Tuesday, September 23, 2014

Total Bung Karno 2 : Serpihan Sejarah yang Tercecer by Roso Daras

[No.341]
Judul : Total Bung Karno 2 : Serpihan Sejarah yang Tercecer
Penulis : Roso Daras
Penerbit : Penerbit Imania
Cetakan : I, Juli 2014
Tebal :  458 hlm
ISBN : 978-602-7926-16-5


Ide Roso Daras, pengagum Bung Karno dalam menulis segala hal tentang sang Proklamator ini seolah tak ada habisnya. Sejak tahun 2009 sudah ada hampir 500 tulisan tentang Bung Karno yang diunggah di blog pribadinya. Dari ratusan tulisan-tulisannya itu beberapa diantaranya sudah didokumentasikan dalam bentuk buku yaitu The Other Stories : Bung Karno (Imania, 2009), Bung Karno - The Other Stories 2 : Serpihan Sejarah yang Tercecer (Pustaka Ilman, 2010), Bung Karno vs Kartosuwiryo (Imania, 2011), Total Bung Karno : Serpihan Sejarah yang Tercecer (Imania, 2013)  Dan kini yang terbaru adalah Total Bung Karno 2 : Serpihan Sejarah yang Tercecer (Imania, 2014)


Seperti dalam buku pertamanya seluruh tulisan dalam buku ini  memberikan serpihan kisah hidup dan pemikiran Bung Karno baik yang selama ini pernah kita dengar  maupun yang belum pernah kita dengar dan baca. Sedikit berbeda dengan buku Total Bung Karno yang pertama dimana seluruh temanya bercampur baur, kisah-kisah dalam buku ini bisa diklasifikasikan dalam tiga bagian besar. Pertama, kisah-kisah periode pembuangan Bung Karno di Ende (1934-1938), kedua, tentang Marhaenisme, dan ketiga, tentang kisah-kisah human interest dalam perjalanan hidup Putra Sang Fajar baik sebelum menjadi presiden maupun selama menjadi Presiden pertama RI.

Di tulisan-tulisan yang mengisahkan periode pembuangan di Pulau Bunga - Ende kita diajak melihat sebuah periode hidup Bung Karno yang penting dimana di masa-masa ini tokoh yang ditakuti pemerintah kolonial  ini tenggelam dan ditenggelamkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Bung Karno tenggelam dalam pergulatan batin yang begitu dalam sehingga ia mengalami depresi dan frustasi. Untungnya di masa-masa sulit ini Ibu Inggit, istrinya yang ikut menyertai Bung Karno selama di P. Bunga Ende senantiasa menguatkannya hingga akhirnya Bung Karno berhasil melewati masa-masa sulit selama di pembuangan. Selain itu kegiatan berkeseniannya yaitu seni lukis dan seni peran drama dan korespondensinya dengan T.A Hasan di Bandung dalam hal ke-islaman membuatnya kembali bangkit dari keterpurukannya.

(Rumah Pengasingan Bung Karno & Keluarga di Ende)


Di bagian ini dikisahkan tentang masa-masa sebelum pembuangan, keberangkatan, dan segala kegiatan dan peristiwa-peristiwa menarik, suka dan duka selama berada di pembuangan. Di pulau ini pula ibu mertua Bung Karno wafat di pangkuannya. Sebagai bukti bakti, hormat dan cintanya Karno sendiri yang memahatkan batu nisan untuk ibu mertuanya. Periodesasi pembuangan Bung Karno ini diakhiri dengan tulisan  yang mengisahkan bagaimana Bung Karno dituding menyebarkan gerakan Ahmadiah. Sebuah fitnah karena dalam surat menyuratnya dengan T.A Hasan di Bandung, bung Karno menulis sikapnya dengan lugas.

"Saya tidak percaya bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah seorang nabi, dan belum percaya pula bahwa ia seorang mujadid " (hlm 95)

Setelah mengisahkan pengalaman Bung Karno di Ende, penulis melanjutkan tulisan-tulisannya tentang Marhaenisme. Mulai dari kisah bertemunya Bung Karno dengan petani di Bandung bernama Marhaen hingga  ideologi,  tujuan, cita-cita gerakan Marhaenisme yang dikutip langsung dari dokumen-dokumen penting Marhaenisme.  Di bagian ini juga dimuat pidato dan  tulisan bung Karno secara lengkap yaitu pidato
Bung Karno 1 Juni 1945 (Lahirnya Pancasila) dan tulisan Bung Karno berjudul Nasionalisme, Islamisme, Marxisme yang dimuat dalam Suluh Indonesia Muda tahun 1926 yang kemudian dimasukkan sebagai tulisan pembuka di buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid 1, 1959). Bagian ini ditutup dengan wawancara penulis dengan Alm.. H. Abdul Madjid, (tokoh Nasionalis & deklarator PDI)  tentang Arti Demokrasi Menurut Bung Karno.

Setelah pembaca diajak membaca bagian-bagian serius dan ideologis  seputar Marhaenisme, penulis melanjutkan dengan kisah-kisah humanisme tentang bung Karno antara lain Sepincuk Pecel Rukiyem buat Bung Karno, bagaimana Bung Karno berjemur di Penjara Sukamiskin, kegemaran Bung Karno bersepeda dan  kemahirannya melakukan aksi "Freestyle Onthel", Bung Karno menjadi Klrek di Stasiun Surabaya, Kisah seekor cacing dan Presiden, atau bagaimana dalam kisah berjudul Bung Karno, Ali Sastoamidjodjo, dan pelacur  Bung Karno berselisih pendapat dengan Ali Sastroamidhohdo tentang niat bung Karno untuk merekrut  670 pelacur-pelacur Bandung sebagai anggota PNI demi kepentingan pergerakan, dll.

( Freestyle onthel ala Bung Karno.)

Selain itu ada pula kisah tentang kamar Bung Karno, tidak semua bisa melihat bagaimana keadaan kamar pribadi bung Karno di Istana negara, salah satu yang beruntung adalah Oey Tjoe Tat, selaku selaku Menteri Negara saat itu. Lalu apa komentar Oey Tjoe Tat tentang kamar Presiden pertama RI itu?

"Kesan pertama saat masuk kamar tidur Bung Karno, terwakili hanya dengan satu kata : Berantakan!
...separuh dari ranjang Presiden berisi buku-buku yang berserakan tak beraturan. Bukan hanya itu, bahkan di lantai pun ia melihat buku-buku berserakan. Pada cantelan baju di dinding, tergantung jas-jas dan pantolan-pantolan yang sangat tidak bertaturan....Tidak rapi dan tidak terawat..."
(hlm 321)

Ada banyak hal-hal menarik lainnya tentang Bung Karno dalam buku ini. Sayangnya walau seperti diungkap di atas bahwa buku ini terdiri dari tiga bagian besar, namun penerbit tidak memilah/membagi  tulisan-tulisan dalam buku ini ke dalam tiga bab besar sehingga pembaca sukar memilih secara cepat mana tulisan-tulisan semasa bung Karno di Enda, Marhaenisme, dan mana tulisan-tulisan tentang human interest Bung Karno. Walau semua itu tersusun secara berurutan namun alangkah baiknya jika penerbit membagi ke 100 tulisan dalam buku ini ke dalam tiga bagian  untuk memudahkan pembacanya jika ingin membaca ulang tulisan-tulisan tertentu.

Terlepas dari itu buku ini dari segala hal yang ada di dalamnya buku ini bisa menjadi buku pelengkap dalam memahami dan mengambil keteladanan Bung Karno baik dari kehidupannya, idelologinya, maupun dari sisi kemanusiannya sebagai seorang proklmator, presiden, dan manusia biasa yang mungkin tidak akan kita peroleh dari buku-buku sejarah atau bahkan dari biografi Bung Karno sendiri.

@htanzil

1 comment:

Candisa Azzahra said...

Wow, kepingin beli buku ini deh, kayaknya kisah bung karnonya lebih lengkap.