Monday, April 06, 2009

Kepleset!

Judul : Kepleset! Gerundelan Tentang Gaya Hidup
Penulis : Regina Kencana
Editor : Chusnato
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Maret 2009
Tebal : 99 hlm

Sejak paham globalisasi muncul di tahun 90-an kita diperkenalkan dengan dengan berbagai produk gaya hidup sehari-hari. Mau tak mau tentunya hal ini berpengaruh pada pada gaya hidup masyarakat. Berbagai produk dan merek-merek terkenal kelas dunia mulai dari pakaian, aksesori, hingga makanan kini semakin dikenal oleh masyarakat luas. Hampir semua produk kehilangan ciri khas lokal karena mencoba meniru atau dimirip-miripkan dengan merek-merek kelas dunia.

Contoh paling mudah ditemui adalah dalam hal berpakaian. Kini semakin banyak orang yang ingin tampil gaya dan mendunia. Salah satunya tentu saja dengan gaya berbusana dengan memakai brand atau merek-merek terkenal kelas dunia. Rasanya kalau menggenakan baju, sepatu, tas, dll yang bermerek kita akan semakin pe de. Bagi mereka yang berduit mereka rela membelanjakan uangnya untuk membeli barang-barang dengan merek terkenal hingga ke luar negeri, tapi bagi mereka yang pas-pasan cukuplah dengan membeli merek ‘aspal’ yang penting kalau dilihat tampak mirip dan bisa dipakai untuk bergaya.

Selain soal fashion, dalam berbisnis pun ada yang menggunakan brand terkenal agar menarik minat orang untuk membelinya. Ada yang rela merogoh kantung dalam-dalam agar bisa membeli right dari merek kelas dunia, misalnya di bidang kuliner kita mengenal Bread Talk, Starbuck, Kentucky Fried Chicken, dll. Jika right tak terbeli maka disiasati dengan menggunakan ‘plesetan’ dari merk-merk terkenal dengan logo yang mirip dengan yang aslinya.

Begitupun dalam spanduk-spanduk pinggir jalan atau papan-papan informasi yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan, biar gaya dan terkesan intelek, biasanya digunakan kata-kata dalam bahasa inggris, namun sayangnya banyak yang asal-asalan sehingga kalau dibaca secara jeli bisa jadi hal-hal yang lucu dan jauh dari arti yang sesungguhnya.

Awalnya, Regina Kencana, yang memiliki latar pendidikan di jurusan Fashion Design and Pattern Making dan pernah bekerja sebagai Fasshion Editor a+ magazine (2005-2009) secara iseng memfoto berbagai merek-merek ‘aspal’ dan istilah-istilah inggris yang ditemui dalam kesehariannya dalam sebuah blog yang dinamainya http://serasasekali.blogspot.com

Blog yang dikelolanya sejak tahun 2007 ini praktis hanya berisi foto-foto merek-merek plesetan dan merek terkenal dan spanduk-spanduk lucu di pinggir-pinggir jalan, dengan sedikit komentar, lengkap dengan lokasi dimana dia memperoleh foto tersebut. Mulai dari sandal milik keluarganya di rak sepatu rumahnya, baju-baju di Pasar Baru Jakarta, menu makanan di sebuah restoran di Kemang, toko elektronik di M Plaza, otlet-outlet di Bandung, hingga papan-papan reklame di Solo, semua tak luput dari pengamatannya.

Keunikan, kelucuan, dan keganjilan dari 80 foto-foto yang ditampilkan Regina dalam blognya ini rupanya menarik salah seorang kawannya, Chusnato (jurnalis) yang mencoba menggelitik penerbit Gramedia untuk membukukan blognya hingga akhirnya terbitlah sebuah buku yang berjudul Kepleset! – Gerundelan Tentang Gaya Hidup.

Jika dalam blog-nya semua foto-fotonya disusun berdasarkan kronologis waktu pememotretan, maka dalam bukunya ini Regina membagi foto-fotonya kedalam 4 bab. Bab pertama yang berjudul Barang Palsu Bukan Asli menyajikan foto-foto berbagai barang / produk fashion hingga minuman yang merek-nya merupakan plesetan dari merk-merk terkenal, misalnya reguess, adilas, es seprit, dll.

Di bab kedua, Impossible (Enggak Mungkin Tapi Mungkin), Regina menyajikan merek-merek aneh misalnya sandal merek Nokia, sepatu merek Oprah Winfrey, dll. Di Bab tiga, Refeksi atau Kepribadian Ganda kita akan menemui hal-hal ganjil seperti merek obat untuk memperbesar tanaman umbi-umbian yang diberi nama Mc.Errot atau nama kedai martabak Martabuck’s. Sebagai bab penutup yang berjudul Hikayat Sang Huruf, buku ini mengungkapkan berbagai salah cetak, kemiripan bunyi, salah sablon, dll yang terdapat di spanduk-spanduk reklame yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan hinggal mall-mall terkenal.

Selain berisi foto-foto lucu dan ganjil, buku ini juga dilengkapi dengan berbagai tanya jawab seperti bagaimana cara membedakan produk asli dan palsu, soal gaya berbusana, membedakan bahan yang bagus dan tidak, cara membaca merek fashion terkenal hingga 10 anak tangga tingkat keberbahayaan barang palsu. Kesemua artikel-artikel tambahan tentunya memberikan nilai tambah bagi pembacanya, sehingga buku ini tidak hanya sekedar menghibur dan mengungkap hal-hal ganjil yang berkaitan dengan merek sebuah produk.

Buku yang dikemas dengan menarik, dicetak diatas kertas art paper yang mengkilat sehingga semua foto-foto berwarnanya tersaji dengan jelas memang bukan sekedar buku yang menghibur, setidaknya mengerengahkan gerundelan hidup tentang gaya hidup dan menyadarkan kita bahwa dunia kita kini dibanjiri oleh barang-barang aspal dengan berbagai merek yang aneh-aneh dan lucu.
Selain itu buku ini juga memberikan gambaran yang kuat bahwa dunia keterpukauan kita terhadap merek-merek terkenal telah begitu merasuki gaya hidup kita sehingga berbagai cara dilakukan agar kita dapat menggenakan merek-merek terkenal itu.

Bagi produsen, harga yang mahal untuk memperoleh right dari merek-merek dunia disiasati dengan membuat merek yang mirip-mirip dengan aslinya. Berharap konsumen kepleset seolah telah membeli produk kelas dunia. Konsumen mungkin ada yang terpeleset oleh siasat produsen, namun tak jarang konsumen secara sadar terpeleset untuk memakai barang-barang aspal, yang penting mirip dan bisa bergaya. Akhirnya memang kita semua terpeleset agar bisa tampil gaya demi gengsi dan untuk menaikkan status sosial kita sebagai warga dunia. Karennya bersiaplah untuk mentertawai diri kita sendiri dalam buku ini, karena siapa tahu kitapun telah terpeleset agar bisa tampil makin gaya.

@h_tanzil

1 comment:

ryakair said...

media saat ini, kadang memang membuat pendangkalan pada pemahaman manusia, khusunya fashion dan term "modern", katanya. Sepertinya buku yang menarik, meski dijiplak (baca: dipleset), tapi dari sinilah industri kreatif muncul... nice review:)