Friday, October 21, 2011

Perang Napoleon di Jawa 1811





[No. 271]
Judul : Perang Napoleon di Jawa 1811
Penulis : Jean Rocher
Penerbit : Buku Kompas
Cetakan : 2011
Tebal : 280 hlm

Mungkin banyak yang tidak mengetahui bahwa selain Belanda dan Jepang, Indonesia pernah juga berada dibawah kekuasaan Prancis dimasa Kaisar Napoleon Bonaparte yang gemar membaca buku sambil berperang itu sedang berada dalam puncak kejayaan dengan menguasai hampir seluruh daratan Eropa baik dengan diplomasi maupun peperangan.

Belanda di awal abad ke 19 adalah salah satu daerah taklukkan Napoleon dengan mengangkat adiknya, Louis Napoleon sebagai raja Belanda. Dengan demikian seluruh wilayah Belanda beserta negara-negara koloninya otomatis jatuh ke tangan Prancis termasuk Hindia Belanda. Inggris yang merupakan salah satu musuh bebuyutan Prancis mencoba membendung kekuasaan Napoleon,  salah satu yang diincarnya adalah koloni Prancis di Jawa yang merupakan salah satu pulau penghasil rempah-rempah yang banyak diincar Negara-negara Eropa. 

Selain nilai ekomomis pulau jawa sebagai penghasil rempah dunia dan satu-satunya daerah di Asia yang dikuasai oleh Prancis, maka Napoleon Bonaparte berniat mempertahankan sekuat tenaga Pulau Jawa dari serbuan pasukan Inggris. Bahkan sejarah mencatat bahwa Sang Kaisar pernah memerintahkan kepada Menteri Kelautan dan Wilayah Jajahan Prancis Admiral Decres untuk mempertahankan Jawa berapapun harga yang harus dibayarnya dan berniat untuk mengirim 10.000 pasukannya ke Jawa.

Sayangnya niat Napoleon itu tak pernah terlaksana, pasukan Inggris dengan kekuatan penuh pada tahun 1811 menyerbu Pulau Jawa yang saat itu dikuasai oleh Perancis. Perang yang melibatkan 20.000 pasukan Inggris dengan 100 armada kapal laut melawan 12.000 serdadu gabungan Perancis, Belanda, dan Jawa itu merupakan pertempuran terbesar tentara Napoleon di Asia, sayangnya perang tersebut terlupakan dalam ingatan baik oleh Indonesia, Perancis, bahkan Inggris yang akhirnya berhasil menguasai Jawa. 

Kisah perang dahsyat di Jawa yang terlupakan antara pasukan Napoleon (Prancis) dibawah pimpinan gubernur jenderal Hindia Belanda, Jenderal Janssens melawan pasukan Inggris yang dikomandoi oleh Jenderal Auchmuty pada tahun 1811 inilah yang dinarasikan oleh Jean Rocher, penisunan perwira Perancis  kedalam sebuah novel sejarah yang berjudul La Debandade des Jean-Fesse dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Perang Napoleon di Jawa 1811 -  Kekalahan Memalukan Gubernur Jenderal Janssens

Dalam novelnya ini Jean Rocher menulis kisah perang Napoleon dengan detail, mulai dari perintah Napoleon kepada Admiral Decres untuk mempertahankan Jawa ,saat-saat keberangkatan Jenderal Janssens menuju Jawa dengan pasukan pemabuk yang  tak punya disiplin, proses penyerahan kepemimpinan dari Gubernur Jenderal Daendels kepada Janssens, kedatangan pasukan Inggris ke Jawa, peperangan dahsyat di benteng Masteer Colins hingga menyerahnya Jenderal Jansssens pada pasukan Inggris sehingga Prancis harus menyerahkan satu-satunya daerah koloninya yang tersisa di Asia.

