Monday, May 02, 2011

Of Bees and Mist


[No. 257]
Judul : Of Bees and Mist (Kabut Masa Lalu)
Penulis : Erick Setiawan
Penerjemah : Fransisca M
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : I, 2011
Tebal : 571 hlm

Of Bees and Mist (Kabut Masa Lalu) adalah karya debut Erick Setiawan, penulis muda kelahiran Jakarta yang kini tinggal di Amerika Serikat. Erick yang menuntut ilmunya di Amerika Serikat dalam bidang psikologi dan komputer ini adalah seorang kutubuku dan suka menulis. Sebelum Of Bees and Mist, Erick telah menulis dua novel namun dua naskahnya tersebut mendapat ratusan penolakan dari para agen sastra (di Amerika untuk menjual buku ke penerbit besar haruslah melalui agen sastra/literacy agent).

Penolakan tersebut tak menyurutkan semangatnya dalam menulis. Erick lalu menulis of Bees and Mist yang diselesaikannya selama 4 tahun, berbeda dengan dua naskah novel terdahulunya, kali ini dalam waktu yang tidak terlalu lama ia memperoleh agen sastra hingga akhirnya pada tahun 2009 novelnya ini diterbitkan oleh penerbit kenamaan Simon & Schuster. Tak hanya itu saja, Of Bees and Mist mendapat sambutan yang positif dari pembaca dan kritikus sastra. Novel ini menjadi finalis QPB New Voices Award 2010 dan masuk dalam longlist penghargaan sastra bergengsi internasional IMPAC Dublin Literary Award 2011.

Of Bees and Mist sendiri merupakan kisah epik cinta, drama keluarga, dan misteri yang berlangsung selama tiga puluh tahun. Tokoh sentralnya adalah seorang wanita bernama Meridia yang merupakan anak dari Revena dan Gabriel. Awalnya kedua orang tuanya adalah pasangan yang harmonis, namun tak lama ketika Meridia lahir seiring dengan munculnya hawa dingin dan kabut yang menyelimuti rumahnya hubungan mereka mulai retak. Gabriel menjadi pribadi yang sensitif, ia sering pergi meninggalkan Revena, pertengkaran sering terjadi hingga akhirnya mereka tak saling berbicara. Gabriel disibukkan dalam pekerjaannya sedangkan Revena tenggelam dalam rutinitas di dapur yang menjadi dunia barunya.

Sikap saling membisu kedua orang tuanya ini membuat Meridia tumbuh tanpa sentuhan kasih kedua orang tuanya. Ayahnya malah membencinya, sedangkan Revena dengan kealpaannya sering melupakannya. Dalam keadaan demikian Meridia dibesarkan dengan sangat protektif oleh pengasuhnya. Ketika mulai beranjak dewasa Meridia mempertanyakan kondisi kedua orang tuanya pada pengasuhnya sehingga terungkaplah sebuah rahasia tentang apa yang terjadi pada orang tuanya. Namun belum sempat Meridia mengetahui semuanya, pengasuhnya tiba-tiba pergi meninggalkannya.

Meridia yang kesepian akhirnya memiliki seorang teman misterius bernama Hannah. Hannah sering datang dan pergi dengan tidak terduga. Untunglah akhirnya Meridia bertemu dengan Daniel, anak seorang pemilik toko perhiasan. Mereka saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah. Setelah menikah Meridia tinggal di rumah mertuanya bersama kedua adik iparnya. Ternyata ini adalah awal bencana karena ternyata Eva, ibu mertuanya adalah sosok ibu mertua yang nyinyir, pelit, licik, dan memperlakukan Meridia seperti layaknya pembantunya.

Awalnya Meridia sabar dalam menghadapi Eva, namun suatu saat ia mendengar percakapan antara Eva dengan suaminya, Elias. Meridia mendegar sendiri bahwa Eva di depan suaminya menjelek-jelekkan dirinya bahkan menfitnahnya. Saat itu Meridia juga melihat bagaimana lebah-lebah dengan dengungannya seolah mempengaruhi hati dan pikiran Elias agar terhasut oleh apa yang dikatakan Eva.

Semenjak itu Meridia mencoba mengorek keterangan tentang Eva dari Patina, pembantu mertuanya, dan semakin jelas bahwa Eva adalah wanita yang licik dan jahat. Hal ini membuat Meridia tak tahan tinggal serumah dengan mertuanya dan mengajak Daniel, suaminya untuk membuka toko perhiasan sendiri dan keluar dari rumah mertuanya.

Namun tak semudah itu bagi Meridia untuk lepas dari pengaruh Eva. Walau ia telah pindah rumah namun ibu mertuanya tetap berkuasa atas kehidupan rumah tangga mereka dan terus mempengaruhi Daniel agar selalu menurut apa yang dikatakan oleh ibunya. Konflik demi konflik terus terjadi dalam kehidupan Meridia dengan keluarga mertuanya. Kehadiran Noah, anak satu-satunya Meridia tak membuat Eva berubah, ia bahkan mencoba mempengaruhi cucunya untuk berpihak padanya. Meridia tak kenal kata menyerah, ia terus berjuang melawan pengaruh buruk Eva terhadap suami dan anaknya.

Walau inti dari kisah dalam novel ini adalah perseteruan antara anak dan mertua namun penulis mengemasnya dengan begitu menarik. Di novel ini ada begitu banyak konflik yang dikisahkan, selain perseteruan antara Meridia dan Eva, dikisahkan pula konflik antara kedua orang tuanya, Revena dan Gabriel, lalu ada juga kisah kedua adik iparnya, hingga Patinna, pembantu mertuanya yang ternyata memiliki kisah rahasia antara dirinya dengan Eva.

Yang membuat kisah ini menarik adalah balutan misteri dan mistis yang membungkus kisah cinta dan drama dalam novel ini. Baik keluarga Meridia maupun keluarga mertuanya memiliki sisi kelam yang sedikit demi sedikit akan terungkap di sepanjang novel ini.

Metafora yang digunakan oleh penulis dalam novel ini juga tak kalah menariknya. Lebah dan kabut adalah dua metafora mistis yang digunakan penulis untuk menggambarkan bagaimana dua hal tersebut senantiasa ada dalam dua keluarga yang berseteru. Lebah adalah manifestasi dari pikiran jahat Eva yang mencoba mempengaruhi siapa saja agar berpihak padanya, sedangkan kabut adalah gambaran dari misteri yang menyelubungi kehidupan rumah tangga kedua orang tua Meridia.

Di novel ini ada satu hal yang unik yaitu tak disebutkannya setting tempat dan waktu sehingga kita harus menebak-nebak sendiri kapan dan dimana kejadian dalam kisah ini berlangsung. Yang disebutkan hanyalah nama-nama jalan tanpa disebut di negara mana kejadian dalam novel ini berlangsung. TV, radio, mobil, telpon dan alat-alat teknologi lainnya sama sekali tak disebutkan. Rupanya disini penulis memberikan kebebasan pada para pembacanya untuk menciptakan sendiri setting waktu dan tempat sesuai dengan imajinasi pembaca.

Singkat kata, cara penulis menyajikan kisahnya yang merupakan gabungan antara drama dan msiteri kehidupan tokoh-tokohnya selama tiga generasi dalam balutan aroma mistis dan metafora-metaforanya yang memikat membuat saya betul-betul menikmati kisah yang tertuang dalam novel setebal 571 halaman ini.

Novel juga mengingatkan saya akan novel realisme magis “House of The Spirit” Isabel Allende. Mungkin agak terlalu berlebihan jika saya membandingkan novel ini dengan House of The Spirit. Namun sensasi yang saya rasakan ketika membaca novel ini sama dengan ketika membaca karya monumental Isabel Allende terutama dalam hal penuturan dan aroma mistis realism magis yang membungkusnovel ini

Sayangnya novel ini memiliki cacat beberapa ‘typo’ (kesalahan ketik). Bahkan satu yang fatal adalah salah menyebut nama tokohnya, yang seharusnya Daniel malah terketik David. Tentunya hal ini sangat menganggu kenikmatan membaca novel ini.

Ada banyak yang ingin saya tulis tentang novel ini, namun harus saya hentikan sebelum pembaca review ini bosan dan saya kebablasan untuk menulis spoiler. :D Yang pasti saya tadinya akan beri 5 bintang untuk novel ini, namun karena ada beberapa typo saya terpaksa harus menurunkannya satu menjadi 4 bintang :D

Oya, karena ini meruapakan novel terjemahan, saya juga memberi acungan jempol kepada penerjemahnya karena saya tak sedikitpun merasa terganggu dengan kalimat-kalimat terjemahannya sehingga saya hampir lupa bahwa ini adalah sebuah karya terjemahan.

Satu jempol lagi juga untuk cover bukunya. Bagi saya cover edisi terjemahannya ini lebih bagus dan lebih imajinatif dibanding edisi aslinya.




Of Bees and Mist

ed. Simon & Shuster, 2009





Demikian untuk review kali ini, silahkan jika ada yg sudah membaca dan mau menambahi kesan-kesan terhadap novel ini. Sepertinya novel ini mengasyikan juga buat didiskusikan ya. Saya tergelitik untuk bertanya pd teman2 yg sudah membaca novel ini. Menurut teman2 Siapa sebenarnya Hanah yg kehadirannya begitu misterius dalam novel ini? Dan apa pula maksud dari metafora es yang membeku dan menyelimuti Gabriel bagaikan sebuah kepompong es di saat-saat akhir hidupnya?

@htanzil

12 comments:

mia said...

Nambah lagi deh list yg mau dibaca gara-gara review Om ;p Bener dibanding cover aslinya, terbitan Gagas lebih bagus! Terlebih lagi gambar kabutnya yg kebiruan menambah kesan misterius dari buku ini.

Anonymous said...

sebenernya mau nyautin intepretasi saya ttg hannah..tp takut jadi spoiler ke pembaca lain :( soal misteri es itu,aku juga bingung..lebih susah nangkep makna es nya daripada makna kabutnya om..sampai2 aku kesulitan mengimajinasikan yg bagian es itu.jadinya adalah imajinasi menurut harafiah yang tertulis di novelnya :( gak kerasa lho kalo ini novel debut yak.. :D

Jody said...

Hannah adalah alter ego dari Meridia. Spoiler? Tidak, karena bukan bagian paling penting dari novel ini.

htanzil said...

@mia : bacalah.. :)

@balonbiru :
betul kt Om Jody kl Hanah bukan bagian dr penting dr kisah OBM.
Jadi apa interprretasimu Nov?

Kalau es yg membeku itu aku punya interpretasi kebekuan hati Gabriel. Saat-saat akhir dia tak mau membuka dirinya terhadap Revena dan Meridia karena seluruh dirinya jadi 'membeku'. Es disini melambangkan kebekuan hati Gabriel thdp keluarganya, makanya tiap cobakali dicairkan oleh Revena pasti es itu akan muncul kembali menyelubungi Gabriel.

Metafora es ini menurutku yg paling indah dan fantastis. koq bisa ya kepikir ada orang yg mengeluarkan bunga2 es lalu perlahan-lahan membeku sehingga tubuh Gabriel berada di dalam es.... amzing banget! imaji Erick bener2 fantastis.

htanzil said...

@Jody :
Om Jody! pa kabar? ayo blog bukunya diupdate lagi biar bisa masuk DAFTAR BLOG BUKU INDONESIA yg lagi kususun.

Iya Om, menurutku juga Hanah itu alter ego, atau bisa dibilang teman khayalan Meridia. Tadinya kukira Hanah itu hantu..hehe

Om Jody sudah baca novel ini? gmn menurutmu? dikasih bintang berapa?

Anna said...

Wah karya anak bangsa! =D

htanzil said...

@Ana : Betul! novel ini karya anak bangsa yang mendapat pujian dari dunia internasional. Kita patut berbangga!

goldenmoon said...

aku mikirku jg hannah itu alter-ego yang jadi teman khayalannya meridia. tapi menurutku dia posisinya cukup penting di awal dan di tengah, krn meridia kan jadi menemukan solusi masalahnya (kuper pas abg dan toko sepi).
mungkin penyakit bunga es itu berarti penyakit membisu dan padangan mata kosong gitu kali ya..semacem kena stroke berat?

Jody said...

Om Rahib, aku lagi mencoba menulis nih. Sudah ada sebenarnya, tapi belum ada waktu untuk posting. Of Bees and Mist sudah baca, makanya aku tahu siapa Hannah. Memang orang2 tipe Meridia biasa tuh memunculkan alter ego untuk menolong dalam situasi2 tertentu. Aku suka sekali buku ini, terserah apa kata orang, aku kasih bintang 5... hehehehe.

meirina said...

memang bagus..! gaya cerita nya top..
recommended

UII Fans said...

Artikel yang menarik..
Makasih infonya..
Salam...:)

Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia
http://fis.uii.ac.id/

xamthone plus said...

hmmm... buku baru nih....
jadi pngn baca..