Monday, August 13, 2007

Ekspedisi Kapal Borobudur - Jalur Kayu Manis

Judul : Ekspedisi Kapal Borobudur - Jalur Kayu Manis
Text & arahan visual : Yusi Avianto Pareanom
Gambar : M. Dwi Bondan Winarno & Dhian Prasetya
Penerbit : Banana
Cetakan : 2007
Tebal : 50 hlm ; 29 x 20.5 cm
Hard Cover


Catatan-catatan Sejarah dan bukti-bukti arkeologis secara jelas telah mengungkapkan pada kita bahwa berabad-abad yang lampau nenek moyang bangsa Indonesia telah mengarungi lautan untuk berdagang rempah-rempah dengan perahu tradisionalnya. Pada abad ke-1 Masehi sejarahwan Romawi Pliny menulis tentang pelaut yang datang ke Afrika dari lautan Timur, "Mereka datang menggunakan rakit atau perahu sederhana dua cadik dengan muatan kayu manis dan bumbu-bumbu lain" (hal 1)

Salah satu bukti sejarah lain adalah relief yang yang terdapat di dinding Candi Borobudur, tepatnya pada panil nomor 6 bidang C, lorong I, sisi utara Borobudur. Hal ini membuktikan bahwa di abad ke 8 pada saat dinasti Syalendra berkuasa, jauh sebelum pelaut-pelaut Eropa sampai ke kawasan Asia tenggara, nenek moyang kita telah berlayar hingga pesisir barat Afrika untuk melakukan misi perdagangan. rempah-rempah.

Salah satu rempat-rempah yang diperdagangkan adalah kayu manis yang merupakan rempah yang paling bergengsi karena aromanya yang harum dan elegan. Jalur yang digunakan pelaut-pelaut nusantara untuk berdagang kayu manis dikenal dengan Rute Kayu Manis (The Cinnamon Route). Rute itu membentang dari samudera Hindia- Kepulauan Maladewa-Madagaskar-Cape Town-Tanjung Harapan, hingga di Ghana, di pesisir barat Afrika.

Benarkah pelaut-pelaut nusantara pernah melakukan pelayaran hingga Afrika barat ? Tak puas hanya dengan membaca catatan-catatan sejarah, sekelompok pelaut dari dalam dan luar negeri tergerak untuk menjajal rute yang pernah dilalui oleh pelaut-pelaut nusantara dengan kapal tradisionalnya. Tak tanggung-tanggung mereka mencoba menyusuri rute itu dengan perahu tradisional yang mereka dapatkan gambarnya dari sebongkah relief di candi Borobudur. Karenanya ekpedisi ini diberi nama Ekspedisi Kapal Borobudur

Pencetus ide ekspedisi ini lahir dari seorang berkebangsaan Inggris, Philip Beale, mantan Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang di tahun 1982 mengunjungi candi Borobudur guna mempelajari kapal tradisional Indonesia. Dua puluh tahun kemudian, setelah melakukan riset yg mendalam barulah ide Philip Beale terwujud.

Kapal Borobudur dibuat oleh seorang ahli pembuat kapal tradisional As’ad Abdullah al Madani (70). Kapal yang menyerupai kapal penangkap ikan ini berukuran panjang 18,29 meter, lebar 4,25 meter, dan tinggi 2,25 meter, serta memiliki berat 30 gross ton tersebut terbuat dari 125 meter kubik kayu dan dikerjakan hanya dalam waktu empat bulan enam hari oleh 26 orang, termasuk As’ad dan 13 tukang perahu di sebuah desa di Pulau Kangean, Madura. Kapal ini dikerjakan dengan teknik tradisional dan menggunakan bahan lokal yang mendekati bahan asli kapal masa silam, tidak ada satu pun paku dan besi digunakan dalam pembuatan kapal ini. Sebagai gantinya digunakan tali temali tradisional dari tumbuhan, yaitu serabut kelapa, serat nanas, serat henet dan ijuk. Sekitar Rp 250 juta dihabiskan untuk menyiapkan kapal ini.

Setelah melakukan perjalanan uji coba dan berbagai persiapan, akhirnya pada tanggal 15 Agustus 2003 Ekpedisi Borobudur resmi dilepas oleh Presiden Megawati Soekarnoputri di FIS Water Sport Club Marina, Ancol Jakarta Utara. Kapal layer bercadik yang dinahkodai oleh Kapten Laut (P) I Gusti Putu Ngurah Sedana ini akan menapak tilas rute kayu manis (Cinnamon Route) dari Jakarta menuju Afrika, dengan melewati Seychelles, Madagaskar, Cape Town, dan berakhir di Accra, Ghana. Kapal yang tidak menggunakan mesin dan hanya digerakkan oleh layar ini tak menggunakan peralatan modern kecuali sejumlah peralatan navigasi seperti global positioning satelite (GPS), saluran telekomunikasi Inmarsat, Navtex, dan Ecosonar. Tak ada radar sama sekali sehingga ketajaman mata dan intuisi para pelaut terutama di malam hari amatlah berperan penting.

Ekspedisi ini dipimpin sendiri oleh Philip Deale dan melibatkan 10 anak buah kapal (ABK) dari warga negara Indonesia dan beberapa awak berkewarganegaraan asing. ABK asal Indonesia adalah, Mucoko, Niken Maharani, Sheirlyana Juanita, Bayu Siantoro, Oskar Susanto, Irvan Risnandar, Muhammad Habibie, Abdul Aziz, Anthony Hugiono, dan I Gusti Ngurah Agung.

Ekpedisi ini menempuh jarak 11 ribu mil dalam waktu 6 bulan sebelum akhirnya pada tanggal 23 Februari 2004, Kapal Borobudur berlabuh di pelabuhan Temaa di Accra, Ghana. Dengan demikian berakhirlah seluruh ekpedisi Borobudur yang juga membawa misi mempromosikan budaya Indonesia dan menggali budaya Indonesia yang mungkin ditinggalkan nenek moyang kita di tempat persinggahannya

Kisah Petualangan Ekspedisi Borobudur inilah yang dijadikan komik oleh Yusi Avianto Paraenom, M. Dwi Bondan Winarno, dan Dhian Prasetya. Yusi menggarap teks dan ceritanya, sedangkan gambarnya dikerjakan oleh Bondan W dan Dhian Prsetya.

Komik non fiksi ini bisa dikategorikan sebagai komik dokumenter, komik berdasarkan catatan perjalanan orang lain. Jika dilihat dari gambar-gambarnya, komik ini sangat mememesona. Gambar-gambarnya mengingatkan kita pada komik Herge (Tintin) atau Peter Van Dongen (Rampokan Jawa, Pustaka Primatama 2005). Gambar-gambarnya bersih dan sapuan warna-warnanya cerah dan indah. Untuk menyiapkan komik dengan gambar kelas satu dan tingkat presisi tinggi, kabarnya Yusi dan teman-temannya memotret tempat, benda-benda, dan tokoh yang terlibat dalam ekspedisi itu.

Ceritanya sendiri merupakan dokumentasi dari kisah-kisah perjalanan kapal Borobudur. Apa yang selama ini kita baca di media-media beberapa tahun yang lampau mengenai kisah-kisah suka duka yang diungkapkan oleh para peserta ekspedisi ini kini tersaji dalam teks dan gambar-gambar yang menawan. Tampaknya komik ini memang komik yang sengaja dibuat untuk mendokumentasikan salah satu peristiwa bersejarah dalam dunia pelayaran kita. Penulis tampaknya sangat setia pada fakta-fakta yang terjadi selama pelayaran. Karenannya tak banyak yang bisa diceritakan dalam komik ini, sehingga untuk menggambarkan keseluruhan kisah mulai dari munculnya ide, persiapan, suka duka selama perjalanan, hingga kedatangan kembali ekpedisi ini, komik ini hanya menyajikan 217 panel gambar dengan tebal 50 halaman saja.

Rieza Fitramuliawan, penggemar dan pemerhati komik yang aktif berdiskusi dalam milis-milis komik, ketika dimintai pendapatnya akan komik ini mengungkapkan bahwa komik ini dikemas dengan sangat bagus, hard cover, kualitas kertas yang baik, dan memiliki gambar-gambar dan warna yang bagus, mestinya harus menjadi standar baru bagi komik Indonesia, sedangkan ceritanya sendiri sangat datar, dan sarat akan pesan-pesan sponsor [ Hal yang bisa dimaklumi mengingat bahwa komik ini merupakan hasil kerjasama antara Penerbit Banana dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata] . Dialog dalam balon teks sangat kering dan formal, percakapan yang dimaksudkan untuk melucu - sama sekali tidak tersampaikan.
Menurut pendapat pribadinya, buku ini lebih cocok diklasifikasikan sebagai picture book yang bagus dibandingkan komik atau novel grafis. Baginya gambar-gambar dalam buku ini walau indah tapi tidak ‘hidup’. Ekspresi kurang tergarap. Menurutnya yang membuat buku ini menjadi komik adalah balon teksnya saja. Demikian ungkap Rieza.

