Saturday, July 28, 2007

Big Size

Judul : Big Size
(Sebuah Novel Tentang Keperkasaan Lelaki)
Penulis : Wibi A.R
Editor : Aries R. Prima
Penerbit : Akoer
Cetakan : I, Mei 2007
Tebal : 164 hal

“Kita harus merayakan kemenangan ini” ujar Dodi sambil membereskan pakaian ke dalam tasnya. Lasimin masih kesal tidak memerdulikan omongan Dodi. Ia memasukkan sepatu emasnya ke dalam tas. Ia segera membuka celananya. Secara enggak sengaja celana dalamnya ikut melorot. Dodi dan beberapa teman melihat pantat dan “burung”nya Lasimin. Tiba-tiba mereka tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa kalian tertawa?” Tanya Lasimin.
“Lucu aja, masa sih top skor burungnya emprit”, sahut Dodi.


Big Size adalah sebuah novel komedi karya Wibi A.R. Kisahnya menceritakan seorang tokoh yang bernama Lasimin. Ia adalah pemain bola andalan di kampusnya dan selalu menjadi top skor dalam setiap pertandingan yang diikuti oleh kesebelasan kampusnya. Lasimin memiliki dua orang sahabat, Saim dan Dodi yang memiliki gaya hidup sebagai anak gaul hedonis yang menerapkan perilaku sex bebas. Berbeda dengan dua sahabatnya Lasimin adalah pemuda yang lugu dan taat dalam menjalankan ibadah agama.

Suatu ketika, sesaat setelah bertanding bola, Lasimin berganti celana di ruang ganti pakaian, tanpa disengaja celana dalam Lasimin turut melorot sehingga menampakkan pantat dan alat vitalnya. Kejadian ini kebetulan dilihat oleh Saim dan Dodi yang langsung menertawakannya karena Lasimin memiliki ‘burung’ yang kecil. Bagi Saim dan Dodi alat vital seorang lelaki haruslah besar dan panjang seperti ‘burung garuda’.

“Umumnya cewek jaman sekarang senangnya jenis garuda atau elang. Selain besar, bikin puas dan pintar matok”, Dodi tersenyum pada Saim. Tangan kananya mematuk-matuk meledek. “Min, kalau nggak gede…cewek enggak bakalan puas” Ledek Saim. (hal 22).

Karena keluguannya, Lasimin mempercayai apa yang dikatakan kedua temannya itu. Apalagi ketika ia diajak pergi ke kelab malam, Lasimin bertemu dengan Yuyun pelayan kafe yang mencoba memperkosanya. Walau gagal memperkosa Lasimin, Yuyun sempat meremas alat vital Lasimin dan berkata.

“…,punyamu kecil. Di servis dong biar gede…” (hal 49)

Kejadian ini semakin membuat Lasimin resah karena ‘burung’nya yang emprit. Hingga suatu saat ia diajak oleh Saim dan Dodi ‘berobat’ ke Mbok gembrot di Purwakarta untuk memperbesar alat kelaminnya. Walau Lasimin dibujuk untuk diurut agar alat kelaminnya besar, ia tetap menolak. Alih-alih diurut oleh Mbok Gembrot, karena biaya pengurutan yang mahal, ia meminta resep dan cara mengurutnya saja. Sesampai dirumah barulah Lasimin mencoba mengurut sendiri alat kelaminnya.

Selain melakukan pengurutan, Lasimin juga diberi alat vakum oleh Saim. Lasimin yang lugu terpengaruh oleh anggapan bahwa kejantanan seorang pria diukur dari besar kecilnya alat kelaminnya. Berhasilkah Lasimin memperbesar alat kelaminnya…?


Novel ini memang penuh dengan kelucuan-kelucuan. Namun novel ini juga menyediakan tempat bagi sejumput kisah yang agak serius yaitu ketika Lasimin ‘dikerjain’ oleh kedua temannya dimana dia harus berpura-pura menjadi tukang urut bagi seorang anak yang menderita lumpuh.

Dibalik kisah lucu usaha Lasmini untuk memperbesar alat kelaminnya, usahanya untuk menyembuhkan seorang gadis yang lumpuh, dan serunya pertandingan sepakbola antar universitas. Kisah ini juga menyimpan pesan-pesan moral yang baik. Terlebih dalam hal memutarbalikkan anggapan umum bahwa keperkasaan seorang pria diukur dengan alat vitalnya. Lasimin memang memiliki ukuran alat vital yang kecil namun dalam kisah ini ia memiliki jiwa dan iman yang besar untuk menahan godaan agar tidak terseret masuk dalam pergaulan kedua sahabatnya yang hidup secara bebas

Novel ini memang novel yang menghibur, dikemas dengan gaya humor yang kental. Beberapa peristiwa ditulis dengan gaya hiperbolis seperti ketika Lasimin berhasil membuat gol, kawan-kawannya langsung menindihnya sehingga Lasimin terpendam dan

Lapangan itu jadi berlubang seperti bentuk Lasimin yang meringkuk (hal 5)

Atau ketika Lasimin diberi sepatu emas sebagai pencetak gol terbanyak, sepatu emasnya tinggal separuh karena teman-temannya mencuil emas di sepatu tersebut untuk dijual ke toko emas (hal 20).

Humor-humor dalam novel ini ringan-ringan saja, humor khas anak kampus yang ngocol dan terdapat beberapa ‘pelesetan’ yang membikin kita tersenyum. Bagi yang menyenangi humor ngocol, novel ini bisa menjadi pilihan untuk dibaca. Kisahnya diangkat dari keseharian sehingga mungkin saja apa yang dialami tokoh-tokohnya juga dialami oleh pembaca. Hanya saja celotehan-celotehan humor yang bertebaran dibuku ini tampak sangat ‘cowoq’ sekali. Di novel ini memang tak ada satupun deskripsikan mengenai hubungan intim, namun celotehan-celotehan tokoh-tokohnya khusunya yang menyinggung alat kelamin pria saya rasa cukup membuat pembaca wanita menjadi ‘risih’ membacanya.

Dari segi kemasan, novel ini tampak sangat provokatif, cover bergambar setangkai pisang dimana salah satunya mencuat dengan gagahnya. Mungkin bagi yang pertama kali melihatnya akan menganggap bahwa buku ini tentang budidaya pisang, namun ketika membaca sub judulnya “Sebuah novel tentang keperkasaan pria”, saya rasa pembaca akan segera mengetahui mengapa foto pisang digunakan sebagai cover buku ini.

Lay out novel ini juga tertata dengan baik, tidak seperti novel yang diterbitkan AKOER sebelumnya yang menggunakan font yang kecil (mis : Digitarium, Nagabonar jadi2), ukuran font dalam novel ini terbaca dengan enak. Hanya saja kemasan yang baik ini harus dibayar mahal oleh pembaca buku ini. Seperti yang tercetak dibelakang cover buku ini, penerbit mematok harga sebesar Rp. 49.500 untuk buku dengan ketebalan 164 hal saja. Saya rasa untuk sebuah buku dengan tebal kurang dari 200 hal, harga buku ini bisa dikatakan sangat mahal. Hal ini tentu saja bisa mengurungkan orang untuk membeli walau dia tertarik dengan tema novel ini.


Sekilas tentang penulis

Wibi Aswara Regawa alias Wibi AR, namanya dikenal sebagai penulis di berbagai media cetak dan kini serius di jalur penulisan skenario. Karya skenarionya antara lain : Gerhana, Taubat, Spontan, dll. Selain itu Wibi juga telah menyutradari berbagai iklan layanan masyarakat dan film pendek. Ia juga pernah menjadi redaktur pelaksana infotaiment di berbagai TV swasta.

Di bidang penulisan novel, karya-karyanya yang telah beredar antara lain, Guyon orang-orang makrifat, Humor Makrifat bercanda dengan Tuhan, Playboy sufi novel remaja makrifat, dll.

@h_tanzil

9 comments:

Kobo Chan said...

ooo, ini yang ditanya harganya kemaren yah?

putri_angga said...

Kenapa mesti pisang? hahahah
itu pisang kayak gitu beli dimana ya??
hahahah
pak tanzil, menurutku ide ceritanya gak fresh ya...
kalo mau dibandingkan, kalah lah dari testpack-nya ninit yunita.
harganya maharani, lagi.

unai said...

iya nih, agak risih juga...tapi tetep deh ulasannya kali Tanzil yang bikin mantabs...

h_tanzil said...

@kobo : Betul bo! buku ini yg kutanyakan kemarin...he..he..

@purti_angga :
pisang kayaq gitu belinya di akoer..he..he..wah, aku blm baca testpack tuh...

@unai :
makasih unai..aku jg suka bc ulasanmu...

mina said...

buset, covernya :D

Kardi said...

Terpedaya dengan tampilan cover dan tema yg mengundang rasa ingin tahu, akhirnya aku relakan kocekku berkurang Rp. 49,500 walaupun merasa buku ini terlalu mahal untuk ukuran buku yg hanya 164 halaman. Dipikir-pikir jarang toh ada buku yang mengulas tentang keperkasaan pria.

Bab demi bab kubaca dengan harapan akan menemukan sesuatu yg menarik, tapi makin lama kok makin mengecewakan. Tema yg diungkit rasanya hanya sebagai pemanis saja, dan tidak dibahas dengan dalam / tuntas.

Joke2nya terasa basi, dan sebagian ceritanya terasa terlalu dipaksakan seolah mengejek daya nalar kita sebagai pembaca.

Definitely not recommended, apalagi dengan harga yg begitu mahal untuk buku setipis ini.

Anonymous said...

gajebo....

ga jelas bo....

ga' bgt

pinokioze said...

gajebo....

ga jelas bo....

ga' bgt

jogja_boy said...

iya kemahalen bro
td ane liatbdi toko buku ditaruh di dpn yg biasanya utk buku diskon
ane liat harga segitu ane kira bakal dipotong diskon ternyata kagak