Thursday, January 26, 2006

Pangeran Caspian


Judul : The Chronicles of Narnia : #4 Pangeran Caspian
Penulis : C. S. Lewis
Penerjemah : Donna Widjajanto
Penerbit : PT. Gramedia Utama, cet-1, 2005
Tebal : 280 hal ; ilustrasi; 18 cm

Peter, Susan, Edmund & Lucy baru saja menyelesaikan liburan sekolah mereka. Keempat anak itu sedang duduk di stasiun kereta api dengan koper-koper dan kotak mainan tertumpuk disekeliling mereka. Mereka hendak menuju kembali ke sekolah. Beberapa menit lagi kereta akan tiba untuk membawa mereka ke sekolah.

Stasiun itu stasiun desa yang sunyi dan sepi, nyaris tidak ada siapapun di peron kecuali mereka. Tiba-tiba sesuatu yang tak nampak menrik keempat anak itu dengan kuat. Lalu koper-koper, bangku, peron, dan stasiun menghilang dan tiba-tiba keempat anak itu menemukan diri mereka berada di tengah hutan lebat. Mereka tersedot kedalam dunia Narnia!

Waktu Narnia dan dunia tidaklah sama, sejak kunjungan pertama mereka ke Narnia (The Lion, the Wtich, and the Wardrobe – Gramedia,2005), waktu di Inggris baru berlalu satu tahun, namun di Narnia waktu telah berlalu beberapa ratus tahun lamanya.

Ketika keempat anak itu tersedot kembali ke Narnia, Narnia diperintah oleh Raja Miraz yang kejam. Miraz menjadi raja setelah membunuh Raja Caspian IX, putranya Caspian X diasuh oleh Raja Miraz dan Ratu Prunaprisma yang saat itu belum memiliki anak. Dari inang pengasuhnya, Caspian mendengar kisah-kisah Narnia kuno yang sebenarnya dilarang diceritakan oleh Miraz karena khawatir akan membangkitkan terungkapnya kejayaan kerajaan Narnia masa lampau yang diperintah oleh dinasti Caspian. Begitu Raja Miraz mengetahui perbuatan inang pengasuh Pangeran Caspian segera saja Raja Miraz memecatnya, namun tanpa diketahui oleh Raja Miraz, Pangeran Caspian dapat tetap mendengar kisah-ksiah tersebut melalui gurunya Dr. Cornelius.

Suatu malam Ratu Prunaprisma melahirkan seorang anak. Kini Raja Miraz memiliki putera mahkota sendiri, tentulah Miraz akan menghabisi Pangeran Caspian. Mencium gelagat itu Dr. Cornelius membantu Pangeran Caspian untuk melarikan diri dengan membekalinya dengan sekantung emas dan sebuah terompet ajaib yang bisa digunakan jika Pangeran Caspian berada dalam bahaya besar. Dalam pelariannya Pangeran Caspian bertemu dengan penghuni asli Narnia yang terdiri dari hewan yang bisa berbicara, faun, drawft, dan lain-lain. Beberapa mahluk mencurigainya namun sebagian besar mendukungnya dan mereka bersiap merebut kerajaan Narnia dari tahta Miraz yang lalim.

Begitu Raja Miraz mengetahui Pangeran Caspian kabur, ia segera mengerahkan pasukan untuk mengejarnya. Peperangan antar pasukan Miraz dan pendukung Pangeran Caspian tak terhindarkan. Tak cukup kuat menahan gempuran pasukan Miraz, dalam keadaan terdesak Pangeran Caspian segera meniup terompet ajaibnya. Oleh tiupan terompet itulah keempat anak (Peter, Susan, Edmund, Lucy) yang pernah menjadi Raja Narnia dimasa lampau tersedot kembali ke Narnia. Ketika kembali ke Narnia, keempat anak bertemu dengan seorang drawf yang menolong mereka untuk bertemu dengan Pangeran Caspian. Merekapun segera menuju daerah pertempuran, dalam perjalananya mereka bertemu kembali dengan sang Singa (Aslan) yang turut menyertai mereka dalam perjalanan untuk membantu Pangeran Caspian merebut kembali haknya sebagai raja Narnia. Berhasilkah perjalanan mereka sampai ke tempat tujuan tepat pada waktunya ?

Buku Pangeran Caspian merupakan buku keempat dari tujuh buku dalam seri The Chronicles of Narnia karya CS. Lewis, terbit pertama kali pada tahun 1951, tepat setahun setelah The Lion, the Witch, and The Wardrobe (1950) terbit. Jadi walau secara kronologis cerita buku ini merupakan buku keempat dari seri Narnia namun dilihat dari urutan terbitnya buku ini merupakan buku kedua dari seri Narnia yang ditulis CS. Lewis.

Sama seperti judul-judul lainnya dalam seri The Chronicles of Narnia , kisah Pangeran Caspian ini menyuguhkan peristiwa-peristiwa menakjubkan yang terjadi di negeri Narnia lengkap dengan hewan-hewan yang bisa berbicara, peristiwa-peristiwa ajaib dan kisah petualangan yang akan menggairahkan pembacanya. Kepiawaian Lewis dalam menyuguhkan cerita yang mendidik namun menakjubkan inilah yang menyebabkan setiap judul dari seri The Chronicles of Narnia senantiasa menjadi kisah yang menyenangkan dibaca bagi para anak-anak remaja namun tetap memikat bagi pembaca di segala usia. Dan yang pasti seri The Chronicles of Narnia ini walau telah ditulis lebih dari 50 tahun yang lalu, karya ini terbukti telah menjadi karya klasik fiksi fantasi remaja yang dan abadi karena masih terus diterbitkan ulang dan dibaca orang hingga kini.

@h_tanzil