Monday, November 03, 2008

The 7 Laws of Happiness

Judul : The 7 Laws of Happiness
Penulis : Arvan Pradiansyah
Editor : Budhyastuti R.H.
Penerbit : Kaifa
Cetakan : I, Sept 2008
Tebal 428 hl, ; 23.5 cm

Bisa dipastikan semua manusia menginginkan hidupnya bahagia. Namun masalahnya kebahagiaan tidak datang dengan begitu saja. Harus ada usaha untuk memperoleh kebahagiaan. Karenanya banyak cara yang dilakukan untuk memperoleh kebahagiaan, ada yang mencari bahagia dengan kesenangan atau hobi, ada pula yang mencarinya dengan mengejar kesuksesan karena diyakini bahwa kesuksesan akan membawanya pada kekayaan dan kekayaan akan membuatnya bahagia.

Namun kesenangan atau hobi hanya membuat kita bahagia saat kita melakukan aktifitas hobi kita, setelah itu kita kembali pada persoalan hidup yang menghimpit kita dan membuat kita tidak bahagia. Kesuksesan dan kekayaan tak menjamin kita hidup bahagia. Kita sering mendengar orang-orang yang berada dalam puncak kesuksesannya ternyata mengalami depresi yang begitu dalam. Lalu dimanakah dan apa yang sebenarnya membuat kita bahagia ?

Arvan Pradiansyah, penulis buku-buku motivasi You Are a Leader! (2003), Life is Beautiful (2004), dan Cherish Every Moment (2007), dalam buku terbarunya mencoba mengungkap rahasia memperoleh kebahagiaan. Berdasarkan pengalamannya dalam memberikan training-training motivasi ia meyakini bahwa untuk mencapai kebahagiaan maka yang harus kita lakukan adalah dengan cara memilih pikiran yang positif.

Jadi, kunci memperoleh kebahagiaan sebenarnya ada dalam pikiran kita dan sangat tergantung ada pikiran yang kita pilih. Apabila kita memilih pikiran negatif, seluruh diri ktia menjadi negatif. Sebaliknya, jika memilih pikiran positif, kita akan senantiasa dienuhi oleh rasa bahagia. Karenanya kita harus menguasai pikiran kita, melatih, dan mengisi pikiran kita dengan hal-hal positif.

Bagaimana cara melatih dan menguasai pikiran kita ? Dalam buku ini Arvan memberikan suatu rumusan rahasia yang sistematis yang disebutnya sebagai The 7 Laws of Happines. Ketujuh rahasianya tersebut dibagi dalam tiga kelompok besar. Tiga rahasia pertama berkaitan dengan diri kita sendiri, yaitu Patience (Sabar), Gratefulness (Syukur), dan Simplicity (Sederhana). Tiga rahasia berikutnya berkaitan dengan hubungan kita dengan orang lain, yaitu Love (Kasih), G(Memberi), dan Forgiving (Memaafkan). Satu rahasia terakhir berkaitan dengan Tuhan, yaitu Surender (Pasrah).

Sekilas rumusan yang dipaparkan Arvan memang mirip dengan karya terkenal Stephen R. Covey, The 7 Habits for Highly Effective People. Seperti yang diakui oleh Arvan dalam buku ini, rumusannya sedikit banyak terinspirasi oleh buku terkenal Covey tersebut, namun jika ditelaah lebih dalam, terdapat perbedaan antara 7 Habits dengan The 7 Laws. Bahkan dapat dikatakan bahwa The 7 Laws dapat dilihat sebagai kelanjutan perjalanan kemanusiaan kita yang telah diawali oleh The 7 Habits.

Jadi The 7 Laws of Hapiness adalah pelatihan pikiran yang sistematis dan sebuah metode untuk menumbuhkan kebagiaan dengan cara memilih pikiran positif dan memfokuskan perhaitan pada pikiran positif tersebut. The 7 Laws melatih kita untuk menyaring dan memilih pikiran-pikiran positif dan melatih kita untuk membuang pikiran-pikiran negatif yang masuk ke kepala kita dan menggantinya dengan pikiran-pikiran yang sehat dan bergizi.

