Monday, March 20, 2006

Kara Ben Nemsi II : Penyembah Setan


Judul : Kara Ben Nemsi II - Penyembah Setan
Penulis : Karl May
Penerjemah : Harsutejo
Penerbit : Pustaka Primatama & PKMI
Tebal : 434 hlm

Melanjutkan petualangannya di Padang Gurun, kini Kara Ben Nemsi yang didampingi oleh Hajji Halef Omar, Sir Lindsay David dan seorang kepala suku Arab Shammar Haddedihn, Sheikh Mohhamed Emin meneruskan petualangan mereka menuju Benteng Amadijah untuk membebaskan putra sang Sheikh, Amad el Ghandur. Dalam perjalanannya mereka harus melintasi wilayah kaum Jesidi 'Kaum Penyembah Setan' yang dikenal sebagai suku yang jahat dengan kepercayaan aneh, menyembah setan, dan kerap melakukan ritual-ritual pengorbanan yang mengerikan.

Karena jiwa petualangan Kara Ben Nemsi, maka ia dan kawan-kawannya singgah ditengah-tengah kaum Jesidi yang memiliki reputasi buruk itu. Apa yang tadinya ditakutkan oleh kawan-kawannya bahwa kaum Jesidi akan menangkap mereka dan mendapat perlakuan buruk dari kaum Jesidi tidak menjadi kenyataan, rupanya nama Kara Ben Nemsi yang dikenal karena pernah menyelamatkan tiga orang kaum Jesidi yang ditangkap oleh suku Haddedihn membuat pemimpin kaum Jesidi menganggapnya sebagai tamu kehormatan sekaligus mendapat kesempatan untuk menyaksikan secara langsung perayaan suci kaum Jesidi. Suatu perayaan besar yang seharusnya tertutup bagi orang diluar kaum Jesidi. Dari persinggungannya dengan kaum Jesidi dan melihat langsung dengan mata kepala sendiri maka KBN dan kawan-kawannya akan melihat bagaimana anggapan terhadap kaum ini tidaklah sepenuhnya benar. Selain itu KBN juga berusaha untuk menyelamatkan kaum Jesidi dari serbuan suku Kurdi yang hendak menumpas dan merampas harta karun mereka.

Setelah petualangannya dengan kaum Jesidi berakhir, KBN dan kawan-kawannya melanjutkan rencana mereka untuk membeaskan putra Sang Sheik di Benteng Amadijah. Sesampai di Benteng Amadijah KBN disambut dengan baik oleh Mutasselim, Sang komandan benteng dan dipersilahkan untuk menginap di sebuah rumah yang ternyata halaman belakangnya berbatasan langsung dengan tembok penjara. Setelah diselidiki ternyata putra Sang Sheikh, Amad el Ghandur berada dalam penjara tersebut karena merupakan tahanan Mutasellim yang hendak diserahkan kepada Hakim Agung Anandoli di Mosul. Melihat keadaan ini KBN harus menggunakan kecerdikannya agar ia berhasil membebaskan putra Sang Sheikh tanpa harus 'merusak' statusnya sebagai tamu sang Mutasselim di Benteng Amadijah.

Secara garis besar buku ini mengisahkan dua buah petualangan menarik Kara Ben Nemsi dan kawan-kawannya.
Dalam petualangan pertamanya bersama kaum Jesidi, pembaca diajak menyelami kehidupan dan prosesi upacara suci kaum Jesidi yang dikenal sebagai kaum 'Penyembah Setan'. Kaum Jesidi yang diceritakan dalam buku ini adalah kaum yang sama dengan yang disebut kaum 'Yesidi'. Berdasarkan fakta yang ada, masyarakat Kurdi ini masih ada sampai sekarang dalam jumlah yang sudah sangat sedikit dan merupakan kaum rahasia yang mencampur adukkan unsur-unsur penyembahan berhala, Islam, Kristen, Yahudi, dan agama Zorooaster.

Kaum Jesidi serta kepercayaannya ini pada zaman Karl May hidup banyak diserang oleh banyak penulis-penulis Barat yang sayangnya, mereka hanya mendengar tentang kaum ini dari penuturan para pelancong yang diragukan kebenarannya. Mereka percaya kaum Jesidi kerap melakukan upacara-upacara penyembahan Setan dan tidnakan -tindakan jahat lainnya, tentu saja hal ini menyebabkan kaum Jesidi menjadi kaum yang tersudut oleh anggapan buruk tadi.

