Thursday, January 26, 2006

Dyah Pitaloka - Senja di Langit Majapahit


Judul : Dyah Pitaloka - Senja di Langit Majapahit
Penulis : Hermawan Aksan
Penerbit : C-Publishing
Cetakan : I, Des 2005
Tebal : 326 hal ; 17.5 cm

Dyah Pitaloka, putri Prabu Linggabuana, raja negeri Sunda kerap diganggu mimpi buruk dalam tidurnya. Dalam mimpinya ia melihat matahari yang menggantung di atas cakrawala pelan-pelan terbelah menjadi dua dan mencebur bersama-sama ke dalam laut yang mendadak berwarna merah darah. Mimpi buruk itu terus mengganggunya semenjak utusan dari Majapahit datang ke Negeri Sunda.

Dimasa itu Majapahit dibawah pimpinan Raja Hayam Wuruk, telah menjadi kerajaan yang besar dan disegani diseluruh Nusantara. Peran Patih Gajah Mada dengan sumpah Palapa-nya yang terkenal membuat hampir seluruh Nusantara takluk dibawah kekuasaan Majapahit. Hanya ada satu negeri yang hingga saat itu masih merdeka dari pengaruh Majapahit, padahal negeri itu hanya dibatasi oleh sebatang aliran sungai Cipamali. Negeri Sunda! Negeri Sunda inilah yang membuat sumpah Palapa Gajah Mada belum juga tergenapi. Tak terhitung sudah berapa kali Gajah Mada berniat untuk menyerang negeri Sunda dengan pasukannya, namun selalu urung karena ia merasa ada semacam wibawa tak kasat mata yang membuatnya segan terhadap Negeri Sunda yang jika ditilik dari sejarah memang telah ada terlebih dahulu dibanding Majapahit, bahkan pendiri Majapahit sendiri memiliki darah sunda dari ayahnya. Sayangnya Gajah Mada tak mempercayai adanya hubngan darah ini sehingga ambisinya untuk menaklukkan negeri Sunda tak pernah padam.

Raja Hayam Wuruk yang saat itu hendak mencari seorang istri mengutus para juru lukisnya ke segenap penjuru nusantara untuk melukis putri-putri dari berbagai kerajaan yang kelak akan dipilihnya untuk menjadi permaisuri. Kecantikan Dyah Pitaloka di Negeri Sunda tak luput dari incaran juru lukis Majapahit. Diantara ratusan lukisan dari berbagai penjuru Nusantara, Hayam Wuruk terpikat oleh lukisan Dyah Pitaloka dan memilihnya untuk dijadikan permaisurinya. Hayam Wuruk segera mengirim utusannya untuk menyatakan niatnya. Mulanya Dyah Pitaloka tak berkenan dengan cara yang dilakukan oleh Hayam Wuruk untuk mencari permaisuri, harga dirinya sebagai seorang putri negeri Sunda terasa terlecehkan, namun ia tak kuasa melawan kehendak ayahnya, Prabu Linggabuana yang menyetujui lamaran Hayam Wuruk. Untuk itu Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka diundang untuk segera berangkat menuju Majapahit guna melaksanakan pesta pernikahan.

Jika Prabu Hayam Wuruk hanya berniat mencari seorang permaisuri, lain halnya dengan Gajah Mada. Bagi dirinya pernikahan Dyah Pitaloka dengan Hayam Wuruk dilihatnya sebagai kesempatan untuk menggenapan Sumpah Palapa-nya. Dengan cerdiknya Gajah Mada mempengaruhi Hayam Wuruk agar memandang pernikahannya dengan Dyah Pitaloka sebagai suatu pengakuan kedaulatan negeri Sunda terhadap Majapahit. Dengan demikian Dyah Pitaloka dianggap sebagai "upeti" dari Negeri Sunda.

