Monday, March 14, 2011

Sang Fotografer - Didier Lafevre

No. 253
Judul : Sang Fotografer - Memasuki kancah perang Afghansitan bersama Doctors Without Borders
Foto & Ilustrator : Didier Lefevre & Emanuel Guibert
Art : Frederic Lemercier
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Febuari 2011
Tebal : 276 hlm, 30 cm

Ada istilah yang mengatakan bahwa sebuah foto /gambar dapat berbicara lebih banyak daripada kata. Karenanya tak jarang sebuah foto dengan sedikit keterangan atau bahkan tanpa keterangan apapun bisa menimbulkan reaksi yang lebih fantastis dibandingkan sebuah kolom berita. Kenyataan seperti ini membuat semua media-media baik cetak maupun cyber selalu megedepankan para fotografernya dalam meliput sebuah berita atau peristiwa penting.

Didier Liever adalah seorang fotografer jurnalistik asal Perancis yang telah melanglangbuana ke berbagai penjuru dunia dengan kameranya. Pada tahun 1986 ia bersama tim kemanusiaan Perancis Médecins Sans Frontières/MSF (Doctors Without Borders) berangkat menuju Afghanistan. Perjalanan yang penuh resiko karena saat itu Afghanistan sedang berada dalam peperangan antara para Mujahidin dengan tentara-tentara Rusia.

Sepulangnya dari Afghanistan 6 buah foto hasil bidikan Didier dimuat di surat kabar Perancis “Liberation”. Jumlah yang sangat kecil dibanding 4000 foto yang berhasil dibawa Pulang Didier saat itu. Ribuan foto-foto itu tersimpan rapih dalam kotak penyimpanan selama tiga belas tahun hingga akhirnya Emmanuel Guibert, sahabatnya menyarankan pada Didier untuk bersama-sama membuat buku tentang pengalamannya selama perjalanan pertamanya ke Afghanistan itu. Akhirnya pd tahun 2003 terbitlah 3 jilid novel grafis The Photographer dalam bahasa Perancis yang kini terjemahan dalam bahasa Indonesianya baru saja diterbitkan oleh Gramedia dengan judul “Sang Fotografer”

Sebetulnya buku ini bukanlah sebuah novel grafis murni, melainkan perpaduan antara komik, album fotografi, dan kisah perjalanan. Jadi dibuku ini ribuan foto hitam putih karya Didier dirangkai menjadi sebuah kisah perjalanan Didier bersama tim relawan kesehatan MSF ke Afganistan. Untuk mengisi kekosongan yang tidak tertangkap oleh kamera Didier maka Emanuel Guibert menggambarkannya dalam panel-panel komik yang kemudian diberi warna oleh Frederic Lemerier sehingga menjadi sebuah kisah perjalanan yang menarik untuk disimak dari Didier, Sang Fotografer bersama tim MSF.

Singkatnya di buku ini kita akan menyaksikan apa yang disaksikan oleh mata Didier melalui lubang lensa kameranya selama 3 bulan di Afghanistan. Walau berada di daerah konflik namun di buku ini Didier tak satupun memotret peristiwa baku tembak antara pasukan Mujahidin dan tentara Rusia melainkan menyajikan sebuah gambaran bagaimana sukarnya perjalanan Didier bersama tim MSF menuju tempat yang ditujunya dan bagaimana mereka melakukan tindakan medis dari para korban perang dalam kondisi yang serba darurat.

Jika di edisi Perancisnya buku ini terdiri dari 3 volume maka di buku terjemahannya ini hanya terdiri dari satu buku yang dibagi menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama dan kedua mengisahkan kisah perjalanan Sang fotografer mulai dari Perancis, tiba di Pakistan untuk bergabung dengan tim MSF, hingga ke akhirnya sampai di jantung Afghanistan Utara dan mendirikan rumah sakit darurat bagi korban perang dan penduduk di sekitarnya. Sedangkan di bagian ketiga, buku ini mengisahkan bagaimana Sang Fotografer memutuskan untuk berpisah dengan tim MSF dan melakukan perjalanan pulang menuju Pakistan dengan hanya ditemani oleh beberapa pemandu tak bersenjata yang menyebalkan.

