Thursday, May 08, 2014

Little Stories

[No.332]
Judul : Little Stories
Penulis : Rinrin Indrianie, Vera Mensana, Adeste Adipriyanti, Faye Yolody, Rieke Saraswati
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2014
Tebal : 255 hlm
ISBN : 978-602-03-0190-7

Di ranah perbukuan tanah air, buku kumpulan cerpen merupakan salah satu genre buku fiksi yang turut mewarnai perkembangan dunia sastra kita. Secara umum ada dua jenis buku kumcer, yang pertama adalah kumpulan cerpen yang ditulis oleh satu orang saja, dan yang kedua cerpen-cerpen yang ditulis oleh beberapa orang lalu lalu dibukukan menjadi sebuah buku antologi cerpen dimana biasanya masing-masing penulis menyumbang satu cerpen saja. Nah, berbeda dengan dua jenis buku kumpulan cerpen yang umum beredar di dunia buku kita buku  Little Stories menawarkan sebuah perbedaan yang memberikan pengalaman baru dalam membaca sebuah kumpulan cerpen.

Seluruh cerpen dari buku  Little Stories  ini berasal dari sebuah kursus menulis untuk mengapresiasi para pembaca situs Fiksi Lotus yang dikelola Maggie Tiojakin. Kursus tersebut dibuka untuk lima orang yang terpilih setelah Maggie menyeleksi ceita pendek dari masing-masing calon peserta sebagai syarat mengikuti kursuf intensif Lotus Creative. Dari puluhan pendaftar akhirnya terpilih  lima penulis wanita yang berhak mengikuti kursus yaitu Rinrin Indranie, Vera Mensana, Adeste Adipriyanti, Faye Yolody, Rieke Saraswati

Selama kursus intensif selama dua bulan kelima penulis dengan berbagai latar belakang ini diberi tugas latihan menulis empat buah cerita pendek dengan tema kuliner/makanan, tema demonstrasi, tema prompter (kalimat awal yang telah ditentutukan, dan satu cerita pendek dengan tema bebas. Dari apa yang ditulis oleh kelima penulis inilah lahir buku  dengan cover indah karya Staven Andersen  dengan judul Little Stories yang berisi 20 cerpen  yang dibagi  ke dalam empat bagian sesuai dengan tema-tema yang telah ditentukan. Inilah yang menjadi pembeda dengan buku-buku kumpulan cerpen lainnya. Di buku ini kita akan melihat bagaimana sebuah tema dikisahkan oleh masing-masing penulis sesuai dengan gaya, kekhasan dan interpretasi dari masing-masing penulis.

Dari tema kuliner cerpen favorit saya adalah Brongkos Mertua karya Adeste Apriyanti. Sebuah kisah sederhana tentang anak dan mertua dimana sang menantu mencoba membuat masakan brongkos untuk mertuanya. Di cerpen ini makanan tidak sekedar tempelan tapi menjadi sentral kisah lengkap dengan tahapan-tahapan membuat brongkos. Yang menarik ending dari kisah ini bersifat terbuka (open ending) sehingga ketika kita selesai membacanya kita diberi kesempatan untuk mengakhiri kisahnya sesuai dengan imajinasi kita.

Cerpen Suzie (Rieke Saraswati) yang juga merupakan cerpen terpendek dalam buku ini juga menarik karena walau pendek cerpen ini menghadirkan tokoh yang sangat kuat karakternya sebagai seorang ibu yang berusaha menggantikan posisi suaminya yang telah meninggal dunia sebagai koki andal ditengah keluarganya. 
 
Untuk tema demonstrasi ada dua cerpen yang mencuri perhatian saya yaitu cerpen Teror di Kaki Bukit (Adeste Apriyanti) dan  Aparat (Faye Yolody)  Cerpen  Teror di kaki bukit mengisahkan tentang eksekusi lahan yang akan dijadikan sebuah mega proyek. Uniknya lahan yang akan dieksekusi dan siapa yang melakukan perlawanan atas eksekusi itu bukanlah tanah biasa dan bukan pendemo biasa. Walau berupa kisah khalayan namun di akhir kisah kita diajak melihat sebuah kenyataan akan keserakahan manusia. Sedangkan cerpen Aparat menjadi menarik karena pembaca diajak melihat keseharian seorang aparat yang selalu dianggap arogan, dibenci dan jadi sasaran ejekan, pukulan, dorongan oleh para pendemo sebenarnya hanyalah seorang ayah yang begitu mencintai keluarganya.

Membaca cerpen-cerpen dengan Tema prompter (kalimat awal yang telah ditentukan) juga memberi keasyikan sendiri karena semua cerpen di bagian ini dimulai dengan kalimat awal yang sama yaitu "Aku lemparkan buku itu ke sungai yang mengalir deras" atau "Ezra menghunus pisau dapur ke arahku". Karena dua kalimat yang ditentukan itu terkesan muram maka seluruh cerpen di bagian inipun merupakan cerpen-cerpen yang suram namun  seperti cerpen  Serunya Membunuh Orang Gila (Faye Yoloday) dimana dikisahkan sang tokoh utama yang memiliki seorang adik pecandu narkoba yang depresi sehingga kerap mengancam dan  melukai kakaknya sendiri. Atau cerpen Sang Ilalang (Rinrin Andrienie) tentang kenangan persahabatan yang tertuang dalam sebuah buku harian.                                                    
              
Setelah tiga bagian dimana penulis diasah kreatifitasnya membuat cerpen yang telah ditentukan temanya, di bagian akhir buku ini barulah tiap penulis mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi kemahirannya membuat cerpen dengan leluasa tanpa dibatasi tema atau apapun.

Di bagian ini cerpen pilihan saya jatuh pada cerpen karya Vera Mensana, Berdua Saja. Cerpen  yang  menarik tentang seorang ayah yang mencoba mengutarakan maksudnya untuk menikah kembali kepada anak laki-lakinya yang masih kecil di sebuah kedai bakso.Sebuah kisah sederhana namun menyentuh tentang masa lalu keluarga mereka yang suram dan bagaimana sebuah harapan baru ditambatkan pada kehadiran mama baru bagi sang anak. Cerpen ini semakin menarik karena penulis mencoba memasukkan unsur budaya Tionghoa-betawi yang manyatu dengan kisahnya.

 Sebagai sebuah buku kumpulan cerpen yang dihasilkan dari sebuah workshop menulis saya rasa semua cerpen dalam buku ini tidak bisa dianggap remeh. Walau ini adalah karya pertama mereka yang berhasil diterbitkan namun  karya-karya mereka sangat baik dan patut diperhitungkan sebagai penulis masa depan dalam ranah kepenulisan fiksi Indonesia. Saya sependapat dengan sebuah komentar tentang buku ini di sebuah media yang mengatakan bahwa;

"Membaca cerita-cerita di buku ini membersitkan harapan baru akan lahirnya penulis-penulis muda perempuan potensial dengan ide-ide yang segar dan membawa suara mereka masing-masing."

@htanzil

1 comment:

Veridiana said...

Hai, Tanzil! Salam kenal, dan terima kasih banyak atas resensinya yang jeli. Tentunya sangat bermanfaat untuk menambah semangat kami supaya meningkatkan skill menulis. Tanzil juga, semoga semakin produktif ya. Salam, Vera Mensana.