Monday, January 05, 2009

Christ The Lord - The Road To Cana

Judul : Christ The Lord - The Road To Cana (Jalan Menuju Kana)
Penulis : Anne Rice
Penerjemah : Lanny Murtihardjana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Des 2008
Tebal : 304 hlm, 20 cm

Tidak seorangpun mampu menuliskan biografi lengkap tentang Yesus. Kita tidak memiliki catatan sejarah tentang tiga puluh tahun pertama kehidupan-Nya. Banyak orang beranggapan bahwa keempat kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) memberikan biografi komplit tentang Yesus. Kenyataannya tidaklah demikian. Markus baru memulai kisah Yesus ketika Ia berumur tiga puluh tahun. Matius dan Lukas menambahkan kisah-kisah seputar kelahiran-Nya, dan berbagai pengajaran dari Yesus. Sama seperti kitab Markus, kedua kitab ini hampir setengahnya berisi perjalanan terakhir Yesus sebelum Ia disalibkan. Begitupun dengan Injil Yohanes yang dimulai ketika Yesus berumur tiga puluh tahun dan lebih memfokuskan setengah dari kitabnya pada hari-hari terakhir Yesus di Yerusalem.

Para sarjana dengan tepat menamai kurun waktu tiga puluh tahun pertama dari kehidupan Yesus sebagai “tahun-tahun yang hilang”. Dan inilah yang menimbulkan dorongan hasrat yang kuat untuk menguak tabir sejarah dan menyinkirkan kabut misteri yang menyelubunginya ini . Hal inilah yang juga menggelitik Anne Rice yang selama ini dikenal dengan penulis kisah-kisah vampir, antara lain “Interview with The Vampire (1975) yang telah difilmkan pada 1994 dan diperankan oleh Tom Cruise untuk membuat novel mengenai kehidupan Yesus yang termaktub dalam trilogi “Christ The Lord”.

Novel pertama seri Christ the Lord terbit pada tahun 2005 dengan judul “Out of Egypt” yang menceritakan masa kecil Yesus pada saat berusia 7 tahun ketika Yesus dan keluarganya pergi meninggalkan tempat pengungsiannya di Mesir menuju Nazareth, kota kelahirannya. Novel ini telah diterjemahkan dengan judul “Kristus Tuhan : Meninggalkan Mesir” (Gramedia, 2006)

Sedangkan novel keduanya yang berjudul Christ The Lord : The Road To Cana terbit pada Maret 2008 dan edisi terjemahannya juga telah beredar di toko-toko buku pada Desember 2008 yang lalu. Jika pada buku pertamanya Anne Rice mengisahkan kehidupan Yesus pada usia 7 tahun, maka di buku keduanya ini Yesus telah berusia tiga puluh tahun, beberapa saat sebelum ia menjalankan misinya.

Sama seperti di buku pertamanya, di novel keduanya ini Anne menampilkan sosok Yesus yang manusiawi. Yesus mengalami apa itu kelelahan, kelaparan, kesedihaan, layaknya manusia biasa. Malah sebelum dirinya dibabtis oleh Yohanes bin Zakaria, sosok Yesus dideskripsikan sebagai pribadi yang memiliki beban yang berat dengan sikap tubuh yang selalu merunduk bila berjalan.

Selain itu seperti layaknya seorang pemuda dewasa, Yesus juga mengalami apa yang namanya jatuh cinta. Tidak seperti yang selalu diasumsikan banyak orang bahwa Yesus pernah jatuh cinta dengan Maria Magdalena, di novel ini dikisahkan Yesus menaruh hati pada Abigail, salah satu kerabat jauhnya. Namun Yesus harus menekan perasaannya karena Ia menyadari bahwa dirinya ditakdirkan untuk tidak menikah, suatu hal yang agak janggal bagi tradisi Yahudi kecuali para nabi yang beberapa memang tidak menikah sepanjang hidupnya.

Kisah Abigail inilah yang menjadi salah satu pengikat dalam novel ini. Abigail kelak mengalami musibah nyaris diculik dan dijamah oleh para perompak. Walau akhirnya selamat, ayah Abigail menganggap putrinya telah tercemar dan mengurung Abigail hingga nyaris gila. Tentu saja Yesus dan seluruh kerabatnya mencari cara agar Abigail lepas dari kurungan ayahnya sendiri. Akhirnya Yesus diutus untuk menemui Hanael di Kana untuk membujuk ayah Abigail agar bisa membebaskan putrinya. Cerita kemudian beranjak ke saat pembabtisan di Sungai Yordan, pemilihan murid-murid Yesus, tindakan kontroversial Yesus yang makan bersama Matius si pemungut cukai yang dibenci oleh banyak orang, hingga mukzizat pertamanya mengubah air menjadi anggur di pesta perkawinan di Kana.



Cover The Road To Cana

Publisher : Knopf (March 4, 2008)




Seperti novel pertamanya, Anne tetap mempertahankan gaya bercerita yang menyajikan Yesus dari sudut pandang orang pertama, dengan demikian novel ini menghadirkan pergulatan batin Yesus dari kacamata Yesus sendiri, antara lain beban psikologisnya sebagai anak yang kelahirannya disertai dengan banyak tanda (malaikat, orang majus, bintang, dll), godaan jatuh cinta, desakan untuk memimpin pemberontakan terhadap penjajahan Romawi, hingga konfrontansinya dengan iblis di padang gurun.

