Saturday, August 04, 2007

The Boy in the Striped Pyjamas

Judul Asli : The Boy in the Striped Pyjamas
Judul Terjemahan : Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis
Penulis : John Boyne
Penerjemah : Rosemary Kesauli
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Juli, 2007
Tebal : 240 hlm ; 20 cm

Pembantaian orang-orang Yahudi oleh hitler dalam kurun waktu 1942-1945 adalah persitiwa genosida terbesar dalam sejarah umat manusia. Peristiwa ini menjadi lembaran hitam, bukan saja bagi warga Yahudi di Eropa melainkan bagi seluruh umat manusia di bumi ini. Kamp Auschwitz yang terletak di bagian selatan Polandia adalah tempat dimana jutaan orang yahudi pernah diisolir, dijadikan esperimen biologis untuk kepentingan perang dan mati dalam kamar gas, kini masih tetap berdiri dan dijadikan museum sebagai saksi bisu atas peristiwa yang paling memilukan itu. Rudolf Hanz, komandan Kamp pernah bersaksi bahwa lebih dari 2,5 juta orang yahudi mati di Auschwitz.

Walau pahit untuk dikenang, namun peristiwa hitam itu terus menjadi inspirasi bagi para penulis untuk menuturkan kisah-kisah yang menggugah sisi kemanusiaan kita. Kisah yang paling terkenal ditulis oleh Anne Frank, gadis yahudi yang menuliskan peristiwa-peristiwa yang dialaminya sebelum diangkut kedalam kamp tahanan. Selain itu masih banyak kisah-kisah lain yang tertuang dalam berbagai kisah fiksi, memoar, dll dengan tema yang sama.

The Boy in the Stripped Pyjamas adalah salah satu novel yang mengambil setting waktu dimana orang-orang yahudi ditangkapi dan diisolir dalam kamp khusus di Austwitz. Kisahnya tentang seorang anak berusia sembilan tahun yang bernama Bruno. Bruno tinggal di Berlin bersama keluarganya, Gretel adalah kakak wanitanya yang berusia 14 tahun. Ibunya seorang wanta rumah tangga biasa, sedangkan ayahnya seorang komandan Nazi yang dekat dengan Hitler.

Suatu ketika keluarga Bruno mendapat kabar bahwa sang Furry (pelesetan dari Fuhrer/Hitler) dan istrinya, Eva Braunn akan berkunjung ke rumahnya untuk makan malam bersama. Rupanya kedatangan sang Furry selain untuk berkenalan dengan keluarga Bruno juga untuk menugaskan ayah Bruno untuk menjadi komandan di kamp Austwitz. Perintah Furry tentu saja tak bisa ditolak, dan merekapun segera bebenah untuk pindah ke tempat mengerikan itu.

Sesampai di Auschwitz (Bruno menyebutnya Out-With), Bruno merasakan suasana yang kontras dengan tempat tinggalnya di Berlin. Rumahnya sekarang memang memiliki pekarangan yang luas namun ia merasa kesepian dan karena tak memiliki teman yang bisa diajaknya bermain. Ketika baru saja tiba di Out-With, lewat jendela kamarnya dalam jarak sekitar 6 meter dari pekarangannya ia melihat sesuatu yang berbeda yang membuatnya merinding dan merasa tidak nyaman.

Bruno melihat sebuah pagar kawat besar selebar rumahnya, pagar itu memanjang di kedua sisinya hingga tak terlihat. Pagar yang disangga oleh tiang-tiang kayu besar itu lebih tinggi dari rumahnya. Di bagian atas pagar terdapat gulungan besar kawat berduri. Halaman dibalik pagar itu tak berumput, bahkan sama sekali tak ada tumbuhan. Tanahnya berpasir, ada pondok-pondok rendah serta bangunan berbentuk kotak yang saling berjejer.








Bruno juga melihat ada ratusan orang disana, tua muda, anak-anak, dan mereka memakai pakaian yang sama: sepasang piama kelabu bergaris-garis, dengan topi garis-garis di kepala mereka.

Satu-satunya cara untuk mencari tahu siapa orang-orang berpiama itu yaitu dengan menanyakan pada ayahnya. Namun jawaban yang diberikan ayahnya mengejutkannya

“Mereka sama sekali bukan orang, Bruno”…..”Tapi kau tidak perlu memikirkan soal mereka. Mereka tidak punya hubungan denganmu. Kau sama sekali tidak punya persamaan apapun dengan mereka…” (hal 64)

Bruno tak mendapat penjelasan lebih lanjut.. Alih-alih mendapat jawaban yang memuaskan hatinya ia malah disuruh membiasakan diri untuk tinggal di rumahnya yang baru. Bruno akhirnya harus membuat betah dirinya untuk tinggal di Out-With. Karena kesepian akhirnya Bruno melakukan petualangan dengan menyusuri pagar diseberang rumahnya. Ternyata pagar itu membentang hingga berkilo-kilo jauhnya. Tak seorangpun yang ia temui dibalik pagar hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang anak lelaki yang sepantaran dengannya dan mengenakan piyama kelabu bergaris-garis.

Anak lelaki itu bernama Shmuel, usianya 9 tahun, sama dengan Bruno, bahkan tanggal lahirnyapun sama. Bruno dan Shmuel akhirnya bersahabat. Setiap hari tanpa diketahui kedua orang tuanya Bruno bertemu dengan Smhuel dibalik pagar. Tak lupa Bruno membawakan sedikit makanan untuknya dan mengobrol banyak hal dengannya. Satu tahun berlalu sejak pertemuan pertamanya dengan Bruno. Sayangnya ketika persahabatan semakin erat, Bruno harus kembali ke Berlin. Namun sebelum ia meniggalkan Out-With, dalam benaknya telah tersmpan rencana besar untuk melakukan petualangan terakhir bersama Shmuel di balik pagar rumahnya.

Persahabatan antara Bruno dan Shmuel inilah yang menjadi inti dari novel karya penulis Irlandia, John Boyne (36 thn) . Dalam novel keempatnya yang diperuntukkan bagi anak-anak ini John menyuguhkan kisahnya dari sudut pandang Bruno yang berusia sembilan tahun. Persahabatan antara Bruno dan Shmuel mengajak pembacanya melihat paradoks kehidupan antara keduanya. Kehidupan normal keluarga Bruno diperhadapkan dengan kehidupan Shmuel yang pahit di sisi lainnya.

Bruno yang hidup secara normal tak dapat memahami apa yang sebenarnya dialami oleh Shmuel dan orang-orang dibalik pagar rumahnya. Mereka saling bercerita, membuka diri. Penderitaan yang dialami Shmuel membuat ia lebih dewasa dibanding Bruno. Sementara Bruno soorang anak yang polos dan kerap tidak mengerti ketika Shmuel menceritakan pahitnya perjalanan hidupnya mulai dari penangkapannya hingga sampai di Out-With. Bruno tak juga sadar bahwa pagar tinggi itu tak hanya memisahkan rumah mereka, melainkan memisahkan status mereka dimana Shmuel dan orang-orang dibalik pagar bukanlah manusia bebas. Hal ini tidak dimengerti oleh Bruno yang dengan kepolosannya mengajak Shmuel makan malam dirumahnya.

Walau novel ini mengambil setting kamp maut Auschwitz, namun tak ada deskripsi yang berlebihan mengenai penderitaan yang dialami oleh orang-orang Yahudi yang ditawan disana. Semua dideskripsikan melalui sudut pandang anak-anak. Namun justru disinilah keistimewaan novel ini. Cukup melalui tuturan seorang anak berusia sembilan tahun yang mengungkapkannya dengan bahasa yang sederhana dan polos inilah justru kemanusiaan kita terasa digedor-gedor untuk bangkit dan melawan ketidakadilan.

Perlahan tapi pasti, John Boyne membangun keharuan hingga sampai pada ending yang tak terduga dan membuat pembaca tenggelam dalam rasa haru dan marah pada-orang dewasa yang membuat kisah Bruno dan Shmuel harus berhenti di lembar terakhir buku ini.

Jody Setiawan dalam resensi buku ini di blognya (http://jodypojoh.blogdrive.com) mengungkap bahwa “..dalam buku ini, tidak ada penjelasan yang memadai untuk latar belakang cerita. Kemungkinan, pembaca anak-anak akan bingung dengan latar belakang historis yang digunakan”

Memang betul! Novel ini tak memiliki penjelasan sejarah yang memadai, padahal John Boyne menulis novel ini untuk pembaca anak-anak. Mungkinkah anak-anak dapat memahami novel ini? Mungkin Boyne menulis novelnya ini dengan asumsi anak-anak di Eropa telah memiliki kesadaran sejarah yang tinggi sehingga ia merasa tak perlu memasukkan lagi penjelasan mengenai latar sejarah pembantaian orang-orang Yahudi.

Bagaiamana dengan anak-anak Indonesia yang belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai latar balakang sejarah dalam novel ini ? Bukan tak mungkin mereka akan sama bingungnya dengan Bruno ketika melihat pemandangan dibalik pagar dan mendengar kisah Shmuel tentang perjalanan hidupnya yang kelam. Mungkin ini salah satu alasan mengapa Gramedia memberi label novel ini sebagai ‘novel dewasa’ padahal John Boyne membuat novel ini untuk pembaca anak-anak.

Namun bukan berarti novel ini tak dapat dibaca oleh anak-anak/remaja di Indonesia. Biarkan anak-anak membaca novel ini dan mencoba memahaminya lewat kacamatanya seperti Bruno mencoba memahami cerita Shmuel. Jika mereka bingung maka tugas kitalah sebagai orang tua untuk menjelaskan dengan bahasa yang sederhana mengenai fakta sejarah yang melatarbelakangi novel ini. Novel ini bisa digunakan sebagai pembuka jalan bagi para orang tua untuk menjelaskan tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi di muka bumi ini. Sehigga sedari dini anak-anak/remaja disadarkan bahwa perang dan pengkotak-kotakkan manusia berdasarkan ras membawa dampak yang sangat buruk bagi ras yang dianggap paling hina.

Selain itu melalui novel ini anak-anak/remaja akan mendapat pelajaran bahwa sebenarnya ada ‘pagar’ yang seolah menghalangi persahabatan kita dengan orang lain. Mungkin itu pagar kekayaan, status sosial, jabatan, dll. Namun seperti Bruno dan Shmuel, mereka tak melihat pagar itu sebagai penghalang persahabatan mereka. Malahan Bruno berani menembus pagar itu untuk membantu kawannya. Sanggupkah kita melintasi ‘pagar’ dan mencoba memahami apa yang ada dibalik pagar itu walau dunia dibalik pagar itu sangat berbeda dengan kehidupan kita ?

Beberapa penghargaan

The Boys In The Stiped Pyjamas adalah karya John Boyne (36 thn) , penulis kelahiran Dublin, Irlandia. Novel ini merupakan karya keempatnya setelah The Thief of Time (2000), The Congress of Rough Riders (2001), dan Crippen (2004). Novel The Boys In The Stiped Pyjamas terbit pada tahun 2006. Novel ini masuk dalam New York Time Best Seller selama 57 minggu, dan menjadi no 1 di Irlandia, Australia, masuk dalam jajaran Top ten besseller di Inggris dan di negara-negara Eropa lainnya.

Sedangkan penghargaan yang pernah diraih oleh novel ini al :






CBI Awards untuk The Boys in the Stripped Pyjamas
yang diberikan pada tgl 14 Mei 2007 di No.6 Kildare Street, Dublin







AWARDS:
2007: Irish Book Award: People's Choice Award Book of the Year
2007: Irish Book Award: Children's Book of the Year
2007: CBI Bisto Children's Book of the Year
1995: Curtis Brown Prize

SHORTLISTED AWARDS:

2007: Holland: Flemish Young Readers Award
2007: Ireland: Irish Book Award: Novel of the Year
2007: Belgium: Prix Farmiente
2007: UK: British Book Award: Children's Book of the Year
2007: UK: Lancashire Book Award: Novel of the Year
2007: UK: Sheffield Book Award: Novel of the Year
2007: UK: Berkshire Book Award: Novel of the Year
2006: USA: Borders Original Voices Award
2006: Italy: Paolo Ungari Award
2006: UK: Ottakar's Children's Book Prize

LONGLISTED AWARDS:
2007: Carnegie Medal

Hingga kini novel The Boys In The Stiped Pyjamas telah diterjemahkan kedalam 32 bahasa antara lain Belanda, Perancis, Ibrani, China, Turki, Rusia, Korea, Indonesia, dll)


















(Ket foto : Edisi Catalan, Israel, Belanda)


Novel ini juga telah diadaptasi menjadi skenario film oleh Mark Herman. Tahap pengambilan gambar di Budapest telah dilaksanakan dari April hingga Juni 2007. Rencanaya Film yang diperankan oleh David Thewlis, Vera Farmiga, Asa Butterfield, dan Amber Beattie ini akan dirilis pada bulan Februari 2008.

@h_tanzil

No comments: