Friday, November 03, 2006

The Godfather


Judul : The Godfather (Sang Godfather)
Penulis : Mario Puzo
Penerjemah : B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : September 2006
Tebal : 680 hlm ; 23 cm
Harga : Rp.75.000,-





The Godfather menceritakan kisah keluarga Mafia yang dipimpin oleh Don Vito Corleone, ia dikenal sebagai salah satu pemimpin Mafia – Sisilia yang disegani di New York City Amerika, walau ia seorang pemimpin kerajaan bawah tanah raksaksa yang menguasai berbagai kegiatan bisnis ilegal dan hidup dalam dunia kejahatan yang kelam, dirinya tidak bersikap kejam seperti pemimpin mafia-mafia lainnya. Corleone dikenal sebagai seorang pria yang logis, adil dan murah hati.

Di samping menjalankan bisnisnya ia kerap didatangi siapa saja untuk dimintai bantuan. Ia tidak pernah memberikan janji kosong. Tidak peduli semiskin atau selemah apapun orang yang meminta bantuan, Corleone akan memasukkan kesulitan orang itu ke dalam hatinya dan ia akan melakukan apapun untuk menolong orang tersebut. Hanya satu hal yang diinginkanya. Yaitu orang itu menyatakan persahabatannya pada Corleone. Hal ini menyebabkan dirinya digelari “Don” yang terhormat, dan panggilan lainnya yang lebih penuh kasih, “Godfather”.

Keluarga Corleone merupakan keluarga mafia yang paling berpengaruh dan disegani diantara keluarga Mafia lainnya di Amerika Serikat. Pengaruhnya menyebar mulai dari kepolisian, kejaksaan, serikat buruh, hollywood, hingga gedung putih. Bisnis ilegalnya yang berpusat di Long Island menyebar dari mulai perjudian, minuman keras, real estate, taruhan pacuan kuda, dll. Salah satu bisnis yang tidak disentuhnya adalah narkotika. Don Corleone menganggap narkotika adalah bisnis kotor yang akan merusak pengaruhnya di pemerintahan resmi.

Awalnya keluarga Corleone hidup secara aman. Bisnis ilegalnya berjalan dengan lancar dan menguntungkan, tanpa bahaya, tanpa gangguan baik dari pemerintah resmi maupun dari keluarga mafia lainnya. Namun ketentraman ini terganggu ketika Sollonzo yang didukung keluarga mafia Tattaglia, salah satu dari Lima Keluarga Mafia yang berpengaruh di Amerika sekaligus saingan utama keluarga Corleone mengajaknya untuk bekerja sama melakukan bisnis narkotika. Tentu saja Don Corleone menolaknya.

Penolakan Don Corleone menimbulkan sakit hati bagi Sollonzo dan keluarga Tattaglia. Ditambah dengan kenyataan bahwa tanpa dukungan Corleone tak mungkin bagi Sollonzo untuk melaksanakan bisnis narkotikanya. Tanpa diduga Don Corleone ditembak oleh kaki tangan Sollonzo ketika sedang membeli buah-buahan bersama Freddie, putra sulungnya. Tentu saja penembakan ini berpotensi memicu terjadinya perang antar mafia.

Don Corleone luput dari maut, namun terluka cukup parah, sementara Freddie tampak sangat tertekan karena peristiwa tersebut. Selama Don Corleone dalam perawatan, tampuk pimpinan keluarga Corleone dikendalikan oleh Sonny Corleone, putra kedua Don Corleone dan dibantu oleh Tom Hagen selaku consigliere (penasehat) keluarga Corleone.

Sonny mengambil inisiatif menghabisi nyawa Sollonzo melalui Michael (putra ketiga Don Corleone). Misi ini berhasil dilaksanakan dengan sempurna dan untuk menghindari dari jerat hukum, Michael dilarikan ke Sisilia, Itali.

Belum pulihnya Don Corleone dimanfaatkan oleh keluarga Tattaglia untuk membalas dendam kematian Sollonzo dan memuluskan bisnis narkotikanya. Sebuah peristiwa tragis kembali menimpa keluarga Corleone sehingga melemahkan bisnisnya.

Hal ini membuat Don Corleone yang bijak mengambil langkah kenegarawan untuk menghentikan balas dendam antar keluarga yang tiada akhir. Suskes dengan misi damainya Sang Godfather mengundurkan diri dari dunia mafia. Cerita belum berakhir. Putra bungsu Corleone, Michael Corleone dengan langkah-langkah briliannya terus berusaha untuk mengembalikan kejayaan kerajaan keluarga Corleone.

Mario Puzo dalam novelnya ini mengemas kisah keluarga Corleone dengan kerajaan bawah tanahnya dengan menarik. Sejak awal. pembaca akan diikutsertakan dalam sebuah petualangan sepak terjang sang Godfather beserta tokoh-tokohnya yang memiliki beragam karakter yang kompleks yang memiliki harapan, impian, dan ketakutan, tapi juga merupakan pembunuh keji.

Selain tokoh Don Corleone beserta keluarganya, Puzo juga menghadirkan tokoh Tom Hagen selaku consiliegri, satu-satunya consiliegri yang bukan berdarah Italia. Juga terdapat tokoh Jhonny Fontane, penyanyi tenar sekaligus aktor terkenal. Melalui karakter Jhonny ini pembaca akan diajak menyelami kehidupan dunia selebritis Hollywood di tahun awal tahun 70-an lengkap dengan gaya hidup hedonis dan intrik-intrik di dalamnya yang memiliki persinggungan dengan keluarga Mafia.

Selain karakter-karakter tokoh-tokoh yang dipaparkan dengan begitu hidup, novel ini juga mengungkap sepak terjang dunia mafia dengan gamblang, lengkap dengan istilah-istilah yang umum digunakan seperti “Don”, Caporegime, Consilegri, dll, sehingga ketika novel ini terbit di tahun 1969, novel ini memberikan pengaruh yang besar bagi masyarakat dalam budaya populer Amerika, hal ini terbukti dengan semakin banyaknya mafia dan reputasinya yang tertuang dalam buku, iklan hingga film-film.

Terlepas dari benar tidaknya gambaran yang diberikan Puzo dalam novelnya ini sepak terjang Mafia dalam kehidupan masyarakat Amerika memang tak dak dapat dipungkiri keberadaannya. Wikipedia on line mengutip bahwa di tahun 60-an pemerintah Amerika Serikat telah melakukan kerjasama dengan Mafia antara lain dalam usaha pembunuhan terhadap pemimpin Cuba, Fidel Castro.

Kegambalangan dan cara berutur Puzo yang detail dan sangat hidup dalam The Godfather membuat pembacanya bertanya-tanya, apakah ini merupakan kisah nyata ? apalagi karakter Johnny Fontane dalam novel ini mengingatkan orang pada penyanyi Frank sinatra. Ada juga yang menduga kalau Puzo memiliki ‘link’ dengan Mafia sehingga ia mampu menuliskan novel ini dengan sangat detail. Namun dalam wawancaranya Puzo mengelak dan mengatakan bahwa novel yang diselesaikannya selama tiga tahun ini disusun hanya berdasarkan riset pustaka belaka.

Sebelum The Godfather meraih kesuksesan Puzo adalah penulis miskin, sudah dua novel ditulisnya The Dark Arena (1955), dan The Fortunate Pilgrim (1965). Kedua novel ini, walau banyak dipuji oleh para kritikus, bahkan Puzo sendiri menganggap karya keduanya merupakan karya terbaiknya, gagal di pasaran.

Puzo menulis The Godfather karena ia membutuhkan sejumlah uang. Ia terjerat hutang sebesar $20,000, keadaan ini membuat ia mengatakan kepada editornya bahwa ia akan menulis sebuah buku tentang mafia. The Godfather diselesaikannya selama hampir tiga tahun, selama waktu tersebut Puzo juga menulis beberapa cerita lainya.

Ketika the Godfather terbit di tahun 1969, novel ini mendapat sambutan yang sangat baik oleh pasar. Puzo bukan hanya bisa melunasi hutang-hutangnya, ia bahkan menjadi penulis tenar dan The Godfather kini menjadi novel klasik yang akan dikenang sepanjang masa. Novel ini telah terjual lebih dari 21 juta copy dan bertahan di daftar best-seller surat kabar The New York Times selama 67 minggu.

Kesuksesan The Godfather berlanjut ketika novel ini dilirik oleh sutradara bertangan dingin Francis Ford Copolla yang bersama-sama Puzo mengadaptasi novel ini ke layar perak. Puzo dan Copolla memperoleh Oscar untuk Skenario Adaptasi Terbaik. Sedangkan The Godfather I dan The Godfather II terpilih sebagai film terbaik tahun 1972 dan 1974

Gaung The Godfather kini terdengar kembali, di tahun 2004 Mark Winegardner, penulis asal Amerika menerbitkan The Godfather Return yang merupakan sequel dari The Godfather. – Mario Puzo. Dan pada Novemeber 2006 ini Mark Wineggarder kembali akan menerbitkan sekuel lanjutannya yang berjudul The Godfather's Revenge.

Apakah 2 sekuel karya Mark Winegarder ini akan sesukses The Godfather karya Mario Puzo ?


@h_tanzil

8 comments:

Nenni said...

Wuaaah....The Godfather akhirnya keluar juga. Lama juga yah proses Gramedia, kalo ga salah dulu ada org gramed ksh gw mo nerbitin Th Godfather...well, 3thn yg lalu yak. Kebetulah gw dpt versi indonya terbitan 1993 penerbitnya Mitra sumtinglah. The Godfather buku yg layak banget dibaca..salah buku yg ga bisa ditinggalin. Plot2nya seru, penjabarannya oke, strategisnya maut, banyak hal tidak terduga sebelumnya. Walopun difilm yg ga kalah oke. But, somehow menurut gw lho...lebih oke bukunya.

Tentang Mark Winegardner, walopun mungkin jago banget soal The Godfather, tapi bukunya yg berjudul 'The Godfather Return' keknya kurang greget...ada yg kurang aja disana. Sehingga gw berpaling dari tuh buku dan memulai baca DVC-Dan Brown :-D yang lebih seru....


Btw, salam kenal buat Tanzil. Gw posting iseng2 CUMAN karena ada resensi The Godfather :-D

Kobo Chan said...

Hu hu hu...
Ntah kapan lagi aku baca novel ini
Abis yang ngantri dah banyak banget :(
hiks.. hiks..
by the way...
tunggu saja kehadiran Balthasar di meja yah koko Tan... (",)

(bocoran nya dari Perca tuh, wekekekeke)

h_tanzil said...

Makasih komennya Nenni..
Udah baca The Godfather return ya...?
Wajarlah kalau sekuelnya kurang bagus karena pemilik sejati 'roh' Godfather ya cuman Mario Puzo...

h_tanzil said...

Kobo yg baik....
Wah....ini berarti aku bakal dapet
B. Oddysey...?
Makasih banget ya.......
eh..tunggu 'pembalasanku' ya...he..he..

Kobo Chan said...

yup... ditunggu aja
si Balthasar nyasar ke bandung, wekekekeke

Solarismania said...

salam kenal, pengen beli itu buku, tapi pioritas kantong masih nomor urut sekian... kayaknya mesti baca bukunya dulu baru film ya ?

terus, godfather IV itu ga bakalan pernah dibuat ya?

Leonard fresly said...

terima kasih Mario Puzo sudah menciptakan cerita yang luar biasa menarik Sinopsis Film, Review Film, Resensi Film, Cerita Film

Admin Tamvan said...

Keren nih rating dari filmnya :o Sinopsisnya juga keren sip lah