Monday, October 17, 2016

Rumah Kertas

[No. 369]
Judul : Rumah Kertas
Penulis : Carlos Maria Dominguez
Penerjemah : Ronny Agustinus
Penerbit : Marjin Kiri
Cetakan : I, September 2016
Tebal : 76 hlm, 12x 19cm
ISBN : 978-979-1260-62-6


Pada musim semi 1998, bu dosen Bluma Lenon membeli satu eksemplar buku lawas Poem karya Emily Dickinson di sebuah toko buku di Soho, dan saat menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal.   
(hlm 1)

Demikianlah paragraf awal dari novelet Rumah Kertas karya Carlos Maria Domiquez, sastrawan kelahiran Argentina yang bermukim dan berkarya di Monteviedo, Uruguay. Sebuah paragraf awal yang menghentak yang membuat pembacanya ingin segera mengetahui kelanjutan dari novel pendek setebal 76 halaman ini.

Setelah peristiwa tragis tersebut tokoh 'Aku' yang tidak disebutkan namanya hingga akhir novel ini menggantikan posisi Bluma di Jurusan Sastra Amerika Latin Universitas Cambridge, London. Di suatu pagi ia menerima paket  yang dialamatkan pada almarhum Bluma Lenon. Paket  berperangko Uruguay  tanpa nama dan alamat pengirim tersebut berisi sebuah buku edisi lama La linea de sombra karya Joseph Conrad. Yang mengherankan adalah di sampul depan dan belakang buku tersebut menempel kerak bekas adukan semen. Satu-satunya petunjuk yang ada terdapat di halaman persembahan di mana tertera tulisan Bluma 

"Buat Carlos, novel ini telah menemaniku dari bandara ke bandara, demi mengenang hari-hari sinting di Monterrey itu..... tertanggal 8 Juli 1996."

Terdorong rasa penasaran siapa Carlos dan apa motif pengiriman buku tersebut ke Bluma maka tokoh Aku berusaha  mencari identitas si pengirim hingga akhirnya didapatinya sebuah nama bernama Carlos Brauer, seorang bibliofil yang menjadi salah satu pendengar di konferensi penulis yang pernah dihadiri Bluma di Montterrey, Mexico. Tokoh Aku menempuh jarak ribuan kilometer, melintas benua untuk menemui Carlos Brauer. Pencariannya ini mengantarnya bertemu dengan  Delgado yang juga seorang bibliofil yang sangat mengenal Brauer dan kegilaannya akan buku.

Sejatinya kisah novel ini sangat sederhana yaitu pencarian sang tokoh terhadap asal-usul buku aneh yang diterima oleh koleganya yang telah meniggal, namun dari pencariannya inilah yang akan mengantar kita memasuki dunia para bibliofil dengan ragam keunikannya yang bisa dikatakan bukan lagi unik melainkan gila. Dunia para penggila buku.

Melalui novel ini  kita diajak melihat bagaimana Carlos Brauer dan Delgado begitu menggilai buku hingga seluruh rumahnya dipenuhi buku. Brauer memiliki 20 ribu buku yg tersimpan dalam rak-rak buku besar dari lantai sampai ke plafon. Selain dalam lemari buku-bukunya juga bertumpukan di dapur, kamar mandi, kamar tidur,  di anak tangga menuju loteng, hingga kamar mandinya 

"Kamar mandinya berisi buku di tiap dindingnya, kecuali di dinding tempat pancuran air, dan buku-bukunya tak sampai rusak hanya karena ia berhenti mandi air hangat buat mencegah uap. Mau musim panas atau musim dingin, ia selalu mandi air dingin" 
(hlm 30)

Dan yang lebih gila lagi adalah secara sukarela Brauer  memberikan mobilnya ke temannya agar bisa mengisi garasinya dengan buku!