Rupanya hal inilah yang menjadi pertimbangan mengapa Karl May memilih kaum ini menjadi pokok bahasan. Dalam setiap karya-karyanya Karl May memang sangat peduli terhadap nasib maysarakat yang tertindas baik secara fisik maupun mental. Melalui kisah petualangan ini pembaca akan diajak melihat kenyataan sesungguhnya dari suatu bangsa yang dikucilkan karena kepercayaan yang dianutnya.

Petualangan kedua dalam buku ini yang mengisahkan upaya Kara ben Nemsi untuk menyelamatkan putra kepala suku Arab Shamar Haddedihn. Kisah ini tidaklah kalah menariknya dengan petualangan dengan kaum Jesidi. KBN kini berada dalam suatu masyarakat miskin yang haus akan harta, segala sesuatu dinilai dengan harta. Disini pembaca akan diajak melihat bagaimana harta bisa demikian kuatnya mempengaruhi kehidupan suatu masyarakat mulai dari pemimpinnya hingga para bawahannya.

Dalam petualangannya di di Benteng Amadijah ini KBN kembali berhasil menyelamatkan nyawa seorang wanita yang semula diduga kerasukan roh jahat. Dengan akal sehatnya KBN berusaha untuk menyembuhkan si wanita yang ternyata merupakan cicit dari tokoh spritual masyarakat Kurdi yang kelak akan ditemuinya kembali dalam petualangannya di Kurdistan (baca KBN III : Petualangan di Kurdistan - Pustaka Primatama,2005). Selain itu trik-trik menarik KBN dalam usahanya menyelamatkan putra Sang Kepala Suku juga menjadi hal yang menarik dan membuat penasaran untuk diikuti hingga halaman terakhir buku ini.

Berbagai pernak-pernik menarik yang menghibur juga akan kita temui dalam buku ini. Mulai dari kepiawaian KBN yang harus mencabuit gigi seorang Pasha tanpa rasa sakit, kepiawaian KBN dalam membuat bir yang 'halal', hingga cara cerdas agar keledai berhenti menguak dimalam hari membuat petualangan KBN benar-benar menarik dan penuh warna. Selain itu adat istiadat, makanan, dan perilaku sosial dari masyarakat yang ditemuinya dalam petualangan kali ini membuat buku ini tidak hanya menghibur namun juga membuka wawasan pembacanya akan kehidupan di Dunia Timur yang eksotis. Dan yang selalu ada dalam kisah petualangan Karl May dimanapun, kisah ini menyiratkan berbagai nilai-nilai humanisme, toleransi dan perdamaian antar suku-suku bangsa yang tentunya masih sangat relevan dibaca hingga kini.

Sebagai catatan yang eprlu diketahui, Kisah Penyembah Setan dalam buku ini, khususnya pada bab 21-29, ternyata belum pernah diterbitkan sebelumnya di Indonesia. Sedangkan bab 30 dst, pernah diterbitkan oleh Pradnya Paramita (penerbit buku2 KM) pada tahun 1960-an dan diberi judul "Di Kurdistan". Tak diketahui dengan pasti mengapa Pradnya tidak menerbitkan kisah ini. Kini dengan terbitnya buku ini, maka pembaca Karl May di Indonesia yang telah bersabar sedemikian lamanya akhirnya bisa menikmati sebagian kisah yang hilang selama lebih dari 40 tahun!

Satu hal yang agak disayangkan dalam buku ini adalah masih banyaknya kesalahan cetak berupa salah ketik kata maupun salah dalam penempatan spasi antar kata. Mungkin dalam cetakan selanjutnya ke depan perlu kerja keras dari para "proof reader" agar kenikmatan pembaca dalam menyelami petualangan KBN tidak terganggu karena adanya kesalahan dalam pengetikan naskah buku ini.

@ Tanzil Ben Bandung
http://bukuygkubaca.blogspot.com/

2 comments:

h_tanzil said...

Membaca ttg kaum Jesidi sy langsung teringat akan saudara2 kita yang kerap diserang dan diintimidasi karena keyakinan yg mereka anut....

Anonymous said...

best regards, nice info »