Tuesday, April 29, 2014

Perempuan itu Bernama Arjuna by Remy Sylado

[No.331]
Judul : Perempuan itu Bernama Arjuna
Penulis : Remy Sylado
Penerbit : Nuansa  Cendekia
Cetakan : I, Nov 2013
Tebal : 276 hlm
ISBN : 978-602-8395-80-9


Nama Arjuna identik dengan nama seorang pria karena asal mula nama Arjuna berasal dari salah seorang ksatria Pandawa dalam kisah Mahabarata  yang memiliki paras rupawan dan berhati lemah lembut. Karenanya sangatlah tidak lazim jika ada seorang wanita yang bernama Arjuna, namun ketidaklaziman itulah yang ditawarkan oleh Remy Sylado dalam novel filsafatnya yang berjudul "Perempuan itu Bernama Arjuna". Alih-alih menokohkan seorang pria tampan berhati lembut, dalam novelnya ini Arjuna adalah nama dari seorang gadis berusia 25 tahun dengan wajah yang tidak cantik.

"Saya Arjuna, Serius, ini nama perempuan, nama saya. Muasalnya, ini kekeliruan kakek dari pihak ibu, orang Jawa asli Semarang, yang mengharapkan saya lahir sebagai anak laki, dan untuk itu kepalang di usia 7 bulan dalam rahim Ibu, dibuat upacara khusus dengan bubur merah putih bagi Arjuna disertai baca-baca Weda Mantra, pusaka pustaka warisan Sunan Kalijaga dari masa awal syiar Islam di tanah Jawa. Jadi apa boleh buat, nama Arjuna adalah anugrah yang harus saya pakai sampai mati" (hlm 5)

Walau tidak cantik, namun Arjuna dalam novel ini digambarkan sebagai sosok perempuan pintar  yang begitu percaya diri 

 "Saya tidak pernah merasa rendah diri atas keadaan tidak cantik dalam takdir saya ini. Dengan bahasa sederhana, ditambah perilaku optimis, saya ingin bilang, perempuan menjadi seratus persen wanita, semata-mata karena perempuan memiliki yoni, kiasan ajaib yang biasa membuat lakilaki mata ke ranjang. Itu rahasianya" (hlm.6 )

Dikisahkan Arjuna yang terlahir dari ibu berdarah Jawa dan ayah seorang Tionghoa ini adalah seorang mahasiswi yang sedang kuliah filsafat Barat di Amsterdam, Belanda. Ketika Arjuna mempelajari filsafat Decrates yang berselisih pandang tentang eksistensi Tuhan hal ini membuatnya tertarik untuk mengambil jurusan teologi apologetik. Sebuah pilihan yang 'aneh' karena Arjuna adalah seorang muslim, keanehan ini terungkap dalam dialognya dengan dosennya :

"Kenapa tertarik belajar apologetik? Apologetik itu pertanggungjawaban iman Kristen atas serangan filsafat yang dibilang sekular. Bidang itu lebih banyak digeluti pihak Protestan.." (hlm. 84)

"Ya, profesor, saya tahu," kata saya. "Saya cuman  mau belajar ilmunya as sich. Menurut saya, sikap terhadap ilmu haruslah bebas, tidak diganggu oleh prasangka-prasangka rasial, tribal, etnis, dan religionitas"  (hlm 85)

Akhirnya Arjuna memang mengambil jurusan apologetik, dosennya adalah seorang Pastor Jesuit bernama Jean-Calude van Damme yang telah berusia 62 tahun. Ketertarikan pada apologetika ditambah gaya mengajar sang Pastor membuat Arjuna lambat laun jatuh cinta pada dosennya itu demikian pula dengan sang Pastor yang ternyata menaruh perhatian lebih pada Arjuna. Diskusi filsafat antara Arjuna dengan dosen dan teman-teman kuliahnya diselingi kisah laku asmara antara Arjuna dan sang pastor inilah yang mewarnai novel filsafat ini.

Novel ini mengulas lebih dari 150 sosok filsuf, mulai dari filsuf  Yunani kuno seperti Aristoteles,  Socrates, Plato, hingga filsuf modern seperti Nietze,  Sartre, Focault, dll beserta pemikiran-pemikirannya sehingga pembaca diajak melihat bagaimana kehidupan dan lahirnya metode pemikiran-pemikiran filsafat dari para filsuf tersebut. Dengan luasnya penulis mengurai para filsuf dan pemikirannya ini maka pantaslah kalau novel ini dilabeli penerbitnya sebagai "bukan bacaan ringan". Tidak melulu tokoh-tokoh filsuf di novel ini juga kita akan bertemu dengan tokoh-tokoh non filsuf mulai dari presiden, tokoh politik, sastrawan, seniman, artis/aktor, dll. Kesemua tokoh  (213 nama) baik filsuf dan non filsuf diberi catatan pelengkap di akhir halaman sehingga membantu pembaca memahami sipa tokoh yang dimaksud.

Karena novel ini mengisahkan Arjuna yang akhirnya memilih mengambil jurusan Apologetika maka bahasan apologetik menjadi bahasan utama dalam novel ini. Yang menarik di sini Arjuna mendapat pengajaran dari dua dosen yang berbeda pandangan, yang pertama dari Prof. Van Dame, seorang pastor Jesuit, dan kemudian dari Prof Craig Cox.

Jika Prof  Van Dame mengkaji apologetik terhadap serangan para filsuf  antiteisme (ateisme teoritis ) seperti Facoult, Derrida, Jean Paul Sartre, Nietzhe, dll, maka Prof. Craig Cox mengkaji apologetik dari serangan para filsuf agnokitisme (agnostis, orang yang tidak punya gnosis, atau pengetahuan tentang Allah)  yang dibahas secara cendekia oleh Auguste Comte, Herbert Spencer, Thoman Paine, dll. Jadi melalui novel ini pembaca mendapat gambaran yang utuh bagaimana apologetik dikaji dari dua sisi yang berbeda.

Walau sarat dengan dialog filsafat untungnya Remy Sylado menghadirkan dialog-dialog tersebut dengan kalimat-kalimat yang sederhana namun padat sehingga materi filsafat di novel ini menjadi lebih mudah dimengerti dibanding membaca buku literatur filsafat. Bagi pembaca yang 'melek' filsafat tentunya tidak sulit memahami novel ini, namun bagi mereka yang 'buta' filsafat saya rasa walau sudah disederhanakan oleh penulisnya namun tetap saja akan membuat pembaca mengerutkan kening atau mengalami kebosanan ketika membaca bagian dialog-dialog filsafat antara Arjuna dan dosen-dosennya yang bertebaran di novel ini.

Untungnya  penulis menyelipkan celetukan-celetukan humor khas Remy Sylado yang diwakili oleh tokoh Arjuna terkait gaya hidup seksualitas, dan pandangan-pandangannya  akan apa yang ia alami dan rasakan selama kuliah di Amsterdarm. Selain itu kisah bagiamana kisah cinta antara Prof. Van Dame dan Arjuna yang berbeda budaya, agama, dan rentang usia yang sangat lebar ( 40 tahunan) menjadi sebuah hal yang menarik dan penyegar saat suntuk membaca materi filsafat novel ini. 

Yang menarik, dengan piawa penulis mengaitkan perbedaan agama antara Arjuna dan Van Dame dengan kehidupan beragama di Indonesia terkait dengan diperolehnya anugerah World Statsman Award dari Appeal or Conscience Foundation kepada Presiden SBY pada 20 Mei 2013. Anugerah itu diberikan karena SBY dianggap mampu mempromosikan kebebasan beragama dan menjaga toleransi antarumat di Indonesia. Penghargaan ini menulai  kontroversi karena tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi di Indonesia. Tidak hanya dari dalam negeri, penghargaan ini juga dipertanyakan oleh  Human Right Watch Asia karena SBY pada kenyataannya gagal meredam kekerasan terhadap kaum minoritas  penganut Ahmadiyah, kaum Syiah, dan 50 gereja yang ditutup paksa pada 2012.

Dalam menanggapi hal ini, pemikiran penulis yang diwakili oleh tokoh Prof Van Dame memberikan pendapatnya sebagai berikut :

"Di Indonesia keyakinan yang bersifat individual - dan harusnya memang begitu sebab keyakinan tentang keselamatan adalah keputusan individual - diperkosa oleh lambang-lambang statistik dari golongan mayoritas. Ini masalah serius HAM" (hlm 199)

Selain hal di atas masih banyak hal-hal yang menarik dalam novel yang sebagian besar berisi ceramah dan diskusi tentang filsafat  ini. Walau mungkin novel ini berpotensi menimbulkan kebosanan saat membacanya namun bagi pembaca yang tekun dan sabar untuk menyelesaikan novel ini hingga lembar terakhir maka niscaya akan menemukan nilai-nilai falsafah kehidupan, kesusasteraan, humor-humor satir, dan celotehan2 'nakal'dari Arjuna yang kadang terkesan vulgar yang  membuat kita terseyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Akhir kata, bagi mereka yang ingin mengetahui filsafat secara umum novel ini bisa menjadi sebuah pengantar atau  pintu masuk yang tepat untuk mempelajari filsafat lebih dalam lagi.  Sedangkan bagi mereka yang telah menggeluti filsafat secara mendalam novel ini akan mereview apa yang telah dipelajarinya sekaligus memberi pengalaman baru dalam membaca filsafat yang dikemas menjadi sebuah novel. Filsafat dalam fiksi!

@htanzil

Menurut Remy Sylado dlm twitternya, jilid 2 Perempuan Bernama Arjuna akan terbit pada Juli 2014

6 comments:

Fanda Kutubuku said...

Udah baca Dunia Sophie belum? Dibanding Gaarder, apakah novel ini lebih mudah dipahami?

htanzil said...

Beda, karena dari peruntukkannya pun berbeda, Gaarder menulis sophie untuk anak remaja, sedangkan novel Arjuna ini untuk dewasa.

Kalau Dunia Sophie filsafatnya melebur dalam kisah, kalau Arjuna materi filsafatnya merupakan diskusi antara Arjuna dengan dosennya, atau berupa ceramah yang diberikan dosen pada mahasiswanya.

htanzil said...

Jadi kalau ditanya mana yang lebih mudah dipahami, saya rasa Arjuna lebih sulit karena materinya sudah masuk ke semacam kajian filsafat sementara DS lebih condong ke sejarah filsafat.

Gear KHK said...

bagus banget infonya gan

Jembatan Timbangan said...

thanks blog

Berita Indonesia said...

Oh gitu ya Kak. Sepertinya buku ini masih terlalu berat untuk saya. Apalagi yang bau-bau filsafat.