Monday, September 15, 2008

Di Negeri Penjajah

Judul : Di Negeri Penjajah (Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950)
Penulis : Harry A. Poeze
Penerjemah : Hazil Tanzil & Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit : KPG
Cetakan : I, Juli 2008
Tebal : X + 412 hlm ; 19.5 x 28 cm

Saat ini saya sedang membaca 2 buah buku sejarah, yang pertama buku terbitan Serambi “Indonesia Merdeka karena Amerika?” karya Francis Gouda dan satu lagi terbitan KPG , Di Negeri Penjajah karya Harry A. Poeze. Dua-duanya merupakan karya sejarahwan Belanda yang banyak menulis tentang Indonesia.

Saat ini saya hanya akan mengulas sedikit mengenai buku di Negeri Penjajah – Harry A. Poeze sejauh yang telah saya baca, yaitu hingga bab III , walau saya baru membaca seperempatnya saja, saya benar-benar puas dan banyak memperoleh hal-hal baru.

Sesuai dengan judulnya, buku karya Poeze ini membahas mengenai orang-orang Indonesia yang bermukim di negeri penjajah (Belanda) dalam kurun waktu hampir 350 tahun (1600-1949). Untuk itu Poeze membaginya secara kronologis waktu kedalam 7 bab :

1600-1898 : Utusan, Budak, Seorang PElukis, dan Beberapa Siswa
1898-1913 : Sejumlah Tokoh dan Rombongan
1913-1920 : Emansipasi dalam Kerjasama
1920-1930 : Nasionalisme dalam Isolasi
1930-1940 : Ke Arah Kerjasama yang Sadar
1940-1945 : ISolasi dan Solidaritas
1945-1949 : Berangsur Menjauh

Semua bab tersebut terangkum dalam buku setebal 412 halaman dengan ukuran buku besar 19,5 cm x 28 cm dimana tiap halamannya tersaji dalam dua kolom. Bisa dibayangkan setebal apa buku ini jika dicetak dalam ukuran buku biasa, mungkin bisa mencapai 1000 halaman lebih. Untungnya walau bukunya besar dan tebal, buku ini dicetak diatas kertas yang ringan, sehingga bisa dibaca lama tanpa takut tangan terasa pegal.

Dalam buku ini akan terekam profil, suka duka, dan pengalaman serta sepak terjang orang-orang Indonesia yang pernah merantau di Negeri Belanda dari 1600-1949. Uniknya tak hanya para elit kaum bangsawan terekam dalam buku ini, bahkan para seniman biasa hingga para babu tak luput dari penelitian Poeze untuk disajikan dalam buku ini.

Poeze menulis sepak terjang para tokoh-tokoh Indonesia dengan kalimat-kalimat yang enak dibaca dan mudah dipahami, selain itu agar pembaca data merasakan suasana periode yang dibahas dan memudahkan gambaran pembacanya, buku ini memuat lebih dari 150 bh foto, gambar-gambar, sajak-sajak, berita surat kabar atau majalah, teks pidato, kop majalah atau suratkabar, kartu undangan, kartu ucapan, hingga bon makanan.

Karenanya tak berlebihan kalau saya katakan bahwa buku ini merupakan buku yang sangat menarik yang wajib dimiliki oleh para pengamat dan pecinta sejarah Indonesia, karena bagaimanapun juga sebagian besar orang-orang yang disinggung dalam buku ini adalah para tokoh pembuat sejarah atau setidaknya yang memiliki persinggungan yang erat dengan sejarah Indonesia.

Pada bab awal buku ini akan terungkap bahwa kunjungan resmi pertama penduduk Nusantara dilakukan oleh utusan Sultan Aceh yang terdiri dari tiga orang, yaitu dutabesar Abdul Zamat, laksamana raja Seri Mohamat, dan kemenekannya Meras San. Mereka menumpang kapal Zeelandia dan Langhe Barcke diiringi lima orang pembantu, seorang juru bahasa, dan sejumlah pedagang Arab. Perutusan itu tiba di Zeeland – Belanda pada akhir Juli 1602.

