Monday, June 15, 2015

Halaman Terakhir : Sebuah Novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng

[No 357]
Judul : Halaman Terakhir - Sebuah Novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng
Penulis : Yudhi Herwibowo
Penerbit : Noura Books
Cetakan : I, Februari 2015
Tebal : 436 hlm


Halaman terakhir adalah novelisasi penggalan dari kehidupan Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, sosok polisi teladan yang jujur,  berintegritas, dan sederhana yang mungkin hingga kini tidak ada yang sepertinya. Di novel ini penulis hanya membatasi kisahnya dari dua kasus terakhir yang ditangani oleh Hoegeng sebelum ia dipurna baktikan sebelum masa tugasnya berakhir oleh pemerintah Orde Baru saat itu.

Novel ini dimulai dengan sebuah prolog yang mengisahkan bagaimana pergulatan batin Hoegeng saat membaca surat dinas dari Menhankam yg salah satu kalimatnya berbunyi seperi ini

"...dengan ini kami menunjuk Jenderal Hoegeng Iman Santoso sebagai Duta Besar Kerajaan Belgia..."

Kalimat itu menandaskan bahwa tugasnya sebagi Kapolri telah selesai walaupun sebenarnya masa tugasnya belum habis. Sebagai seorang prajurit Hoegeng  menerima keputusan tersebut namun yang disesalkannya adalah mengapa ia harus berhenti saat ia sedang menyelesaikan dua kasus besar yang selama ini menyita energi dan waktunya. Dua kasus yang telah dijanjikannya akan terselesaikan selama masa kepemimpinannya.

Kemudian setting kisah beralih secara beruntun ke dua kasus terakhir Hoegeng yaitu pemerkosaan Sumaryah, gadis desa penjual telur di Jogyakarta yang kelak akan menghebohkan masyarakat Indonesia karena ada dugaan keterlibatan anak pejabat, dan kasus penyeludupan mobil mewah oleh Soni Cahaya yang memiliki kedekatan dengan Keluarga Cendana dan diduga melibatkan para pejabat terkait dalam usaha ilegalnya ini.

Dalam kisah Sumaryah penulis menarasikan tragedi gadis penjual telur itu dengan dramatis mulai dari perkosaan yang dilakukan empat orang pemuda dalam mobil combi terhadap Sumaryah hingga proses persidangan yang berlarut-larut, berbelit,  dan melelahkan.Tekanan batin yang dialami Sumaryah terungkap dengan jelas di novel ini, apalagi ketika pada akhirnya dia sempat menjadi tersangka atau bagaimana kasusnya ini menjadi kasus besar dan rumit karena diduga ada anak pejabat yang terlibat dan hadirnya tersangka dan saksi-saksi baru yang janggal. Hal inilah yang menyebabkan Jenderal Hoegeng menaruh perhatian khusus terhadap kasus ini dengan membentuk tim khusus sebelum akhirnya kasus ini tiba-tiba diambil alih oleh Terpepu (Tim Pemeriksa Pusat) yang biasanya mengurusi kasus-kasus berdimensi politik.

Pada kasus penyeludupan mobil mewah pembaca akan diajak melihat bagaimana Soni Cahaya mendatangkan mobil-mobil mewah dengan cara yang cerdik yang tentu saja melibatkan instansi-instansi terkait. Di bagian ini pembaca juga disuguhkan keseruan proses penangkapan Soni Cahaya sang gembong penyeludup mobil mewah.

Setelah menarasikan dua kasus terakhir Hoegeng, di bab-bab terakhir penulis menyuguhkan bagaimana kehidupan Hoegeng setelah tidak menjadi Kapolri lagi antara lain menjadi pengisi acara talk show Radio Elshinta yang membahas isu-isu sosial hingga menjadi seorang penyanyi Hawaian yang pada akhirnya bersama groupnya yang bernama Hawaiian Senior tampil seminggu sekali di TVRI.

Di bagian ini kita akan melihat kepedulian Hoegeng sebagai seorang polisi yang berbedikasi tidak luntur walau ia telah pensiun. Dari acara radio yang diasuhnya ia kerap menerima pengaduan-pengaduan masyarakat. Apa yang  ia dengar ia catat dan sampaikan ke teman-teman atau anak buahnya yang masih aktif di kepolisian lewat sebuah memo.

