Saturday, August 08, 2009

Dream From My Father : Pergulatan Hidup Obama

Judul : Dream From My Father - Pergulatan Hidup Obama
Penulis : Barack Obama
Penerjemah : Miftahul Janah, dkk
Penerbit : Mizan Pustaka
Cetakan : I, Mei 2009
Tebal : 493 hlm

Gegap gempita terpilihnya Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat ke 44 sudah berakhir, namun hingga kini kisah kehidupan Barack Obama tetap diminati oleh banyak orang. Latar belakang keluarganya yang berasal dari Afrika, dan perjuangan Obama meraih impiannya untuk menjadi orang nomor satu di sebuah negara adidaya yang dalam kultur dan sejarahnya telah mengesampingkan kaum minoritas kulit hitam menjadi kisah yang mampu menginspirasi banyak orang.

Obama tak hanya menginpirasi dan menjadi tumpuan harapan warga kulit hitam di negara asalnya, spirit perjuangan Obama meluber melampaui batas-batas negara. Tak hanya Amerika yang bangga, kemenangannya juga dirayakan di kampung halamannya di Kenya, Afika ikut berpesta, Asia dan negara-negara di Timur Tengah ikut lega. Rakyat Indonesia yang memiliki kedekatan emosional dengan Obama pun ikut terharu karena setidaknya Jakarta, khususnya kawasan Menteng pernah ikut membentuk kepribadian Obama hingga ia menjadi seperti sekarang ini.

Nama Obama kini tercatat dalam sejarah sebagai Presiden Amerika pertama yang berasal dari kalangan kulit berwarna. Ia kini telah mencapai puncak tertinggi dalam karier politiknya. Namun tak banyak yang tahu bagaimana proses yang harus dilalui oleh Obama hingga ia menjadi seorang tokoh yang besar dan berpengaruh seperti saat ini. Melalui buku The Dream From My Father inilah semua perjuangan Obama semenjak kecil hingga ia memulai kariernya di bidang politik akan terpapar dengan jujur, gamblang, dan apa adanya.

Dalam The Dream From My Father Obama membagi kisah hidupannya dalam tiga bagian besar berdasarkan wilayah geografis dimana ia dibesarkan. Bagian Satu : Asal Usul menuturkan kehidupan Obama kecil di Indonesia, masa remajanya Hawai, Los Angeles hingga New York. Bagian Dua : Chicago, tentang embrio politiknya sebagai pekerja sosial di Chicago, dan Bagian Tiga : Kenya, mengenai perjalanan Omaba ketika menyusuri akar keluarganya di kampung halamannya di Kenya.

Ketiga bagian tersebut ditulis dengan runut dan detail. Di bagian pertama ada sebuah bab yang diberinya judul : Indonesia. Kenangan akan Indonesia tampak begitu melekat di hatinya, sayangnya hal yang paling diingatnya adalah pandangannya bahwa Indonesia adalah negara miskin. Di sekujur buku ini Obama kerap menyinggung Indonesia sebagai perbandingan ketika ia melihat berbagai kemiskinan di sekelilingnya.

Di bagian ini juga Obama mengungkapkan kehidupan masa kecilnya di Jakarta. Dibutuhkan 20 halaman bagi Obama untuk medeskripsikan pengalaman masa kecilnya bersama ayah tirinya Lolo Soentoro dan ibu kandungnya Ann Dunham. Kesehariannya bersama ayah tirinya terekam dengan kuat dan diakuinya bahwa ayah tirinya sedikit banyak telah memasukkan nilai-nilai kehidupan yang tak terlupakan hingga kini.

Figur ibu kandungnya yang sangat mempedulikan pendidikan dan masa depan anaknya juga terungkap dengan jelas, dikisahkan bahwa selama di Indonesia ibunya selalu membangunkan dan mengajari Barry (nama kecil Obama) pada dini hari jam 4 pagi agar Obama dapat menyesuaikan dengan pelajaran di sekolah Amerika jika kelak mereka kembali ke Amerika.

