Thursday, June 19, 2014

Semua untuk Hindia by Iksaka Banu

[No.335]
Judul : Semua untuk Hindia
Penulis : Iksaka Banu
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : I, Mei 2014
Tebal : 153 hlm
ISBN : 978-979-91-0710-7

Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang seluruh kisahnya terjadi saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Kisah-kisahnya merentang dari masa kedatangan Cornelis de Houtman pada 1596 hingga masa-masa awal Indonesia merdeka. Masing-masing diceritakan dari sudut pandang tokoh-tokoh utamanya yang beragam seperti  wartawan perang, polisi, tentara, pastor, administratur perkebunan tembakau, dokter tentara, hingga seroang Nyai.

Yang membuat kisah-kisah dalam buku ini menjadi menarik adalah hampir semua konflik yang terjadi pada tokoh-tokohnya terkait dengan peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh sejarah yang pernah terjadi di masa kolonialisme. Seperti pada cerpen Semua untuk Hindia yang dijadikan judul buku ini. Di cerpen ini  kita akan disuguhkan sebuah kisah tentang seorang wartawan Belanda yang bersahabat dengan  gadis kecil keluarga Puri Kesiman yang kelak menewaskan diri dalam Perang Puputan di Bali. Di cerpen ini dikisahkan bagaimana si wartawan melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tragis dan dahsyatnya Perang Puputan 

Sekonyong-konyong dari arah berlawanan muncul iringan panjang. Tampaknya bukan tentara, melainkan rombongan pawai atau sejenis itu. Seluruhnya berpakaian putih dengan aneka hiasan berkilauan. Tak ada usaha memperlambat langkah, bahkan ketika jarak sudah demikian dekat, mereka berlari seolah ingin memeluk setiap anggota Batalion 11 dengan hangat. Segera terdengar letupan senapan, silih berganti dengan aba-aba dan teriak kesakitan.

Nyaris aku terkulai menyaksikan pemandangan ngeri di mukaku: Puluhan pria, wanita, anak-anak, bahkan bayi dalam gendongan ibunya, dengan pakaian termewah yang pernah kulihat, terus merengsek ke arah Batalion 11 yang dengan gugup menembakkan Mauser mereka sesuai aba-aba komandan batalion

Rombongan indah ini tampaknya memang menghendaki kematian. Setiap kali satu deret manusia tumbang tersapu peluru, segera terbentuk lapisna lain di belakang mereka, meneruskan maju menyambut maut.

(hlm 69-70)


Selain peristiwa perang puputan di Bali, penulis juga menyuguhkan sebuah kisah berjudul Bintang Jatuh yang berlatar pemberontakan etnis Tionghoa terbesar di Hindia pada 1740. Di cerpen ini dikisahkan sang tokoh utama, seorang perwira menengah Hindia mendapat tugas rahasia untuk membunuh Gustaff van Imhoff, saingan gubernur Jenderal Hindia Belanda Adriaan Valckeiner. Di cerpen ini kita tidak hanya mendapat gambaran bagaimana konflik batin si tokoh dan bagaimana  pemberontakan entis Tionghoa bisa terjadi  melainkan juga  gambaran kondisi politik di Hindia di masa itu dimana terjadi persaingan dan perseteruan dua kubu elite Belanda antara Gubernur Jenderal  Adriaan Valckeiner dengan saingannya  Gustaaf Willem van Imhoff

Selain menampilkan tokoh-tokoh Belanda terkenal yang namanya terekam dalam sejarah, penulis juga memunculkan nama-nama pahlawan Nusantara di masa itu seperti Pangeran Diponegoro dan Untung Surapati. Pangeran Diponegoro muncul sekilas dalam cerpen berjudul Pollux yang diambil dari nama kapal layar yang mengantar Diponegoro ke tempat pengasingannya di Manado. Di cerpen yang mengambil sudut pandang seorang tawanan perang Belanda berkebangsaan Belgia ini kita akan melihat bagaimana Sang Pangeran  sejak ditawan di Balai kota (Stadhuis) Batavia hingga saat akan berangkat ke Manado diperlakukan dengan sangat istimewa oleh tentara kerajaan Belanda yang sangat menghormatinya. Di cerpen ini pula kita akan melihat konflik antara Belgia dan Belanda yang terjadi saat itu.

Jika Pangeran Diponegoro muncul sekilas saja dalam cerpen Pollux, maka Untung Surapati mendapat porsi cukup banyak dalam cerpen Penunjuk Jalan. Cerpen ini mengisahkan seorang dokter tentara Belanda yang tersesat di hutan bersama temannya yang terluka. Di tengah hutan sang tokoh bertemu dengan seorang yang memperkenalkan diri sebagai Pangeran Kebatinan  yang ternyata adalah Untung Surapati. Di cerpen ini lewat dialog sang dokter dengan Untung Surapati terungkap bagaimana Belanda mencoba membangun Batavia sebagai 'Belanda di daerah tropis' yang ternyata berakibat buruk pada sanitasi kota.

"...sejak direbut Kompeni enam puluh tahun silam, kota itu menjelma menjadi kota terkutuk. Sungai Ciliwung dicabik menjadi  puluhan kanal sehingga arusnya melemah. Lumpur mengendap di sana-sini, menciptakan dinding-dinding parit yang becek. Kalau  sedang pasang, seisi laut menerjang kota . Saat surut, bangkai ikan serta kotoran manusia terperangkap di selokan dan parit-parit tadi. Menebarkan udara tidak sehat."

"....pembesar Batavia mungkin orang-orang romantis yang rindu kampung halaman. Bermimpi memindahkan Negeri Belanda ke sini. Padahal iklim dan tanahnya sangat berbeda. Kanal yang semula digali untuk pengairan dan lalu lintas justru mempercepat penyebaran penyakit ke seluruh kota."

(hlm 123)

Masih banyak kisah-kisah menarik berbalut sejarah Indonesia di zaman kolonial yang bisa kita temukan dalam ketigabelas cerpen  yang masing-masing judul diberi  ilustrasi hitam putih karya Yuyun Nurrachman. Selain tentang peperangan ada juga kisah-kisah humanis yang menyentuh seperti kisah administratur perkebunan tembakau Deli yang terpaksa harus  mengusir gundik dan anak-anak yang dicintainya menjelang kedatangan istrinya (Racun untuk Tuan) , kisah Nyai yang disayang tuannya namun berselingkuh (Stambul Dua Pedang) , kehidupan dan sulitnya menjadi seorang indo (Gudang Nomor 012B) , dll. 

Semua cerpen dalam buku ini yang juga pernah di muat di beberapa media cetak nasional (Koran Tempo, Media Indonesia)  ini tersaji dengan apik, rinci, dan dramatik. Sejarah tidak hanya menjadi latar melainkan ikut melarut dalam kisahnya, bahkan tak jarang penulis menghadirkan dialog-dialog cerdas dan kritis terkait peristiwa sejarah yang ada di dalam kisah-kisahnya sehingga sejarah tidak hanya sekedar dibaca melainkan diberi latar belakang, pengertian, dan pendapat kritis lewat sudut pandang tokoh-tokohnya.

Sayangnya hampir semua tokoh utama dalam cerpen-cerpen ini adalah seorang Belanda baik totok maupun Indo (peranakan Belanda). Hanya ada satu cerpen yang tokoh utamanya seorang pribumi, yaitu dalam cerpen "Stambul Dua Pedang". Andai saja penulis memberikan porsi lebih banyak pada tokoh-tokoh pribumi tentunya akan diperoleh sebuh gambaran utuh dan berimbang mengenai Hindia dari sudut pandang pribumi maupun orang-orang Belanda.

Terlepas dari itu hadirnya buku ini memberi warna dan kesegaran tersendiri dalam dunia sastra kita. Tema kolonialisme dalam cerpen termasuk tema yang jarang digali oleh cerpenis-cerpenis kita.. Karena hadirnya buku ini patut diapresiasi dengan sebaik-baiknya. Selain itu unsur kesejarahan yang kental dalam setiap kisahnya membuat kita dapat membaca berbagai peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Hindia dengan cara yang menyenangkan.

@htanzil

1 comment:

gatholotjo said...

Klow aku sech djustru seneng Iksaka Banu menampilken protagois Londo2, bukan orang2 kita. Mau tahu alesanku kenapa seneng sama protagonis Londo dalem "Semua untuk Hindia"? Silahken batja blogku:

http://gatholotjo.wordpress.com/2014/10/13/bukan-belanda-sontolojo-tjorat-tjoret-setelah-batja-semua-untuk-hindia-oleh-joss-wibisono/

Tabik.