Monday, June 12, 2006

Epigram


Judul : Epigram
Penulis : Jamal
Editor : Indah S. Pratidina
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 384 hlm ; 20cm


Jamal penulis yang berbahaya!
M. Fadjroel Rachman, Kolumnis, presenter TV, mantan aktivis
Endorsment dari Fadjroel Rachman di sampul novel ini pasti akan membuat calon pembaca novel ini penasaran. Seberapa berbahayakah kandungan novel Epigram ini sehingga Jamal dijuluki penulis yang berbahaya ?

Dari ketiga novel sebelumnya (Louisiana-Luoisiana, 2003, Rakaustarina ,2004, Fetussaga,2005) tak terlihat indikasi bahwa Jamal adalah penulis yang berbahaya. Louisiana-Louisiana dan Rakkaustarina berbicara mengenai kisah cinta yang dibumbui oleh setting luar negeri dan konflik-konflik batin akibat benturan budaya pada kehidupan tokoh-tokohnya, Fetussaga menceritakan kisah jabang bayi yang mampu merasakan dan berkomunikasi dengan ‘alam lain’. Tak ada yang berbahaya, ketiga-tiganya menghibur sambil memberi wawasan pada pembacanya dalam hal kultur budaya lokal (Fetussaga) hingga lansdkap negara-negara Eropa (Louisiana-louisiana & Rakkaustarina), tak ketinggalan Jamal juga selalu memasukkan unsu-unsur seni, desain dan filosofi kehidupan dalam dialog-dialog para tokohnya.

Apakah novel keempatnya ini berbeda dengan ketiga novelnya terdahulu?

Dalam Epigram, Jamal berutur mengenai tokoh dua orang mahasiswa demonstran Kris dan Nara yang dibebaskan teman-temannya dari tahanan militer. Kris ke Eropa dan Nara ke Amerika. Cerita dimulai dari lokasi Kris bekerja pada tahun 2003, di rig raksasa tempat pengeboran gas dan minyak Troll West milik Norsk Hydro di LautNorwegia. Secara tak terduga atasan Kris adalah seorang eksil asal Indonesia yang pada 1965 sedang menyelesaikan kuliahnya di Uni Soviet, gonjang-ganjing politik di tahun itu membuat dirinya tak bisa pulang dan menjadi seorang eksil di Eropa.
Ketika Kris menerima email dari sahabatnya Adun yang akan pergi berlibur ke Eropa dan meminta bertemu dengan Kris di Belanda. Ingatan Kris terlempar ke masa lalu. Cerita lalu kilas balik ke tahun 1989 pada saat menjelang demo menentang kehadiran seorang menteri mantan jenderal ke kampusnya. Kris yang dikenal sebagai demonstran sebetulnya sudah tak berminat terjun langsung ke lapangan karena ia merasa sudah terlalu tua dan baru saja menyelesaikan sidang sarjananya dan tinggal menunggu wisuda. Kehadiran Kris di lapangan hanya sebagai penggembira saja.

Demonstrasi menentang kehadiran menteri itu semakin memanas, aparat melesat masuk kedalam kampus. Kris tak bisa mengelak dari hajaran aparat. Untunglah Kris tak sampai ditangkap. Esoknya timbul desas-desus bahwa aparat akan melakukan penangkapan terhadap penggerak demo itu. Nama Kris yang sudah dikenal sebagai demonstran termasuk dalam daftar mahasiswa yang akan diciduk. Benar saja, Kris, Nara dan beberapa teman lainnya diculik oleh aparat dan dimasukkan kedalam penjara militer.

Di dalam penjara Kris dan Nara diinterogasi secara kontiniu, walau Kris mengelak bahwa dirinya bukan koordinator demo, aparat yang memeriksanya tak mempercayainya. Siksaan fisik dan mental harus dihadapi Kris dan Nara selama dalam tahanan. Hal ini nantinya akan mengakibatkan kepribadian Kris menjadi terpecah walau belum dalam tingkat yang mengkhawatirkan.

