Tuesday, November 08, 2011

Anak Rembulan - Djokolelono

[No. 274]
Judul : Anak Rembulan - Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari
Penulis : Djokolelono
Ilsutrator isi : Ferly Leriansyah
Penerbit : Mizan Fantasy
Cetakan : I, Agustus 2011
Tebal : 350 hlm

Masih ingat dengan Djokolelono? Beliau adalah penulis novel produktif di era 70-80an. Novel debutannya yang berjudul “Jatuh ke Matahari” merupakan novel fiksi ilmiah paling awal yang ditulis oleh penulis Indonesia dimana materi kisahnya dianggap jauh melebihi jaman ketika novel itu dibuat. Novel tersebut diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1976, setahun sebelum George Lucas merilis Star Wars yang kelak menjadi sebuah fenomena budaya dalam sejarah dunia fiksi ilmiah.

Setelah sukses dengan novel pertamanya, Djokolelono membuat sekuelnya berjudul Bintang Hitam (Pustaka Jaya, 1976) lalu dilanjutkan dengan menulis novel berseri Penjelajah Antariksa (3 judul, Gramedia 1985-1986). Selain menulis novel fiksi-ilmiah Djokolelono juga dikenal sebagai penulis buku anak-anak, salah satunya adalah seri Astrid (Gramedia, 1980-an), selain itu juga dikenal sebagai penerjemah buku-buku fiksi seperti Petualangan Tom Sawyer, seri cergam Mimin, Mallory Towers, buku2 Enid Blyton, dll. Karya-karyanya baik novel maupun karya terjemahannya diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Gramedia, dan BPK Gunung Mulia

Setelah sekian lama namanya tidak lagi terdengar di jagad raya perbukuan tanah air, kini Djokolelono kembali hadir dengan karya terbarunya yg berjudul Anak Rembulan – Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari, sebuah fiksi fantasi dengan tokoh seorang anak lelaki berusia 10 tahun yang bernama Nono.

Dikisahkan Nono sedang berlibur ke rumah kakeknya di Wlingi, sebuah kota kecamatan yang letaknya diantara kota Malang dan Blitar. Saat dirinya sedang bersepeda sendirian di kota itu ia tertarik untuk melihat dari dekat sebuah pohon kenari raksaksa yang berada di pinggir kali Njari di kaki gunung Kelud. Ketika ia sampai di pohon kenari itu tiba-tiba saja ia terseret oleh aliran sungai Njari dan ia terbawa masuk ke dunia di balik pohon kenari, dunia masa silam ketika pasukan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman tiba di tanah Jawa , 415 tahun yang lampau!

Hal pertama yang dijumpai Nono di dunia dibalik pohon kenari adalah dirinya berada diantara pasukan Belanda!, karena saat itu ia sedang memakai kaos merah Menchester United pasukan Belanda itu menuduhnya sebagai mata-mata Inggris yang di zaman itu merupakan musuh bebuyutan Belanda.

Lolos dari kepungan tentara Belanda Nono terperangkap di warung Mbok Rimbi, disana ia dipekerjakan sebagai pembantu warung tanpa bisa melarikan diri. Sebenarnya ada banyak kesempatan yang membuat ia bisa kabur begitu saja, namun anehnya setiap kali ia lari ke arah manapun pada akhirnya ia akan kembali ke warung Mbok Rimbi. Dengan kekuatan mistisnya rupanya Mbak Rimbi memang tak membiarkan Nono kabur dari warungnya karena Nono adalah Anak Rembulan, sebutan bagi anak-anak yang akan dipersembahkannya sebagai korban kepada Dewi Kali.

Walau pada akhirnya ia dapat lolos dari cengkraman Mbok Rimbi bukan berarti dia bisa pulang ke dunianya karena kemudian Nono menjadi tawanan sebuah kerajaan yang di pimpin Ratu Merah walau masih anak-anak namun memiliki sifat yang kejam. Karena Nono berani memandang wajah Sri Ratu maka ia dimasukkan dalam taman satwa untuk kemudian dikorbankan pada buaya-buaya yang eksekusinya akan ditonton oleh seluruh penduduk kerajaan.

Tak hanya itu, Nono juga terperangkap dalam sebuah intrik dan konspirasi tingkat tinggi dalam kerajaan Sri Ratu Merah. Sebuah konspirasi yang dilakukan pangeran Mahesasuro guna mempersunting sang Ratu sehingga ia bisa berkuasa. Dengan pasukannya dan bantuan dari pasukan Belanda yang menginginkan harta dari kerajaan Ratu Merah, Mahesasuro dan teman-temannya merencanakan sebuah penyerbuan yang akan dilakukan pada saat terjadi kemeriahan di lingkungan istana, yaitu saat Nono dan para tawanan lain dilemparkan ke kandang buaya dan singa.

Peristiwa itu akhirnya membawa Nono pada sebuah peperangan yang tak hanya berperang melawan senjata melainkan juga harus melawan kekuatan-kekuatan mistis yang di masa itu lazim digunakan diantara para pendekar-pendekar sakti.

Bagi penggemar kisah fiksi fantasi lokal, novel ini bisa jadi pilihan, Djokolelono dengan sangat piawai membawa pembacanya masuk dalam dalam petualangan Nono di masa lalu. Selain ceritanya yang seru novel ini juga menghadirkan 2 tokoh legenda Gunung Kelud yaitu Pangeran Mahesasuro dan Lembusuro.

Sayangnya penulis tidak mengeksplorasi legenda Gunung Kelud ini dengan lebih dalam, dua tokoh legenda itu hanya dipakai untuk sebuah perebutan kekuasaan di kerajaan Ratu Merah. Sementara legenda Gunung Kelud yang mengisahkan pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti Mahesasuro yang berkepala kerbau dan Lembusuro yang berkepala lembu hanya dikisahkan secara singkat lewat tuturan nenek Nono. Padahal kalau penulis memasukkan legenda Gunung Kelud secara utuh dimana Nono berada diantara persaingan kedua tokoh legenda itu pastinya kisahnya akan semakin menarik dan legenda ini akan benar-benar terekam dalam memori pembaca masa kini.

Walau kisahnya dan plotnya sangat menarik, tapi saya merasa ada beberapa hal yang tidak pas di novel ini. Ketika kisah bergulir ke masa kini, ketika Nono dan temannya Saarce berada di kota Blitar, mereka hendak diculik karena si penculik mengira Saarce adalah anak duta besar Belanda. Bagi saya anggapan dari si penculik ini kurang masuk akal, bagaimana mungkin anak seorang duta besar Belanda yang akan berkunjung ke Blitar dapat dengan bebasnya sepedaan bersama temannya di pasar tanpa pengawalan polisi?

Selain itu saya juga menemukan kejanggalan yang terdapat dalam ilustrasinya, di ilustrasi halaman 196 terlihat kalau Sang Ratu mengenakan pakaian wanita Jawa, padahal di ceritanya, dikisahkan saat itu Sang Ratu sedang memakai pakaian prajurit pria untuk menyamar. Lalu di ilustrasi penangkapan Saarce oleh penculik di halaman 327 terlihat bahwa si penculik itu memakai pakaian prajurit Jawa sedangkan dalam cerita dikisahkan bahwa si penculik itu menggenakan celana loreng tentara.

Terlepas dari beberapa kejanggalan di atas, imajinasi penulis yang kuat dalam membangun plot cerita fantasi dengan setting kerajaan di Jawa masa lampau, kedatangan bangsa Belanda di Jawa, plus sedikit legenda Gunung Kelud membuat novel ini memiliki keunggulan sendiri sebagai sebuah novel fantasi lokal yang dengan gagah hadir untuk bersaing ditengah gempuran berbagai novel fantasi terjemahan karya penulis-penulis luar.

Kehadiran novel ini tentunya juga bisa membuktikan bahwa tak hanya penulis-penulis luar saja yang mampu membuat sebuah kisah fantasi yang bagus. Malah dengan kisah fantasi bernuansa lokal seperti ini budaya dan legenda lokalpun turut terangkat kembali sehingga membuat para pembaca kita, khususnya generasi muda semakin mengenal dan menghargai budaya dan legendanya.

Tiga bintang untuk novel ini, apakah setelah ini Djokolelono akan kembali produktif menulis seperti dulu? Tentunya kita menghendaki demikian. Selain menulis kisah-kisah fantasi berikutnya harapan terbesar saya adalah dapat membaca karya fiksi ilmiah (science fiction) Djokolelono terbaru dengan nuansa lokal seperti yang menjadi novel debutannya “Jatuh ke Matahari”

@htanzil

7 comments:

balonbiru said...

ya ampun..nono..nono.. banyak banget sih yang ngincer kamu buat jadi santapan :)
baca ratu merah itu aku jadi inget alice in wonderland deh om.. kayaknya musti majuin jadwal baca buku ini nih :)

Maya Floria Yasmin said...

aku malah baru dengar om, ada penulis yang namanya Djokokelono. Hihihi

judi bola said...

Manteb om, dibuat versi pdfnya biar bisa di baca offline

SeaGate said...

Saya belakangan mulai cari2 novel-novel Djokolelono di toko-toko buku online. Ketemulah Jatuh ke Matahari dan 3 jilid Penjelajah Antariksa :D
Jatuh ke Matahari hebat untuk ukuran novel yang ditulis sebelum Star Wars. Penjelajah Antariksa jilid pertama juga top. Saya pengen cari lagi bukunya yang Genderang Perang dari Wamena, dulu pernah baca waktu SD.

okeyzz said...

Barusan aku selesai baca buku ini Om, kalo aku sih ngasihnya 5 bintang karena jarang bgt ada novel fantasy dalam negeri yg mengangkat mitos lokal serenyah anak rembulan!! :)

Anonymous said...

Duuuh. . . Ada ngga ya versi DjVu atw PDF nya, . . Pengen bgt baca karya beliau (Eyang Djokolelono) coz yang ada selama ini cuma novel2 barat yg beliau terjemahkan. Selalu Bangga rasanya punya pengarang+penterjemah sehebat beliau.

suharyati ihsan said...

Cerita yang sungguh sangat mebawa pembaca berpetualang ke angkasa luar dengan sangat ilmiah.....saya ingin membacanya lagi...dimana dapat novelnya ya....