Monday, May 22, 2006

To Kill A Mockingbird


Judul : To Kill A Mockingbird
Penulis : Harper Lee
Penerjemah : Femmy Syahrani
Penyunting : Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, Maret 2006
Tebal : ix + 568 hlm

Manusia sangat mudah berprasangka terhadap sesamanya. Cap buruk yang terlanjur melekat pada pribadi atau sekelompok masyarakat akan terus mereka bawa seumur hidup mereka. Meskipun banyak hal positif yang telah mereka lakukan, namun prasangka buruk dari orang lain akan tetap membuat mereka dianggap sebagai pribadi atau kelompok yang buruk dan layak disingkirkan.

Novel klasik karya Harper Lee ini mengisahkan bagaimana prasangka umum yang buruk terhadap pribadi ataupun kelompok masyarakat tertentu tidaklah seutuhnya benar. Bahkan, dari yang dianggap buruklah justru nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang sejati tumbuh.

Novel ini menceritakan penggalan kehidupan masa kanak-kanak dua kakak beradik tak beribu, Jem dan Scout. Seting ceritanya berkisar di Maycomb County, Alabama, pada tahun 1930-an. Maycomb County adalah sebuah kota kecil tempat hampir semua penduduknya saling mengenal. Di kota inilah Jem dan Scout tinggal besama ayah mereka, Atticus Finch, seorang pengacara di Maycomb County, dan seorang pembantu kulit hitam mereka, Calpurnia.

Scout, seorang anak perempuan tomboi berumur 8 tahun, adalah penutur dalam kisah ini; seluruh cerita dilihat dan diutarakan menurut sudut pandangnya. Bab-bab awal novel ini mengisahkan bagaimana Jem, Scout, dan sahabat mereka, Dill, mencoba mengusik Boo Radley, tetangga aneh mereka yang hampir tidak pernah keluar rumah. Seluruh penduduk Maycomb menganggap Boo Radley adalah sosok misterius; berbagai desas-desus buruk dan mengerikan beredar menyelimuti Boo sehingga rumah dan pekarangan Boo menjadi bagian yang paling mengerikan bagi anak-anak. Setiap kali mereka melewati pekarangan keluarga Radley, mereka harus berlari atau jalan memutar karena takut bertemu dengan Boo.

Namun bagi Dill, kemisteriusan Boo justru menjadi permainan yang mengasyikan. Dia, bersama-sama dengan Jem dan Scout, menciptakan semacam permainan untuk mengolok-olok keluarga Radley, mulai dari menciptakan drama yang mereka karang sendiri, hingga tantangan untuk mengusik Boo dengan menyentuh pintu rumah Radley, yang konon siapa pun yang berani menyentuhnya akan celaka.

Keceriaan Jem dan Scout terusik ketika ayah mereka menjadi pembela seorang pemuda kulit hitam, Tom Robbinson, yang dituduh memerkosa gadis kulit putih bernama Mayella Ewell. Bagi masyarakat Maycomb, warga kulit hitam adalah warga kelas dua yang dianggap sampah masyarakat dan selalu mendapat prasangka buruk sebagai kaum kulit berwarna yang selalu membuat masalah. Kecaman datang pada keluarga Finch dari seluruh penjuru kota. Scout dan Jem pun tak luput dari ejekan teman-temannya yang mengatakan ayah mereka adalah pecinta ‘nigger’. Tak hanya dari lingkungan sekitarnya, Atticus pun mendapat tantangan dari kakaknya sendiri, Alexandra, yang saat itu tinggal bersama mereka.

Walau mendapat banyak kecaman dan tantangan, Atticus tetap melaju. Sebagai pengacara Tom Robinson, dengan bijak Atticus menasihati Jem dan Scout bahwa mereka tak perlu merasa malu karena dirinya membela seorang pemuda kulit hitam, malahan ia menyarankan agar Jem dan Scout tetap berjalan dengan ‘menegakkan kepala" mereka dan tidak membalas dengan kekerasan jika mereka menerima cemoohan lagi.

Pengadilan kasus ini mendapat perhatian yang besar dari peduduk kota Maycomb, tak ketinggalan Jem dan Scout ikut menghadirinya. Atticus dengan piawai mengemukakan berbagai fakta, yang sebenarnya tak dapat disangkal, bahwa kliennya tidak bersalah, namun seorang negro tetaplah sampah bagi masyarakat Maycomb; prasangka buruk terhadap kaum negro tak dapat dipatahkan oleh sejumlah fakta. Dari sinilah si kecil Scout yang menyaksikan secara langsung proses pengadilan itu melihat bahwa kehidupan tak melulu hitam dan putih. Bahwa prasangka seringkali membutakan manusia sehingga keadilan tidak bisa ditegakkan dengan sempurna.

Karakter-karakter menawan diciptakan Harper Lee dalam novel ini. Tokoh Scout yang tomboi dan polos menjadi menarik karena dari sudut pandangnyalah seluruh kisah dalam novel ini dibangun. Kepolosan dan keberanian Scout bahkan mampu menyelamatkan nyawa ayahnya dari sekawanan penyerang yang ingin menggagalkan usaha Atticus menjadi pembela Tom Robinson.

Jem Finch digambarkan sebagai figur seorang kakak yang beranjak dewasa dan berusaha menjadi seperti ayahnya. Sementara figur Atticus Finch digambarkan sebagai seorang ayah yang tegas, bijak, dan berpegang teguh pada kebenaran. Ketika Jem memiliki peluang untuk menjadi tersangka karena kasus terbunuhnya Bob Ewell, Atticus tanpa ragu menyatakan bahwa anaknya memiliki kemungkinan bersalah. Namun, dibalik keteguhan dan kekerasan padangannya itu Atticus adalah figur ayah yang sangat menyayangi dan melindungi anak-anaknya dan tak ragu untuk memberi belaian kasih sayang ketika mereka memerlukannya.

Tokoh-tokoh lain yang tak kurang signifikan dalam novel ini adalah Tom Robinson, seorang pemuda negro yang harus menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan, Boo Radley tokoh misterius yang akan memberikan pelajaran kepada pembacanya mengenai buruknya sebuah prasangka, dan masih banyak lagi tokoh lain dan kisah menarik yang dialami Scout dan Jem dalam novel ini. Awalnya, pembaca mungkin akan dibingungkan dengan banyaknya tokoh dan kisah yang tersaji dalam novel ini, namun pembaca yang cermat akan segera memahami bahwa kehadiran para tokoh dan ragamnya kisah yang dialami Scout dan Jem bukanlah hal yang sia-sia dimunculkan.


Tampaknya Harper Lee sengaja menghidupkan banyak tokoh dalam novel ini untuk menggiring pembacanya menyelami berbagai karakter manusia dan mengajak pembaca memahami bagaimana Scout dan Jem menyerap nilai-nilai kehidupan dari lingkungan sekitarnya dalam proses pendewasaan mereka.

Novel yang berbicara mengenai prasangka dan kasih sayang ini kini bisa dinikmati oleh pembaca tanah air. Walau tema yang diusung sesungguhnya berat, namun karena disampaikan dengan ringan dan diceritakan dari sudut pandang seorang anak kecil, ditambah dengan terjemahan yang lancar dan baik, membuat novel ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Walau buku ini baru diterjemahkan setelah 45 tahun sejak buku aslinya diterbitkan, namun sebenarnya tak ada kata terlambat bagi publik buku tanah air untuk mengapresiasi kehadiran novel yang sarat pesan moral ini.

Novel perdana dan satu-satunya dari Harper Lee ini pertama kali ditulis pada 1960 dan langsung menjadi best seller. Pada tahun 1961, novel ini memperoleh penghargaan Pulitzer Prize. Hingga kini, novel ini terus memperoleh apresiasi yang baik dari masyarakat dunia, salah satunya lembaga Library Journal di Amerika, yang dalam poolingnya pada tahun 1999 memilih novel ini sebagai "Novel terbaik Abad ini". Predikat ini rasanya tak berlebihan, novel ini sarat dengan pesan moral namun tersaji dengan menarik sehingga pembaca tidak merasa seperti digurui, selain itu tema yang diangkat masih relevan hingga kini, khususnya bagi masyarakat Indonesia yang kini kerap berprasangka buruk terhadap kelompok-kelompok tertentu yang tak sepaham dengannya dan tak jarang diekspresikan dalam tindakan main hakim sendiri yang semena-mena dan anarkis.

@h_tanzil

11 comments:

h_tanzil said...

Ada yg sudah nonton filmnya ?
Kasih info dimana aku bisa beli DVDnya ?

ufukhati said...

Buku ini memang hebat. Inilah satu-satunya buku buah tangan sang pengarang yang boleh dianggap "abadi". Anehnya, sang pengarang ini (wanita) sangat enggan tampil secara bebas di depan kamera atau wartawan. Agaknya beliau tak mahu menonjol-nonjol diri, sedang karyanya berada di jutaan kamar pembaca (termasuk diri saudara).
Anda telah membicarakan sebuah buku yang memang hebat!

h said...

Sepakat!
Buku ini memang buku hebat, Harper Lee hanya sekali membuat novel dan langsung menjadi novel abadi...!!!
Acungan jempol u/qanita yg telah menerjemahkan buku ini!

meutia said...

setuju banget
judulnya yang menarik dan sudah mendapat pulitzer membuat saya tertarik membelinya. Buku ini akan sangat saya anjurkan pada anak2 saya nanti berikut buku2 karlmay yang menjunjung tinggi persamaan derajat manusia....tanpa ras, agama..serta menjunjung tinggi keteguhan akan kebenaran yang diyakininya...

Ami Drajat said...

kalau Jem sudah besar, apakah dia berhasil menjadi atlet football? ah, mungkin hanya ama harper lee yang tau jawabnya :)

hendrik said...

mungkin iya :D

Anonymous said...

Very cool design! Useful information. Go on!
» » »

merlin said...

Saya masih sementara membaca bukunya. Sekarang sudah di halaman tentang Atticus yang diserang oleh Mr. Ewell, sehari setelah persidangan Tom Robinson. Buku ini bagus sekali! Apakah ada orang rasialis di sekitar Anda? Atau siapa tahu Anda sendiri yang punya pandangan seperti itu? Bacalah buku ini dan Anda akan memperoleh pencerahan. Atticus Finch itu menurut saya sosok yang manusiawi sekali.

Azeez said...

Saya baru baca sebulan yang lau...telat sih, tapi benar-benar pantas untuk jadi karya sepanjang masa....

Di buku On Writing, Stephen King agak nyindir Harper Lee. Soalnya kenapa dia nulis cuma satu buku aja... kan sayang ....

Fanda said...

Kok aku malah gak pernah lihat yg covernya seperti ini ya? Dari dulu aku pengen cari versi inggrisnya, tapi akhirnya nemu versi terjemahannya dengan cover seperti filmnya (eh, tapi filmnya juga belum pernah nonton)

Anonymous said...

Fantastic beat ! I wish to apprentice while you
amend your site, how could i subscribe for a blog
site? The account helped me a acceptable deal.
I had been tiny bit acquainted of this your broadcast offered bright clear idea

my web page :: twitter engagement