Kawan-kawan Kris tak tinggal diam, berkat seorang kawan yang memiliki hubungan langsung dengan petinggi militer Kris dan Nara berhasil dibebaskan melalui sebuah operasi rahasia. Agar Kris dan Nara tak tertangkap lagi mereka diterbangkan ke luar negeri. Nara ke Amerika, Kris ke Eropa. Awalnya mereka tak rela melarikan diri ke luar negeri sementara kawan-kawan lainnya masih dalam penjara, namun mereka tak bisa mengelak dan keduanya hidup sebagai pelarian di negara asing.

Keberuntungan berpihak pada Kris dan Nara. Karena perkenalannya dengan seseorang di pesawat yang bersimpati padanya Nara melanjutkan kuliah di Greensboro, Amerika serikat. Pada saat liburan di Boston Nara bertemu dengan Mira, putri seorang jenderal, sepupu temannya yang nantinya akan menguak misteri bagaimana mereka bisa dibebaskan dari penjara militer.

Sementara Kris yang mendarat di Amsterdam ditampung oleh mahasiswa Indonesia di sana, lalu oleh dubes RI di Belanda yang bersimpati padanya. Rencana kuliah diBelanda batal, seorang kawannya yang sedang kuliah di Bremen-Jerman mengajaknya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Bremen. Kris menerima ajakan kawannya itu hingga akhirnya Kris lulus master dengan gemilang dan bekerja di perusahaan gas Norsk Hydro di sebuah rig rakaksa di kawasan ladang gas dan minyak lepas pantai kawasan Troll West di Laut Utara Norwegia. Walau Kris sukses dalam kariernya namun ia terlunta diantara rasa bersalah dan prestasi gemilangnya. Ia senantiasa dihadapkan pada pilihan pelik; terus mengusung idealisme atau melupakan masa lalu dan kembali ke tanah air.

Di luar masalah idealisme Kris dan Nara juga sama-sama mengalami konflik lain yang memusingkan keduanya, cinta. Nara bertemu dengan Maria, anak seorang jenderal yang ternyata menunggunya sejak kedatangannya ke Amerika. Di acara Expo di Sevilla – Spanyol disaat Kris bekerja sebagai staf pengamanan stand Indonesia, Kris secara tak terduga bertemu dengan Sasti temannya satu almamater di Indonesia. Ketika cinta tumbuh diantara mereka Kris diperhadapkan pada dilema apakah ia harus ikut pulang dengan Sasti setelah Expo selesai atau meneruskan hidupnya di Eropa.

Dalam Epigram banyak hal-hal menarik yang akan pembaca temui dalam novel ini. Novel ini sarat dengan kritik terhadap pemerintahan Orde Baru yang secara de facto dikuasai oleh militer. Dialog-dialog antar tokohnya secara jelas dan gamblang mengkritisi peran militer dimasa Orde Baru yang menguasai hampir seluruh lini pemerintahan mulai dari Presiden, menteri hingga gubernur hampir semua dijabat oleh pensiunan militer yang tentunya masih memiliki hubungan dengan petinggi militer yang masih aktif. Pembaca akan diajak berpikir secara kritis bahwa Indonesia, sebuah negara Republik tak ubahnya sebuah negara diktator yang diperintah militer.

Pembaca yang mengalami masa-masa mahasiswa di akhir 80-an tentunya akan segera mengetahui bahwa kisah demo mahasiswa yang menentang kehadiran seorang menteri yang pensiunan jenderal ke kampus UTT (Universitas Tralala Trilili) adalah kejadian yang pernah terjadi di sebuah Universitas Negeri di Bandung. Peristiwa penculikan aktivis dan kehidupan pelarian politik ke luar negeri adalah realita yang terjadi di negeri ini. Realita inilah yang diangkat oleh Jamal kedalam novelnya ini. Pembaca diajak menerobos batas fiksi dan non fiksi carut marutnya kehidupan politik dunia mahasiswa di bawah rezim Orde Baru. Uniknya sisi kelam bangsa ini tidak dituturkan dalam nuansa yang gelap, di tangan Jamal dunia aktivis politik mahasiswa yang kaku dan paranoid ini menjadi lentur, menghibur dan manusiawi lengkap dengan kisah cinta romantis para tokoh-tokohnya yang selalu merasa sepi, gundah, dan ragu.

