Saturday, June 16, 2007

Blindness

Judul : Blindness
Penulis : Jose Saramago
Penerjemah : Arif Bagus Prasetyo
Penyunting : Yos Rizal
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan : I, Maret 2007
Tebal : 447 hlm

Di sebuah kota tanpa nama terjadi kemacetan lalu lintas yang parah. Penyebabnya, di sebuah lampu setopan seorang pengemudi tak sanggup lagi meneruskan perjalanannya. Secepat kilat, apa yang ada dalam pandangan matanya tiba-tiba saja berubah menjadi putih. Ia bagaikan tercebur dalam lautan susu. Lelaki pengemudi itu buta ! Namun bukankah buta itu hitam ? Tak ada bedanya, apakah buta itu hitam atau putih, yang pasti lelaki itu kini tak bisa melihat apapun selain warna putih yang ada di hadapannya.

Seseorang menolongnya, mengantarnya ke rumahnya, sialnya penolongnya ternyata mencuri mobilnya. Namun ketika si pencuri berhasil membawa mobil lelaki buta, ke sebuah tempat di luar kota tiba-tiba saja ia mengalami nasib seperti si lelaki yang mobilnya dicuri. Si pencuri tak bisa melihat apapun kecuali warna putih yang menyelimuti matanya.

Sorenya lelaki buta pertama berkunjung ke dokter mata, dokter menemukan keanehan karena baik semua saraf dan organ matanya sehat, tak ada yang rusak. Malamnya dokter mata mencoba mencari literatur mengenai buta putih yang diderita pasiennya. Namun ketika ia mengumpulkan buku-buku untuk dikembalikan ke rak buku, tiba-tiba saja ia tak bisa melihat buku-bukunya karena semua yang dilihatnya menjadi putih. Dan dokter itu menyadari bahwa iapun mengalami kebutaan. Buta putih!

Secara cepat buta putih menyebar, menular bagaikan wabah influenza. Tak jelas apa media penularannya yang pasti semua yang berdekatan dengan orang yang buta dipastikan akan tertular. Dalam waktu singkat wabah ini menulari puluhan, hingga ratusan orang dalam kota tersebut. Pemerintah mengantisipasi penularan dengan mengisolasi orang-orang yang telah menjadi buta. Salah satunya ditempatkan dalam sebuah bangunan bekas rumah sakit jiwa dan dijaga secara ketat oleh sepasukan tentara.

Para orang buta yang dikarantina harus mengurus diri mereka sendiri, tak ada petugas medis atau sukarelawan yang menolong mereka. Hanya ada tentara yang bertugas menaruh jatah makanan di gerbang rumah sakit dan menjaga agar para orang buta tak melewati gerbang rumah sakit. Siapapun yang melewati batas yang ditentukan tentara tak segan akan menembaknya.

Dokter mata yang telah menjadi butapun tak luput dari pengkarantinaan. Ia ditemani istrinya yang pura-pura menjadi buta. Dokter mata, istrinya, dan beberapa orang buta lainnya merupakan rombongan pertama yang masuk dalam pengkarantinaan, dan kelak ketujuh orang yang masuk dalam rombongan pertama ini akan menjadi tokoh utama dalam novel ini.

Orang buta yang dikarantina terus berdatangan, jumlahnya mencapai ratusan sehingga melebihi kapasitas tempatnya. Bisa dibayangkan bagaimana mereka harus memenuhi kebutuhan dasarnya, tanpa fasilitas pengobatan, air, kakus, dan makanan yang tidak mencukupi. Ketika ada yang mati orang buta harus mengubur sendiri rekan mereka yang mati. Istri dokter menjadi satu-satunya orang yang dapat melihat dan hal ini dirahasiakannya hingga saat-saat terakhir mereka dikarantina.

Kehidupan di karantina semakin sulit ketika sekelompok orang buta bersenjata menguasai jatah makanan dan mengharuskan orang buta lain membelinya dengan barang berharga yang mereka miliki. Tidak hanya itu, merekapun meminta setiap bangsal mengirim wanita untuk memuaskan birahi mereka. Wanita ditukar dengan sejumlah paket makanan ! Tekanan ini membuat beberapa orang buta menjadi marah dan akhirnya melakukan pemberontakan hingga situasi di rumah sakit menjadi chaos sehingga menyebabkan terbakarnya seluruh bangunan rumah sakit.

Ketika kebakaran terjadi, mereka baru menyadari bahwa kini sudah tak ada tentara yang menjaga mereka karena tentarapun sudah menjadi buta! Orang-orang buta akhirnya bebas, namun situasi di luar tak ubahnya seperti di dalam, mereka harus tetap bertahan hidup karena seluruh warga kota menjadi buta. Tak ada pasokan listrik dan air karena semua pengelolanya menjadi buta. Orang-orang buta menjarah toko-toko makanan. Mereka yang tiba-tiba buta ketika berada di tengah jalan tak bisa menemukan dimana rumahnya hingga mereka memasuki rumah siapa saja yang ditemuinya. Tak adanya air membuat para orang buta membuang hajat dimana-mana. Jalanan penuh dengan tahi-tahi yang telah menjadi lumpur. Mayat berserakan di jalanan tanpa ada yang bisa menguburnya, beberapa dimakan anjing-anjing yang kelaparan, pembusukan terjadi dimana-mana. Kota dipenuhi ancaman wabah penyakit akibat udara yang tidak higenis.

Kisah diatas adalah novel kelam karya peraih nobel sastra 1998 asal Portugis - Jose Saramago. Dalam Blindness Jose Saramago terlihat jelas memperlihatkan kualitas kesastrawannya. Namun bukan berarti novel ini karya yang sulit dicerna seperti layaknya novel karya sastrawan dunia lainnya. Tak perlu kening yang berkerut untuk memahami novel ini. Kalaupun ada kerutan di kening itu akibat kepiawainya Saramago membuat kisahnya begitu menghujam sisi kemanusiaan pembacanya.

Blindness tak memberi ruang bagi pembacanya untuk terhibur. Novel ini memang novel yang muram, penuh persoalan kemanusiaan. Dalam kebutaannya yang mendadak, orang-orang buta kehilangan jati dirinya, nilai-nilai kemanusiaan mereka luntur karena masing-masing mempertahankan diri sendiri untuk hidup. Kalaupun ada humor, itupun humor yang pahit dan kelam. Sejak dari halaman pertama pembaca disuguhkan sebuah teror mental yang menakutkan karena kebutaan bisa terjadi secara tak terduga. Bahkan Saramago tak memberi kesempatan bagi pembacanya untuk memperoleh penjelasan medis bagaimana mungkin wabah kebutaan masal bisa terjadi. Semua terjadi begitu saja, dan peristiwa demi peristiwa yang mengalir mencekam membuat pembaca tak ingin diberi penjelasan medis bagaimana kebutaan masal bisa terhadi.

Di novel ini pembaca juga tak akan dipusingkan dengan sejumlah nama tokoh-tokohnya yang kadang membuat kita bingung. Tak ada sebuah namapun dalam novel ini. Setting cerita kotanya, nama jalan, nama bangunan, bahkan nama tokoh-tokohnya pun tanpa nama, melainkan hanya disebut dengan ; ‘orang buta pertama’, ‘dokter mata’, ‘gadis berkacamata hitam’, ‘pria bertampal mata hitam’, dll.

Dengan tidak adanya satu namapun dalam novel ini dan tak adanya penjelasan medis untuk wabah kebutaan masal ini tampaknya Saramago hanya mengizinkan pembacanya untuk mengarahkan seluruh perhatiannya pada berbagai persoalan kemanusiaan yang timbul. Hal ini membuat pembacanya akan larut dalam sebuah dunia orang buta yang tersaruk-saruk dalam mempertahankan kebutuhan dasarnya. Selain itu peristiwa demi peristiwa yang terjadi dan dialog-dialog antar tokohnya tak sekedar mengumbar kesuraman saja melainkan memaparkan makna perjuangan hidup, menohok sisi kemanusiaan kita, hingga menukik ke dalam esensi kehidupan dan kematian

Tak berlebihan rasanya jika dikatakan bahwa novel ini merupakan novel adikarya yang tidak boleh terlewatkan untuk dibaca. Novel ini telah menjadi best seller internasional dan dijual di 42 negara. Bersyukur edisi terjemahannya kini bisa kita nikmati. Terjemahannya sangat baik dan enak dibaca . Padahal jika menilik buku aslinya, novel ini mengunakan kalimat-kalimat yang panjang dan nyaris tanpa tanda baca kecuali titik dan koma. Rupanya edisi bahasa Indonesianya telah disesuaikan dengan ‘selera’ pembaca pada umumnya sehingga kalimat-kalimatnya lebih ringkas dan menyertakan tanda kutip bagi dialog-dialognya. Namun bagi mereka yang mempertahankan orisinalitas mungkin gaya pengalihbahasaan blindness membuat novel ini bisa dikatakan ‘cacat’.

Satu-satunya kirik untuk edisi terjemahannya adalah ilustrasi covernya yang berpotensi menimbulkan salah tafsir bagi calon pembacanya. Ilustrasi yang menonjolkan wajah wanita tanpa mata bukan tak mungkin membuat orang berpikir bahwa novel ini adalah novel horor sehingga bagi mereka yang tidak menyukai cerita horor akan mengabaikan novel ini. Cover bergaya minimalis dengan dominasi warna putih atau bahkan putih bersih saya rasa lebih mewakili isi daripada novel ini dibanding ilustrasi kepala wanita tanpa kepala.





Cover Blindness edisi Harvest Book








Novel Blindness (Portugis: Ensaio sobre a cegueira) pertama kali diterbitkan dalam bahas Portugis pada tahun 1995 dan edisi bahasa Inggrisnya terbit pada tahun 1998. Novel ini merupakan karya terbaiknya selain The Gospel According to Jesus Christ and Baltasar and Blimunda. Pada tahun 1998 Jose Samarago memenangkan nobel sastra, melihat kedekatan antara waktu terbit dan diraihnya nobel sastra bukan tak mungkin novel itu ikut andil dalam mengukuhkan Jose Saramago sebagai sastrawan kelas dunia. Sekuel novel ini, “Seeing” telah terbit pada tahun 2004, semoga kitapun bisa segera menikmati edisi terjemahannya.

Kabarnya Blindness juga akan diadaptasi kedalam sebuah film dengan judul yang sama yang akan diproduksi oleh Focus Features International. Film ini akan diarahkan oleh sutradara Fernando Meirelles dan naskahnya ditulis oleh Don McKellar. Sedangkan untuk tokoh utamanya rencananya akan diperankan oleh aktor Inggris Daniel Craig yang membintangi seri James Bond - Casino Royalle. Rencananya Daniel Craig dalam film ini akan berpasangan dengan Juliana Moore.

@h_tanzil

4 comments:

zenrs88@gmail.com said...

Ini karya Jose Saramago pertama yang diterbitkan di Indonesia. Kalau saya gak salah gitu.

Tapi karena yang nerjemahin Arif Bagus, kayanya saya berencana beli deh. Arif pernah menerjemahkan esai Saramago dengan begitu bagus. Mudah2an terjemahan ini juga bagus.

hengky said...

seru seru.. sekarang lagi baca..
salam kenal

beta said...

wow seru banget kayaknya. baru baca resensinya bang tanzil aja, rasanya udah ikut2an "buta", karena bener2 kita dibenamkan ke dunia orang buta. gue harus beli nih! ngacir ke toko buku... hehehe.

Feelcholic said...

Salam kenal
Bisa saya dapat dimana novel versi inggrisnya? Saya butuh untuk penelitian saya.