Saturday, February 24, 2007

The Historian

Judul : The Historian (Sang Sejahrawan)
Penulis : Elizabeth Kostova
Penerjemah : Andang. H. Soetopo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Januari 2007
Tebal : 768 hlm ; 23 cm
Harga : Rp. 135.000,-

Awal Februari 2007 , situs resmi The Associated Press dalam sebuah kolom beritanya mengabarkan bahwa Puri Bran yang diyakini sebagai tempat kediaman Dracula, dijual seharga 78 juta dolar oleh pewarisnya kepada pemerintah Rumania. Langkah tersebut diambil demi pelestarian tempat legendaris di Transylvania tersebut. Kabarnya lebih dari 400 ribu orang mengunjungi puri itu setiap tahunnya, terutama karena dikaitkan dengan Vlad the Impaler atau Pangeran Dracula.

Vlad bukanlah pemilik puri itu, namun diyakini telah menggunakan tempat itu selama kunjungannya ke Transylvania. Dia juga terkurung di tempat itu selama dua bulan pada tahun 1462 setelah ditangkap olah musuhnya.

Nama Dracula sering dikaitakan dengan sosok vampir yang selalu haus akan darah manusia. Sejarah mencatat, Dracula adalah seorang pangeran Wallachia (Rumania) bernama Vlad Tapes (1431-1476) yang gigih melawan serbuan kesultanan Ottonam atas wilayahnya. Ia sosok yang dibenci baik oleh musuhnya maupun oleh rakyatnya sendiri. Nama Dracula sendiri berarti anak laki-laki Dracul -anak laki-laki naga- (Drac = naga. ull=anak), nama ini disandingnya karena ayahnya (Vlad II) diangkat menjadi anggota Orde Naga oleh Kaisar Romawi. Organisasi ini dibentuk untuk mempertahankan kekaisaran romawi terhadap kesultanan Ottoman di Turki.

Selain itu Vlad Tepes juga memiliki sebutan yang menyeramkan Vlad The Impaler (Vlad si Penyula). Di sebut Penyula karena konon Vlad dikenal sebagai tokoh yang senang melakukan kekejaman terhadap orang-orang yang tak disukainya. Salah satu metode penyiksaan yang disukainya adalah dengan menyula (menusuk dari dubur hingga kepala) hidup-hidup musuh-musuhnya. Diperkirakan ia telah membunuh 40.000 hingga 100.000 orang dengan cara-cara yang kejam.

Kekejaman Vlad Tepes berakhir ketika ia tewas dalam sebuah penyerbuan orang-orang Turki di sebuah kota dekat Buchares. Kepalanya dipisahkan dari tubuhnya dan dibawa ke Konstantinopel sebagai persembahan kepada Sultan Turki. Tubuh tanpa kepalanya dikuburkan di Snagov sebuah pulau di Bucharest. Dari sinilah legenda vampir mulai hidup. Konon Vlad Tepes tidak benar-benar mati, ia menjadi mayat hidup, menjadi vampir dan menyebarkan wabah vampir kepada orang-orang yang digigitnya. Kisah ini menjadi legenda. Diceritakan dari generasi ke generasi di kalangan penduduk Balkan yang masih percaya pada tahayul.

Legenda vampir ini diadopsi oleh Bram Stroker untuk novelnya yang berjudul Dracula (1897). Walau dalam novelnya tak menyebutkan nama Vlad Tepes, namun latar belakang Dracula dalam novelnya mengindikasikan bahwa Vlad Tepes-lah yang diadopsi oleh Stroker untuk menajdi tokoh utama dalam karyanya.

Selain Stroker, buku-buku tentang Dracula/vampir terus ditulis orang, mungkin angkanya telah mencapai ribuan buku. Apalagi setelah Hollywod mengkomersilkan lagenda vampir dengan film-filmnya. Konon, hampir 300 film pernah dibuat berkaitan dengan vampir dan dracula.

