Wednesday, August 14, 2013

123 Ayat Tentang Seni by Yapi Tambayong

[No. 313]
Judul : 123 Ayat Tentang Seni
Penulis : Yapi Tambayong
Penerbit : Nuansa Cendekia
Cetakan : I, Agustus 2012
Tebal : 298 hlm

Buku karya seniman serba bisa Yapi Tambayong atau lebih dikenal dengan nama Remy Sylado ini membahas mengenai lima cabang seni (susastra, musik, seni rupa, drama, dan film). Buku  ini bisa dibilang buku yang ditulis secara unik karena  masing-masing cabang seni disajikan dalam 123 paragraf yang diberi nomor seperti halnya ayat-ayat/pasal-pasal dalam kitab suci atau kitab undang-undang. Karenanya tidak heran buku ini diberi judul 123 Ayat tentang Seni.

Pada bagian Seni Susastra (dasar-dasar Filologi) yang menyingkap tradisi panjang literasi peradaban manusia kita akan melihat bahwa budaya tulis paling tua di dunia dimulai tahun 4000 SM  oleh manusia Sumeria Babilonia dan terus berkembang hingga kini. Ada banyak hal menarik di bagian ini, dan yang mungkin tidak banyak diketahui adalah tentang Komunitas Nobel Indonesia yang terdiri dari 9 Guru Besar dari Universitas dan Institute ternama di Indonesia yang memutuskan untuk memberi penghargaan istimewa terhadap novel Ca Bau Kan karya Remy Sylado yang disebut-sebut sebagai satu-satunya sastra terbaik Indonesia dalam dua abad ini. Keputusan tersebut dikemukakan oleh Prof. Jakob Sumardjo pada 23 Januari 2011. (Seni Susastra, ayat 123)

Pada bagian seni Musik (dasar-dasar Musikologi) kita akan mendapatkan kekayaan pengetahuan musik secara praktis dari hal yang teoritis hingga berbagai hal tentang musik yang dekat dengan keseharian kita seperti nada-nada do-re-mi-fa-so-la-si-do yang ternyata diambil dari larik-larik puisi nyanyian doa kepada Tuhan. do sendiri merupakan singkatan dari Domunus, artinya Tuhan (Seni Musik, ayat 11).

Yang bagi saya cukup mengejutkan di bagian ini adalah tentang lagu yang menginspirasi WR Supratman untuk mencipatakan lagu kebangsaan Indonesia Raya 

Salahsatu lagu yang dimainkan secara jazz oleh Wage adalah bahasa Belanda-Indo "Lekka, lekka, pinda-pinda", artinya "Enak-enak, kacang-kacang". Dari lagu ini pula Wage mengubahnya menjadi "Indonees, Indonees" dan sempat direkan sebagai piringanhitam pada 1927 di Hongkong. Sebelum diperdengarkan dalam Konggres Pemuda pada 1928, Bung Karno mengusulkan untuk mengubahnya menjadi "Indonesia Raya". (Seni Musik, ayat 100)

Di bagian seni musik  ini juga diungkap bagaimana R. Surarjo membajak bagian depan lagu kebangsaan Prancis. Le Marseillaise menjadi lagu "Dari Sabang Sampai Merauke". (Seni Musik, ayat 103)
 
Di Bagian Seni Rupa (dasar-dasar fine-arts) akan terungkap bagaimana sejarah perkembangan seni rupa dunia dan Indonesia dari masa ke masa beserta aliran-alirannya. Bagian ini kita diajak memahami apa itu seni rupa dan bagaimana seharusnya kita memahaminya. Yang menarik di bagian ini adalah ternyata di tahun 2012 ada dua buah karya lukis yang terjual secara fantastis dan salah satunya adalah hasil karya pelukis Indonesia

Edvard Munch (1863-1944) ...pada 2012 melalui lelang Sotheby's New York untuk karyanya "Menjerit" terjual hampr 120 juta dolar, yaitu US$ 119.922.500. Ini lebih tinggi dari karya Picasso yang mencapai US$ 105,5 juta pada 2010  
(Seni Rupa, ayat 59)



..tokoh penting menggegerkan dari Jogyakarta yang menjadi buahbibir seni rupa Indonesia adalah Nyoman Masriadi yang lukisannya diberitakan terjual 12 milyar rupiah melalui Sotheby Hongkong (Seni Rupa Ayat 107)


Yang istimewa di bagian Seni Rupa dalam buku ini adalah adanya 37 halaman berwarna dengan kertas art paper yang mengkilat untuk menyajikan 55 lukisan yang terdapat dalam ayat-ayat Seni Rupa.

(halaman berwarna 123 Ayat tentang Seni)

Dalam Seni Drama (dasar-dasar dramaturgi) kita diajak memahami arti dan konsep dramaturgi secara benar dimana dalam sebuah pertunjukan drama terdapat bagian introduksi, situasi, konfik, klikmas, dan solusi (Seni Drama, ayat 5). Di bagian ini terdapat banyak teori-teori drama yang dapat bermanfaat bagi kita kita semua dalam menafsirkan aksi-aksi teatrikal dalam sebuah karya drama.

Di bagian Seni Film (dasar-dasar sinematografi) penyajiannya agak berbeda dengan keempat bidang seni lainnya. Kali ini walau masih tetap menggunakan ayat-ayat  namun urutan penyajiannya berdasarkan istilah-istilah dalam seni Film secara alvabet  (A-Z) layakntya sebuah kamus. Dimulai dari lema Absolute Film hingga lema Zoom.

Kesemua ayat dalam Seni Film ini mengajak kita untuk memahami berbahai hal mengenai film-film yang mendapat tempat dalam panggung sejarah perfileman dunia, selain itu juga dibahas mengenai proses kreatif dan  produksi perfileman dunia dan Indonesia

Beberapa hal yang  menarik terungkap di bagian ini antara lain ada pada lema kata 'Hunting'  dimana pada film berjudul Melody (1995), sutradara Edo Pasta Sirait  yang hunting hingga ke Los Angeles dan selesai sutting di sana filmnya tidak jadi ditayangkan dan musnah karena konon dibakar oleh produsernya karena kasus selingkuh. (Seni Film, ayat 49)

Pada lema 'Oscar'  (Academy Awad) terungkap asal mula kata Oskar yang ternyata dicetuskan secara tidak sengaja oleh Margaret Herrick yang pada saat pertama kali melihat patung piala Academy Awards itu berseru;

"Patung itu seperti Pak Oscar!" Pada waktu itu yang menjabat sebagai direktur eksekutif akademi tersebut adalah Oscar.  
(Seni Film, ayat 75)

Di bagian Seni Film ini penulis beberapa kali menyatakan protes atau kekesalannya yang sangat pedas pada PH (Production House) di Indonesia yang  hanya berorientasi pada dagang sehingga menghasilkan sinetron-sinetron kejar tayang yang tidak bermutu

...karena memang orientasinya dagang, dan otak dagang hanya melulu laku, maka banyak sinetron yang dibuat oleh PH tidak lagi menghargai logika. Malahan lebih jauh, hasil kerja film yang dibuatnya boleh dibilang sebagai suatu pembodohan: mengalirkan kebodohan kepada masyarakat supaya ikut tertular kebodohan PH.... Memang tidak bisa diharapkan sesuatu yang pintar dan sungguh-sungguh dari film-film televisi yang dibuat PH. Soalnya, baik PH maupun stasiun TV sama-sama sudah jadi tawanan dagang kelontong, kerja buru-buru dengan pola "kejar tayang" (Seni Film, ayat 84)

Quckies..... ini juga merupakan ejekan untuk film-film gampangan yang dibuat secara buru-buru. Serapan kata ini di Indonesia bisa diartikan untuk membilang sinetron-sinetron tolol yang dibuat berdasarkan pola "kejar tayang"... 
(Seni Film., ayat 85)

Masih banyak hal-hal menarik yang menambah wawasan kita akan kelima bidang seni yang terdapat dalam 615 ayat dalam buku ini.  Di masing-masing bagian Remy menghubungkan antara satu ayat dengan ayat selanjutnya secara sistematis dan berkesinambungan sehingga ke 123 ayat dalam masing-masing seni yang dibahasnya merupakan sebuah rangkaian untuh yang sambung menyambung dari ayat pertama hingga ayat ke 123.

Melalui buku ini kita juga tidak hanya melihat seni dari sudut pandang seni semata  melainkan kita akan melihat kelima cabang seni ditinjau dan dibahas dari sudut pandang sejarah, filsafat, antropologi, teologi, agama, dan budaya sehingga buku ini sangat pantas dikoleksi dan dijadikan salah satu buku rujukan pengetahuan tentang seni yang lengkap.

Sekalipun tema, judul, dan kemasan buku ini terkesan ilmiah namun penulis berhasil menuliskan seluruh pengetahuannya tentang seni kedalam ayat-ayat dengan kalimat yang singkat dan populer sehingga  mudah dipahami oleh pembaca awam. Karenanya  buku ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi dengan rentang pembaca yang luas mulai dari para pelajar, mahasiswa, pendidik, praktisi seni, wartawan, dan siapa saja yang ingin mengetahui tentang seni yang tanpa kita sadari sesungguhnya melekat dalam kehidupan kita.

@htanzil