Monday, October 09, 2006

The Voice of Demons


Judul : The voice of Demons : Suara-suara Iblis
Penulis : Lori Schiller dan Amanda Bennet
Penerjemah : Edrijani
Penyunting : Berliani M. Nugrahani
Penerbit : Qanita


Dia ingin kamu mati.
Bunuh dia sebelum dia membunuhmu!
Cekik saja lehernya!
Atau, potong nadimu sendiri!
Bunuh dirimu sebelum dia membunuhmu….

Suara-suara yang menyiksa itu terus berdengung di telingaku. Suara-suara itu tak pernah diam, terus memerintahku, merasuki kepalaku. Mereka mengutuk dan mencaci makiku.


Suara-suara iblis itu pertama kali didengar oleh Lori Schiller di usianya yang ke tujuh belas pada saat ia mengikuti perkemahan musim panasnya yang terakhir di SMA. Sebelumnya tak ada yang salah dalam dirinya, ia dilahirkan dari orang tua yang terpelajar, masa kanak-kanak hingga remaja ia lalui bersama keluarganya yang harmonis. Di sekolahnya Lori tergolong anak yang cerdas. Ia memiliki sejuta mimpi untuk melanjutkan hidupnya, masuk perguruan tinggi, bekerja, dan menata hidupnya dengan penuh tanggung jawab.

Namun siapa yang menyangka impiannya semakin jauh dari kenyataan. Di Musim panas yang naas pada tahun 1976 tiba-tiba saja suara-suara iblis itu terdengar dalam kepalanya dan terus mengganggunya hingga menghancurkan hidupnya.

Walau berhasil memasuki bangku kuliah, hidup Lori menjadi berantakan, perilakunya menjadi aneh, ia berusaha menghalau suara-suara itu dari kepalanya, namun suara-suara itu tak juga mau pergi, semakin ia melawan semakin keras suara itu terngiang di kepalanya. Berkali-kali Lori hilang kendali diri dan mencoba melakukan bunuh diri seperti yang diperintahkan oleh suara-suara itu. Hal ini membuat dirinya didiagnosa menderita skizofrenia dan harus keluar masuk rumah sakit jiwa untuk mendapat perawatan.

Dalam perawatan rumah sakit, kondisi Lori semakin memburuk, tak jarang ia menjadi lepas kendali, mencoba untuk lari, berperilaku destruktif dengan mengancurkan benda-benda di sekitarnya dan melukai dirinya. Tak jarang ia harus mendekam dalam ruang isolasi bahkan harus mengalami pengekangan yang dinamakan cold-wet-pack. Sebuah cara pengekangan yang digunakan untuk meredam amukan pasien yang sudah tak terkendali lagi. Tujuannya adalah untuk membekukan pasien sehingga pasien akan kehabisan tenaga dan menjadi tenang.

Berbagai pengobatan sudah diberikan pada Lori, namun efek obat-obat itu hanya bereaksi sementara karena lambat laun ketika tubuhnya telah menyesuaikan diri dengan obat-obatan tersebut, penyakitnya kembali akan kambuh. Selain itu pemberian obat-obatan bukan tanpa efek samping, seringkali obat-obatan yang diminumnya mengakibatkan tubuhnya gemetaran, tenggorokannya terbakar, dll. Selain itu cara yang paling ekstrim dengan memberikan terapi kejutan listrik pun sudah dialaminya. Namun semua itu tak menyembuhkannya hingga akhirnya Lori terjerat dalam penggunaan Narkoba. Baginya Narkoba adalah cara yang paling efektif untuk menghalau suara-suara itu dalam kepalanya.

Beruntung Lori mendapatkan penanganan yang baik, walau berulangkali mencoba menghabisi nyawanya sendiri dan harus keluar masuk beberapa rumah sakit, hal ini tak membuat putus asa kedua orang tua dan psikiater yang menganganinya. Di New York Hospital, White Plains, Lori mendapat penanganan dari Dr. Fischer dan Dr. Doller. Melalui kedua psikiater ini Lori mendapat penangan yang ‘lain’, tak hanya memfokuskan pada penggunaan obat-obatan melainkan melalui sentuhan personal dan lebih berkonsentrasi pada upaya mengetahui apa yang ada di kepala Lori.

Lambat laun Lori mampu mengenali masalahnya, untuk kemudian menghentikannya. Ketika pada akhirnya dia mengetahui bahwa dirinya sakit, dia tidak membiarkan apa pun menghalangi niatnya untuk sembuh.

Di banding buku-buku lain yang bertema skizofren seperti "Mereka Bilang aku Gila – Ken Steele & Claire Berman (Qanita 2004) atau A Beautiful Mind – Sylvia Nashar (GPU,2005) yang hanya mengupas memoar seorang penderita skizofren dari sisi penderitanya, buku The Voice of Demons (Suara-suara Iblis) ini bisa terbilang istimewa. Selain mengungkap derita-derita dan perjuangan yang dialami oleh si penderita Skizofren yang diwakili oleh Lori. Buku ini memuat pula pandangan-pandangan dari orang-orang yang bersinggungan secara langsung dengan Lori.

