Saturday, March 01, 2008

Opik Sok Cool Nih !

Judul : Opik Sok Cool Nih!
Penulis : Jurie G Jarian
Penerbit : Mizania
Cetakan : I, Jan 2008
Tebal : 282 hlm


Sinopsis

Novel ini merupakan kisah cinta plus petualangan menangkap sekelompok teroris. Tokoh utamanya Opik, seorang mahasiswa di sebuah universitas di Bandung. Opik dideskripsikan sebagai sosok yang atletis, rileks, suka bercanda dan taat beribadah. Latar belakangnya yang berasal keluarga pesantren di sebuah desa sifat dan karakternya tumbuh sesuai dengan ajaran agamanya. Fisik dan kepribadiannya yang menarik inilah yang membuat dirinya banyak dilirik para gadis-gadis, namun Opik terkesan cuek dalam urusan pasangan hidup sehingga belum juga memiliki seorang pacar.

Bella, adik kelasnya beda jurusan, adalah salah satu mahasiswa yang tertarik dengan Opik. Berbeda dengan Opik, Bella dilahirkan dari keluarga diplomat yang modern. Lahir di London, besar di Paris dan akhirnya atas kesadarannya sendiri memilih kuliah di Bandung. Karena lama tinggal di Eropa otomatis perilaku dan gaya berpakaiannya pun sangat modis. Ia tak segan-segan menggoda Opik baik melalui sms maupun secara terang-terangan agar Opik mau menjadi pacarnya. Namun Opik tetap cool terhadap Bella. Baginya Bella bukanlah gadis tipenya, apalagi cara berpakaian Bella yang seksi membuat Opik tak bersimpati padanya.

Dimasa liburan panjang selepas UAS (Ujian Akhir Semester), Opik mudik ke kampung halamannya di kaki gunung Sawal Sementara itu Bella yang telah jenuh dengan kehidupan kota memilih mengisi liburannya dengan mengikuti PPK (Paket Pesantren Kilat) bersama temannya disebuah desa di wilayah Tasikmalaya. Kesempatan ini juga dipergunakan oleh Bella untuk belajar mengaji, dan mengubah cara berpakaiannya menjadi lebih santun. Tanda diduga oleh Bella, ternyata desa tempat PPK adalah desa dimana Opik dilahirkan.

Sementara Bella dan kawan-kawannya mengikuti PPK, Opik dan Aan, teman sekampungnya, mendapat tugas penting dari Abah Sirod selaku pimpinan pesantren di sebuah desa di selatan gunung Sawal yang juga adalah kakek dari Opik. Abah Sirod diam-diam mencurigai beberapa santri senior yang telah lama tak mengikuti pengajian malam di pesantrennya.

Kecurigaan abah Sirod ini dilandasi perkembangan di tanah air dimana sedang berkembang ajaran jihad yang dipahami dari sisi yang paling keras, yaitu jihad dalam bentuk berjuang langsung secara fisik/perang! Tugas Opik dan Aan adalah menyelidiki dan mencari tahu apa sesungguhnya kegiatan para santri senior yang telah lama tak terlibat dalam aktifitas pesantren pimpinan abah Sirod. Bukan misi yang mudah karena mereka harus menghadapi teman-teman masa kecil mereka sendiri yang kini memiliki keyakinan yang kokoh untuk berjuang menegakkan agama dengan jalan kekerasan.


Novel Dua Rasa

Jika novel ini diandaikan sebagai sebuah roti, maka saya berani mengatakan bahwa novel ini bagaikan roti sobek dua rasa. Ada dua rasa yang ditawarkan dalam satu kemasan. Begitupun dalam novel ini, satu ‘rasa’ cinta muda mudi yang disajikan dengan humor khas mahasiswa dan satu lagi ‘rasa’ petualangan Opik dkk menangkap para teroris. Yang mana yang lebih menarik? Tergantung selera pembaca tentunya.

Namun walau berbeda rasa, ada satu unsur yg terdapat dalam kedua rasa dalam novel ini, yaitu unsur humor. Sebelum novel ini terbit, penulisnya; Jurie G Jarian telah mengatakan pada saya bahwa novelnya kali ini adalah novel humor. Benar saja, walau ada beberapa bagian yang terkesan serius namun secara umum di novel ini Jurie G Jarian menyajikan kisahnya dengan riang gembira berupa dialog, celetukan dan humor ala mahasiswa.

Di lembar-lembar awal, saya dibuat terperangah ketika saya sudah siap membaca sebuah kisah humor, ternyata di lembar-lembar awal justru tegang dengan setting di hutan di kaki gunung Sawal. Lalu setelah melewati beberapa halaman tiba-tiba pula settingnya berubah menjadi setting kampus dan muncullah dialog-dialog yang penuh dengan guyonan. Perubahan yang mendadak ini mengigatkan saya seperti sedang naik roler coaster…:D

Dengan setting di sebuah kampus di Bandung, di bab-bab awal kita diajak melihat bagaimana Bella berusaha mengejar-ngejar Opik, pujaan hatinya. Awalnya saya merasa janggal dengan karakter Bella karena karena biasanya laki-lakilah yang mengejar wanita, bukan sebaliknya. Untungnya ada penjelasan rasional atas sikap Bella ini karena dalam salah satu dialognya Bella mengungkap prinspi hidupnya bahwa dirinyalah yang harus menentukan lelaki pilihannya, “Ketika perempuan diberi tugas melahirkan, aku p ikir perempuan juga punya hak untuk mencari dan memilih dengan siapa ia akan menikah dan punya anak” (hal 46).

Usaha Bella meluluhkan hati Opik ini memenuhi hingga pertengahan novel ini, sebelum akhirnya setting novel ini beralih ke sebuah desa di kaki gunung Sawal. Masih dengan taburan humor, pembaca akan diajak masuk dalam petualangan Opik dan kawan-kawan menangkap para santri yang telah terhasut untuk melakukan tindakan kekerasan dalam memaknai jihad.

Ternyata ditengah keriang gembiraannya membuat sebuah cerita humor, Jurie G Jarian juga memasukkan kedalam ceritanya sebuah peristiwa sejarah yang dikenal dengan pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) di Jawa Barat yang terjadi di awal-awal revolusi kemerdekaan

Di novel ini melalui tokoh Abah Sirod selaku pimpinan pesantren, Darul Islam dilihat dari sudut pandang masyarakat sekitar Gunung Sawal yang dulu merupakan basis perjuangan DI/TII. “Darul Islam dulu, meskipun cita-citanya mulia, karena terjepit, mereka melakukan hal-hal yang justru bertentangan dengan syariat Islam. Dalam keadaan seperti itu, bahkan agama yang bertujuan menciptakan masyarakat damai jadi alasan untuk membuat keonaran” (hal 150). Karenanya penduduk sekitar menyebut pihak DI sebagai gerombolan karena ketika makin terdesak oleh kekuatan TNI, tentara DI berubah menjadi semacam perampok yang meresahkan masyarkat.

Nah, bagi saya yang tidak terlalu menyukai membaca kisah cinta berbalut humor di bagian sebelumnya, bagian petualangan yang cukup seru dan menyinggung peristiwa sejarah inilah yang membuat saya tetap melahap novel dua rasa ini hingga habis tak bersisa. Walau di bagian ini tema yang diangkat cukup berat, namun Jurie G Jarian tetap menyelipkan humor sehingga tema yang berat ini menjadi terkesan ringan dan tak perlu berlama-lama mengerutkan kening karena seserius apapun sebuah peristiwa yang terjadi pastilah ada celetukan humor yang menyertainya.

Yang mengganggu

Ada sebuah kesalahan kecil yang tampaknya dilakukan oleh penulis dan luput pula dari pengamatan editor. Pada halaman 81 baris ke 2 terdapat kesalahan penulisan nama, nama tokoh Tatang ditulis menjadi Adun. Hal ini tentu saja membuat saya bingung kenapa tiba-tiba ada tokoh Adun muncul ketika Tatang berdialog dengan abah Abun.

Selain itu ada pula dua hal yang saya rasa agak berlebihan, yaitu ketika dikisahkan Bella sampai menyewa jasa detektif swasta untuk mencari tahu siapa saja orang dekat Opik. Lalu ketika pasukan yang dipimpin oleh Kumin sedang berbaku tembak dengan para teroris mereka masih sempat-sempatnya bercanda. Apakah mungkin sampai sebegitunya?
Ketika tempat persembunyian para teroris di gua bekas tambang timah peninggalan Belanda ditemukan oleh Opik, dkk, terlihat para teroris tak melakukan antisipasi sehingga tempat tersebut segera saja dapat diserbu oleh Kumin dkk.

Ah, mungkin saya terlalu serius membacanya karena bukankah novel ini bukan novel detektif, melainkan seperti yang dikatakan Jurie bahwa novel ini adalah novel humor?

Menyoal Cover & judul

Cover dengan foto dua orang muda-mudi berpakaian muslim dan judul “Opik Sook Cool nih! “ menurut saya tidak mencerminkan secara utuh dari kisah yang ada dalam novel ini. Cover dan judulnya hanya mengedepankan kisah cinta dalam novel ini. Jika saja saya melihat cover dan judulnya dan belum membacanya saya pasti akan menduga bahwa novel ini adalah novel teen-lit islami dengan kisah cinta muda-mudi. Padahal novel ini menyajikan lebih dari sekedar kisah cinta.

Begitupun dengan sinopsis di cover belakang buku ini.Sinopsisnya sama sekali tak menyinggung akan ada sisi lain dari sekedar kisah cinta Opik dan Bella. Jadi jangan heran jika hanya membaca sinopsis yang terdapat dalam novel ini pastilah orang hanya akan menyangka bahwa kisah dalam novel ini adalah sekedar kisah cinta muda mudi.

Siapa Jurie G Jarian ?

Nama penulis ini sungguh unik, dan dahsyat, coba saja jika kita baca nama penulisnya tanpa jeda maka bunyinya menjadi ‘Jurig Jarian’ yang dalam bahasa sunda jurig berarti setan, dan jarian berarti lubang pembuangan sampah. Jadi penulis buku ini adalah Setan Sampah…hehehehe

Ternyata pemilik nama Jurie G Jarian ini adalah Jamal atau yang biasa disapa Mang Jamal, penulis produktif yang telah menerbitkan 5 buah novel (Lousiana-Lousiana, Rakkasutaria, Fetussaga, Epigram, Dong Mu). Kalau kita mencermati novel ini, ciri khas Jamal memang akan sangat kentara, yaitu dari humor2nya, dialog2 filosofis berat yang dibuat menjadi ringan sehingga ada sesuatu yg bisa diambil & direnungkan , dan selipan soal desain/arsitektur, yang semua itu hampir bisa ditemui dalam semua novelnya. Hanya saja novelnya kali ini tampak lebih cair dan full humor, mungkin inilah novel yang paling mengekspresikan dirinya sebagai penulis riang gembira.

Pertanyaannya, kenapa Jamal yang telah memiliki nama dan penggemar dalam dunia novel memakai nama lain...??? apakah Mang Jamal ingin meniru Opik yang sok cool ? Jika demikian mungkin kita bisa berseloroh, “Mang Jamal, Sook Cool nih!"

@h_tanzil

1 comment:

fadhilatul muharram said...

hebat! resensinya betul-betul lengkap! belum pernah saya baca ulasan buku yg selengkap ini. jadi inget kata anis matta di bukunya 'menjadi manusia muslim abad XXi', katanya biasakan setelah baca buku, diendapkan selama 15 menit, lalu tuliskan. begitu juga kata hernowo dalam bukunya 'mengikat makna', ia juga berbicara hal yg sama, cuma bedanya ia menyarankan u/ mengendapkan info2 yg kita dapat dari buku selama 20-30 menit. gitu.