Tuesday, July 22, 2008

Vereeniging Toertistenverker Batavia (1908-1942)

Judul Buku : Vereeniging Toertistenverker Batavia (1908-1942)
Awal Turisme Modern di Hindia Belanda
Penulis : Achmad Sunjayadi
Penerbit : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI
Cetakan : Des 2007
Tebal : 143 hlm

Penelitian mengenai sejarah perkembangan turisme di Indonesia masih sangat jarang dilakukan. Belum banyak yang mengetahui bahwa perkembangan turisme modern di Indonesia diawali dengan dibentuknya sebuah perhimpunan turisme di Batavia pada 1908 yang bernama Vereeniging Toeristenverkeer (VTV).

Pengaruh VTV sebagai peletak dasar perturisan di Indonesia masih terasa hingga kini. Misalnya, beberapa obyek wisata yang diunggulkan dan cara-cara pemerintah Indonesia dalam mempromosikan obyek-obyek wisatanya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui VTV.

Apa yang mendasari terbentuknya VTV, bagaimana sejarah turisme modern berkembang di Indonesia, dan apa pengaruhnya bagi perkembangan kepariwisataan di Indonesia hingga kini? Semua jawaban atas pertanyaan diatas dapat ditemui pada buku ini yang sebenarnya diangkat dari tesis penulisnya dan telah dipertahankan di Program Studi Ilmu Sejarah Pascasarjana FIB UI.

Dalam buku ini dinyatakan bahwa turisme modern di Hindia Belanda pada awal abad ke-20 tidak terlepas dari perkembangan industri turisme di Eropa yang berkembang setelah industrialisasi menjelang pergantian abad. Selain itu dipicu pula oleh munculnya kelas masyarakat baru, yaitu kelas pengusaha yang memiliki penghasilan lebih dan ingin melepaskan diri sejenak dari kepenatan pekerjaan mereka.

Hindia Belanda yang pada masa itu merupakan salah satu koloni Belanda adalah salah satu tujuan para pelancong Eropa dan Amerika. Sebelum abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda melakukan pembatasan dan pengawasan kepada mereka yang hendak berkunjung ke Hindia Belanda. Ketertutupan ini menyebabkan Hindia Belanda menjadi wilayah yang misterius. Apa yang didengar oleh masyarakat Eropa tentang kehidupan di Hindia Belanda hanyalah berita mengenai wabah penyakit, bencana alam, perang antar suku, dan santet, namun keadaan seperti inilah yang justru semakin membangkitkan rasa penasaran para pelancong Eropa.

Barulah pada 1904 setelah Perang Aceh usai, pemerintah Hindia Belanda mulai membuka diri terhadap para pelancong Eropa. Jawa dianggap wilayah yang paling layak untuk dijadikan obyek yang memperlihatkan suatu wilayah yang telah dikuasai baik secara sosial, politik, ekonomi maupun budaya.

Karenanya pemerintah Hindia Belanda segera menjadikan wilayahnya sebagai daerah tujuan turisme. Hal ini ditandai dengan didirikannya perhimpunan turisme pertama Hindia Belanda yang dinamakan Vereeniging Toeristenverkeer (VTV) yang dibentuk dan diresmikan oleh Gubernur JenderaL Hindia Belanda, Van Heutsz pada tahun 1908.

VTV yang beranggotakan para pengusaha yang mempunyai hubungan dengan turisme (perusahaan transprotasi, perhotelan, pemilik toko, perbankan, dll) ini untuk pertama kalinya membuka kantornya di Batavia. Kantor ini bertugas untuk mempromosikan, memberikan informasi, dan membuat reklame turisme yang kemudian disebarkan baik di dalam maupun di luar negeri. Awalnya perhimpunan ini mengawali kegiatannya di Jawa, lalu meluas ke Bali, Sumatera, Kalimantan, hingga ke kepulauan Maluku.

Secara rinci buku ini memuat bagaimana usaha-usaha yang dilakukan oleh VTV dan pemerintah Belanda dalam mempromosikan obyek-obyek wisata di Hindia pada masa itu. Pembahasan buku ini memiliki lingkup rentang waktu antara 1900-1942 dengan lebih memfokuskan pada masa peranan VTV (1908-1942). Tak hanya itu, masa sebelumnya, yaitu antara 1850-1908 juga dibahas untuk mengetahui kondisi turisme sebelum didirikannya VTV di Hindia Belanda.

Periode 1850 dipilih sebagai patokan awal pembahasan buku ini karena tahun tersebut merupakan tahun munculnya turisme modern di dunia yang dirintis oleh Thomas Cook. Sementara tahun 1942 dipilih sebagai berakhirnya obyek penelitian penulisnya karena berdasarkan sumber-sumber yang ada, turisme di Hindia Belanda terganggu akibat masuknya Jepang dan diperkirakan di masa ini VTV otomatis tidak berfungsi.

Buku ini disajikan dalam empat bab, selain prolog dan epilog. Pada bab I diurai situasi turisme di Hindia Belanda, dan kebijakan pemerintah dalam hal turisme, khususnya di Jawa sebelum dibentuknya VTV.

Pada bab II, diketengahkan alasan-alasan pembentukan VTV dan bagaimana struktur organisasi, kegiatan-kegiatan promosi dan analisa jumlah turis setelah terbentuknya VTV. Selain itu dibahas pula mengenai kendala-kendala yang dihadapi dalam mengelola turisme di Hindia Belanda.

Peran VTV dan perkembangan turisme modern di Hindia dianalisa pada bab III. Hal-hal yang dibahas adalah promosi turisme sebegai representasi kolonial, pergeseran daerah turisme dari Jawa ke Bali, pembukaan jalur penerbangan pertama, profil para turis yang datang serta obyek-obyek wisata yang disarankan untuk dikunjungi.

Di Bab IV akan dikemukakan hasil analisa pengaruh VTV terhadap turisme modern di Jawa, serta pengaruh dan akibat turisme modern terhadap para neo priyayi pribumi melalui pembentukan VTV lalu dikaitkan dengan citra ‘Indonesia’ yang dibentuk oleh perhimpunan turisme ini.

Ada banyak hal yang menarik yang akan kita temui dalam buku ini. Antara lain akan
terungkap bahwa daerah-daerah yang paling sering dikunjungi para turis pada masa itu adalah obyek alam dan budaya, seperti daerah pegunungan di Priangan, Tosari di Jawa Timur,dll. Selain itu candi-candi Buddha dan Hindu seperti Borobudur, Prambanan, dan Mendut, juga merupakan lokasi yang paling sering dikunjungi.

Selain keindahan panorama alam dan budaya, VTV juga menjual ‘keprimitifan’ penduduk pribumi. Sehingga di tahun 20-an ketika Jawa semakin modern maka daerah tujuan wisata dialihkan ke Pulau Bali yang saat itu dianggap masih ‘asli’ dan kuno dibanding Jawa.

Tari-tarian daerah juga menarik perhatian para turis, contohnya ketika pada tahun 1889 pemerintah Hindia Belanda ikut dalam pameran Exposition Universelle di Paris-Perancis. Paviliun Hindia Belanda menampilkan para penari dari Jawa. Pertunjukan ini mendapat sambutan yang hangat karena para pengunjung dapat menyaksikan secara langsung para penari yang ‘separuh telanjang’ (hanya menggenakan kain sebatas dada) di muka umum. ‘Ketelanjangan’ di muka umum di masa itu merupakan hal yang luar biasa karena sebelumnya mereka hanya bisa melihat melalui lukisan dan kartu pos dari negeri Timur.

Masih banyak hal-hal menarik yang akan kita temui dalam buku ini. Diluar bagian yang membahas struktur organisasi VTV, bahasan lain dalam buku ini pastinya akan menarik baik bagi para sejarahwan maupun para pembaca awam yang ingin mengetahui lebih banyak tentang sejarah dan kondisi turisme di Indonesia di jaman Hindia Belanda. Walau buku ini pada awalnya merupakan sebuah tesis namun tak berarti buku jadi rumit dan susah dimengerti. Saya pribadi yang tidak memiliki latar pendidikan sejarah dapat membaca dan menikmati buku ini hingga tuntas.

Hingga tulisan ini dibuat, buku ini baru dicetak dan beredar secara terbatas di lingkungan kampus Fakultas Ilmu Budaya – Universitas Indonesia dan tidak diperdagangkan. Mungkin sudah waktunya buku ini dibaca oleh masyarakat luas, terlebih para pemerhati dan praktisi turisme di Indonesia, karena mungkin baru buku inilah yang membahas sejarah turisme di Indonesia dalam kurun waktu tertentu secara komprehensif.

Selain itu seperti yang diungkap oleh penulisnya, apa yang tersaji dalam buku ini diharapkan dapat memperkaya mozaik historiografi tentang sejarah turisme di Indonesia yang masih sangat kurang. Selain itu, buku ini diharapkan dapat mendudukkan sejarah turisme sebagai bagian dari historiografi Indonesia, mengingat adanya anggapan bahwa turisme di Indonesia belum lama berkembang. (hal xvii).

Sedikit catatan jika buku ini kemudian dicetak dan diterbitkan untuk umum, tentunya perlu diperbanyak lagi ilustrasi-ilustrasinya baik berupa gambar maupun kisah-kisah pengalaman para pelancong ketika mengunjungi Hindia Belanda di masa itu. Walau berupa kisah-kisah perjalanan yang remeh temeh, namun hal tersebut akan membuat buku ini menjadi lebih menarik dan lebih hidup lagi.

Untuk halaman-halaman yang berisi foto-foto dari majalah atau brosur di tahun 30-40an tentunya jika disajikan secara berwarna akan lebih menarik. Cover buku berupa foto hitam putih kantor VTV di Batavia saya rasa sudah sangat pas dengan pokok bahasannya dan menghadirkan nuansa masa lampau seperti yang dibahas dalam buku ini.

Selain itu walau agak diluar cakupan pembahasan buku ini, mungkin perlu pula sedikit disinggung mengenai organisasi turisme pertama di Indonesia yang dikelola oleh para bumiputera yang mungkin tumbuh bersamaan atau merupakan kelanjutan dari VTV setelah perkumpulan ini praktis bubar ketika kedatangan Jepang dan kemerdekaan Indonesia.

Sedikit tentang penulis

Achmad Sunjayadi, lahir di Jakarta 11 Mei 1973. Lulus dari Program Studi Belanda FSUI 1996. Setelah bekerja sebagai pengajar bahasa Belanda dan mengikuti kuliah di Dutch Studies, Universitiet Leiden, Belanda, pada 2003 ia melanjutkan studi Ilmu Sejarah di Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia dan lulus tahun 2006. Saat ini bekerja sebagai pengajar tetap di Program Studi Belanda FIB UI, dan beberapa tempat lainnya.

Tulisan-tulisannya kerap dipublikasikan di media-media cetak nasional, antara lain, Femina, Kompas, Seputar Indonesia, Ujung Pandang Express, de Volkskrat, dll. Karya-karya ilmiahnya juga telah dipublikasikan di berbagai jurnal dan media ilmiah.

Selain itu penulis juga telah menerjemahkan beberapa buku, antara lain Batavia Awal Abad XX – HCC Clockener Brousson (Komunitas Bambu, 2004), Lembah Kekal, Euwege Vallei: Sajak-sajak Sitor situmorang dalam bahasa Indonesia dan terjemahan bahasa Belanda (Komunitas Bambu & Kedutaan Besar Belanda, 2004), dan Melintas Dua Jaman: Kenangan tentang orang Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan, otobiografi Elien Utrecht. (Komunitas Bambu & NLPVF,2006)

Penulis juga aktif meresensi buku-buku bertema sejarah dalam blog bukunya : http://sunjayadi.com/

@h_tanzil

5 comments:

halexblue said...

Wah, gue tertarik banget nih. Beli di mana? Di Gramedia ada gak? Banyak istilah bahasa belanda gak di dalemnya? Harganya?
hehe, gue semangat kalo ada bau-bau bahasa belanda ma sejarahnya... Udah baca Berjuta-juta dari Deli? Keren loh...

halexblue said...

sori, gue baru baca yang terakhir. adi bukunya gak dijual bebas nih? yaah.. padahal keliatannya bagus tuh...

h_tanzil said...

ya, buku ini belum dicetak dan dijual secara bebas, tapi memang ada rencana untuk dicetak dan dijual untuk umum.

Berjuta-juta dari deli udah baca, udah saya tulis juga ulasannya di blog ini...

iqbal said...

salam kenal.
mas Tanzil, selamat ya tulisan anda dua minggu berturut-turut dimuat di koran tempo. kapan ya aku seperti anda? hiks..aku pengen meresensi dan dimuat biar banyak buku.
sekarang aku lagi belajar meresensi. silakan berkunjung ke blogku http://grundelan.blogspot.com/
sekian
terima kasih

irwan said...

wah masih baru rencana terbit ya pak, padahal lihat reviewnya pak Tanzil sudah kadung kesemsem