Kisah dalam buku ini selain diceritakan oleh Lori sendiri, juga dicertiakan secara langsung oleh Marvin & Nancy Schiler (ayah & ibu Lori), Steven & Mark Schiler (adik2 Lori), Lori Winters (teman sekamar Lori), dan Dr. Jane Doller (psikiater Lori).
Dari sudut pandang Marvin & Nancy schiller, pembaca akan merasakan bagaimana galaunya perasaan orang tua Lori dalam menerima kenyataan pahit harus memiliki seorang anak penderita Skiizofrenia, padahal sebelum sakit Lori adalah anak yang sangat dibanggakannya. Bagi Marvin yang pernah menjalani pendidikan sebagai seorang psikiater tentu saja sangat memukul perasaannya. Apalagi saat itu masih berkembang anggapan bahwa penyakit jiwa diakibatkan oleh pola asuh yang salah dari orang tua terhadap anaknya. Dari sudut pandang Steven & Mark Schiler akan terungkap bagaimana perasaan mereka memiliki seorang kakak yang harus dirawat di rumah sakit jiwa, hal ini berpengaruh pada Steven yang enam tahun lebih muda dari Lori, diam-diam ia merasa takut jika apa yang dialami Lori juga kelak akan menimpa dirinya.

Dari sudut pandang Lori Winters selaku teman sekamar Lori Schiler ketika Lori belum didiagnosis sebagai penderita Skrizofrenia, akan terungkap bagaimana awal dari keanehan-keanehan jiwa Lori yang tidak stabil. Ketika masih sekamar dengan Lori Winter-lah Lori Schiller pertama kali melakukan usaha bunuh dirinya.

Yang tak kalah menarik adalah bab yang diceritakan oleh Dr. Jane Doller. Di bab ini pembaca akan memperoleh pengetahuan mengenai skrizofren beserta tahap-tahap penderitaan dan penanganannya. Juga akan diungkap bagaimana dan apa alasan Dr. Doller dalam melakukan pendekatan baru pada Lori dalam menyembuhkan dirinya dari Skizofren.

Walau buku ini terdiri dari beberapa penutur, penempatan siapa yang menuturkan cerita di setiap bab-nya tampaknya disusun mengikuti alur cerita yang berkesinambungan sehingga terkesan mengalir dan tak membingungkan pembacanya. Malah dengan adanya beberapa penutur dalam buku ini membuat buku ini menjadi buku yang lengkap dalam mengungkap penderitaan seorang penderita Skriizofen karena pembaca dapat melihatnya dari berbagai sudut pandang. Tampaknya peran Amanda Bennett sebagai editor dalam buku ini memegang peranan penting.

Lori dalam kisah ini termasuk satu diantara mereka yang menderita skrizofrenia, gangguan kejiwaan ini semakin lama semakin meningkat jumlahnya. Sebuah penelitian di tahun 2000-an mengungkap bahwa di Indonesia saja ada sekitar 2.5 juta penderita skrizofenia, itu pun yang tercatat, tentunya angka ini lebih kecil dari kenyataannya karena umumnya banyak yang menutup-nutupi jika ada salah satu anggota keluarganya yang mengidap skriizofenia.

Lori beruntung mendapat dukungan dari orang tua yang mencintainya, kepedulian dari rumah sakit, dan tersedianya perawatan yang terbaik. Tak semua penderita skrizofrenia di Indonesia mendapat kesempatan pengobatan yang sama dengan Lori. Alih-alih mendapat perawatan yang baik mereka umumnya dikucilkan, diasingkan, dipenjara, bahkan dipasung dalam rumahnya sendiri.

Untuk itu kehadiran buku ini setidaknya memberikan pesan penting bagi pembacanya. Untuk para ahli jiwa dan dokter, ini merupakan suatu contoh bagaimana para dokter sebaiknya untuk melihat ke dalam dunia penderita penyakit jiwa melalui sentuhan personal, dunia yang terkadang dilupakan oleh para dokter karena terlalu beroientasi pada pengobatan secara medis melalui obat-obatan psikotik.

Untuk para orang tua yang anak-anaknya mungkin menderita skrizofren buku ini memberikan pengertian bagi mereka akan bagaimana memahami perasaan seorang anak yang begitu menderita karena penyakitnya.

Sedangkan bagi penderita sendiri, kisah Lori memberikan sekilas pandangan adanya kemungkinan dan kesempatan yang sama untuk mengatasi penyakit mereka seperti halnya Lori.

Dan akhirnya untuk kita semua, seperti yang diungkapkan oleh DR. Jane Doller, M.D dalam kata pengantarnya, kisah Lori merupakan kisah perjalanan pribadi yang menggugah hati. Bukan hanya cerita tentang penyakit jiwa, tetapi cerita tentang manusia, kisah tentang ketetapan hati, keberanian dan harapan.

@h_tanzil