Prabu Hayam Wuruk yang rencanya akan menjemput Dyah Pitaloka dan rombongannya di Tegal Bubat akhirnya gagal. Gajah Mada merubah rencana yang telah terususun rapih. Rombongan Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka yang telah tiba di Tegal Bubat heran karena Prabu Hayam Wuruk dan rombongan yang akan menjemputnya tak kunjung tiba. Dua ksatria dari Negeri Sunda diutus untuk memasuki Majapahit, mereka bertemu dengan Gajah Mada yang memerintahkan agar dan Prabu Linggabuana dan rombogannya datang sendiri ke istana Majapahit untuk menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai "upeti" dari Negeri Sunda. Hal ini membuat Prabu Linggabuana dan seluruh rombongannya tersinggung. Harga diri dan kebesaran Negeri Sunda terasa tercabik-cabik, Prabu Linggabuna menolak perintah Gajah Mada. Perang tak terhindarkan! Pertarungan yang tak seimbang antara harga diri Prabu Linggabuna dan ambisi Gajah Mada berkembang menjadi perang yang dashyat dan melagenda, dua kekuatan tak mau menyerah begitu saja. Dyah Pitaloka yang masih menggunakan pakaian pengantinnya ikut bertarung mempertahankan negeri dan harga dirinya sebagai seorang putri Sunda. Sejarah mencatar Perang ini sebagai Perang Bubat (1357).

Sejarah adalah merupakan satu fakta, atau sesuatu yang dapat dibuktikan dengan fakta. Sejarawan ma tidak mau terikat pada fakta-fakta yang pernah terjadi: dia tidak bebas dalam penggarapan bahan-bahan sejarah itu. Akan tetapi, seorang penulis novel sejarah dapat lebih bebas menciptakan ceritanya sendiri. Hermawan Aksan dalam novel perdananya ini mencoba mengangkat fakta sejarah Perang Bubat kedalam novel ini. Tokoh-tokoh sejarah seperti Dyah Pitaloka, Gajah Mada, Hayam Wuruk, Linggabuana dan lain-lain dideskripsikan menurut versi penulisnya. Dyah Pitaloka dalam novel ini dideskripsikan sebagai seorang putri yang cantik yang haus akan ilmu dan gemar membaca kitab-kitab sastra dan mempelajari ilmu kanarugan. Dyah juga sangat peduli tentang nasib kaum perempuan di negeri Sunda dan memiliki pandangan yang jauh kedepan mengenai peran seorang putri yang dibesarkan dalam lingkungan kerajaan. Karena berada dalam area fiksi deskripsi ini mungkin sah-sah saja, namun mungkin akan menimbulkan tanda tanya bagi pembacanya, apakah mungkin seorang putri yang hidup di abad 13 telah memiliki pandangan yang jauh kedepan terutama dalam hal-hal emansipasi?

Karakter Gajah Mada yang selama ini dikenal sebagai tokoh pemersatu Nusantara dalam novel ini digambarkan sebagai seorang patih ambisius yang rela memanfaatkan cinta rajanya (Hayam Wuruk) untuk memenuhi ambisinya mepersatukan Nusantara hingga harus mati-matian memerangi Prabu Lianggabuana dalam tragedi berdarah di Tegal Bubat. Sedangkan Hayam Wuruk sendiri digambarkan sebagai raja boneka yang mudah dipengaruhi oleh Gajah Mada.

Dari segi plot cerita, novel ini disajikan dengan sangat menarik. Nampaknya Novel ini dikerjakan dengan riset yang cukup mendalam, hal ini terbukti dengan gambaran Perang Bubat yang menjadi klimaks cerita yang disajikan dengan seru dan memikat. Deskripsi kota Trowulan – Majapahit disajikan dengan cukup detail seakan mengajak pembacanya berpetualang ke ibukota Majapahit. Novel ini juga memberi pemahaman pada pembacanya terhadap tokoh Dyah Pitaloka dan kaitannya dengan Perang Bubat yang merupakan awal dari redupnya kebesaran Gajah Mada setelah kejadian ini.

Sebagai Novel Sejarah sebenarnya novel ini sangat berpotensi untuk lebih mengangkat lagi budaya Sunda dan Jawa / Majapahit, sayangnya hal ini tidak tereksplorasi dengan baik. Kurangnya sketsa kehidupan sosial masyarakat Sunda dan Majapahit membuat novel ini lebih bernuansa istana-sentris karena hanya mengungkap kejaidan seputar istana Sunda dan Majapahit. Jika saja unsur-unsur sosial dan budaya masyarakat Sunda dan Majapahit terungkap dengan baik novel ini akan menjadi novel sejarah yang gemuk yang akan mengenayngkan pembacanya.

Namun terlepas hal-hal diatas novel perdana Hermawan Aksan ini patut dihargai setinggi-setingginya karena bagaimanapun novel ini mengungkap sepenggal peristiwa sejarah yang mungkin sudah terlupakan dan hanya ditemui dalam buku-buku teks sejarah kedalam sebuah novel yang memikat dan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi.

