Monday, January 13, 2014

Soeka-Doeka di Djawa Tempo Doeloe by Olivier Johannes Raap

[No. 325]
Judul : Soeka Doeka Djawa Tempo Doeloe
Penulis : Olivier Johannes Raap
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : I, 2013
Tebal : 189 hlm ; 17 x 22 cm
ISBN : 978-979-91-0649-0


Di era internet ini  mengirimkan kartu pos bergambar untuk menulis pesan singkat sekaligus menandakan kita berada di sebuah lokasi tertentu kini sudah mulai ditinggalkan. Alih-alih mengirim kartu pos yang harus kita beli, tulis, dan kirim dengan perangko kini orang lebih suka menggunakan media sosial (facebook, twitter, instagram, path, dll) untuk mengirim pesan sekaligus foto dimana kita sedang berada.

Tidak heran jika kini  kartu pos bergambar telah dilupakan orang, kini kartu pos jadi sekedar barang souvenir yang hanya ada di tempat-tempat tertentu dan dibeli oleh orang-orang tertentu juga. Namun sadarkah kita bahwa selembar kartu pos bergambar sebenarnya bisa menjadi alat rekam sejarah dan budaya di masa kartu pos tersebut dicetak?

Ya,  selembar kartu pos ternyata bisa mengenalkan kita pada sejarah dan budaya dengan cara yang menyenangkan. Melalui kartu pos bergambar kita bisa mengamati gedung-gedung, busana, permainan tradisional, kesenian, budaya pernikahan, dll saat kartu pos tersebut diproduksi

Lewat buku ini Olivier Johannes Raap, pedagang buku di Den Haag Belanda yang mengoleksi ribuan benda seni, buku, dokumen, kartu pos yang berkaitan dengan Indonesia masa lampau mengajak kita memasuki mesin waktu untuk mengunjungi Jawa di era 1900-an hingga akhir masa kolonial di tahun 1940an lewat 140 lebih lembar kartu pos bergambar yang dikoleksinya.

Kartu-kartu pos dalam buku ini dibagi ke dalam 10 kelompok yaitu Cantik & Tampan, Pernikahan, Keluarga Bahagia, Anak & Pendidikan, Si Kaya & si Miskin, Kesenian, Perayaan, Permainan, Manusia & Hewan, Pemakaman. Masing-masing kartu pos disertai tahun terbit, lokasi, fotografer, penerbit, serta narasi  yang mendeskripsikan tentang apa yang tampak dalam kartu pos tersebut.

Sebelum kita menikmati satu demi satu kartu-kartu pos dalam buku ini pembaca akan diantar oleh penulisnya untuk mengetahui sejarah kartu pos, dan hal-hal teknis mengenai kartu pos lawas seperti bagaimana menilai usia kartu pos, teknik pemotretan yang digunakan, mengidentifikasi fotografer, penerbit kartu pos, dll. Tidak itu saja, di bagian ini juga terdapat biografi singkat Kassian dan Sem Cephas, fotografer terkenal di masa kolonial yang banyak menghasilkan foto-foto tentang Hindia Belanda yang karya-karyanya digunakan dalam kartu pos bergambar dan buku-buku tentang Hindia di masa lampau

Di bagian ini  kita akan mengetahui bahwa kartu pos generasi pertama di Indonesia terbit pada tahun 1874 oleh pemerintah Hindia Belanda dengan ukuran 9x12 cm, tanpa gambar, dimana satu sisi untuk menulis surat, sementara sisi lainnya untuk menulis alamat dengan perangko yang telah tercetak. Kartu pos bergambar sendiri baru muncul pada tahun 1890-an dan saat itu barulah pengirim harus menempelkan perangkonya sendiri.

Kartu-kartu pos bergambar itulah yang dikoleksi oleh penulis dan diabadikan dalam buku ini. Kekuatan buku ini tidak hanya pada foto-foto kartu posnya saja melainkan juga pada narasinya yang begitu detail dan informatif dalam menafsirkan dan mendeskripsikan masing-masing kartu pos. Di sini penulis menjelaskan  pakaian yang dikenakan, gaya atau posisi orang dalam foto, ekspresi model hingga benda-benda yang tampak dalam setiap foto. Saking detailnya bahkan kancing baju yang copot-pun ternarasikan dengan baik.

Dari narasinya tersebut  kita bisa menilai bahwa penulis yang adalah seorang Belanda ternyata mengerti betul akan budaya Hindia di  masa lampau  yang tentunya hanya dapat ia pahami berdasarkan riset pustaka yang mendalam.

Lewat kartu-kartu pos yang terdapat dalam buku ini  ada banyak  hal-hal  yang menarik yang akan kita temukan seperti munculnya sosok orang kerdil pada kartu pos berjudul Pengantin Priangan (hl 51) yang terbit sekitar 1910

Ternyata kemunculan orang kerdil ini mempunyai maksud tertentu. Dalam narasinya penulis menjelaskan bahwa

"Di kediaman bupati atau keraton, orang kerdil menempati posisi istimewa di antara para abdi. Mereka dianggap memiliki kekuatan magis yang dapat digunakan untuk berbuat baik atau jahat. Rombongan orang ningrat tidaklah lengkap tanpa adanya orang kerdil"  (hlm 51)

Di bagian kesenian, kita akan melihat bahwa ternyata pada tahun 1920-an gadis-gadis pribumi berkebaya ternyata sudah mahir bermain alat-alat musik barat seperti banyo, gitar, mandolin dan biola.



Lalu ada pula kartu pos dengan cap pos tahun 1904 yang berjudul Anak Band yang menampilkan sekelompok anak remaja dengan alat musik gesek (biola) dan perkusi.



Pada bagian Perayaan kita akan mengetahui bahwa tradisi menghias mulut jalan (gapura) disetiap tanggal 17 Agustus beserta lomba-lomba khasnya ternyata berawal dari peringatan naik tahtanya Ratu Willhemma yang pada jaman kolonial diperingati setiap tahunnya.



"Kartu pos ini memperlihatkan hiasan di jalan umum di Solo dalam rangka naik tahtanya Ratu Willhelmina, tgl 8 September 1898. Tahun-tahun selanjutnya tanggal ulang tahun Ratu Willhelmina 31 Agustus dirayakan sebagai hari raya nasional. Di semua kota, jalanan utama dihias dan pesta rakyat dengan permainan-permainan tradisionalnya diselenggarakan. Karnaval keliling kota yang diikuti berbagai komunitas dan kelompok drum band juga diadakan... Setelah Indonesia merdeka tradisi ini diteruskan dan tetap diadakan setiap tanggal 17 Agustus untuk merayakan Hari Kemerdekaan." (hlm 139)

Di bagian kesenian kita akan menemukan suatu hal yang membanggakan dari pemain akrobat pribumi di tahun 1910-an yang beantraksi hingga mancanegara seperti yang terungkap lewat kartu pos ini



"Sundi, Siwil, dan amat adalah tiga pemain akrobat berskala internasional. Pada 1904 trio tersebut dikontrak oleh sirkus di Belanda (Poeze 2008, 18) dan tahun-tahun berikutnya, mereka berkeliling di Eropa dan beraktrasi antara lain di Berlin, Paris, dan St. Petersburg (De Postrijder 22/07/1911,4)"

Tentunya kita masih ingat tentang Topeng yang beberapa waktu yang lalu sempat ramai jadi perbincangan karena sejumlah Pemkot melarang pertunjukan topeng monyet di jalana. Ternyata kehadiran seni topeng monyet ini telah lebih dari seratus tahun yg lalu ada di Nusantara  tepatnya sejak zaman Hindia Belanda  seperti pada kartu pos yang terbit sekitar tahun 1900 ini. Dalam narasinya dijelaskan bahwa kesenian topeng Monyet ini berasal dari India, dan dalam kartu pos ini terlihat bahwa yang memainkannya adalah seorang India dengan topi sorbannya. 


Setelah kita menikmati suguhan kartu pos-kartu pos lawas, sebagai penutup sebuah epilog berjudul Relasi Kebudayaan, Lalu dan Kini ditulis dengan menarik oleh Cahyadi Dewanto, fotografer dan pengajar di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung) yang sejak 2005 mengerjakan proyek foto dokumenter  Kassian Cephas: "Jejak-jejak Sang fotografer Kassian Cephas"

Selain itu ada juga bonus dari penerbit berupa dua buah kartu pos sungguhan dengan foto repro dari kartu pos lawas yang terdapat dalam buku ini.



Masih banyak hal yang menarik yang dapat kita lihat dan pelajari dari kartu pos- kartu pos dalam buku ini, sayangnya walau foto yang disajikan tampak tajam dengan sapuan warna sephia untuk menambah kesan lawasnya  ukuran foto-foto dalam buku ini tampak terlalu kecil ( 11cm x 7 cm). Hal ini tentu saja membuat pembaca kurang maksimal dalam menelaah tiap-tiap kartu pos karena detail-detail dari masing-masing kartu pos seperti yang dinarasikan penulisnya di buku ini menjadi tidak terlihat.

Untuk sebuah buku foto memang idealnya dicetak dalam ukuran buku yang besar seperti buku pertama penulis, Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe, Galang Press 2013 sehingga foto-fotonya dapat terlihat dengan jelas. Buku ini dibuat dalam format yang lebih kecil sehingga otomatis foto-fotonya ikut mengecil. Sebenarnya bisa disiasati dengan pemuatan foto sehalaman penuh dan narasi di halaman sebelahnya seperti yang terdapat di halaman pembuka untuk masing-masing bab. Namun jika semua foto tersaji seperti itu tentunya buku ini akan menjadi lebih tebal sehingga otomatis harganya menjadi lebih mahal.

Mungkin karena pertimbangan ekonomislah maka buku ini dibuat demikian. Di satu sisi memang harga buku ini menjadi lebih terjangkau sehingga bisa terakses oleh lebih banyak pembaca, namun di sisi lain pembaca akan merasa kurang maksimal dalam menelaah setiap foto kartu pos yang ada di buku ini.

Yang juga disayangkan adalah tidak adanya lampiran profil fotografer dan penerbit seperti yang terdapat di buku  Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe padahal dengan adanya profil fotografer dan penerbit akan membuat buku ini menjadi lebih informatif khususnya bagi pengamat foto2 lawas.

Satu hal yang juga menjadi temuan saya ketika membaca buku ini adalah perbedaan antara  foto Perempuan Betawi  (hlm 39) karya Tio Tek Hong di buku ini dengan foto kortu pos dengan gambar yang sama di buku Oud Bandoeng dalam Kartu Pos by Sudarsono Katam, Khazanah Bahari, 2009.  (hlm 290)


Foto sebelah kiri adalah kartu pos yang terdapat di buku Soeka Doeka Djawa Tempo Doeloe dengan judul Groet uit Batavia dan penulis memberi judul kartu pos ini Perempuan Batavia , sedangkan kartu pos sebelah kanan  yang terdapat di buku Oud Bandoeng Dalam Kartu Pos by Sudarsono Katam berjudul Groet alt de Preanger dan Sudarsono Katam memberi keterangan foto ini sebagai Gadis Priangan. Mana yang betul? 


Terlepas dari hal diatas kehadiran buku ini sangat baik untuk diapresiasi oleh mereka yang ingin mengetahui sejarah dan budaya di Jawa pada masa silam. Kartu-kartu pos bergambar dalam buku ini  menyadarkan kita semua bahwa sepotong kertas kecil, tipis, dan bergambar itu dapat merekam sejarah, budaya, dan suka duka kehidupan manusia di masa lampau.

Apa yang dilakukan oleh penulis dalam mendokumentasikan lembaran-lembaran usang kartu pos dan membagikan apa yang dimilikinya kepada masyarakat Indonesia melalui buku ini sangat patut dihargai dan diberi acungan dua jempol sekaligus.

@htanzil

3 comments:

dion_yulianto@blogspot.com said...

Bagus banget buku dan reviewnya. Untuk buku2 bergambar dan bernilai kenangan seperti inilah, e book kalah telak hehehe. Nice review rahib.

tandy junaedi said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Rien Dj said...

Pada dasarnya saya nggak suka sejarah Indonesia, tapi baca review-review di sini jadi mulai tertarik.