Orang-orang Aceh itu disambut dengan penuh kehormatan oleh Pangeran Maurits. Dan peristiwa ini diabadikan dalam sebuah lukisan karya Mari ten Kate. Setelah tinggal di Belanda selama lima belas bulan dengan biaya dari VOC dan mengunjungi berbagai kota di Belanda, pada tahun 1603 merekapun pulang ke tanah air.

Sayangnya dutabesar Aceh, Abdul Zamat meninggal di usianya yang ke 71 di Middelburg pada tahun 1602. Uniknya, pemakamannya dilakukaan dengan mengikuti syariat Islam di Gereja Sint Pieters, sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dimana seorang muslim disemayamkan dan dimakamkan di sebuah gereja. Sebagai tanda peringatan, VOC juga mendirikan monumen untuk menghormati sang duta besar dari seberang lautan ini.

Berawal dari keddaatangan utusan raja, lalu kedatangan para anak-anak Ambon ketika VOC berhasil merebut Ambon, dan beberapa budak yang diperkejakan di Belanda, akhirnya muncul pula orang Indonesia yang pergi ke Belanda untuk menimba ilmu. Raden Saleh adalah salah seroang Indonesia pertama yang mendapat pendidikan modern di Belanda. Pada 1829 ia berlayar ke Negeri Belanda sebagai klerk Inspektur Keuangan De Linge. Setelah namanya tersohor sebagai pelukis Istana di Belanda dan tinggal di belna selama 22 tahun , ia pulang ke Jawa pada 1851.

Setelah Raden Saleh, berangsur-angsur datang juga orang Indonesia ke Belanda untuk belajar atau keperluan lain. Sebut saja Raden Mas Ismangoen Danoe Winoto yang merupakan orang Indonesia pertama yang menikmati pendidikan tinggi di Negeri belanda. Setelah lulus HBS ia diterima di Lembaga Bahasa, Sejarah, dan Antropologi Hindia-Belanda di Delft.

Ketika Politik Etis diberlakukan, maka hal ini semakin terbuka kesempatan orang-orang Indoensia untuk berangkat ke negeri Belanda untuk menimba ilmu. Sosrokartono (kakak kandung RA Kartini) adalah orang pertama dalam dalam rombngan orang Indoensia yang datang ke negeri belanda untuk belajar. Di Belanda Sosrotokartono dikenal sebagai orang Jawa yang tekemuka. Pada 1899 ia berbicara di depan konggres Ilmu Bahasa dan Sastra Belanda ke XXV, dan mendapat sambutan yang sangat meriah. Dan pidato tersebut tercatat merupakan penampilan terbuka pertama orang Indonesia di Eropa.

Selama di Belanda ia juga kerap menulis surat untuk adiknya RA Kartini, sayangnya surat-surat mereka tak ditemukan lagi hingga kini. Di Leiden Sosrokartono merupakan mahasiswa yang cemerlang dan dalam beberapa waktu saja ia telah menguasai duapuluh bahasa Timur dan Barat. Kelak ia memang merampungkan pendidikannya tapi tidak sampai mencapai promosi seperti yang direncanakannya.

Selama 29 tahun Sosrokartono hidup di negeri Belanda, diakhir petualangannya di Belanda ia dikabarkan terjerat hutang. Setelah meletusnya Perang Dunia pertama ia menjadi koresponden New York Herald (Tribune), dan ia merupakan satu-satunya wartawan perang yang berasal dari Indonesia. Setelah Perang, ia bekerja sebagai penerjemah di Wina, Den Haag, dan di PBB - Jenewa. Baru pada 1925 ia kembali ke Indonesia dan memperoleh nama besar sebagai filsuf mistis Jawa.

(bersambung)

@h_tanzil

3 comments:

yulibean said...

Buku ini udah aku incar kemaren, sayangnya karena ketebalannya yang menggiurkan tidak memungkinkan untuk dimuat dalam backpack-ku akhirnya kutinggalkanlah buku ini dengan tidak rela

Bau Bau Kota Semerbak said...

Wah ini juga tidak kalah bagusnya, ayo buruan baca walaupun tebal tapi oke punya deh

www.sampara.com

sanggita said...

Soul dalam buku ini akan lebih terjiwai jika sudah membaca buku-buku Pram ya.