Wednesday, September 07, 2011

2 - Donny Dhirgantoro

[No. 268]
Judul : 2
Penulis : Donny Dhirgantoro
Penerbit : Grasindo
Cetakan : I, 2011
Tebal : 418 hlm


Setiap manusia memiliki cita-cita namun terkadang apa yang dicita-citakannya itu terhalang oleh keterbatasaan dan ketidaksempurnan hidup. Untuk itulah kita perlu memiliki mimpi sebagai api penyulutnya, namun mimpi saja tidaklah cukup karena harus ada perjuangan dan kerja keras untuk menggapai mimpi kita.

Itulah juga yang dialami Gusni, seorang perempuan yang berjuang untuk mimpinya, ia mencintai hidupnya di tengah segala keterbatasan dan waktu sigkat yang dimilikinya. Semenjak lahir Gusni memiliki kelebihan yang sekaligus akan menjadi keterbatasannya. Ia terlahir dengan berat badan 6 kg!, dua kali lipat dari berat badan bayi-bayi normal.

Rupanya kelebihan berat badan yang dialami Gusni disebabkan adanya masalah dengan sistem pembakaran lemak di tubuhnya, penyebabnya adalah kelainan genetis dari keluarganya dimana kakek buyut dan kakeknya pun pernah mengalami hal yang sama. Kelainan ini menyebabkan bobot tubuh Gusni tidak akan pernah bisa turun melainkan terus bertambah seiring bertambahnya usia, malangnya kelainan ini tidak bisa disembuhkan sehingga apapun pengobatan dan usaha yang dilakukan untuk membuat berat badannya normal adalah hal yang sia-sia.

Semakin besar Gusni semakin gemuk, untungnya ia tak pernah minder dengan bobot tubuhnya, walau sering menerima ejekan dari teman-temannya ia tetap ceria dan percaya diri, ia juga memiliki keyakinan bahwa orang yang gemuk itu memiliki ‘hati’ yang lebih besar dibanding orang yang kurus. Beruntung karena Gusni juga dibesarkan di tengah keluarga yang mengasihinya, sehingga walau memiliki ‘kelainan’ ia diperlakukan secara normal seperti kakak perempuannya yang adalah seorang atlit bulu tangkis nasional.

Karena Gusni sering melihat kakaknya bermain bulu tangkis di TV dan bagaimana bahagianya orang tuanya setiap melihat kakak perempuannya berlaga dan memenangkan pertandingan membuat Gusni ingin menjadi atlit bulu tangkis seperti kakaknya agar iapun dapat membahagiakan kedua orang tuanya.

Tentunya dengan bobot tubuh yang saat itu sudah lebih dari 100 kg bukan hal yang mudah untuk menjadi atlit bulu tangkis. Awalnya kedua orang tuanya ragu-ragu untuk mengabulkan permintaan Gusni karena ‘kelainan’ yang dideritanya. Saat itu Gusni memang belum diberitahu tentang penyakitnya itu karena penyakit itu ternyata menyimpan ‘bom waktu’ yang tak diketahui dengan pasti kapan akan ‘meledak’kannya.

Ketika akhirnya Gusni mengetahui bahwa bobot tubuhnya merupakan kelainan  yang disebabkan oleh faktor genetis, hal ini tak menyebabkan ia mundur dari cita-citanya, ia malah memantapkan tekadnya untuk berjuang melawan penyakitnya dan meraih mimpinya menjadi atlet bulutangkis. Dengan bulutangkis Gusni mencoba melawan penyakitnya dan membahagiakan orang tuanya.

Kisah dalam novel ini memang merekam seluruh perjuangan Gusni untuk meraih mimpinya mulai dari lahir hingga usianya beranjak dewasa dan mencoba meraih mimpinya untuk menjadi atlet bulutangkis nasional yang ketika itu berat badannya telah mencapai 125 kg. Satu hal yang tampaknya mustahil karena bukankah seorang atlet bulutangkis biasanya memiliki postur tubuh yang ramping karena diperlukan kelenturan tubuh dan kelincahan dalam mengejar dan megembalikan kok dari lawan tandingnya?

Walau inti kisahnya adalah memotivasi pembacanya untuk berjuang meraih mimpi, namun novel ini ditulis dengan ringan sehingga mudah dipahami pembacanya. Paruh pertama novel ini ditulis dengan diselipi humor-humor gaya anak muda masa kini. Mungkin maksudnya untuk menghibur pembacanya, namun saya merasa humor-humor yang dihadirkan terlalu berlebihan alias ‘lebay’ sehingga saya kurang bisa menikmati paruh pertama dari novel ini.  Di paruh kedua barulah novel ini menjadi sedikit lebih serius terutama ketika memasuki bab-bab perjuangan Gusni menaklukkan kelebihan berat badannya dan perjuangannya meraih mimpinya.

Pada akhirnya novel ini bisa dikatakan novel yang memotivasi dan menggugah pembacanya untuk memiliki mimpi dan meraihnya, selain itu novel ini juga juga membangkitkan semangat nasionalisme pembacanya melalui bulutangkis . Jika di novel sebelumnya (5 cm) penulis menghadirkan olah raga mendaki gunung, kini Bulutangkis dijadikan sebagai kendaraan oleh penulisnya untuk menyampaikan misinya mengenai persahabatan, mimpi, cinta, keluarga, kerja keras, dan semangat nasionalisme. 

Pilihan penulisnya untuk memakai bulutangkis dalam novelnya ini saya rasa cukup berani, disaat Indonesia mengalami euforia terhadap timnas sepakbola Indonesia sampai-sampai Andrea Hirata menyempatkan diri untuk menulis novel 11 Patriot  tentang sepak bola, Donny Dhirgantoro justru menghadirkan bulu tangkis sebagai latar dalam novel terbarunya ini. 

