Tuesday, September 02, 2014

Rampokan Jawa & Selebes by Peter van Dongen

[No.340]
Judul : Rampokan Jawa & Selebes
Penulis : Peter van Dongen
Penerjemah : 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Rampokan Jawa & Selebes adalah  novel grafis/komik karya Peter van Dongen, komikus Belanda yang banyak menyita perhatian para pembaca di Indonesia selain karena guratan-guratannya yang mengingatkan kita akan komik Tintin yang memang sudah akrab di kalangan pembaca Indonesia setting komik (Jawa dan Selebes/Sulawesi)  di era tahun 40-an juga menjadi daya tarik sendiri bagi pembaca Indonesia

Sejatinya komik ini terdiri dari dua buku yang masing-masing terbit dengan selang waktu yang cukup lama (6thn) di Belanda, yaitu Rampokan Java (1998) &  Rampokan Celebes (2004).  Komik  Rampokan Jawa sendiri pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Pustaka Primatama &  Komunitas Komik Alternatif pada 2005 yang lalu, sayangnya  hingga kini penerbit tidak melanjutkan menerbitkan sekuelnya (Rampokan Selebes) hingga akhirnya hak cipta kedua komik ini beralih ke Penerbit Gramedia sehingga kini diterbitkan dalam satu buku sekaligus.

Kisah dalam Rampokan Jawa mengambil setting di Jawa dan Makasar pada tahun 1946 di masa ketika pemerintah kolonial Belanda kembali datang ke Indonesia untuk mengambil alih kekuasaan setelah Jepang pergi dan Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Dikisahkan seorang relawan Belanda bernama John Knevel dalam perjalanan menuju Jawa secara tidak sengaja membunuh Erik Verhagen, seorang komunis Belanda, di atas kapal. akibatnya ia terus dihantui perasaan bersalah dan merasa dihantui oleh arwah rekannya tersebut.

Johan datang ke Indonesia juga didorong untuk menemukan kembali surga masa kecil-nya bersama pengasuh pribuminya yang bernama Ninih. Setelah mendarat di Tanjung Priok Johan kemudian ditugaskan ke Bandung, berbagai peristiwa dilaluinya hingga akhirnya ia dinyatakan desersi. Untuk menghindari kejaran tentara Belanda Johan  pergi ke Makasar dengan memakai identitas Erik rekan yang dibunuhnya selama perjalanannya ke Jawa. Di Makasar Johan mencoba mencari Ninih namun karena memakai identitas Erik yang komunis maka tentara Belanda pun tetap memburunya. Sementara itu rasa bersalah atas Erik yang dibunuhnya terus menghantui Johan dalam setiap gerak langkahnya.

Membaca petualangan Johan Knevel di Jawa dan Makasar sebagai sebuah  komik sejarah dan psikologis ini sebenarnya menarik, namun jalinan  kisahnya yang rumit ditambah dengan adanya sub plot beserta banyaknya tokoh-tokoh yang muncul membuat pembacanya harus ekstra konsentrasi mengikuti alur kisah sambil menghafal nama-nama tokohnya yang kebanyakan orang Belanda itu.

Dalam membangun kisahnya  penulis mengaitkan dengan tradisi Rampokan Macan di Jawa dimana ratusan prajurit berjajar berlapis-lapis mengelilingi seekor macan hasil buruan untuk dibunuh beramai-ramai.


Menurut kepercayaan jika sang macan berhasil lolos maka akan ada malapetaka menimpa daerah tersebut. Gambaran rampokan ini kerap muncul di tengah-tengah kisahnya namun sayangnya saya tidak berhasil melihat sebuah hubungan yang kuat antara rampokan macan dengan kisahnya kecuali lepasnya sang macan yang mengisyaratkan malapetaka seperti  yang dialami tokoh Johan Knevel. 

Dalam komik ini selain kisahnya yang menarik kita juga diajak melihat bagaimana situasi Indonesia di masa datangnya kembali pasukan Belanda paska kekalahan Jepang menurut sudut pandang penulisnya yang secara genetis memiliki keterkaitan dengan Indonesia. Kita juga akan melihat peran pedagang China baik dengan orang-orang Belanda maupun dengan orang-orang Jawa dan hubungannnya dengan pejuang kemerdekaan.

Dari segi gambar, komik ini bisa dikatakan mendekati sempurna, semua latar di tiap panelnya baik itu latar persawahan, hutan, kampung, kuburan, pelabuhan, situasi kota (Jakarta, Bandung, Makasar) dengan bangunan-bangunan yang bebeapa diantaranya masih berdiri hingga kini , pecinan,  dll tersaji dengan sangat detail. dalam balutan warna hitam-putih dan sephia. Selain itu kita juga bisa melihat bagaimana suasana pasar, bongkar muat di pelabuhan, adu ayam, becak, tukang cukur di bawah pohon, penjual jamu gendongan, dll. Semuanya itu dimungkinkan berdasarkan riset baik dari buku, arsip,  foto-foto, dan pengamatannya langsung saat berkunjung ke Indonesia sehingga komik ini memiliki detail latar yang nyaris sempurna. Tidak heran jika untuk menyelesaikan  komik yang kaya akan detail ini dibutuhkan waktu 6 tahun lamanya.



Pada intinya baik dari kisah maupun gambar yang bisa kita nikmati di novel ini kita bisa belajar dan mengetahui sejarah Indonesia. Walau bukan sejarah ilmiah namun setidaknya melalui komik ini kita bisa melihat dan mengetahui bagaimana situasi Indonesia di jaman yang juga disebut jaman 'bersiap' dengan segala problema dan romantika orang-orang biasa seperti yang dialami oleh Johan Knevel dan tokoh-tokoh yang terkait dalam komik ini.

Semoga kehadiran komik ini juga menginspirasi komikus-komikus lokal untuk membuat komik sejarah yang menawan berdasarkan riset yang ketat. Adalah sesuatu yang sangat baik seandainya  novel Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer diadaptasi ke dalam komik. Siapa tahu kelak akan jadi  komik yang monumental seperti halnya dengan novelnya.

@htanzil

###

Berikut wawancara tentang komik ini antara Peter Van Dongen dengan Surjorimba Suroto (pengamat komik) yang pernah dimuat di Ruang Baca Tempo beberapa tahun yang lampau.

 (Peter van Dongen dan Sorjorimba Suroto, launching Rampokan Jawa & Selebes 2014)

Indonesia dalam Kenangan Peter Van Dongen

Surjorimba Suroto mewawancarai penulis Rampokan Java dan Rampokan Celebes melalui email. Berikut petikannya:

Apa yang membuat Anda tertarik menulis buku tentang Indonesia?

Ibuku lahir di Manado, 1941 dan itulah alasannya mengapa saya penasaran dengan masa lalunya serta kedua kakek-nenek saya (kakek saya seorang prajurit KNIL). Keluarga ibu juga banyak yang masih tinggal di Sulawesi.

Mengapa Anda memilih Jawa dan Sulawesi sebagai lokasi kedua buku?

Saya memilih Jawa karena kebanyakan buku tentang Hindia Belanda dan perang kemerdekaan Indonesia berpusat di sini. Selain itu juga karena banyaknya foto indah tentang Batavia (kini Jakarta) dan Bandung yang saya temukan. Sulawesi saya pilih karena ibu pernah tinggal di Makassar dan saya juga tertarik kepada Kapten Westerling yang bertanggung jawab atas berbagai aksi militer yang menewaskan banyak warga Indonesia.

Ada alasan tertentu mengapa Anda memilih waktu kejadian sekitar 1946, saat Indonesia baru saja menyatakan kemerdekaannya?

Ya, saya memilih periode ini karena saya ingin bercerita tentang seorang pemuda Belanda kelahiran Indonesia, yang karena suasana kemerdekaan menjadikannya tak diterima di lingkungannya.

Dari kedua buku tersebut, Anda mencoba untuk menyatukan cerita dengan berbagai peristiwa sebenarnya di Indonesia. Menurut pendapat saya hasilnya bagus. Sebagai penulis, apakah Anda cukup puas dengan hasilnya? Apakah Anda merasa hasil karya Anda bisa lebih baik seandainya saja memiliki lebih banyak waktu dan penelitian?

Ya saya puas. Tentu saja ada beberapa halaman yang bisa lebih baik dan mungkin saya menggunakan sedikit alur cerita dan informasi, tapi saat itu saya merasa sudah mencukupi.

Apakah Anda menggunakan banyak buku referensi untuk menjadikan buku Anda sedekat mungkin dengan kenyataan? Banyak dari lukisan Anda yang mendekati akurat dengan berbagai kebiasaan lokal. Sebagai contoh pakaian, motif pakaian, transportasi dan rumah tinggal tradisional, seorang pemangkas rambut di bawah pohon, dan lainnya. Nampaknya Anda melakukan penelitian yang serius dalam menciptakan buku ini. Bagaimana Anda melakukannya?

Saya menggunakan banyak foto tua zaman Hindia-Belanda, kota-kota, literatur, novel (bahasa Indonesia dan Belanda), buku harian para tentara, dll. Saya juga pergi ke Museum Tropis Amsterdam yang memiliki koleksi foto tua dari Makassar. Di kota Yogyakarta, saya juga pergi ke Museum Tentara.

Coretan Anda sangat terpengaruh dengan gaya Herge (komikus legendaris asal Belgia, pencipta Tintin)?

Ya saya sangat terpengaruh oleh gaya Herge. Terutama buku Tintin, Lotus Biru. Buku itu menceritakan pendudukan Jepang di negeri Cina. Komik tersebut sangat membuka mata saya: Anda bisa bercerita apapun melalui komik. Kakek saya, seorang tentara Hindia-Belanda, gugur melawan Jepang saat Perang Dunia II di Indonesia.

Berbeda dengan Herge, Anda tidak menggunakan banyak warna. Hanya hitam, putih dan cokelat muda. Apakah ini ditujukan agar gambar terlihat lebih artistik?

Tidak. Semuanya tentang uang. Penerbit tidak memiliki cukup uang untuk mencetaknya berwarna. Namun di lain pihak terlihat lebih bagus. Lebih otentik.

Apakah Anda dapat bercerita sedikit tentang latar belakang Anda? Apa saja hasil karya Anda di masa lalu? Apakah pernah membuat buku tentang Indonesia sebelumnya? Apakah bagian lain dari Indonesia akan diikutsertakan dalam karya-karya yang akan datang?

Saya lahir di Amsterdam pada 1966 dan memiliki seorang saudara kembar. Saya belajar otodidak dan sejauh ini sering mengerjakan iklan. Hingga saat ini belum menyiapkan waktu untuk berkonsentrasi pada buku yang baru. Saya merencanakan sesuatu lagi tentang Indonesia. Tak banyak yang bisa diceritakan, karena semuanya masih berupa ide. Kedua Rampokan adalah buku saya yang pertama tentang Indonesia. Karya pertama adalah Muizentheater (Mice Theater), sebuah buku komik tentang dua saudara laki-laki di Amsterdam sekitar 1030-an, diterbitkan oleh Casterman pada 1990.

Apakah Anda sering mengunjungi Indonesia, terutama lokasi-lokasi yang memberikan sumber inspirasi?

Saya sudah tiga kali mengunjungi Indonesia. Kota-kota yang saya kunjungi adalah Jakarta, Bandung, Malang, Yogya, dan tentu saja Makassar yang memberikan inspirasi terbesar terutama bangunan-bangunan tuanya dari periode Belanda (1920-1940). Selain itu pemandangan Jawa, Bali dan Sulawesi (desa Bada) memberikan banyak inspirasi.

Apakah ada kenangan manis tentang Indonesia?

Kenangan terindah adalah saat saya mencari makam keluarga di pemakaman bangsa Eropa di Ternate pada 1992. Sekelompok anak membantu mencari makam kedua kakek dan nenek buyut saya. Seseorang menghampiri dan saya menunjukkan foto tua hitam-putih yang menggambarkan makam tersebut dan ia membawa saya ke sana. Yang mengejutkan adalah ia mengenal beberapa orang, yang tinggal tak jauh dari kompleks makam, yang ternyata merupakan keluarga nenek buyut saya. Nenek buyut asli dari Ternate dan menikah dengan seorang keturunan Cina, kakek buyut saya. Saya bertemu dengan seorang tua yang menyebutkan banyak sekali nama keluarga yang telah pindah ke Belanda. Perasaan saya saat itu sungguh menakjubkan. Orang ini, yang asing bagi saya, ternyata adalah keluarga saya. Padahal kami terpisah jauh, terpisah oleh lautan yang luas.


sumber :  
http://www.ruangbaca.com/buku_bulan_ini/?action=b3Blbg==&id=MTE=.&when=MjAwNTA3MjE=


 sumber foto : http://tembi.net

###
sangat gemar mengadakan acara Rampogan Macan ini. Macan dan hewan – hewan liar lainnya memang sengaja dipelihara dalam kandang – kandang di sudut alun – alun. Hewan liar ini adalah hasil buruan atau tangkapan dan nantinya akan dipagelarkan dalam acara Rampogan. - See more at: http://benerpost.blogspot.com/2012/12/gladiator-ala-jawa-rampogan-macan.html#sthash.tlUMof1Y.dpuf

2 comments:

obat pelangsing yang aman said...

just blogwalking.. nice post :D

daily dairy story said...

Good, beginilah salah satu cara yang menarik untuk mengenal sejarah Indonesia