Di bagian pertama dan kedua pembaca akan disuguhkan rangkaian peristiwa baik melalui foto dan panel-panel gambar tentang perjalanan Sang fotografer dan tim MSF dan situasi geografis dan keadaan sosial masyarakat pedesaan Afghanistan yang sedang berperang.

Ada beberapa momen dan fakta-fakta menarik yang tertangkap oleh Sang Fotografer antara lain bagaimana para tim dokter MSF itu mengajari praktek pembedahan pada calon-calon perawat Afghanistan dengan menggunakan seekor kambing. Atau bagaimana kerja keras tim dokter MSF yang berbeda keyakinan dengan penduduk Afghansitan itu tetap dihargai karena mereka meyakini walau toh akhirnya si pasien itu jiwanya tak tertolong tapi apa yang dilakukan tim MSF itu sama dengan mempersiapkan orang yang sakit itu dalam menemui Allah.

Kegananasan perang juga terungkap ketika mereka harus menangani seorang remaja yang bagian bawah wajahnya hancur oleh granat arteleri, lubang di mata kanan seorang Mujahidin akibat tertembus peluru, seorang wanita yang lumpuh karena sebutir peluru yang tepat mengenai saraf tulang punggungnya dan sebagainya. Semua itu terrekam dengan baik oleh bidikan kamera sang fotografer.

Tidak hanya itu saja, situasi sosial masyarakat yang sedang berperang juga tak luput dari pengamatannya antara lain bagaimana para remaja dengan bangga memamerkan senjata mereka karena bagi mereka sosok panutan mereka adalah para pria-pria dewasa dan orang tua mereka yang pergi berperang. Bagi remaja Afghanistan menenteng senjata dan berperang adalah sebuah kebanggan tak terkira.

Kerasnya kehidupan disana juga ikut membentuk ketahanan mental anak-anak Afghanistan. Banyak anak kecil di Afghanistan tidak menangis jika terluka, mereka terisak-isak kalau kesakitan. Tapi itu saja karena mereka siutasi perang membentuk mereka cepat tangguh dalam usia yang masih sangat muda.

Ada satu hal yang unik yang terekam di buku ini, yaitu bagaimana sikap para pria Afghanistan di tengah keluarga mereka. Walau hampir semua pria Afghanistan itu memegang senjata dan terkesan brutal saat berada dalam peperangan, sejatinya pria-pria Afghan itu adalah sosok yang lembut. Di tengah keluarganya mereka bersikap seperti seorang ibu kepada anak kecil mereka. Mereka menunjukkan kasih sayang mereka dalam cara yang sangat lembut dan nyata. Mereka sering memeriksa apakah anak-anak mereka tidak kedinginan, membetulkan topi anak-anak, dan sebagainya.

Masih banyak hal-hal menarik dalam buku ini. Foto-foto dan komik dalam buku ini betul-betul membuat saya seolah masuk dalam petualangan sang fotografer. Setelah menyimak dan melihat korban keganasan perang dan bagaimana para tim dokter MSF dengan fasilitas darurat berusaha mengobati dan mengoperasi pasien-pasiennya, di bagian ketiga kita akan diajak mengikuti petualangan sang fotografer yang dengen nekad memisahkan diri dari tim MSF untuk pulang. Hal ini sungguh tindakan nekad bagi Sang fotografer karena situasi di Afghanistan sebenarnya sangat beresiko bagi orang asing untuk melakukan perjalanan sendirian tanpa rombongan tim yang lengkap baik dari senjata maupun logistiknya.

Seperti yang sudah diduga ada banyak hambatan yang dihadapinya yaitu sakit di tengah perjalanan, diperas oleh pemandu, hingga sendirian dan hampir mati terperangkap dalam badai salju di tengah gurun Afghanistan.

Buku ini tampaknya benar-benar dikerjakan dengan serius. Pilihan menggunakan kertas art paper mengkilat merupakan pilihan yang harus diambil agar foto-fotonya tercetak dengan sempurna walau resiko utamanya adalah harga bukunya yang menjadi relatif mahal.