Walau kisah Dracula terus ditulis orang, hal ini tak mengurungkan niat Elizabeth Kostova untuk melakukan riset sejarah mengenai Dracula dan menuangkan hasil risetnya kedalam sebuah novel sejarah yang dikemas dalam horor-suspense yang memikat yang diberi judul The Historian (Sang Sejarahwan). Berbeda dengan Darcula-Bram Stoker, Kostova lebih memberikan nuansa sejarah pada novelnya ini, sehingga pembaca tak hanya disuguhkan oleh ketegangan dan kengerian semata, melainkan pembaca juga diajak menyelusuri siapa sebenarnya dibalik sosok Dracula berdasarkan fakta sejarah yang diperoleh Kostova dari risetnya selama 10 tahun!

The Historian diawali dengan kisah di tahun 1972 dimana seorang gadis berusia 16 tahun menemukan sebuah buku tua dan amplop yang berisi kertas-kertas yang sudah menguning di perpustakaan ayahnya di Amsterdam. Uniknya buku tua tersebut seluruh halaman-halamannya kosong, kecuali di halaman tengahnya terdapat gambar cukilan kayu berbentuk naga dan terdapat tulisan “Draculya”. Sedangkan kertas-kertas yang sudah menguning itu ternyata sebuah surat-surat pribadi bertanggal 12 Desember 1930 yang ditujukan kepada “ Penerusku yang baik dan tidak beruntung

Ketika ia bertanya pada ayahnya mengenai temuannya itu, barulah ayahnya (Paul) bercerita. Pada saat Paul masih menjadi mahasiswa S2 jurusan sejarah di Amerika, di malam hari ketika ia sedang membaca di perpustakaan universitas, tiba-tiba seseorang telah meninggalkan sebuah buku kuno diantara buku-buku yang sedang dibacanya di meja perpustakaan. Buku kuno yang ditengah halamannya bergambar naga dan bertuliskan Drakulya ini membuat penasaran Paul dan iapun segera menelusuri katalog perpustakaan untuk menemukan buku-buku dengan tema “Drakula”

Paul menceritakan penemuannya itu pada dosen pembimbingnya, Prof. Bartholomew Rossi. Dan yang lebih mengejutkannya, ternyata Prof Rossi juga memiliki buku yang sama dengan cara yang juga misterius. Sama seperti Paul, buku ini menimbulkan obsesi yang besar bagi Rossi untuk memperoleh keterangan mendalam mengenai asal-usul buku itu, dan mencari tahu sosok tokoh sejarah Draculla atau Vlad Tepes, dimana kuburnya, dan apakah ia masih hidup hingga kini, dll ? Tak tanggung-tanggung Prof Rossi melacak jejak Draculla hingga ke Turki dan pelosok-pelosok Rumania.

Prof. Rossi segera memberikan semua hasil temuannya baik berupa manuskrip, peta dan surat-suratnya. Namun sebelum Paul dan Rossi melakukan riset lebih jauh, tiba-tiba Prof Rossi menghilang dengan meninggalkan bercak darah di kamarnya. Berdasarkan surat-surat dan peta yang diterimanya dari Rossi, Paul melanjutkan risetnya sambil mencari keberadaan Rossi. Secara kebetulan ia bertemu dengan Hellen, seorang antropolog asal Rumania yang ternyata anak kandung dari Prof Rossi dari hasil hubungannya dengan wanita asal Rumania yang ditemuinya saat melakukan riset Dracula.

Paul bersama Helen pun sepakat melakukan pencarian dimana Rossi berada, ada dua kemungkinan kemana hilangnya Rossi, mencari letak kubur Dracula, atau diculik oleh Dracula. Pencarian ini menghantar mereka singgah ke beberapa negara seperti Turki, Rumania, Bulgaria, menelusuri koleksi-koleksi perpustakaan-perpustakaan yang menyimpan buku2 dan manuskrip –manuskrip kuno abad ke 15, mengunjungi biara-biara kuno guna mencari dimana kubur Draculla berada , dll. Dalam pencarian ini mereka kelak akan menemukan bahwa masih ada beberapa orang yang ternyata memiliki buku bergambar naga seperti yang dimiliki Paul dan Rossi. Pencarian ini tidaklah mudah, selain keterbatasan sumber, mereka juga selalu dibuntuti oleh seseorang atau sesosok vampir yang mencoba menghalangi niat mereka, bahkan sempat menggigit salah satu dari mereka .

Selain hilangnya Rossi, kelak Paul juga akan menghilang. Dan kini giliran si gadis bersama temannya Barley, mencoba mencari jejak keberadaan ayahnya. Berhasilkah Rossi dan Paul ditemukan. Berhasilkah kubur Draculla ditemukan? Dan apakah Dracula masih hidup ? Pertanyaan ini akan terjawab di lembar-lembar terakhir novel ini.




Kuburan dracula/Vlad Tepes di Snagov - Bucharest




Novel ini terangkai dari beberapa penutur ; tuturan Paul yang menceritakan langsung kisahnya pada anaknya, surat-surat Paul, surat-surat Rossi, dan si gadis yang menceritakan pengalamannya sendiri. Jika dilihat dari setting waktunya, novel ini memiliki tiga bagian kisah. Setting tahun 1930-an yang menceritakan pengalaman Prof. Rossi, setting tahun 1950-an yang menceritakan pengalaman Paul, dan setting tahun 1972 yang menceritakan pengalaman gadis berusia enam belas tahun yang hingga akhir cerita tak disebutkan namanya.

The Historian ditulis oleh Elizebeth Kostova dengan gaya yang indah dan memikat. Tidak seperti novel-novel horor lainnya yang biasanya sarat dengan dendam, darah, amarah, tubuh yang tercabik-cabik, sosok hantu yang menjijikkan, dan lain-lain. The Historian menyajikan nuansa yang berbeda. Walau yang menjadi tema utama adalah pencarian sosok Drakula yang menyeramkan, namun tak ada ketakutan yang berlebihan pada novel ini. Kemunculan vampir tak diumbar dalam novel ini, namun seolah sang vampir terus mengikuti setiap tokoh-tokohnya. Ketegangan dan kemisteriusan menyelimuti seluruh halaman novel ini, dimulai dari ditemukannya buku kosong bergambar naga, kisah kekejaman Vlad Tepes ketika mengeksekusi musuh-musuhnya, vampir yang membuntuti dan menyerang dengan tiba-tiba, hingga sosok drakula dan aktivitasnya yang unik dan tak terduga akan ditemui dalam novel ini.

Selain itu aroma sejarah juga tercium dengan tajam pada novel ini. Dengan deskripsi sejarah yang diurai secara kronologis dan menarik sehingga tak membosankan Kostova mengajak pembacanya bertamasya ke masa lalu di abad ke 15 dimana Dracula pernah hidup dan berjuang melawan serangan tentara Turki dibawah pemerintahan Sultan Mehmed II. Pembaca juga akan diajak berkelana ke tempat-tempat eksotis seperti Oxford, Istanbul, Rumania, Bulgaria untuk menelusuri buku-buku kuno, mansukrip-manuskrip bersejarah, kisah para santo, puisi kuno, legenda dan lagu-lagu rakyat yang berkaitan dengan Drakula.

Suspense, horor, legenda, fakta sejarah, semua itu dirangkai dalam sebuah kisah dengan tempo yang cepat dan plot yang memikat sehingga membuat pembacanya betah membaca novel dengan tebal 768 halaman ini. Hampir di akhir setiap bab, Kostova menyajikan hal yang mengejutkan sehingga membuat pembacanya penasaran dan ingin terus membaca ke halaman-halaman berikutnya hingga buku ini selesai dibaca dengan tuntas.

Kostova tampaknya berhasil menuntun pembacanya untuk terus penasaran dalam mengikuti lika-liku cerita yang pada akhirnya akan meyakinkan pembacanya bahwa drakula memang pernah ada dan merupakan tokoh sejarah. Hal ini dimungkinkan karena dari cara berceritanya sendiri memeberi kesan bahwa sang penulis telah melakukan riset yang mendalam layaknya seorang sejahrawan dalam membuat novel ini.

Dalam mengerjakan novel ini, Kostova memang tak sekedar mengandalkan imajinasinya tentang sosok Dracula. Novel pertama Elizabet Kostova ini tampaknya dikerjakan dengan sungguh-sungguh disertai riset yang mendalam layaknya seorang sejarahwan selama sepuluh tahun. Menurutnya sejak ia masih kecil, ketika ayahnya bercerita tentang Dracula, ia sudah membayangkan cerita yang akhirnya akan menjadi The Historian. Hingga akhirnya, dengan semangat akademiknya, kesabaran dan bakat menulsinya yang laur biasa, Kostova berhasil menghasilkan karya yang penuh misteri sejarah dan ketegangan ini. Bukan tak mungkin novel ini bakal menjadi novel mengenai kesejarahan dan legenda dracula yang otoratif dan dikenang sepanjang masa setelah novel Dracula karya Bram Stroker.

Tak heran ketika novel ini terbit di tahun 2005, novel ini langsung menjadi best seller dunia. Debut Elizabeth Kostova dengan novel ini langsung melemparnya ke tempat teratas penulis-penulis novel suspense sejarah. Dan untuk novel ini pula Kostova memenangi Hopwood Award for the Novel-in-Progress.

Bersyukur pembaca buku tanah air kini bisa membaca terjemahan novel ini. yang diterjemahkan oleh penerjemah senior Andang Heru Soetopo. Tampaknya pembaca tak akan menemui kesulitan dalam memahaminya karena kalimat-kaliamatnya mudah dipahami dan mengalir dengan lancar. Jika kita membaca liputan majalah MATABACA ed. Febr 2007 mengenai terjemahan novel ini, kita akan melihat bahwa penerjemah tampaknya telah melakukan hal yang maksimal agar terjemahan novel ini dapat mendiskripsikan apa yang menjadi keinginan dan gaya penulisnya.

Edisi terjemahan buku ini dicetak diatas kertas HVS, dengan sampul hard cover dan diberi tambahan pembatas bukunya yang menawan, sehingga secara fisik buku ini tampil cukup mewah dan layak dikoleksi, namun dengan kemasan mewah seperti ini, buku ini menjadi berat secara fisik untuk dibawa-bawa dan dibaca berlama-lama sehingga agak mengganggu kenikmatan membacanya.

@h_tanzil

5 comments:

zenrs said...

Mas Tanzil yang baik, buku ini juga sudah aku baca. Memang menarik dan asyik, memberi gambaran yang lebih detail ihwal dracula yang sebelumnya hanya kita tahu dari film-film hollywood. Kapan ya ada orang Indonesia yang melakukan riset serius ihwal "mahluk-mahluk halus lokal Indonesia"? Hehehee... Senang rasanya bisa mampir di sini. Aku link-ya blognya. Mampir diblogku ya, blog khusus untuk merayakan kematian. Salam kenal.

Windy said...

mas tanzil...

punya kontak si penerjemahnya ngga? gara-gara terjemahannya keren, saya jadi pengen tahu tentang penerjemahnya. thanks atas info-nya.

h_tanzil said...

@zenrs : waktu kubaca novel ini aku jg punya pikiran yg sama, kapan ya ada penulis lokal bisa bikin cerita gothic/horor sebagus kostova....ntar aku mampir ke blogmu...

@windy :
Kontak penerjemah, gak punya tuh, tapi di MATABACA ed Febr ada ttg proses terjemahan historian tuh...

natnat said...

Mas Tan, saya mau ngomentarin dikit ttg "gadis berusia 16 tahun yang sejak awal tdk diketahui namanya" itu. Sepertinya Elizabeth Kostova sengaja mengarahkan pembacanya agar menyangka "The Historian" adalah kisah yang dialaminya sendiri. Buku "The Turk and My Mother" karya Mary Helen Stefaniak juga seperti itu. Sori kalau saya salah. Tapi dari bagian “Catatan Untuk Pembaca” saja, saya sudah bisa menyimpulkan seperti itu. hehe. Saya memang sering menarik kesimpulan di awal-awal, sebelum membaca habis bukunya. btw, review-nya keren.

sharefasy said...

mas tanzil ne novelnya nonfiksi ato uda dibumbui gitu??
ane ksusahhan bwt karya tulis yg jdulnya ini...
klo bsa mas bsa bntuin gk?
klo px YM ne pnya q: syuhada_boyz