Monday, August 14, 2006

Sang Pemimpi


Judul : Sang Pemimpi
Penulis : Andrea Hirata
Penyunting : Imam Risdiyanto
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : x + 295 hlm
Cetakan : I, Juli 2006
Harga : Rp. 38.000,-


Jauh di pedalaman pulau Belitong, tiga orang anak di sebuah kampung Melayu bermimpi untuk melanjutkan sekolah mereka hingga ke Perancis, menjelahi Eropa, bahkan sampai ke Afrika.! Ikal, Arai, dan Jimbron, merekalah si pemimpi itu, walau bagai punguk merindukan bulan, mereka tak peduli, mereka memiliki tekad baja untuk mewujudkan mimpi mereka, hidup di daerah terpencil, kepahitan hidup, kemiskinan, bukanlah pantangan bagi mereka untuk bermimpi. Mereka tak menyerah pada nasib dan keadaan mereka, bagi mereka mimpi adalah energi bagi kehidupan mereka masa kini untuk melangkah menuju masa depan yang mereka cita-citakan.

Novel kedua Andrea Hirata “Sang Pemimpi” ini bertutur bagaimana ketiga anak kampung Melayu di kawasan PN Timah Belitong menjalani hari-hari mereka bersama mimpi-mimpinya. Karena masih merupakan kelanjutan dari novel pertamanya Laskar Pelangi, Sang Pemimpi pun masih bertutur mengenai memoar kehidupan Ikal, dalam menapaki kehidupannya. Jika dalam Laskar Pelangi tokoh Ikal yang ketika SD hingga SMP ditemani oleh kesepuluh teman-temannya yang dinamai Laskar Pelangi, kini Ikal yang telah bersekolah di SMA ditemani oleh dua orang temannya Arai dan Jimbron.

Arai sebenarnya masih memiliki hubungan darah dengan Ikal, kedua orang tuanya meninggal dunia ketika ia masih kecil. Arai tak memiliki saudara kandung sehingga setelah kematian kedua orang tuanya Arai diasuh oleh kedua orang tua Ikal di kampungnya sehingga bagi Ikal, Arai adalah saudara sekaligus sahabat terbaik baginya, Arai memiliki pribadi yang terbuka dan cerdas. Sedangkan Jimbron adalah sosok rapuh, ia tak secerdas Ikal dan Arai, ia gagap dalam berbicara semenjak kematian ayahnya. Jimbron sangat terobsesi oleh kuda, padahal di kampungnya tak ada seekorpun kuda bisa ditemui, nantinya kisah Jimbron dan obsesinya ini menjadi bagian yang menarik dan lucu pada buku ini

Ikal, Arai dan Jimbron memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi, mereka bahu membahu mewujudkan mimpi mereka, saat itu PN Timah Belitong sedang dalam keadaan terancam kolaps, gelombang PHK besar-besaran membuat banyak anak-anak tidak bisa meneruskan sekolah mereka karena orang tuanya tak sanggup membiayai. Mereka yang masih ingin bersekolah harus bekerja. Demikian juga dengan ketiga pemimpi, begitu tamat SMP mereka ingin tetap melanjutkan sekolah mereka, karena di kampung mereka tak ada SMA, mereka harus merantau ke Magai, 30 kilometer jaraknya dari kampung mereka. Untuk itu mereka tinggal bersama-sama dalam sebuah los kontrakan, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya mereka bekerja mulai dari penyelam di padang golf, office boy di sebuah kantor pemerintah hingga akhirnya bekerja sebagai kuli ngambat, yang bertugas menunggu perahu nelayan tambat dan memikul tangkapan para nelayan itu ke pasar ikan. Menurut hirarki pekerjaan di Magai, kuli tambat adalah pekerjaan yang paling kasar yang hanya akan digeluti oleh mereka yang tekad ingin sekolahnya sekeras tembaga atau mereka yang benar-benar putus asa karena tidak memiliki pekerjaan lain. Hal ini membuktikan bahwa ketiga pemimpi ini memiliki hati yang sekeras tembaga untuk bisa bersekolah untuk mewujudkan mimpi mereka.

Kisah memoar kehidupan Ikal dan kedua sahabatnya dalam mewujudkan impian inilah yang tersaji dalam novel ini. Semua kisahnya tersaji dalam 18 bab yang tidak terlalu panjang, masing-masing memiliki kisahnya sendiri, namun ada juga beberapa bab yang sambung menyambung. Beberapa bab menyuguhkan cerita-cerita yang bersahaja seperti pada bab Baju Safari Ayahku yang mengisahkan bagaimana ayah Ikal yang tak banyak bicara namun begitu mencintai dirinya, hal ini terbukti ketika ayahnya harus mengayuh sepeda sejauh 30 km untuk mengambil rapor ikal dan Arai. Ketika hari yang ditentukan tiba ayah Ikal bahkan harus bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan dirinya, dikenakannya satu-satunya pakaian Safari empat saku kesayangannya yang telah disetrika dengan rapih, baginya hari itu adalah hari yang terpenting bagi hidupnya. Kesungguhan hati sang ayah dalam mengambil rapor Ikal dan Arai tak berbuah sia-sia karena mereka masing-masing menduduki rangking ketiga dan kelima. Kisah yang tersaji dalam bab ini sangatlah indah, secara piawai Andrea meramu kalimat-kalimatnya dengan indah sehingga pembaca akan merasakan bagaimana bangganya Ikal memiliki ayah yang begitu mencintainya.

Masih ada beberapa kisah lagi yang menggugah, namun ada juga beberapa kisah lucu yang membuat pembacanya tersenyum dan tertawa terbahak-bahak ketika membaca pengalaman-pengalaman lucu mereka, misalnya pada Bab Bioskop yang menceritakan kisah kenakalan Ikal dan kawan-kawannya ketika secara sembunyi-sembunyi masuk kedalaam gedung bioskop untuk menonton film-film murahan yang mengumbah syahwat. Tentu saja ini petualangan yang berbahaya karena menonton bioskop merupakan salah satu larangan paling keras dari Pak Mustar, guru mereka. Kisah yang lucu dan seru ini bersambung ke 2 bab berikutnya yaitu Action dan Spiderman. Khusus di Bab Spiderman pembaca akan dibuat tertawa karena obsesi Jimbron terhadap kuda melahirkan sebuah kisah yang lucu dengan ending yang membuat pembaca tertawa terbahak-bahak.

Selain itu, disela-sela kisah-kisah ketiga pemimpi yang terdapat dalam buku ini, pembaca juga akan disuguhi potret landskap pulau Belitong lengkap dengan kondisi sosialnya, salah satunya yaitu dengan mengungkap anak-anak melayu yang harus bekerja mendulang tembaga, mencari bongkah kaursa, topas dan gelena yang sesungguhnya adalah milik penduduk kampung Melayu namun semuanya itu harus mereka muat sendiri ke atas tongkang untuk menggendutkan perut para cukong di Jakarta. Selain itu Andrea pun dengan jiwa yang besar melakukan otokritik terhadap kaumnya, suku Melayu. Diwakili oleh tokoh pengusaha kaya di kampungnya Capo Lam Pet Nyo, Andrea mengkritik habis perilaku suku melayu yang ditulisnya sebagai orang yang manja karena bergantung pada keberadaan PN Timah, banyak teori, sok pintar walau baru sedikit ilmunya, sombong walau hanya memiliki sedikit harta, dll. Otokritiknya ini ditutup dengan kalimat lugas yang keluar dari mulut Capo Lam Pet Nyo “Kalau timah tak laku, kalian orang Melayu mati…” (hlm164).

Masih banyak peristiwa-peristiwa yang menarik yang dialami oleh Ikal dan kedua kawannya. Kesemua peristiwa yang mereka alami tak ubahnya seperti potongan-potongan mozaik, walau awalnya seperti terserak seakan berdiri sendiri, namun jika disatukan akan akan membentuk sebuah pemandangan yang indah yang dalam konteks buku ini akan menuju suatu bentuk wujud dari impian besar mereka. Sayang, ketika potongan mozaik yang menceritakan ketika Ikal telah memasuki bangku kuliah tidak tereskplorasi dengan baik., kalimat “Tak terasa aku telah menyelesaikan kuliahku” (hlm 250) seolah memberi alasan bagi Andrea untuk beralih ke kisah selanjutnya, atau mungkin mozaik ini akan muncul di buku berikutnya ? Semoga saja demikian. Buku ini diakhiri dengan kisah Ikal dan Arai kembali ke kampungnya sambil menanti keputusan dari kampus mereka apakah mereka diijinkan untuk melanjutkan riset ke luar negeri atau tidak. Berhasilkah Ikal, Arai dan Jimbron mewujudkan mimpi mereka untuk menjejakkan kaki mereka hingga ke Sorbrone – Perancis ? Jawabannya akan pembaca temui dalam bab-bab terakhir di buku ini.

Walau memiliki banyak hal yang menarik dalam buku ini, ada sedikit kejanggalan yang mungkin akan dirasakan oleh pembaca. Pada cover depan buku ini tertulis bahwa Sang Pemimpi adalah “Buku Kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi” bukan tak mungkin pembaca Laskar Pelangi akan menyangka bahwa buku kedua Andrea ini masih menceritakan kehidupan tokoh Ikal bersama pasukan Laskar Pelanginya, sayangnya anggota Laskar Pelangi yang begitu kompak dan menemani masa-masa indah ikal sewaktu SD hingga SMP tak terceritakan lagi dalam Sang Pemimpi, dari 18 bab, hanya sekali Laskar Pelangi disinggung, itupun hanya sekilas saja, apakah memang dari kesepuluh anggota laskar pelangi tak ada satupun yang melanjutkan ke SMA Bukan Main di Magai ? Selain itu tokoh Arai yang dalam Sang Pemimpi diceritakan telah tinggal bersama Ikal sama sekali tak dimunculkan dalam Laskar Pelangi, padahal dalam novel ini dikisahkan bahwa Ikal dan Arai telah tinggal serumah layaknya kakak dan adik semenjak mereka kelas tiga SD.

Secara keseluruhan buku ini tak kalah menarik dengan Laskar Pelangi, Andrea nampaknya masih ‘bermain’ dalam pola yang sama dengan buku pertamanya, beragam kisah yang pernah dialaminya ditulis dalam masin-masing bab dan dikumpulkan menjadi satu buku, mirip kumpulan cerpen namun memiliki benang merah yang kuat. Sang Pemimpi adalah sekuel dari Laskar Pelangi dan merupakan buku kedua dari apa yang disebutnya sebagai Tetralogi Laskar Pelangi. Seperti diungkap oleh penulisnya dalam lembar ucapan terimakasihnya, kini buku ketiga dan keempat sedang ditulisnya, dan Budaya orang Melayu dan Tionghoa pedalaman di Belitong lah yang akan menjadi platform untuk mendefiniskan tetralogi Laskar Pelangi

Dari segi penuturan, antara buku pertama dan kedua tak terlihat berbeda, Andrea tampaknya masih konsisten menyuguhkan kisah-kisah kehidupan yang memesona yang dirangkai dengan kalimat-kalimat yang menyihir pembacanya sehingga pembaca dibawa berkelana menerobos sudut-sudut kehidupan anak-anak kampung Melayu yang polos, sederhana namun memiliki kekuatan terhadap cinta, persahabatan, pengorbanan, dan tekad yang keras untuk mewujudkan mimpi mereka. Tiap-tiap kisah yang dituturkan baik yang penuh dengan kelucuan, keharuan, tragedi dll diungkap dengan teknik bercerita yang memukau, tak heran jika Nicole Horner dalam endorsmentnya mengatakan bahwa Andrea adalah seorang seniman kata-kata

Kehadiran Sang Pemimpi dalam ranah perbukuan tanah air masih dalam situasi yang sama ketika Laskar Pelangi diterbitkan, buku-buku fiksi yang beredar masih banyak yang bertutur mengenai kehidupan kaum urban dengan segala permasalahannya atau cerita-cerita remaja metropolitan yang tak lepas dari problem cintanya. Belum lagi kini pasar buku diramaikan dengan hadirnya karya-karya terjemahan yang menggugat dasar-dasar keyakinan umat tertentu.

Ditengah-tengah kondisi ini kembali Andrea menyuguhkan sebuah kisah yang lain. Sang Pemimpi hadir dengan kisah-kisah sederhana. Namun dari kesederhanaan inilah pembaca akan disadarkan bahwa kemiskinan dan berbagai hambatan yang membelit cita-cita seseorang bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Selain itu Melalui rangkaian kisah-kisah dalam buku ini baik yang filosofis, menyentuh bahkan menggelikan akan terlihat secara jelas betapa dashyatnya tenaga mimpi dari tokoh-tokohnya sehingga membawa mereka untuk terus berjuang menaklukkan berbagai rintangan- yang mereka hadapi untuk mewujudkan mimpi mereka.

“Kita akan sekolah ke Perancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apapun yang terjadi!”


@h_tanzil

21 comments:

tanzil said...

Selain isinya bagus saya juga terkesan dengan covernya....gak bosen-bosennya kupandangi cover Sang Pemimpi....

Sayang kualitas cetaknya kurang baik ya..kadang cetakan di halaman sebelahnya membayang...

Anonymous said...

Iya, Pak Tanzil..
Kayaknya Pak Kris cost down tuh..saya juga terganggu dengan bayangan tulisan di baliknya itu.. Tapi teteup..lanjut teruss..
Demi Sang Pemimpi mah biar tembus pandang, biar belepotan..tarik teruss.. -ochan-

tanzil said...

Kabarnya novel ini sudah dicetak ulang...wah..wah...

O ya ada yg menyandingkan Andrea dengan Pram...kupikir-pikir apanya ya...?

Anonymous said...

Bung Tanzil,
Aku sudah tau, kemana Arai di buku Laskar Pelangi, dan dimana geng Laskar Pelangi di buku Sang Pemimpi!

ochan

tanzil said...

Wah...dimana mereka...?
Kasih2 info donk...

BTW, di blog perca keganjalan2 Sang Pemimpi diungkap habis!

Kobo Chan said...

ya... misteri tuh... dimana sih Arai di LP? kalau laskar pelangi di SP hm.. kayaknya sih masih ada disebut-sebut di bagian akhir SP.

Anonymous said...

Pak Tanzil, tidak ada persamaannya sama sekali antara Pram dengan Andrea. Pram seorang rasional dan berpikiran bebas, sedangkan Andrea meski sudah sekolah di Inggris masih terkurung oleh tradisi (agama/lihat hal.247). Hal paling menyedihkan adalah pada halaman 261 dan 262 dimana Andrea (melalui Arai) menunjukkan kebenciannya pada teori evolusi dengan kalimat kasar. Mungkinkah seorang sarjana biologi cum laude tidak menerima evolusi, yang telah diterima luas, dengan kalimat kasar dan gampangan seperti dalam SP? Novel ini menyedihkan, lebih menyedihkan lagi yang memuja2 penulisnya!

Anonymous said...

Buku ini anti science. Cukup berbahaya bagi negara kita yang sudah terbelakang dalam science dan yg masyarakatnya makin fundamentalis, karena buku dan penulisnya ini banyak penggemarnya.

Anonymous said...

arai dan ikal dalam buku ini sangat "kite runner" ya... di LP ngga ada arai karena masih di afganistan, tersembunyi dalam "kite runner" tadi... (negeri senja)

Anonymous said...

Buku ini membuat saya menangis sembari ketawa pada saat yang bersama, walau sedikit kecewa karena terlalu tipis gak setebal buku pertamanya dan benar kertasnya ketipisan (penerbit? gimana nih...)jadi tembus pandang huruf di belakangnya.
Baca Sang pemimpi lebih nyaman bisa lebih santai, daripada laskar pelangi buku pertamanya karena penuturannya lebih lurus tidak berkelok-kelok membingungkan. Meskipun saya kangen dengan ajaibnya ilmu pengetahuan yang disampaikan di laskar pelangi. Moga terjawab di buku selanjutnya.

Salam kenal,

judith

Anonymous said...

I have been looking for sites like this for a long time. Thank you! » » »

Anonymous said...

I have been looking for sites like this for a long time. Thank you! Taxation inheirted 401 k

blue_angel said...

Pak Tanzil, tidak ada persamaannya sama sekali antara Pram dengan Andrea. Pram seorang rasional dan berpikiran bebas, sedangkan Andrea meski sudah sekolah di Inggris masih terkurung oleh tradisi (agama/lihat hal.247). Hal paling menyedihkan adalah pada halaman 261 dan 262 dimana Andrea (melalui Arai) menunjukkan kebenciannya pada teori evolusi dengan kalimat kasar. Mungkinkah seorang sarjana biologi cum laude tidak menerima evolusi, yang telah diterima luas, dengan kalimat kasar dan gampangan seperti dalam SP? Novel ini menyedihkan, lebih menyedihkan lagi yang memuja2 penulisnya!

...Hehehe..jadi pengen tau..apakah yang nulis komentar ini bener2 bisa nulis?ataukah seorang kritikus saja?...mang lebih gampang berkomentar daripada berkarya bung...seperti kritik andrea buat oang2 melayu yang banyak teori, sok pintar walau baru sedikit ilmunya, sombong walau hanya memiliki sedikit harta...^__^

salut bung...blog nya keren abis...salut....

beta ismawan said...

saya tidak setuju jika novel SP dikatakan anti science dan berbahaya buat Indonesia karena penulisnya digemari. Memangnya orang baca novel untuk mencari scientific insights?! silakan Anda tenggelamkan diri Anda dalam peer-to-peer journal di tiap disiplin untuk puaskan dahaga akan science!

Novel-novel Andrea Hirata justru penting karena mampu membangkitkan apresiasi awam akan sastra Indonesia, terutama dalam format novel, yang sudah lama "mati suri". Bayangkan dampak novel Andrea jika dibaca oleh anak-anak SD atau SMP, maka jiwa mereka akan tumbuh dan akan menjadi tersentuh, sehingga mereka akan mampu menghargai karya sastra. Jadi, pujian untuk Andrea dengan tetraloginya, walau masih ada kekurangan di sana sini. Lagipula, jika semua hal sudah sempurna, tentu kita hidup di surga, bukan di bumi lagi!

Ika said...

Pak Tanzil, tidak ada persamaannya sama sekali antara Pram dengan Andrea. Pram seorang rasional dan berpikiran bebas, sedangkan Andrea meski sudah sekolah di Inggris masih terkurung oleh tradisi (agama/lihat hal.247). Hal paling menyedihkan adalah pada halaman 261 dan 262 dimana Andrea (melalui Arai) menunjukkan kebenciannya pada teori evolusi dengan kalimat kasar. Mungkinkah seorang sarjana biologi cum laude tidak menerima evolusi, yang telah diterima luas, dengan kalimat kasar dan gampangan seperti dalam SP? Novel ini menyedihkan, lebih menyedihkan lagi yang memuja2 penulisnya!

Ini maksudnya apa ya? nyantai dong, jangan langsung berapi-api ketika ego dan kepercayaanmu gak terfasilitasi di buku ini.Ada baiknya cari tau...Kalo aku malah setuju sekali dengan bang andrea yang gak setuju sama teori evolusi.trus bahasanya gak kasar kok.Kalu mau lihat bahasa kasar coba baca djenar.Maaf ya? kamu penulis juga? bukunya gak laku kali ya? hehehe. nyantai.BTW, kalo kritik jgn anonim dong, keliatan banget pengecutnya.

Niswah said...

Buku sang pemimpi emank bgs bgt karena buku itu sangat inspiratif dan bisa membuat saya bersemangan untuk menggapai cita2

edi rudianto said...

walaupun aku baru saja membaca buku-bukunya andrea aku langsung terpesona dengan kata-kata yang tercipta dari tangannya. kadang ku berfikir disaat aku baca bukunya aku tak sadar aku hidup d dunia nyata atau d dalam ceritanya.terimakasih atas motifasi-motifasi yang kau ukirkan di buku anda aku sangat terkesan sekali

Anonymous said...

aku percaya bgt sama mimpi yang dimiliki oleh ikal dan arai tanpa mimpi dan harapan kita memang tidak ada apa2 ya! mimpi-mimpi yang kita miliki sama halnya dengan kita berpikir positif untuk diri kita sendiri dengan kekuatan pikiran itulah apa yang kita inginkan akan tercapai yang tanpa kita sadari pikiran negatif dan posifit kekuatan nya sama tergantung diri kita lah yang memilih apa yang kita inginkan yang ada dlm diri pikiran positifkah atau negatifkah yang dominan yang ada pada diri kita ?????? teman2 pasti bisa menjawabnya!!!!!!! ayo kita ikuti jejak ikal dan arai! tetap semangat untuk pikiran positif dalam hal apapun!!!!!! pikiran mpy hubungan tarik menarik dengan alam tanpa kita sadari!!!

Anonymous said...

pertama kuliat buku ini, aq penasaran isinya apaaaan gtu. kuculik punya kakaku, tapi baru lima halaman doi dah minta abukunya balik. pas ada tugas di fak2. kudapati lagi buku ini. punya tmanq tapi. tak terasa kutamatkan. mirip dengan bagian kisahku rupanya.
pas baca buku ini baru aku sadar, ternyata penyakit angin duduk itu... = penolakan. wakakakakaka....

tapi jujur, this book gave me keberanian lagi tuk bermimpi. salma. fantastis.

alyn said...

Blog yang bagus...congrat buat bung Tanzil.
Aq juga penyuka karya2 bang Andrea. bersemangat, hidup dan simpel dengan gayanya sendiri. Aq ga bisa qlo disuruh buat novel yg setiap paragrafnya dapat berdiri sendiri seperti ini. Qlo ada kawan2 yang tak setuju, silahkan...tapi jangan anonym dunk !
(^0^)v

Andrean Perdana said...

Cek novel ebook (digibook) lainnya disini bro:
Download Daftar Novel Ebook (Digibook).