Memang buku ini memiliki tampilan yang sangat bagus terlebih dalam komposisi warna-warninya yang indah. Sayang tampilan yang menawan ini diciderai oleh beberapa kesalahan pengetikan tanda baca, walau tak terlalu mengganggu namun mengurangi kenikmatan dalam membacanya. Selain itu Ada yang kurang dalam komik ini. Kalau memang dimaksudkan untuk mendokumentasikan sebuah peristiwa bersejarah, kenapa tak ada panel gambar atau teks yang mengungkap bahwa kebrangkatan ekspedisi ini ini dilepas oleh Presiden Megawati ? Padahal hal ini tentu saja merupakan salah satu bagian yang penting guna mengungkap bagaimana pemerintah begitu concern terhadap ekspedisi ini.

Kabarnya setelah menerbitkan buku ini, penerbit banana juga akan menerbitkan komik lain yang berjudul Pencurian Permata di Eendagsche Exprestreinnen. Komik berlatar sejarah yang memotret masa awal masuknya jalur kereta di Jawa. Di luar itu, ada dua lagi yang sudah menunggu. Komik tentang Jalan Raya Anyer-Panarukan dan kisah pembantaian orang-orang Tionghoa di masa pendudukan Belanda di Batavia. Semoga apa yang menjadi kekurangan-kekurangan seperti yang diungkap oleh Rieza diatas bisa diperbaiki di komik-komik berikutnya

Namun terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, ide untuk mengkomikkan ekspedisi bersejarah ini patut diacungi jempol. Tentunya tak semua orang mengetahui bahwa 4 tahun yang lampau sebuah ekspedisi ‘nekad’ berhasil melakukan napak tilas perjalanan yang pernah dilakukan oleh nenek moyang kita ratusan tahun yang lampau. Semoga dengan terbitnya komik ini semakin banyak masyarakat Indonesia yang sadar bahwa bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut yang tangguh. Mereka mengarungi ribuan mil hingga ke Afrika untuk berdagang dengan kapal layar bercadik yang sederhana. Semoga hal ini bisa mengilhami kita semua untuk bersama-sama mengembalikan kejayaan bahari Indonesia

Jalesveva Jayamahe!. Di lautan justru kita jaya !

@h_tanzil

6 comments:

Jody said...

Rahib, ulasannya OK banget.

Pas waktu ke Borobudur, aku dan Yuli sempat singgah di Museum Kapal. Di sana kapal Borobudur dipamerkan. Siapa yang mau naik, harus bayar 100 ribu (hahaha). Apa saja yang digunakan dalam ekspedisi ini, dipajang di sana. Dari buku2 yang mereka baca sampai alat masak yang mereka gunakan.

Foto2 orang yang ikut ekspedisi bisa juga dilihat di sana.

Demikian sekilas info.

h_tanzil said...

Thx Om Jody,
Wah mahal amat 100 ribu !!!!!! mending buat beli buku ah...:)

Katanya mereka baca buku Harpot ya...?

perca said...

jody, kamu ikut naik ke kapal itu? byk ga yg naik? asyik juga sptnya, tp mahal bgt ya 100 rb.

ipank said...

weleh mas...saya aja yang ikutan layarnya aja gak punya bukunya...ke musemnya juga baru skali pas liburan pulang ke indo...kirain bakal ada photonya atau gimana...ternyata segede upli...hehehehehe...malah gak tau kalo ada bukunya...nah kalo yang baca harpot di kapal itu bener...kata yang jaga museum di charge-nya seratus rebu itu biar gak banyak orang yang naek kapal...maklum kapal kayu, kalo mau tahan ampe bertahun2 musti dirawat...nah kalo kbanyakan yang naek katanya takut cepet rusak kapalnya...itu juga bagusan, pas kita nyampe ghana kapalnya udah kaya kapal bajak laut,,,item dan berlumut...hehehehehhehe...

zakky said...

innalilahiwainnailaihirojiun.telah meninggal dunia arsitek kapal barabudur bpk as'ad abdullah.semoga di terima disisinya.selamat jalan kakekku.

Tim Ekspedisi Candi Indonesia said...

Salam hangat dari Tim Ekspedisi Candi Indonesia, http://ekspedisicandi.com