Brauer juga memiliki cara  yang unik untuk menata bukunya. Ia menyusun buku-bukunya sedemikian rupa di atas ranjangya hingga  menyerupai kontur tubuh manusia. Selain itu Baurer juga memperlakukan buku-bukunya seperti layaknya manusia yang memiliki perasaan atau emosi yaitu menempatkan buku-bukunya berdasarkan sistem kekerabatan atau bagaimana penulis buku memiliki relasi dengan penulis lainnya.

Tak terbayangkan buatnya untuk menarih buku Borges bersebelahan dengan Garcia Loca, yang oleh penulis Argentina itu pernah diejek sebagai 'Andalanus Profesiona'. Brauer juga merasa tidak mungkin meletakkan Shakespeare bersebelahan dengan Marlowe, mengingat tudingan-tudingan penjiplakan.... Dan tentunya ia tidak bisa menjajarkan buku Martin Amis dengan Julian Barnes, setelah kedua teman ini bermusuhan, sama halnya dengan Vargas Llosa bersebelahan dengan Garcia Marquez  (hlm 37)

Cara membaca Brauer tidak kalah eksentriknya, ia memiliki kebiasaan membaca penulis-penulis Perancis abad kesembilan belas diterangi cahaya lilin

"Mungkin menurut Anda eksentrik dan tak ada gunanya, tapi coba saja terangi sebuah lukisan cat minyak dengan cahaya lilin, akan terlihat segi lain yang benar-benar baru. Lukisan itu akan jadi lukisan baru, bayang-bayang jadi hidup, nyala api memainkan lidahnya, ....... cahaya lilin memberikan sebuah buku pendar tambahan yang bisa memancarkan nilai-nilai dan kelembutannya dengan ajaib". 
 (hlm 42-43)

 Kebiaaan membaca dengan cahaya lilin ini pada akhirnya membawa bencana, karena terlalu banyak minum anggur, Brauer lupa meninggalkan kandil lilin di atas lemari indeksnya, lilinnya jatuh dan membakar habis lemari indeks buku beserta isinya. Peristiwa itu membuat Brauer terpukul. Kehilangan indeksnya dalam kebakaran telah memupus semua ilusi untuk bisa menata perpustakaannya. Karena itu Brauer menjual rumahnya dan  pergi ke Rocha La Paloma,  Uruguay bersama buku-bukunya. Di sana  dan membangun sebuah rumah di daerah terpencil di tepi laut.

"Tapi buku-bukunya memang ia boyong ke Rocha bersamanya. Ke beting tanah di antara tasik dan laut. Kepindahan yang mahal, sebab buku-buku itu harus diangkut lebih dari dua ratus kilometer dengan truk-truk berlapis terpat. Mereka harus meyusuri jalan tanah lalu dibawa melintas beting dengan gerobak-gerobak, sampai akhirnya tiba di pondok nyaris di batas laut."
(hlm 51)

Di tempatnya yang baru Brauer memiliki obsesi yang aneh, agar puluhan ribu buku-bukunya dapat melindungi dirinya dari angin, hujan, dan keteduhan di musim panas  ia menyuruh para kuli yang membangun rumahnya menggunakan buku-bukunya sebagai ganti batu bata!.

"....Ia mengulurkan ke si kuli  sejilid Borges buat dipaskan di bawah kusen jendela, Vallejo untuk pintu, Kafka di atasnya, dan di sampingnya Kant, serta edisi sampul tebal Farrewel to Arms-nya Hemingway, juga Cortazar dan Vargas Llosa, yang selalu menulis karya tebal-tebal; Valle-Inclan dengan Aristoteles, Camus dengan Morosoli; dan Shakespeare lengket selamanya dengan Marlowe kena adukan semen; dan semuanya ditadirkan untuk mendirikan tembok..." 
(hlm 53)

Dari hal inilah akhirnya tokoh Aku bisa mengerti mengapa buku yang dikirim Brauer pada Prof Bluma memiliki noda berupa kerak semen. Apakah Brauer kelak membongkar rumah bukunya untuk mengambil dan mengembalikan sebuah buku yang diberikan Blauma padanya? Jawabannya ada di bagian akhir dari novel ini.

Bagi para pecinta buku novel ini sangat layak untuk dibaca dan memberikan kepuasan  karena di novel ini penulis mengisahkan bagaimana  para penggila buku memperlakukan buku-buku melebihi apapun. Mereka rela mengorbankan kenikmatannya demi buku-bukunya. Penulis tampaknya memahami betul jiwa dan ragam kebiasaan-kebiasaan yang lazim dan tak lazim dari para penggila  buku sehingga perilaku unik dan menarik dari para bibliofil dikisahkan dengan begitu hidup dan menarik.

Kita  tidak perlu meniru perilaku gila Brauer terhadap buku-bukunya namun dari novel ini setidaknya kita akan melihat bagaimana buku yang adalah puncak peradaban manusia modern begitu dihargai dan dicintai. 

Kegilaan Brauer yang mejadikan buku sebagai ganti batu bata untuk rumahnya tidak bisa diterima dengan akal sehat namun bukan tak mungkin kita melakukan hal yang sama dalam tingkat yang lebih sederhana, misalnya kita terus membeli buku dan merasa nyaman tinggal dalam rumah atau kamar yang dikelilingi buku.  Atau kita hanya menjadikan buku sebagai pajangan agar kita terlihat cerdas di mata tamu-tamu kita seperti yang terdapat dalam novel ini

 "Seorang profesor sastra klasik  sengaja berlama-lama menyeduh kopi di dapur agar tamunya bisa mengagumi buku-buku di raknya", dan baru kembali ke ruang tamu setelah efek-efek tertentu mulai merasuki sang tamu"

Untungnya dibalik kegilaan Brauer akan buku ternyata iapun seorang pembaca buku yang tekun. Buku bukan sekedar dibeli dan disimpan, ia membaca dan membuat catatan dari apa yang dibacanya. Bahkan Brauer tidak segan-segan membuat catatan penting pada marjin  buku-buku antik yang sedang dibacanya.

 "Aku sanggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme
(hlm. 32)
 
 Bagi Brauer buku bukan sekedar untuk disimpan atau sekedar pemuas hasrat pribadi namun buku juga harus dibaca dan dimaknai dengan memberi tanda atau catatan-catatan penting di buku-buku yang ia baca.

Saya akan menutup review  ini dengan mengutip tentang  dua jenis bibliofil/pecinta buku yang ada di novel ini

"Orang-orang ini (bibliofil) ada dua golongan....pertama, kolektor, yang bertekad mengumpulkan edisi-edisi langka.....edisi pertama buku-buku Borges sekalitus artikel-artikel di majalah-majalah; buku-buku yang dicetak oleh Colombo, disunting oleh Bonet, sekalipun mereka tak pernah membuka-bukanya selain untuk melihat-lihat halamannya, seperti orang-orang mengagumi sebuah objek indah.

Lainnya, ada para kutu buku, pelahap bacaan yang rakus, seperti Brauer itu, yang sepanjang umurnya membangun koleksi perpustakaan yang penting. Pecinta buku tulen, yang sanggup mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam-jam, tanpa kebutuhan lain kecuali untuk mempelajari dan memahaminya."
(hlm 17) 

Anda termasuk yang mana? kolektor atau kutu buku?

@htanzil

3 comments:

Abduraafi Andrian said...

Bahkan Rahib pun membacanya. Ulasan yang makin bikin segera untuk membacanya!

Ashan He said...

baru aja selesai baca novel ini dan bikin hangover, ternyata kecintaanku pada buku masih nihil jika dibandingkan dengan Brauer, Delgado dan Blumma.

Lintang S said...

kayaknya seru nih buku, kalo boleh tau genrenya apa kak??