@h_tanzil

42 comments:

Anonymous said...

asal jangan jiplak Novel Gajah Mada I-II karya langit Kresna Hariyadi...aja dalam pengambaran Situs Trowulan Dan Istana Majapahit lengkap dengan Lanskapenya...but 1 kata buat Majapahit & Gajahmada...The Brave's...Semua negara Asean sampai Champa (Vietnam) bertekuk lutut dibawah Panji Bendera Gula Kelapa (Merah Putih)...sementara Pasundan-Pajajaran (Galuh Pakuan) lambang doang Maung /Macan...sisanya cumen jago Kandang doang hahahahhahah

Florentina said...

Wow.. trims ya infonya. Jadi keinget ma Dyah Pitaloka. Dulu pernah denger pas masih sd. Tapi.. yah.. kurikulum kita gak ngajarin soal watak perilaku tokoh dan analisis trik-trik politik yang diambil orang-orang Indonesia jaman dulu. Sayang sekali. Padahal pelajaran yang bisa diambil banyak banget dan masih relevan buat diterapkan di jaman sekarang. Kalo buat anak SD terlalu berat, masih bisa kan guru ngajak anak SMP atau SMA diskusi soal sejarah. Sejarah memberitahu kita banyak hal. Bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik?

Anonymous said...

yah... makin kenceng kebencian gw atas kebodohan dan kesombongan gajah mada, yang mengakibatkan gw tidak bisa bersatu dg cowo gw, just becuz dia org sunda dan gw berdarah jawa!!!! makasih ya, maaaassss.....

Anonymous said...

halah ini ada komen yang aneh, apa juga hubungannya gak bisa bersatu gara2 cowonya sunda dan cewenya jawa? ada ada aja... bukan hubungan sebab akibat ah. mau sunda kek, jawa kek, bule kek, klo mau kimpoi ya kimpoi aja. hihihihi...

Anonymous said...

tuh ude terbit novel gajahmada ke III karya LKH dengan judul Hamukti Palapa..ntar Lagi jilid IV Perang Bubat muncul sono beli...yg mau kawin jawa vs sunda nggak usah liat Pakem Sumpah para Prajurit Linggabuana di Perang Bubat (suatu lapangan di daerah lamongan) tahun 1357 M,tetangga gw laki Jawa istri Sunda juga rukun2 aja,ataou laki Sunda istri Jawa,cumen masalahnya para orang2 tua kita dulu tahunya pakem sumpah itu belum tercabut...nggak percaya??? Liat tuh Bandung satu2nya kota di Indonesia yg anti pake nama jalan Gajahmada..nggak percaya check aja dewe,kalo ude ada nama gajah mada di Bhumi Bandung mungkin pakem orang2 tua dulu sirna heheheh

wetoonedee said...

Sunda, Jawa, Madura, Batak dll ... dst, itu mah sebutan untuk suku2 di Indonesia (d/h Nusantara). Secara geografis suku sunda dan suku jawa ada di P. Jawa, jadi jelas kan! Gitu ajaaaaaa ... kok ... reeeeeeppppoooot

Anonymous said...

Aku membaca buku ini karena jiwa narsisku untuk mencintai namaku (kebetulan pacarku tahu jadi dia beli tuh buku buat gw)(tapi aku bukan dyah tapi dian)

Nama pitaloka membawa makna yang besar karena harga dirinya yang tinggi..aku jadi bangga dengan nama pemberian si mbah..meski aku bukan orang Sunda tapi nama hinduku terlalu kental..

Namadalah bagian dari doa, asal aku nggak mati di perang promodial macam gitu... tapi intinya sam mati sendiri karena apa yang diyakini..

Dyah Pitaloka mengagumkan..mungkin kalo kenal Kartini jadi lebih kuat

Anonymous said...

yth sdr LKH
bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari sejarahnya. kita harus akui bahwa kita diwarisi sifat saling merebut kekuasaan dengan berdarah2. tapi, penulisan fiksi berbasis sejarah adalah media yang bagus utk belajar tanpa membosankan. Tentunya, subyektifitas penulis akan sangat besar untuk itu. seperti juga mengenai PERANG BUBAT.
saya sudah membaca GAJAH MADA: PERANG BUBAT. saya setuju sepahit apapun sejarah, kita harus realistis bahwa kita hidup di era yang berbeda. kita harus fair menempatkan gajahmada dengan keperkasaannya dan menghargai strateginya termasuk mengenai PERANG BUBAT.