Di bagian akhir novel ini kita juga akan melihat bagaimana pada akhirnya Hoegeng disingkirkan pemerintah Orde Baru  ketika pada akhirnya ia memilih berseberangan dengan pemerintah dan bergabung bersama Jenderal (Purn) Nasution, Bung Hatta, Ali Sadikin, dll yang tergabung dalam Lembaga Kesadaran Berkonstitusi (LKB) dan menandatangani sebuah petisi yang kelak akan dikenal dengan sebutan Petisi 50  ditujukan pada pemerintah. (5 Mei 1980)

"Dan dari situlah, semua hal yang seharusnya tak diterimanya kemudian diterima! Presiden Soeharto, yang pada tahun-tahun itu semakin kuat, merasa kalau gerakan seperti itu seperti menentang dirinya. Maka, ia kemudian mencatat semua orang yang terlibat di dalamnya. Dengan gerakan halus dan nyaris tak terlihat, Seoharto kemudian melakukan serangan balasan." (hl, 423)

Novel ini mengungkapkan bahwa sejak Hoegeng ikut menandatangani Petisi 50 maka banyak yang berubah dari kehidupannya, antara lain ia tidak bisa datang ke pernikahan Prabowo dan Titiek Soeharto padahal ia adalah sahabat Soemitro, ayah Prabowo. Selain itu TVRI juga menghentikan siaran musik Hawaiian Seniors, yang sudah berjalan bertahun-tahun. Hoegeng menerima semua perlakuan itu dengan lapang dada, hanya satu yang paling memberatkan dan melukai hatinya yaitu pelarangan dirinya untuk hadir di upacaya Bhayangkara (HUT POLRI), setiap tanggal 1 Juli. 

Selain  Hoegeng novel ini juga memunculkan tokoh-tokoh lain yaitu Djaba Kresna, wartawan yang peduli akan nasib Sumaryah yang mendapat perlakuan tidak adil yang  ia tuliskan dalam bentuk berita atau opini di koran tempatnya bekerja. Lalu ada pula tokoh Jati Kusuma dan Wulan Sari, dua orang polisi yang ditugasi oleh Hoegeng untuk menangani kasus Sumaryah dan Soni Cahaya. Ketiga tokoh ini membuat novel ini menjadi semakin menarik karena ketiga tokoh inilah yang membuat kisah Hoegeng dan dua kasus yang ditanganinya ini menjadi lebih hidup dan seru untuk dibaca.


Melalui novel yang dikerjakan hampir setahun dengan riset pustaka yang serius dan wawancara dengan keluarga Alm. Hoegeng penulis juga menyuguhkan latar peristiwa-peristiwa sejarah dan sosial yang terjadi di Indonesia semasa Hoegeng menjadi Kapolri sehingga kita bisa belajar sejarah melalui novel ini.  Di luar dua kasus besar yang ditangani Hoegeng terungkap juga  bagaimana sulitnya Hoegeng menerapkan peraturan pemakaian helm bagi pengendara motor yang mendapat banyak tantangan dari masyarakat sampai-sampai Hoegeng diisukan memiliki pabrik helm sehingga mengeluarkan kebijakan tersebut.

Secara keseluruhan novel ini berhasil mengungkap dengan baik seluk beluk dan kerumitan penanganan dari dua kasus besar yang benar-benar pernah terjadi ini dalam balutan dramatisasi fiksi yang menarik. Namun sayangnya porsi pengungkapan dua kasus ini  terlalu mendominasi kisahnya sehingga porsi dan ketokohan Hoegeng sendiri tampak sedikit tenggelam padahal sub judul novel ini adalah "Sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng". Sub judul tersebut  tentunya akan menggiring pembaca pada persepsi bahwa mereka akan banyak mendapat kisah kehidupan Hoegeng sebagai seorang polisi.

Walau demikian, sekalipun tidak banyak,  penulis tetap menyertakan kilasan-kilasan kehidupan Hoegeng mulai dari awal kariernya di kepolisian hingga masa pensiunnya sehingga pembaca dapat  melihat sosok dan keteladanan Hoegeng sebagai polisi yang berdedikasi, jujur, dan sederhana. Hal ini antara lain terungkap ketika Hoegeng ditugaskan sebagai Kadit Reskim Sumatera Utara.

Ketika itu di dalam rumah dinasnya, ditemukan barang-barang mewah kiriman seorang pengusaha yang mengaku sebagai Ketua Panitia Selamat Datang. 

Tentu saja, Hoegenge menolak sambutan itu. Namun, si tukang suap ternyata bukan orang yang mudah menyerah. Ia tak menghiraukan penolakan Hoegeng yang meminta barang-barang itu diambil kembali. Sehingga, sampai batas waktu yang ditetapkan, Hoegeng akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk mengeluarkan barang-barang itu dari rumah dinasnya. (hlm 129-130)

Sikap Hoegeng untuk menolak pemberian itu adalah tindakan nyata dari apa yang pernah dipesankan Hoegeng pada anak buahnya sbb :



Selain hal di atas masih ada beberapa kisah lain yang mengungkap kejujuran dan dedikasi Hoegeng pada tugas yang diembannya sehingga novel ini patut dibaca oleh siapapun di tengah langkanya figur seorang pemimpin teladan di tengah-tengah kita. Dipaparkannya dua kasus besar yang  sarat konflik kepentingan di masa Hoegeng bertugas di tahun 70an ini menyadarkan kita bahwa keadilan yang hampir tidak pernah dirasakan rakyat kecil seperti Sumaryah dan kasus kejahatan yang  yang melibatkan instasi oknum-oknum di jajaran pemerintahan tetap saja masih terjadi di jaman ini. Apakah ini menandakan bahwa dalam segi hukum dan keadilan negara kita hanya "berjalan di tempat" ?

@htanzil

Wednesday, May 20, 2015

Serba 90-an dalam Komik

[No. 356]
Judul : Serba 90-an dalam Komik
Ilustrator : Nana Naung
Penerbit : Alisha Books
Tebal : 138 hlm
ISBN : 978-602-70410-8-0

Komik ini berisi serba-serbi permainan, kegiatan, dan kebiasaan-kebiasaan yang populer di era-90an ketika kita khususnya anak-anak belum dilanda demam gadget seperti sekarang. Saya tidak akan berpanjang-panjang dalam mereview komik ini karena khawatir menggangu kenikmatan dan membiarkan calon pembaca komik ini untuk menduga-duga sendiri apa yang akan mereka temui dalam lembar demi lembar komik ini.

Secara keseluruhan komik ini berhasil mengangkat hal-hal menarik yang pernah kita alami di era-90an ketika kita masih sekolah dalam panel-panel gambar yang dinamis dengan eksrpesi wajah-wajah lucu dari orang-orang yang ada di dalamnya. Singkat kata komik ini akan membawa kita kembali ke masa-masa indah ketika masih anak-anak dengan senyum dan tawa sambil meningat kebodohan-kebodohan dan keisengan yang mungkin pernah kita lakukan seperti yang tertuang dalam puluhan judul dalam komik ini.

Tidak hanya berisi komik hitam putih, buku ini juga menyajikan beberapa halaman berwarna, dan di bagian paling akhir ada bonus berupa lirik dan kord gitar dari lagu tema film yang populer di tahun 90-an yaitu OST Keluarga Cemara, Remi, dan Honey Bee Hatch.

Akhir kita, ini endorsment saya untuk komik ini.





Berikut contoh beberapa panel gambar yang ada di buku ini







@htanzil

Wednesday, April 29, 2015

Bandung 1955 : Moments of Asian African Conference

[No.355]
Judul : Bandung 1955 - Moments of Asian African Conference
Fotografer : Paul Tedjasurja
Kurator : Galih Sedayu
Penerbit : Air Foto Network
Cetakan : I, April 2015
Tebal : 80 hlm
ISBN : 978-602-14408-3-4

Buku Bandung 1955 ini  merupakan buku foto karya fotografer senior Paul Tedjasurja (85 thn) yang berisi foto-foto suasana Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955. Saat itu Paul tercatat sebagai fotografer lepas pada beberapa media cetak di Bandung, di antaranya Majalah Gembira, Preanger Foto, dan Pikiran Rakyat. Dengan  kamera Leica III F seberat 1,5 kg ia berhasil mengabadikan momen-momen KAA 1955 ke dalam 300 lembar foto. Sayangnya ada banyak foto beserta negatifnya yang hilang karena dipinjam oleh orang yang mengaku dari pemerintah dan tak pernah kembali sehingga dari 300 foto yang ada hanya 70 foto yang masih ada hingga kini.

Dari 70 lembar foto tersebut dipilihlah 63 foto  (foto persiapan menjelang KAA, kedatangan para delegasi, suasana sidang, jamuan makan, serta antusias masyarakat saat menyaksikan para delegasi KAA) untuk dimasukkan ke dalam buku yang dikuratori oleh Galih Sedayu, pegiat fotografi, pendiri dan pengelola Air Foto Network .

Sebelum menikmati puluhan  foto-foto hitam putih hasil jepretan Paul Tedjasurja kita akan disuguhkan sebuah narasi pendahuluan yang berjudul Litani Paul Tedjasurja Bagi Peringatan Konperensi Asia Afika. Bagian ini berisi pengalaman Paul Tedjasurja saat memotret KAA 1955 beserta biografi singkat sang fotografer. Selain itu ada pula kutipan dari majalah Gembira tanggal 11 Februari 1956 yang memuat profil Paul. Dari kutipan tersebut kita bisa mengetahui bahwa Paul adalah fotografer yang cukup terkenal di masa itu.

Bagi penduduk kota Bandung dan sekitarnja ia sudah tjukup dikenal. Baik dikalangan djembel maupun dikalangan ningratnja. Atau bagi parapeladjari mahasiswa maupun diorganisasi bahkan sampai kepada kalangan Angkatan Perangnja. 
(hlm. 4)

Selain seorang fotografer ternyata Paul juga menggermari filateli dan beliau adalah orang pertama di Indonesia yang memadukan obyek foto dengan filateli dan autogram. Di bagian ini kita juga akan mendapati sejarah singkat KAA dan isi Dasa Sila Bandung.

Setelah narasi pendahuluan yang ditulis oleh Galih Sedayu barulah kita menikmati foto-foto jepretan Paul Tedjasurja yang disusun secara kronologis dimulai dari  foto kedatangan Presiden Sukarno di Bandara Husein Sastranegara untuk memeriksa kesiapan KAA 1955, kedatangan para delegasi, suasana diluar gedung Merdeka, suasana sidang di Gedung Merdeka dan Gedung Dwi Warna, hingga jamuan makan di Gedung. Pakuan. Diantara foto-foto terdapat juga beberapa quote dari Presiden Sukarno menghiasai jeda antar satu tema foto ke tema berikutnya.

Dari ke 60 foto-foto yang ada di buku ini ada banyak hal-hal yang menarik jika kita perhatikan, misalnya bagaimana antusias warga Bandung menyambut KAA dan bagaimana saat itu panitia mengizinkan warga Bandung untuk melihat para delegasi dari jarak yang begitu dekat. Hal itu terlihat dari foto-foto ribuan warga tampak berkumpul di sekitar Gedung Merdeka. Kondisi ini sangat berbeda dengan peringatan KAA ke 60 thn yang baru saja berlangsung dimana wliayah Gedung Merdeka dan sekitarnya merupakan wilayah yang harus steril dari masyarakat umum.



Ketika konferensi sedang berlangsung, Paul tidak hanya membidik suasana kaku dan serius para anggota delegasi melainkan juga tampak terlihat suasana santai dari para peserta delegasi saat menunggu konferensi dimulai. Yang menarik adalah sajian di meja masing-masing perserta sidang, selain air putih ternyata ada juga disediakan rokok dan asbaknya, uniknya rokok (sepertinya rokok kretek) tersebut diletakkan di dalam gelas. Ternyata saat itu merokok dalam ruang konferensi diizinkan oleh panitia.



Para wartawan dan petugas keamananpun tak luput dari bidikan Paul, di buku ini kita bisa melihat kesibukan para wartawan spada saat peserta delegasi datang,  mewawancarai peserta delegasi, dan suasana di balkon Gedung Merdeka dimana para wartawan ditempatkan. Bagaimana repotnya petugas keamanan mengamankan agar warga Bandung tetap tertib pun tak luput dari jepretan Paul.

Suasana berseri jamuan manan malam di Bale Pakuan juga ditampilkan di buku ini, dari foto ini tampak jamuan makan malam disajikan secara parasmanan sehingga para peserta delegasi harus antri mengambil makanannya sendiri, hal ini berlaku juga buat para pemimpin/kepala negara.



