Friday, February 06, 2009

Old Surehand 1 : Oase di Llano Estecado

Judul : Old Surehand 1 - Oase di Llano Estecado
Penulis : Karl May
Penerjemah :
Primadiana Hermila Wijayanti (koord)
Ani Inataliza
Diah Puspita W
Eli Puji Setyowati
Lilis Afifah
Nasirotussa'dyah
Widyana Ika Rosidah
Penyunting :
Andrea K. Iskandar
Pandu Ganesa
Penerbit : Pustaka Primatama & PKMI
Cetakan : I, Nov 2008
Tebal : x + 534 hlm

Old Shatterhand dan Winnetou adalah superhero di dunia wild west Amerika di abad ke 19. Walau telah berusia ratusan tahun sejak pertama kali muncul, tokoh fiksi ciptakan maestro kisah petualangan Karl May ini tampaknya tetap akan abadi dan terus hidup di hati para penggemarnya dari generasi ke generasi. Buku-bukunya dengan beragam versi terus dicetak dalam berbagai bahasa dunia. Demikian juga di Indonesia, kisah Old Shatterhand / Kara Ben Nemsi & Winneotu yang pernah populer dan menjadi bacaan para pejuang kemerdekaan kita (Hatta, Hario Kecik, Syahrir ) kini secara kontinyu diterbitkan ulang oleh Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI) dan Pustaka Primatama (Puspri).

Kali ini setelah menerbitkan seri Winneotu (Win I-IV, Anak Pemburu Beruang, Hantu di Llano Estecado) dan seri Kara Ben Nemsi (I-III), PKMI kini menerbitkan sebuah lagi serial Winnetou yang berjudul Old Surehand 1 : Oase di Llano Estacado.

Dalam petualangannya kali ini, Old Shatterhand dikisahkan mendapat pesan tertulis dari Winnetou yang sedang dalam perjalanan untuk menyelamatkan seorang westman, ‘Blody Fox’ yang hendak diserang oleh suku Indian Comanche. Selagi hendak menyusul Winnteou ia bertemu dengan Fred Cutter alias Old Wable, koboi tua yang juga dikenal dengan “King of Cowboys”. Dari penuturan Old Wable diketahui bahwa Old Surehand, seorang westman yang terkenal karena kemahirannya dalam menembak sasaran. telah tertangkap oleh sekelompok Indian Comanche. Akhirnya Old Shatterhand, Old Wabble dan beberapa temannya menyusun strategi untuk menyelamatkan Old Surehand.

Setelah Old Surehand berhasil diselamatkan, mereka bersama-sama menyusul Winnetou menuju tempat persembunyian Blody Fox di sebuah oase di Llano Estacado. Bukan perjalanan yang mudah karena mereka harus menaklukkan ganasnya gurun pasir Llano Estacado yang karena selain luas dan sulitnya memperoleh air, Llano Estacado juga dikuasai oleh para penyamun yang sering menyesatkan orang-orang yang lewat dengan mengubah tonggak2 penunjuk arah. Para penyamun yang dikenal dengan istilah ‘Stakeman’ itu kerap menjarah harta benda sang korban dan tak segan membunuh korbannya atau meninggalkan korbannya hingga mati kehausan.

Dari berbagai penyelidikan yang dilakukan Old Shatterhand, diketahui bahwa selain hendak menyerang Bloddy Fox, orang-orang Coamnche juga berencana menyerang sekelompok pasukan kaveleri dengan cara membuat mereka tersesat di padang tandus Llano Estecado lalu mengepungnya ketika pasukan tersebut sedang tersesat dan kehausan.

Begitu mengetahui rencana tersebut, Old Shattehand menyusun strategi jitu. Tanpa disadari oleh orang-orang Comanche, Old Shatterhand dan kawan-kawannya berusaha memutarbalikkan keadaan, mereka berencana membuat orang-orang Comanche itulah yang akan masuk perangkap dengan membawa mereka memasuki padang kaktus yang luas. Dan disitulah Old Shatterhand dan kawan-kawannya berserta pasukan Apache pimpinan Winneotu akan berhadapan langsung dengan suku Comanche.

Seperti biasa Karl May meramu kisah petualangan Old Shatterhand dan Winnetou dengan sangat menarik. Namun jangan menduga buku ini akan dipenuhi adegan-adegan pertempuran layaknya kisah dalam film-film koboy Hollywood. Old Shatterhand & Winnetou yang cinta damai selalu lebih mengutamakan perundingan dengan musuh-musuhnya dibanding harus angkat senjata dan menimbulkan banyak korban yang tidak perlu. Jadi yang menarik dalam buku ini bukanlah serunya pertempuran berdarah-darah antara kulit putih dan suku Indian melainkan bagaimana pembaca diajak memahami berbagai strategi cerdas Old Shatterhand & Winnetou dalam mengalahkan musuh tanpa perlu mengeluarkan satu pelurupun.

