Tuesday, August 26, 2014

Perempuan Bernama Arjuna 2 : Sinologi dalam Fiksi

[No. 339]
Judul : Perempuan bernama Arjuna 2 : Sinologi dalam Fiksi
Penulis : Remy Sylado
Penerbit : Nuansa Cendekia
Cetakan : I, Juli 2014
Tebal : 307 hlm
ISBN : 9789-602-7768-61-1



"Saya menulis supaya masyarakat bisa mendapat pengetahuan tidak dengan cara yang pakem seperti membaca buku ilmiah. Itu kurang asyik dan sulit masuk, apalagi untuk generasi sekarang yang serba sulit menerima hal-hal ilmiah secara ketat" 
~ Remy Sylado

Kutipan di atas dikatakan Remy Sylado saat peluncuran novel terbarunya Perempuan Bernama Arjuna 2 : Sinologi dalam Filsi pada 11 Agustus 2014 yang lalu di Gd. Indonesia Menggugat Bandung. Tidak terlalu lama setelah sukses dengan novel Perempuan Bernama Arjuna (Nuansa Cendekia, Nov 2013)  yang mengemas pengetahuan  filsafat dalam bentuk fiksi kini Remy membuat sekuel novel tersebut dengan tema Sinologi (pengetahuan bahasa dan budaya Cina)

Dalam sekuelnya ini penulis melanjutkan kisah Arjuna seorang mahasiswi filsafat dan suaminya Jean-Claudie van Damme, pastor Jesuit yang 'bertobat' saat sedang berbulan madu di Bandung.  Seperti telah disinggung dalam novel sebelumnya Arjuna dan suaminya menemui Kan Hok Hoei untuk meminta petuah-petuah soal sex dari sudut pandang budaya Cina.  Di buku keduanya ternyata pertemuannya dengan Kan Hok Hoei  tidak hanya melulu membicarakan  soal sex melainkan merambah ke Sinologi dan pengaruhnya di bumi Nusantara mulai dari tradisi, masakan, obat, musik, penamaan daerah, dll hingga akhirnya mengerucut pada hal-hal yang menyangkut prasangka rasial, soal pri-non pri, dan politik rasial di jaman Orde Baru beserta dinamika dan usaha pembauran orang-orang Cina di masa Orde Lama hingga kini.

Dalam hal prasangka rasial dan pembauran orang-orang Cina/Tionghoa di Indonesia, novel ini mencatat sejarah timbulnya konflik antara orang-orang pribumi dan orang-orang Cina yang jika dirunut ke belakang mencatat bahwa kebencian terhadap Cina sudah ada sejak abad ke 13 saat  KubilaI Khan, emperor Mongol yang berkuasa di Cina, memaksa Kertanegara (1268-1292) untuk takluk dan memberi upeti pada kerajaannya. Pada masa perang Diponegoro juga timbul pula semangat anti Cina yang sudah mengendap sejak jaman Raffles dimana sosok Tan Jin Song, ketua Raad van Chinezeen diangkat oleh Raffles sebagai pemungut cukai. Tan Jin Song menarik pajak melebihi batas waras menyebabkan rakyat merasa dihisap sehingga membuka celah benci kepada orang-orang Cina di masa itu.

Di masa-masa selanjutnya sikap anti Cina ini terus terpelihara, peristiwa G30-S membuat masyarakat menggeneralisir orang-orang Tionghoa sebagai komunis. Hal ini  diperparah oleh sikap pemerintah yang menetapkan semangat anti Cina menjadi salah satu garis politik pemerintah Orde Baru antara lain dengan melarang penggunaan nama-nama Cina dan melarang perayaan-perayaan Cina dirayakan secara terbuka. Sentimen anti Cina ini mencapai puncaknya pada kerusuhan 1998.

Novel ini juga memuat bagaimana istilah Tionghoa dan Tiongkok terbentuk. Seolah hendak mengkritisi pemerintah sekarang atas digunakannya kembali istilah Tionghoa dan Tiongkok di novel ini penulis mengurai sejarah istilah Tionghoa yang ternyata pernah digunakan oleh Partai Komunis Indonesia.

Pada waktu itu, menurut cerita ayah saya, adalah pihak orang-orang Cina ekslusif yang menyebut bumiputra dengan cara nista sebagai huhuan ata wana. Padahal secara diksioner, kata yang berlaku semestinya yuan ju min, atau sepelenya tu ren. Di antara mereka yang mineur itu termasuk para etnis Cina yang berpartai Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) dan dikenal berkiblat politik ke RRC (Republik Rakyat Cina) negara komunis yang sedang berselisih dengan Uni Soviet. Maka, Maaf, kalau saya mendengar kata Tiongkok dan Tionghoa, bingkai pikiran saya itu adalah komunis 
(hlm 12-13)

Sejarah mencatat bahwa soal penamaan orang-orang keturunan Cina di Indonesia juga pernah menjadi polemik sehingga soal penamaan ini masuk dalam agenda Seminar Angkatan Darat II pada tahun 1966. Tokoh Baperki, Siaw Giok Tjhan saat itu memang bersikeras menggunakan kata Tionghoa untuk semua etnis Cina. Sedangkan Sindhunata (Ong Tjong Hai), tokoh nasionalis keturunan Cina lebih memilih kata Cina dibanding Tionghoa.