Masih banyak hal-hal menarik yang bisa kita lihat dari seluruh foto yang ada di buku ini. Beberapa foto mungkin sudah sering kita lihat baik di media-media cetak maupun media onlen, namun ada juga beberapa foto yang mungkin baru pertama kali kita lihat dan ini menjadi salah satu keunggulan buku ini. Semua foto-foto dalam buku ini tersaji secara sempurna di atas kertas art paper dengan berbagai ukuran dari ukuran terbesar  21 x 15 cm  hingga yang terkecil dengan ukuran 8,5 x 6 cm

Buku ini sangat baik dikoleksi oleh para pecinta sejarah dan fotografi, namun ada beberapa hal yang mungkin menjadi kekurangan buku ini, yang pertama adalah tidak adanya foto Paul Tedjasurja saat meliput KAA 1955 yang saat itu masih berusia 25 tahun. Padahal Paul sendiri pernah berfoto bersama Presiden Sukarno saat itu. Foto tersebut tentunya cocok untuk disajikan di bagian narasi pendahuluan dimana dikisahkan pengalaman Paul saat meliput KAA 1955

                                             photo by galih sedayu

Kedua, dalam buku ini tidak ada satupun foto Historical Walk yang dilakukan para delegasi dari Hotel Homan menuju Gedung Merdeka, apakah memang Paul tidak sempat memotret momen bersejarah tersebut? rasanya tidak mungkin ya. Lalu kenapa tak satupun foto  Historical Walk dimuat dalam buku ini? Atau mungkin foto-foto Historical Walk KAA 1955 itu termasuk foto-foto yang hilang dipinjam orang? sayangnya hal ini tidak dijelaskan dalam kata pengantar buku ini.

Yang ketiga adalah judul buku ini yang menggunakan bahasa Inggris. Karena seluruh isi buku ini menggunakan bahasa Indonesia mengapa judulnya harus menggunakan bahasa Inggris?

Keempat, karena perhelatan KAA adalah perhelatan Internasional dan adanya rencana pemerintah Indonesia untuk membawa foto-foto karya Paul Tedjasurja ke UNESCO untuk dijadikan warisan dunia Memory of The World alangkah baiknya buku ini dibuat dalam dua bahasa (Inggris-Indonesia) sehingga bisa buku ini juga bisa dinikmati tidak hanya oleh pembaca Indonesia saja.

Terlepas dari kekurangannya buku ini tentunya menjadi jejak literasi dari pelaskanaan KAA 1955. Buku ini juga menjadi buku foto pertama terkait pelaksanaan KAA sehingga menjadi pelengkap bagi buku-buku yang bercerita tentang sejarah KAA yang telah banyak beredar.

Walau foto-foto Paul dalam buku ini mungkin sudah sering kita lihat baik di media cetak maupun internet namun kehadiran buku tetaplah bermanfaat untuk ini merangkum sebagian kecil foto-foto Paul yang tersebar di berbagai media cetak dan online. Terlebih itu bagi generasi muda buku ini akan sangat berharga untuk mengenal lebih dalam lagi sejarah KAA 1955 melalui foto di mana Indonesia pernah berperan aktif dan menjadi pelopor dalam menjaga dan mengusahakan keharmonisan dunia.

@htanzil

Friday, April 24, 2015

Pupur & Gincu Buat Bandung : Album Kenangan 3 Jam Peringatan 50 Tahun Konperensi Asia Afrika

[No.354]
Judul : Pupur & Gincu buat Bandung - Album Kenangan 3 Jam Peringatan 50 Tahun Konperensi Asia Afrika.
Penulis : Sudarsono Katam
Penerbit : Api Bandung
Cetakan : I, April 2015
Tebal : 152 hlm
ISBN : 978-979-1361-21-7

Buku ini merupakan hasil pengamatan kritis Sudarsono Katam, penulis buku-buku Bandung atas usaha-usaha yang dilakukan pemerintah kota Bandung dalam mempersiapkan peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 2005. Sama seperti sekarang dimana Bandung sedang bersolek untuk menjadi tuan rumah yang baik bagi Peringatan 60 tahun KAA, hal ini juga yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung sepuluh tahun yang lampau dimana ruas-ruas jalan dan gedung yang dilalui para delegasi dan tamu undangan lebih menjadi indah dan bersih dari biasanya

Penulis mengistilahkan apa yang dilakukan Pemkot Bandung saat itu seperti seorang wanita yang berpupur dan gincu (bedak dan lipstik) hanya untuk berpesta atau memikat lawan jenisnya. Begitupun kota Bandung yang saat itu  tampak cantik hanya karena ingin tampil memesona di hadapan tamu-tamu asing dari peserta KAA. Setelah perhelatan selesai pupur dan gincu pun langsung memudar dan Bandung kembali seperti sedia kala tanpa riasan apapun bahkan lupa kembali bagaimana caranya bersolek

Dalam memaparkan bagaimana Bandung pernah bersolek sedemikian rupa dalam perhelatan peringatan KAA seperti sekarang, penulis membagi bukunya ke dalam 5 bagian. Karena buku ini bertitel "Album Kenangan" maka tiap bagiannya berisi ulasan dan puluhan foto-foto yang diambil dari berbagai sumber literatur dan foto2 jepretan Lulus Abadi, fotografer yang pernah menjadi partner penulis di beberapa bukunya.

Bagian pertama buku ini berisi tentang Konferensi Asia Afrika 1955, di bagian ini dipaparkan sejarah terbentuknya gagasan untuk menyelenggarakan KAA hingga terselenggaranya KAA di Bandung pada tanggal 18-24 April 1954 yang dihadiri oleh 29 kepala negara/pemerintahan. Di bagian ini terdapat puluhan foto-foto bersejarah seputar KAA 1955 yaitu foto2 persiapan menjelang KAA, kedatangan delegasi, suasana sidang, antusias masyarakat Bandung, mobil-mobil pinjaman dari masyarakat untuk melayani para tamu konferensi, dll

Bagian kedua berisi tentang Persiapan peringatan 50 tahun KAA 1955 pada tahun 2005 yang lalu. Di bagian ini penulis memaparkan bagaimana Bandung mempersiapkan diri untuk menyelenggarakan ulang tahun emas KAA melalui perbaikan sarana yang akan digunakan selama peringatan, perbaikan jalan-jalan yang akan dilalui peserta, keindahan kota dan sistem keamanan.

Dari sisi keindahan kota  perubahan yang paling menonjol pada saat itu adalah penghijauan melalui penananaman pohon-pohon pelindung dan penataan taman-taman kota. Menjelang hari 'H' di trotoar jalan di depan Gedung Merdeka dihiasi taman bunga yang terbuat dari susunan bunga dalam kantung-kantung plastik dan pot bunga berukuran besar. Suasana ini mendorong banyak masyarakat berfoto diantara bunga-bunga beraneka warna. Karena kepedulian dan semangat Walikota Bandung yang saat itu dijabat oleh Dada Rosada untuk menghijaukan Bandung ia kemudian dijuluki "Wagiman", Walikota Gila Taman.

Selain penataan taman, beberapa gedung  yang terbengkalai seperti bekas gedung Miramar, lahan kosong bekas TB Sumur, dll ditutup dengan lembaran seng yang diberi lukisan bunga-bungaan dan baliho. Sedangkan bekas Hotel Swarha yang tadinya kumuh kembali bersinar karena dicat ulang. Yang fenomenal tapi lucu adalah kerangka bangunan bertingkat yang tidak selesai dibangun di jalan Lembong dibalut kain warna-warni sehingga mirip lontong raksaksa.

Dalam hal infrastruktur perubahan yang paling mendasar antara lain selesainya jalan tol Purwakarta-Padalarang sehingga para delegasi yang menggunakan jalan darat dari Jakarta bisa menggunakan ruas jalan tol ini dalam waktu tempuh hanya 2 jam. Sayangnya jalan layang Pasupati yang saat itu sedang dibangun belum selesai sehingga tidak dapat dipertontonkan pada para delegasi, padahal jembatan layang Pasupati merupakan jembatan layangpertama di Indonesia yang menggunakan alat peredam gempa di tiap tiang penyangganya dan dari segi arsitektur merupakan jembatan layang yang indah dengan kombinasi jembatan tiang beton dengan jembatan kabel. Di bidang transportasi jika dulu panitia meminjam mobil-mobil mewah dari masyarakat maka saat itu panitia meminjamnya dari Group Indomobil Internasional.

Selain itu bandara Husein Sastranegara - Bandung ditingkatkan kinerjanya dengan memperpanjang landas pacu agar pesawat jenis boeing besar yang membawa para kepala pemerintahan bisa mendarat dengan mulus. Dari seluruh persiapan tersebut penulis mengungkapkan bahwa Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) KAA 2005 telah menelan biaya puluhan milyar rupiah.

Di bagian ketiga, buku ini berisi ulasan dan foto-foto saat Perayaan 50 tahun KAA. Di sini kita akan melihat adanya demonstrasi damai dari para mahasiswa dan LSM Bandung yang menyatakan bahwa KTT AA 205 telah menyimpang dari spirit Dasasila Bandung karena lebih mementingkan aspek dan kerjasama ekonomi tanpa menonjolkan hak kemerdekaan bangsa-bangsa negara Asia Afrika. Lalu terungkap pula bagaimana setelah Historical Walk yang dilakukan peserta delegasi selesai maka masyarakat Bandung pun tumpah ruah melakukan historical walk sendiri seperti ldengan semangat dan kebanggaan layaknya para anggota delegasi KAA.

Di bagian ke empat dibahas mengenai kondisi Bandung paska perayaan 50 tahun KAA 1955.

"Banyak anggota masyarakat meramalkan bahwa keindahan Kota Bandung semasa tiga jam peringatan 50 Tahun Konperensi Asia Aftika tidak bertahan lama karena sama sekali tidak tercermin komitmen Pemerintah Kota Bandung untuk tetap menjaga dan mempertahankan keindahan kota pasca Peringatan 50 Tahun Konperensi Asia-Afrika. Ramalan tersebut menjadi kenyataan, setelah 10 hari pasca peringatan, keindahan kota Bandung mulai kembali pada kondisi sebelum peringatan." 
(hlm.129)

Apa yang dipaparkan oleh penulis di atas dibuktikan dengan foto-foto bagaimana semua keindahan itu memudar, fasilitas yang dibangun banyak yang rusak bahkan hilang karena kurangnya kesadaran masyarakat dan  pemerintah kota dalam merawat semua keindahan dan fasilitas yang telah susah payah dibangun dengan biaya puluhan milyar rupiah itu

Sebagai sebuah buku yang mendokumentasikan KAA 1955 dan peringatan 50 tahun KAA 1955 secara narasi buku ini berhasil merekamnya dengan baik sayangnya secara visual buku ini gagal menghadirkan foto-foto yang bisa dinikmati oleh pembacanya karena kualitas cetak foto-foto dalam buku ini bisa dikatakan buruk. Untungnya narasi atau ulasan dari penulis yang padat namun berisi ini begitu kuat sehingga pesan yang hendak disampaikan penulis melalui buku ini tetap dapat sampai ke para pembacanya.


Selain itu ada kejanggalan dalam penulisan kata konferensi. Sub judul dan seluruh isi buku ini  mengunakan kata 'konperensi' bukannya 'konferensi', yang mana yang betul? Penulisan yang baku dan umum di media-media cetak selama ini adalah menggunakan 'f'. Sedangkan jika merujuk pada KBBI maka yang tertera adalah 'konferensi'.

 konferensi/kon·fe·ren·si/ /konferénsi/ n rapat atau pertemuan untuk berunding atau bertukar pendapat mengenai suatu masalah yg dihadapi bersama; permusyawaratan; muktamar: 
(Sumber : KBBI-online)


Terlepas dari kualitas foto yang kurang memadai dan pilihan penggunaan kata konperensi, sebagai sebuah buku album kenangan, melalui buku ini kita bisa belajar dari peristiwa 10 tahun yang lampau dimana Bandung hanya berpupur dan gincu pada saat ada perhelatan besar saja karena ketika perhelatan  itu telah selesai Bandung kembali pada keadaannya yang semula karena kurangnya kesadaran pemerintah kota dan warga Bandung untuk mempertahankan kemolekannya. Buku ini menjadi pengingat sekaligus membangun kesadaran kita agar kita tidak mengalami kesalahan yang sama setelah perayaan akbar 60 Tahun Konferensi Asia Afika ini berakhir.

"Puluhan milyar hanya untuk tiga jam perayaan, bukanlah uang yang sedikit bila dilihat manfaatnya bagi kesejahteraan warga Bandung yang tidak mampu. Apakah "pupur dan gincu" tersebut akan dapat langsung menjadi bagian dari keindahan kota Bandung atau hanya sekedar kemubaziran demi gengsi kota dan pemerintah kota Bandung, hanya waktu yang akan membuktikan" 

(Sudarsono Katam, Pupur dan Gincu buat Bandung, hlm 61) 


@htanzil