Salah satu cara mengisi pikiran kita dengan hal yang positif yaitu dengan cara menghindari bacaan dan tontonan yang berdampak negatif. Arvan tampaknya sangat prihatin dan geram dengan gempuran media masa baik media cetak, maupun televisi umumnya memberi kontribusi negatif pada pikiran kita. Secara terang-terangan dia memberi contoh salah satu acara TV yang merusak pikiran kita. Arvan mengkritik acara Empat Mata yang dipandu Tukul Arwana. Bahkan ia secara terang-terangan mengatakan bahwa acara tersebut sebenarnya hanyalah berisi sampah karena selalu menertawakan orang lain dan sering menggunakan kata-kata kasar seperti “bukan manusia”, “seperti monyet”, “keturunan iblis”, dan sebagainya. Bagi Arvan acara seperti ini akan semakin menghilangkan rasa kasih (rahasia ke 4 dalam The 7 Laws) dalam diri kita karena tanpa disadari, kata-kata negative Tukul akan meresap dalam pikiran kita jika kita terus menonton acara tersebut.

Berbeda dengan buku-buku Arvan sebelumnya yang merupakan kumpulan tulisannya di berbagai media. Maka bukunya kali ini merupakan hasil pemikirannya yang utuh dan sistematis. Apa yang dikemukakannya disajikan dengan sederhana dan mudah diingiat karena ketujuh rahasia bahagia itu diilustrasikan dalam bentuk bangunan sebuah rumah. Dalam paparannya Arvan tak hanya memberikan teori-teori yang mengawang-awang, melainkan diungkapkan dengan gaya yang bersahaja, mudah dipahami dan menggugah kesadaran pembacanya akan apa yang mungkin selama ini terlupakan.

Banyak contoh-contoh yang sederhana namun memberi banyak pelajaran berharga. Umumnya apa yang diungkapkannya dalam buku ini kita semua sudah mengetahuinya, namun dengan membaca buku ini seolah kita dibangunkan dari tidur panjang kita dan disadarkan akan berbagai pikiran negatif yang mungkin secara tidak kita sadari terus kita pelihara dalam pikiran kita sehingga membuat kita tidak bahagia.

Bagi saya hal yang paling menarik dalam The 7 Laws adalah bagaimana Arvan mentutup rahasia memperoleh kebahagiaan dengan prinsip Surender (Pasrah). Dengan gamblang Arvan mengungkapkan bahwa setelah melalui enam rahasia untuk mencapai kebahagiaan, kebahagiaan belum akan tercapai sebelum kita menjalankan rahasia yang ketujuh, yaitu Surender (Pasrah). Pasrah adalah kunci dari semua perjalanan kita , sebuah kata pamungkas bahwa di atas segala usaha dan kemampuan kita ada satu kekuatan yang berada di atas segala kekuatan dimana kita bergantung sepenuhnya pada kekuatan tersebut, yaitu Tuhan Yang Mahakuasa. Inilah yang mungkin membedakan Arvan dengan penganut aliran-aliran positif thinking lainnya yang terkadang hanya menonjolkan kekuatan manusia untuk memilih pikiran yang positif untuk memperoleh kebahagiaan.

Buku ini juga dikemas dengan menarik, mulai dari pilihan font yang nyaman untuk dibaca, ilustrasi yang menarik, layout halaman dalam yang dinamis, membuat buku ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Selain itu, karena buku ini mengajak pembacanya untuk memperoleh kebahagiaan , tampaknya buku ini sangat pantas untuk dijadikan sebagai kado bagi sahabat, rekan kerja, dan orang-orang yang kita kasihi. Buku ini juga tampaknya tak cukup dibaca hanya satu kali saja. Seperti yang diungkap Arvan bahwa ketujuh rahasia hidup bahagia ini harus sering dipraktekkan dan dilatih secara berulang-ulang. Seiring berjalannya waktu, mungkin kita mulai kendor dalam mengelola pikiran kita, kita mulai merasa tak bahagia kembali, mungkin saat itulah buku ini perlu dibaca ulang kembali.



@h_tanzil

6 comments:

budi said...

hallo mas tanzil, salam kenal.

bagus nih buku kayaknya ya. hukum2 kebahagiaan. itu yang orang tuju dalam hidup

mnta ijin link ke blog saya ya mas.

http://tipsbisnisuang.wordpress.com
mkasih

amorningdew said...

Mas Tanzil, minta ijin mengutip tulisan Mas Tanzil di blog saya :)

Terimakasih

Ning

h_tanzil said...

silahkan-silahkan dikutip jika dirasa perlu...:)

fikr_forbis said...

setuju!!!

Pasrah menjadi instrumen juga.....^^

salam dahsyat!!!!!!!

Technology News said...

salam kenal mas, banyak juga ya buku yang udah dibaca, gimana caranya ningkatin minat baca ya? ^^

http://thegreatmobilephones.blogspot.com

Aang Angraini said...

Mirip 7 Habits for Highly Effective people. This is 7 Laws for Happines. Cheers every moments