Selain menyuguhkan kisah petualangan yang menarik buku ini juga menyelipkan dialog-dialog bertema kemanusiaan dan spiritual sehingga bisa dikatakan buku ini merupakan kisah petualangan dengan nilai moral dan religiuitas yang tinggi. Bertemunya Old shatterhand dengan Old Wabble yang ceroboh, atheis, dan rasis dalam sebuah misi yang sama tentunya membuat perjalanan mereka sarat dengan konflik. Karl May tampaknya sengaja menyandingkan Old Shatterhand dengan Old Wabble agar ia bisa menghadirkan sebuah dialog yang bertema kemusiaan, rasialisme dan religi.

Misalnya ketika Old Wable yang atheis menantang Shatterhand untuk membuktikan keberadaan Tuhan, maka Shatterhand berujar,

“Sebagaimana yang tertulis di Alkitab, sulit bagi Anda untuk tetap berpegang teguh kepada keyakinan Anda. Saya yakin pada suatu saat Tuhan akan menunjukkan sebuah bukti nyata kepada Anda. Bukti itu lebih kuat daripada keyakinan Anda sehingga membuat Anda putus asa. Satu-satunya yang dapat menolong Anda adalah doa. Semoga Tuhan memberkati dan mengasihi Anda, meskipun Anda tidak percaya dan berdoa kepada-Nya.” (hal 319)

Tampaknya usaha Karl May untuk menyelipkan dialog-dialog religi dan kemanusiaan bukan hanya sekedar tempelan belaka, hal ini terbukti untuk episode dialognya dengan Old Wable dalam masalah keTuhanan saja dibutuhkan 14 halaman penuh!

Dalam buku ini Karl May juga menyinggung masalah rasialisme. Di masa itu kedudukan orang kulit hitam menempati strata terbawah, lebih rendah dari orang-orang berkulit merah (Indian). Dikisahkan Bob, seorang negro yang merupakan sahabat Blody Fox tertangkap oleh suku Comanche. Tanpa pandang bulu Shatterhand berniat membebaskan Bob, suatu hal yang dianggap aneh dan ditentang oleh Old Wable. Dengan nada penuh ejekan Old Wable mengatakan bahwa :

“Seorang nigger adalah mahluk rendah sehinga tidak ada gunanya membicarakan mereka.” “ Orang kulit berwarna sama sekali bukan manusia sejati, kalau tidak Tuhan akan menciptakannya sebagai kulitputih!” (hal 190)

Dan, apa kata Old Shatterhand untuk menyangkal pandangan Old Wabble ?

“Sebaliknya dengan hak yang sama besarnya, seorang negro dapat juga mengatakan demikian: orang kulit putih sama sekali bukan manusia sejati, kalau tidak Tuhan akan menciptakannya sebagai kulit hitam. Saya pernah berkeliling dunia dan bertemu dengan orang-orang kulit hitam, coklat, merah, dan kuning. Setidaknya mereka sama baiknya seperti orang kulit putih” (hal 190)

“Semua manusia adalah ciptaan dan anak-anak Tuhan dan jika Anda menganggap bahwa Ia telah menciptakan Anda dari zat-zat yan paling bagus dan Anda adalah mahluk kesayangannya maka pemikiran Anda itu keliru dan sama sekali tidak dapat diterima.” (hal 191)

Masih banyak hal menarik yang akan kita temui dalam buku ini. Tokoh Old Surehand dengan masa lalu yang misterius membuat pembaca penasaran akan siapa sebenarnya Old Surehand ini. Dengan mahir Karl May membuka sedikit demi sedikit identitas Old Surehand. Kemunculan Apanatskha seorang Indian Comanche yang memiliki fisik yang mirip dengan Old Surehand, dan pertemuan Old Shatterhand dengan ibu Apatskha yang memberinya beberapa petunjuk terselubung membuat pembaca bertanya-tanya apakah mereka mungkin bersaudara ?

Di penghujung kisah Old Surehand 1 ini Karl May masih menyisakan kejutan bagi pembacanya, senapan lagendaris (Senapan Henry, senapan pemburu beruang, dan senapan perak) milik Shaterhand dan Winnetou ini hilang entah kemana. Bagaimana mungkin? Apakah Shaterhand dan Winnetou akan berhasil mendapatkan senapannya kembali?

Ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab ketika kisah Old Surehand 1 harus berakhir, namun jangan khawatir karena kisahnya masih berlanjut di buku keduanya yang berjudul Old Surehand II : Di Jeferson City, dan Old Surehand III : Di Gunung Setan yang kedua-duanya masih dalam proses terjemahan. (OS II sudah selesai diterjemahkan, tinggal finishing, OS III sudah diterjemahkan sebagian).