Pilihan yang bagus karena di saat demam sepakbola melanda Indonesia, setidaknya novel ini akan mengingatkan kita bahwa bulu tangkis adalah olah raga yang pernah mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia namun yang kini sedang terpuruk nyaris tanpa prestasi yang membanggakan.

Melalui bulutangkis persoalan harga diri bangsa adalah hal yang dijadikan point utama di novel ini, hal itu tercermin ketika novel ini menceritakan bagaimana tim putri Indonesi harus berhadapan dengan tim putri Singapura yang sebagian pemain-pemainnya adalah mantan atlit Indonesia yang hijrah karena menerima bayaran yang lebih besar. 

Atau bagaimana ketika akhirnya di final tim putri Indonesia berhadapan dengan Malaysia. Seperti kita ketahui beberaap tahun belakangan ini Malaysia selalu ‘mengusik’ harga diri rakyat Indonesia dengan mengklaim beberapa budaya Indonesia sebagai miliknya. Melalui novel ini harga diri bangsa Indonesia kembali diangkat melalui bulutangkis. 

Di bagian-bagian akhir, penulis juga mendeskripsikan suasana pertandingan antara tim putri Indonesia dengan lawan-lawannya hingga ke final. Perjuangan tim putri Indonesia poin demi poin dikisahkan dengan menawan sehingga kita seakan sedang menyaksikan langsung ketegangan yang berlangsung di lapangan.

Pada akhirnya melalui tokoh Gusni yang berjuang melawan penyakitnya dan kerja kerasnya meraih mimpi untuk membahagiakan orang tuanya melalui bulutangkis , Gusni memberi kita sebuah kalimat penutup untuk direnungkan,

“Seperti hidup yang tidak sempurna. Kamu tidak akan menyerah. Cintai impianmu. Cintai kerja kerasmu. Cintai hidupmu dengan berani, jangan menyerah dan jangan berputus asa.” (hal 415)

@htanzil

Nb :
Satu hal lagi yang menarik adalah misteri angka ‘2’ yang dijadikan judul novel ini. Apa maksudnya? Pembaca tampaknya dibiarkan bertanya-tanya dan menafsirkan sendiri apa arti dari judul, jawabannya baru diberikan di tersebut di lembar-lembar terakhir novel ini. Kalau anda belum membaca novelnya, sebenarnya makna angka ‘2’ itu sudah saya berikan dalam review ini. Silahkan mencari sendiri jawabannya :)

17 comments:

Fanda said...

Reviewnya ngajak main tebak2an nih... kalo menjawab benar, dapet hadiah buku ya? hehehe...

"2" itu 2 bagian di kisah ini? 2 babak kehidupan Gusni? 2 babak dalam pertandingan bulu tangkis? *tebakan ngasal*

htanzil said...

@Fanda : hehe, jawabannya salah semua tuh... ayo baca reviewnya yg teliti, jawabannya nyelip di situ koq..

dela said...

dua kali lipat dari berat badan bayi normal ya? ya? :D

astrid said...

kayaknya tebakan dela yang bener deh ya? =D

htanzil said...

@astrid : tebakan dela juga masih salah tuh..hehe

Anonymous said...

Judulnya 2 karena terdiri dari 2 bab?? Hhehe bener gak?

Rofida Amalia said...

"mimpi saja tidaklah cukup karena harus ada perjuangan dan kerja keras untuk menggapai mimpi kita." dunia imajinasi dan dunia nyata: 2 :)

YOGYAKARTA said...

wow this really good blog content
visit : http://uii.ac.id

Dimitra Levina Hartono said...

ga sabar juga mau baca novel 2 ini.

Masakosi Alexandra said...
This comment has been removed by the author.
Masakosi Alexandra said...

bukunya bagus banget, aku suka, inspiratif, kreatif, motifatif.

Anonymous said...

ANDRE SHINICHI DELUFFY in facebook... Jejak Samar sang Petualang in BLogspot. follow ya.. tanks


saya tau maksud 2 itu sendiri. yakni sesuatu dalam kehidpupan itu diciptakan 2 kali. dalam dunia imajinasi bersama fikiran dan dalam dunia nyata bersama perjuangan...

Aries Budi said...

2 yang berarti kelahiran kembali, saat gusni bertekad untuk tetap hidup, wlw dokter dan keluarganya telah putus asa, setiap manusia bisa lahir kembali untuk kedua kalinya. Buku yg bagus, w dah baca dlm wkt 2hari

Anonymous said...

2 merupakan novel ke2nya donny dhirgantoro(?)

Anonymous said...

mau nanya nih, aku perlu buat bikin tugas... latar waktu dan tempat dimana ya? thankyou buat jawabannya
:)

hebi sasuke said...

Setiap manusia memiliki cita-cita namun terkadang apa yang dicita-citakannya itu terhalang oleh keterbatasaan dan ketidaksempurnan hidup. Untuk itulah kita perlu memiliki mimpi sebagai api penyulutnya, namun mimpi saja tidaklah cukup karena harus ada perjuangan dan kerja keras untuk menggapai mimpi kita.

Jawabannya ada disini

rizky pratomo said...

2?
Y karna memang ini buku ke 2 dhony dhirgantoro setelah 5cm? :D
hehe

dan hidup ini hanya ada 2 pilihan..
berjuang melawan keterbatasan..ato mati dalam keterpurukan tanpa melakukan apa-apa...