saya bisa menerima kalo strategi menumpas ROMBONGAN TEMANTEN SUNDA hanyalah kebablasan penerjemahan perintah gajahmada oleh anak buahnya, sekaligus sebagai usaha sdr LKH, orang JAWA, untuk tetap membela gajahmada. Tapi, adalah subyektifitas yang SANGAT NISTA, sdr LKH menempatkan PRABU PUTRI sebagai WANITA SUNDA yang meminta KEHORMATANNYA untuk DINODAI (bahkan HARUS diulang dalam dua paragraf), meskipun dengan tokoh fiktif. saya minta sdr LKH harus bisa menjelaskan hasil risetnya yang mendukung dasar penulisan tersebut. sdr LKH tidak boleh merusak KEPERKASAAN dan HARGA DIRI dari PRABU PUTRI dan rombongannya dengan kenistaan seperti itu. siapapun WANITA SUNDA pasti merasa TERLECEHKAN. adat sunda (dulu) selalu menerapkan anak wanita dalam pingitan yang harus dijaga. memang mungkin juga PRABU PUTRI sudah punya kekasih, tapi dengan logika yang paling sederhana sekalipun sangat tidak mungkin menginginkan kehormatannya dinodai, apalagi dalam plot sdr LKH, SEKAR KEDATON sudah diangkat sebagai PRABU PUTRI. saya dengan sangat pendapat sdr AVID, http://yulian.firdaus.or.id/2006/12/23/gajahmada-4/#comment-84685 dan menganggap komentar sdr LKH http://yulian.firdaus.or.id/2006/12/23/gajahmada-4/#comment-85351 tidak cukup menjelaskan subyektifitasnya.

atas "ketidaknyamanan" membaca novel tersebut, saya menginginkan sdr LKH memberi alamat yang jelas untuk saya bisa kembalikan novel yang terlanjut saya beli. kalo konsumen (pembaca) sebagai raja, maka sebagai raja saya menitah sdr LKH untuk merevisi novel tersebut, terutama pada bagian meminta KEHORMATAN untuk DINODAI tersebut

saya tunggu,

SAPITRI WULANDARI SUNARMA

bayu said...

wihh peristiwanya sih udah ratusan taon lalu ya...tapi pengaruhnya masi sampe sekarang...

itu masa lalu, kita jadikan pelajaran sambil menatap masa depan.

Pengagum GM said...

Inilah kalau 2 wawasan jauh banget berbeda : majapahit sudah sampai pada Go Internasional (Epoleksosbudhankam), kepahlawanan dan nasionalisme... lha sunda masih sekedar masalah cinta...Sebagai orang yang Visioner jelas GM harus ambisius, bukan berjiwa lemah dan mudah patah....apalagi hanya karena cinta dendamnya sampai sekarang....kapan majunya??????

axunx said...

pengagum GM wrote
"Sebagai orang yang Visioner jelas GM harus ambisius, bukan berjiwa lemah dan mudah patah"

tapi apa sampe harus arogan seperti itu, sampai melangkahi rajanya sendiri? rombongan raja sunda dateng baik2 diberi imbalan seperti itu?

buat gw gajah mada itu cuma seorang arogan dan egois yang kebetulan punya kekuasaan.
ga beda sama sekali ama hitler ato bush junior.

bayangin, kalo jaman itu informasi udah seperti sekarang, pasti gajah mada dan majapahit dicaci maki oleh dunia

btw, gw orang jawa, sekarang domisili di tanah sunda. tapi sakit ati liat tingkah gajah mada. ga suka banget gw

Kaliya said...

Gw pikir Gajah Mada itu pribadi yang sangat kuat,, namun sekuat-kuatnya sebuah pribadi, tetap saja ia hanyalah seorang makhluk jadi memang sudah sewajarnya dan seharusnya tidak sempurna. Ketidaksempurnaan Gajah Mada ditunjukkan oleh sifatnya yang angkuh dan sombong, gw pikir dengan memiliki sifat ini justru menunjukkan bahwa Gajah Mada adalah manusia biasa, bukan dewa.

Toh ada sifat Gajah Mada yang patut kita contoh seperti rasa cintanya terhadap negerinya,, sifat yang sekrang ini gw yakin amat sangat jarang ditemui sama generasi bangsa ini,,

pejhonkdrj said...

