Wednesday, May 11, 2011

Ning, Anak Wayang


[No. 258]
Judul : Ning, Anak Wayang
Penulis : Niken & Anjar
Penerbit : Grasindo
Cetakan : 2011
Tebal : 244 hlm

Novel Ning adalah sebuah novel kolaborasi antara Niken dan Anjar yang diangkat dari kisah nyata kehidupan Ning (Niken) seorang anak wayang yang terlahir dari keluarga seniman tari yang sangat sederhana yang berhasil meraih mimpinya melalui jalan pendidikan dan karir di luar bidang kesenian.

Ning terlahir dari kedua orang tua yang mengabdikan dirinya secara total pada kesenian tari Jawa tradisional. Seperti kebanyakan para penari tradisional kehidupan mereka sangatlah sederhana. Walau hidup dalam serba keterbatasan namun kedua orang tua Ning sangatlah mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya, hal ini berbeda dengan pandangan para seniman2 tari tradisional di kampung halamannya yang hanya menginginkan anak-anak mereka asal bisa menari dan menghasilkan uang.

Karena penghasilan keluarga mereka yang pas-pasan sejak SD Ning sudah mulai harus bekerja membantu ibunya. Untungnya Ning termasuk anak yang rajin dan ulet bekerja, walau masih anak-anak dia mengerti kondisi keluarganya dan tak pernah mengeluh jika diminta bantuan oleh kedua orang tuanya untuk menjual gorengan atau membantu ibunya di dapur termasuk menimba air. Ning juga mengerti akan kondisi perekonomian keluarganya yang serba kekurangan, untuk menghemat pengeluaran uang ia rela berjalan kaki sejauh 4 km menuju sekolahnya. Walau hujan ia tetap memilih untuk berjalan kaki dengan menggunakan jas hujan.

Sama seperti kedua orang tuanya yang mengutamakan pendidikan pada anak-anaknya, Ning pun mengerti akan pentingnya pendidikan bagi masa depannya. Walau tak memiliki uang untuk membeli buku itu bukanlah halangan baginya, ia dengan tekun menyalin seluruh isi buku cetak yang tak sanggup dibelinya, hal ini dilakukannya semenjak SD hingga SMA.

Biaya sekolah Ning memang tak murah, namun kedua orang tuanya tak pernah menyerah, segala usaha ditempuhnya termasuk mencari pinjaman kepada orang. Akhirnya Ning berhasil melewati masa sekolahnya dengan baik dan memasuki jenjang perkuliahan. Di masa itu Ning mencoba mencari uang sendiri dengan menyanyi di klub-klub malam dan mengerjakan proyek bersama dosennya, semuanya itu dijalaninya dengan ketekunan dan keuletan demi meraih mimpinya.

Namun dibalik keuletannya itu Ning selalu bergumul dengan rasa rendah dirinya, ejekan teman-teman yang selalu menyebutnya sebagai anak wayang dengan konotasi negatif, hidupnya yang pas-pasan, dan postur tubuhnya fisiknya lebih mungil dibanding teman-teman sepantarannya membuat ia dihantui perasaan minder yang terus dibawanya hingga dewasa. Belum lagi tuduhan teman-temannya ketika ia menjadi penyanyi di klab malam yang membuatnya dicap sebagai wanita nakal. Semuanya itu menjadi salah satu hambatan bagi perjalanannya meraih mimpinya.

Untungnya semua tantangan yang dihadapi Ning baik dari segi perekonomian keluarganya dan rasa rendah dirinya itu tak membuatnya menyerah. Ning bahkan berhasil menjadi pendobrak tradisi di kampung seniman dimana ia dibesarkan, dalam hal pendidikan Nia menjadi yang pertama berhasil memasuki jenjang perguruan tinggi dimana para penari di kampung halamannya hanya bisa sekolah sampai SMA saja, bahkan ada yang tidak tamat. Ia juga berhasil membuktikan bahwa seorang anak seorang penari (anak wayang) bisa meraih kesuksesan dalam kehidupannya, tidak harus hidup miskin bahkan menjadi ledek (penari plus-plus)

Niken dan Anjar menuangkan kisah hidup Ning si anak Wayang dalam sebuah novel setebal 242 halaman. Seluruh episode kehidupan Ning mulai dari SD hingga bekerja terangkum dalam 5 bab yang dibagi secara kronologis berdasarkan jenjang pendidikan yang ditempuhnya, bab pertama dimulai saat Ning masih SD, lalu terus berlanjut ke bab-bab berikutnya dimana ia memuki SMP, SMA, kuliah, hingga akhirnya bab terakhir dimana Ning telah berkerja, berkeluarga, dan sukses dalam meraih mimpinya.

Kesemua episode dalam kehidupan Ning memang terwakili dalam buku ini sehingga pembaca diajak menyelami kehidupan Ning dari kecil hingga berkeluarga. Disini pembaca memang mendapat gambaran utuh mengenai perjuangan Ning dalam meraih mimpi, namun sayangnya beberapa bagian terceritakan secara secara umum dan kurang terinci padahal ada banyak celah-celah kisah yang bisa dieksplrorasi lagi. Saya juga merasa sebagai sebuah novel tampaknya kedua penulis terlalu setia pada kisah nyata kehidupan Niken (dalam novel ini disebut Ning) sehingga kisah perjuangan Ning ini bagi saya pribadi terasa kurang ‘greget’nya.

Bebagai kesulitan dan tantangan hidup yang dihadapi Ning memang terungkap dalam buku ini, namun penyelesaian dalam setiap konflik dan tantangan yang dihadapi Ning dalam buku ini terkesan begitu mudah terselesaikan. Dari keseluruhan periode kehidupan Ning yang diungkap dalam buku ini yang paling menarik dan dramatis bagi saya adalah ketika Ning masih SD, setelah itu semuanya terasa begitu cepat terselesaikan tanpa adanya kejadian yang ‘menggugah’ pembacanya.

Jika memang buku ini diniatkan menjadi sebuah novel saya rasa dramatisasi peristiwa akan menjadi sah-sah saja sehingga kisah Ning akan jadi semakin hidup dan menarik. Sebagai contoh novel Laskar Pelangi, novel tersebut merupakan novel yang diangkat dari kisah nyata penulisnya, namun penulisnya memberi efek dramatisasi berupa tambahan kisah-kisah berdasarkan imajinasi si penulisnya sehingga novel itu menjadi begitu memukau pembacanya. Dramatisasi dari sebuah kisah nyata inilah yang saya rasakan kurang dieksplorasi di dari novel ini.

Namun terlepas dari itu secara umum novel ini saya rasa baik untuk memotivasi pembacanya dalam menggapai mimpinya. Kisah Ning menyadarkan kita semua bahwa walau dihalangi oleh berbagai keterbatasan namun dengan keuletan dan kerja keras akhirnya mimpi itu akhirnya dapat tergapai juga.

Selain rentetan kisah kehidupan Ning, filosofi gerakan tarian yang membuat Ning banyak mengerti tentang tujuan hidupnya terungkap dalam buku ini. Bagi Ning tarian bukanlah sekedar lenggak-lenggok tubuh dan kecantikan penarinya. Namun tarian bagi Ning adalah gambaran dan refleksi jiwa yang sarat makna kehidupan.

Pada akhirnya Ning memang tidak mengambil jalur tari profesional untuk menggapai mimpinya, namun bukan berarti ia melupakan darah seni tari dalam dirinya, filosofi gerak tari yang ditekuninya semenjak kecil itu dijadikannya pegangan dalam kehidupannya. Walau saat ini Ning tak lagi menari, namun Ning tetap menari bersama kehidupannya sembari merangkai mimpi indah. Tampaknya mimpi Ning masih belum berakhir dan Ning akan terus menari untuk meraih mimpi2nya.

Di akhir bukunya ini Ning berkata, “Semoga mimpiku bisa memberi inspirasi banyak orang. Jangan engkau salahkan badai dan hujan, namun menarilah di tengah badai dan bersama hujan maka engkau akan menikmatinya…”


@htanzil

http://bukuygkubaca.blogspot.com

2 comments:

UII Fans said...

Artikel yang menarik..
Makasih infonya..
Salam...:)

Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia
http://fis.uii.ac.id/

Naruto Uzumaki321 said...

itu penulisnya adalah bibi saya