Salut juga untuk pengaturan tata letak foto-foto di halaman dalam buku ini. Besar kecilnya foto yang tersaji beraneka ragam, ada yang kecil berupa rangkaian foto-foto yang berderet menyajikan sebuah rangkaian peristiwa yang dapat terlihat seperti layaknya kita menonton sebuah film, lalu ada pula foto-foto ukuran besar, bahkan ada beberapa foto yang disajikan satu hingga dua halaman penuh untuk sebuah foto. Selain itu panel-panel gambar komik dalam buku ini dan teks-teksnya juga saya rasa dapat mewakili kekosongan akan apa yang tak tertangkap oleh kamera sang Fotografer.

Pada akhirnya buku ini akan menjadi sebuah dokumentasi terbaik bagi mereka yang ingin mengetahui situasi geografis, sosial, dan kemanuisiaan di Afghanistan di era 80an ketika perang sedang berkecamuk. Selain itu buku ini juga menyajikan sebuah kisah perjalanan yang dilakukan sekelompok orang-orang yang bertekad untuk memperbaiki apa yang telah dihancurkan oleh peperangan. Semoga buku ini membuka mata hati kita bahwa apapun alasannya sebuah peperangan akan menghasilkan kesengsaraan bagi mereka yang mengalaminya terutama bagi rakyat kecil yang tak mengerti politik namun yang paling langsung terkena dampaknya.


Didier Lafervre

Didier Lafevre (19 Desember 1957 - 29 Januari 2007) adalah seorang fofotgrafer jurnalistik yang foto-fotonya sering muncul di majalah-majalah Perancis L'Express dan Editions Quest France. Kegemarannya adalah melakukan perjalanan ke berbagai negara sambil memotret apa yang dilihat dan dialaminya. Selain apa yang bisa kita lihat dalam buku "Sang Fotografer" Didier banyak menghasilkan foto-foto dokumenter yang sangat luar biasa antara lain situasi pasca perang di Kosovo, epidemi AIDS di Malawi dan Kamboja, situasi negeri bekas wilayah blok Timur, hingga balap sepeda epik Paris-Roubaix.

Kesuksesan Sang Fotografer di negeri-negeri berbahasa Prancis (terjual +/- 250 rb copy) disusul dengan pengakuan yang muncul dari dunia internasional, berkat beberapa edisi berbahasa asing yang telah diterbitkan memberikan kejutan sekaligus kebagiaan bagi Didier serta bagi rekan-rekan tim MSF yang ambil bagian dalam petualangannya ke Afghanistan.

Setelah pengalamannya yang pertama ke Afghansitan yang dibukukan dalam "Sang Fotografer", Didier kembali melakukan 6 kali perjalanan ke Afghansitan antara tahun 1986-2006. Foto-foto indah hasil jepretannya itu pada tahun 2002 dirangkum dalam sebuah buku berjudul "Voyages en Afgahnistan"

Pada bulan Januari 2007, Didier meninggal karena serangan jantung pada usia 49 tahun, meinggalkan seorang istri dan dua anaknya yang masih kecil. Karya dan karakternya yang luar biasa masih banyak yang belum terungkap.

@htanzil

3 comments:

Fanda said...

Buku yang layak untuk dikoleksi kayaknya.

Aku menyoroti para pria Afganistan yang brutal di medan perang namun lembut di rumah. Mungkin itu membuktikan bahwa pada hakikatnya manusia itu memang membawa sifat kasih dari Penciptanya. Dalam hati tiap manusia yang normal pasti ada kasih. Ketika ia secara fisik dan logika harus melakukan kekejaman, maka di saat lain hatinya yang akan menguasai dirinya, dan diungkapkan dalam kelembutan pada keluarganya.

goldenmoon said...

bagaimana ini...antara kepengen dan ngeri...

Anshar Syahrir said...

mantap bngt cerita didalamx, buku yg keren,ga rugi dah bacax....