Tuesday, April 08, 2008

Tuan Tanah Kedawung


Judul : Tuan Tanah Kedawung
Penulis : Ganes TH
Penerbit : komikindonesia.com
Retouch gambar: Erwin Prima Arya
Desain & Retouch cover : Wahyu Hadiyatz
Koordinator : Andy Wijaya
Cetakan : Jan 2008
Tebal : 7 jilid @ 64 hal
Harga : Rp. 170.000,-

Sejarah panjang komik Indonesia mencatat nama Ganes TH (1935-1995) sebagai salah satu legenda komik Indonesia. Pada masanya ia merupakan salah satu dari tiga dewa komik Indonesia bersama Jan Mintaraga dan Teguh Santosa. Kisah-kisahnya begitu memikat pembaca komik Indonesia di era tahun 70-80 an, apalagi ketika ia melahirkan tokoh Si Buta dari Gua Hantu yang menjadi trade mark-nya dan merupakan tokoh komik lokal yang paling populer sepanjang masa. Kabarnya, saat itu komik seri ini dicetak hingga ratusan ribu ekslempar.

Sebenarnya selain komik seri Si Buta dari Gua Hantu, masih ada karya-karya masterpiece yang lahir dari goresan ajaib tangan Ganes TH. Yang tak boleh dilupakan adalah Krakatau (1970), Tuan Tanah Kedawung (1970), Tjisadane (1968-1969), dan Nilam dan Kesumah (1970). Keempat komik ini sering juga disebut sebagai ‘quadrology’, atau ada juga yang menyebutnya sebagai ‘tetralogi samolo’ walau Ganes TH sendiri tak pernah menyebutnya demikian. Dari keempat judul itu, Tuan Tanah Kedawung adalah judul yang paling populer. Hingga awal dekade 1990-an komik ini masih dicetak ulang oleh penerbitnya, UP Rosita. Dan seperti Si Buta dari Gua Hantu, Tuan Tanah Kedawung juga pernah difilmkan oleh Tidar Film di tahun 1972.

Menyusul dicetak ulangnya karya-karya Ganes TH oleh komik indonesia.com, kini komik Tuan Tanah Kedawung telah beredar di pasaran. Karena tampaknya diperuntukkan bagi para kolektor, Tuan Tanah kedawung dicetak dengan mewah diatas kertas art paper yang terlebih dahulu diretouch sehingga kualitas gambar dan cetakannya benar-benar kinclong dan sempurna.

Kisah Tuan Tanak Kedawung sendiri pada intinya menceritakan tentang kisah perebutan harta warisan Tuan Tanah Kedawung dengan setting sebuah wilayah di Tanggerang pada tahun 1909-an. Kisahnya berawal dari pulangnya Giran, putra Tuan Tanah Kedawung dari perantauannya di Borneo (Kalimantan). Harapan untuk menemui keluarganya dalam keadaan bahagia pupus ketika ia menemui ibu dan adik tirinya dalam keadaan yang mengenaskan dengan wajah yang rusak.

Melalui penuturan ibu tirinya, Giran diberitahu bahwa semua ini akibat ulah Samolo, centeng ayahnya yang bekerja sama dengan Ratna, istri Giran yang hendak merebut harta warisan ayahnya yang telah meninggal dunia. Giran menjadi naik pitam, ia segera menemui istrinya yang telah sekian lama ditingalkannya. Istri dan anak kandungnya hampir saja dibunuhnya, untunglah ada Samolo yang melindunginya. Giran pun bertarung mati-matian melawan Samolo yang bermaksud melindungi Ratna dan anaknya.

Setelah bertarung dengan Samolo, akhirnya Giran bertemu dengan Nyi Londe, ibu asuhnya waktu kecil. Penuturan Nyi Londe tentang tragedi yang menimpa keluarganya ternyata berlawanan dengan kisah yang ia dengarnya dari ibu tirinya. Hal ini membuat Giran bingung dalam menentukan manakah kisah yang benar yang harus dipercayainya.