Banyak dari komentar-komentar yg sdh saya baca adalah suka dan tidak suka terhadap tokoh ataupun aktor/tris sejarah yg sudah terjadi.dan terkadang juga menjurus kearah ras. baik yg diposting ini ataupun yg lainnya.

Seandainya itu bukanlah sejarah tentunya semua ingin melihatnya sayang tidak ada bukti siapa sebenarnya yg salah dalam hal sejarah ini.

saya sendiri ingin sekali melihat kecantikan pitaloka pasti sangat cantik kenapa tidak ada fotonya yah? jangan dikomentari semua sdh tahu. trims.
Dan GM adalah Patih yg Perkasa gak mungkin dari prajurit hingga jadi patih tgak perkasa
Saya begitu sedih knp Bubat harus terjadi. hingga dampaknya msh ada skrg ini.

pejhonkdrj said...
This comment has been removed by a blog administrator.
pejhonkdrj said...
This comment has been removed by a blog administrator.
pejhonkdrj said...
This comment has been removed by a blog administrator.
pejhonkdrj said...

Banyak dari komentar-komentar yg sdh saya baca adalah suka dan tidak suka terhadap tokoh ataupun aktor/tris sejarah yg sudah terjadi.dan terkadang juga menjurus kearah ras. baik yg diposting ini ataupun yg lainnya.

Seandainya itu bukanlah sejarah tentunya semua ingin melihatnya sayang tidak ada bukti siapa sebenarnya yg salah dalam hal sejarah ini.

saya sendiri ingin sekali melihat kecantikan pitaloka pasti sangat cantik kenapa tidak ada fotonya yah? jangan dikomentari semua sdh tahu. trims.
Dan GM adalah Patih yg Perkasa gak mungkin dari prajurit hingga jadi patih tgak perkasa
Saya begitu sedih knp Bubat harus terjadi. hingga dampaknya msh ada skrg ini.

pejhonkdrj said...

Sori, saya pikir kompku hang ternyata jadi berulang-ulang kirimnya,
MENGOMENTARI Sapitri wulandari
Sebelumnya saya minta maaf, jangan terlalu terbawa emosi dulu.sampai sedemikian bencinya terhadap GM ataupun orang jawa, keluar dari konteks sunda ataupun jawa (SUKU), kadang ada sepasang kekasih yang saking cintanya lupa daratan (anggap seperti itu) tapi kali ini seorang perempuan Dyah pitaloka yang notabene manusia juga mempunyai ego dan emosi, karena cintanya dilarang orangtua mungkin dia mencari jalan supaya bisa menikah dengan kekasihnya (orang biasa)mungkin dengan jalan itu dia bisa menikah. karena kayaknya gak mungkin rakyat jelata berani ngomong langsung sama tuan putrinya kalau bukan dari tuan putrinya sendiri yg bilang.Lagian itu juga cerita yg bisa dibagusin bahasanya, disinetron atu fakta skrg mungkin juga ada dari keturunan mana aja gitu lho.
Itu Bu/Mba Sapitri Asumsi saya

jony said...

gajah mada pake rok aja........rombongan penganten di bantai juga......!!!!

Anonymous said...

Efek dari perang Bubat kerasa sampai sekarang,.
saya merasakan itu..,.
apaka kesalhan masalalu harus di tanggung oleh generasi yang akan datang,.????
maka dari itu sebelum bertindak sesuatu apalagi menyangkut orang banyak kita harus hati2 dan berpikir kedepan,.
jangan sampai menjadi suatu permasalahan yang tak unjung padam

--- awar_cobain-----------

Anonymous said...

Gajah Mada tetaplah akan dikenang sebagai pahlawan dalam mempersatukan Nusantara di bawah panji2 Majapahit. Meskipun ada yang berpandangan negatif soal Gajah Mada dalam peristiwa bubat, tapi itu tidaklah menghapus kebesaran n jasanya. Kalo dilihat lebih lanjut, Majapahit tidaklah akan sebesar itu kalo tidak mempunyai Gajah Mada dan raja Hayam Wuruk, demikian juga sebaliknya. Gajah Mada dan Hayam Wuruk saling melengkapi meskipun ada yang bilang Hayam Wuruk adalah boneka.

Secara visi n misi, Gajah Mada lebih punya visi n misi untuk membesarkan kekuasaan Majapahit. Jadi tidak ada salahnya kalo sesorang seperti Gajah Mada mempunyai ambisi untuk mempersatukan Nusantara.

Masalah perang bubat, kalo Dyah Pitaloka nikah dengan Hayam Wuruk sesuai skenario Hayam Wuruk, maka Hayam Wuruk tentunya akan berada di bawah Linggabuana, karena status Linggabuana sebagai mertuanya, tapi kalo Dyah Pitaloka diserahkan sebagai upeti, dan Dyah Pitaloka tetap nikah dengan Hayam Wuruk, maka status Hayam Wuruk tetap berada di atas Linggabuana meskipun dia adalah mertua Hayam Wuruk. Kalo seandainya strategi Gajah Mada dipake, tentunya ga ada masalah n semua akan tetap berdampingan dengan baik, tapi karena Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan para prajuritnya tersinggung, apa boleh buat, untuk menggenapi Nusantara yang tinggal satu, maka peranglah yang harus ditempuh. Daripada memperturutkan cinta rajanya, maka akan lebih besar sejarahnya kalo Nusantara akhirnya tetap terwujud.

Kalau dilihat dari siapa yang punya nama besar sekarang ini, rasanya masih Gajah Mada, dibandingkan dengan Linggabuana ataupun Dyah Pitaloka. Gajah Mada cenderung dengan jasa2nya, sedangkan Linggabuana dan Dyah Pitaloka hanya mengungkit n menjelekkan Gajah Mada karena dendam ( maaf sebelumnya ), dilihat dari penggunaan nama Gajah Mada, banyak jalan2 yang make nama Gajah Mada, Universitas Gajah Mada, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Majapahit dsb.

Tapi terlepas dari itu semua, marilah kita secara obyektif mengesampingkan dendam lama yang toh sekarang ini tidak ada gunanya. Sejarah jadikanlah sebagai kaca benggala untuk menjadi lebih baik.

Mengenai kalo seandaianya gajah mada hidup pada jaman sekarang, yang tak ubahnya seperti Bush Junior atau Hitler, rasanya ga bisa disamakan dengan itu semua. tatanan masyarakatnya udah beda, lagian dulu kan ga ada PBB. masih ada hak tiap2 kerajaan untuk mengembangkan kekuasaannya. sekarang aja Israel yang menjajah n merampas Palestina aja dibiarin aja ama PBB, cuma dikecam, apa itu ga lebih sadis dari jaman kerajaan dulu.

Marilah belajar dari sejarah.

Anonymous said...

jadi semakin mengobati rasa penasaran saya terhadap pandangan bahwa orang sunda sulit menjalin hubungan (cinta) dengan orang jawa.

SURYA SUNDA said...

yth anonymous, anda tidak meraskan bagaimana sakit hatinya orang sunda, dan sampai sekarang pun saya masih merasakan sakit hati dikarena ulah licik gajah mada yg gagah dan pemberani itu padahal seorang pengecut dan bernyali tikus itu. coba sesekali anda berhadapan denganorang sunda. orang sunda memang lemah lembut dan terkenal ramah tp jangan coba-coba mengganggunya. orang sunda meskipun sudah berada didepan mulut buaya dia tdak akan mundur selangkahpun demi membela harga diri dan kehormatannya.

SURYA SUNDA said...

yth anonymous, anda tidak meraskan bagaimana sakit hatinya orang sunda, dan sampai sekarang pun saya masih merasakan sakit hati dikarena ulah licik gajah mada yg gagah dan pemberani itu padahal seorang pengecut dan bernyali tikus itu. coba sesekali anda berhadapan denganorang sunda. orang sunda memang lemah lembut dan terkenal ramah tp jangan coba-coba mengganggunya. orang sunda meskipun sudah berada didepan mulut buaya dia tdak akan mundur selangkahpun demi membela harga diri dan kehormatannya.

andhika said...

Interupsi sebentar.
Saya lagi proses pembuatan game tentang perang bubat. Saya perlu masukan tentang cerita peristiwa tersebut.
-Apa betul peta kekuatan 2000 tentara Majapahit melawan 200 tentara Pasundan?
-Baginda Linggabuana yang perkasa akhirnya gugur setelah melawan 200 pasukan Majapahit, kok bisa kuat ya? Ada yang bilang beliau memiliki armor pemberian bangsa Portugis.
-Apa betul setelah Putri Dyah Pitaloka lari ke hutan dan terjun ke Laut Selatan beliau menjadi penguasa kerajaan Laut Selatan bergelar Ratu Kidul atau Ratu Pantai Selatan (bukan Nyi Roro Kidul)
Mohon pencerahan dengan segenap kerendahan hati.
Saya orang Jawa Timur yang mungkin masih keturunan Majapahit tapi kagum dengan keperkasaan Raja Pasundan.
Mohon maaf bila ada kata yang salah.

Anonymous said...

siapa pahlawan siapa penjahat hanya masalah sudut pandang. bahkan, bagi para kaum kafir quraisy, tentara mereka adalah pahlawan, sedangkan tentara kaum muslimin adalah pemberontak. sejarah adalah hari kemarin, yang telah berakhir saat pagi hari ini ufuk memerah. ia hanya pedoman langkah kita esok hari. tak ada gadjah mada lagi di nusantara ini. tak ada linggabuana lagi di bumi ini. semua sama, umat manusia. tak ada yang hebat dengan gadjah mada, kecuali anak buah yang setia padanya. tak ada yang menunjukkan kelemahan pasundan, kecuali keengganan melangkahkan kaki. bacalah sejarah secara utuh. jangan sepotong-sepotong. siapa majapahit? siapa pajajaran? siapa sriwijaya? siapa negara-negara di nusantara ini yang paling perkasa? tak ada. semua satu barisan.

Anonymous said...

Gw pamanah rasa yg msh keturunan kerajaan sunda pajajaran merasa tersinggung dngn komentar paling atas bagian prtama yg menyebutkan gjh mada dan majapahit brave,s sedang kan sunda galuh jago kandang,..bkanny sebalikny mas majapahit dan gajah madut yg pengecut perek jawa masa gara2 ga bsa naklukin kerajaan sunda aj smpe2 hrs menjebak segala hahaha kasian bngt anda yg bngga trhdp gajah mada dan majapahit trnyata pahlawan anda tak ubahny sprti sebuah kumpulan negara yg d dalamny berisi orng2 bodoh tak berpendidikan,..sunda tdk akn pernah d taklukan smpe kapan pun,sejarah mencatat itu..mau tdk mau walaupun kta skrng hdp d jaman modern tetap tradisi ak kuat mengikuti,jngn menganggap kolot atas pmkirn d atas..

Anonymous said...

Gw pamanah rasa yg msh keturunan kerajaan sunda pajajaran merasa tersinggung dngn komentar paling atas bagian prtama yg menyebutkan gjh mada dan majapahit brave,s sedang kan sunda galuh jago kandang,..bkanny sebalikny mas majapahit dan gajah madut yg pengecut perek jawa masa gara2 ga bsa naklukin kerajaan sunda aj smpe2 hrs menjebak segala hahaha kasian bngt anda yg bngga trhdp gajah mada dan majapahit trnyata pahlawan anda tak ubahny sprti sebuah kumpulan negara yg d dalamny berisi orng2 bodoh tak berpendidikan,..sunda tdk akn pernah d taklukan smpe kapan pun,sejarah mencatat itu..mau tdk mau walaupun kta skrng hdp d jaman modern tetap tradisi ak kuat mengikuti,jngn menganggap kolot atas pmkirn d atas..

Anonymous said...

"pamanah rasa” sunda tidak akan pernah dpt di taklukan oleh jawa...kerajaan sunda satu2ny kerjaan yg di takuti majapahit akui saja itu mas..

radjaoella said...

ada versi lain buku yang menceritakan perang bubat,yang mungkin akan menghilangkan rasa benci kepada gajah mada,silahkan baca karya AAN MERDEKA PERMANA dalam PERANG BUBAT TRAGEDI DI BSLIK KISAH CINTA GAJAHMADA DAN DYAH PITALOKA

Anonymous said...

hahaha itu masa lalu yang jelas sekarang indonesia keok
tapi sebenarnya kalau dilihat sejarah majapahit tidak menaklukan seluruh nusantara, buktinya pada penyerbuan ke pagaruyung tak berhasil, penyerbuan ke aceh juga tak berhasil, karena disana telah berdiri kerajaan islam yang notabene bagian dari kerajaan turki ustmani

sekarang kita lihat pengaruh jawa disumatra hanyalah sampai sumatra selatan

Anonymous said...

Saya udah cari2 ni buku kmana2 tapi udah ga ada lagi... buat yang punya buku "Dyah Pitaloka - Senja di Langit Majapahit" dan "niskala: gajah mada musuhku", saya beli ya...
pliss...
hub. Lutfi: 085722633181

Anonymous said...

mengenang sejarah bubat,,memang sangat mengiris hati.apalagi kita yang masih ada trah dari kedua belah pihak.dyah pitaloka,,seorang putri galuh pakuan,,seorang yang lembut,cerdas,dan sedikit nakal..memang,,tapi yang jelas dia tidak mati bunuh diri seperti diberitakan dongeng,,dan gajah mada,,sebetulnya hanyalah korban dari intrik di dalam kerajaan majapahit,,dimana ibu suri,,tanpa sepengetahuan hayam wuruk menjodohkan dg sepupunya...sejarah memang pahit,,tapi juga sangat manis..di samping intrik kekuasaan antara gajahmada dan salah satu menteri..di satu sisi lagi,,sebenarnya gajahmada dan dyah oitaloka sudah saling mengenal,,sebelum gajahmada menjadi mahapatih majapahit...so,,,lupakanlah perbedaan..kita harus menatap ke depan.

Anonymous said...

sesekali,,tengoklah surga,,,disana akan kau temui jawabnya...dalam gilir gumantinya waktu,,didalam rotasi kehidupan,,kisah pitaloka,,gajahmada,,hayamwuruk,,prabangkara,,terbingkai indah,,dalam alunan seruling bambu kawali,,menelusup hingga tanah tarik,,,menepis semua awan kelam,,karena sejatinya,,semua yang terjadi atas nama cinta,,bakti pada orang tua,,dan menjunjung tanah air,,

Anonymous said...

nggak sengaja lewat :) baca tulisannya sih oke, eh, pas baca komen-komennya banyak yang kampungan ya? Udah gitu anonymous :D keliatan emang asal bunyi doang. Bisa nggak sih didelete sama yg punya blog? :P Sayang, udah nulis susah2, yg komen banyak yg ngaco, nggak apal sejarah juga, masa' nggak tau kalo kerajaan Sunda lebih tua daripada Majapahit. Sering bolos ya waktu sekolah? :P

Anonymous said...

tadinya lewat doang, tapi liat yg komen terkahir jadi gatel juga. yang comment terakhir yang so rajin sekolah padahal ngasih comment salah juga, check lagi Majapahit th berapa mulai berdiri dan siapa pendirinya and keturunan siapa/dari mana?, check juga Sunda, karena Sunda itu penerus kerajaan Tarumanagara yg sudah ada sejak abad 5M..!
jangan asal nyeplos...

ficky ziaul said...

gimana sih ? sejarah tuh buat pelajaran, ambil makna dari suatu peristiwa bukan jadi ajang permusuhan,, Paraaaaaah, benci ini benci itu sunda pengecut jawa biadab apa gunanya buat loe ? malah memperkeruh suasana saja,, kenapa loe gak lebih marah sama penjaja ajah yang udah ngejajah kita ? terus gunannya kita marah sama mereka apa ? bakal jadi duit ? jadi emas ? jadi berlian ? apa ngebuat hidup anda senang ? Pikirkan

pomboyt wan said...

Majapahit tak ada bedanya dengan para penjajah kolonial yang haus kekuasaan dan menginvansi wilayah orang lain. Tak heran negeri ini hingga sekarang carut marut oleh ambisi kekuasaan dan korupsi.

pomboyt wan said...

Namanya juga fans berat gm

pomboyt wan said...

Dari komentar anda jelas sekali kalau anda orang j***. Di satu sisi komentar anda bijak sekali dengan mengajak untuk belajar dari sejarah, tidak dendam, dan berfikir OBJEKTIF, tapi kok di bagian awalnya anda begitu mengkultuskan seorang gajah dan merendahkan prabu dan putri dyah pitaloka, tidakkah itu mengungkit dendam dan membuka luka lama?

febya fitri irianto said...

maaf. saya mau tanya, beli novel ini dimana ya? saya cari udah gaada yang jual. padahal saya ingin sekali membacanya

nugroho noto said...

KAMI MOHON BUAT SEMUA SAUDARA2 SE INDONESIA JANGAN TERBIUS OLEH MASA LALU,MASA LALU HANYA SBG PELAJARAN BAGI KITA SEMUA,AMBIL YANG BAIK DAN BUANG YANG SALAH.
SEKARANG JAMAN SUDAH BERUBAH DAN TANTANGAN JUGA BERBEDA,
SEKARANG JAMAN GLOBALISASI BUKAN JAMAN KERAJAAN LAGI.

JADI KAMI MOHON SEJARAH ITU DIJADIKAN PELAJARAN BUKAN PERPECAHAN.