Saturday, December 02, 2006

Beijing Doll

Judul : Beijing Doll
Penulis : Chun Sue
Penerjemah : Ferina Permatasari
Penyunting : Yusi Avianto Pareanom
Penerbit : Banana Publisher
Cetakan : Pertama, Oktober 2006
Tebal : 292 hlm
Harga : Rp. 33.500,-



Beijing Doll adalah novel semi autobiografis karya Chun Sue, penulis muda China yang ketika novel ini ditulis baru berusia tujuh belas tahun. Dalam novel ini Chun Sue merekam berbagai kejadian di masa remajanya dan hal-hal lain tentang generasinya di tahun 90-an. Novel ini sempat menjadi kontoversi dan dilarang di China karena pemaparannya yang jujur akan perilaku seks dan kehidupan kaum remaja China di era 90-an. Hal ini memperpanjang daftar novel-novel karya penulis muda China yang dilarang beredar di negaranya sendiri namun mendapat sambutan yang baik di negara-negara Barat. Sebut saja Shanghai Baby – Wei Hui (1999) dan Candy – Mian Mian.(2000)

Tak dapat dipungkiri, Beijing Doll (2002) akan mengingatkan orang pada Shanghai Baby, sehingga sebelum membaca novel ini banyak pembaca berharap akan mendapatkan kehebohan yang sama dengan Shanghai Baby. Walau tema yang diangkat hampir sama, yaitu mengenai generasi baru yang tumbuh di China, namun novel ini berbeda dengan Shanghai Baby yang lebih menyerupai episode Sex in The City. Dalam Beijing Doll tampaknya Chun Sue sangat setia dalam pengalaman kehidupannya sebagai seorang gadis remaja, sehingga konflik-konfilknya tak sedalam Shanghai Baby.

Chun Sue dalam Beijing Doll menulis kesehariannya layaknya sebuah ‘diary’. Ia memulai kisahnya ketika ia duduk di kelas 3 SMP, gagal melanjutkan ke tingkat SMU akhirnya ia melanjutkan ke SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Chun Sue adalah tipikal gadis berusia empat belas tahun yang berasal dari kaluarga kelas menengah di Beijing. Ia gadis yang bebas, menyukai musik rock, menulis puisi dan novel, ia juga memiliki pandangannya yang liberal terhadap seks. Saat masih duduk di kelas 3 SMP ia telah kehilangan kegadisannya. Hobinya akan musik rock mengantarnya pada pergaulannya dengan para musisi rock underground. Ia rela mengambil cuti panjang untuk bisa berkunjung ke Kaifeng dimana sebuah band rock pujannya berada. Selain itu Chun Sue juga memiliki hobi menulis, hobinya ini ia salurkan dengan bekerja sebagai jurnalis di sebuah majalah

Hobi menulis dan mengikuti kehidupan para musisi ini rupanya yang sesuai dengan jiwa Chun Sue yang bebas. Ia tak mau terikat oleh apapun. Ketika akhirnya ia kembali dari cuti panjangnya dan harus mengulang di kelas tiga SMK, ia dimasukkan dalam sebuah kelas yang berprestasi yang menjalankan berbagai aturan untuk mempertahankan prestasi kelasnya tersebut, Chun Sue menjadi tak kerasan dan akhirnya memutuskan untuk keluar selamanya dari sekolah.

Chun Sue juga kerap memiliki hubungan dengan sejumlah laki-laki, semenjak SMP ia sudah beberapa kali berganti kekasih. Namun tak satupun yang mampu memberinya kehangatan kasih, semua berakhir dengan kekecewaan dan berlalu dengan begitu saja.
Dalam keluarganya pun Chun Sue kerap memberontak, hal ini dimanifestasikan dengan mengecat rambutnya dengan warna merah, hijau, pirang secara berganti-ganti walau orang tuanya tak menyetujuinya, namun Chun Sue tak bergeming karena baginya tak seorangpun bisa memiliki dirinya seutuhnya dan tak ada yang benar-benar bisa mengerti dirinya termasuk keluarganya sendiri.

Chun Sue seakan tak puas dengan sekelilingnya, baginya keluarganya seakan tak peduli dan tak memperhatikannya, ia juga merasa gamang dan tertekan dengan masa depannya. untunglah dibalik kesehariannya yang bebas dan tanpa batas itu ia menulis novel atau puisi sebagai satu-satunya jalan untuk melarikan diri dari kenyataan hidupnya.

Kisah-kisah kehidupan Chun Sue ditulis dengan mengalir, blak-blakan dan apa adanya. Sehingga bisa dikatakan gaya bertuturnya ini menghadirkan gaya baru dalam sastra kontemporer China. Sayangnya novel ini nyaris tanpa konflik-konflik yang memuncak hingga akhir cerita. Hal ini membuat novel ini cenderung membosankan. Munculnya rentetan nama-nama sejumlah tokoh yang menghiasi novel ini juga berpotensi membuat pembacanya sulit untuk mengingat siapa dan apakah tokoh-tokoh itu pernah muncul di awal-awal cerita.

Namun bagaimanapun juga dibalik kisahnya ini, Chun Sue tampaknya berhasil dalam memotret secara gamblang masa remajanya dengan segala tawa dan tangisnya. Mungkin saja apa yang dialami dan dirasakan oleh Chun Sue juga dirasakan banyak kalangan kaum muda karena novel ini telah melukiskan perasaan mereka dan mencerminkan tekanan batin, kebingungan, sikap keluarga dan kegelisahan-kegelisahan di masa remaja yang mereka alami. Hal ini seperti yang diungkap dalam kata pengantarnya : Aku harap semua orang di dunia ini, yang muda dan yang pernah muda, akan punya kesempatan membaca buku ini. Meskipun aku menulis pengalaman gadis Cina, remaja di manapun menghadapi masalah yang sama. Aku berharap bisa menjadi teman bagimu. (hal 7)

Selain itu ini novel ini juga memberikan gambaran mengenai perilaku generasi baru China lengkap dengan kultur anak muda urban yang suka akan musik rock, mengekspresikan diri dengan bebas, menolak tradisi lama hingga pandangan seks yang bebas.

Mungkin inilah dampak dari globalisasi dan liberalisasi yang dilakukan di China. China menjadi lebih liberal dan terbuka. Semakin banyak orang asing yang datang ke China, mau tak mau transfer budaya asing tak bisa dibendung lagi. Generasi baru China menyerap semua itu, mereka tergerak untuk mengaktualisasikan diri mereka sesuai dengan keinginan mereka karena bagi mereka yang dibutuhkan adalah keragaman, bukan keseragaman.

Kini pembaca tanah air bisa menikmati novel yang telah diterjemahkan dengan baik ini.
Ada beberapa ketidakkonsistenan penggunaan huruf dalam cetakan buku ini, bisa dipastikan hal ini bukan disengaja (salah cetak), juga terdapat bab yang diulang (dobel) sehingga mengganggu dalam kenikmatan membacanya.

Beberapa bulan setelah Beijing Doll terbit, pemerintah China segera melarangnya. Namun novel ini telah terlanjur terbaca di kalangan anak muda Beijing dan kabarnya telah memberi inspirasi bagi banyak anak muda di Beijing.

Apakah novel ini kelak akan memberi inspirasi bagi pembaca muda kita, atau hanya sekedar menjadi novel yang memuaskan rasa ingin tahu pembacanya akan kehidupan generasi baru di China ?

@h_tanzil

2 comments:

Kobo Chan said...

Jadi, dibandingkan Shanghai Baby, Beijing Doll lebih ringan nih?

Judulnya juga kog senada gitu yah ko?

h_tanzil said...

iya bo....menurutku lebih asik Shanghai Baby...lebih dalem....

Judul memang senada
- Shanghai Baby
- Beijing Doll
Ada lagi penulis muda china (Mian-mian) bikin novel judulnya
- Candy

Jadi judul2nya identik dengan anak-anak ya...?