Friday, March 09, 2018

Hikayat Sebatang Pensil

[No.380]
Judul : Hikayat Sebatang Pensil, Kumpulan Cerita dan Puisi
Penulis : Putri Salsa Meilani, dkk
Penyunting : Andrenaline Katarsis
Penerbit : Kebun Baca Sarerea & Katarsis Book
Cetakan : I, 2017
Tebal : 78 hlm

Buku ini merupakan kumpulan  cerita dan puisi dari anak-anak TBM (Taman Bacaan Mandiri) Kebun Baca Sarerea (KBS) Kampung Pangadegan Hilir, Desa Pagelaran, Kab, Cianjur- Jawa Barat.  TBM KBS adalah sebuah perpustakaan desa dimana anak-anak di sekitarnya bisa puas membaca buku-buku secara gratis untuk menyemai khazanah kecintaan mereka pada buku, bacaan dan menulis.

TBM KBS didirikan pada tahun 2014 oleh Usep Hamzah, seorang warga desa Pagelaran yang  sekarang bermukim di St. Gallen Swiss. Aktifitas di Kebun Baca Sarerea tidak hanya diisi dengan membaca atau pinjam meminjam buku tetapi juga diadakan pelbagai aktivitas literasi seperti reading group, workshop membuat kliping, teknik pembacaan puisi, dan belajar tulis menulis (cerpen dan puisi) yang dimentori oleh para pengurus KBS. Untuk itu secara rutin dalam kurun waktu setahun sekali Kebun Baca Sarerea mengundang pegiat-pegiat literasi dari kota-kota terdekat untuk membagikan ilmu sekaligus menularkan semangat literasi mereka kepada anak-anak yang berada di sekitar KBS.


Apa yang dilakukan Usep Hamzah dan kawan-kawannya ternyata tidak sia-sia. Anak-anak desa Pangadegan kini tidak hanya suka membaca,  merekapun kini dapat menulis. Dari puluhan karya anak-anak SD dan SMP yang tergabung dalam komunitas KBS  terkumpullah 13 cerita dan 22 puisi dengan beragam tema dan ditulis dalam kepolosan anak-anak seusianya.

Hikayat Sebatang Pensil yang dijadikan judul buku ini adalah salah satu cerita dalam buku ini yang mengisahkan tentang sebatang pensil. Dalam cerpen ini diceritakan tentang sebatang pensil  yang dibeli seseorang dari sebuah toko buku alat-alat tulis. Dikisahkan bagaimana ia harus diruncingkan dalam lubang serutan sebelum digunakan untuk menulis. Walau terasa sakit karena harus selalu diruncingkan dan semakin lama ia menjadi semakin pendek namun sang pensil merasa bahagia.

Pisau yang tajam itu akan kemabli memangkasku. Meski sakit, tapi aku bahagia. Karena aku berguna untuk membuatnya pandai menulis... aku menjadi pendek. Aku sedih sekali. Tapi aku tidak bisa marah. Aku tetap bahagia. (hlm 20)

Selain kisah sebatang pensil ada lagi kisah-kisah lainnya. Semua kisah ditulis rata-rata 3-4 alinea (1 1/2 halaman ) saja. Yang unik dari ke-13 kisah yang ada di buku ini ternyata sebagian besar berkisah tentang horor atau kisah-kisah seram. Entah apakah itu pengalaman mereka sendiri atau imajinasi semata. Apakah ini pengaruh dari film-film yang pernah ditonton oleh anak-anak KBS? Hal ini mungkin menandakan bahwa film-film horor yang kini kerap diputar di TV telah merasuk ke dalam dunia imajinasi anak-anak zaman now termasuk anak-anak di desa Pagelaran, Cianjur.

Berikut salah satu kisah seram yang ditulis dalam buku ini yang berjudul Kepala Jatuh yang ditulis oleh Aima Siti Nurohmah

Saat kami sedang asyik bercerita tentang cerita horor. Tiba-tiba dari arah belakang, aku mendengar ada suara. Seperti sesuatu yang jatuh dari atas pohon kelapa..........begitu aku lihat benda yang jatuh itu, ternyata itu sebuah kepala manusia! Teman-temanku hanya bisa bengong. Ada juga yang menjerit ketakutan. Dan benda itu benar-benar sebuah kepala manusia, karena terlihat ada hidung, mata, dan mulut.  Setelah kejadian melihat kepala manusia iu, kami semua jatuh sakit. 
(hlm 11-12)

Namun tidak semua kisah horor adalah benar-benar hantu, ada beberapa cerita horor yang ternyata berakhir dengan lucu karena apa yang dikira hantu ternyata bukan misalnya di kisah Tangisan dalam Lemari, dan Si Baju Putih.
Berbeda di bagian cerita, di bagian puisi tidak ada tema horor dalam puisi-puisi di buku ini. Tema puisi-puisi yang ditulis tampak lebih kaya dan variatif dibanding ketika mereka membuat cerita. Anak-anak KBS menulis puisi tentang apa yang mereka lihat, rasakan dan alami misalnya puisi tentang pemandangan, rumah, desa, perpustakaan, sepeda baru, guru, pahlawan, ibu, dll. tidak ketinggalan hewan-hewan peliharaan atau hewan yang mereka lihatpun seperti ikan cupang, kelinci, kupu2 dijadikan objek puisi-puisi mereka.

Ada sebuah puisi yang cukup mengharukan mengenai seorang anak yang ditinggalkan oleh ibunya.

Selamat Jalan Ibuku
- Sonia Siti Sufi Sundari-

ibu,
kenapa engkau meninggalkan kami
apa salah kami?
apakah kami tidak menuruti nasihatmu?
atau kami melanggar tata tertib?

ibu,
tolonglah jangan pergi
maaf atas segala kesalahan kami
tapi kalau itu memang maumu 
kami akan izinkan engkau pergi
tapi jangan lupakan kami
doakanlah kamu supaya menjadi
anak yang pintar

ibu, 
kami akan selalu mengingatmu
selamat jalan ibu, sampai jumpa
semoga engkau bahagia di tempat baru.  

Seluruh karya anak-anak Desa Pagelaran, Cianjur yang terangkum dalam buku ini ditulis dalam kesederhanaan  dan puisi-puisinyapun tanpak bersahaja. Memang tidak sempurna namun  apa yang telah mereka tulis sangat pantas untuk diapesiasi sehingga api semangat literasi yang disemai oleh pegiat-pegiat literasi yang secara rutin mengunjungi  KBS dapat terus menyala dan menular ke desa-desa lainnya.


Akhir kata buku ini dapat menjadi sebuah tonggak sejarah literasi anak- anak KBS. Seperti apa yang ditulis oleh penyunting buku ini, dengan hadirnya buku yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, diharapkan akan menjadi sebuah dokumentasi yang akan menggugah semangat menulis mereka di kemudian hari dengan lebih baik lagi.

@htanzil

No comments: