Tuesday, May 21, 2013

Para Jenderal Marah-Marah - Wiji Thukul

No. 308
Judul : Para Jenderal Marah-Marah - Kumpulan Puisi Wiji Thukul dalam Pelarian -
Penulis : Wiji Thukul
Penerbit : Majalah TEMPO, 2013
Tebal : 37 hlm

Gara-gara melawan penguasa Orde Baru, Wiji Thukul, penyair yang juga seorang aktivis buruh dikejar-kejar tentara. Namanya disebut-sebut oleh seorang Jenderal sebagai salah satu dalang kerusuhan 27 Juli 1996 di Jakarta. Semenjak itu Wiji Thukul  menjadi buron pemerintah, dalam pelariannya ia menjelajahi hampir separuh Indonesia untuk bersembunyi. Hingga kini ia hilang tak diketahui rimbanya.

Puisi-puisi perlawanan Wiji Thukul sebenarnya sudah pernah diterbitkan dalam beberapa buku, yang paling terkenal adalah Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, 2000). Namun sesungguhnya masih banyak karya Thukul yang tersebar di berbagai media baik itu berupa selebaran, majalah, koran mahasiswa, jurnal buruh, dll,. yang belum pernah dibukukan.

Atas dasar itulah Majalah mingguan Tempo berupaya membukukan puluhan karya-karya Wiji Thukul yang tersebar itu dalam sebuah booklet sebagai bonus dari Edisi Khusus : Tragedi Mei 1998-2013  dengan judul sampul "Teka-teki Wiji Thukul" yang secara khusus membahas sepak terjang dan hilangnya Wiji Thukul yang hingga kini tidak diketahui keberadaannya.

Buku yang diberi judul "Para Jenderal Marah-Marah" ini memuat 49 puisi Thukul yang terbagi dalam tiga bagian. Bagian pertama, Puisi Pelarian  menyajikan 21 buah puisi Wiji Thukul selama dirinya dalam pelarian.  Puisi-puisi yang masih ditulis tangan dengan pensil di atas 13 lembar kertas putih bergaris  diberikan oleh Thukul sendiri pada Stanley Adi Prasetyo (mantan wakil Komnas HAM) sebelum ia melanjutkan pelariannya.   Manuskrip itu sendiri sebenarnya pernah dipublikasikan sebagai bagian dari artikel Stanley di jurnal Dignitas Vol VIII No.1 thn 2012.

Bagian kedua buku ini berisi 12 buah Puisi Jawa yang pernah dimuat dalam beberapa antologi puisi. Puisi Thukul dalam bahasa Jawa ini jarang tersiar karenanya pemuatannya di buku ini meruapakan hal yang patut diapresiasi karena puisi-puisi ini merupakan salah satu bagian dari perkembangan kepenyairan Wiji Thukul yang belum banyak diketahui masyarakat luas.  Sedangkan bagian ketiga yang diberi judul Puisi Lepas yang berisi 16 puisi  yang pernah dikumpulkan dan diperbanyak secara terbatas oleh Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat yang merupakan salah satu ormas Partai Rakyat Demokratik (PRD) di ranah kesenian.

Judul buku ini sendiri diambil dari salah satu judul puisi Wiji Thukul dengan judul yang sama yaitu Para Jenderal Marah-Marah yang dijadikan  puisi pertama yang terdapat dalam buku ini. Puisi ini menceritakan bagaimana untuk pertama kaliya nama Wiji Thukul disebut di televisi sebagai biang kerusuhan peristiwa 27 Juni 1996

Pagi itu kemarahannya disiarkan
oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku
yang menonton. Istriku kaget. Sebab
seorang letnan jenderal menyeret-nyeret
namaku. Dengan tergopoh-gopoh
selimutku ditarik-tarik. Dengan
mata masih lengket aku bertanya:
mengapa? Hanya beberapa patah kata
keluar dari mulutnya: "Namamu di
televisi...." 

Semenjak  namanya disebut-sebut di TV itulah Wiji Thukul menjadi target buruan pemerintah. Hal ini tentu saja mengecewakan hatinya dan hal ini ia ungkapkan dalam pusinya berjudul Aku Diburu Pemerintah Sendiri 

aku diburu pemerintahku sendiri
layaknya aku ini penderita penyakit berbahaya

aku sekarang buron
tapi jadi buron pemerintah yang lalim
bukanlah cacat
pun seandainya aku dijebloskan
ke dalam penjaranya.

Bisa dikatakan hampir seluruh puisi-puisi dalam buku ini tercipta dari pengalaman dirinya dalam memperjuangkan kebebasan dan demokrasi, sebuah puisi yang ditujukan untuk salah satu sahabatnya Prof. Dr. W.F. Wertheim (sosiolog Belanda, ahli Asia Tenggara) yg berjudul Masihkah Kau Membutuhkan Perumpamaan? mencerminkan pengalaman dirinya dan keluarganya saat ia telah menjadi buron 

Waktu aku jadi buronan politik
karena bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik
namaku diumumkan di koran-koran
rumahku digrebek --biniku diteror
dipanggil Koramil diinterogasi diintimidasi
(anakku --4 th-- melihatnya!)
masihkah kau membutuhkan perumpamaan
untuk mengatakan: AKU TIDAK MERDEKA

Wiji Thukul juga seorang ayah yang menyangi keluarga dan anak-anaknya. Dia tahu bahwa statusnya sebagai buronan pemerintah akan membawa dampak tidak menyenangkan buat keluarganya. Karenanya dalam puisinya yang berjudul Wani, Bapakmu Harus Pergi, Thukul menyampaikan sebuah pesan yang membesarkan hati anaknya.

Wani,
bapakmu harus pergi
kalau teman-temanmu tanya
kenapa bapakmu dicari-cari polisi
jawab saja :
"karena bapakku orang berani"



Wiji Thukul saat pendeklarasian Partai Rakyat Demokratik, Jakarta, 22 Juli 1996


Pada intinya keseluruhan puisi-puisi Wiji Thukul dalam buku ini akan membawa pembacanya menyelami apa yang ada di benak seorang Wiji Thukul selama dalam pelariannya dan bagaimana ia peduli pada keluarga, buruh, dan nasib rakyat kecil yang dibelanya.

Puisi-puisi Wiji Thukul yang ditulis dalam kalimat-kalimat lugas, sederhana, mudah dimengerti oleh siapa saja dan tanpa metafora yang berbunga-bunga ini  tampaknya mampu membakar pembacanya untuk melawan sikap otoriter pemerintah yang saat itu memberangus kebebasan berpendapat dan berpolitik. Karenanya tak heran pemerintah begitu takut terhadap sosok ringkih penyair ini yang ternyata dibalik keringkihannya memiliki senjata berhulu ledak tinggi yaitu puisi-puisi perlawanannya.

@htanzil


19 comments:

itdoesexists said...

halo om rahib.. seru banget puisi2nya (.___.) itu trus jadi si pak Wiji sampe sekarang ga diketahui kisahnya lagi ya? saya jadi penasaran... hehehe

htanzil said...

Ya, sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Ada yang berpendapat kalau Wiji Thukul 'dihilangkan' oleh pemerintah Orba saat itu.

Tanam Ide Kreasi said...

Tempo menurut saya sangat pintar menempatkan Wiji Thukul dalam konteks mengingat kembali apa yang terjadi 15 tahun lalu: Mei 1998.

Althesia Silvia said...

Aku baru kali ini baca puisi-puisi Wiji Thukul, walaupun cuma cuplikan di blog ini, tp memang kena banget tuh kata-katanya. Jadi pengen punya juga.

btw, selain di Tempo, dulu puisi2 ini sudah pernah dibukukan blm om?

htanzil said...

@Tanam Ide Kreasi : ya, tepat sekali

@althesia : Sudah, tapi banyaknya diterbitkan secara terbatas, yang paling terkenal adalah kumpulan puisinya yang berjudul "Aku Ingin jadi Peluru" terbitan Indonesia Tera, 2000

hindun said...

bahasa puisinya lurus / lugas tidak banyak perumpamaan, mudah dicerna

hindun said...

bahasa puisinya lurus / lugas tidak banyak perumpamaan, mudah dicerna

htanzil said...

@hindun ya, di buku ini ada puisi wiji Thukul berjudul : "Masihkah Kau Membutuhkan Perumpamaan"

latif cakep said...

widji tukul..
Sembunyilah

Datanglah datang
Bersama kami
Bersama gelak senyum canda kami

Ayolah..
Ku nanti kau di semarang
Kita sama pengelana waktu

Jabatlah tanganku
LATIF MAULANA KAHLIL GIBRAN on facebook

Ku tunggu kau

Obat Alami Sakit Maag said...

Jadi penasaran nih sama puisi puisinya ..

Chris Ringgi said...

Hanya ada 1 kata..LAWAN...sebuah kalimat dalam makna, lahir dari ketidakadilan yang dirasakan anak negeri...

ibir tabuk said...

Sangat keren dan berani. Saya mengapresiasi yg setinggi-tingginya buat bang Wiji Thukul

ibir tabuk said...

Sangat keren dan berani. Saya mengapresiasi yg setinggi-tingginya buat bang Wiji Thukul

mohamad nusur said...

htanzil: apakah buku2 masih bisa didapatkan? sedang cari bukunya wiji thukul. yang dulu dan atau yang baru. mohon bantuannya. :-)

Surya Aditya said...

Ada buku mengenai kehidupan wiji thukul di toko buku gramedia, silakan di cek.

Surya Aditya said...

Ada buku mengenai kehidupan wiji thukul di toko buku gramedia, silakan di cek.

Anonymous said...

"Pulanglah Pak" , jd judul lagu yg dibawakan bang iwan fals buat bang Widji Tukul

andy said...

Biasanya orang benar hidupnya nggak lama

Anonymous said...

FYI,
Kumpulan puisi Wiji Thukul secara lengkap dapat dibaca di http://wiji-thukul.blogspot.com

Tks