Tentunya akan sangat menarik kalau kita bisa menuntaskan membaca trilogi Old Surehand ini dalam waktu yang tidak terlalu lama semenjak diterbitkannya buku ini. Kisah perualangan yang bercampur dengan tema kemanusiaan dan religi ini membuat seri ini banyak mendapat pujian dan bahkan bisa dikatakan merupakan salah satu masterpiece dari Karl May. Memang sosok tokoh-tokoh baik (Shatterhand, Winnetou, Old Surehand) dalam karya ini bisa dikatakan sangat ideal, sulit rasanya menemukan sosok seideal dan sebaik mereka dalam dunia nyata. Namun disinilah kelebihannya, bukankah di tengah dunia yang serba abu-abu ini kita masih memerlukan patron ideal seperti Old Shatterhand dan Winnetou ?

Saya telah berbicara. Howgh!

Sejarah Penerbitan

Old Surehand I ditulis oleh Karl May setahun setelah diterbitkannya Winneotu I (1893). Seperti sebagaian besar karya-karya Karl May, Old Surehand I ditulis dalam bentuk cerita bersambung di media sejak September 1894, dan langsung dijadikan buku begitu serialnya berakhir. Tanpa direncanakan sebelumnya akhirnya kisahnya terus menyambung hingga menjadi 3 seri.

Old Surehand sendiri sebenarnya merupakan kisah sambungan dari Hantu Llano Estecado (1890) walau dalam jilid pertamanya ini Karl May lebih banyak berbicara tentang tokoh lain seperti Old Wabble yang ditafsirkan orang sebagai representasi masa lalu si pengarang yang gelap. Untuk pertama kalinya juga Karl May menyampaikan pandangan-pandangan tentang religiutas yang kentara. Hal ini tak ditemui dalam karya-karya Karl May yang lain
Old Surehand I pernah diterbitkan oleh penerbit Pradnya Paramita pada tahun 60-an dengan judul Llano Etecado.

Saat itu penerbit menerjemahkan buku ini dari versi Belanda yang merupakan versi ringkasan dari buku aslinya yang dilakukan oleh Editor Belanda. Mungkin karena versi ringkasannya itu ditujukan untuk pembaca remaja maka buku ini mengalami banyak penyunatan sehingga misi penulisnya tentang persahabatan, kemanusiaan, dan keTuhanan tak tersampaikan dan hanya menyisakan kisah petualangannya saja. Kini, hampir 40 tahun kemudian buku ini diterbitkan kembali langsung dari versi aslinya yang berbahasa Jerman. Karenanya orisinalitas dan esensi kepenulisan Karl May seperti yang telah disinggung diatas tetap terjaga.

Berbeda dengan penerbitan-penerbitan terdahulu, kali ini buku Old Surehand 1 dicetak berdasarkan sistem Print on Demand (PoD) yang dapat dipesan di situs www.tokowinneotu.com karenanya jangan heran jika buku ini tak terdapat di toko-toko buku. Bagi yang berminat tinggal melakukan pembelian secara onlen dan penerbit akan mencetak dan mengirimkannya langsung ke rumah-rumah pembelinya.

Sistem ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya. Bagi mereka yang tidak memiliki akses internet tentu saja akan mengalami kesulitan untuk mengetahui dan memperoleh buku ini. Karenanya diperlukan usaha keras bagi penerbit dan para pegiat komunitas PKMI untuk menginformasikan kehadiran buku ini pada masyarakat luas agar misi perdamaian, kemanusiaan, dan religiutas yang tersirat dalam buku ini bisa tersampaikan ke seluruh lapisan masyarakat Indoensia.

@h_tanzil

4 comments:

Fanda said...

Wah, thx berat atas reviewnya. Aku pecinta buku Karl May, terutama Winnetou. Aku sampe nangis waktu bc Winnetou 4 pas Winnetou gugur. Pengen rasanya baca tentang sosok Winnetou lg, dengan kebijaksanaannya yg tak tertandingi. Aku bakal lgs pesen nih. Apa seri 2 n 3-nya sdh bisa dicetakkan jg? Biar sekalian belinya

h_tanzil said...

belum, Old surehand 2 & 3 belum selesai, masih dalam tahap finishing. Tapi dalamw aktu dekat akan ada seri winnetou lain yang akan diterbitkan.

Untuk informasi lengkapnya silahkan gabung di milis indokarlmay@yahoogroups.com

benarmawi said...

Tq. Saya telah membaca buku-buku ini di penghujung SR (sekolah rakjat) dan/atau awal smp tahun 1960-an awal, mengasikkan dan sampai saat ini masih membekas di hati. Tapi ketika saya baca lagi akhir-akhir ini terasa ada ganjalan di hati! Sesuatu yang jauuuh berbeda. Apakah 'gaya" bahasa saat itu atau hati yang sudah tua saat ini? Entahlah... tapi mengingat kembali petualangan dahulu... indah memang!

moratmarit said...

Makasih atas reviewnya..
Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang