Saturday, September 16, 2006

Hana's Suitcase


Judul : Hana’s Suitcase
Penulis : Karen Levine
Penerjemah : Yohan Rahmat Santosa
Penerbit : Kanisius
Cetakan : I, 2006
Tebal : 143 hal
Harga : Rp. 20.000,-


Hana Brady, namanya tak seterkenal Anne Frank, namun nasib yang dialaminya tak jauh berbeda dengan penulis buku harian paling terkenal di dunia itu. Nama Hana Brady mungkin akan terlupakan selamanya jika saja di tahun 2000 Fumiko Ishioka, seorang guru dan koordinator pusat studi Tokyo Holocaust Center tidak meminta pada museum Auschwitz untuk meminjam artrefak milik anak-anak Yahudi korban pembantaian Nazi pada saat Perang Dunia II. Melalui artefak itu Fumiko ingin agar anak-anak di Jepang lebih memahami cerita tentang pembantaian jutaan anak Yahudi yang terjadi lebih dari lima puluh tahun yang lalu.

Beberapa bulan kemudian, sebuah paket dari Museum Auschwtiz tiba di Jepang, Fumiko menerima sepasang kaus kaki dan sepatu anak-anak, baju hangat anak-anak, sebuah kaleng gas beracun, dan sebuah kopor. Kopor itu satu-satunya barang yang memberikan petunjuk nama pemiliknya. Pada kopor tersebut tertulis nama Hanna Brady lengkap dengan tanggal lahir dan kalimat “Waisenkind” yang berarti ‘yatim piatu’.

Kopor Hana ini rupanya membuat Fumiko dan kelompok anak-kanak didiknya yang bernama Small Wings tergerak untuk mengetahui lebih banyak tentang anak perempuan pemilik kopor tersebut.

Hana Brady, si pemilik kopor tidak seperti Anne Frank yang mencatat semua pengalaman-pengalamannya dalam buku harian, karenanya perlu kerja keras dari Fumiko untuk menelusuri jejak Hana Bardy hingga ke Eropa dan Amerika Utara.

Usaha Fumiko tak sia-sia, Misteri kopor itu membawanya kembali ke waktu tujuh puluh tahun silam, pada Hana kecil dan keluarganya yang kegembiraan hidupnya di sebuah kota kecil Cekoslovakia direngut oleh kedatangan tentara Nazi.

Keluarga Brady tinggal di Nove Mesto. Kota kecil di daerah perbukitan di negara Cekoslovakia. Hana tinggal bersama kakaknya Goerge dan kedua orang tuanya yang memiliki toko kelontong. Mereka hidup berkecukupan dan merupakan keluarga yang harmonis. Pada 15 Maret 1939, tentara Nazi memasuki sebagian daerah Cekozlovakia, dan kehidupan keluarga Brady pun berubah. Saat itu Hana baru berusia 8 tahun, sedangkan George, kakaknya berusia 11 tahun. Setelah kedatangan Nazi masa kana-kanak Hana tak seindah sebelumnya, berbagai larangan dan pembatasan bagi warga Yahudi membuat mereka tak bisa bersekolah dan bermain dengan bebasnya. Hal ini membuat Hana menjadi sedih.

Kesedihannya semakin bertambah ketika satu persatu orang-orang yang dikasihinya direngut dari dirinya, berawal dari Ibunya, ayahnya, dan terakhir George. Hana Brady berusia 11 tahun ketika ia dan George harus dideportasi dari kota kelahirannya menuju kamp Thereinstadt. Di kamp ini anak laki-laki harus dipisahkan dengan anak perempuan sehingga Hana harus berpisah dengan George, namun Hana masih bisa menemui kakaknya di sela-sela waktu bebasnya. Beberapa bulan kemudian George dipindahkan ke Auschwitz. Hana benar-benar merasa kehilangan satu-satunya kakak yang ia cintai sekaligus pelindungnya. Empat minggu kemudian di usianya yang ke 13, giliran Hana yang dideportasi menuju kamp maut Auschwitz.

Apakah Hana berhasil bertahan hidup dalam kamp maut itu ? Kelak George yang berhasil dihubungi Fumiko bahkan sempat berkunjung ke Tokyo Holocauts Center – Jepang akan menceritakan semuanya. Sehingga jati diri dan pengalaman hidup pemilik Kopor Hana akan terungkap dengan jelas.

Bab-bab dalam buku ini disajikan secara berselang-seling antara masa lalu dan masa kini. Satu bab menceritakan masa kecil Hana di Nove Mesto – Cekoslovakia hingga dideportasi ke Austwitz, bab berikutnya menceritakan usaha Fumiko dalam menelusuri jejak-jejak kehidupan Hana. Pembagian bab secara berselang-seling seperti ini memberikan kesempatan ‘bernafas’ bagi pembacanya agar tak terus terperangkap dalam masa lalu Hana yang pahit, penuh dengan suasana muram dan kesedihan

Pada bab-bab yang menceritakan masa lalu Hana, buku ini sebagian besar berisi pengalaman-pengalaman memilukan Hanna dan George, antara lain ketika Marketa, ibu mereka, diharuskan untuk menghadap ke markas Gestapo. Ini berarti ia tak bisa bertemu dengan suami dan anak-anaknya lagi dalam jangka waktu yang tak menentu. Kecintaannya pada Hana terungkap ketika malam sebelum dirinya harus pergi meninggalkan keluarganya. Malam itu ibu Hana menidurkan Hana dan memeluk Hana erat-erat. Ia mengelus-elus rambut Hana dengan jari-jarinya yang halus, seperti yang ia lakukan ketika Hana masih kecil. Lalu ia menyanyikan lagu kesukaaan Hana terus menerus hingga Hana tertidur. Hana tertidur dalam dekapan ibunya. Dan keesokan harinya ketika Hana bangun, ibunya telah pergi. (hal 50).

Pengalaman-pengalaman Hana selama dalam kamp tahanan Theresienstadt terungkap dengan jelas, hanya saja karena mungkin buku ini diperuntukkan bagi anak-anak, maka gambaran penyiksaan dan penderitaan yang dialami oleh Hana dan anak-anak Yahudi lain tidak diungkap secara jelas, sebagai gantinya buku ini lebih mengeksplorasi perasaan kesedihan dan keadaan jiwa Hana selama dalam kamp tahanan.

Selain pengalaman-pengalaman Hana yang menyentuh, buku ini mengungkap pula hal-hal yang membuat Hana dan kawan-kawannya sedikit terhibur, antara lain ketika mereka akhirnya bisa belajar menggambar dan menyanyi untuk sejenak melupakan kesedihan mereka.


Ketika akhirnya Hana dipindahkan dari kamp Theresiendstad menuju Auschwitz, ada sebersit harapan bagi dirinya untuk bertemu dengan George yang telah lebih dulu berada disana. Sesampai di Auschwitz Hana melihat pemandangan yang memilukan, di bawah ancaman anjing-anjing besar yang buas dan di bawah pengawasan beberapa petugas yang tidak berseragam. Hana dan teman-temannya berbaris melewati barak yang luas dan melihat para tahanan yang mengenakan seragam bergaris-garis yang wajahnya sudah seperti tengkorak. Mereka diperintahkan untuk memasuki sebuah bangunan yang besar. Setelah mereka masuk, pintu ditutup dengan keras. (108). Sampai di sini episode kehidupan Hana diceritakan dalam buku ini.

Bab-bab yang menceritakan perjuangan Fumiko untuk memperoleh keterangan mengenai Hanna, tak kalah menariknya. Berbagai hambatan harus ditemuinya sebelum ia memperoleh petunjuk siapa sebenarnya dan bagaimana kehidupan Hana sebelum dan setelah berada dalam kamp tahanan. Fumiko hampir saja menyerah ketika ia menemui jalan buntu. Untunglah berkat kegigihannya, bagaikan menyusun sebuah puzzle, Fumiko akhirnya bisa memperoleh keterangan yang utuh, bahkan bisa bertemu dengan George, kakak Hana yang kelak akan menceritakan kisah dirinya dan Hana pada Fumiko.

Plot kisah Hana dalam buku ini tersaji secara cepat, kalimat-kalimatnya ditulis secara sederhana sehingga tak menyulitkan anak-anak/remaja yang membaca buku ini. Selain itu buku ini juga dilengkapi oleh puluhan foto hitam putih Hana beserta keluarganya, foto kopor Hana, gambar-gambar yang dibuat oleh Hana selama dalam kamp tahanan, dan dokumen-dokumen yang dibuat oleh Nazi. Selain itu foto-foto Fumiko dan kegiatan anak-anak didiknya juga turut menghiasi buku ini.

Buku yang menceritakan kisah nyata penderitaan anak-anak akibat kedkatatoran Nazi, yang diwakili oleh Hana ini ditulis oleh Karen Levine, seorang produser acara-acara dokumenter di sebuah radio di Kanada. Ia tertarik pada cerita kopor Hana ketika membaca sebuah artikel yang dibuat oleh Paul Lungen dari Canadian Jewish Nesh. Cerita itu sangat menyentuh hatinya sehingga ia bertekad untuk membuat siaran dokumenter di radionya. Dan hasilnya, Hana’s Suitcase disiarkan di CBC radio One pada bulan Januari 2001. Karena mendapat sambutan hangat dari pendengarnya, akhirnya Levine membukukan kisah kopor Hana. Sama seperti program radionya, buku yang diberi judul Hana’s Suitcase ini mendapat respon yang baik dari pembacanya. Buku ini juga memperoleh beberapa penghargaan antara lain “Book ot The Year” untuk buku anak-anak dari Canadian Library Asociaton, Silver Birch dari Ontario Library Asociaton, dll.

Kini Hana’s Suitcase diterjemahkan dengan judul yang sama dengan buku aslinya. Sangat mungkin buku ini merupakan buku pertama yang diterbitkan di Indonesia yang bertema Holocaust yang diperuntukkan bagi pembaca remaja. Tentunya diharapkan kisah yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan seperti simpati, toleransi, menghargai kehidupan, dan betapa memilukan nasib manusia jika kekuasaan jatuh di tangan orang-orang yang tak berhati dapat terbaca oleh anak-anak remaja.

Tak ada kata lain, buku ini sebuah bacaan yang baik untuk dibaca oleh kita dan anak-anak kita. Kisah dalam buku ini adalah sebuah pengingat akan kebrutalan masa lalu dan harapan untuk masa depan.

@h_tanzil

8 comments:

Kobo Chan said...

Huah... nih lagi buku yang bikin ngiler.. ler.. ler....

Jalan ceritanya ada juga dong tentang perjalanan Fumiko mencari tahu tentang keberadaan Hana Brady yah?

Anonymous said...

Yap! Jadi buku ini selang-seling antara kisah Fumiko mengungkap jati diri Hana dan kisah Hana itu sendiri.

Hatiku terguncang waktu baca episode malam terakhir sebelum Ibu Hana meninggalkan Hana dan george...

Nadiah Alwi said...

Nama anak saya juga Hana...

Selain review yang menarik di blog ini, keinginan untuk membaca buku ini juga karena kesamaan nama tersebut :D

tanzil said...

Ya...kadang kesamaan judul buku dgn nama kita, mengundang kepenasaran untuk dibaca..

Baca deh bukunya...kalau anaknya sudah remaja buku ini bisa dia baca juga.

Kobo Chan said...

Carinya dimana nih? habis kalau terbitan kanisius, sering susah deh dapat di gramedia

jinky said...

Losing someone you truly love is not really easy it will cause a lot of pains and heartaches. You can move on but you cannot do it right away. This story of Hanna is really heartwarming; it brings me to my childhood wherein I also used to play with my brother.

Car Accident Solicitor

jinky said...

Losing someone you truly love is not really easy it will cause a lot of pains and heartaches. You can move on but you cannot do it right away. This story of Hanna is really heartwarming; it brings me to my childhood wherein I also used to play with my brother.


Car Accident Solicitor

Melati said...

mau buku iniiiiiiiiiiiiii. nyarinya dmn?