Pada seminar AD II di Lembang, 1966 yang membahas masalah keturunan Cunghua, ia (Sindhunata) diminta menentukan pilihan berbahasa yang tepat antara Cina atau Tionghoa. Dengan tegas ia mengatakan dan kemudian menganjurkan untuk memakai kata Cina sebab secara historis kultural, Cina lebih baik daripada Tionghoa, sedang dalam Tionghoa ada nuansa rasis terhadap pribumi, dan itu justru dipakai oleh golongan etnis Cina yang berhaluan komunis, dengan menyebut pribumi sebagai wana. (hlm 199)

Masih banyak hal-hal lain yang dibahas penulis dalam buku ini, salah satu yang menarik adalah penjelasan suku-suku Cina yang ada di Indonesia yang  bisa dikenal melalui jenis bisnis yang dijalaninya, misalnya suku Santung yang menekuni bisnis tekstil, suku Hainan di bidang kuliner sehingga kita mengenal menu makanan Nasi Hainan, suku Hupei yang banyak melahirkan  'ahli gigi'. Sedangkan suku Cina terbesar yang ada di Indonesia adalah suku Hokkian yang mengusai berbagai bidang dan kegiatan

Pada dasarnya semua hal yang menyangkut pengetahuan sinologi  tersaji dalam novel ini, namun seperti dalam buku pertamanya walau buku ini disebut sebagai novel tapi  kita tidak akan menemukan sebuah peristiwa dramatik dengan plot yang menukik seperti pada novel-novel Remy Sylado atau novel-novel pada umumnya. Seperti  penulis  lebih mengutamakan materi pengetahuan dibanding membuat sebuah kisah dramatik. Dengan demikian semua paparan sinologi dalam novel ini terurai lewat dialog antar Arjuna dengan tokoh-tokoh  yang ia dan suaminya temui selama di Bandung.


Tampaknya seri Arjuna ini masih akan berlanjut, di dua bab terakhir novel ini dikisahkan Arjuna beserta suami dan ibunya berada di Semarang sehingga sepertinya di  kisah petualangan Arjuna selanjutnya penulis akan menyajikan Javanologi dalam fiksi. Jika jeli kita juga akan menemukan clue bahwa setelah Javanologi maka akan terus berlanjut dengan bahasan mengenai Minahasalogi dalam fiksi. Jika ini bisa terwujud tentunya seri Arjuna ini akan menjadi satu-satunya novel berseri di Indonesia yang masing-masing memberikan pengetahuan baru dalam tiap serinya. 

Di banding buku pertamanya yang menyajikan filsafat dalam fiksi, novel keduanya ini lebih mudah dipahami karena seperti kita ketahui budaya China telah melekat dalam kebudayaan dan tradisi kita sehari-hari sehingga apa yang terungkap dalam novel ini adalah apa yang kita jumpai dalam keseharian kita.  Selain itu jika dalam buku pertama catatan kaki tersaji dalam halaman khusus maka di buku kedua ini catatan kakinya ada di bawah halaman kata yang ingin dijelaskan  sehingga pembaca lebih mudah membacanya dibanding novel sebelumnya dimana pembaca harus bolak-balik halaman untuk membaca keterangannya.. Sebagai tambahan, novel ini juga menyertakan tabel Kronologi Singkat Sejarah Cina mulai dari Dinasti Xia (2100-1600 SM) hingga era RRC (1949- )

Di balik segala kebaikan dan banyaknya pengetahuan Sinologi yang didapat di novel ini sayangnya walau kisah dalam novel ini bersetting di kota Bandung penulis kurang memaksimalkan sejarah atau kiprah mengenai orang2 Cina di Bandung padahal keberadaan orang-orang Cina di Bandung memiliki sejarah dan kisah-kisah yang tidak kalah menarik dan memberikan warna tersendiri bagi perkembangan dan sejarah berdirinya kota yang pernah dijuluki Parijs van Java ini. 

Namun terlepas dari hal itu, sebagai sebuah buku yang hendak memberikan pengetahuan Sinologi secara umum kepada pembacanya dalam bahasa dan kalimat yang mudah dipahami novel ini saya rasa sudah berhasil mewujudkan apa yang menjadi keinginan penulisnya untuk memudahkan masyarakat dalam memahami pengetahuan ilmiah dengan cara yang mengasyikan. Walau bukan bacaan ringan namun dengan menuliskannya dalam bentuk fiksi kesulitan dalam memahami Sinologi akan teratasi.  


"Dengan cara ini barangkali pengetahuan sejarah Cina di Indonesia dalam sinologi ini 
bisa diterima lebih enak"
 ~ Remy Sylado. 

@htanzil

5 comments:

Toko Buku said...

Salam kenal, kunjungi balik blog kami ya.

putri tunggal said...

Alampasutri.com Jual,Obat Pembesar Penis,Alat Pembesar Penis,Alat Pembesar Payudara,Obat Kuat,Alat Bantu Sex,Obat Perangsang,Obat Pelangsing Badan, !!!!


] obat perangsang blue wizard : BB Messenger : 2A0BAE4D

] obat perangsang : BB Messenger : 2A0BAE4D

] obat perangsang wanita : BB Messenger : 2A0BAE4D

] perangsang blue wizard : BB Messenger : 2A0BAE4D

] obat perangsang alami : BB Messenger : 2A0BAE4D

] agen obat blue wizard : BB Messenger : 2A0BAE4D

obat stroke tradisional said...

hi,, just visit this site,, have a nice day :)

Dimas Setya Aji said...

sankyuu, bagus nih isi blognya banyak pengetahuan tentang buku-buku..

Herlina Setyaningrum said...

thankyou, kebetulan saya punya buku tetrsebut yang jilid 3. Ketika Arjuna dan Jean Claude sudah menikah dan ingin bertemu dengan Ki Murgiyanto agar cepat mendapatkan keturunan. Namun di jilid 3 ini benar-benar bukan bacaan ringan.