Thursday, April 05, 2012

Anak Sejuta Bintang

Anak Sejuta Bintang

[No. 289]
Judul : Anak Sejuta Bintang
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : Expose
Cetakan : I, Januari 2012
Tebal : 403 hlm

My rating 3 of 5 stars


Anak sejuta bintang adalah novel biografis seorang pengusaha sekaligus politikus terkenal Aburizal Bakrie karenanya tak heran ketika novel ini terbit , novel ini langsung menuai berbagai komentar baik itu komentar negatif maupun komentar positif. Yang positif mengatakan bahwa novel ini sangat berguna dan baik dijadikan dasar pengajaran anak, (NH Dini), yang negatif menilai novel ini diterbitkan dalam rangka pencitraan ‘Ical’ Aburizal Bakrie terkait rencananya untuk maju sebagai Capres 2014, bahkan sempat beredar isu  bahwa Ical pada awalnya berniat membayar milyaran rupiah pada seorang penulis terkenal untuk membuat novel ini.

Terkait dengan pemberitaan miring mengenai novel ini, penulis dan Aburizal Bakrie segera mengklarifikasikannya baik di social media maupun di blognya.  Akmal N Basral selaku penulis mengatakan dengan tegas bahwa novel ini bukanlah novel politik karena di novel ini Ical diceritakan apa adanya.

Sedangkan Aburizal Bakrie  dalam blog pribadinya menulis demikian :

Ternyata, novel “Anak Sejuta Bintang” ini jadi ramai diperbincangkan. Banyak juga yang tidak suka dan menyerang novel ini, saya, dan Akmal sebagai penulisnya. Ada yang bilang ini novel pencitraan yang sengaja saya buat untuk 2014, dan lain sebagainya. Ada juga yang bilang saya bahkan awalnya mau membayar novelis terkemuka dengan nilai miliaran. Ini kabar tidak benar.   - http://icalbakrie.com/?p=1607


Menurut penulis, dan penerbitnya novel ini memang bukan novel pesanan Ical melainkan lahir dari ide mantan sekretaris Ical yang berniat untuk memberikan kado unik berupa buku untuk ulang Tahun Ical yang ke 65. Ide ini  mendapat dukungan dari teman-teman dekat Ical dan penerbit Expose (Mizan Group). Mizan Group menjatuhkan pilihan pada Akmal Nasery Basral yang sudah bekerja sama dengan penerbit dalam menulis novel Biografis KH Ahmad Dahlan - Sang Pencerah (Mizan Pustaka, 2010) dan saat itu sedang menulis novel Presiden Prawiranegara. (Hikmah, 2010)

Novel Anak Sejuta Bintang setebal 403 halaman ini memang pada akhirnya bukan sebuah buku biografi murni melainkan sebuah kisah fiksi yang terinspirasi dari masa lalu Aburizal Bakrie, namun tidak seluruh kehidupan Ical yang menjadi dasar novel ini, penulis membatasi kisahnya hanya dengan menceritakan pengalaman masa kanak-kanak Ical, tepatnya semenjak TK hingga lulus SD (1951-1958.

Di novel ini dikisahkan bagaimana ketika Ical masih kecil, keluarga Bakrie yang kaya raya pernah mengalami kebangkrutan sampai-sampai keluarga ini harus mengontrak rumah untuk tinggal. Namun dalam kondisi seperti itu keluarga Bakrie tidak menyerah dan tetap mengajarkan hal-hal yang positif kepada anak-anaknya.
Walau telah menjadi pengusaha sukses kedua orang tua Ical tak larut dalam kesibukan mengejar materi, mereka  tetap mengutamakan komunikasi yang baik dengan anak-anaknya.

Anak laki-laki itu harus sering diajak ngobrol supaya terbiasa mengemukakan pendapat ... Kalau tidak, mereka akan terbiasa menggunakan tangan untuk menyampaikan keinginan. (Hal. 149)

Dengan pola asuh yang baik dan komunikasi yang intens antara orang tua dan anak tak heran jika Ical tumbuh menjadi anak yang baik dan berprestasi di sekolahnya, setiap tahun ia selalu menjadi juara kelas. Tak hanya pintar, Ical juga menjadi anak yang baik dan mengikuti teladan kedua orang tuanya dalam hal berbagi kepada teman-temannya. Saking baiknya Ical selalu meminjamkan kelerengnya pada teman-temannya yang kalah bermain kelereng. Sialnya teman-temannya tak pernah mengembalikan kelerengnya bahkan ketika Ical kalah ironisnya tidak seorangpun mau memberinya pinjaman kelereng. 

Kebaikan dan kepolosan Ical juga tercermin dalam kisah ketika Ical tanpa izin kedua orang tuanya memberikan anggur dan apel pemberian rekan ayahnya pada teman-temannya yang kurang mampu padahal saat itu anggur dan apel adalah makanan mewah bagi keluarga Bakrie sekalipun. 

Ical yang langganan juara kelas sejak kelas 1 hingga kelas 5 juga memiliki ambisi untuk tetap menjadi juara kelas hingga kelas 6 nanti. Mampukah Ical mempertahankan gelar juaranya? Pada akhirnya memang Ical menyadari bahwa bintang yang paling terang dalam kehidupannya bukanlah kepandaiannya atau ketika ia menjadi juara melainkan kedua orang tuanya.

“Bintang yang paling terang dalam kehidupan Ical adalah papa dan mama. Karena cahaya cinta papa dan mama sehingga Ical bisa menemukan cahaya bintang-bintang lainnya” (hlm. 399)

Novel ini juga mencerminkan keceriaan dan pengalaman-pengalaman menarik anak-anak pada umumnya, ada soal persahabatan, persaingan, bagaimana menghargai orang tua, , spirit mengejar cita-cita, dan sebagainya. Sayangnya semua hal diatas terkisahkan dengan datar-datar saja, kurang didramatisasi sehingga saya pribadi tidak begitu tergugah oleh kisah-kisah Ical kecil dalam novel ini.

Selain Ical sebenarnya ada satu tokoh yang menarik di novel ini, yaitu Raymond, anak mantan tentara KNIL yang pernah tinggal di Belanda. Raymond  dengan sombong selalu membanding-bandingkan kondisi di Belanda yang lebih baik dibanding di Indonesia. Dalam satu kesempatan dikisahkan Ical menegur kesombongan Raymond yang dianggapnya telah menghina pemainan bola Ical dan kawan-kawannya. Di luar dugaan Raymond tidak marah melainkan menjawab teguran Ical dengan rasional.

“Maaf, bukan menghina,” ujar Raymond.. “Kalian semua main bola dengan ini,” katanya sambil menunjuk kaki. “Bukan dengan ini,” katanya sambil menunjuk kepala. “Aku tidak menghina, aku bicara terus terang. Itu beda.” (hlm 292)

Sayang kehadiran Raymond ini kurang mendominasi di novel ini, padahal akan lebih menarik jika penulis terus menghadirkan tokoh Raymond yang sombong namun rasional ini sebagai tokoh antagonis sebagai penyeimbang tokoh Ical yang terkesan santun dan sangat baik sehingga novel ini akan semakin hidup dan menarik. 

Selain itu ada satu hal yang menurut saya keliru dalam novel ini yaitu ketika dikisahkan Ical dan adiknya sakit batuk, dokter mendiagnosa bahwa sakit ical dan adiknya adalah asma.

“Mungkin mereka tertular bukan dari orang tua, melainkan dari lingkungan sekitar yang ada penderita asmanya,” jawab Dokter Ghulam panjang lebar (hlm 64) 

Pendapat dokter Ghulam ini tentu saja salah, karena sesungguhnya penyakit Asma bukanlah penyakit menular melainkan penyakit keturunan. 

Wajah dan Suasana Jakarta tahun 50-an

Selain kisah masa kecil Ical, melalui novel ini juga kita dapat melihat wajah dan suasana Jakarta di tahun 50-an lengkap dengan situasi politiknya seperti tentang pemilu pertama di tahun 1955, lalu ada juga suasana perayaan 17 Agustus 1956 di Istana Negara yang dihadiri oleh Ical yang bersama teman-teman SD nya ditunjuk untuk menyanyikan lagu2 perjuangan di depan Bung Karno. Di bagian ini penulis menyertakan pidato Bung Karno yang menggelegar, walau bukan pidato aktual melainkan  telah diubah oleh penulisnya untuk kebutuhan novel ini tapi isi pidato itu tetap menghadirkan semangat dan kelihaian Bung Karno dalam berpidato. 

Satu hal yang menarik juga adalah munculnya peristiwa pencobaan pembunuhan terhadap bung Karno saat beliau menghadiri perayaan hari lahir Perguruan Cikini. Di bagian ini penulis mencoba mengisahkan peristiwa penggranatan itu dengan hidup lengkap dengan keterangan sembilan orang anak dan seorang ibu hamil yang tewas di tempat dan 100 orang korban luka berat.

Tidak hanya itu saja, penulis juga membeberkan pendapat yang berkembang beberapa waktu kemudian setelah peristiwa itu yang menyatakan bahwa motif asli pencobaan pembunuhan terhadap Bung Karno bukanlah motif politik melainkan karena … perempuan!, dimana setahun sebelum kejadian itu saat Bung Karno berkunjung ke Bima beliau mengucapkan kata-kata yang menembuat dendam orang Bima, dan  Bung Karno sempat pula menggoda wanita di sana. Fakta di pengadilan memang mengungkapkan bahwa pelaku penggranatan adalah orang Bima.

Novel best seller

Pada akhirnya dengan segala kelebihan, kekurangan, dan berbagai komentar miring tentang novel ini, novel ini telah menarik minat masyarakat Indonesia, hal ini terbukti dengan larisnya novel ini di pasaran. Penerbit Mizan di sebuah media online mengungkapkan bahwa novel ini masuk kategori best seller  dengan angka penjualan hampir 10 ribu eksemplar pada bulan pertama. Saat ini novel Anak Semua Bintang telah memasuki cetakan ke-3. Dua cetakan sebelumnya telah beredar di pasaran sebanyak 30 ribu ekslempar.

Dengan banyaknya yang membaca novel ini, terlepas apakah ini novel pencitraan atau bukan tentunya kita semua berharap semoga nilai-nilai positif yang dikisahkan dalam novel ini dapat menginspirasi pembacanya akan pentingnya pola pengasuhan anak seperti yang ditunjukkan oleh keluarga Bakrie dan nilai-nilai persahabatan sejati di dunia anak-anak yang saat ini tampaknya semakin langka ditemui terlebih pada saat kita semua telah dewasa. 

@htanzil
5/4/2012



2 comments:

Afra Rahmania Santi said...

sudah pernah dijadikan film belum ?

Anonymous said...

Bisa pesan novel gak? anak sejuta bintang karya akmal nasery basral