Kesemua itu ditulis oleh Jean Rocher dengan kalimat-kalimat yang enak dibaca dan dibagi kedalam bab-bab yang tidak terlalu panjang sehingga buku setebal 280 hlm ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi

Melalui novel sejarah ini kita akan mengetahui bagaimana terjadinya Perang Napoleon yang dahsyat  di Jawa pada 1811 dan apa yang menjadi penyebab kekalahan pasukan Napoleon. Walau penulis adalah seorang Prancis namun ia tak ragu untuk menggambarkan bagaima pasukan Prancis harus menelan kekalahan akibat strategi perang yang buruk dari Jenderal Jansses.  Dalam novel ini terlihat jelas bagaimana Rocher menimpakan kekalahan Perancis pada Jenderal Jannsens.










 Jean Willem Janssens
       (1752-1838)









Jika kita membaca novel ini,akan terungkap bagaimana kepemimpinan Janssens  membuat Perancis harus angkat kaki dari pulau Jawa.  Di novel ini Roocher menjelaskan bahwa Janssens adalah jenderal logistik yang lebih paham mengatur logistik dibanding menyusun strategi perang. Jannssens juga dikenal sebagai perwira penjilat yang berhasil menjilat Napoleon sehingga dirinya memperoleh promosi sebagai jenderal divisi di usianya yang ke 39, menjadi perwira tinggi legion kehormatan, hingga akhirnya kemudian diangkat sebagai gubernur Jenderal di Hindia Belanda menggantikan Daendels!

Daendels sendiri sebenarnya sudah mempersiapkan dengan matang bagaimana pasukannya dapat mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, antara lain dengan mendirikan benteng Meester Cornelis di Jatinegara dan  membangun Jalan Raya Pos sepanjang 1000 km yang memungkinkan dirinya untuk mengirim dengan cepat pasukannya dimanapun Inggris mendarat.

Daendels juga sudah menduga kalau armada Inggris bakal mendarat di Cilincing, kepada Janssens ia telah menyarankan untuk menempatkan satu detasemen infanteri dengan arteleri di Cilincing. Namun Janssens tidak mempedulikan rekomendasi itu. Apa yang diramalkan Daendels menjadi kenyataan, armada Inggris akhirnya mendarat di Cilincing tanpa satu pelurupun ditembakkan, bahkan saking mulusnya, pasukan Inggris sempat-sempatnya membeli buah-buahan dan sayur mayur yang ditawarkan penduduk setempat.






 Benteng Mesteer Cornelis - Jatinegara







Hal ini membuat pasukan Inggris tanpa hambatan mendekati benteng pertahanan Janssens, Master Cornelis sehingga pertempuran hebat terjadi, serbuan pasukan Inggris  tak dapat dibendung, terus merangsak masuk ke kubu-kubu pertahanan Prancis hingga akhirnya Janssens memerintahkan untuk membakar gudang mesiu sehingga gudang itu meledak dan menewaskan lebih dari 200 prajurit. Rocher menulis bawa dahsyatnya ledakan gudang mesiu tersebut dapat dibandingkan dengan bencana letusan gunung berapi.

Ledakan gudang mesiu tak menyurutkan pasukan Inggris sehingga akhirnya benteng pertahanan Meester Cornelis bisa dikuasai pasukan Inggris dan Jenderal Janssens melarikan diri hingga ke Semarang – Ungaran –dan berakhir di Tuntang. Walau dibantu oleh pasukan jawa yang dipimpin oleh Prang Wedana atau Mangkunegoro II yang konon telah dilatih untuk mengadopsi strategi perang ala balatentara Eropa,  namun karena ketidakmampuan Janssens memimpin pertempuran membuat pasukannya kocar kacir dan akhirnya harus menyerah di Tuntang (Semarang)

Sebelum menyerah Jenderal Janssens dengan angkuh mengajukan sejumlah syarat kepada musuhnya.  Di novel ini Rocher memuat secara rinci syarat-syarat penyerahan diri Janssens sebanyak 22 pasal kepada Jenderal Auchmuty selaku panglima pasukan Inggris. Apakah Jenderal Auchmuty menyetujui seluruh syarat yang diajukan Janssen? dan bagimana nasib Jenderal Janssens selanjutnya? Semuanya akan kita dapatkan dalam lembar-lembar terakhir novel ini.

Kurang imajinatif

Sebagai sebuah novel sejarah, Jan Rocher menulis peristiwa ini secara menarik dengan detail lokasi dan strategi perang yang cermat sehingga kita seolah bisa merasakan berada dalam suasana perang besar itu.  Sayangnya penulis kurang berani dalam mengembangkan imajinasinya sehingga kisah perang dalam novel akan lebih hidup lagi

Sebenarnya ada celah-celah peristiwa yang akan menarik jika dieksplorasi dengan imajinasi penulisnya, antara lain saat perjalanan Jenderal Jansses melarikan diri ke Jawa Tengah menyusuri Jalan Raya Pos, jalan raya yang seharusnya digunakan untuk mengusir musuh namun akhirnya menjadi jalan menuju kekalahan yang memalukan bagi Jenderal Janssens. Peristiwa ini sayangnya hanya dikisahkan sekedarnya bagaikan sebuah laporan perjalanan singkat.

Atau sebenarnya dapat juga diceritakan bagaimana hubungan antara Jenderal Janssens dengan Prang Wedana (Mangkunegoro II) beserta pasukan Jawa elitnya yang membantunya dalam menghadapi tentara Inggris ketika ia melarikan diri ke Jawa Tengah yang tentunya akan menarik jika dikisahkan secara mendalam

Terlepas dari itu, sebagai sebuah novel sejarah ini buku ini berhasil untuk mengungkap apa yang mungkin selama ini banyak tidak diketahui masyarakat awam bahwa di Jawa pernah terjadi Perang Napoleon terbesar di Asia yang juga melibatkan dan mengorbankan kaum pribumi. Sebuah perang yang menjadi tonggak penanda berakhirnya masa kekuasaan Belanda-Prancis dan dimulainya era penjajahan Inggris di Nusantara di bawah rezim Sir Thomas Stamford Raffles.

Dengan demikian  melalui novel ini kita juga disadarkan kembali bahwa bukan hanya Belanda dan Jepang yang pernah menguasai negeri kita, melainkan Prancis dan Inggris pun pernah berkuasa di bumi Nusantara. Hal ini tentunya akan membuat kita semakin disadarkan dan bangga akan arti strategis kepulauan Nusantara yang selalu menjadi rebutan bagi bangsa-bangsa di dunia sejak berabad-abad yang lampau.

@htanzil

Tambahan  :




Sebagai pembanding atas buku ini, kisah tentang perang Napoleon di Jawa 1811 juga bisa kita baca di buku William Thorn, Penaklukkan Pulau Jawa yang tahun ini juga terjemahannya baru diterbitkan oleh Elexmedia. Buku yang juga dijadikan salah satu sumber Jean Roche untuk menulis novelnya ini merupakan sebuah catatan perjalanan Mayor William Thorn dari Angkatan Bersenjata Inggris Raya yang dikirim ke Jawa (dan Malaya) untuk merebut wilayah itu dari Perancis di tahun 1811



5 comments:

Fanda said...

Sekali lagi menambah wawasan lewat buku. Seumur2 aku baru tahu bahwa pasukan napoleon pernah perang di negara kita!

htanzil said...

Aku juga baru tau waktu baca buku ini, memang Napoleon gak pernah ke Jawa, tapi minimal ada jejak2 kebesaran Napoleon yang dibawa oleh pasukannya.

dion_yulianto@blogspot.com said...

Saya malah baru tahu kalo Prancis pernah berkuasa di Jawa, taunya si Belanda, Inggris, sama Jepang ckckck

yayat said...

Pasukan Napoleon pernah perang di Jawa?!
What a surprise!

yayat said...
This comment has been removed by the author.