Melalui penuturan kisah keluarga Tuan Tanah Kedawung oleh Nyi Londe inilah pembaca dibawa ke berpuluh tahun yang lalu ketika Giran masih berusia tiga bulan hingga ke masa-masa ketika Giran merantau ke Borneo. Dari kisah Nyi Londe inilah perlahan-lahan rahasia, intrik perebutan harta warisan, dan malapetaka yang menimpa keluarga tuan Tanah Kedawung terungkap. Namun walau Nyi Londe menceritakan dengan begitu rinci, Giran tetap tak memercayai kisah Nyi Londe begitu saja hingga akhirnya sebuah peristiwa menyadarkan Giran akan kebenaran sejati yang menimpa keluarganya.

Walau menuturkan sebuah kisah tragedi kemanusiaan yang dialami keluarga tuan Tanah Kedawung dengan dramatis, seperti halnya karya-karya Ganes TH lainnya, komik ini juga menyajikan adegan-adegan seru berupa perkelahian antar tokoh-tokohnya. Ada adu kekuatan dan kesaktian jurus-jurus silat, balas dendam masa lampau yang terbawa hingga kini, perebutan kotak pusaka, dll.

Dalam serunya adegan perkelahian antara Samolo dan lawan-lawannya ada adegan yang mengejutkan, yaitu munculnya seorang pendekar buta. Walau hanya muncul sekali itu saja dan tidak diungkapkan siapa pendekar tersebut, namun dari gambarnya akan terlihat jelas bahwa pendekar itu adalah si Buta dari Gua Hantu ! Kemunculan si Buta dari Gua Hantu di komik ini tentu saja mengundang reaksi pembaca, hingga akhirnya Ganes TH perlu mengklarifikasikannya di jilid ke 6 buku ini.

Kisah yang memikat, adegan silat yang seru, kejutan-kejutan tak terduga, munculnya tokoh-tokoh yang memiliki keterkaitan dengan seri-seri lain dari karya GanesTH , narasi dramatik yang sangat bagus, penuh emosi, dan plot nya yang berliku dan menarik membuat komik ini termasuk salah satu mahakarya Ganes TH yang tak boleh dilewatkan untuk dibaca. Sebenarnya komik ini akan lebih menarik jika kita terlebih dahulu membaca komik Krakatau yang merupakan prequel dari Tuan Tanah Kedawung.

Edisi Remastering

Seperti telah diungkap di awal ulasan ini, Komik Tuan Tanah Kedawung yang diterbitkan ulang oleh komik indonesia.com ini merupakan hasil remastering dari master komik aslinya. Tak ada yang dirubah sedikitpun baik untuk cover maupun gambarnya, kecuali teksnya yang diketik ulang dengan komputer dan ejaannya yang diperbaharui. Satu hal lagi yang membedakan dengan edisi awalnya adalah perubahan warna kotak narasi dalam tiap panel gambarnya. Jika pada edisi awal berupa kotak putih dengan tulisan hitam, maka pada edisi remastering kotaknya menjadi hitam dengan tulisan putih. Selebihnya pembaca masih bsia menikmati goresan-goresan tinta Ganes TH dalam tiap lembarnya.

Menurut Erwin Prima yang meretouch komik ini seperti yang diungkap dalam blognya (http://erwinprima.multiply.com) , ia melakukannya dengan cara memindai (scan) langsung dari komik masternya, lalu dilakukan proses ‘pembersihan’ yaitu dengan cara menghitamkan warna-warna yang sudah luntur, dan memutihkan area-area yang kotor. Tampak sederhana namun tentunya bukan hal yang mudah dilakukan karena memerlukan ketelitian dan kesabaran ekstra agar hasilnya menjadi sempurna. Kabarnya diperlukan waktu 6 bulan lamanya untuk meretouch 448 halaman (7 jilid) komik ini.

Kerja keras yang dilakukan Erwin Prima dan komik indonesia.com ini tak sia-sia, hasil remastering komik yang telah berusia lebih dari 30 tahun ini berhasil membuat tampilannya lebih ‘muda’ dan modern. Karena dicetak diatas kertas art paper, maka tampilannya menjadi kinclong dan terkesan mewah. Dan yang pasti, secara fisik komik ini akan lebih tahan lama hingga puluhan tahun kedepan. Bisa dikatakan apa yang dilakukan oleh komik indonesia.com adalah mengabadikan salah satu mahakarya legenda komik Indonesia.

Namun semua usaha ini ada konsekuensinya, salah satunya adalah harga komik yang relatif mahal dibanding dicetak diatas kertas biasa. Komik Tuan Tanah Kedaung yang terdiri dari 7 jilid (@64 hal) ini dibandrol seharga 170 ribu rupiah. Bagi seorang kolektor komik mungkin masalah harga tak menjadi masalah, namun bagi pembaca awam, harga tersebut cukup membuat orang berpikir dua kali untuk membelinya. Namun jangan khawatir komik ini juga dicetak diatas kertas HVS biasa dengan harga yang terjangkau.

Beberapa pembaca komik-komik Ganes TH juga menyatakan keberatannya atas perubahan ejaan. Karena diganti dengan ejaan baru, maka ‘rasa’ Ganes TH yang aslinya menggunakan ejaan yang sesuai dengan zamannya menjadi hilang. Tapi ini mungkin suatu usaha kompromi yang diambil agar komik ini dapat dibaca dengan nyaman oleh pembaca muda. Penggantian tulisan tangan Ganes TH dengan computer juga patut disayangkan. Bukankah lettering pada komik merupakan hasil seni yang menyatu dengan gambar?

Terlepas dari semua itu. Usaha penerbitan ulang komik-komik lawas yang pernah menyihir jutaan pembaca komik Indonesia di masa lampau patutlah dihargai setinggi-tingginya. Setidaknya komik-komik lawas yang mungkin telah terlupakan atau bahkan tidak dikenal oleh generasi muda sekarang dapat kembali dibaca dan dinikmati.

Kehadiran komik-komik Indonesia yang sejaman dengan Ganes TH menawarkan sebuah nuansa baru baik dari segi cerita maupun gambar-gambarnya yang khas. Saat ini komik Indonesia banyak dipengaruhi oleh gaya manga jepang dan komik-komik Eropa. Apakah kisah dan goresan-goresan gambar Ganes TH dan komikus seangkatannya merupakan ciri khas komik Indonesia yang murni ? Inilah pertanyaan yang selalu muncul dalam benak saya.

@h_tanzil

sumber foto : http://erwinprima.multiply.com

8 comments:

irwandiaz said...

boleh tuh buku-bukunya di upload...
aku bagian ngedownload heuheuheu...

EGi said...

Jadi inget waktu aq msh kecil baca komik ini, seruuuu bgt

EGi said...

Jadi inget waktu aq msh kecil baca komik ini, seruuuu bgt

EGi said...

Jadi inget waktu aq msh kecil baca komik ini, seruuuu bgt

EGi said...

Jadi inget waktu aq msh kecil baca komik ini, seruuuu bgt

Ndaru Purnomo said...

saya bisa memaklumi kalau teks dialog dan narasi diketik ulang dengan komputer, karena sulitnya mempertahankan kualitas letter asli saat proses retouching... tapi semestinya ejaan asli tetap dipertahankan, letterlijk, apa adanya.

karena kebanyakan yang mencari komik remastering ini adalah para kolektor, yang niatnya bernostalgia, jadi sebisa mungkin biarkan apa adanya. tanpa ejaan aslinya, serasa ada yang hilang.

Bagus Leo said...

Komik Ganes TH sampe sekarang memang belum ada duanya..semua karyanya very good..!!

Bagus Leo said...

Komik karya Ganes TH, sampe skarang memang belum ada yang bisa nyaingin kehebatannya..very good