Tampaknya Anne piawai dalam mengeksplorasi sisi manusiawi Yesus. Apa yang mungkin dirasakan Yesus sebagai manusia terekam jelas dalam novel ini. Pandangan orang-orang yang menyaksikan banyak tanda dalam peristiwa kelahiran-Nya juga terungkap dengan menarik. Mereka menunggu-nunggu tibanya takdir yang akan dijalaninya kelak seperti yang telah dinubuatkan oleh para nabi. Hanael bahkan mempertanyakan mengapa Yesus tidak tinggal saja di Bait Allah dan mengajar yang menurutnya akan lebih bermanfaat daripada hanya sekedar menjadi tukang kayu. Hal ini tentu saja menjadi beban psikologis bagi Yesus sebelum ia memulai misinya.

Walau sebagian besar kisah Yesus dalam novel ini lebih menonjolkan sisi manusiawi-Nya namun ada juga beberapa kisah yang membuat Yesus ‘berbeda’ dari manusia biasa dan harus menggunakan kuasaNya untuk menolong seseorang. Pilihan penulis untuk tidak menamai tokoh utamanya Yesus melainkan Yeshua (Yesus dalam bahasa Ibrani) merupakan hal yang tepat karena terkesan lebih manusiawi bagi para pembacanya dibanding nama Yesus Kristus yang tampak lebih sakral dan Ilahi.

Tentunya kini kita menunggu novel berikutnya guna menuntaskan bagian dari triloginya ini. Sepertinya akan semakin menarik karena tampaknya di novel ketiganya kelak Anne akan bertutur mengenai kisah Yesus di puncak misinya untuk menyelamatkan orang yang percaya pada-Nya

Seperti banyak telah diungkap oleh Anne dalam tiap wawancaranya, untuk menyelesaikan trilogi Christ The Lord ini Anne melakukan riset sejarah dan biblika yang begitu dalam dan komprehensif. Ia juga membaca ratusan buku seputar kehidupan orang-orang Israel di abad pertama. Tak heran buku ini memberikan latar sejarah dan budaya orang-orang Israel dengan baik. Kondisi politik dan adat kebiasaan orang Yahudi di masa Yesus hidup terungkap dengan jelas dan tersaji dalam porsi yang pas sehingga turut mewarnai dan menghidupi novelnya ini.

Walau beberapa kejadian yang dialami Yesus dalam novel ini tak terapat dalam keempat kitab Injil, kita tak perlu khawatir novel ini akan menjadi novel yang menghujat atau mempermalukan Yesus yang selama ini dikenal oleh dunia dan oleh para penganut-Nya. Secara garis besar cerita dalam novel ini masih setia pada Injil dan Perjanjian Baru. Ia hanya menambah peristiwa-peristiwa yang dialami Yesus yang mungkin terjadi ketika Injil tak mencatatnya, dan semua itu ditulis dalam batas-batas keimanan kristiani yang dianutnya.

Kisah kehidupan iman Anne Rice ( 67 thn) sendiri sangat menarik. Ia dilahirkan dalam keluarga katholik yang taat. Walau demikian setelah beranjak dewasa ia meninggalkan Tuhan dan menjadi seorang atheis. Di masa-masa itulah karirnya sebagai penulis menanjak dan menghasilkan berbagai novel mengenai vampir dan telah terjual hampir 100 juta copy. Tak heran karena novel-novelnya itu ia menjadi salah satu penulis terkenal di dunia dan dijuluki Ratu Cerita-Cerita Horor. Namun pada tahun 1998 jalan hidupnya berubah, ia meninggalkan ke atheisannya dan kembali pada pangkuan Tuhan dan kembali menjadi seorang Katholik yang saleh. Selain itu ia juga bertekad untuk berhenti menulis kisah-kisah vampir dan hanya akan menulis buku-buku religius. Dan trilogi Christ The Lord ini ditulis sebagai perwujudan tekadnya. Selain menulis seri Christ The Lord, pada 2008 yang lalu Anne juga telah merampungkan sebuah buku memoar spiritualnya yang berjudul, “Called Out of The Darkness” (Knopf, October 7, 2008)

Kembali ke novel tilogi Christ The Lord, Anne berharap buku ini membuat mereka yang sebelumnya tak begitu mengenal Yesus Kristus dapat melihat sosoknya dari novel yang ditulisanya ini. Harapan Anne tak berlebihan, karena tampaknya novel ini dapat dijadikan bacaan awal atau pelengkap bagi mereka yang ingin mengenal pribadiNya baik sebagai manusia maupun sebagai Allah sebelum ia menggali lebih dalam lagi dari Kitab Suci dan bacaan-bacaan lain.

Selain itu dengan ternarasikannya Yesus secara lebih manusiawi hal ini akan mempertebal iman kita. Dengan membaca novel ini kita akan tersadarkan bahwa jika Yesus pernah merasakan apa yang dirasakan manusia pada umumnya (kemarahan, kesedihan, kelelahan, depresi,dll) maka tentunya DIA mengerti pula segala keluh kesah kita yang kita panjatkan dalam doa-doa kita pada-Nya.


@h_tanzil

No comments: