Tuesday, February 25, 2014

Lebih Dekat dengan Karel Albert Rudolf Bosscha

[No. 327]
Judul : Lebih Dekat dengan Karel Albert Rudolf Bosscha
Editor  : Ridwan Hutagalung 
Penerbit : Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI)
Cetakan : II, Februari 2014
Tebal : 152 hlm

Bagi sebagian orang nama Bosscha tidaklah asing terlebih bagi para pengamat dan pecinta dunia astronomi di Indonesia karena namanya dijadikan nama observatorium tertua di  Indonesia sekaligus yang terbesar di Asia Tenggara yaitu Observatorium Bosscha di Lembang - Bandung. Bagi masyarakat Bandung nama Bosscha lebih familiar lagi karena namanya diabadikan menjadi salah satu nama ruas jalan di Bandung.

Jadi siapakah Bosscha yang memiliki nama lengkap Karel Albert Rudolf Bosscha sehingga namanya dijadikan nama observatorium dan nama jalan di Bandung? Seperti yang menjadi judulnya, Lebih Dekat dengan Karel Albert Rudolf Bosscha melalui buku ini kita diajak lebih mengenal lebih dekat lagi siapa Bossca, apa yang telah dilakukannya dan sumbangsihnya bagi Indonesia sehingga  85 tahun setelah kematiannya berdirilah sebuah komunitas yang menamakan dirinya "Sahabat Bosscha" yang diketuai oleh Eka Budianta (budayawan/sastrawan/akitivis lingkungan) dimana komunitas ini bertekad untuk merawat, memelihara, dan meneruskan cita-cita Bossca.

Buku ini berisi  kumpulan tulisan dari para sahabat Bosscha yang terdiri berbagai profesi antara lain mahasiswa, astronom, wartawan, pecinta sejarah dan budaya, pemerhati kepariwisataan, budayawan, dll. Masing-masing menulis tentang Bosscha dari sudut pandang dan profesi mereka masing-masing sehingga melalui buku ini kita bisa melihat sosok dan kiprah Bosscha secara utuh

Lima belas tulisan dalam buku ini bisa dibagi menjadi dua bagian besar dimana di enam tulisan pertama setelah sambutan dari Ketua BPPI (Badan Pelestarian Pusaka Indonesia) dan Ketua Observatorium Bossca,  para sahabat Bossca menulis kehidupan serta sosok Bosscha beserta kiprahnya lengkap dengan beberapa peninggalannya yang masih ada hingga kini.  Sedangkan lima tulisan berikutnya berisi tentang komunitas Sahabat Bosscha yang baru saja terbentuk pada tanggal 17 Agustus 2013, yang bertepatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI dan HUT Observatorium Bosscha yang ke 90.

Di tulisan-tulisan yang membahas Bosscha kita akan diajak menelusuri kehidupan latar  Bosscha yang lahir pada 15 Mei 1865 dari keluarga imuwan terpandang di Belanda. Sejak kecil Bosscha dikenal memiliki kemauan yang kuat, namun sayangnya ia gagal meraih gelar sarjana di Politeknik Belanda karena berselisih pendapat dengan dosen pembimbingnya saat menyelesaikan tugas akhir. Dalam kekecewaannya Bosscha  berlayar ke Hindia Belanda pada tahun 1887, saat itu usianya baru 22 tahun.

Di Hindia Belanda awalnya Bosscha membantu pamannya di perkebunan Sinagar Sukabumi, mengikuti kakaknya sebagai geolog ke Kalimantan, hingga akhirnya menetap dan mengelola perkebunan teh di Malabar. Perkebunan teh inilah yang membuat nama Bossca mulai dikenal. Dengan bibit teh dari daerah Assam, India yang ternyata sangat cocok ditanam di Malabar dan digunakannya  mesin-mesin pengolahan teh yang canggih dengan  3000 karyawan pribumi dan 12 staff Eropa maka hasil dari pekebunan tehnya ini menjadi salah satu penghasil teh  yang terbesar di dunia saat itu (1910). Keberhasilannya ini menempatkan Bosscha sebagai salah seorang pria terkaya di Bandung setelah Perang Dunia Pertama dan menjadi salah satu Raja Perkebunan Teh di Priangan (Thee Koning)

Kesuksesan Bossca dalam mengelola perkebunan tehnya tidak membuat ia lupa dan berpuas diri, keuntungan yang diperolehnya tidak ia gunakan  hanya untuk kepentingan pribadinya. Ia gunakan kekayaannya untuk ikut berperan dalam mendirikan berbagai, sarana pendidikan, kesehatan, ilmu pengetahuan, dll di Bandung antara lain Sekolah Teknik pertama di Indonesia yang kini dikenal dengan nama ITB, Observatorium Bossca, sekolah tuna rungu, sekolah bagi penderita buta, gedung Sositet Concordia (Gd.Merdeka-Bandung), dan masih banyak lainnya.

Sumbangan Bosscha yang mungkin paling besar dan monumental adalah Obesvatorium Bossca yang didirikan atas inisiatifnya pada tahun 1923 dimana Bosscha menjadi penyandang dana utamanya dengan membeli sebuah teropong tercanggih di masa itu. Sebagai bentuk penghargaan, nama Bosscha kemudian dijadikan sebagai nama peneropong bintang yang dibangunnya, Bossca Sterrenwacht,serta sebagai sebuah nama jalan di kawasan Bandung Utara

Bebragai sumbangsihnya ini membuat Bosscha menjadi salah satu tokoh Belanda yang disegani dan dihormati di Hindia Belanda baik di kalangan penduduk Eropa maupun pribumi . Bosscha juga dikenal sangat dekat dan memperhatikan kesejahteraan ribuan karyawannya. antara lain dengan mendirikan Vervoloog Malabar, sekolah gratis bagi kaum pribumi khususnya anak-anak karyawan dan buruh perkebunannya.

Dengan segala kebaikanya dan kiprahnya di berbagai bidang  maka  tak heran ketika Bosscha meninggal dalam pangkuan salah seorang karyawan pribuminya karena terserang tetanus pada tgl 28 November 1928 di usianya yang ke 63 , ada ribuan orang termasuk Bupati Bandung Wiranatakusumah V  mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya di kompleks perkebunan tehnya di Gn. Malabar sehingga panjang iring-iringannya mencapai 2 km!. Kepergiannya ini tak lama setelah ia mendapatkan penghargaan sebagai Warga Utama Kota Bandung dari pemerintah kota saat itu.

 Makam KAR Bosscha di Kompleks Perkebunan Teh Malabar


Selain tulisan tentang riwayat hidup Bosscha ada pula tulisan yang secara khusus menguraikan hubungan pembangunan kota Bandung yang terkait dengan kegiatan Bosscha, kedermawanan Hati Bosscha, sejarah teh di Priangan dan Hindia Belanda dimana Bosscha menjadi salah satu pelaku sejarahnya, dan tenang Astronomi Urban yang mengemukakan bagaimana kini astronom-astronom pemula dapat mengamati angkasa lewat peralatan teleskop sederhana plus aplikasi android dan situs-situs internet yang kini memudahkan siapa saja yang berniat mengamati dan mempelajari dunia astronomi.

Setelah tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Bosscha dan karyanya di 5 tulisan terakhir tersaji tulisan-tulisan yang merekam kegiatan-kegiatan serta sejarah terbentuknya komunitas Sahabat Bosscha yang bertujuan untuk melestarikan Observatorium Bosscha dan lingkungan sekitarnya sebagai cagar budaya Indonesia sekaligus menjadi juru bicara yang menyuarakan kampanye-kampanye untuk penyadaran publik agar Observatorium Bosscha bisa melaksanakan fungsinya dan masyarakat luas bisa memanfaatkannya bagi ilmu pengetahuan secara maksimal.

 Kunjungan Sahabat Bosscha ke makam K.A.R. Bosscha

Di bagian akhir sebelum Eka Budianta selaku ketua Sahabat Bossca menuliskan tentang Falsafah Persahabatan Bosscha,ada pula tulisan berjudul Sekilas Observatorium Bosscha yang memaparkan tentang latar belakang pendirian, pembiayaan, pembangunan, fasilitas, direktur/kepala Observatorium Bosscha dari masa ke masa serta kendala yang dihadapi Observatorium Bosscha di masa kini

Buku  ini juga dilengkapi dengan puluhan foto-foto masa lampau dan masa kini yang tersaji dengan kualitas yang baik sehingga pembaca dapat melihat dengan jelas peninggalan dan sumbangsih Bosscha bagi dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Selain itu ada pula album  foto-foto kegiatan para Sahabat Bossca yang tidak kalah menariknya.

Secara keseluruhan buku kecil tentang Bosscha ini sangat menarik, yang mungkin agak disayangkan adalah terjadinya pengulangan kisah-kisah kehidupan Bosscha di beberapa tulisan yang merupakan masalah klasik dari sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan.

Dari segi penyajian data ada perbedaan data yang dikemukakan oleh masing-masing penulis, pertama mengenai panjang iring-iringan yang mengantar jenazah Bosscha ke tempat pemakamannya, di halaman 20  tercatat panjang iring-iringan adalah 5 km, sedangkan di halaman 43ditulis sepanjang 2 km.

Kedua, mengenai keadaan sekolah rakyat yang didirikan Bosscha pada tahun 1901 di perkebunan Malabar. Pada halaman 26 disebutkan bahwa bekas sekolah ini dibiarkan terbengkalai sejak terkena gempa Pangalengan beberapa tahun yang lalu, di halaman 48 disebutkan bahwa kini sekolah ini menjadi SD Negeri Malabar II, sedangkan di halaman 95 disebutkan bahwa sekolah tersebut kini digunakan oleh Sekolah Dasar Ciemas, Malabar. Mungkin ketiganya benar, dalam arti nama lain SD Malabar II adalah SD Ciemas yang kini keadaannya terbengkalai namun ada baiknya jika editor menyeragamkan penamaan dan keterangannya agar tidak terkesan adanya perbedaan.

Kemudian dalam hal sejarah Perkebunan Teh Malabar yang pernah dikelola Bosscha, dalam buku ini tidak diungkapkan bagaimana perkembangan pabrik teh ini sepeninggal Bosscha hingga kini dikelola oleh pemerintah lewat PTP XII. Informasi  ini tentunya perlu diketahui masyarakat agar perkebunan teh yang pernah berjaya di Hindia dan pasar teh dunia ini kini masih terus berproduksi.

Terlepas dari semua itu sebagai sebuah buku yang  mengenalkan masyarakat pada sosok dan peran K.A.R Bosscha  pada perkembangan kota Bandung serta sumbangsihnya pada dunia pendidikan dan ilmu pengatahuan buku ini dapat menjadi awalan atau pengantar yang sangat baik karena hingga kini belum ada sebuah bukupun yang secara khusus membahas tentang Bosscha dalam khazanah literatur Indonesia bahkan dunia karena menurut Ridwan Hutagalung (editor buku in) di negara asal-nya (Belanda) pun tidak ditemukan buku atau biografi Bosscha. Mengapa ya?

Buku ini juga tentunya sangat bermanfaat sebagai publikasi yang baik bagi komunitas Sahabat Bosscha, satu hal yang sangat positif karena dengan demikian visi dan misi Sahabat Bosscha yang walau baru berusia 6 bulan  telah beranggotakan sebanyak 200 orang ini akan tersebar luas.  Dengan demikian diharapkan akan semakin banyak orang tertarik bergabung dengan Sahabat Bosscha dalam upaya melestarikan salah satu peninggalan terbesar Bossca sebagai salah satu cagar budaya sekaligus peneropong bintang yang harus dilindungi dan terus dikembangkan bagi dunia astronomi dari generasi ke generasi.

@htanzil

###

Informasi Tambahan :

Kendala yang dihadapi Observatorium Bosscha kini :

Saat ini, kondisi di sekitar Observatorium Bosscha dianggap tidak layak untuk mengadakan pengamatan. Hal ini diakibatkan oleh perkembangan pemukiman di daerah Lembang dan kawasan Bandung Utara yang tumbuh laju pesat sehingga banyak daerah atau kawasan yang dahulunya rimbun ataupun berupa hutan-hutan kecil dan area pepohonan tertutup menjadi area pemukiman, vila ataupun daerah pertanian yang bersifat komersial besar-besaran.

Akibatnya banyak intensitas cahaya dari kawasan pemukiman yang menyebabkan terganggunya penelitian atau kegiatan peneropongan yang seharusnya membutuhkan intensitas cahaya lingkungan yang minimal.

Sementara itu, kurang tegasnya dinas-dinas terkait seperti pertanahan, agraria dan pemukiman dikatakan cukup memberikan andil dalam hal ini. Dengan demikian observatorium yang pernah dikatakan sebagai observatorium satu-satunya di kawasan khatulistiwa ini menjadi terancam keberadaannya.

Sumber : Lebih Dekat dengan Karel Albert Rudolf Bossca / Wikipedia

5 comments:

astrid said...

waks, pengakuan nih: aku belum pernah ke observatorium boscha (sebagai anak bandung aku agak memalukan ya), dan aku baru tahu kalau boscha itu dulu termasuk raja perkebunan teh... btw sayang banget yaaa...kondisi lembang semakin padat :(

oky ferdinal said...

Mantap....

htanzil said...

ssst, aku juga belum pernah ke Bosscha..

Toko Buku Online said...

Toko Buku Online Terlengkap & Terpercaya GarisBuku.com

Najar Latief said...

dimana atau bagaimana saya mendapatkan buku ini, trims