Selain menyuguhkan kritik tajam terhadap militerisme di masa orde baru,. Novel ini juga mengungkap kehidupan dan konflik batin para pelarian politik yang dalam novel ini diwakili Kris dan Pak Agus, atasan Kris seorang pelarian yang tak bisa pulang dan harus menjadi warga negara Jerman, melalui novel ini juga pembaca diajak melintasi bola dunia mulai dari Bandung, Boston, Amsterdam, Expo di Sevilla Spanyol, Bremen hingga Laut Utara Norwegia. Tak ketinggalan, seperti di novel-novelnya terdahulu secara cerdas Jamal menyusupkan hal-hal seni, desain, museum, suasana Expo di Seville hingga filosofi kehidupan yang dituturkan secara ringan sehingga mencerahkan pembacanya dalam hal politik, seni, desain, dll.

Sayangnya kehidupan sosial Kris dan para pekerja rig hanya mendapat porsi yang kecil dibanding setting lainnya di novel ini. Jika saja hal ini digali lebih dalam oleh Jamal pastilah novel ini akan semakin menarik karena kehidupan para pekerja di RigTroll yang terasing pastilah bukan hal yang mudah. Padalah cover novel ini secara jelas menyajikan pemandangan di sebuah rig di laut lepas. Tentunya pembaca yang melihat novelnya akan berasumsi bahwa novel ini akan menyajikan kehidupan para tokohnya di sebuah rig lengkap dengan landskap sebuah rig dan tantangan yang dialami para pekerjanya

Selain itu kisah Kris ketika dalam penjara militer tampaknya kurang didramatisir oleh penulisnya, padahal ketika dalam penjara inilah Kris mengalami terpecahnya kerpibadiannya menjadi dua. Beberapa interogasi yang dilakukan oleh aparat terhadap Kris terkesan biasa-biasa saja dan siksaan fisik yang dialaminyapun tak terungkap dengan dramatis, padahal jika kita mendengar pengakuan dari para mantan aktivis yang pernah diculik aparat, pengalaman mereka sangat dramatis dan memilukan.

Namun dibalik kelebihan dan kekurangannya novel ini tampaknya akan mengajak pembacanya melihat realita secara gamblang politik yang pernah terjadi di negeri ini, bahkan beberapa hal mungkin masih terjadi. Itulah mengapa Fadjroel Rachman mengatakan bahwa Jamal adalah penulis yang berbahaya. Batas antara fakta dan fiksi menjadi kabur. Kritikan-kritikan terhadap militerisme dan kehidupan politik Indonesia disajikan secara tajam, suatu hal yang rasanya tak mungkin diungkapkan selama masa orde baru. Walau rezim sudah berganti dan era kebebasan diusung tinggi. Mungkin saja masih ada beberapa pihak yang akan merasa tersinggung dengan kritik sosial dan politik yang muncul di novel ini.

Jamal memang penulis yang berbahaya!

@h_tanzil



6 comments:

putri_angga said...

waahhh berat juga ya bukunya??? tadinya pengen beli buku ini, untung ada yang ngerensinya... tapi,,, kayaknya kok aku pengen berubah aja ya... Ga jadi beli, minjem aja....
soalnya aku nggak hidup di jaman itu(jaman Demo-demoan orde bartu itu) jadi takutnya, aku nggak bisa nyambung dan susah mencerna....
beli buku yg laen aja dulu,,, baru kalo ada mood, beli epigram... btw... selain ngerensi, adain profil novelis2nya dong....

h_tanzil said...

Putri, novel ini nggak berat koq, walau bernuansa politik tapi penulisnya menyajikan dengan riang gembira....coba aja baca...

Profil penulis....boleh juga, tapi harus wawancara sama penulisnya donk...he..he..

VirGiniA said...

nah ini dia yang vina mau. makasi ya atas rekomendasinya.

Anonymous said...

Very nice site! »

Anonymous said...

There is no right or wrong strategy to build a website.
We've web sites linked to a particular niche and as well sites on entirely not related products. It’s seriously your choice which usually way you wish to move. One element though…you suggest Blog writer, why do you may spend money on possessing a .com.. I’ve generally asked yourself when this has been significant. A fix will be wonderful!
My page - Genital Warts Home Treatment

Anonymous said...

It’s also been a little bit since i have seen
the web site. I just want to prevent through and wish
people, plus your own house, an exceptionally pleased trip!
Also visit my weblog :: Check Background