Monday, April 03, 2006

Menyusuri Lorong-Lorong Dunia


Judul : Menyusuri Lorong-Lorong Dunia
(Kumpulan Catatan Perjalanan)
Penulis : Sigit Susanto
Penyunting : Puthut EA
Penerbit : Insist Press
Cetakan : I, Desember 2005
Tebal : xxxiii + 375 hlm , 15x21 cm

Catatan Perjalanan/Travel Writing, atau Sastra Pelancongan adalah salah satu genre dalam dunia sastra. Konon genre ini adalah bentuk narasi yang paling tua yang dikenal dalam sejarah sastra dunia. Kisah Oddyses dari Homer pada dasarnya adalah kisah perjalanan dari sang tokoh utamanya. Kisah klasik Hercules yang menunaikan dua belas tugas besarnya, juga adalah sebuah kisah perjalanan. Marco Polo (1254-1324) yang menempuh jalur sutera membukukan catatan-catatan perjalanannya sehingga namanya mendunia dan dikenal hingga kini. Di zaman yang lebih modern penulis-penulis sastra pun mulai menuliskan kisah-kisah perjalanan mereka, sebut saja Goethe yang menulis catatan perjalanannya ke Italia yang kemudian dibukukan dengan judul "Italian Journey". Lalu penulis-penulis lainnya seperti Charles Dickens, DH Lawrence, Orwell, Hemingway, VS. Naipaul, dan masih banyak lagi. Catatan perjalanan tidak hanya dimonopoli oleh para sastrawan, seorang tokoh revolusioner Kuba yang kini dijadikan ikon perjuangan anak-anak muda Indonesia Che Guevera pun menorehkan kisah perjalanan keliling Amerika dengan motornya dalam "The Motorcycle Diary".

Di Indonesia, walau genre ini jarang disentuh oleh penulis-penulis kita, kita pernah mendengar nama HOK Tanzil yang kerap menuliskan kisah-kisah perjalanannya mengelilingi dunia dalam majalah Intisari di era tahun 80-an. Belakangan tulisan-tulisannya dibukukan secara berseri hingga mencapai puluhan seri dan hingga kini buku-bukunya yang sudah dikategorikan out of print ini masih banyak dicari orang dan harus cukup puas jika hanya memperoleh foto copy-nya saja.

Apa yang menarik dari sebuah catatan perjalanan? Tak dapat dipungkiri, genre sastra ini memiliki pesona tersendiri. Isinya sangat kaya dengan keragaman. Bukan hanya menceritakan keeksotisan tempat-tempat yang dikunjungi, namun juga mengungkap keberadaan dan kebiasaan masyarakat yang ada diberbagai penjuru dunia. Sebuah catatan perjalanan tentunya tak lepas dari unsur subyektif penulisnya karena setiap orang yang menulisnya memiliki kesan berbeda dalam tiap tempat yang dikunjunginya. Jika dua orang berada dalam suatu tempat dan waktu yang sama, kesan yang ditangkap dalam dua buah catatan perjalanan yang dibuat oleh masing-masing orang pastilah berbeda. Perbedaan inilah yang membuat catatan perjalanan selalu menarik untuk dibaca .

Dalam Buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia, Sigit Susanto menuliskan kunjungannya ke berbagai negara di kawasan Eropa, Rusia, hingga Amerika Selatan. Sebagian besar tulisan-tulisan dalam buku ini pernah beredar di berbagai mailing list yang ia ikuti (Apresiasi-Sastra, Jalansutra, dll), selain itu beberapa tulisan pernah juga dimuat di berbagai media cetak seperti Koran Tempo, Gatra, Intisari, majalah Aksara, dll.

Buku ini secara menarik diawali oleh kisah penyuntingan yang ditulis oleh Puthut EA, sastrawan sekaligus sahabat dekatnya. Di bab ini Puthut mengungkap kisah pertemanannya dengan penulis sehingga melalui bab ini pembaca akan diajak melihat sedikit profil penulis dari sudut pandang Puthut dan kesan-kesannya selama menyunting buku ini.

Sigit Susanto sendiri mengawali catatan perjalanannya dengan semacam kata pengantar panjang yang diberi judul "Berangkat…". Di bab ini secara singkat Sigit mengungkap penggalan kisah hidupnya di Bali ketika ia bertemu dengan seorang gadis wisatawan Swiss yang sedang berlibur di Bali. Pertemuan ini rupanya membuahkan cinta diantara mereka dan akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat ke Swiss dan menikah disana. Dari Swiss inilah titik keberangkatan penulis beserta istrinya berkelana mengunjungi berbagai negara di belahan dunia.

Menurut penuturannya ia dan istrinya sudah mengunjungi paling tidak 21 negara, namun sayangnya ia baru bisa menuliskannya sebanyak 10 negara (hlm.xviii). Adapun pilihan-pilihan negara yang dikunjunginya biasanya disesuaikan dengan konteks yang sedang berlangsung baik dalam keseharian penulis , maupun konteks sosial yang sedang terjadi di tanah air. Jadi walaupun penulis berada jauh dari tanah kelahirannya, ia terus memantau perkembangan sosial dan politik di tanah air. Misalnya ketika Orde Baru telah jatuh dan dibuka wacana untuk mempelajari Marxisme, penulis segera mengunjungi negara-negara komunis seperti Kuba dan Rusia. Dalam konteks kesehariannya sebagai seroang penulis yang menyukai karya-karya Kafka, ketika kesempatan untuk bepergian tiba, iapun tak menyia-nyiakan kesempatannya untuk berziarah ke makam Kafka di Praha

Buku ini memuat 16 catatan perjalanan penulis ketika melancong ke berbagai negara bersama istrinya. Catatan perjalananya dimulai dari kisah pertama kalinya penulis mengunjungi Eropa dimana di bab ini ia mengungkap pengalaman-pengalaman uniknya ketika pertama kali naik pesawat terbang, pemeriksaan di bandara hingga pengalaman dibulan-bulan pertamanya di tempat tinggal barunya di terpi danau Zug – Switzerland.

Di bab-bab selanjutnya kisah-kisah perjalanannya ditulis dengan cara penyampaiannya yang lancar, segar, dan mengalir yang disusun secara urut berdasarkan waktu keberangkatannya dalam rentang waktu 1998-2004. Buku ini mencatat kisah perjalanannya di 13 tempat di berbagai negara, seperti Amsterdam-Belanda, Kuba, Venesia, P. Ischia - Italia, Praha, Tunisia, Bulgaria, Stassbough-Jerman, Roma, Meksiko, Rusia, London dan Paris.

Berbeda dengan HOK Tanzil yang catatan-catatan perjalanannya lebih banyak bercerita sebagai seorang wisatawan yang lebih banyak mengungkap keindahan dan keunikan tempat-tempat yang dikunjunginya. Sigit Susanto lebih dari itu. Kesukaannya akan buku-buku dan sastra membuat catatan-catatan perjalannya menjadi lebih kaya akan nuansa sastra. Di setiap tulisannya Sigit selalu menyertakan kisah penulis / sastrawan dunia yang pernah bersinggungan dengan negeri yang dikunjunginya. Tak heran jika dalam buku ini akan banyak dijumpai peristiwa dan telaah seputar dunia sastra. Tak kurang dari 40 nama penulis/sastrawan muncul dalam buku ini, 5 orang diantaranya sastrawan indonesia ( HB Jasin, Sutan Alisyahbana, Iwan Simatupang, Pramoedya AT, Sobron Aidit). Beberapa penulis mendapat porsi cukup detail, bahkan dibuatkan judul tersendiri "Ziarah ke Makam Kafka di Praha" (hlm. 97-134). Di bagian ini pembaca akan diajak menyelami kehidupan Kafka dan Karya-karyanya. Begitu pula dengan Karl Marx yang disajikan dalam bab tersendiri yang berjudul "Makam Mbah Marx di London" (hlm 325-340).

Selain itu beberapa puisi karya sastrawan-sastrawan dunia turut menghiasi buku ini. Terjemahannya sendiri dilakukan oleh penulis yang memang kerap menerjemahkan puisi-puisi para penyair dunia kedalam bahasa Indonesia. Porsi puisi yang paling banyak muncul di bab "Venesia Surga Sastrawan Dunia" (hlm 218-231), dimana setidaknya ada 8 buah puisi karya penyair dunia diterjemahkan di bab ini.

Selain pesona keindahan alam, bangunan klasik, serta kelembutan sastra, buku ini menyuguhkan pula ironi politik yang cukup terasa nuansanya di bab "Che masih hidup di Kuba" (hlm. 38-70). Di bab ini pembaca akan diajak melihat secara dekat realita sosial dan politik yang terjadi di Kuba pada saat negeri ini dikunjungi oleh penulis.

Satu hal lain yang membuat buku ini menarik, seperti diungkap oleh Puthut EA dalam kisah penyuntingannya adalah kepiawaian Sigit Susanto untuk melampirkan benda-benda kecil yang sangat penting di sebuah wilayah. Tidak aneh jika disana-sini Sigit bisa meramu dengan tangkas perihal cerutu, vodka, dondola, oase, sampai kepekaannya menangkap grafiti si sebuah tempat (hlm. xvi). Hal ini yang membuat buku ini menjadi unik karena penulis secara piawai menyajikan apa yang selama ini mungkin terabaikan oleh penulis-penulis lain.

Selain itu buku ini juga dilengkapi oleh indeks yang informatif yang memungkinkan pembaca untuk mencari entri-entri yang diinginkan secara cepat dalam buku setebal 373 halaman ini.

Seperti telah diungkap diparagraf awal di review ini, sebuah catatan perjalanan adalah sebuah pengalaman subyektif dari penulisnya. Bagian-bagian mana yang dari sebuah obyek yang mendapat porsi yang lebih detail atau tidak bergantung sepenuhnya pada ketajaman pena penulisnya. Begitupun dengan buku ini, pilihan negara-negara maupun detail-detail obyek yang diungkap dalam buku ini bisa saja memuaskan pembacanya, namun mungkin juga beberapa pembaca menyesalkan mengapa sebuah obyek tertentu luput dari pengamatan penulisnya atau tak dijelaskan secara mendetail.

Sebagai contoh, bertaburannya data-data dan kisah-kisah para sastrawan dunia bagi pembaca yang kebetulan menyukai sastra tentunya membuat buku ini akan sangat menarik dan bermanfaat dalam memperluas wawasan sastra dunia, namun bagi pembaca yang kurang menyukai sastra, entri-entri sastra dalam buku ini bisa saja menjadi bagian yang dianggap tidak perlu dan membosankan.

Diterbitkannya buku kumpulan catatan perjalanan ini patut dihargai sebagai suatu usaha mengisi kekosongan buku-buku jenis ini dalam ranah perbukuan kita. Genre sastra ini kemunculannya baru terbatas pada media-media internet (milis, blog,dll) , maupun media cetak seperti koran dan majalah. Setelah diterbitkannya buku kisah perjalanan HOK Tanzil pada medio akhir 80-an oleh penerbit Alumni- Bandung, kemungkinan besar tak ada lagi buku-buku catatan perjalanan karya penulis lokal yang diterbitkan menjadi sebuah buku.

Pada akhirnya, kehadiran buku catatan perjalanan ini setidaknya bisa dijadikan bekal bagi mereka yang gemar berpetualang mengunjungi berbabagi negara sambil menggali kekayaan sastra di negara-negara yang akan dikunjunginya. Atau setidaknya dengan membaca buku ini pembaca akan diajak melakukan perjalanan imajiner menyusuri lorong-lorong dunia tanpa harus beranjak dari kamarnya.

@h_tanzil

7 comments:

persiraja mania said...

saya juga dah baca bukunya, mantep banget deh,, kira2 kapan ya mas sigit terbitin buku yg kedua,,??
trus menurut saya, alangkah indahnya seandainya mas sigit melampirkan cost setiap perjalanannya tersebut, emang sih hal ini gk baku, lagian biayanya kan terus2 berubahh, namun hal itu cukup membantu org/pembaca lain yang juga pingin jalan2,,
anyway, bagi saya, membaca buku tersebut terasa udah keliling dunia (dengan biaya yg sangat murah..hehehe)
itu aja, anyother comments?

persiraja mania said...

opo ya?

Anonymous said...

best regards, nice info »

Naked Traveler said...

akhirnya ada buku bhs Indonesia ttg traveling!
sebenernya ini buku traveling yg dikemas dg sastra, jd kalo nanya cost sih baca aja Lonely Planet :p

Anonymous said...

duh, aku dah coba cari bukunya tp ga nemu di toko buku besar ky Gramed or GA..plis kasih tau aku dong dimana aku bisa dapet buku ini?dah dari bulan Maret loh ku cari2:) Makasih yaa...

zoutteambonese said...

saya almanzo tinggal di jakarta pusat, msu numpsng tanya. Apakah mas sigit pernah menulis tentang 50 th meninggalnya bertolt brecht?
dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya sangat membutuhkan referensi tentang verfremdungseffekt dari Brecht. terimakasih. anakdokter@gmail.com

wonderful Flores said...

Hello Mas Sigit
Jadi pingin baca bukunya, nanti pas ke flores, bawain satu ya mas...
salam
leonardus