Thursday, September 19, 2013

Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa by Maggie Tiojakin

[No. 317]
Judul : Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa
Penulis : Maggie Tiojakin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Juli 2013
Tebal : 241 hlm

Ketika mendengar akan terbit karya terbaru dari Maggie Tiojakin saya langsung penasaran dan ingin segera membacanya. Bersyukur karena tidak terlalu lama setelah buku ini terbit saya akhirnya bisa memperoleh buku ini dari penulisnya langsung. Thx ya Maggie! Lalu  kenapa saya begitu penasaran dengan buku ini? 

Pertama, saya suka dengan gaya berutur dan tema kisah-kisah yang diangkat oleh Maggie di dua buku karyanya yang sudah saya baca yaitu, Balada Ching Ching (2010)  dan Winter Dreams ( 2011 ) sehingga saya tergelitik untuk mencoba seperti apa karya terbarunya ini.

Kedua, judul. Selama kita Tersesat di Luar Angkasa, judul yang sangat menarik dan absurd karena toh hingga saat ini belum ada seorangpun yang pernah tersesat di luar angkasa. Saya jadi bertanya-tanya bagaimana mungkin bisa tersesat di luar angkasa, dan kalaupun tersesat seperti apa kira-kita kisahnya?

Ketiga, titel Kumpulan Cerita Absurd.  Titel buku inilah yang paling membuat saya penasaran, seberapa absurd sih kisah-kisah dalam buku ini?, dan apakah saya sanggup menikmati keabsurd-an kisah-kisahnya?

Kempat, cover. Saya termasuk orang yang cerewet dalam hal cover buku. Kalau cover buku tidak sesuai dengan selera saya, saya jadi tidak tertarik untuk membacanya (jangan dicontoh). Nah, untuk cover buku ini saya beri dua jempol! Ilustrasi  cover yang dibuat oleh salah satu ilustrator foavorit saya, Steven Andersen ini membuat saya tak bosan-bosannya menatapnya dan menambah gairah saya untuk membaca buku ini :)

 (Beberapa calon cover SKTLA by Steven Andersen)

Judul buku kumpulan cerpen ini diambil dari cerpen Selama Kita tersesat di Luar angkasa yang merupakan cerpen terakhir dari 14 cerpen plus 5 bonus cerpen berbahasa Inggris yang terdapat dalam buku ini. Cerpen ini  yang mengisahkan empat orang astronout yang terdampar di planet Merkurius yang sedang mengkerut. Keempat astornout itu harus bertahan hidup di tengah gelombang udara panas dimana tidak ada setetes airpun di sana yang tersisa.

 Ketigabelas cerita lainnya dalam buku ini menyajikan kisah-kisah yang tidak biasa, unik, bahkan beberapa cerpen endingnya dibuat menggantung  sehingga memberikan keleluasaan bagi kita untuk mengakhiri kisahnya sesuai dengan imajinasi kita. Atau ada pula kisah-kisah biasa yang menjadi luar biasa karena penyajiannya yang unik.

Seperti yang dikatakan penulisnya  secara umum  tema-tema yang diangkat dalam buku ini terkesan masukilin, tidak kompeks namun keras seperti tentang perang, kriminalitas, game komputer, kematian, keberanian, petualangan menjelajah rumah-rumah tua, hingga khayalan sensual pria saat jam kerja.

Khusus untuk tema perang, buku ini menyajikan dua cerpen bertema perang, yang saya rasa sangat baik dari segi penyajiannya maupun kedalaman makna yang bisa kita dapat. Yang pertama cerpen berjudul Kristallnacht (Malam Kristal) yang idenya diambil dari suatu peristiwa yang pernah terjadi dimana pada 1938 pengikut Nazi  melancarkan serangan besar-besaran terhadap kediaman, toko, rumah ibadah Yahudi di Jerman dan Austria selama dua hari. Pecahnya kaca-kaca rumah dan toko yang berserakan dan terkena cahaya bagaikan kristal itulah yang membuat malam itu dinamakam Kristallcacht/Malam Kristal

Cerpen Kristallnacht  ditulis dalam bentuk wawancara dari seorang yang di masa kecilnya pernah mengalami mengenai masa-masa teror yang dilakukan sebuah rezim terhadap ras tertentu. Walau cerpen ini tidak menyebutkan setting dan nama rezim yang berkuasa namun dengan mudah pembaca akan bisa menebak bahwa ini adalah teror rezim Nazi terhadap warga Yahudi.

Dalam cerpen ini penulis berhasil membuat pembacanya merasa 'tertekan' seolah ikut merasakan apa yang dialami tokoh yang diwawancarai dan bagaimana pada akhirnya walaupun telah mengalami kesengsaraan namun akhirnya si tokoh bedamai bisa dengan masa lalunya yang pahit.

Di kisah ini juga terungkap bagaimana anak-anak Yahudi harus diungsikan ke suatu tempat tanpa mereka ketahui bahwa mungkin saja itu perpisahan untuk selama-lamanya dengan kedua orang tuanya



“Saya takkan pernah lupa adegan di stasiun kereta tersebut. Para ibu tersenyum lebar seraya melepas anak-anaknya, berjanji untuk berjumpa lagi dalam waktu dekat. Ini hanya tipuan belaka, ternyata. Mereka tidak mau anak-anaknya tahu bahwa di stasiun itu mereka akan berpisah untuk selamanya. Mereka juga berpesan keras-keras: "Jangan nakal, jangan takut, jaga diri kalian baik-baik, kami mencintaimu" Selalu diulang dan diiringi kecupan bertubi-tubi" (hlm 24)


Sedangkan pada cerpen dies irae, dies illah  kita disuguhkan  situasi perang saudara di sebuah negeri dari sudut pandang seorang anak kecil yang tidak mengerti apa sesungguhnya arti perang itu.  Ketika si anak ditanya tentang ayahnya yang ikut berperang, terjadi dialog yang menarik, 

"Kata ibuku, ayahmu ikut gerombolan El Sadik"
Amzo mengangguk, "Bersama Tello."
"Aku kenal dia - bajingan kampung."
"Katanya dia pahlawan."
"Siapa bilang?"
Amzov menggeleng. "Aku cuman menguping pembicaraan orang."
Jangan mau diperdaya," tutur Dula. "Perang ini adalah perang ego, antara gubernur yang bekas preman dan preman yang mau jadi gubernur" 
(hlm 84)

Melalui cerpen ini kita juga akan disadarkan bahwa yang menjadi korban adalah rakyat biasa yang mungkin terlupakan dan hanya akan muncul sebagai angka statistik semata

"Dalam waktu singkat, dunia akan berkabung dan menyayangkan kepemimpinan seorang gubernur yang tak tanggung-tanggung menghajar warganya senidri demi mempertahankan kekuasaan. Dalam waktu singkat, orang-orang yang tak pernah angkat senjata akan berakhir di layar kaca sebagai statistik. Angka yang terus membengkak"  
(hlm 90)

Masih banyak cerpen-cerpen menarik dengan keragaman tema dalam buku ini,  pada cerpen Saksi Mata kita akan melihat sikap ketidakpedulian  masyarakat urban terhadap lingkungannya. Pada cerpen ini dikisahkan beberapa penghuni apartemen yang melihat sebuah kejadian pembunuhan namun pada akhirnya tidak ambil peduli ketika polisi hendak meminta keterangan mereka. Walau di cerpen ini tidak dikisahkan secara jelas bagaimana para saksi mata enggan untuk dimintai keterangan namun dengan cerdas penulis menuliskan sebuah adegan yang menyiratkan keengganan mereka.

Lalu ada pula cerpen  sederhana berjudul Jam Kerja  tentang pikiran sang tokoh yang megembara kemana-mana saat seorang wanita menyampaikam sebuah presentasi di kantornya. Kisah yang menyadarkan kita semua bahwa ketika kita hidup dalam rutinitas pekerjaan yang itu -itu saja maka pikiranlah yang akan membawa kita keluar dari perangkap rutinitas yang membosankan itu.

Masih ada beberapa cerpen-cerpen yang menarik yang sengaja tidak saya bahas dalam review ini, biarlah sisanya saya serahkan pada calon pembaca buku untuk menikmati keunikan atau keabsurdan cerpen-cerpen lainnya. Selain 14 cerpen yang tersaji dalam buku ini, penulis juga memberikan bonus berupa 5 cerpen dalam bahasa Inggris dan halaman extra berupa penjelasan dari penulisnya tentang proses kreatif dan latar dari beberapa kisah yang ada di buku ini. Sebuah booknote unik juga diberikan secara gratis kepada mereka yang membeli buku ini.



Seberapa absurd-kah kisah-kisah dalam buku ini? Setelah membaca ke-14 cerpennya, saya koq merasa tidak semua cerpen dalam buku ini bisa dikatakan kisah absurd seperti definisi absurd yang terdapat di lembar pertama buku ini.


absurd = tidak masuk akal, bodoh, konyol, tidak layak 

Jika berdasarkan definisi tersebut saya berpendapat beberapa kisah dalam buku ini bukanlah kisah absurd antara lain pada kisah  Kristallnacht, dies irae, diel illa, Saksi Mata,  Ro-Kok, Jam Kerja, Suatu Saat Kita Ingat Hari ini.  Bagi saya  kisah-kisah tersebut kurang tepat dikatakan kisah absurd dalam artian tidak masuk akal, bodoh, konyol, tidak layak. Namun tepat bila absurd di sini ada dalam artian alur, karakter, ending yang menggantung, nama-nama tokoh yang tidak lazim, dan  lokasi setting cerita yang tidak teraba.

Terlepas dari definisi absurd dan apakah ini merupakan kumpulan kisah absurd atau bukan, saya bisa menikmati cerpen-cerpen dalam buku ini dan saya juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya pada penulis karena telah memberikan warna baru bagi dunia cerpen tanah air karena Maggie menulis dengan caranya sendiri yang unik, orisinal, dan melompat jauh dari pakem cerita pendek di ranah fiksi Indonesia namun masih tetap bisa dinikmati walau beberapa cerpennya kadang membuat kening berkerut.

@htanzil

6 comments:

Althesia Silvia said...

ihh rahib udh baca bukunya maggie banyak juga ya..aku aja baru baca winter dreams tapi udah suka..kebayang deh buku-buku lainnya.

penasaran sama buku yang ini

htanzil said...

Kalo suka winter dream, buku ini pasti suka juga tentunya.. :)

Althesia Silvia said...

Rahib klo aku gk nemu buku-buku lainnya maggie yang rahib sebutin diatas, aku boleh pinjem ke rahib ya kapan-kapan :D

htanzil said...

Tentu saja boleh :)

Peri Hutan said...

aku juga suka dua cerpen perang yang ada di buku ini, jlebbbb banget

Hon BookStore said...

Salam kenal!!
Info yang sangat bagus!! Good info!! :)

Dapatkan buku2 novel terbaru dna best Seller, seperti
1. Sun(ny)+Gift.
2. The Sadness Winter in Korea.
3. Cloud(y).

hanya di Hon Book Store

Silahkan kunjungi dan pilih2 buku berkualitas lainnya dari penerbit-penerbit kota pelajar Yogyakarta di : www.honbookstore.com
Dapatkan diskon gede2an hingga 15%. :D

Jangan lupa silahkan tinggalkan jejak alias komen di : Hon Book Store :)