Seperti kebanyakan anak-anak Jakarta lainnya, Barry melewati tiga tahun masa kanak-kanaknya dengan bersekolah, lalu bermain sepanjang siang hingga malam, menerbangkan layang-layang, menangkap jangkrik, dll bersama anak petani, nelayan, hingga anak birokrat rendahan. Setelah menikmati keindahan masa kanak-kanak di Jakarta, Obama bersama ibu dan adiknya kembali ke Hawai. Di sana ia pula untuk pertama kalinya dan terakhir kalinya Obama bertemu dengan ayah kandungnya yang mengunjunginya hanya beberapa hari saja.

Di bagian kedua buku ini, dikisahkan masa remaja Obama yang dilaluinya di Hawai . Di sinilah ia mulai menyadari bahwa menjadi remaja berkulit hitam adalah hal yang berat baginya karena saat itu rasialisme di AS masih sangat kental. Ia marah dan frustasi akibat diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam. Namun, Barry tak mampu menuangkan amarah tersebut karena ibu dan kakek-neneknya berkulit putih. Obama juga bingung dengan identitas dirinya, hal tersebut membuat Obama gelisah dan mempertanyakan jati dirinya. Sebagai pelarian ia mulai minum minuman keras, bahkan ganja pun pernah dinikmatinya.

Untungnya berkat dorongan ibunya, Obama juga berhasil melewati masa-masa frustasi dan pencarian jati dirinya, walau sempat putus asa dan berniat berhenti sekolah ia melanjutkan sekolahnya hingga tamat dan berhasil mendapat pekerjaan yang cukup mapan di pasar saham Wall Street, New York. Namun semua itu kelak ia tinggalkan dan memilih untuk menjadi community organizer alias aktifis penggalang masyarakat di Chicago. Inilah awal karier politiknya.

Melalui pekerjaannya inilah ia mulai mengenal akar permasalahan yang dialami oleh kalangan bawah dari kulit berwarna. Dan disini pulalah semua pengalaman berpolitik Obama dan semangat perubahan yg diusung Obama hingga ke puncak kampanye Presiden berawal . Ia datangi rumah warga satu-persatu untuk mendengar masalah mereka mulai dari selokan mampat, ledeng air tak menetes, membuka lowongan pekerjaan , hingga menggalang masyarakat untuk mendemo wali kota agar mau membongkar asbes di apartemen yang diketahui terbuat dari bahan yang dapat mengganggu kesehatan mereka. Sepak terjangnya di Chicago akhirnya harus berakhir ketika akhirnya ia diterima sebagai mahasiswa di Harvard Law School.

Di bagian ketiga, dikisahkan perjalanan Obama ke tanah kelahiran ayahnya di Kenya – Afika sebelum ia masuk kuliah di Harvard. Perjalanannya ini merupakan upaya Obama untuk mencari akar keluarga dan budayanya di Afrika, Di sinilah Obama bertemu dengan adik-adik tirinya dan neneknya. Melalui mereka Obama mencoba mengenal lebih dalam tentang keluarga besar ayahnya dan bagaimana perjuangan ayahnya dari seorang anak miskin kulit hitam dari desa terpencil di Kenya yang berhasil mengejar ilmu sampai ke Amerika. Di tanah leluhurnya inilah Obama merasa menemukan kembali impian yang diwariskan ayahnya baik yang telah diraih maupun yang belum tercapai oleh ayahnya.

Buku yang merekam perjalanan hidup Obama sejak kecil hingga perjalanannya ke Kenya ini ditulis jauh sebelum Obama terpilih menjadi Presiden AS ke 44, buku yang berjudul asli Dreams from My Father: A Story of Race and Inheritance ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1995 selepas pelantikan Obama sebagai presiden kulit hitam pertama Harvard Law of Review. Seiring popularitasnya yang kian bersinar di kancah politik, dan menyusul pidatonya yang terkenal saat Konvensi Partai Demokrat pada tahun 2004 saat Obama terpilih sebagai senator , maka buku ini dirilis ulang dengan kata pengantar tambahan dari Obama untuk edisinya kali ini .

Secara umum buku ini memang menarik dan menginspirasi pembacanya dalam hal kekuatan impian, harapan, cita-cita, persaudaraan, serta toleransi yang nyata. Bagi pembaca Indonesia tentunya bagian yang paling menarik adalah bab mengenai masa kecil Obama di Indonesia, sedangkan bagian yang agak membosankan adalah ketika Obama mengisahkan sepak terjangnya ketika menjadi aktifis penggalang masyarakat di Chicago.

Sama seperti di bagian-bagian lain, di bab ini Obama menuturkan pengalamannya secara rinci namun karena mungkin permasalahan agak berbeda dengan kondisi kita dan minimnya pengetahuan saya akan kondisi sosial di Chicago, maka bab ini terasa membosankan. Barulah ketika Obama mengisahkan perjalanannya ke Kenya, buku ini menjadi menarik lagi. Satu hal yang juga dapat mengurangi kenikmatan membaca buku ini adalah minimnya Obama menyebutkan angka tahun sehingga pembaca akan kehilangan oreintasi waktu dari kisah yang diceritakannya.

Terlepas dari hal diatas, di memoarnya ini Obama menulis dengan sangat baik, ingatannya yang kuat membuat buku ini kaya akan detail, ia juga tampak piawai dalam mendeskripsikan semua pengalamannya hingga membuat pembaca seolah ikut merasakan apa yang dialami Obama. Hal ini pula yang dipuji oleh nobelis sastra Toni Morison yang mengatakan bahwa buku ini adalah, “ Buku yang luar biasa dan unik”, sedangkan kolumnis Time, John Klein mengungkapkan bahwa buku ini merupakan, "Salah satu memoar terbaik yang pernah ditulis politikus Amerika." Pendapat mereka tak berlebihan karena buku ini menjadi buku bestseller versi New York Times, selain itu buku ini juga meraih British Book Award 2009 kategori Bigorafi Terbaik.

Bersyukur, kini terjemahan buku The Dream from my Father ini telah hadir di Indonesia. Semoga buku ini dapat menjadi buku inspiratif yang menggambarkan kekuatan impian, harapan, cita-cita, persaudaraan, dan toleransi. Melalui buku juga ini kita akan mengenal bagaimana kaum minoritas AS dalam menyikapi hidupnya dan berjuang untuk melawan ketidakadilan, hal yang relevan bagi kita yang hidup dalam masyarakat yang multikultural.

Dan terakhir, semoga buku ini juga ikut menginspirasi para politisi kita dari kalangan minoritas bahwa merekapun kelak bisa memimpin negara ini. Mungkinkah ? Obama telah membuktikan bahwa ia yang berasal dari kaum minoritas bisa menjadi pemimpin yang dapat dipercaya oleh rakyatnya.

@h_tanzil

10 comments:

Hendra Lim said...

Wah, Anda sungguh hebat bisa buat blog review buku sedetail ini. Buku yang Anda review pun bukan sembarang buku, sangat professional sekali. Tampilan blog Anda juga nyaman dilihat. Salut! Kalau bisa, review juga buku2 bisnis, pemasaran dan management. Saya suka sekali buku-buku seperti itu. Terima kasih. :)

h_tanzil said...

makasih apresiasinya.
Wah, kebetulan saya jarang sekali baca buku2 pemasaran dan management. Tapi nanti saya sempatkan ya...

hendra said...

Halo ko. Wah kayaknya bukunya bagus ya ko. Ko her berhasil membuat pembaca blog koko tertarik dengan buku itu. Sip deh. Salut. Terus nulis ko. Biar aku juga ketambahan info :).

Hendra Fong said...

eh tadi yang coment itu hendra fong ko. ntar bingung lagi hehe

h_tanzil said...

Wah, ada dua hendra komen disini...hehe.
to Hendra Fong, makasih untuk komentar dan semangatnya ya, senang sekali kl blog sederhana ini bisa bermanfaat untuk semua.

ramli said...

wah,lukisan bahasa sampai jernih dan rapih begini. Sampai meski info di awal tulisan itu sudah pada maklum, saya tetep aja asyik membacanya. Salut.

h_tanzil said...

makasih mas ramli, senang baca buku juga ya?

win said...

Luar biasa ya.. Saya kagum dengan kegigihan mereka.

hudstarz said...

jika ke kedai buku saya sering melihat buku ini di rak tetapi tidak rasa hendak membacanya. Tapi disebabkan ulasan mr. tanzil saya jadi tak sabar untuk ke kedai buku mendapatkannya kembali..thanks!

Pandu Aji Wirawan said...

buku ini yang lagi aku baca :D baru dapet 2 BAB.