pernah berhenti ditulis orang  sejak jaman Kolonial Belanda hingga kini. Sepertinya Bandung adalah kota yang paling banyak ditulis dalam buku. 

Pada tahun 2010 Rachmat Taufiq Hidayat menulis artikel berjudul Bandung Dalam Buku - Sebuah Survei bibliografis yang dimuat di buku Panduan Pesta Buku Bandung, 17-23 Febuari 2010. Di artikel tersebut terdata sebanyak 105 buku yang berkaitan tentang Bandung yang terbit dari tahun 1917 hingga 2009.  Sayangnya  hingga kini belum ada lagi yang mendata dan mempublikasikan buku-buku Bandung yang terbit dalam 10 tahun terakhir padahal buku-buku tentang Bandung masih terus ditulis dan diterbitkan hingga terbitnya buku ini

Buku yang ditulis selama hampir 10 tahun ini awalnya adalah buku tentang sejarah Bandung dari kelahirannya hingga zaman Jepang yang jika dijadikan satu buku tebalnya bisa 1000 halaman lebih. Namun atas beberapa pertimbangan akhirnya penulis memutuskan untuk memecahnya menjadi beberapa buku. Buku ini merupakan buku pertama dari seri Pesona Sejarah Bandung yang membahas Bandung dari zaman prasejarah hingga awal abad ke-20.

Buku ini terdiri dari dua bagian besar yaitu  Awal Mula Bandung dan Oud Bandoeng

 

Di Bagian pertama diawali dengan pembahasan tentang terbentuknya kawasan Bandung baik secara geologis maupun secara legenda yang masih terpelihara hingga masa kini yaitu legenda Sangkuriang.  Lagenda Sangkuriang  secara simbolis menyiratkan beberapa hal  seputar terbentuknya Bandung yaitu terbendungnya sungai ci Tarum, terbentuknya danau hingga terjadinya gunung Tangkuban Perahu  akibat "amarah" Sang Kuriang. 

Di bagian pertama juga dibahas mengenai manusia pra sejarah yang menghuni kawasan Bandung kemudian  terbentuknya kerajaan Galuh dan Sunda, kelahiran Bandung dengan Tumenggung Wiraangunangun sebagai penguasa/bupati Bandung pertama yang saat itu masih berada dibawah kekuasaan kerajaan Mataram. 

Saat wilayah Bandung dan Priangan masih dikuasai oleh Mataram kawasan Priangan kurang mendapat perhatian dari pemerintahan pusat Mataram di Kartasura. Hal ini selain karena letaknya yang memang jauh dari pusat kekuasaan, hasil alam di Priangan tidak banyak memberikan kontribusi  kepada Mataram yang saat itu sedang disibukkan dengan berbagai persoalan internal.  Yang lebih miris lagi adalah bagaimana sikap pemerintah pusat memperlakukan bupati-bupati Priangan antara lain dengan mengkaryakan para bupati Bandung dengan pekerjaan-pekerjaan yang mengelikan seperti mencabuti rumput di pekarangan keraton Mataram.

Di bagian ini sejarah kawasan Bandung dan Priangan terus bergulir. Secara kronologis dibahas mengenai kedatangan  dan keruntuhan Kompeni ,  pemerintahan Daendels hingga kedatangan Inggris yang melanjutkan kebijakan Daendels untuk menjual tanah kepada pihak swasta dan penguasa-penguasa Jawa. Salah satunya adalah Andries de Wilde, seorang tuan tanah asal Belanda yang nantinya memiliki peran besar dalam pembangunan Priangan dan Bandung. De Wilde kelak menjadi seorang 'raja' lokal dimana setengah dari Kabupaten Bandung dimilikinya.  Kisah dari Andries de Wilde ini  dibahas secara khusus di buku ini

Pada Bagian Kedua yang diberi judul Oud Bandoeng (Bandung Tempo dulu) dibahas mengenai perkembangan kota Bandung di abad ke 19 hingga awal abad ke 20 dimana kekuasaan para bupati yang tadinya sangat besar terhadap rakyatnya perlahan beralih kepada orang-orang Eropa. Dari yang tadinya berkuasa bagai raja kini hanya tinggal sebagai simbol sosial dan  pegawai kolonial yang menerima gaji dari pemerintahan Belanda. Diantara bupati-bupati Priangan, bupati Bandung mendapat gaji dan tunjangan 120 ribu gulden,  3-6 kali lipat lebih besar dibanding bupati lainnya. 

Para bupati Priangan, 1912

Dalam kepeduliannya terhadap sejarah ternyata para  bupati Bandung  selalu mencatat sejarah daerah dan keluarganya sebagai bukti legimitasi kepemimpinannya. Bahkan Bupati Bandung RAA. Martanegara yang dikenal sangat berjasa dalam membangun pondasi Bandung menjadi sebuah kota modern,  pada tgl 20 November 1918 menetapkan pembentukan "Komisi Sejarah Bandung" yang bertugas menyusun sejarah Bandung dan sekitarnya.  Komisi itu berhasil membukukan empat jilid sejarah Bandung yang dikemudian hari dilengkapi oleh penerusnya.

Di buku ini juga dibahas secara khusus   dua peristiwa besar yang terjadi di Bandung di pertengahan abad ke 19 di masa kepemimpinan Bupati Bandung Wiranatakusumah III  yaitu peristiwa  Hura Hara Munada yang memakan korban pejabat tinggi Eropa dan peristiwa Raksa Praja.  

Transfomasi Bandung menjadi ibukota Priangan juga dibahas di buku ini. Dengan dijadikannya Bandung sebagai pusat pemerintahan karesidenan, maka Bandung mulai bebenah. Lalu lintas pengunjung Bandung baik tamu pemerintah maupun swasta semakin meningkat. Hal itu memicu didirikannya hotel, restoran, bank, dan perusahaan-perusahaan dagang Eropa di Bandung.Masuknya jalur kereta api keBandung juga mengubah wajah Bandung menjelang abad ke 20. Dalam waktu singkat, kawasan Bandung dan sekitarnya yang juga terkenal dengan keindahan alamnya menarik banyak wisatawan untuk berkunjung.

Sebagai pelengkap buku ini menyajikan rute wisata Bandung dari Hotel Homann yang diterjemahkan dari buku Gods voor Bandoeng. Selain itu ada pula kutipan lengkap dari buku catatan perjalanan M Buys, pengelana Belanda yang menelurusi kota  Bandung dan sekitarnya di akhir abad ke 19.


Buku ini diakhiri dengan potongan pengalaman William H. Sewards, pengelana asal Amerika Serikat ketika mengunjungi Bandung pada 1870 yang diantaranya memuat kesan khususnya terhadap bupati Bandung yang bertindak bagaikan raja dan pengalamannya menunjungi Curug Dago. 

Walau bersifat ensiklopedis namun  buku setebal 244 halaman  ini bukan sekedar pemaparan angka, tahun, akan apa yang pernah terjadi di Bandung  hingga awal abad ke 20 saja, melainkan juga menyajikan kisah-kisah baik itu legenda maupun kisah-kisah menarik yang benar-benar terjadi dimasa itu. Dengan demikian buku ini menjadi buku sejarah populer yang mengasyikan untuk dibaca.

Buku yang dilengkapi puluhan foto/ilustrasi ini sangat kaya akan informasi baik  mulai dari sejarah geografis Bandung, legenda, artefak-artefak, tokoh-tokoh sejarah baik tokoh lokal dan asing yang pernah tinggal di Bandung, kebijakan para bupati dan pemerintahan kolonial di Bandung dan sekitarnya hingga obyek-obyek wisata dimata para pengelana asing. Hal ini dimungkinkan karena penulis sepertinya telah menelisik ratusan buku. koran, majalah, dll. yang terkait Bandung dan sekitarnya. Tidak heran jika buku ini memuat ratusan catatan kaki yang bersumber dari puluhan buku-buku sejarah dari yang tertua hingga terkini. 

Yang agak disayangkan dari buku ini adalah dari segi layoutnya saja. Batas margin teks pada buku ini terkesan mepet, sehingga tampilan teks dan fotonya terkesan sempit. Jika batas marginnya agak dilebarkan mungkin akan lebih nyaman dibaca.

Terlepas dari hal diatas buku ini sangat baik untuk diapresiasi bagi siapa saja yang ingin mengetahui sejarah kota Bandung secara lengkap. Buku ini bagaikan sebuah rangkuman yang mengungkap informasi yang selama ini tercecer di beberapa buku atau bahkan informasi unik yang belum diketahui masyarakat umum. Mulai dari Bandung pada masa prasejarah hingga awal abad ke-20.

Sebagai informasi tambahan, menurut penulisnya, jilid kedua dari buku ini akan terbit di akhir tahun 2020 ini dengan judul Pesona Perkebunan di Priangan. Setelah itu rencananya akan terbit lagi hingga 5-6 jilid lagi dengan judul sbb :

Pesona Pendidikan dan Pergerakan Nasional di Bandung, Pesona Masa Keemasan Bandung (2 buku), Pesona Bangunan Kolonial di Bandung.

 @htanzil

Wednesday, July 29, 2020

Pram dalam Kliping : Dari Maemunah, Intel Soeharto, hingga Pramis


No : [391]
Judul : Pram dalam Kliping - Dari Maemunah, Intel Soeharto, hingga Pramis
Penyusun : Deni Rachman
Penerbit : ProPublic.info & MenaraAPI
Cetakan : I, 2020
Tebal : xii + 281 hlm, 23 sx 19 cm
ISBN : 978-612-93907-0-9

Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikon. Ikon sastra sekaligus ikon pejuang keadilan, kemanusiaan bagi Indonesia. Namanya juga tak lepas dari kontroversi politik yang membuat Pram lekat dengan cap penulis ‘kiri’ yang membuat dirinya menjadi sangat eksotis dan menjadi mata air yang seakan tak pernah habis untuk ditulis di berbagai media. 

Pram juga selalu menjadi tambang emas bagi para penerbit-penerbit lokal karena biasanya buku-buku tentang Pram selalu akan laris manis diburu oleh para pembaca.  Tidak heran jika banyak terbit buku-buku tentang Pram baik itu buku kajian ataupun buku berisi kumpulan tulisan-tulisan tentang Pram.
Yang teranyar adalah buku yg diberi judul “Pram dalam Kliping – Dari Maemunah, Intel Soeharto, hingga Pramis”,  sesuai judulnya buku ini merupakan kliping tulisan-tulisan tentang Pram yang disusun oleh  Deni Rachman, pedagang buku lawas yang juga aktivis literasi di Bandung. 

Disela-sela kesibukannya berjualan buku dan aktif mengikuti berbagai diskusi literasi ia mendokumentasikan berbagai artikel  budaya, sejarah, sastra, perbukuan yang ada di koran dan media cetak  lainnya kedalam bentuk kliping-kliping tematik. Tidak berhenti di mengkliping, ia juga membukukan kliping-klipingnya dalam Seri Pustaka Kliping.

Sebagai pembaca dan penyuka karya-karya Pram, artikel tentang Pram pun tidak luput dari sasaran gunting dan lemnya sehingga terkumpullah kliping khusus tentang Pram yang kemudian ia bukukan setelah sebelumnya berhasil membukukan kliping Inggit Ganarsih dengan judul Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih, MenaraAPI, 2020

Buku Pram dalam Kliping berisi 19 kliping termasuk foto-foto ekslusif tentang Pram yang berasal dari artikel-artikel di media cetak dari tahun 1955-2006. Jika disarikan buku ini terdiri dari 4 bahasan utama yaitu tentang  Pribadi dan keluaga, seputar karya, wawancara, dan komunitas.  Selain itu ada bonus ekslusif berupa transkrip  Orasi Budaya Pram dalam memperingati Konperensi Asia Afrika dan Hari Buku Internasional di Pramoedya di Bandung tahun 2003. 

Sebuah cakupan yang lengkap karena dalam hal pribadi dan keluarga kita akan melihat sosok Pram sebagai seorang anak muda yang ‘menembak’ calon istrinya dengan unik, bagaimana Pram sebagai ayah dimata keluarganya, dan sebagainya. Tidak ketinggalan pula berita-berita seputar meninggalnya Pram termasuk detik-detik terakhir sebelum sang Maestro menghembuskan nafasnya.   

Dari Seputar karya kita akan melihat bagaimana karya-karya Pram dilahirkan dan diapresiasi oleh pembacanya termasuk tentang Mata Pusaran, salah satu karyanya yang hilang. Sebagian kecil naskahnya  pernah ditemukan dalam keadaan memprihatinkan di Kwitang, Jakarta. Hanya naskah itu yang terselamatkan hingga kini.   

Dari kliping yang berisi wawancara kita akan melihat bagaimana si pewawancara mengeksplorasi sang Maestro dalam hal pribadi, ideologi, pengalaman Pram di Pulau Buru, mimpi-mimpinya, dll.  Yang menarik dan eksklusif dan mungkin jarang diungkap di buku-buku lain adalah kliping yang didapat dari Majalah Horison tahun 2006 yang merupakan wawancara Taufik Ismail dengan H. Agus Miftach mantan lntel Suharto yang ditugaskan menqawasi Pram setelah Pram bebas dari pengasingan di Pulau Buru dan karya monumentalnya terbit. 

Dibagian ini  terungkap bahwa Pak Harto pernah meminta intelnya untuk diberikan satu set tetralogi Bumi Manusia dan meminta intelnya untuk menunggu sekitar 5 menit agar ia bisa membaca-baca sebentar.

Kemudian Presiden memegang-megang buku itum membalik-baliknya membaca sebentar. Selesai membaca Pak Harto bilang begini, “Wah bagus isinya ya Gus”. Betul-betullah dia Kaisar. Lima menit baca,  langsung menyimpulkan. Kemudian Pak Harto menandatangani sebuah memorandum yang menyatakan bahwa laporan Operasi Khusus mengenai Pramoedya Ananta Toer dinyatakan selesai.  (hlm. 145)

Satu hal yang mungkin sering ditanyakan orang adalah bagaimana keimanan Pram. Seperti dikatakan oleh Pram dalam sebuah wawancara, dengan tegas Pram mengatakan bahwa agamanya adalah Pramis!. Bagaimana sesungguhnya keimanan Pram?. Walau Pram tidak pernah menyatakan secara ekspilist dalam salah satu wawancara yang dimuat di buku ini terungkap bahwa Pram pernah naik haji ketika kecil, dibawa oleh ayahnya. Pram juga pernah belajar Islam dari Muhamad Natsir dan bercita-cita untuk membantu ayah mertuanya yang pertama untuk naik haji.  Yang menarik adalah pendapat Pram tentang tauhid. 

...konsep dalam Islam yang dilihatnya di Mesir tak tertandingi. Tauid dalam Islam tak ada kompromi. Sayang di Indonesia, kata Pram, sinkritismenya terlalu banyak. Dia menekankan  bahwa agama itu adalah tauhid, syariat, etos kerja, dan harga diri...
(hlm.131)

Di bagian Komunitas kita akan melihat bagaimana karya-karya Pram melahirkan Pamis-pramis yang membentuk komunitas-komunitas anak muda yang secara rutin membaca, mendiskusikan, menggelar berbagai kegiatan dalam mengenalkan karya-karya Pram kepada masyarakat luas hingga menyempatkan diri untuk sowan kepada Eyang Pram dirumahnya. Salah satu yang dikliping penulis dalam buku ini adalah berita dari Radar Bandung mengenai Klab Baca Pramoedya yang menggelar Lomba Baca Cerpen Pramoedya Ananta Toer bagi anak SMU yang diikuti 27 peserta dari 8 sekolah di Bandung dan Tasikmalaya. Ini membuktikan bahwa karya Pram telah mulai dikenal di kalangan pelajar sekalipun buku-buku  Pram bukanlah bacaan wajib anak SMU seperti di Malaysia. 

Untuk buku sejenis ini, pada tahun 2001 pernah terbit buku Pramoedya Ananta Toer berjudul Perahu yang Setia dalam Badai, Buku Leila 2001 yang berisi artikel-artikel baik yang pernah ditulis Pram maupun artikel-artikel tentang Pram. Dengan demikian walau bukan yang pertama buku ini bisa menjadi pelengkap dari buku sejenis yang pernah terbit hampir 20 thn yang lalu. 

Buku yang berasal dari kliping penyusunnya ini diberi judul Seri Pustaka Kliping : Pram Dalam Kliping, sayangnya dari segi lay outnya buku ini kurang memberikan nuansa kliping sehingga pembaca seperti membaca buku kumpulan berisi kumpulan artikel yang pernah dimuat di Koran atau majalah saja. Mungkin akan lebih baik jika lay out dan foto2 dalam buku ini didesain seperti layaknya sebuah kliping.  (Ketika review ini ditulis cetakan ke-2 buku ini terbit dengan lay out bernuansa kliping)

Telepas sedikit kekurangan dari segi lay out bukunya, buku ini layak diapresiasi buat siapa saja yang ingin mengenal siapa sosok Pram dan karya-karyanya. Buku ini bisa menjadi informasi awal tentang Pram bagi generasi milenial  yang belum mengenal Pram dan karya-karyanya.  Bagi mereka bukan tidak mungkin buku ini akan menumbuhkan keingian untuk membaca karya-karyanya yang sarat dengan pesan kemanusiaan dan keadilan bagi generasi muda dimasa kini. Sebuah generasi atau angkatan muda yang selalu diharapkan oleh Pram untuk memimpin bangsa ini dan  mendobrak ketidakadilan yang hingga kini masih dirasakan di negeri ini.

@htanzil

Monday, April 06, 2020

Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih

[No. 390]
Judul : Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih
Penyusun : Deni Rachman
Penerbit : Menara API
Cetakan : I, Februari 2020
136 hlm, 13x19 cm

Nama Inggit Garnasih mungkin kalah terkenal dengan para wanita yang  pernah mendampingi kehidupan Ir. Soekarno proklamator dan Presiden pertama Indonesia. Tidak banyak memang yang menulis tentang Inggit Garnasih, dalam buku teks sejarah-sejarah resmi namanyapun hanya ditulis selewat saja padahal  sebenarnya peran Inggit Garnasih sebagai istri kedua Bung Karno  sangatlah berperan besar bagi perjuangan Bung Karno. Inggit dengan setia mendampingi Bung Karno  semenjak ia menjadi mahasiswa di Technische Hoogeschool te Bandoeng  (sekarang Institut Teknologi Bandung/ITB), terjun ke dunia politik, dipenjara di Sukamiskin Bandung, dibuang ke Flores dan Bengkulu hingga beberapa bulan menjelang kemerdekaan Indonesia.

Buku referensi mengenai Inggit Garnasih pun sangat terbatas. Yang paling populer dan paling sering dijadikan acuan oleh para penulis dalam mengangkat sosok Inggit Garnasih adalah novel biografis Kuantar Ke Gerbang karya Ramadhan KH, yang pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Sinar Harapan, 1981. Selain itu ada buku Perempuan dalam Hidup Sukarno : Biografi Inggit Garnasih, karya Reni Nuryanti, Penerbit Ombak, 2007

Bersyukur kini terbit sebuah buku Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih yang merupakan kumpulan tulisan dari para jurnalis yang dimuat berbagai media cetak (Mahasiswa Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Bernas, Zaman, Mangle, dll) yang terbit dari tahun 1975 - 2000. Beberapa penulis terkenal seperti Seno Gumira Ajidarma, Haryoto Kunto, Tatang Sumarsono, Suryanto Sastroatmodjo ikut menulis tentang Inggit.

Buku ini terdiri dari 13 tulisan tentang Inggit Garnasih yang hampir semuanya menceritakan keistimewaan Inggit dimata para jurnalis dalam berbagai bentuk tulisan jurnalistik yang bersumber dari  wawancara langsung dengan ibu Inggit di masa tuanya, wawancara dengan orang-orang terdekat Inggit atau dari berbagai sumber yang ada saat tulisan-tulisan tersebut dibuat.

Dari ke 13 ragam  tulisan yang ada dalam buku ini  kita dapat memperoleh fakta-fakta dan kisah-kisah menarik dari kehidupan Ibu Inggit antara lain kisah tentang nama Inggit . Seperti yang banyak ditulis nama Inggit berasal kata ringgit karena saat kecil ia sering mendapat  uang seringgit dari orang-orang yang menyukai kelucuan Inggit. Namun ada hal lain terungkap di salah satu tulisan di buku ini yang menyatakan bahwa nama Inggit berasal saat Inggit Garnasih yang cantik adalah  pemain wayang uwong yang pandai menari.

"Setiap dia membuka topengnya dalam menari, lalu tersenyum, maka berhamburanlah uang ringgit para penonton dengan senang hati dan rela demi senyum yang menawan itu." Dan jadilah nama 'Inggir yang berasal dari kata 'ringgit'
(hlm 11)

selain itu terungkap pula cerita lain yang mengatakan bahwa nama 'inggit'  berasal dari karena cantiknya Inggit Garnasih, maka orang tuanya menjadi sangat cemas sehingga ia memingit Inggit. Dari kata 'pingit'lah datangnya nama 'Inggit'

Peran dan jasa Ibu Inggit dalam mengantar Soekarno sampai ke pintu gerbang kemerdekaan sangatlah besar. Hal ini yang membuat pemerintah RI menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama untuk almarhumah Ibu Inggit Garnasih pada tahun 1997.  Seperti yang ditulis Haryoto Kunto bahwa dimanapun Bung Karno berada, Inggit selalu mendampinginya. Jika dalam sebuah acara biasanya istri para tokoh atau pejabat selalu duduk di kursi depan, lain halnya dengan Inggit yang berbaur dengan hadirin di belakang sambil mengamat-ngamati gerak-gerik para hadirin.

Jika ada di antara hadirin yang dicurigainya, maka segera Inggit menghampiri orang tersebut, duduk atau berdiri di sisinya, sambil memegang dan mengelus-ngelus bahu atau punggung orang yang dicurigainya itu, sampai ia terbukti benar-benar spion Belanda.... berkali-kali Ibu Inggit berhasil membongkar spion kolonial yang menyusup. Sorot mata Inggit yang tajam disertai daya linuwih, indra keenam, merupakan kekuatan batin menambah daya tahan Bung Karno dalam perjuangannya kala itu.  
(hlm 39)

Buku ini juga memuat kisah-kisah pertemuan Inggit dengan Soekarno, saat-saat dalam pembuangan di Ende dan Bengkulu,  kisah perceraiannya dengan Bung Karno karena tidak mau dimadu, hingga berita tentang meninggalnya ibu Inggit pada tahun 1984 di usia 90 tahun

Buku ini diakhiri dengan dua tulisan tentang rumah bekas kediaman Ibu Inggit di jalan Ciateul no. 8 Bandung. Yang pertama yaitu tentang rencana Pemda Jabar untuk memugar rumah bersejarah tersebut. Yang kedua tentang keadaan rumah tersebut di tahun 2000 yang ternyata  masih menjadi 'rumah hantu' walau telah dipugar pada tahun 1997.

Beberapa tulisan dalam buku ini bisa digolongkan sebagai sumber primer karena berasal dari wawancara langsung dengan ibu Inggit ketika ia masih hidup atau wawancara dengan orang-orangyang pernah dekat dengan Ibu Inggit. Karena buku ini disajikan dalam bentuk narasi kliping yaitu dengan memindahkan tulisan yang tadinya ada di koran atau majalah tanpa merubahnya (kecuali tulisan  bahasa Sunda yang diterjemahkan penyusun kedalam bahasa Indonesia) maka buku ini membawa suasana, nuansa tulisan, bahasa jurnalistik,  dan semangat zaman pada saat tulisan-tulisan dalam buku ini dimuat sehingga pembaca akan dibawa kedalam suasana di tahun 1970 - 2000-an. 

Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto dari guntingan koran dan majalah. Sayangnya penempatannya  agak kurang tepat misalnya foto kliping artikel majalah Zaman yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma ditempatkan bukan di samping tulisan Seno. Hal ini terjadi juga pada beberapa foto-foto lainnya. Mungkin akan lebih baik kalau foto tersebut ditempatkan tepat di awal atau akhir tulisan yang dimaksud. Atau kalaupun sulit dalam penempatannya seluruh foto-foto bisa dikumpulkan atau ditempatkan di bagian akhir buku ini secara kronologis.

( Foto Ibu Inggit Ganarsih & Haryatie Soekarno, Madjalah Sunda, 1966)

Penyebutan nama Inggit berasal dari dirinya yang ketika kecil sering diberi uang sebanyak seringgit jika pergi ke pasar. Selain itu, di malam harinya juga suka ada yang melempari dinding kamarnya dengan uang seringgit yang terbungkus dengan genting. "Sejak itulah aku diberi nama atau katakanlah disebut orang-orang di rumah pada mulanya, si Ringgit dan kemudian menjadi si Inggit, sebutan yang lebih manis kedengarannya," kata Inggit dalam buku Soekarno: Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan K.H.


Sumber : https://www.sejarahbogor.com/2019/04/romantika-inggit-sukarno.html

Penyebutan nama Inggit berasal dari dirinya yang ketika kecil sering diberi uang sebanyak seringgit jika pergi ke pasar. Selain itu, di malam harinya juga suka ada yang melempari dinding kamarnya dengan uang seringgit yang terbungkus dengan genting. "Sejak itulah aku diberi nama atau katakanlah disebut orang-orang di rumah pada mulanya, si Ringgit dan kemudian menjadi si Inggit, sebutan yang lebih manis kedengarannya," kata Inggit dalam buku Soekarno: Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan K.H.


Sumber : https://www.sejarahbogor.com/2019/04/romantika-inggit-sukarno.html


Untuk berita tentang rumah sejarah peninggalan Inggit agak disayangkan penyusun tidak memasukkan berita atau artikel terkini tentang rumah tersebut. Seperti disebutkan di atas, buku ini ditutup dengan berita di tahun 2000 tentang keadaan rumah ibu Inggit yang masih menjadi 'rumah hantu' padahal saat ini rumah tersebut telah dipugar kembali seperti museum yang berisi panel-panel keterangan dan foto-foto tentang kehidupan Inggit Garnasih. Kini rumah tersebut kerap menjadi tujuan wisatawan dan pelajar untuk menggali sejarah mengenai Inggit Garnasih.

Terlepas dari hal di atas kehadiran buku ini perlu diapresiasi dengan baik. Seperti apa yang menjadi harapan penyusun buku ini, buku ini setidaknya dapat menjadi pembuka kanal awal informasi alternatif terhadap siapa, bagaimana, dan apa manfaat yang publik rasakan dari kisah hidup Inggit Garnasih.

Selain itu buku ini juga berperan besar dalam mengenalkan kembali kepada masyarakat luas terutama genenasi milenial akan sosok Ibu Inggit Garnasih, perempuan Sunda yang dalam kesederhanaan dan kerendahan hatinya mendampingi dan memberi semangat pada Bung Karno. Walau pada akhirnya harus bercerai, dua puluh tahun pernikahan Bung Karno dan Inggit  bukanlah sebuah kesia-siaan karena Inggitlah yang banyak berperan dalam ikut membentuk pribadi Bung Karno menjadi seorang pejuang yang tangguh sekaligus mengantar Bung Karno mewujudkan cita-citanya untuk memerdekakan bangsanya.

@htanzil
Mulanya ia diberi nama Garnasih dari kata hegar (segar menghidupkan) dan asih (kasih sayang). Penyebutan nama Inggit berasal dari dirinya yang ketika kecil sering diberi uang sebanyak seringgit jika pergi ke pasar. Selain itu, di malam harinya juga suka ada yang melempari dinding kamarnya dengan uang seringgit yang terbungkus dengan genting. "Sejak itulah aku diberi nama atau katakanlah disebut orang-orang di rumah pada mulanya, si Ringgit dan kemudian menjadi si Inggit, sebutan yang lebih manis kedengarannya," kata Inggit dalam buku Soekarno: Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan K.H.

Sumber : https://www.sejarahbogor.com/2019/04/romantika-inggit-sukarno.htmlKini rumah tersebut kerap menjadi tujuan wisatawan dan pelajar untuk menggali sejarah mengenai Inggit Garnasih. Di setiap ruangan tersebut dipenuhi oleh foto-foto Inggit bersama dengan Soeka@hta

Friday, March 27, 2020

Bandung di Waktu Malam

[No. 389]
Judul : Bandung Di Waktu Malam
Penulis : Soe Lie Pit
Editor : Wahyu Wibisana
Penerbit : Pustaka Klasik bekerja sama dengan PT Kahatex
Cetakan Pertama : Januari 1931
Diterbitkan Kembali : Desember 2019
Tebal : 120 hlm

Buku ini merupakan sebuah kisah fiksi karya Soe Lie Piet , ayah dari Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin (Arif Budiman). Karya-karya Soe Lie Pit kebanyakan bergenre "novel etnografis", novel yang mengambil latar belakang budaya sebuah daerah.

Di karyanya ini Soe Lie Pit mengambil mengambil latar belakang kota Bandung dan gunung Tangkuban Perahu di tahun 1930-an.  Novel ini menceritakan tentang seorang petapa sakti bernama Rayahna. Ia telah bertapa bertahun-tahun di gua dalam hutan di puncak Gunung Tangkuban Perahu. Kesaktiannya memungkinkan ia dapat melihat sesuatu dari jarak ratusan mil; ia bisa datang di segala tempat, bisa tahu apa yang sedang dipikirkan orang. Selain itu Rayahna juga bisa berganti rupa seperti yang ia kehendaki.

Di atas puncak gunung Tangkuban Perahu Rayahna kerap mengamati kota Bandung yang dimalam hari begitu bercahaya dengan  lampu-lampu yang gilang gemilang. Namun ditengah gemerlapnya Bandung lewat mata batinnya Rayahna melihat adanya cahaya hitam yang senantiasa mengepul naik dari kota Bandung. Baginya cahaya hitam itu adalah nafsu jahat dari hati manusia.

Penasaran dengan cahaya hitam yang mengebul Rayahna bertekad untuk melihat sendiri kota Bandung dari dekat.

"Biarlah mulai besok malah aku akan turun ke Bandung buat begaul kembali pada manusia supaya aku bisa tahu dengan jelas yang disertai bukti-bukti bahwa mengebulnya itu cahaya hitam saban saat ke atas udara bukan tidak ada lantarannya" (hlm 6)

Rayahna turun ke Bandung selama 10 malam. Dari pengalamannya selama di Bandung itulah kisah-kisah dalam novel ini mengalir. Penulis membagi kisah-kisahnya dalam 10 malam. Masing-masing kisah berdiri sendiri dengan benang merah kehidupan malam yang gemerlap.

Bandung yang begitu gemerlap diwaktu malam di tahun 1930an yang terkenal glamour termasuk aktivitas dunia hiburan malam beserta pelacurannya inilah yang menurut penulis merupakan salah satu faktor yang membuat Bandung diberi julukan sebagai Parijs van Java.

"Soal yang kita mau bicarakan di sini yaitu tentang cara bagaimana pelacuran bisa dibasmi atau dibikin  kurang sebisanya yang banyak merajalela di Java, terutama Bandung ada terkenal betul hingga ini kota dapat titel sebagai Parijs van Java" (hlm 98-99)

Hal ini tentu menambah referensi lagi mengapa Bandung disebut Parijs van Java. Kuncen Bandung Haryoto Kunto  dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, 1980 mengatakan kemungkinan julukan tersebut muncul  dari seorang pedagang Belanda bernama Roth yang mempromosikan dagangannya (pakaian) di pasar malam Jaarbeurs.  Kemungkinan diambilnya nama Paris karena Paris saat itu telah menjadi kiblat mode dunia. Dengan sebuatan Parijs van Java diharapkan dapat menarik minat orang untuk datang ke pasar malam tahunan Jaarbeurs dan membeli dagangannya.

Jaarbeurs atau Pasar malam tahunan yang sangat terkenal disaat itu juga ikut mengilhami penulis untuk menulis kisah yang berlatar Jaarbeurs. Dari kisahnya kita bisa melihat bagaimana suasana Jaarbeurs saat itu

Ini malam Bandung penuh sekali dengan keramaian dan kegirangan yang beda betul seperti biasa. Di jalan-jalanan besar sesak dengan berbagai kendaraan dan orang yang jalan kaki yang pada menuju ke sebalah utara. Ada apa? Jaarbeurs!

Hampir boleh dipastikan semua orang dengan paras girang pergi ke Jaarbeurs; di straat, dalam kendaraan,di rumah-rumah, tidak lain yang disebut: Jaarbeurs, karena ini pasar tahunan yang ramai yang baru dibuka ini malam

Lampu-lampu  listrik yang dipasang buat membikin terang lapangan Jaarbeurs dan sekitarnya, ia punya cahaya bisa kelihatan dari tempat-tempat yang terpisah jauh juga.

Ketika itu lapangan Jaarbeurs yang luas telah jadi padat dengan penonton-penonton dari segala bangsa. Suara dari segala macam tontonan dengan musiknya yang ribut sangat diperdengarkan, dan dibarengi dengan suara dari orang banyak yang sebentar-sebentar tertawa girang .
 (hlm 111)

Secara umum kisah-kisah dalam buku ini menggambarkan sebuah paradok antara gemerlapnya kota Bandung di waktu malam dan antusiasnya penduduk kota Bandung menikmati dunia malam dengan kepedihan yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Seolah penulis hendak mengatakan bahwa gemerlapnya dunia malam dapat membawa orang-orang terjerembab kedalam nafsu jahat di hati manusia yang pada akhirnya akan melahirkan berbagai kepedihan seperti yang dialami tokoh-tokohnya.

Walau berupa buku fiksi namun dengan diterbitkannya kembali buku ini patut diapesiasi dengan baik karena sedikit banyak dapat menggambarkan kepada pembaca dimasa kini bagaimana suasana kota Bandung di waktu malam di tahun 1930an ketika Bandung terkenal hinga seantero Eropa

 

Buku Bandung di Waktu Malam  terbit pertama kali pada tahun 1931 oleh penerbit Elect: Drukkeij : Minerva", Bandoeng. Penerbit yang secara rutin, sebulan sekali menerbitkan buku-buku fiksi karya penulis-penulis Tionghoa.

Bersyukur novel yang terbit hampir 90 tahun yang lalu, yang telah lama terlupakan ini akhirnya diterbitkan kembali dalam edisi hard cover oleh Pustaka Klasik berkat dukungan PT. Kahatex, salah satu  pabrik terkstil terbesar di Bandung yang tampaknya peduli akan pelestarian kesasteraan Melayu Tionghoa. 

Dalam penerbitan ulang ini, penerbit tidak mengubah sedikitpun struktur kalimat dan ceritanya. Perubahan hanya dilakukan dengan  mengubah ejaan bahasa yang aslinya ditulis menggunakan ejaan Van Ophuyesen menjadi ejaan baku seperti "oe" menjadi "u","tj" jadi "c" sehingga pembaca masa kini lebih mudah memahami ceritanya.

@htanzil